Terjemahan Charles Bukowski dan Henry Wadsworth Longfellow

And The Moon And The Stars And The World

Charles Bukowski

 

Long walks at night–
that’s what good for the soul:
peeking into windows
watching tired housewives
trying to fight off
their beer-maddened husbands.

 

Dan Bulan dan Bintang dan Dunia

karya Charles Bukowski

 

Perjalanan panjang di malam hari–

sungguh baik buat jiwa:

melongok melalui jendela

menyaksikan ibu rumah tangga kelelahan

mencoba menyingkirkan

suami-suami yang mabuk dan gila

 

 

 

 

Anak Panah dan Lagu

Henry Wadsworth Longfellow

aku melepaskan anak panah ke udara

ia lalu jatuh ke tanah, aku tak tahu di mana;

begitu cepat ia melesat, pandangan mataku

tak dapat mengikuti arah lesatannya.

aku menghembuskan lagu ke udara,

juga lalu jatuh ke tanah, aku tak tahu di mana;

siapa saja yang tatapannya begitu tertarik dan kuat,

sehingga dapat mengikuti perjalanan lagu itu?

lama, lama sekali setelah itu, di bawah pohon oak

aku menemukan anak panah, belum patah

juga sebuah lagu, dari mula hingga selesai

aku menemukannya lagi di hati seorang sahabat.

The Arrow and the Song

Henry Wadsworth Longfellow

 

I shot an arrow into the air,

It fell to earth, I knew not where;

For, so swiftly it flew, the sight

Could not follow it in its flight.

 

I breathed a song into the air,

It fell to earth, I knew not where;

For who has sight so keen and strong,

That it can follow the flight of song?

 

Long, long afterward, in an oak

I found the arrow, still unbroke;

And the song, from beginning to end,

I found again in the heart of a friend.

 

(diterjemahkan oleh Pringadi Abdi Surya)

Sajak Subagio Sastrowardoyo

Sajak Subagio Sastrowardoyo

 subagio-sastrowardoyo-quotes-2

Kampung

Kalau aku pergi ke luar negeri, dik
karena hawa di sini sudah pengap oleh
pikiran-pikiran beku.

Hidup di negeri ini seperti di dalam kampung
di mana setiap orang ingin bikin peraturan
mengenai lalu lintas di gang, jaga malam dan
daftar diri di kemantren.

Di mana setiap orang ingin jadi hakim
dan berbincang tentang susila, politik dan agama
seperti soal-soal yang dikuasai.

Di mana setiap tukang jamu disambut dengan hangat
dengan perhatian dan tawanya.

Di mana ocehan di jalan lebih berharga
dari renungan tenang di kamar.

Di mana curiga lebih mendalam dari cinta dan percaya.

Kalau aku pergi ke luar negeri, dik
karena aku ingin merdeka dan menemukan diri.

Sajak Yang Dewasa

sajak yang dewasa
sudah tak peduli
apakah aku menangis atau ketawa

di muka cermin
aku tak mengenal lagi
ia bayangan siapa

setiap hendak kutangkap
ia lolos dari dekap

tak mau menampung rasa

di luar jamah
ia sebagian dari semesta
satu dengan suara manusia

setelah ia dewasa
aku tak punya kuasa
maka kubiarkan dia berjalan merdeka

Salam Kepada Heidegger

Sajak tetap rahasia
bagi dia yang tak pernah
mendengar suara nyawa.
Kata-kata tersembul dari alam lain
di mana berkuasa sakit, mati
dan cinta. Kekosongan harap
justru melahirkan ilham
yang timbul-tenggelam dalam arus
mimpi. Biarlah terungkap sendiri

makna dari ketelanjangan bumi.
Masih adakah tersisa pengalaman
yang harus terdengar dalam bunyi?
Sajak sempurna sebaiknya bisu
seperti pohon, mega dan gunung
yang hadir utuh tanpa bicara

Ambarawa 1989

Sebelum tidur istriku menyulam
di bawah lampu temaram. Sebuah bunga
biru dengan latar kelabu yang akan diberi
pigura dan digantungkan di dinding.
Aku menyempatkan diri mengikuti
berita terakhir di koran yang belum
dapat kubaca pagi hari.
Kami sudah lupa bahwa di kota ini
pernah terjadi revolusi dengan kekejaman
dan kematian. Keluarga lari mengungsi

ke gunung dan aku turut bergerilya
mengejar Belanda. Berapa peluru sudah
kutembakkan di malam buta menyerang
musuh yang menghadang dengan senjata.
Pikiran tegang selalu oleh cemas
dan curiga.
Kini peperangan hanya terjadi di roman
petualangan yang kubaca dan yang kulihat
di layar TV, jauh entah di negeri mana.
Nampak tak nyata dan hampir tak bisa
dipercaya.
Ah, biarlah kedamaian berlanjut
begini. Semua — bunga, dinding, lampu,
kuri, istri — terliput dalam kabut
puisi. Suling mengalun menembus
malam. Aku tak tahan lagi melihat darah.

GENESIS

Oleh :
Subagyo Sastrowardoyo

pembuat boneka
yang jarang bicara
dan yang tinggal agak jauh dari kampung
telah membuat patung
dari lilin
serupa dia sendiri
dengan tubuh, tangan dan kaki dua
ketika dihembusnya napas di ubun
telah menyala api
tidak di kepala
tapi di dada
–aku cinta–kata pembuat boneka
baru itu ia mengeluarkan kata
dan api itu
telah membikin ciptaan itu abadi
ketika habis terbakar lilin,
lihat, api itu terus menyala

HAIKU

Oleh :
Subagyo Sastrowardoyo

malam rebah
di punggung
sepiku
gigir gunung
susut di kaca
hari makin surut
dan bibir habis kata:
dinda, di mana, siapa
tangan terkepal
terhenyak di meja

JENDERAL LU SHUN

Oleh :
Subagyo Sastrowardoyo

Jenderal Lu Shun kewalahan. Ia tidak dapat menyelesaikan puisinya. Ia baru menulis dua dari empat baris pantun Cina, tetapi fantasinya seperti tersekat dalam kata-kata kosong tak berarti.
Maka ia keluar dari tendanya dan memerintahkan perwiranya mengumpulkan bala tentaranya.”Kita serang dusun itu di lembah dan bunuh penduduknya.”
Perwira itu masih mencoba mengingatkannya:”Tetapi Jenderal, ini malam hari dan orang tak boleh berperang waktu musuh sedang tidur. Hanya perampok dan pengecut yang menyerang musuh di malam hari.”
“Aku butuhkan ilham,” seru Jenderal Lu Shun, “dan aku tak peduli apa siang atau malam. Aku butuhkan kebengisan untuk menulis puisi.”
Kemudian ia naik kudanya yang beringas dan mendahului pasukan-pasukannya menyerbu ke lembah. Diayunkan pedang dan dicincang penduduk dusun yang tidak berjaga, sehingga puluhan laki-laki, perempuan dan anak-anak terbunuh oleh tangannya. Ia sungguh menikmati perbuatan itu, dan sehabis melihat dengan gairah darah mengalir dan tubuh bergelimpangan di sekelilingnya, ia kembali ke tendanya. “Jangan aku diusik sementara ini,” pesannya kepada seluruh bala tentaranya. Di
dalam keheningan malam ia kemudian menulis puisinya.
Ia menulis tentang langit dan mega, tentang pohon bambu yang merenung di pinggir telaga. Burung bangau putih mengepakkan sayapnya sesekali di tengah alam yang sunyi. Suasana hening itu melambangkan cintanya kepada seorang putri dan rindunya kepada dewa yang bersemayam di atas batu karang yang tinggi.
Itu semua ditulis dalam pantun Cina yang empat baris panjangnya.

KATA

Oleh :
Subagyo Sastrowardoyo

Asal mula adalah kata
Jagat tersusun dari kata
Di balik itu hanya
ruang kosong dan angin pagi

Kita takut kepada momok karena kata
Kita cinta kepada bumi karena kata
Kita percaya kepada Tuhan karena kata
Nasib terperangkap dalam kata

Karena itu aku
bersembunyi di belakang kata
Dan menenggelamkan
diri tanpa sisa

KEHARUAN

Oleh :
Subagio Sastrowardoyo

Aku tak terharu lagi
sejak bapak tak menciumku di ubun.
Aku tak terharu lagi
sejak perselisihan tak selesai dengan ampun.

Keharuan menawan
ktika Bung Karno bersama rakyat
teriak “Merdeka” 17 kali.

Keharuan menawan
ketika pasukan gerilya masuk Jogja
sudah kita rebut kembali.

Aku rindu keharuan
waktu hujan membasahi bumi
sehabis kering sebulan.

Aku rindu keharuan
waktu bendera dwiwarna
berkibar di taman pahlawan

Aku ingin terharu
melihat garis lengkung bertemu di ujung.
Aku ingin terharu
melihat dua tangan damai berhubung

Kita manusia perasa yang lekas terharu

Pustaka dan Budaja,
Th III, No. 9,
1962

Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air

KUBU

Oleh :
Subagio Sastrowardoyo

Bagaimana akan bergembira kalau pada detik ini
ada bayi mati kelaparan atau seorang istri
bunuh diri karena sepi atau setengah rakyat terserang
wabah sakit – barangkali di dekat sini
atau jauh di kampung orang,
Tak ada alasan untuk bergembira selama masih
ada orang menangis di hati atau berteriak serak
minta merdeka sebagai manusia yang terhormat dan berpribadi –
barangkali di dekat sini atau jauh di kampung orang.
Inilah saatnya untuk berdiam diri dan berdoa
untuk dunia yang lebih bahagia atau menyiapkan senjata
dekat dinding kubu dan menanti.

Daerah Perbatasan,
Jakarta : Budaya Jaya, 1970
Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air

Membaca Realisasi APBN Semester I


Tema APBN sebenarnya adalah sesuatu yang menarik. Apalagi sekembalinya Sri Mulyani ke Indonesia, pernyataan dari Menteri Keuangan tersebut membuat beberapa kalangan terbelalak. APBN kita tidak realistis. Pemotongan anggaran sebesar 133 Trilyun pun menjadi keputusan dalam sidang kabinet dibarengi dengan revisi target penerimaan pajak.

Pertanyaannya, bagaimana sih keadaan APBN kita sekarang? Apakah keadaan APBN kita benar-benar keadaan bahaya?

Sumber: I Account APBN 30 Juni

Secara garis besar, APBN terdiri dari lima elemen, yakni Pendapatan Negara dan Hibah, Belanja Negara, Keseimbangan Primer, Surplus/Defisit anggaran dan Pembiayaan.

Isu terbesar pertama ada di Pendapatan Negara dan Hibah yakni di Penerimaan Perpajakan. Dari gambar tersebut kita dapat melihat target penerimaan perpajakan adalah 1539,2 T. Hingga 30 Juni 2016, realisasinya baru 522 T atau hanya sebesar 33,9%. Titik yang harus menjadi fokus adalah pada Pajak Penghasilan Non-migas. Ini bisa berarti mengacu pada PPh Orang Pribadi dan PPh Badan.

Seperti yang diketahui, angkatan kerja tahun 2015 lebih dari 128 juta. Dari sejumlah itu, hanya sekitar 27 juta yang memiliki NPWP orang Pribadi. Dan dari jumlah itu, hanya 9,92 juta yang melaporkan SPT. Dan tak lebih dua juta orang yang SPTnya tidak nihil. Ini menyiratkan betapa potensi PPh orang pribadi begitu besar dan belum tersentuh.

Sumber: djpbn.kemenkeu.go.id

Realisasi penerimaan pajak yang tak sampai 34% di semester 1 adalah ancaman bagi APBN. Realisasi ini bahkan lebih rendah dari realisasi semester 1 tahun lalu. Dengan target yang lebih tinggi dari tahun lalu, maka bisa diramalkan target penerimaan negara hingga akhir tahun akan jauh di bawah target kecuali jika Tax Amnesty benar-benar bisa berhasil 100%.

Ancaman shortfall, atau cash flow shortage, bisa dilihat dari pergerakan realisasi belanja di semester 1 yang mencapai 41%. Dari tren yang ada, belanja secara progresif akan meningkat di semester kedua karena kontrak-kontrak yang sudah berlangsung akan selesai di triwulan III dan IV. Mengatasi itu, Sri Mulyani memerintahkan untuk mendata semua kontrak yang sudah berjalan dan belum berjalan. Kontrak-kontrak yang belum berjalan dan dipandang tidak begitu urgent akan diambil kebijakan lebih lanjut. Begitu juga dengan Belanja Barang (52). Sasaran selanjutnya adalah memangkas semua biaya perjalanan dinas, biaya operasional yang mungkin dipangkas dalam Belanja Barang tersebut.

Isu dalam belanja ini begitu banyak. Mulai dari Belanja Pegawai yakni terkait rasionalisasi PNS yang sangat perlu dilakukan demi ruang fiskal, adanya Dana Desa yang menjadi Mandatory Spending baru, dan kenyataan bahwa Pemerintah Pusat begitu perhatian dengan Papua dan Aceh, tercermin dari Dana Otsus yang dianggarkan hingga 18,3 T. Masalah Pengembalian Pajak yang nilainya fantastis juga menjadi misteri.

Persoalan ke depan, PR untuk APBN 2017 adalah pada kualitas belanja. Kita tidak perlu “gaya-gayaan” dengan meningkatkan belanja seakan-akan pertumbuhan ekonomi ekivalden dengan peningkatan APBN, tetapi dengan serius merumuskan apa yang benar-benar butuh dikerjakan dengan anggaran yang realistis.

Sumber: I Acccount APBN 30 Juni

Kemudian, selisih di antara penerimaan dan belanja tadi bagaimana? Ya, ditutup dengan pembiayaan. Pembiayaan ini salah satunya utang.

Kita lihat tadi realisasi penerimaan 634,7 T sementara realisasi belanja 865,4 T. Terjadi defisit anggaran sebesar 230,7 T. Angka defisit terhadap PDB yang dibolehkan undang-undang adalah 3%. Dengan angka semester 1 ini, defisit sudah mencapai 1,83%.

Satu hal yang menarik dari APBN juga adalah proporsi pembiayaan dalam negeri dan pembiayaan luar negeri. Dalam beberapa tahun terakhir, utang dalam negeri Indonesia melonjak. Pada tahun 2012 hal ini dikritik oleh Bank Dunia karena utang dalam negeri dianggap memiliki biaya dan risiko gagal bayar yang tinggi. Namun, hal ini juga dibantah. Utang dalam negeri bebas intervensi. Utang ke asing memiliki resiko intervensi. Dan jumlah bunga utang juga lari ke luar negeri.

Realisasi APBN I Account per 30 juni adalah laporan sementara dengan asumsi PDB 12.626 T.

Ihwal Pengiriman Karya ke basabasi.co

hwal Rubrik Puisi basabasi.co

Mulai Selasa (20 September 2016) rubrik puisi di basabasi.co akan tayang kembali. Dengan demikian saya, sebagai penjaga rubrik puisi, merasa perlu mengemukakan beberapa hal berikut:

1. Rubrik puisi basabasi.co membuka diri terhadap keragaman tema, gaya, dan pelbagai eksperimen bentuk dan isi.
2. Ruang untuk puisi-puisi yang dimuat kira-kira hampir sama dengan ruang yang disediakan koran, sekitar lima puisi jika panjangnya seperti sajak “Hujan Bulan Juni” karya Sapardi Djoko Damono
3. Menerima juga kiriman naskah sajak terjemahan, meski frekwensi pemuatannya tak akan sesering puisi-puisi para penyair Indonesia.
4. Naskah puisi dikirim ke gerobaknaskah@basabasi.co dengan subyek email sesuai kolom yang dituju: puisi.
5. Pastikan karya yang dikirimkan belum dipublikasikan dalam bentuk apa pun. Redaktur tak akan mengembalikan naskah yang dikirimkan, jika dua bulan sejak pengiriman karya tidak dimuat maka penyair berhak mengirimkannya ke media lain.
6. Naskah sajak yang dimuat pada basabasi.co akan mendapatkan honorarium plus bonus kaos ekslusif.
7. Naskah sajak yang dimuat akan tayang setiap hari Selasa di www.basabasi.co dan diumumkan juga di akun-akun medsos terkait. Selain itu, melalui akun facebook ini saya akan turut pula mengumumkannya.

Saya tunggu kiriman karyanya

Salam dan jabat erat,

Tia setiadi

NB: Jika berkenan, mohon informasi ini dishare.

Mengenal Istimewanya Kantorku: Ditjen Perbendaharaan

 

 

Kantor Pelayanan Percontohan (KPPc)
KPPN Malang mendapatkan predikat sebagai unit Kerja terbaik dalam penilaiaan KPPc 2013.
Opini Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)
Direktorat Jenderal Perbendaharaan meraih opini wajar tanpa pengecualian dari Badan Pemeriksa Keuangan untuk BA.99.04 (penerusan pinjaman) tahun 2011-2012.
Asian Development Bank (ADB) Award
Penghargaan yang diberikan kepada KPPN Khusus Banda Aceh pada tahun 2005.
Kepuasan pelanggan tertinggi Survei IPB
Ditjen Perbendaharaan sebagai unit Eselon I di lingkungan Kementerian Keuangan dengan tingkat kepuasan pelanggan tertinggi di tahun 2010 – 2012.
Pelayanan Publik TerbaikSurvei UI
Ditjen Perbendaharaan sebagai unit Eselon I di lingkungan Kementerian Keuangan yang memberikan pelayanan publik terbaik di tahun 2009.
Penilaian Inisiatif Anti Korupsi (PIAK)
Ditjen Perbendaharaan sebagai Institusi yang memiliki inisiatif untuk mencegah terjadinya tindak korupsi paling tinggi di tahun 2010.

Integritas Layanan Terbaik Survey KPK
Ditjen Perbendaharaan Sebagai Organisasi dengan Integritas Layanan Terbaik Tahun 2011.

Quality Assurance-Penilaian Mandiri
Pelaksanaan Reformasi Birokrasi (QA PMPRB)
Ditjen Perbendaharaan memperoleh peringkat pertama dalam penilaian QA tahun 2011 dan PMPRB tahun 2012 untuk unit eselon I lingkup
Kementerian Keuangan yang memiliki kantor vertikal.

Wilayah Bebas dari Korupsi , Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBK, WBBM)
KPPN Malang dinobatkan sebagai Unit Kerja Berpredikat Wilayah Bebas dari Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani tingkat Nasional tahun 2013.

piala

Daftar Penghargaan yang Diperoleh Ditjen Perbendaharaan 2014 s.d 2016

  1. Memperoleh indeks tertinggi dalam Survei Kepuasan Pengguna Layanan Kemenkeu tahun 2015 dengan indeks sebesar 4,32 (target 4,06), lebih tinggi daripada rata-rata Kementerian Keuangan sebesar 4,08 atau merupakan peringkat PERTAMA di antara unit eselon I Kemenkeu. Hasil tersebut meningkat dari tahun 2014 yang sebesar 4,23
  2. Memperoleh peringkat PERTAMA lingkup Kemenkeu secara berturut-turut tahun 2014 dan 2015 pada Indeks Kesehatan Organisasi melalui Survei MOFIN di lingkup Kemenkeu tahun 2015 dengan nilai 78.
  3. Mempertahankan peringkat PERTAMA lingkup Kemenkeu selama 3 tahun berturut-turut (tahun 2013 – 2015) dalam pelaksanaan Survei Strategy Focused Organization (SFO) oleh Pushaka Setjen Kemenkeu terkait kualitas pengelolaan kinerja dan strategi kepemimpinan, dengan skor di tahun 2015 adalah 4,6 (skala 5) sehingga lebih meningkat daripada nilai di tahun 2014 yaitu 4,45.
  4. Memperoleh peringkat PERTAMA tahun 2014 dan 2015 di lingkungan Kementerian Keuangan dalam Penilaian Itjen Kemenkeu terkait Tingkat Kematangan Penerapan Manajemen Risiko (TKPMR), dengan nilai tertinggi sebesar 75,97 (tahun 2014) dan 78,14 (tahun 2015).
  5. Memperoleh predikat sebagai Kantor Pelayanan Percontohan (KPPc) terbaik di lingkungan Kementerian Keuangan yang diraih oleh KPPN Kuningan.
  6. Sampai dengan saat ini, terdapat 21 KPPN yang telah meraih pengakuan sertifikasi internasional ISO 9001 : 2008 terhadap manajemen mutu layanan KPPN.
  7. Ditjen Perbendaharaan merupakan satu-satunya perwakilan Kementerian Keuangan yang berhasil memenuhi kriteria sebagai Wilayah Bersih dari Korupsi (WBK) tahun 2015 dalam penilaian oleh Kemenpan RB, yang diraih oleh KPPN Amlapura. Dengan demikian, Ditjen Perbendaharaan adalah satu-satunya unit eselon I Kemenkeu yang mampu meraih predikat WBK/WBBM selama 3 tahun berturut-turut.

Potensi Zakat dalam Struktur Penerimaan Negara

Mungkinkah zakat menggantikan pajak dalam APBN? Pertanyaan ini seringkali menghantuiku. Dan hari ini, ada energi untuk menulis pertanyaan ini disebabkan oleh beredarnya wacana peran zakat dalam membantu mengentaskan kemiskinan oleh pemerintah. Namun, sayangnya, yang saya tak mengerti adalah reaksi negatif dari sebagian masyarakat yang malah mengejek wacana ini. Mereka beranggapan wacana ini muncul karena ketidakmampuan pemerintah dalam mengumpulkan pajak, perencanaan yang abal-abal atau tuduhan lain yang sangat negatif. Beberapa yang fanatik bahkan malah berkata, zakat nggak boleh untuk non-muslim atau zakat nggak boleh untuk infrastruktur publik yang notabene juga akan dinikmati rakyat yang sudah makmur.

Saya pribadi senang sekali jika wacana ini terwujud. Wacana ini nggak baru, sudah lama, bahkan pernah dicetuskan oleh Badan Amil Zakat. Dibanding diskusi boleh nggak zakat jadi sumber penerimaan negara menggantikan pajak, diskusi zalim atau tidak pajak itu sebenarnya lebih banyak. Sebagai orang Islam, saya sebenarnya ragu dengan pajak (sepengetahuanku yang terbatas ini). Tapi apalah itu, di sini saya akan mencoba menulis pemahaman saya bagaimana pentingnya zakat dalam struktur penerimaan negara.

Berita yang saya baca, potensi zakat nasional yakni lebih dari 200 triliun saat ini. Sayangnya, yang ditarget baru 10 triliun dan yang terealisasi hanya sekitar 5 triliun per tahun. Hal ini dikarenakan banyak sebab, salah satunya belum percayanya masyarakat pada badan zakat, juga kurangnya pemahaman umat Islam Indonesia tentang zakat.

Kalau balik ke pertanyaan pembuka, mungkinkah zakat menggantikan pajak? Saat ini saya menjawab zakat sangat mungkin mendampingi pajak sebagai sumber penerimaan negara (belum menggantikan). Ceteris paribus, kita kesampingkan dulu semua dasar hukum yang ada. Ini hanya bayangan saja ya.

Bagaimana zakat bisa mendampingi pajak yakni dalam perannya mengentaskan kemiskinan. Apa sih yang disebut rakyat miskin di Indonesia?  Rakyat miskin di Indonesia itu adalah rakyat yang pengeluaran per bulannnya di bawah batas kemiskinan. Batas kemiskinan ini 2100 kalori atau kalau dikonversi ke uang jadi sekitar 400 ribu rupiah per bulan. Jadi kalau dia punya 3 anggota keluarga, artinya penghasillannya (dengan pendekatan pengeluaran) setara dengan 1,6 juta rupiah. Batas kemiskinan ini berbeda dengan World Bank. WB bikin dua batas kemiskinan. Pertama kemiskinan absolut dan kedua rentan miskin. Kemiskinan absolut itu PPP (Public Purchase Parity) 1 dolar, rentan miskin 2 dola per hari. Maksud dari Public Purchase Parity itu adalah  1 dolar di Amerika bisa beli barang apa saja, dan barang apa saja itu kalau di Indonesia atau negara lain didapat dengan harga berapa. Jumlah penduduk miskin di Indonesia sekitar 10,8% atau 28 juta. Dan konsumsi utama dari rakyat miskin adalah beras. Dan harga beras adalah harga yang paling rentan terkena pengaruh inflasi. Jadi, perlindungan utama zakat pada rakyat miskin adalah soal beras.

Kalau kita hitung dari zakat fitrah saja ya, ada 258 juta penduduk Indonesia. Anggaplah 80% nya muslim… berarti hitung kotor 200 juta orang. Dikurangi penduduk miskin 28 juta jadi 172 juta. Karena nggak miskin, harusnya mereka bisa bayar fitrah. Dikali 2,5 kg beras. Maka dalam setahun, kita punya beras 430 juta kilogram beras. Atau 430.000 ton beras! Kalau dikonversi ke rupiah dengan asumsi sekilo beras 10.000, setara dengan 4,3 triliun. Hal ini belum dihitung dari zakat wajib lainnya seperti zakat mal (zakat harta), atau ada juga zakat profesi (meski ini dalam perdebatan), dan zakat dalam arti luas (termasuk infaq dan sadaqah).

Ketika zakat masih sebagai pendamping pajak, maka di kolom SPT ada kolom zakat. Mereka yang telah mengeluarkan zakat menerakan itu, dan menjadi dasar perhitungan penghasilan yang kena pajak.

Jadi, kalau soal visible nggak zakat mendampingi pajak, jawabannya visible banget, dan muslim seharusnya mendorong hal ini terwujud sebagai langkah awal menggantikan pajak sebagai penerimaan negara utama berhubung mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim.

Pertanyaannya, zakat ini kan hanya untuk orang miskin, apa bisa dia digunakan untuk infrastruktur yang akan dinikmati rakyat yang sudah makmur juga? Ada lho ayatnya untuk orang-orang miskin.

Saya berlindung pada Allah atas pengetahuan saya yang terbatas.

Ada 8 kelompok penerima zakat:

1. Fakir (orang yang tidak memiliki harta)

2. Miskin (orang yang penghasilannya tidak mencukupi)

3. Riqab (hamba sahaya atau budak)

4. Gharim (orang yang memiliki banyak hutang)

5. Mualaf (orang yang baru masuk Islam)

6. Fisabilillah (pejuang di jalan Allah)

7. Ibnu Sabil (musyafir dan para pelajar perantauan)

8. Amil zakat (panitia penerima dan pengelola dana zakat)

Tentu, yang diutamakan adalah ketujuh kelompok pertama. Amil Zakat ini yang akan mengelola dan mendistribusikan zakat yang ada baik itu konsumtif, produktif, atau soal bersarannya. Kalau merujuk ke angka rakyat miskin, untuk fakir miskin bisa saja dialokasikan sebesar biaya hidup satu tahun. 400.000 x 28 juta jiwa (anggap muslim semua) menjadi total 11.200.000.000.000 (atau 11,2 T). Kalau potensi 200 T tercapai, sisanya masih banyak, apalagi jika suatu hari ya zakat yang utama bisa sampai >1000 T.

Bagaimana untuk yang non-muslim, bagaimana untuk yang infratstruktur publik?

Nah, pembagian zakat ini bukan tanpa diskusi ya. Ada yang bilang zakat harus dibagi rata. Tetapi ada juga yang tidak. Salah satunya pendapat Imam Malik. Menurut Imam Malik, Amil Zakat sebagai pengelola boleh menentukan porsi per kategori. Dalam bayangan saya, di sini peran amil zakat sangat penting buat membangun sarana dan prasarana publik itu. Misalnya, masukkan ke kategori 8. Sudah diterima oleh Amil Zakat untuk kemudian dibangun infrastruktur.

Tapi nanti infrastrukturnya dinikmati non-muslim, yang makmur juga? Kan haram hukumnya non-muslim dan orang kaya menerima zakat?

Rasul pernah bilang, manusia bersekutu atas air, padang sahara dan api. Ini adalah konsep barang publik dalam Islam. Bukan cuma 3 itu, secara konteks, barang publik diakui di dalam Islam. Apa saja, lakukanlah kajian yang mendalam tentang public goods sesuai zamannya. Sekarang apa saja sih barang publik itu.

Artinya barang publik tidak mengenal kamu kaya atau miskin, kamu boleh menikmatinya. Barang publik juga nggak mengenal kamu muslim atau nggak. Selama kamu manusia, ya kamu harus bekerja sama dan kamu boleh menikmatinya bersama-sama.

Secara konsep, zakat nggak dikasih ke orang kaya atau ke non-muslim, tapi menjadi barang publik. Layernya beda lho ya.

Karena barang publik, manusia harus bersekutu. Berarti non-muslim juga kudu punya peran. Ya, non-muslim membayar yang namanya jizyah ke negara. Jizyah ini semacam alat tukar perjanjian. Kafir dzimmi, yang hidup di negara muslim, tidak memerangi muslim, yang membayar jizyah dilindungi oleh negara dan mendapat hak warga negara yang sama dengan penduduk lainnya.

Jadi ke depannya, secara struktur Pendapatan Zakat yang utama (ada fitrah, mal, profesi, infaq, sadaqah), dan Pendapatan Bukan Zakat (jizyah dan pendapatan lainnya). Lalu di mana pajak?

Tentu ekonomi Islam bukan Keynesian yang menganut anggaran defisit. Ketika pengeluaran lebih besar dari pendapatan, target penerimaan tidak tercapai, maka kudu ngutang. Islam sangat benci utang. Nah di sinilah Islam mengenal pajak. PAJAK hanya boleh ditarik dari umat ketika kas negara kosong. Jadi pajak masuk ke dalam struktur pembiayaan ya.

 

Asik nggak tuh bayanganku?

Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan