Insurgent dan Dunia Kecil Kita

 

 

Pemberontakan Tris berlanjut. Bakda penyerangan terhadap Abnegation, atas perintah dan rekayasa Jeanine, Tris dan Four harus terus melarikan diri, mencari faksi Dauntless yang lain, untuk melakukan pembalasan terhadap Jeanine.

Jeanine sendiri mencari kotak pesan sang pendiri, yang ditemukan di rumah keluarga Tris. Kotak pesan itu hanya bisa dibuka oleh seorang Divergent. Jeanine memulai pemburuan terhadap para Divergent. Ternyata, tidak setiap Divergent itu sama. Butuh seorang Divergent yang spesial yang dapat membuka kotak itu.

Seperti di film pertama, Divergent, dunia dibagi menjadi beberapa faksi: Dauntless, Erudite, Abnegation, Condor dan Amity. Mereka percaya faksi tersebut ada untuk menjaga kedamaian. Mereka juga percaya merekalah kaum manusia yang tersisa. Mereka berada dalam sebuah wilayah di dalam dinding. Dunia di luar dinding adalah dunia yang dipercayai penuh dengan ancaman bagi kemanusiaan.

Pola cerita seperti juga dapat ditemui di film The Maze Runner. Sekelompok pemuda terkurung di dalam suatu tempat. Pada waktu tertentu, pintu akan terbuka dan terhampar labirin mengelilingi tempat itu disertai monster. Bedanya, mereka percaya bahwa di balik labirin itu ada jalan keluar.

Jalan keluar itu menjadi solusi di Insurgent. Kotak pesan para pendiri yang ingin dibuka Jeanine tidak menyingkap fakta mengencai ancaman para Divergent, malah justru sebaliknya. Pendiri kota mengatakan bahwa keberadaan faksi adalah sebuah eksperimen untuk melahirkan Divergent, yang dapat melampaui semua faksi yang ada. Karakter Divergent dianggap dapat menyelematkan umat manusia, sebuah harapan baru bagi kemanusiaan. Divergent 100% itu ada para diri Tris.

Sementara di The Maze Runner, jalan keluar, menyingkap fakta lain. Dunia di luar labirin adalah dunia yang kacau. Mereka menjadi eksperimen di dalam tempat tersebut juga untuk mencari solusi kemanusiaan.

Di Insurgent, fakta yang sama juga disiratkan ketika di akhir cerita, Jeanine berkata, “Apa yang  kita ketahui tentang dunia di luar tembok sementara sudah 200 tahun berlalu sejak sistem ini didirikan?”

Di situ aku pun bertanya-tanya, tentang keberadaan manusia. Kita beribu tahun percaya, kita adalah manusia satu-satunya di alam semesta. Kita hidup di suatu tempat bernama bumi, dilingkupi atmosfer yang memisahkan kita dengan luar angkasa. Ada keinginan untuk menembus langit dan sampai kini, misi demi misi baru mengantarkan manusia bermimpi ke Mars. Sementara ada banyak galaksi lain di alam semesta.

Jangan-jangan kita ini seperti Divergent. Ditempatkan di suatu tempat, sengaja dibagi beberapa faksi, terisolasi dan dibuat percaya kitalah manusia satusatunya di alam semesta, tahutahu hanya sebagai sebuah eksperimen untuk kemudian melahirkan manusia yang mampu melampaui faksi yang dibikin di awal itu.

Menurut kamu?

Tuhan

Aku tidak tahu apakah cerita ini dapat menjawab keberadaan Tuhan atau tidak.

Pernah aku mencoba untuk ngeteng pulang dari Lombok ke Sumbawa. Biasanya, aku selalu naik travel. Hanya tinggal duduk manis di kursi, kemudian travel akan mengantarkan aku sampai tepat di depan gerbang kantor. Aku ingin merasakan pengalaman baru. Naik angkutan sendiri, naik kapal laut sendiri. Aku pikir itu lebih mengasikkan.

Dari Lombok Timur, sebelumnya aku sempat singgah di Pancor dulu, aku diantar oleh temanku sampai pelabuhan. Aku membayar kapal sesuai tarif dan tidak menunggu lama, ada kapal yang sudah hendak berangkat. Petugas pelabuhan mengantarkan aku sampai ke tepian dengan buru-buru karena jangkar sudah diangkat, kapal sudah mulai bergerak. Aku melompat dari tepian ke kapan yang baru berjarak kurang 1 meter dari tempat berlabuh. Tentu, melompat hanya beberapa puluh centimeter anak kecil pun bisa.

Aku pikir aku akan baik-baik saja. Aku mencari bis-bis yang menuju ke Sumbawa. Tapi semuanya penuh. Bis ke Bima pun penuh. Aku pun menyerah dan mencari mobil travel, penuh juga. Yang ada bis-bis ke Taliwang. Tentu ke Sumbawa Barat berbeda dengan ke Sumbawa Besar.

Aku mengarungi selat Alas itu selama dua jam tanpa kepastian. Sang sopir bis bilang, biasanya di pelabuhan Poto Tano akan ada bis. Sesampainya di Poto Tano, sudah tidak ada bis. Aku menunggu kapal-kapal berlabuh, menunggu mobil-mobil turun, tetapi tak ada angkutan ke Sumbawa Besar. Jam sudah menunjukkan pukul 5 lebih. Penjaga warung bilangnya bis ke Sumbawa akan ada nanti malam sekitar jam 9. Itu satu-satunya.

Masih ada jarak sekitar 100 km dari Tano ke Sumbawa Besar. Dan aku benci malam.

Penjaga warung menyarankan aku ke Alas. Naik ojek. Katanya di sana ada bis sore. Aku pun segera naik ojek dari pelabuhan. Membayar 20.000 untuk belasan kilometer tidak rugi kupikir. Di jalan aku bergumam di dalam hati, “JIKA TUHAN ADA, BAGAIMANA PUN CARANYA, AKU AKAN SAMPAI KE SUMBAWA BESAR.”

Tuhan nyaris tidak ada ketika sesampainya di Alas, dikatakan bahwa bis terakhir sudah berangkat setengah jam yang lalu. Aku berusaha tidak panik dan tetap tenang. Tukang ojek yang mengantarku tidak memberi solusi apa-apa. Dia pamit dengan segera.

Dalam keadaan bingsal, bingung dan kesal, seseorang menyapaku. “Maaf Mas, mau ke Sumbawa?”

Aku masih dalam keadaan waspada dan berkata, “Iya…”

Dia kemudian bilang, “Ikut kami saja. Tapi sebentar, mobilnya sedang diperbaiki.” Dia menunjuk sebuah mobil angkutan tua berwarna kuning tak jauh dari tempatku berdiri. Aku mengenali itu sebagai angkutan dalam kota Sumbawa. Beberapa orang sedang berada di bawah mesin, mengutak-atik sesuatu.

“Ini tadi dapat carteran ke rumah sakit. Pulangnya kosong. Tapi ngadat. Kalau mau ikut, tunggu sebentar ya.”

Aku mengangguk mengiyakan. Lima belas menitan aku menunggu. Mobil itu akhirnya selesai dibenahi. Klaharnya pecah. Ya mobil itu masih semi rusak. Meski bisa berjalan, dengan bunyi klotak-klotak, ia hanya bisa berjalan pelan. Aku pun dengan sabar menikmati pemandangan malam tepi laut sepanjang jalan. Dan menatap bulan yang bersinar terang. Sekitar lima jam baru aku sampai di Sumbawa.

Hari itu aku meyakini, Tuhan benar-benar ada.

Tips Menulis Puisi Pringadi Abdi Surya

Menulis adalah proses. Baru beberapa tahun belakangan, menulis adalah sesuatu yang populer. Di blog, di media sosial mana pun, bermunculan berbagai tulisan dan orang-orang yang ingin menulis, ingin menjadi penulis, ingin menerbitkan buku. Hal ini positif di satu sisi, karena buku akan menjadi semakin banyak, dan kita tidak akan kekurangan bacaan. Namun seringkali ada satu hal yang dilupakan, menulis adalah proses, bukan sesuatu yang instan. Segala hal yang berbau instan akan meminimumkan kualitas, kecuali mie instan (Hidup anak kos!).

 

Saya selalu mengingat, ada empat kemampuan berbahasa

1. Menyimak.

Menyimak itu pekerjaan yang melibatkan indra, yakni melihat, mendengar segala sesuatu dengan seksama, dengan detil, dengan khusuk dan tawadhu. Menyimak juga berarti melatih kepekaan kita sebagai manusia terhadap lingkungan sekitar.

2. Membaca

Ada satu hal yang menjadi titik tumpu dari membaca, yakni analisis. Membaca bukan berarti membaca buku, tapi membaca adalah sebuah proses belajar. Adalah hal yang normal, dan sangat normal, jika kita membaca, pertanyaan-pertanyaan hadir di benak kita. Ada usaha untuk memahami hal-hal yang kita baca: buku, situasi, perasaan…

3. Menulis

Hukum alam, input ~ output. Artinya, semakin banyak kita membaca, semakin banyak kita ingin menulis. Menulis adalah upaya penegasan atas pertanyaan yang hadir tatkala kita membaca, baik itu berupa jawaban atas pertanyaan, pengulangan atas pertanyaan itu, atau kegundahan yang mendalam karena kita tidak kunjung mendapatkan jawaban.

4. Berbicara

Adalah hal yang baik bila anak-anak kita diajarkan berbahasa sejak dini. Berbahasa yang baik dan benar lebih cepat merangsang otak seorang anak ketimpang pelajaran matematika. Sebab bahasa adalah tentang struktur, cara berpikir, ketenangan dalam menyusun kata untuk menyampaikan informasi secara tepat. Pada saat berbicara, itu bisa berarti kemampuan otak dalam membuat kalimat dan memerintahkan mulut untuk mengucapkannya sama baiknya. Berbicara yang tepat adalah kita telah memahami hal yang hendak kita katakan, bukan sekadar asal bunyi.

 

Menulis Kreatif

Kreatifitas adalah kemampuan untuk mencipta, berinovasi. Secara alami, manusia adalah makhluk yang kreatif, meski banyak hambatan untuk menuju kreativitas.

Hambatan terbesar justru datang dari pengalaman masa kecil, ketika orang tua dan lingkungan membiasakan kita dengan kata “Jangan begini, jangan begitu…” atau kata “Tidak boleh ini dan itu..” Kita telah terbiasa dengan larangan. Padahal hukum agama pun asalnya mubah/diperbolehkan, ketika itu menjadi larangan di kitab suci, dengan alasan yang kuat, ia baru menjadi haram. Begitu pun seharusnya manusia, yang membolehkan, membebaskan anak-anaknya untuk mencoba hal ingin mereka lakukan, kecuali hal itu berefek pada keselamatan atau nyawa si anak.

Secara singkat, hambatan-hambatan lainnya adalah

1.       Kebiasaan. Secara alami untuk berubah. Orang merasa nyaman ketika   mengikuti kebiasaannya, jadi secara alami sulit keluar dari kebiasaannya

2.       Malas. Keluar dari kebiasaan perlu usaha

3.       Kurang percaya diri. Akibat kurang pengalaman jadi kurang percaya diri

4.       Takut gagal. Karena pengalaman pernah ide-ide mereka ditertawakan atau takut dikritik orang lain.

5.       Karena pikiran kreatif dihambat oleh aturan, etika, tidak ada masalah atau         kebanjiran masalah, tidak punya waktu atau terlalu banyak waktu

 6.       Atau karena banyak pikiran lain yang mengganggu.

 

Solusinya? Salah satunya adalah dengan brainstorming. Badai otak—kata google translate.

 

Proses berpikir kreatif tidak bisa dipaksakan. Ide kreatif akan muncul pada saat kita sedang santai. Pada saat duduk di toilet itu ide paling sering muncul. Salah satu cara untuk bisa masuk mudah ke dalam tingkat getaran otak yang kreatif adalah dengan proses re-creation atau menciptakan kembali. Kita menggunakan satu karya kreatif untuk memicu aliran kreatifitas kita.

Kebanyakan orang mengatakan “saya tidak bisa menulis” karena “tidak berbakat,” juga tidak kreatif. Jika Anda bisa berbicara, menulis surat di selembar kertas, mengetahui struktur dasar kalimat, menulis pesan terima kasih, Anda memiliki keterampilan berbahasa yang cukup untuk belajar menulis secara alami. Pengetahuan mengenai tatabahasa bukan persyaratan minimal. Anda hanya perlu memanfaatkan otak Anda dengan benar sehingga memunculkan pemikiran yang kreatif.

 

Pertama, pikirkan sebuah kata benda. Kemudian, tentukan 10 kata benda lain yang langsung terlintas berhubungan dengan kata tersebut. Setelah itu, gunakan 11 kata tersebut ke dalam puisi yang kita buat.

Sebagai contoh, kata intinya adalah Prancis. Sepuluh kata yang berhubungan dengannya adalah eiffel, revolusi, roti, bahasa, cinta, perang, gantungan, perempuan, hati, pedang. Diusahakan sepuluh kata tersebut datang dengan tanpa berpikir panjang. Spontanitas. Puisi yang kemudian kuciptakan dari kata-kata tersebut seperti di bawah ini:

Kau Akan Mengajari Aku Bahasa Prancis

 

seorang pria romantis harus bisa bahasa prancis

dan memiliki cita-cita berkunjung ke eiffel

 

di sana tak akan ada tiang dan tali gantungan

yang dijanjikan pelaku korupsi satu rupiah

 

orang-orang hanya akan memadu kasih, mencicip

bibir masing-masing yang seringnya lancip

seperti pedang milik joan of arc, perempuan orleans

yang menaklukkan kuda seperti menaklukkan hati para pria

 

berbicara bahasa prancis, segala sesuatu harus dilatih

terutama lidah. kau pun mulai mengajariku makan masakan

prancis, roti prancis dan seharusnya lidah orang prancis

yang lincah dan terkenal dengan ciuman-ciumannya

 

sehingga kemudian begitu mudah mengucap revolusi

 

seorang pria romantis adalah seseorang yang memimpin

revolusi itu dan berteriak perang pria kecil

tidak cukup di atas ranjang

 

aku bertanya-tanya seberapa penting menjadi pria romantis

tapi mengingat kau akan mengajarkan aku bahasa prancis,

aku menjadi teramat bahagia

 

dan berterima kasih kepada tuhan

yang telah menciptakan kebahagiaaan

Cara kedua, adalah melihat karya seni lain. Bisa lukisan, musik, atau karya sastra yang lain. Dengan melihat karya seni lain, itu akan memantik kesadaran kesenian kita dan memicu kesadaran kreatif kita.

Ini adalah puisi Subagio Sastrowardoyo:

NADA AWAL

Tugasku hanya menterjemah
gerak daun yang tergantung
di ranting yang letih. Rahasia
membutuhkan kata yang terucap
di puncak sepi. Ketika daun
jatuh takada titik darah. tapi
di ruang kelam ada yang merasa
kehilangan dan mengaduh pedih

 

Reaksi atas puisi tersebut:

Nada Kedua

 

pada tanah basah, aku tak akan mengeruk

rahasia. sesuatu yang terkubur

atau tertanam, akan menumbuhkan

kenyataan-kenyataan. kau tak akan butuh lisanku

yang lambat mengucap kasih

yang teramat pedih bila selalu direnungkan

atau bila nanti bertemu, biarlah

 

dalam nada kedua inilah, kita harus terpisah

 

Dan yang ketiga adalah cari sebuah puisi berbahasa asing yang benar-benar asing alias kita tidak tahu artinya. Kemudian, reka-rekalah artinya, jadikan puisi itu milik Anda. Coba perhatikan puisi di bawah ini dan silakan mencobanya.

Hagamos un trato

Si una vez adviertes que te miro a los ojos,
y una veta de amor reconoces en los míos,
no pienses que deliro,
piensa simplemente que puedes contar conmigo.
Si otras veces me encuentras huraña sin motivo,
no pienses que es flojera;
igual puedes contar conmigo.
Pero hagamos un trato: yo quisiera contar contigo,
es tan lindo saber que existes,
uno se siente vivo y cuando digo esto,
no es para que vengas corriendo en mi auxilio,
sino para que sepas tú siempre puedes contar conmigo.

Mario Benedetti

 

Semoga bermanfaat!

Buku Puisi

the_diary_by_slawekgruca-d76z4aj

Aku Cukup Menulis Puisi, Masihkah Kau Bersedih

56 puisi, 108 halaman

Harga Rp40.000,-

http://bukuindie.com/buku/puisi-sastra/aku-cukup-menulis-puisi-masih-kau-bersedih/

atau SMS/WA 085239949448

Ini bukanlah buku puisi pertamaku. 

Dulu, ketika aku masih kelewat percaya diri, aku mencetak sebuah buku puisi. Judulnya Alusi. Aku cetak sebanyak 1000 eksemplar dengan penerbitnya Pustakapujangga. Itu uang sendiri. Aku masih ingat, biaya cetaknya 5 juta rupiah. Selesai cetak, Mas Nurel mengantarkan buku itu ke Bandung. Kebetulan Aan Mansyur datang ke Bandung kala itu. Ia mengadakan bedah buku puisinya di Ultimus. Aku datang sekalian untuk berpacaran dengan Zane.

Buku puisi itu laku lebih kurang 300 eksemplar yang kujual sendiri. Di toko, ia laku sekitar 100 eksemplar saja. Sisanya aku berikan ke Mayoko Aiko, untuk dibagi-bagikan setiap kali ia mengadakan kuis atau door prize. Rugi? Tidak. Aku jual buku itu seharga Rp25.000,-. Aku masih mendapatkan uang lebih, aku pun mendapat banyak pengalaman dalam berhubungan dengan banyak orang. Aku juga belajar bahwa puisi-puisiku amatlah buruk.

Setelah itu, aku tak menerbitkan buku puisi atas namaku sendiri. Hanya ada beberapa antologi, hasil proses kurasi berbagai event yang memuat namaku. Belasan atau mungkin dua puluhan. Aku tidak terlalu memikirkan mereka sampai-sampai arsip buku-buku itu aku tak punya. Ada satu buku yang memuat cukup banyak puisiku, sekitar 40 puisi bahkan. Judulnya Sebuah Medley. Itu buku puisi atas nama dua orang, aku dan Andi Arnida Massusungan. Beliaulah yang mendanai buku tersebut dan mengajakku untuk mengikutsertakan puisiku di dalamnya.

Dalam jangka waktu lebih dari 5 tahun itu, setelah Alusi pada tahun 2009, aku lebih dikenal sebagai prosais.

Aku rajin mengirimkan cerpen ke koran. Kumpulan cerpen pertamaku terbit di 2011, Dongeng Afrizal. Beberapa antologi cerita pendekku pun, termasuk dalam Temu Sastrawan Indonesia, cerpenku lah yang terpilih. Pada tahun 2014, Gramedia Pustaka Utama yang banyak didambakan penulis juga menerbitkan kumpulan cerpenku dan Sungging Raga dalam Simbiosa Alina. Ternyata keren diterbitkan GPU itu cuma mitos.

Belum cukup itu, aku pun belajar menulis novel dan kebetulan pada Lomba Novel DKJ 2014 lalu, aku masuk 11 besar. Pun ada novel yang ditulis berempat, berjudul 4 Musim Cinta, sudah digadang-gadang akan terbit 2015.

Orang-orang lupa aku menulis puisi.

Adalah Irwan Bajang yang mengemukakan ide itu pada akhir September 2014. Kami bertemu di perayaan buku puisi Khrisna Pabichara. Ia bertanya padaku, “Pring, mana puisimu, sini kuterbitkan?”

Irwan Bajang adalah pemilik Indie Book Corner. Biasanya kau tahu, untuk terbit, itu artinya kamu harus bayar biaya cetak. Tapi ini tidak. Dia meminta naskahku.

“Mulai tahun 2015 ini, aku mau menerbitkan buku-buku sastra. Dea, Kekal, Kau….” lanjutnya.

Aku sumringah dalam hati. Di balik itu aku berpikir apakah naskahku layak diterbitkan. Belakangan, aku didera penyakit tidak percaya diri pada karya-karyaku. Aku juga lebih suka menulis puisi di facebook, di blog, dan tak ada dari mereka yang dimuat di koran-koran.

“Kenapa?” tanyaku. “Aku juga punya naskah cerita, dengan konsep seperti Surga Sungsang, cerita pendek yang berkesinambungan, seperti sebuah novel, tapi belum selesai, kau mau lihat?” Aku melanjutkan pertanyaan karena aku tak siap mendengar jawaban yang pertama.

Dia mengangguk dan membaca naskahku itu. Dia memuji caraku membuka cerita. “Seperti biasanya, pembukaanmu istimewa…” katanya. “Tentang puisi itu…” lanjutnya.

“Kau serius?” sergahku dengan pertanyaan. “Bila ya, segera kukumpulkan puisiku, dan aku harap kau memilih dan memilahnya. Aku ingin sebuah konsep.”

Itulah sekelumit pembicaraan kami saat itu. Dan baru pada Maret 2015, buku itu terbit, berbarengan dengan buku puisinya Dea Anugerah.

 

Dikacangin Gramedia Daan Mogot

Kamu juga melihat pengumuman ini di laman Gramedia Pustaka Utama? Kamu harus tahu, pengumuman ini sebagian bohong!

10420062_10153219463824923_1039919077878123464_n

Begitu mendapat informasi adanya big sale buku-buku Gramedia, aku segera mengajak Roland, teman sekelasku untuk pergi ke Gramedia yang tertera dalam poster itu. Awalnya mau pergi kemarin, tetapi ada ajakan main futsal. Niat untuk pergi setelah main futsal batal karena badan pegal-pegal.

Hari ini pun kami memutuskan pergi ke Daan Mogot Mall. Kami tidak tahu jalan. Bermodalkan aplikasi navigasi dari Google Map, kami berangkat dari Bintaro pukul 11 siang.

Maklum sebelumnya kami lama di Sumbawa dan Atambua. Baru-baru ini kembali ke Bintaro jadi jalan hingga ke Joglo pun lupa.

Setelah sempat salah belok beberapa kali, melewati Meruya Selatan dan Utara, kami tiba di Daan Mogot Mall dalam keadaan haus dan lapar. Cuaca sangat panas. Otak kami seperti terbakar.

Mendapat godaan untuk mampir sebentar di AW, Hoka Hoka Bento, aku pun tak sabar untuk masuk ke Gramedia. Dengan sumringah aku masuk, tetapi kondisinya begitu normal. Tak ada tumpukan buku. Tak ada label bazar. Tak ada poster big sale yang sama dengan yang ada di laman resmi Gramedia.

Aku pun bertanya ke petugasnya, “Pak, big salenya di mana ya?”

Sang petugas malah memasang muka bingung. Petugas wanita cantik di sebelahnya juga ikut mengerutkan mukanya. “Bis sale?” Mereka malah balik bertanya.

Aku pun menunjukkan poster dan laman Gramedia. Mereka tampak gelagapan. “Kami malah nggak tahu, Mas ada event ini….” Jawaban yang begitu polos. “Sebentar saya tanya manajer dulu, ya?”

Petugas itu pun berjalan ke ruangan manajer. Kami menunggu. Roland sudah memasang muka kesal. Maklum, dia yang membawa motor. Pasti capek sekali.

Begitu kembali, tanpa manajernya, oh, betapa sombongnya, cuma satpam yang menyampaikan informasi ini, manajernya lepas tangan. “Maaf, Mas… kata manajernya, nggak ada big sale. Mungkin tanggal 20, Jumat nanti. Mungkin buku-bukunya belum didrop ke sini?”

Alasan macam apa itu coba?

Akhirnya kami pergi dengan kesal. Melihat harga-harga makanan lebih tinggi dari gerai normal kami pun tambah kesal. Dan memutuskan makan di KFC di luar Daan Mogot Mall itu.

Penulis, Profesi dan Pajak

Ketika hendak menandatangani Surat Perjanjian Penerbitan, pastilah seorang penulis akan ditanya, “Punya NPWP nggak?” Ini terkait dengan pajak royalti yang akan dikenakan. Seorang penulis yang memiliki NPWP akan dikenakan pajak royalti 15%, sementara yang tidak memiliki NPWP akan dikenakan pajak sebesar 30%.

Dari hal tersebut, sebenarnya bisa dikatakan bahwa penulis sudah diakui sebagai profesi. Tetapi pada kenyataannya, ketika penulis ingin membuat NPWP, ada kebingungan di bagian pajaknya. Misalnya pada pengalaman Alby Syafie. Ketika Alby hendak membuat NPWP, dikatakan bahwa penulis masuk ke kategori usaha sendiri dan perlu membuat SIUP.

Apakah “PENULIS” sudah dianggap sebagai profesi di negara ini? Itu pertanyaannya.

Penulis yang menulis buku memperoleh penghasilan berupa royalti. Royalti adalah suatu jumlah yang dibayarkan atau terutang dengan cara atau perhitungan apa pun, baik dilakukan secara berkala maupun tidak, sebagai imbalan atas salah satunya penggunaan atau hak menggunakan hak cipta di bidang kesusastraan, kesenian atau karya ilmiah, paten, desain atau model, rencana, formula atau proses rahasia, merek dagang, atau bentuk hak kekayaan intelektual/industrial atau hak serupa lainnya. Royalti ini dikenakan PPh pasal 23.

PPh pasal 23 dikenakan kepada Wajib pajak dalam negeri dan Bentuk Usaha Tetap (BUT) yang menerima atau memperoleh penghasilan yang berasal dari modal, penyerahan jasa atau penyelenggaraan kegiatan selain yang telah dipotong PPh pasal 21.

Apa yang aku ingin gugat di sini?

Jika penulis sudah dianggap profesi, seharusnya penghasilan yang diterima penulis masuk ke PPh pasal 21. Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 adalah pajak atas penghasilan berupa gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain dengan nama apa pun yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri sehubungan dengan pekerjaan/ jabatan, jasa, dan kegiatan.

Penghasilan yang diterima penulis penuh waktu diterima rutin dan terukur dalam surat perjanjian penerbitan.  Bila kemudahan pemotongan oleh penerbit dijadikan alasan menjadikan “royalti” sebagai objek Pasal 23, itu akan melanggar asas keadilan bagi penulisnya. Penulis tentu bukan badan usaha dan tidak memerlukan SIUP.

Pengenaan PPh pasal 23 atas royalti terjadi karena royalti adalah passive income. Sementara PPh pasal 21 adalah active income. Passive income berarti tanpa bekerja, seorang penulis kemudian tinggal menerima hasilnya.

Tapi filosofi muncul sebelum peraturan. Kita juga harus memperhatikan asas-asas pemungutan pajak:

1)      Asas Equality

Pemungutan pajak harus bersifat adil dan merata, yaitu dikenakan pada orang pribadi yang harus sebanding dengan kemampuan membayar pajak (ability to pay) dan sesuai dengan manfaat yang diterima.

2)      Asas Certainty

Penetapan pajak hendaknya tidak sewenang-wenang, jadi wajib pajak harus mengetahui kapan membayar dan batas waktu pembayaran

3)      Asas Convenience of Payment

Kapan Wajib Pajak itu harus membayar pajak sebaiknya sesuai dengan saat-saat yang tidak menyulitkan Wajib Pajak, misalnya pada saat memperoleh penghasilan.

4)      Asas Economy

Secara ekonomi, biaya pemungutan dan pemenuhan kewajiban pajak bagi Wajib Pajak diharapkan seminimum mungkin, demikian pula beban yang dipikul.

Apa perbedaan yang dapat dihasilkan?

Tidak banyak penulis yang beruntung mendapatkan royalti melebih penghasilan tidak kena pajak per tahunnya. Barangkali Ditjen Pajak pun belum tahu bagaimana proporsi pembagian penghasilan buku di Indonesia. Distributor dan toko mendapatkan 50-60%, penerbit mendapat 25-42%, sementara penulis hanya mendapat 8-15% dari harga buku kotor. Rata-rata saat ini, penerbit besar memberikan 10% bagi penulis. Dengan oplah cetakan pertama rata-rata 3000 buku, dan diasumsikan harga buku Rp50.000,-. Maka maksimal royalti pada cetakan pertama hanya sebesar Rp15.000.000,- dan tentu ini di bawah PTKP (Tidak Kawin 24.300.000).

Katakanlah, si penulis ini dapat menghasilkan 3 buku dalam 1 tahun dan masing-masing buku terjual habis 3000 eksemplar (kondisi yang langka), ia akan mendapatkan maksimal penghasilan 45 juta dalam tahun tersebut.

Jika menggunakan pasal 23, maka pajak yang dibayarkan untuk 1 buku adalah sebesar Rp2.250.000,- dan untuk 3 buku adalah Rp6.750.000,-

Jika menggunakan pasal 21, untuk penghasilan 1 buku pertama, tidak akan dikenakan pajak karena di bawah PTKP. Sementara jika sang penulis bisa menghasilkan 3 buku dan terjual 3000 dalam 1 tahun, ia harus membayar pajak sebesar 5% X (45.000.000-24.300.000) = Rp1.285.000,-

Memang benar, selisih itu dapat dikreditkan/lebih bayar. Tetapi, apakah seorang warga negara harus direpotkan mengurus haknya yang lebih bayar sementara ada cara yang lebih mudah bagi warga negara?

Pengalaman seorang penulis yang sadar ini, mengurus lebih bayarnya memerlukan waktu 3-4 bulan. Dengan penggantian time value of money sebesar 2%.

Apa yang luput dari hal ini?

Ada perbedaan arti kata “royalti” dari konsepnya dibandingkan dengan praktiknya. Bayangkan persepsi orang awam bila mendengar kata “royalti”, itu akan menjadi sesuatu yang wah. Hak cipta pada dasarnya dihargai sangat tinggi. Tetapi kenyataannya, kata “royalti” di dunia kepenulisan bukanlah sesuatu yang wah. Hanya ada kurang dari 10% penulis Indonesia yang menerima royalti di atas PTKP dalam setahunnya. Dunia kepenulisan jarang diperhatikan pemerintah. Baru hari-hari belakangan, penulis penuh waktu dapat mencantumkan profesi penulis di KTP-nya. Dulu, seorang Khrisna Pabichara bahkan pernah ditertawakan oleh petugas administrasi ketika ia menyebut “penulis” ketika hendak membuat KTP.

Pengabaian  pada profesi penulis, dan menganggapnya sebagai pekerjaan bebas, ini belum terselesaikan secara penuh. Ada banyak hal yang berhubungan dengannya. Peran pemerintah dalam memajukan dunia kepenulisannya dalam bidang perpajakan pun diperlukan. Misalnya untuk membedakan pengenaan pajak buku terjemahan dengan buku yang ditulis oleh penulis lokal. Penulis-penulis perlu dibikin percaya bahwa seseorang bisa hidup dari menulis saja seperti halnya Eka Kurniawan.

 

Kebijakan adalah kebijakan jika dianggap mampu memuaskan publik, bukan? Di luar segala peraturan, apakah kamu merasa adil atas kondisi yang terjadi?