Kompetisi Menulis Fiksi: Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan #SafetyFirst

Banner-SafetyFirst-02-e1444432211983Begitu sering -nyaris setiap hari – kita mendengar kabar kecelakaan lalu lintas, yang tak jarang pula mesti merenggut nyawa. Mungkin bahkan kamu pun pernah kehilangan orang tersayang karena kecelakaan lalu lintas. DI Indonesia, jumlah korban tewas karena kecelakaan lalu lintas mencapai 120 orang setiap harinya (data 2014). Dari kecelakaan lalu lintas yang terjadi ini, 70 persen dialami oleh para pemotor.

Kecelakaan kerap terjadi karena kesadaran pemotor dan pengguna jalan lainnya yang masih rendah. Pemandangan seperti ini mungkin lazim kamu lihat setiap hari : pemotor dan penumpangnya yang tidak menggunakan helm, anak-anak di bawah umur yang mengendarai sepeda motor, laju kendaraan bermotor yang terlampau ngebut, dan sebagainya. Perilaku sembrono seperti inilah yang memicu jumlah kecelakaan dan korban jiwa yang tinggi. Bila terjadi kecelakaan masih ada kecenderungan untuk menganggapnya sebagai takdir atau kehendak Tuhan, padahal kecelakaan bisa dihindari dengan sikap waspada dan ekstra hati-hati dalam berkendara.

Nah, Yayasan Astra-Honda Motor bekerjasama dengan Nulisbuku.com ingin mengajak kamu untuk berperan aktif dalam kampanye “Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan” melalui kompetisi menulis Cerita Pendek (Fiksi) yang dapat menginspirasi dan meningkatkan kesadaran bagi pemotor dan pengguna jalan. Cerpen yang kamu buat, harus mampu menggugah kepedulian sebanyak mungkin orang untuk ikut berperan aktif dalam kampanye ini. Kreatiflah, dan sebisa mungkin tak perlu menonjolkan tragedi dan kesedihan dalam ceritamu.

Satu nyawa, tak ternilai harganya. Sungguh, kamu tak pernah tahu, mungkin cerpen karyamu bisa menyelamatkan nyawa seseorang.

A. Syarat Peserta

Hanya ada 1 kategori, yaitu kategori Perorangan

Dapat diikuti oleh seluruh Warga Negara Indonesia, tanpa batasan usia, tanpa batasan jenis kelamin, tanpa batasan agama, dan tanpa batasan lokasi tempat tinggal. Setiap peserta dapat mengirimkan 1 (satu) karya tulisan terbaiknya.

 

B. Syarat Cerpen

Karya esai ditulis dalam bahasa Indonesia minimal 4 halaman, atau maksimal 8 halaman A4, diketik rapi dalam file Microsoft Word spasi: 1.5, dengan font: Times New Roman, ukuran font: 11pt, dengan margin sesuai standar Microsoft Word saja, tidak perlu diubah.

Karya juga harus diposting di blog pribadimu DAN dikirimkan melalui email ke send@nulisbuku.com. Sertakan link postingan blog berisi cerpen yang diikutsertakan di badan email.

Karya esai tersebut belum pernah diterbitkan dalam media nasional mana pun (jika pernah diposting di blog atau FB notes masih boleh), dan merupakan karya asli penulis.  Dengan mengikuti lomba ini, berarti penulis menyatakan bahwa karya tersebut adalah murni karya aslinya dan jika ada tuntutan pelanggaran hak kekayaan intelektual maka akan menjadi tanggung jawab penulis.

Judul tulisan bebas, dengan tetap sesuai dengan tema: ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan’ #SafetyFirst

 

C. Cara Berpartisipasi

  • Menulis cerita pendek fiksi sesuai tema ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan’ #SafetyFirst yang sudah diketik rapi dalam file Microsoft Word.
  • Kirimkan cerpen tersebut beserta data diri: Nama, Alamat, No. handphone, No. KTP (Atau kartu pelajar), Twitter account (Jika ada), Alamat facebook (Jika ada), ke alamat email:send@nulisbuku.com (berupa file lampiran- attach files, bukan di body email) dengan format subject email dan nama file sebagai berikut:[SAFETY FIRST] – [Judul tulisan]– [Nama Penulis]. Contoh: SAFETY FIRST – Motorku Sayang, Kekasihku – Palentino Rossieq
  • Setiap penulis dimohon juga membuat paragraf singkat maksimal 5 (lima) kalimat untuk memperkenalkan diri, untuk profil penulis di dalam buku Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst”. Kami sarankan penulis mencantumkan akun Twitter-nya masing-masing karena bisa jadi saran contact pembaca atau penerbit yang tertarik atas karyamu. Profil singkat ini boleh ditulis di badan email.
  • SERTA masukkan/posting tulisan (cerpen) ke dalam blog pribadi-mu dengan mencantumkan teks berikut ini: Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Hoda Motor dan Nulisbuku.com
  • Wajib menyertakan link postingan blog berisi cerpen yang diikutsertakan di badan email.
  • Wajib Follow & mention akun Twitter dan Facebook @nulisbuku, kemudian silakan twit sinopsis tentang karya cerpenmu minimal sebanyak 3 (tiga) kali twit; jika 1 twit itu maksimal 140 karakter, maka 3 kali twit, maksimal adalah 140 x 3= 420 karakter. Selain itu, post dan mention Nulisbuku di Facebook. Twit dan post ini berguna untuk mempromosikan karyamu yang telah dikirim tersebut. Jangan lupa tambahkan hashtag #SafetyFirst pada setiap twit dan post Facebook-mu!

Untuk mengikuti kompetisi ini tidak dipungut biaya, GRATIS!

Pengumuman para finalis dan pemenang & penyerahan hadiah akan dilakukan pada hari Sabtu, tanggal 21 November 2015 di acara launching buku ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst

 

D. Periode #SafetyFirst

Dimulai hari Sabtu, 10 Oktober 2015 dan ditutup pada Minggu, 1 November 2015 pukul 23.59 WIB. Karya diposting di blog DAN dikirimkan melalui email ke send@nulisbuku.com. Sertakan link postingan blog berisi cerpen yang diikutsertakan di badan email.

 

E. Pemilihan Pemenang

Pemenang terdiri dari 3 pemenang utama dan 20 finalis.  Seluruh tulisan yang masuk akan dinilai berdasarkan faktor-faktor sebagai berikut:

  • Kesesuaian isi tulisan dengan tema.
  • Originalitas.
  • Teknik penulisan yang menarik dibaca.
  • Sesuai dengan syarat lomba.

Pemenang akan dipilih oleh juri yaitu tim Nulisbuku.com dan Yayasan Astra-Hoda Motor. Keputusan juri adalah mutlak dan tidak dapat diganggu-gugat.

 

F. Pengumuman Pemenang

3 orang pemenang utama dan 20 finalis terpilih akan diumumkan pada hari Sabtu tanggal 21 November 2015 di acara launching buku ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst

 

G. Hadiah Pemenang

Pemenang pertama akan mendapatkan uang tunai 3 juta Rupiah, kedua: 2,5 juta Rupiah; ketiga 2 juta Rupiah

Tiga pemenang utama, serta 20 finalis lainnya akan mendapatkan 1 eksemplar buku tersebut secara gratis dari nulisbuku.com.

Atas penerbitan buku ini, para pemenang dan finalis tidak menerima kompensasi berupa royalti karena hasil penjualan buku akan dikelola oleh pihak Yayasan Astra-Honda untuk kegiatan sosial yang terpilih.

 

H. Lain-Lain

Hak cipta karya yang masuk dalam buku ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst ini berada di pihak Yayasan Astra-Hoda Motor. Seluruh karya akan melalui proses editing dan setting oleh Nulisbuku sebelum buku diterbitkan.

 

APA YANG DIPIKIRKAN OLEH RYUNOSUKE AKUTAGAWA 5 DETIK SEBELUM BUNUH DIRI?

                Aku pikir alasan seseorang menemui ajalnya adalah karena ia sudah tidak berguna lagi di dunia. Ia sudah melakukan hal yang besar lalu tugasnya selesai atau sebaliknya, ia baru menyadari tidak ada apapun yang dapat ia lakukan.

Hidup seperti itu, tanpa tahu harus berbuat apa lebih menyakitkan ketimbang disakiti oleh orang lain. Toh dengan disakiti, mana tahu kita membuat orang yang menyakiti kita bahagia. Hidup selalu begitu ‘kan? Kebahagiaan seseorang seringkali berada di atas penderitaan orang lain.

 

Mengejar Kebahagiaan

 

12074594_1029066520471224_7316390868095040835_n

Aku membuka pintu dan merindukan ibu
sepatu-sepatu yang disusun rapi di rak
menu makan siang yang kusuka telah siap di meja
aku beranjak dan menemui masa kanak-kanak
dan tak pernah berpikir meninggalkannya

Semakin lama, semakin panjang waktu
telah berada memberi jarak
aku hanya dekat dengan bayanganku sendiri
segelas kopi, sebuah asbak, selalu ada
yang pertama bagi laki-laki. juga kesedihan
yang tak pernah menjadi milik siapapun

Asap yang mengepul setelah puas dan bebas
menguasai paru-paruku
tidak membuatku merasa terlepas
dari perasaan bersalah

pertanyaan-pertanyaan, mengapa manusia
menyakiti satu sama lain, mengapa kita
tak boleh saling menyakiti… mengepungku

Aku tidak tahu telah berada di mana aku
antara pecundang dan pemenang selalu tipis bedanya

Ketika kututup mata, kurindukan sepatu-sepatu
yang tersusun rapi di rak
Tapi tak ada lagi yang muat ukurannya di kaki
untukku lari

Kesendirian Adalah Sebuah Kesalahan

Meniti garis takdir ini, aku selalu merasa sendiri. Sejak dulu, sejak aku kecil, tidak ada yang benar-benar mendengarkan suara hatiku di dalam keluarga, meski aku tahu mereka mencintaiku dan aku pun mencintai mereka.

Semakin bertambah usiaku, semakin soliter hidupku. Aku kebanyakan mengurung diri di dalam kamar. Tidur atau membaca buku. Aku tidak peduli dengan urusan-urusan yang terjadi di rumah. Aku hanya keluar untuk makan, menerima telepon atau menonton tivi. Kamarku adalah istanaku.

Ketika aku harus merantau untuk melanjutkan studi, aku pun jarang menelepon keluarga. Dan memang, aku tidak bisa berlama-lama menelepon. Aku begitu kaku dalam melakukan pembicaraan.

Hingga kini ketika aku telah berkeluarga, aku selalu berharap kekasihku adalah orang yang bersama-sama meniti garis takdir itu. Ia akan menjadi seorang sahabat yang akan mendengarkan segala isi hatiku, obat maupun racun.

Malaikat Kecil

Sebagian besar orang akan sulit untuk melihat usaha perubahan ke arah kebaikan yang dilakukan oleh seseorang. Yang dilihat dan diingat adalah keburukan-keburukannya, dan mengaitkan segala keburukan itu dengan keburukannya yang lain di masa lalu.

Karena itu, berubah lebih baik seperti memanjat sebuah pohon yang tinggi. Diperlukan stamina, darah, air mata, dan bila perlu, pengabaian pada segala komentar negatif yang menimpanya. Ketimbang berubah menjadi lebih buruk yang hanya seperti terjun bebas dari tempat yang lebih tinggi.

 

Anonim

Lupa

 

Hawa dingin terasa mengepungku. Aku merasa ada sesuatu yang hangat berdersir naik ke kepalaku. Ingin kubuka mata, tetapi kelopak mata terasa seperti berton-ton muatan yang ditimpakan ke atas mata, berat sekali. Aku beralih mencoba menggerakkan kaki dan tangan, tetapi mereka terasa begitu kaku. Segala yang tadinya leluasa kugerakkan tidak merespon kecuali aku masih dapat menggerakkan kepalaku dan menggeliatkan tubuhku dengan payah.

Tiba-tiba aku merasa tubuhku disepak. Sepakannya terdengar begitu keras, tetapi aku tak merasa begitu sakit. Sepakan itu beberapa kali menerpaku. Mulanya ia menyepak kakiku hingga ke sisi-sisi tubuhku. Ia tampak belum puas karena setelah itu ia menampar-nampar pipiku sampai akhirnya aku bisa membuka mata. Seorang lelaki muda, kotor, dan perawakan yang berantakan tampak memandangiku.

“Syukurlah,” katanya, “aku pikir kamu sudah tidak bisa dibangunkan,” lanjutnya sambil memberiku segelas air hangat. Sebelumnya ia membantuku duduk dan kusadari ia telah menyelimutiku dengan banyak kain.

“Kamu bisa saja mati kedinginan tadi…” kata lelaki itu sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. “Tapi untunglah, setelanmu itulah yang mungkin sempat melindungimu…. ngomong-ngomong siapa kamu? Kenapa kamu berada di sini? Apa kamu mabuk semalam, lalu tak sengaja terkapar di sini?” Ia menyerbuku dengan pertanyaan sambil membaui tubuhku yang mungkin meninggalkan bau alkohol.

Aku masih kesulitan dalam mencerna pertanyaan demi pertanyaan itu. Kepalaku masih terasa pusing dan kurasakan masih sedikit tenaga yang berhasil kukumpulkan.

Setelah kusingkap kain-kain yang menutupi tubuhku, aku baru menyadari aku mengenakan setelan yang sungguh mewah. Ini bukan hanya tentang jas dan celana bahan, lengkap dengan dasinya, yang kukenakan. Tapi begitu aku meraba pakaianku, aku tahu bahan yang digunakan untuk membuat pakaian itu bukan bahan yang murah.

Ketika aku berusaha menjawab pertanyaan siapa aku, kepalaku terasa berpusing hebat. Aku tidak bisa menemukan memori itu. Yang ada di kepalaku malah banyak hal lain seperti cerita-cerita di seputar Konferensi Asia Afrika, kemenangan Barcelona atas Juventus di final Liga Champion, disanksinya Indonesia oleh FIFA yang di saat bersamaan terkena skandal dan mengakibatkan Sepp Blatter mengundurkan diri dari Presiden FIFA padahal ia baru saja terpilih. Aku berusaha mengingat diriku, mengingat-ingat hal yang kulakukan semalam sehingga aku bisa berada di sini sekarang. Tapi aku tak bisa menemukannya. Aku tak ingat diriku. Aku bahkan tak ingat namaku!

 

Dia

“Apa? Kau tak ingat? Jangan bilang kau terkena amnesia…” kata lelaki itu. Ia menatapku dengan wajah yang bingung. Kerutan tampak di dahinya.

Suara kendaraan yang melintas mulai sering terdengar. Suara hewan-hewan malam masih ada. Kuperhatikan sekelilingku yang penuh pepohonan dan bangku-bangku. Aku menyadari ini sebuah taman karena bentuknya yang dibuat sedemikian rapi. Lampu-lampu penerang malam dengan cahaya kuning keoranyean juga masih menyala. Kudongakkan kepala, kuperhatikan langit yang berada di balik dedaunan di pucuk-pucuk pepohonan. Aku segera tahu, sebentar lagi pagi akan datang.

Aku masih memegang gelas yang ia berikan. Ada asap yang mengepul di atasnya. Aku mulai menyeruputnya dan sensasi meminum air hangat di suhu udara yang dingin terasa begitu melegakan kerongkongan. Bibir dan lidah yang tadinya kaku dan begitu kering juga terasa lebih baik.

Lelaki itu masih muda. Setidaknya dia tidak mungkin lebih tua dariku. Rambutnya panjang sebahu, hidungnya mancung dan mukanya, meski kotor, tidak menampakkan tanda-tanda penuaan. Dia mengenakan mantel bulu tebal berwarna abu-abu. Aku pikir tidak mungkin mantelnya terbuat dari bulu serigala.

“Aku sudah melihat semua jenis manusia, tapi aku belum pernah melihat manusia hilang ingatan. Ya, kecuali di sinetron. Tapi darimana aku punya televisi, bukan?” katanya lagi sambil terkikik.

“Orang-orang ingin punya rumah, tidur di kasur yang empuk, kalau panas ada AC, kalau dingin bisa pakai penghangat, kau malah tidur di sini,” ocehnya.

Aku tak begitu menggubris ucapannya dan masih berusaha memahami diriku. Yang pertama berusaha kuingat adalah nama. Andi, Rendi, Subandi, ada banyak nama berseliweran di kepalaku, tetapi aku tak merasa dekat dengan nama-nama itu. Aku malah mengingat sebuah ucapan Shakespeare—ah, aku bahkan mengingat Shakespeare! What is in a name? Aku tak tahu kenapa what is diterjemahkan sebagai apalah yang terkesan meremehkan, bukan malah apakah yang membutuhkan jawaban.

Tiba-tiba aku merasakan getaran dari dada kiriku disertai kokok ayam jantan yang makin lama volumenya makin meninggi. Di balik jas, terdapat saku dan aku menemukan sebuah ponsel. Ponsel tersebut tidak terkunci dan hanya menampilkan gambar langit biru sebagai background.

Kugerakkan jariku untuk menghentikan alarm. Segera aku mencoba membuka menu kontak. Dan aku tidak menemukan kontak siapapun yang tersimpan di ponsel itu. Aku coba buka kotak pesan, sama, kosong juga. Galeri juga tidak memuat foto sama sekali. Benar-benar seperti ponsel yang baru dibeli dari toko.

“Ponselmu?” tanya lelaki itu. “Bagus tuh, tampak seperti keluaran terbaru. Aku sih nggak punya ponsel,” lanjutnya.

Aku hanya bisa menggeleng. Aku tak ingat ponsel ini.

“Kau tak ingat ponsel ini?” tanyanya sambil mengernyitkan dahi. Dia dengan cepat merebut ponsel itu dari tanganku. “Sini, coba kulihat…”

Barangkali itu kebiasaannya untuk meminta izin belakangan.

“Hah, kok kosong nggak ada apa-apanya?”

Aku hanya bisa mengangkat bahu. Sama-sama tidak tahu jawabannya.

Dia tampak mengutak-atiknya lalu beberapa kalimat meluncur dari mulutnya. “Waw, pulsamu banyak. Pas seratus ribu. Tapi kok kamu pakai kartu ini sih?” Aku tahu nama provider yang disebutkannya memang sering bermasalah dengan layanan. Tiba-tiba pulsa lenyap, paket internet habis…eh…sebentar…. “Nah ini ketemu, nomor ponselnya ada,” lanjutnya persis seperti yang aku pikirkan..

 

~

 

Aku menemukan beberapa keanehan. Keanehan pertama, bagaimana mungkin sebuah ponsel masih memiliki kapasitas baterai yang penuh setelah lama menyala. Tidak mungkin hanya 1-2 jam aku tidak sadarkan diri. Setidaknya baterai itu tidak menunjukkan angka 100%. Itu angka yang mustahil. Kecuali bila ada seseorang yang sengaja meletakkan aku dan kemudian menaruh ponsel baru itu ke dalam sakuku, hanya beberapa saat sebelum aku sadarkan diri. Keanehan kedua, lelaki gelandangan ini mengaku tak punya televisi dan tak punya ponsel, tetapi ia tahu berita-berita dan begitu fasih memakai ponselku barusan.

“Taman ini jadi nyaman setelah ada walikota baru itu… sudah tidak ada sampah-sampahnya. Aku jadi bisa tidur lebih nyenyak di sini. Semoga saja dia tidak keburu nafsu seperti walikota yang dulu itu. Diliput media, masuk televisi, jadi gubernur, dan sekarang bisa jadi presiden. Aku sih ya, tidak suka durian dikarbit. Durian yang masak di pohon itu lebih enak….” celotehnya sambil memunguti daun-daun kering yang berguguran di sekitar kami. Ia lalu berjalan ke arah tong sampah dan pas memasukkannya ke dalam tong sampah organik.

Aku jadi merasa dia bukan gelandangan sembarangan. Cara bicara dan sikapnya tampak cukup berpendidikan.

“Aku benar-benar bingung harus bagaimana memperlakukanmu. Dengan nomor ponsel itu apa kita seharusnya ke rumah sakit atau ke customer center kartumu? Atau kau mau coba resep jituku? Kalau orang amnesia biasanya sih karena benturan dan perlu benturan lagi untuk mengembalikan ingatan.”

Aku bergidik membayangkan dia akan membenturkan kepalaku ke bangku taman atau ke batang pohon pinus yang diameternya lebih panjang dari lebar tubuhku. Tapi kuraba juga daerah-daerah di kepalaku. Barangkali benar ada benturan. Namun, semua tampak baik-baik saja. Bekas digigit nyamuk pun tidak ada.

Aku tidak tahu apa-apa tentangnya. Aku bahkan belum tahu siapa namanya. Sementara aku belum berucap satu kata pun sejak aku sadarkan diri tadi.

Bunyi burung-burung semakin ramai. Bunyi kendaraan lebih ramai lagi. Orang-orang lewat juga banyak. Sebagian mereka sedang jogging dan lari pagi. Beberapa sudah masuk ke dalam taman dan duduk-duduk di bangku taman. Orang-orang tua berjalan di track yang sudah disediakan. Kami berdua agak tersembunyi di pojokan di balik semak bunga-bunga. Aku tahu ini Taman Lansia. Dekat dengan Gedung Sate.

“Ini benar-benar aneh. Sampai detik tadi aku masih merasa kau sedang beracting di depanku. Lalu akan ada kamera rahasia di sekitar sini dan muncul kru-kru tivi yang menyatakan aku sedang berada di dalam sebuah reality show. Tapi kau tahu, aku tidak percaya ada orang Indonesia bisa bermain peran dengan sempurna, apalagi untuk adegan lupa ingatan. Kau tampak seperti benar-benar lupa ingatan, mamen….

“Aku benar-benar tidak ingat apa-apa…” akhirnya aku menjawab ucapannya. Dia tampak serius menatapku. Mata kami bertemu. Dia sedang mencoba mencari kebohongan di dalam diriku. Tapi aku tidak menyimpan satu pun rahasia.

“Oke, coba kau berdiri…” Dia segera membantuku berdiri dan tangannya langsung masuk ke dalam kantong belakang celanaku. Cepat sekali seperti seorang copet. Dia telah mengambil dompetku. Astaga, aku baru sadar kalau aku punya dompet. Dengan cepat pula dia membuka dompet itu dan mengeluarkan sesuatu dari sana.

“Astaga… kau betul-betul orang kaya!” serunya sambil mengipas segepok uang ratus ribuan dengan tangan kanannya. “Setidaknya ini lebih dari dua juta. Orang macam apa yang membawa uang tunai sebanyak ini di zaman sekarang? Hah?”

Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan