Lomba Cerpen Lahat (Deadline 1 April 2015)

Syarat Umum:

  1. Peserta adalah WNI.
  2. Tema: “Kekayaan Bangsa Indonesia dalam Kehidupan Berbudaya.”
  3. Konten cerpen tidak boleh memicu SARA atau yang mendorong semangat fanatik sempit, picik, anti-refleksi dan anti-pembelajaran, pelecehan terhadap kemanusiaan.
  4. Sesuai dengan tema, konten membicarakan kekayaan sumber daya alam Indonesia yang mana kekayaan itu sangat memberi pengaruh terhadap kehidupan ekonomi, politik, dan budaya suatu tempat atau lokal.
  5. Cerita pendek harus memiliki/mengandung Kisah.
  6. Naskah harus karya asli secara keseluruhan, dan bukan terjemahan atau saduran.
  7. Naskah belum pernah dipublikasikan di media cetak, elektronik ataupun online, dan tidak sedang diikutsertakan dalam sayembara lain.
  8. Peserta hanya boleh mengirimkan 1 naskah terbaiknya.
  9. Naskah yang dikirim menjadi milik panitia penyelenggara, dengan hak cipta tetap pada penulis.
  10. Hak untuk mempublikasikan naskah peserta dan para pemenang menjadi sepenuhnya milik penyelenggara lomba, dan tidak diperkenankan mempublikasikannya di media lain, terkecuali bila penulis yang bersangkutan ingin membukukannya dalam antologi atau karya tunggalnya sendiri.
  11. Hak penerbitan dalam bentuk buku sepenuhnya ada di tangan penulis.
  12. Setiap naskah yang dikirim akan ditampilkan di marwanmansyur.org
  13. Naskah yang tidak sesuai dengan persyaratan tidak akan ditampilkan di marwanmansyur.org dan tidak akan disertakan dalam proses penjurian .
  14. Penyelenggara lomba berhak mengganti judul dan menyunting, tanpa mengubah isi.
  15. Keputusan juri mengikat, tidak dapat diganggu gugat, dan tidak ada surat-menyurat.
  16. Dewan juri akan mempertanggungjawabkan secara tekstual atas alasan mengapa naskah menjadi pemenang. Dan akan dipublikasikan di bawah bersama naskah pemenang di media yang sama.
  17. Lomba dibuka tanggal 1 Maret 2015 dan akan ditutup pada tanggal 1 April
  18. Pengumuman pemenang berikut publikasinya dapat dilihat di marwanmansyur.org pada tanggal 30 April 2015.
  19. Pajak ditanggung Panitia.

Continue reading Lomba Cerpen Lahat (Deadline 1 April 2015)

Novel 4 Musim Cinta

10952008_10152840538994794_1183052442_n

Apa kau percaya jika satu hati hanya diciptakan untuk satu cinta? Barangkali beruntung orang-orang yang bisa jatuh cinta beberapa kali dalam hidupnya. Tetapi aku yakin, lebih beruntung mereka yang sanggup menghabiskan hidupnya dengan satu orang yang dicintai dan mencintainya.

Kau pernah membayangkan ada sebuah novel yang ditulis oleh 4 orang dengan karakter yang berbeda-beda?

Barangkali, novel 4 Musim Cinta dapat memberikanmu jawaban atas itu.

Empat orang PNS dari Ditjen Perbendaharaan, Kementerian Keuangan yang menulis novel ini. Mereka adalah Mandewi, Puguh Hermawan, Abdul Gafur dan Pringadi Abdi Surya. Nama terakhir tak asing karena ialah pemilik blog ini.

Kisah ini bermula dari persahabatan keempatnya. Mereka bertemu di sebuah diklat. Di sanalah, musim semi dimulai bagi Pring (si penulis memang suka menggunakan namanya sendiri sebagai nama tokoh). Pring merasa ada yang berbeda dari Gayatri. Ia berbincang dengan gadis Bali itu dan merasa jantungnya seperti dikapak oleh kakek penebang pohon. Jatuh cinta itu indah, tetapi tidak bagi yang sudah menikah.

Sementara Gayatri harus melupakan masa lalunya, Adam, yang berpisah darinya karena perbedaan-perbedaan yang ada. Ia juga didera kebencian atas pekerjaannya yang membuatnya tak dapat menghindari ngaben Aji/ayahnya. Hatinya membeku. Tapi, puisi-puisi dari Pring mulai melelehkannya.

Teman sekamar Pring ketika diklat, Gafur, punya gairah hidup yang membara. Percintaannya dengan seorang barista selalu membicarakan–mempertanyakan dunia. Ia tidak tahu, bahwa sahabatnya sendiri, Arga, juga menyukai gadis itu.

Di sini, di antara persahabatan, segalanya dimulai dan mungkin juga harus diakhiri.

Apa kau penasaran bagaimana nasib keempat orang ini?

NANTIKAN 4 MUSIM CINTA, TERBIT 13 MARET 2015.

Dapat dipesan langsung ke 085239949448 ya kalau mau yang bertanda tangan, atau nantikan di toko buku terdekat kamu.

 

Bercermin pada Natsuo Kirino

 

Aku harus berterima kasih kepada Ardy Kresna Crenata karena suatu hari dia menyebut Natsuo Kirino di statusnya. Tidak lama setelah itu, aku pulang ke Palembang, dan melihat satu buku masih terbungkus plastik tergeletak di atas meja. Buku itu kakakku yang beli. Judulnya Grotesque. Pengarangnya Natsuo Kirino.

Grotesque bicara lebih dari perempuan. Grotesque juga bicara lebih dari hierarki sosial. Grotesque menunjukkan kepadaku bahwa kebahagiaan memiliki makna yang unik. Ketika selesai membaca novel ini, salah satu pertanyaan yang muncul di benakku adalah siapakah di antara tokoh-tokohnya yang merasa paling bahagia?

Aku jadi ingat masa laluku. Ketika aku duduk di bangku Sekolah Dasar, tepatnya kenaikan kelas 4 SD, hidupku berubah. Kala itu ada tes satu kecamatan untuk menentukan siapa saja yang masuk ke kelas unggulan. Tesnya tertulis. Sebelumnya di kelas 3, aku selalu menduduki peringkat III selama 3 caturwulan berturut-turut. Di atasku ada Mega, anak tentara pindahan dari Jakarta yang sepertinya sudah mengenyam pendidikan lebih baik. Juga Mursal, yang selalu menduduki peringkat II. Tapi tak disangka, pada tes itu, nilaiku terbaik se-Kecamatan.

Aku bukanlah murid yang menonjol di kelas. Aku menyadari aku cukup cerdas, tetapi aku tidak pernah aktif di kelas. Aku tidak pernah maju atau pun menunjukkan tangan ketika guru bertanya. Aku diam saja di bangkuku, dan mencoret-coreti buku tulisku itu.

Aku dipanggil ke ruangan Kepala Sekolah. Di sana sudah ada pejabat dari Dinas Pendidikan. Kepala Sekolahku bertanya, “Kamu anaknya siapa?” Aku menjawab nama Bapakku. Dan ia manggut-manggut dan berkata, “Pantas saja. Bibitnya sudah unggul.”

Hari itu, di awal kelas 4 SD, aku memahami makna kalimat tersebut dan menanggungnya di pundakku seakan-akan aku hidup di bawah nama orang tuaku. Di sisi lain, saat itu aku sudah berpikir, suatu hari aku harus keluar dari bayang-bayang orang tuaku.

Grotesque juga bicara itu. Pendidikan dan orang tua. Keluarga-keluarga kaya memasukkan anak-anaknya di sekolah berkualitas sejak sekolah dasar untuk menempuh hidup yang lebih baik. Di luar itu, keluarga lain begitu bangga ketika pada masa sekolah menengah, sekolah lanjutan, ada anaknya yang berhasil masuk ke dalam sistem tersebut. Satu strata terbentuk dari jenjang pendidikan. Mereka yang berpendidikan di sekolah yang bagus akan lebih mungkin mendapat pekerjaan yang lebih baik. Dan nilai manusia ditentukan dari situ.

Itulah yang ada di benak Kazue Sato. Ia berusaha mati-matian untuk masuk ke dalam sistem. Ketika sudah diterima bekerja di sebuah perusahaan papan atas G, ia justru bekerja sampingan sebagai pelacur demi targetnya mendapatkan tabungan 10 juta yen sebelum umur 40 tahun. Dengan demikian, ia bisa menghabiskan sisa hidupnya dalam kenyamanan dan melepaskan diri dari bayang-bayang keluarganya. Ya, sejak kematian ayahnya, lulusan universitas Tokoyo, yang menerapkan strata pendidikan secara ketat, ia menjadi tulang punggung keluarga dan menganggap keluarganya sebagai beban penghidupan.

Jalan hidup Kazue juga tak terlepas dari peran Yuriko. Ketika Kazue melihatnya di masa sekolah, kecantikannya yang luar biasa (sampai-sampai disebut Monster) membuat Kazue terpana. Bahkan nama jalanannya adalah Yuri. Diambil dari Yuriko. Betapa terkejutnya ketika suatu malam ia melihat Yuriko yang bak siang dan malam dengannya itu juga menjadi pelacur jalanan dengan lapisan lemak yang menumpuk. Kecantikannya memudar dimakan usia.

Lalu, apakah Yuriko tidak bahagia dengan jalan hidupnya? Dalam bersitan pemikiran sang tokoh utama, Yuriko memanglah perempuan yang tak bisa tanpa air. Sejak keperawanannya hilang oleh pamannya sendiri, ia begitu menyukai seks. Dengan seks, ia bisa berada di atas laki-laki. Itu yang ada di benak Kazue juga. Dengan seks pula, Yuriko bebas dari segala hierarki sosial yang ada. Ia bisa bercinta dengan ia siapa saja. Ia juga bisa bercinta demi tiga juta yen atau pun tiga ribu yen.

Beda lagi dengan Mitsuru yang menjadi murid terpintar di sekolah. Ia harus menyewa tempat tinggal di tempat yang lebih mewah, membayar mahal untuk itu, padahal ibunya adalah pemilik bar. Meski dari sisi akademis ia mendapatkan semua yang diinginkan, ia kemudian terjebak dalam aliran keagamaan tertentu demi hierarki yang lebih tinggi. Andai, ia tetap berpuas diri pada apa yang telah diraihnya, mungkin ia akan jadi dokter selamanya. Tapi, apakah Mitsuru tidak bahagia setelah dua tahun dipenjara dan menyaksikan suaminya dihukum seumur hidup?

Keengganan Mitsuru yang lahir dan punya ibu di distrik P, sebuah tempat non-elite, juga menjadi pertanyaan bagi Zhang, pembunuh Yuriko. Zhang yang lahir sebagai anak dusun selalu bertanya, apakah hidup kita ditentukan dari tempat lahir kita?

Kini, giliran aku yang berpikir tentang sebuah dalil yang mengatakan semua bayi itu suci dan tidak berdosa. Orang tualah yang menentukan mereka Islam, Yahudi, Nasrani atau Majusi. Apakah itu juga berarti orang tuanya juga yang menentukan strata hidup anaknya? Seorang anak yang dilahirkan di keluarga kaya akan menikmati kemewahan dan status sosial yang diberikan ayahnya. Tetapi anak yang dilahirkan di keluarga miskin, akan hidup di atas kemiskinan itu. Tentu sangat sedikit orang tidak berada yang bisa menaikkan status hidupnya. Begitu pun sangat sedikit orang yang sudah kaya dan terhormat mendadak bisa turun menjadi melarat.

Hidup seperti ini menggangguku. Sepanjang membaca Grotesque, aku begitu gelisah dan tak dapat tak berpikir, bagaimana hidup seperti ini ada?

PS:
Sampai terakhir, aku tak tahu nama tokoh utamanya. Siapa nama kakak Yuriko?
Apakah dengan demikian, Natsuo Kirino hendak berkata diri kita yang bercerita tidak pernah penting dari apa-apa yang ada di dalam cerita?

 

Knocking The Door

 

Setiap kita harus belajar mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum memulai pembicaraan dengan orang lain.

~ Ajaran Sesat No. 47

 

Aku pernah sangat kesal pada seseorang. Dia teman satu kosku. Pasalnya, dia hobi sekali membuka pintu kamarku tanpa permisi. Tiba-tiba saja pintu sudah terbuka dan ia melongokkan kepalanya atau sudah nyelonong masuk ke dalam kamar. Tentu saja aku merasa terganggu.

Bagiku, kamar adalah ruang milikku yang paling pribadi. Ia seperti hati. Tidak sembarang orang boleh masuk, apalagi masuk tanpa permisi.

Sejak kecil aku memang dikenal sebagai bocah kamar. Aku rela menghabiskan sebagian besar waktu hidupku di dalam kamar. Tak ada yang tahu apa yang kulakukan di dalam kamar. Orang tuaku mengira aku belajar. Sampai sekarang, aku sendiri tidak tahu arti dari belajar. Jika membaca buku adalah belajar, artinya aku memang belajar. Aku memang menghabiskan banyak waktuku dengan membaca buku di dalam kamarku itu.

Barangkali kau menganggapnya sepele atau memang dalam hidupmu kau tidak mengenal privasi atau diajari bagaimana caranya memulai sebuah interaksi dengan orang lain. Aku sangat sensitif dengan hal itu. Untuk mengirim SMS saja, jika aku belum atau baru mengenalnya atau aku tidak kenal secara akrab, aku akan dengan sangat serius memikirkan kata pertama yang harus kuketikkan.

Ini bukan cara berbasa-basi. Ini adalah manner. Semacam mengucapkan “Hai…” atau “Hallo…” sebelum memulai percakapan adalah bagian dari manner tersebut.

Pun dalam interaksi di media sosial. Aku mengibaratkan status, catatan, dan wall sebagai ruang tamu dan ruang-ruang lain. Sementara inbox adalah kamar. Itu kamarku. Tentu saja, ada hal yang harus diperhatikan sebelum memulai pembicaraan kalau kita tidak berteman atau berteman dekat.

Bisa saja kan orang yang kamu sapa itu sedang tidak mood, sedang tidak dalam keadaan ingin berbicara, sedang PMS, lalu kamu yang tanpa mengetuk pintu langsung masuk ke dalam kamar sambil mengajukan permasalahan?

Ah, barangkali memang usia tidak menjamin kedewasaan seseorang.

TERBITKAN FIKSIMU SEKARANG JUGA!  

11009778_10152830849909794_2116600355_o

Kamu suka menulis fiksi? Punya naskah yang sudah tersimpan begitu lama? Buruan kirimkan naskahmu ke Penerbit Exchange. Tapi sebelum mengirimkannya, kamu harus tahu dulu syarat-syaratnya:

 

  1. Naskah berupa novel, bukan kumpulan cerpen atau kumpulan puisi.
  2. Naskah minimal 50 halaman A4 spasi satu, font Times New Roman 12, margin default.
  3. Kirimkan naskahmu beserta sinopsis dan data pribadimu (nama asli sesuai KTP, nomor telepon/ponsel yang bisa dihubungi, alamat lengkap) dalam file yang terpisah ke email: fiksiexchange@gmail.com.
  4. Semua naskah yang masuk akan langsung direviu oleh Dewan Redaksi Exchange dan akan mendapat balasan penerimaan/penolakan paling lambat 4 bulan sejak naskah dikirim.
  5. Secara spesifik, genre yang kami cari adalah fiksi romance muda-dewasa.
  6. Kami hanya menerima naskah dalam bentuk soft copy.

 

Nah, jika kamu mau naskahmu diterbitkan ribuan eksemplar, royalti masuk ke rekening secara reguler, segera kirimkan naskah kamu ke Penerbit Exchange. Tidak dipungut biaya sepeser pun!

 

Segera Terbit: Aku Cukup Menulis Puisi, Masihkah Kau Bersedih?

the_diary_by_slawekgruca-d76z4aj

 

Hujan di Luar Berderai-derai,

Boleh Aku Mencintaimu?

 

kata-kataku tak pernah lebih panjang dari usia kupu-kupu

sejak kuketahui ada yang meletakkan ribuan kepompong

di sepasang paru-paruku

 

(2014)

 

Pada Maret 2015 ini, dijadwalkan sebuah buku kumpulan puisiku akan terbit. Judulnya cukup panjang, Aku Cukup Menulis Puisi, Masihkah Kau Bersedih?

Berawal dari pertemuan dengan Irwan Bajang pada peluncuran buku puisinya Khrisna Pabichara, bulan September 2014 lalu, ia berkata hendak menerbitkan puisi-puisiku. Aku sendiri sebenarnya tidak punya hasrat lebih untuk itu. Sudah lama, aku tidak mengirimkan puisiku ke koran-koran. Hanya beberapa kali juga aku mengikutsertakan mereka ke berbagai antologi atau mengirimkannya ke sayembara. Beberapa di antaranya beruntung, membuatku menerima semacam blackberry atau galaxy tab.

Ini adalah buku puisi keduaku setelah Alusi. Mengingat Alusi, aku menulisnya pada tahun 2009, dengan terburu-buru. Dengan kredo menciptakan alusi, bukan hanya sebagai sebuah gaya bahasa, aku menulis segala yang ada di pikiranku. Aku tidak tahu kenapa dulu aku begitu percaya diri. Bermodalkan uang 5 juta, aku cetak sendiri buku itu 1000 eksemplar melalu Pustakapujangga milik Mas Nurel. Aku jual dengan harga Rp25.000,- per buku. Alhamdulillah, lebih dari 200 eksemplar bisa kujual sendiri. Stok di toko pun terjual lebih dari 100 eksemplar. Sisanya, aku berikan ke perpustakaan, kegrup kepenulisan untuk dibagi-bagikan setiap kali mereka mengadakan event.

Buku puisiku kali ini murni diterbitkan IBC. Sebagai penerbitan indie (bukan lawan kata major, tetapi lawan kata mainstream), tentu buku ini tidak akan hadir di toko buku. Bila saja kamu lewat dan membaca blogku, kamu bisa memesannya langsung ke aku atau ke IBC. Harganya Rp40.000,- Inflasi seringkali mengolok-olok isi dompet, ya? Dalam 6 tahun, harga produksi buku meningkat drastis.

Sila dipesan ke @pringadi_as atau SMS/WA ke 085239949448