Residensi Penulis ASEAN di Asean Literary Festival 2017

 

Setiap Tahun Festival Sastra Asean dimulai dengan program residensi. Penulis dari ASEAN & non ASEAN bersama untuk belajar dan berbagi.

Penulis yang dipilih dari program residensi juga akan menjadi pembicara festival.

Tahun ini, program residensi akan diadakan pada tanggal 27 Juli – 2 Agustus, diikuti oleh festival 3 – 6 Agustus

Apakah anda penulis dari ASEAN, Timor-Leste, dan Jepang?  Ikuti  Program Residensi 2017 untuk Festival Sastra Asean !

Kriteria kelayakan :
1. Penulis dari negara ASEAN, Timor-Leste dan Jepang
2. Berusia 18-40
3. Mampu berbahasa Inggris.
4. Bersedia mengikuti seluruh program dan tinggal di jakarta mulai 27 Juli – 6 Agustus
5. Bersedia menulis dan mempublikasikan pengalaman mereka selama mengikuti program dalam bahasa apa pun, dalam bentuk dan platform apa pun.

Program ini mencakup :
Penggantian tiket pesawat
akomodasi
konsumsi dan transportasi lokal

Kirimkan buku atau 5 short stories atau 5 esai atau 10 puisi beserta CV  Anda ke :

ASEAN LITERARY FESTIVAL OFFICE

Jl. Muara no. 11 RT 02/03 Rancho Tanjung Barat

Jakarta Selatan, Indonesia 12530 atau email ke : aseanresidency@gmail.com

Ditunggu sebelum 5 Juni 2017

Cerpen Haruki Murakami: Zombie

 

Seorang lelaki dan seorang gadis berjalan menyusuri jalan di sebelah kuburan pada tengah malam. Malam yang berkabut. Mereka sebenarnya tidak mau berjalan di tempat seperti itu di tengah malam begini, tapi mereka terpaksa harus melewati jalan ini. Mereka berpegangan tangan satu sama lain dengan erat dan berjalan secepat yang mereka bisa.

“Rasanya seperti di video klipnya Michael Jackson saja,” kata gadis itu.

“Ya, lihat batu nisannya serasa bergerak,” kata si lelaki.

Saat itu, mereka mendengar sebuah erangan, giiiiii, terdengar seperti sesuatu yang berat bergerak di suatu tempat. Mereka berdua berhenti berjalan dan dengan spontan saling berpandangan satu sama lain.

Si lelaki tertawa. “Tenang saja. Tidak perlu takut. Hanya ranting pohon yang bergesekan satu sama lain. Karena angin atau sesuatu.”

Continue reading Cerpen Haruki Murakami: Zombie

Arti Seorang Teman

Aku pernah berteman cukup akrab dengan Sungging Raga. Cerpenis asal Jogja ini satu komunitas denganku di Kemudian. Kami berantem terlebih dahulu di sana sebelum kemudian jadi teman ngobrol, teman diskusi. Kukatakan cukup akrab, karena selain pernah bertemu di Jogja, nongkrong bareng, dia juga pernah datang ke Jakarta, lalu kuantar menginap di rumah Gus Salah. Setelah itu, besoknya kami main PES bareng. Sungguh, main PES bareng adalah tanda pertemanan paling sahih!

Pada itu, Mbak Erin (dari Majalah Story) mengadakan acara kumpul-kumpul di Galeri nasional, di seberang Gambir. Aku tahu Raga punya masalah dengan Mbak Erin. Raga pernah menyebut Majalah Story sampah karena betapa anti ia dengan genre teenlit. Bagiku, permusuhan itu tak baik. Beda boleh. Hina boleh. Tapi secara personal, jangan sampai perbedaan jadi penghalang. Dan anggap hinaan sebagai cie cie saja lah.

Aku hanya menginformasikan pada Raga agar datang. Aku tak menjemputnya karena aku juga kerja. Bakda Maghrib ia benar-benar datang dengan temannya.

Ketika acara dimulai, kami duduk terpisah. Toh, ada Bamby Cahyadi dan Fahri Azisa di sana. Saya lebih memilih berdekatan dengan cewek-cewek. Tak dinyana, Mas Kurnia Effendi yang jadi pemandu acara memanggil Mbak Erin dan Raga ke panggung. Mereka diminta menyelesaikan permasalahan mereka saat itu juga.

Mbak Erin, karena perempuan, pun menumpahkan uneg-unegnya, emosinya ke Raga sementara Raga hanya diam. Aku tak bisa berbuat apa-apa dan asik meramal cewek-cewek (modus mungkin) sambil tertawa-tawa. Aku pikir hal seperti itu cemenlah, ga masalah buat dihadapi. Perempuan hanya perlu didengarkan. Setelah itu selesai.

Namun, Raga pulang setelah turun dari panggung. Tak lama setelah itu, pacarnya Raga mengirim pesan padaku, memarah-marahi aku. Kemudian juga aku baru tahu, Raga menganggap akulah yang merencanakan semuanya. Aku yang memojokkan dia bla bla. Padahal aku tak tahu apa-apa.

Kepada Mas Khrisna kukatakan, aku tak habis pikir kenapa Raga bisa berpikir aku demikian, tidakkah dia bisa berprasangka baik kepadaku?

Mas Khrisna hanya menjawab, kalau cuma memang segitu dia menganggapmu, biarkan, tak ada gunanya juga mempertahankan seorang teman yang tak menganggapmu.

Konteks itu adalah konteks teman. Hari-hari ini kita disibukkan dengan perbedaan. Aku nyatakan aku sama sekali tidak suka bani serbet, sebutan untuk para pendukung Ahok, yang lebay nan angkuh jika membicarakan Ahok. Over rated. Dan hasilnya, aku terkena parade unfollow. Hehe.

Kepolosan memang masih banyak melanda rakyat. Memandang politik sebagai baik dan buruk, padahal politik tak memiliki dikotomi itu. Politik hanya bicara kepentingan. Maka, berbeda pilihan politik sebenarnya hanya kepentingannya saja yang berbeda. Saya tidak suka bani serbet, tapi secara person kan tak mungkin ia hanya seorang bani serbet. Ia juga punya persona yang lain. Jadi debat dan perbedaan itu biasa, sebagai yang lain, seharusnya kita tetap berteman.

Tapi, ternyata tersinggung alias baper itu lebih mudah terjadi saat ini. Beda sedikit maka putus silaturrahim. Sungguh, itu namanya terlalu!

Cerpen Haruki Murakami: Yesterday

Sejauh yang kutahu, satu-satunya orang yang pernah menggunakan lirik Jepang untuk menyanyikan lagu Yesterday-nya The Beatles (dan mendendangkannya dalam dialek Kansai yang khas itu) adalah seorang pria bernama Kitaru. Ia gunakan lirik versi miliknya ini saat berkaraoke ria di kamar mandi.

Kemarin

Adalah dua hari sebelum besok,

Dan sehari setelah kemarin lusa.

Yang kuingat seperti inilah lagunya dimulai, tapi karena aku sudah tak mendengar lagi untuk waktu yang lama, jadi aku tidak begitu yakin. Dari awal sampai akhir, lirik Kitaru ini hampir tidak berarti, asal-asalan, omong kosong yang tak ada hubungannya dengan versi aslinya. Lagu sahdu dengan melodi melankolis yang begitu familiar itu dikawinkannya dengan dialek Kansai yang semilir -jauh dari nuansa sedih- membuat lagu itu menjadi sebuah kombinasi aneh, semacam dobrakan berani. Setidaknya, itulah yang terdengar olehku. Pada saat itu, aku hanya mendengarkan dan menggeleng. Aku tertawa dibuatnya, namun aku juga bisa menangkap semacam pesan tersembunyi di dalamnya.

Aku pertama kali bertemu Kitaru di sebuah kedai kopi dekat gerbang utama Universitas Waseda, tempat kami bekerja paruh waktu, aku bekerja di dapur sementara Kitaru menjadi pelayan. Kami berbicara banyak selama waktu senggang di toko itu. Kami berdua sama-sama berusia dua puluh tahun, dan ulang tahun kami hanya berjarak seminggu.

“Kitaru adalah nama yang tidak biasa,” kataku suatu hari.

“Ya, memang,” jawab Kitaru dengan aksen Kansai yang berat.

“Tim bisbol Lotte punya pitcher dengan nama yang sama.”

“Tak ada hubungan antara kami berdua. Memang nama kami tidak umum, jadi siapa tahu? Mungkin ada hubungannya juga sih.”

Aku adalah seorang mahasiswa Waseda, di fakultas sastra. Kitaru sendiri gagal ujian masuk dan sedang mengikuti kursus persiapan agar bisa tembus. Sebenarnya dia telah gagal ujian dua kali, tapi nampaknya dia tidak terlalu peduli. Dia kelihatan tidak serius belajar. Ketika punya banyak waktu, dia memang banyak membaca, tapi tidak ada yang terkait dengan ujian – biografi Jimi Hendrix, buku tentang shogi, “Where Did the Universe Come From?” dan sejenisnya. Dia mengatakan kepadaku bahwa ia pulang-pergi ke tempat kursus dari rumah orangtuanya di Ota Ward, Tokyo.

“Ota Ward?” Aku bertanya heran. “Tapi kupikir kau dari Kansai.”

“Oh bukan. Aku lahir dan dibesarkan di distrik Denenchofu.”

Ini benar-benar membuatku bingung.

“Lalu kenapa kamu berbicara dengan dialek Kansai?” Tanyaku.

“Aku mendapatkannya. Hanya dengan mempelajarinya.”

“Mendapatkannya?”

“Ya, kamu bisa lihat hasil kerja kerasku ini kan? Kata kerja, kata benda, aksen-seluruhnya kupelajari. Sama lah seperti belajar bahasa Inggris atau Perancis. Bahkan aku pergi ke Kansai untuk latihan.”

Ternyata ada ya orang yang belajar dialek Kansai seperti halnya belajar bahasa asing? Ini hal baru bagiku. Ini membuatku menyadari betapa Tokyo ini luas, dan banyak hal yang aku belum tahu. Mengingatkanku pada novel “Sanshiro”, cerita tentang orang kampung yang pergi ke kota besar.

“Saat masih kecil, aku adalah penggemar berat Hanshin Tigers,” Kitaru menjelaskan. “Pergi ke setiap pertandingan mereka kalau bermain di Tokyo. Tetapi jika aku duduk di tempat duduk pendukung Hanshin dan berbicara dengan dialek Tokyo, tak seorang pun ingin menyapaku. Tidak bisa menjadi bagian dari masyarakat, kau tahu kan rasanya? Jadi kupikir, aku harus belajar dialek Kansai, dan aku bekerja keras seperti seperti anjing saja.”

“Jadi itu yang memotivasimu?” Aku hampir tak percaya.

“Benar. Tigers sangat berarti bagiku,” kata Kitaru. “Sekarang dialek Kansai yang aku pakai saat berbicara di sekolah, di rumah, bahkan ketika aku tidur pun. Dialekku ini hampir sempurna kan?”

“Tentu saja. Aku berpikir kamu dari Kansai,” pujiku.

“Jika aku serius belajar untuk ujian masuk seperti yang kulakukan saat mempelajari dialek Kansai, tentunya aku tidak akan menjadi pecundang yang dua kali gagal seperti sekarang.”

Dia menyadarinya juga. Bahkan pembawaan dirinya itu sudah seperti orang Kansai.

“Jadi kalau kamu dari mana?” Tanyanya.

“Kansai. Dekat Kobe,” kataku.

“Dekat Kobe? Sebelah mana?”

“Ashiya,” jawabku.

“Wow, bagus. Kenapa kau tidak mengatakan ini dari awal?”

Aku menjelaskan. Kalau orang bertanya tentang asalku dan aku mengatakan berasal dari Ashiya, maka mereka selalu beranggapan bahwa aku dari keluarga kaya. Padahal semua jenis keluarga pun ada di Ashiya. Keluargaku, salah satu yang tidak terlalu kaya. Ayahku bekerja di sebuah perusahaan farmasi dan ibuku adalah pustakawan. Rumah kami kecil dan mobil kami Corolla berwarna krim. Jadi, ketika orang bertanya padaku di mana aku berasal, maka aku akan mengatakan asalku di “dekat Kobe”, sehingga mereka tidak berpraduga dulu tentangku.

“Hey, sepertinya kau dan aku senasib,” kata Kitaru. “Alamatku di Denenchofu-area kelas atas- namun rumahku berada di bagian kumuhnya. Rumahnya kumuh juga. Kamu harus datang kapan-kapan. Kamu akan terkejut, seperti, Apa? Ini di Denenchofu? Tidak mungkin! Tapi mengkhawatirkan sesuatu seperti itu tidak masuk akal, kan? Ini alamatnya. Tapi aku melakukan kebalikan-aku mengatakan langsung dengan bangga bahwa aku dari Den-en-cho-fu. Terus kenapa, ada masalah dengan ini, hah?”

Aku pun terkesan. Dan karena inilah awal pertemanan kami.

***

 

***

Sampai lulus SMA, aku berbicara dengan dialek Kansai. Tapi cuma butuh satu bulan di Tokyo bagiku untuk menjadi benar-benar fasih dalam standar Tokyo. Aku agak terkejut bahwa aku bisa beradaptasi begitu cepat. Mungkin aku memiliki kemampuan beradaptasi seperti bunglon. Atau mungkin aku memiliki keterampilan berbahasa yang lebih tinggi dari kebanyakan orang. Yang pasti, sekarang tidak ada yang percaya bahwa aku seorang yang berasal dari Kansai.

Alasan lain aku berhenti menggunakan dialek Kansai adalah bahwa aku ingin menjadi orang yang sama sekali berbeda.

Saat aku pindah dari Kansai ke Tokyo untuk memulai kuliah, aku menghabiskan seluruh waktu di kereta cepat dengan meninjau delapan belas tahun usiaku dan menyadari bahwa hampir segala sesuatu yang telah terjadi padaku cukup memalukan. Aku tidak melebih-lebihkan. Aku tidak ingin mengingat semua itu karena sangat menyedihkan. Semakin aku berpikir tentang hidupku sampai saat itu, semakin aku membenci diriku sendiri. Itu bukan berarti aku tidak memiliki beberapa kenangan yang baik. Ada sejumlah pengalaman bahagia. Tapi, jika mengakumulasikannya, kenangan yang memalukan dan menyakitkan jauh lebih banyak. Ketika aku berpikir tentang bagaimana aku telah mengisi hidupku, bagaimana aku harus menjalani kehidupan selanjutnya, ini semua begitu terlambat, sehingga yang kudapat hanya kesia-siaan. Seorang kelas menengah yang tak kreatif seperti sampah, dan aku ingin mengumpulkan semuanya kemudian menyimpannya dalam laci. Atau membakarnya dan memelototinya sampai menjadi asap (aku tidak tahu jenis asap apa yang akan tercipta). Pokoknya, aku ingin menyingkirkan semua itu dan memulai hidup baru di Tokyo sebagai orang baru. Dengan menanggalkan dialek Kansai, ini menjadi sebuah metode praktis (serta simbolik). Karena, menurut sebuah penelitian, bahasa yang kita pakai mencerminkan siapa kita. Setidaknya inilah ideku saat masih di usia delapan belas itu.

“Memalukan? Apanya yang memalukan?” Kitaru bertanya.

“Kamu pasti tahu.”

“Punya hubungan buruk dengan keluargamu?”

“Hubungan kami baik kok,” kataku. “Hanya saja itu memalukan. Hanya berada bersama mereka membuatku merasa malu.”

“Kau aneh, kau tahu itu kan?” Kata Kitaru. “Kenapa kau malu dengan keluargamu? Aku nyaman-nyaman saja dengan keluargaku.”

Aku tidak bisa benar-benar menjelaskannya. Apa yang begitu buruk tentang memiliki Corolla berwarna krem? Aku tidak bisa mengatakan. Orang tuaku hanya tidak tertarik untuk menghabiskan uang demi penampilan, itu saja.

“Orang tuaku juga kesusahan karena aku tidak belajar sungguh-sungguh. Aku benci itu, tapi gimana ya? Itu urusan mereka. Jadi kau tetap harus melihat masa lalumu itu, kau tahu?”

“Oh kau sungguh orang yang santai, kan?” Kataku.

“Kau punya pacar?” Tanya Kitaru.

“Tidak untuk saat ini.”

“Tapi kamu punya sebelumnya kan?”

“Sampai beberapa waktu yang lalu.”

“Kalian putus?”

“Memang,” kataku.

“Kenapa kau putus?”

“Ceritanya panjang. Aku tidak ingin mengungkitnya.”

“Sudah sejauh mana hubunganmu dengannya?”

Aku menggeleng. “Tidak begitu jauh sih.”

“Jadi karena inilah kamu putus?”

Aku memikirkannya. “Ya karena ini juga.”

“Tapi kau sudah bercinta dengannya kan?”

“Hampir.”

“Tepatnya sampai sejauh mana?”

“Aku tidak ingin berbicara tentang hal itu,” kataku.

“Apakah itu sesuatu yang memalukan untuk kamu bicarakan?”

“Ya,” kataku.

“Oh, hidupmu sungguh rumit,” kata Kitaru.

***

Pertama kali aku mendengar Kitaru menyanyikan “Yesterday” dengan lirik gilanya itu ketika dia sedang di kamar mandi rumahnya di Denenchofu (berbeda dari uraiannya, sebenarnya bukan rumah kumuh di lingkungan kumuh tapi hanya sebuah rumah biasa di lingkungan biasa, sebuah rumah tua, tetapi lebih besar dari rumahku di Ashiya, rumah yang tidak terlalu mencolok, dan terdapat mobil Golf biru tua di jalan masuk, mobil model terbaru). Setiap kali Kitaru pulang, ia langsung menjatuhkan barang-barangnya kemudian memasuki kamar mandi. Dan, ketika sudah berada di bak mandi, ia bakal tinggal lama di dalamnya. Jadi aku sering membawa bangku bulat kecil ke ruang ganti yang berdekatan dan duduk di sana, berbicara kepadanya melalui pintu geser yang terbuka sekitar satu inci. Itu adalah satu-satunya cara untuk menghindari ibunya yang selalu menceracau ke sana-kemari (kebanyakan keluhan tentang anak anehnya dan bagaimana ia perlu belajar lebih sungguh-sungguh).

“Lirikmu itu tidak masuk akal,” kataku. “Kedengarannya kamu sedang mengolok-olok lagu ‘Yesterday.’”

“Jangan sok pintar. Aku tidak mengolok-olok kok. Kalau pun iya, kamu harus ingat bahwa John sendiri juga suka terhadap omong kosong dan permainan kata. Benar kan?”

“Tapi Paul yang menulis ‘Yesterday’.”

“Kamu yakin?”

“Tentu saja,” aku menyatakan. “Paul yang menulis lagu dan merekamnya sendiri di studio dengan gitar. Sebuah string quartet ditambahkan kemudian, bahkan anggota The Beatles yang lain tidak terlibat sama sekali. Mereka pikir itu terlalu lemah untuk dijadikan lagu The Beatles.”

“Benarkah? Aku tidak tahu ada informasi rahasia seperti itu.”

“Ini bukan informasi rahasia. Ini cuma fakta yang sudah terkenal kok,” kataku.

“Ah siapa peduli? Itu hanya detail,” suara Kitaru terdengar sayup-sayup dari dalam. “Aku bernyanyi di kamar mandi rumahku sendiri. Bukan untuk rekaman atau apalah namanya. Aku tidak melanggar hak cipta, dan tak mengganggu siapapun. Jadi kamu tak punya hak untuk mengeluh.”

Dan dia sampai pada refrain, suaranya keras dan jelas. Dia bisa sampai nada tinggi dengan cukup baik. Aku bisa mendengar percikan air mandinya yang mengiringi nyanyiannya. Aku mungkin harus ikut bernyanyi bersamanya untuk sekedar membesarkan hatinya. Hanya duduk saja, berbicara melalui pintu kaca untuk menemaninya saat ia berendam dalam bak mandi selama satu jam sesungguhnya jauh dari menyenangkan.

“Kenapa sih kamu dapat berendam begitu lama di kamar mandi?” Aku bertanya. “Apakah tubuhmu itu tak jadi bengkak?”

“Ketika aku berendam di bak mandi untuk waktu yang lama, beragam inspirasi mendatangiku,” kata Kitaru.

“Seperti lirik ‘Yesterday’ itu?”

“Yah, itu salah satunya,” kata Kitaru.

“Daripada menghabiskan begitu banyak waktu memikirkan ide-ide di kamar mandi, bukankah lebih baik kamu belajar untuk ujian masuk?” Aku bertanya.

“Astaga, kau kerasukan rupanya. Ibuku juga mengatakan hal yang sama loh. Bukankah kamu terlalu muda untuk mengatakan nasihat bijak seperti itu?”

“Tapi kau kursus persiapan selama dua tahun. Apakah kamu tidak bosan?”

“Tentu saja aku ingin berada di perguruan tinggi secepat aku bisa.”

“Lalu kenapa tidak belajar lebih keras?”

“Ya-,” katanya, memikirkan kalimatnya. “Jika aku bisa, pasti aku sudah melakukannya.”

“Kuliah itu memang menjemukan,” kataku. “Aku benar-benar kecewa sekali saat aku memasukinya. Tapi tidak masuk kuliah justru lebih menjemukan.”

“Setuju,” kata Kitaru. “Aku tidak punya pembelaan untuk itu.”

“Jadi kenapa kamu tidak belajar?”

“Kurang motivasi,” katanya.

“Motivasi?” Tanyaku. “Pacarmu itu apakah tak bisa kau jadikan sebagai motivasi?”

Ada seorang gadis yang Kitaru kenal sejak mereka masih di sekolah dasar. Bisa dibilang telah jadian sejak kecil. Mereka pernah di kelas yang sama di sekolah, tapi tidak sepertinya, dia langsung masuk ke Universitas Sophia setelah lulus SMA. Sekarang dia di jurusan sastra Perancis dan bergabung dengan klub tenis. Dia menunjukkan kepadaku foto pacarnya itu, dia sungguh menarik. Seorang yang cantik dan ekspresinya ceria. Tapi mereka berdua jarang bertemu satu sama lain belakangan ini. Mereka sudah membicarakan dan memutuskan bahwa lebih baik tidak pacaran sampai Kitaru bisa lulus ujian masuk, agar ia bisa fokus pada studinya. Kitaru sendiri yang menyarankan ini. “OK,” pacarnya berkata, “jika itu yang kau inginkan.” Mereka berbicara banyak di telepon namun bertemu paling seminggu sekali, dan pertemuan mereka itu lebih seperti wawancara ketimbang pacaran. Mereka memesan teh dan membicarakan apa-apa yang sedang mereka lakukan. Mereka berpegangan tangan dan berciuman singkat, tapi hanya sejauh itu.

Kitaru memang bisa dibilang tidak terlalu tampan, tapi dia cukup sedap dipandang. Dia kurus, dan gaya rambut serta pakaiannya sederhana namun bergaya. Karena dia tidak banyak bicara, kita akan berasumsi kalau dia anak kota yang sensitif. Hanya ada sedikit kekurangan yang terletak di wajahnya yang terlalu ramping dan lembut, yang memberi kesan bahwa ia pribadi yang lemah atau plin-plan. Dan saat ia membuka mulutnya-semua kelebihannya tadi seakan runtuh seperti istana pasir yang hancur diinjak-injak seekor anjing Labrador. Orang-orang dibuat kaget dengan dialek Kansai yang ia sampaikan, belum cukup sampai itu, karena suaranya pun cempreng. Ketidakcocokan dengan penampilan luarnya itu sungguh mengejutkan; bahkan bagiku saat pertama kali bertemu.

“Hei, Tanimura, apakah kamu kesepian tanpa pacar?” Kitaru bertanya padaku keesokan harinya.

“Aku tidak menyangkal hal itu,” kataku.

“Bagaimana kalau kamu kencan saja dengan pacarku?”

Aku tidak mengerti maksudnya. “Apa maksudmu – kencan dengannya?”

“Dia gadis yang hebat. Cantik, jujur, pintar, pokoknya idaman. Kamu kencan dengan dia dan kamu tidak akan menyesal. Aku jamin itu.”

“Aku mau saja,” kataku. “Tapi mengapa aku harus kencan dengan pacarmu? Ini tidak masuk akal.”

“Karena kau orang baik,” kata Kitaru. “Kalau tidak, aku tidak mungkin menyarankan ini. Erika dan aku telah menghabiskan hampir seluruh kehidupan kita bersama-sama. Kami telah jadi pasangan, dan semua orang di sekitar kami sudah pada tahu. Teman-teman kami, orang tua kami, guru kami. Kami selalu bersama-sama.”

Kitaru menggenggam tangannya untuk mengilustrasikan ucapannya tadi.

“Jika kami berdua sama-sama masuk perguruan tinggi, hubungan kami pasti hangat dan kabur, tapi aku gagal ujian masuk, dan di sini kami. Aku tidak yakin mengapa, tetapi segalanya kian memburuk. Aku tidak menyalahkan siapa pun untuk ini. Ini semua salahku.”

Aku mendengarkannya dalam diam.

“Jadi aku seperti terbelah menjadi dua,” kata Kitaru. Dia menarik tangannya terpisah.

“Maksudmu?” Tanyaku.

Dia menatap telapak tangannya sejenak dan kemudian berbicara. “Yang aku maksud adalah ada satu bagian dari diriku yang khawatir, kau tahu? Maksudku, aku sedang menjalani kursus persiapan, belajar untuk ujian masuk perguruan tinggi, sementara Erika sedang bermain bola di tempat kuliahnya. Bermain tenis, melakukan apa pun. Dia punya teman baru, mungkin juga berkencan dengan pria baru, aku tak tahu. Ketika aku berpikir tentang semua itu, aku merasa ditinggalkan. Seperti pikiranku ada di kabut. Kamu mengerti apa maksudku?”

“Aku mengerti,” kataku.

“Tapi ada bagian lain dariku yang – merasa lega mungkin? Karena jika hubungan kami hanya berjalan begini-begini saja, tanpa ada masalah atau apa pun, pasangan yang lancar mengarungi kehidupannya, ini seperti. . . kami lulus dari perguruan tinggi, menikah, kami jadi pasangan suami istri yang semua orang senang, kami memiliki dua anak, menempatkan mereka di sebuah sekolah dasar yang baik di Denenchofu, pergi ke tepi Sungai Tama di hari Minggu, Ob-la -di, Ob-la-da. . . Aku tidak mengatakan ini sesuatu yang buruk. Tapi aku hanya membayangkan, jika hidup semudah itu, senyaman itu. Mungkin lebih baik untuk berpisah untuk sementara waktu, kemudian menyadari bahwa kami berdua tak bisa hidup berpisah, sehingga kami balikan lagi.”

“Jadi kau mengatakan bahwa hidup yang lurus dan nyaman adalah sebuah masalah. Itu saja?”

“Ya, itu hanya soal.”

“Tapi kenapa aku harus kencan dengan pacarmu?” Aku bertanya.

“Aku pikir, jika dia harus pacaran dengan pria lain, lebih baik itu adalah kau. Karena aku mengenalmu. Dan kau kan bisa beri aku kabar dan sebagainya.”

Itu tetap tidak masuk akal bagiku, meski memang aku tertarik pada gagasan untuk bertemu Erika. Aku ingin mengetahui mengapa seorang gadis secantik dia ingin berpacaran dengan orang aneh seperti Kitaru. Aku memang pemalu kalau bertemu orang-orang baru, tapi aku adalah orang yang selalu penasaran.

“Seberapa jauh hubunganmu dengan dia?” Aku bertanya.

“Maksudmu bercinta?” Kata Kitaru.

“Ya. Apakah kau telah melakukannya?”

Kitaru menggeleng. “Aku tidak mampu, kau mengerti? Aku sudah mengenalnya sejak dia masih kecil, dan ini agak memalukan, kau mengerti, untuk memulainya, kemudian melepas bajunya, mencumbunya, meraba-rabanya, apa pun. Jika dengan gadis lain, aku pikir tidak akan ada masalah, tapi meletakkan tanganku di celana dalamnya, bahkan hanya berpikir tentang melakukan hal itu dengan dia, aku tak tahu, sepertinya sesuatu yang salah. Kamu mengerti kan?”

Aku masih tidak mengerti.

“Aku tidak bisa menjelaskan dengan baik,” kata Kitaru. “Seperti, ketika kau masturbasi, Kau pasti membayangkan seorang sosok wanita yang asli ada kan, ya?”

“Aku kira,” kataku.

“Tapi aku tidak bisa membayangkan Erika. Sepertinya melakukan hal itu sesuatu yang salah, kau mengerti? Jadi ketika aku masturbasi pun yang aku pikirkan ya gadis lain. Seseorang yang sebenarnya tidak terlalu kusuka. Bagaimana menurutmu?”

Aku terus memikirkan itu tapi tidak bisa mencapai kesimpulan apapun. Kebiasaan masturbasi orang lain berada di luar pengetahuanku. Ada hal-hal tentang diriku sendiri yang aku tidak bisa membayangkannya.

“Pokoknya, mari kita bertemu bersama-sama sekali, kita bertiga,” kata Kitaru. “Kemudian kau dapat memikirkannya.”

***

Kami bertiga-aku, Kitaru, dan pacarnya, yang bernama lengkap Erika Kuritani itu-bertemu pada hari Minggu sore di kedai kopi dekat Stasiun Denenchofu. Dia setinggi Kitaru, kulitnya kecokelatan, dan mengenakan blus putih lengan pendek yang rapi disetrika dan rok mini biru tua. Seperti seorang model yang tanpa cacat, yang berasal dari sebuah perguruan tinggi wanita elit. Dia semenarik dalam foto, tapi apa yang benar-benar membuatku tertarik secara pribadi bukanlah dari tampilan luarnya, tapi lebih kepada vitalitas hidup yang memancar dari dalam dirinya. Dia kebalikan dari Kitaru, yang sangat berbanding terbalik.

“Aku sangat senang bahwa Aki-kun memiliki teman,” kata Erika kepadaku. Nama pertama Kitaru adalah Akiyoshi. Dan dia adalah satu-satunya orang yang memanggilnya Aki-kun.

“Jangan membesar-besarkan. Aku punya banyak teman kok,” kata Kitaru.

“Tidak, tidak,” kata Erika. “Orang sepertimu tidak mungkin punya banyak teman. Kamu lahir di Tokyo, namun kamu berbicara dengan dialek Kansai, dan setiap kali kamu membuka mulutmu itu salah satu hal yang mengganggu, kamu bicara tentang Hanshin Tigers atau pergerakan shogi. Tidak ada orang aneh sepertimu bisa berteman dengan orang normal.”

“Nah, jika kau berpikir begitu, maka orang ini juga cukup aneh.” Kitaru menunjukku. “Dia dari Ashiya tetapi bicara dengan dialek Tokyo.”

“Itu jauh lebih umum,” kata Erika. “Setidaknya lebih umum daripada sebaliknya.”

“Hey, ini sudah masuk diskriminasi budaya,” kata Kitaru. “Semua suku sama, kau tahu. Dialek Tokyo tidak lebih baik dari Kansai.”

“Mungkin mereka sama,” kata Erika, “tapi karena Restorasi Meiji cara orang berbicara di Tokyo telah menjadi standar untuk diucapkan di Jepang. Maksudku, apakah ada yang pernah menerjemahkan ‘Franny dan Zooey’ ke dialek Kansai?”

“Jika ada, maka aku akan membelinya, pasti,” kata Kitaru.

Aku mungkin akan membelinya juga, aku pikir, tapi tetap diam.

Dengan bijak, bukannya menyeret lebih dalam di obrolan seperti itu, Erika Kuritani mengubah topik pembicaraan.

“Ada seorang gadis di klub tenisku yang dari Ashiya juga,” katanya, beralih kepadaku. “Eiko Sakurai. Apakah kamu kenal dia?”

“Aku kenal,” kataku. Eiko Sakurai adalah gadis tinggi kurus, yang orang tuanya merupakan pemilik lapangan golf besar. Terjebak-up, berdada rata, dengan hidung tampak lucu dan tidak ada kepribadian yang sangat ajaib. Tenis adalah salah satu hal yang paling ia kuasai. Jika aku tidak pernah melihatnya lagi, itu akan terlalu cepat bagiku.

“Dia pria yang baik, dan dia tidak punya pacar sekarang,” kata Kitaru kepada Erika. “Penampilannya oke, dia baik, dan dia tahu segala macam hal. Dia rapi dan bersih, seperti yang kamu lihat, dan tidak memiliki penyakit yang mengerikan. Seorang pemuda yang menjanjikan, kalau boleh kusebut.”

“Baiklah,” kata Erika. “Ada beberapa anggota baru yang manis di klub kami, aku akan senang untuk memperkenalkannya.”

“Nah, bukan itu yang kumaksud,” kata Kitaru. “Bisakah kamu pacaran saja dengannya? Aku belum kuliah dan aku tidak bisa kencan denganmu. Jadi tanpaku, kau bisa kencan saja dengannya. Dan aku pun tidak perlu khawatir.”

“Apa maksudmu dengan kau tidak perlu khawatir?” Tanya Erika.

“Maksudku, aku kenal kalian berdua, dan aku akan merasa lebih baik jika kamu kencan dengan dia ketimbang dengan lelaki yang tidak kukenal.”

Erika menatap Kitaru seolah-olah dia tidak percaya yang dibicarakannya. Akhirnya, dia berkata. “Jadi kau mengatakan bahwa aku boleh pacaran dengan lelaki lain asalkan itu Tanimura-kun ini? Kamu serius menyarankan kami berpacaran, berkencan?”

“Hei, ini bukan ide yang buruk, kan? Atau apakah kamu sudah pacaran dengan pria lain?”

“Tidak, tidak ada orang lain,” kata Erika dengan suara tenang.

“Lalu kenapa tak pacaran saja dengannya? Ini bisa dibilang sebuah pertukaran budaya.”

“Pertukaran budaya,” ulang Erika. Dia menatapku.

Aku pikir apapun yang aku katakan tak akan membantu, jadi aku diam saja. Aku memegang sendok kopi di tanganku, mengamati desainnya, seperti seorang kurator museum yang sedang meneliti artefak dari makam Mesir.

“Pertukaran budaya? Apa artinya itu?” Tanyanya kepada Kitaru.

“Seperti, mencari sudut pandang baru tentunya bukan sesuatu yang buruk bagi kita. . . ”

“Itu maksudmu tentang pertukaran budaya?”

“Ya, yang kumaksud adalah. . . ”

“Baiklah,” kata Erika Kuritani tegas. Jika ada pensil di dekatku, aku mungkin akan mengambilnya dan membelahnya menjadi dua. “Jika kau pikir kita harus melakukannya, Aki-kun, maka baiklah. Mari kita melakukan pertukaran budaya.”

Dia meneguk teh, mengembalikan cangkir ke tatakannya lagi, menoleh padaku, dan tersenyum. “Karena Aki-kun sendiri yang bilang kita boleh melakukan ini, Tanimura-kun, mari kita pergi kencan. Kedengarannya menyenangkan. Kapan kamu punya waktu lenggang?”

Aku tidak bisa bicara. Tidak mampu menemukan kata yang tepat pada saat yang penting adalah salah satu dari banyak masalah yang kupunya.

Erika mengambil catatan dengan sampul merah dari tasnya, membukanya, dan memeriksa jadwalnya. “Bagaimana kalau Sabtu ini?” Tanyanya.

“Aku belum punya agenda,” kataku.

“Sabtu ini kalau begitu. Kemana kita akan pergi?”

“Dia suka film,” ucap Kitaru padanya. “Cita-citanya ingin menulis skenario suatu hari nanti.”

“Kalau begitu kita pergi nonton film. Apa film yang harus kita lihat? Aku akan membiarkanmu yang memutuskan, Tanimura-kun. Aku tidak suka film horor, jadi apapun selain itu, aku bakal setuju.”

“Dia benar-benar penakut,” kata Kitaru kepadaku. “Saat kami masih kecil dan pergi ke rumah hantu di Korakuen, dia memegang tanganku dan-”

“Setelah nonton mari kita makan bersama-sama,” kata Erika, memotong ucapannya. Dia kemudian menulis nomor teleponnya di selembar buku catatannya dan memberikannya padaku. “Jika kamu sudah memutuskan waktu dan tempatnya, bisakah kau meneleponku?”

Aku tidak memiliki telepon saat itu (ini sebelum ponsel banyak seperti sekarang), jadi aku memberinya nomor kedai kopi tempat Kitaru dan aku bekerja. Aku melirik jam tanganku.

“Aku minta maaf karena aku harus pergi,” kataku, mencoba beramah-tamah sebisaku. “Aku punya tugas yang harus dikumpulkan besok.”

“Apakah tidak bisa menunggu?” tanya Kitaru. “Kita baru saja sampai di sini. Mengapa kau tidak tinggal sehingga kita bisa bicara lagi? Ada toko mie yang enak di sana.”

Erika tidak menyatakan pendapat. Aku menaruh uang untuk kopi di atas meja dan berdiri. “Ini tugas penting,” jelasku, “jadi aku benar-benar tidak bisa menundanya.” Sebenarnya, tugasnya tidak terlalu penting.

“Aku akan meneleponmu besok atau lusa,” kataku pada Erika.

“Aku akan menunggunya,” katanya, senyum yang indah terlihat di bibirnya. Senyum itu bagiku tampak agak terlalu bagus untuk menjadi kenyataan.

Aku meninggalkan kedai kopi dan saat berjalan ke stasiun, aku bertanya-tanya apa sih yang kulakukan. Tenggelam dalam pikiran atas beragam hal yang terus berubah, seperti terlalu memikirkan yang terjadi barusan, adalah salah satu masalah yang selalu menyiksaku.

 

Sabtu itu, Erika dan aku bertemu di Shibuya dan nonton film Woody Allen yang berlatar di New York. Entah bagaimana aku punya perasaan kalau dia sangat menyukai film Woody Allen ini. Dan aku cukup yakin kalau Kitaru belum pernah mengajaknya nonton film seperti ini. Untungnya, ini adalah film yang bagus, dan kami berdua merasa senang ketika kami meninggalkan bioskop.

Kami jalan-jalan sebentar saat senja itu, sebelum akhirnya pergi ke restoran Italia kecil di Sakuragaoka untuk memesan pizza dan Chianti. Ini hanya restoran sederhana dengan harganya yang bersahabat. Pencahayaan yang redup, lilin di meja. (Sebagian besar restoran Italia pada waktu itu pasti terdapat lilin di atas meja dengan taplaknya yang kotak-kotak.) Kami mengobrol banyak hal, seperti halnya percakapan antara dua mahasiswa perguruan tinggi saat kencan pertama (dengan asumsi kalau ini benar-benar sebuah kencan). Membicarakan film yang kami lihat barusan, kehidupan perkuliahan kami, hobi kami. Kami menikmati obrolan tersebut lebih dari yang aku harapkan, dan dia bahkan tertawa keras beberapa kali. Aku tidak ingin terdengar seperti aku jago membual, tapi tampaknya aku memiliki suatu bakat untuk bisa membuat seorang perempuan tertawa.

“Aku mendengar dari Aki-kun kalau kau putus dengan pacar semasa SMA-mu belum lama ini ya?” Erika bertanya.

“Ya,” jawabku. “Kami sudah berpacaran selama hampir tiga tahun, tetapi tidak berhasil. Sayangnya.”

“Kata Aki-kun hal ini karena soal hubungan seks. Bahwa dia tidak… bagaimana aku harus mengatakannya ya? Memuaskanmu?”

“Itu cuma salah satu alasannya. Tapi tidak semua. Jika aku benar-benar mencintainya, aku pikir aku bisa bersabar. Jika aku yakin bahwa aku mencintainya, maksudku. Tapi aku tidak.”

Erika mengangguk.

“Bahkan jika kami terus melanjutkan hubungan tadi, semuanya akan berakhir sama,” kataku. “Aku pikir itu sudah semestinya begitu.”

“Apakah ini sulit bagimu?” Tanyanya.

“Sulit apanya?”

“Ketika harus sendirian lagi setelah lama berpacaran.”

“Kadang-kadang,” kataku jujur.

“Tapi mungkin dengan melalui keadaan sulit, mengalami kesepian diperlukan ketika kau masih muda? Bagian dari proses pendewasaan mungkin ya?”

“Kau pikir begitu?”

“Dengan adanya musim dingin yang keras membuat sebuah pohon tumbuh lebih kuat, cincin tahunan pohon di dalamnya dipaksa mengeras.”

Aku mencoba membayangkan cincin tahunan pohon dalam diriku. Tapi satu-satunya hal yang aku bisa bayangkan adalah sepotong kue Baumkuchen, jenis kue yang isinya seperti cincin tahunan pohon di dalamnya.

“Aku setuju bahwa manusia perlu menghadapi periode itu dalam hidupnya,” kataku. “Lebih baik lagi jika kita tahu kalau periode seperti ini bakal ada akhirnya.”

Dia tersenyum. “Jangan khawatir. Aku yakin kau akan bertemu penggantinya segera.”

“Aku harap begitu,” kataku.

Erika memikirkan sesuatu sementara aku menyantap pizza tadi.

“Tanimura-kun, aku ingin meminta saran darimu tentang sesuatu. Apakah boleh?”

“Tentu,” kataku. Ini adalah masalah lainku ketika berurusan dengan orang lain: orang yang baru saja aku temui ingin meminta saranku tentang sesuatu yang sangat penting. Dan aku cukup yakin bahwa apa yang akan Erika sampaikan padaku merupakan sesuatu yang sangat tidak menyenangkan.

“Aku bingung,” ia memulai.

Matanya melirik bolak-balik, seperti kucing yang mencari sesuatu.

“Aku yakin kau sudah tahu tentang ini, ya ini soal Aki-kun yang sudah dua tahun masih saja kursus persiapan untuk ujian masuk, ia tidak belajar serius. Dia juga sering bolos ikut ujian percobaan. Jadi aku yakin dia akan gagal lagi tahun depan. Jika ia memilih universitas yang lebih rendah, ia bisa saja mendapatkannya di suatu tempat, tapi dia memantapkan hatinya cuma ke Waseda. Dia tidak mendengarkanku, atau orang tuanya. Ini menjadi seperti obsesi baginya. . . . Tetapi jika ia sungguh-sungguh ingin masuk ke sana harusnya kan ia belajar keras agar ia bisa lulus ujian Waseda, namun dia tidak.”

“Mengapa dia tidak belajar sungguh-sungguh?”

“Dia benar-benar percaya bahwa dia akan lulus ujian masuk jika keberuntungan datang ke sisinya,” kata Erika. “Belajar adalah buang-buang waktu.” Dia menghela napas dan melanjutkan, “Di sekolah dasar dia selalu juara kelas. Tapi begitu dia masuk SMP nilai-nilainya mulai meluncur. Dia anak yang sedikit aneh-kepribadiannya tidak cocok untuk cara belajar yang normal. Dia lebih suka bolos kemudian melakukan hal-hal gila sendiri. Aku sebaliknya. Aku memang tidak terlalu pandai, tapi aku selalu bekerja keras dan selalu menuntaskan setiap pekerjaan.”

Aku tidak pernah belajar sungguh-sungguh namun bisa masuk ke perguruan tinggi pada percobaan pertama. Mungkin keberuntungan telah di sisiku.

“Aku sangat menyukai Aki-kun,” lanjutnya. “Dia punya banyak kelebihan. Tapi kadang-kadang sulit bagiku untuk memahami cara berpikirnya yang ekstrim. Misalnya tentang dialek Kansai itu. Mengapa seseorang yang dilahirkan dan dibesarkan di Tokyo harus susah-susah belajar dialek Kansai kemudian menggunakannya sepanjang waktu? Aku tidak mengerti, aku benar-benar tidak habis pikir. Pada awalnya aku pikir itu cuma lelucon, tapi tidak. Dia benar-benar serius.”

“Aku pikir dia ingin memiliki suatu kepribadian yang berbeda, menjadi seseorang yang berbeda dari dirinya yang sekarang,” kataku.

“Itu sebabnya ia berbicara dengan dialek Kansai?”

“Aku setuju denganmu bahwa ini memang cara yang aneh.”

Erika mengambil sepotong pizza dan menggigit secuil seukuran perangko besar. Dia mengunyahnya sambil berpikir sebelum kemudian dia berbicara.

“Tanimura-kun, aku bertanya ini karena aku tidak memiliki orang lain untuk bertanya. Kamu tidak keberatan kan?”

“Tentu saja tidak,” kataku. Apa lagi yang bisa kukatakan?

“Secara umum,” katanya, “ketika seorang pria dan seorang wanita berpacaran untuk waktu yang lama dan telah mengenal satu sama lain dengan sangat baik, pria pasti punya ketertarikan fisik dengan gadis itu, kan?”

“Umumnya memang begitu, aku setuju.”

“Jika mereka berciuman, dia pasti ingin sesuatu yang lebih jauh kan?”

“Biasanya memang begitu.”

“Kamu merasa seperti itu juga kan?”

“Tentu saja,” kataku.

“Tapi Aki-kun tidak. Ketika kita berduaan, dia tidak ingin sesuatu yang lebih jauh.”

Butuh beberapa saat bagiku untuk memilih kata yang tepat. “Itu hal pribadi,” kataku akhirnya. “Orang-orang memiliki cara yang berbeda untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Kitaru sangat menyukaimu-ini suatu anugerah-tapi hubungan kalian begitu dekat dan nyaman sehingga dia mungkin tidak berani untuk melanjutkan ke tingkat berikutnya, berbeda dengan kebanyakan orang memang.”

“Kamu pikir begitu?”

Aku menggeleng. “Sejujurnya, aku tidak benar-benar memahaminya. Aku sendiri tidak pernah mengalaminya. Aku hanya mengatakan bahwa itu bisa menjadi salah satu kemungkinan.”

“Kadang-kadang rasanya seperti ia tidak memiliki hasrat seksual padaku.”

“Aku yakin dia punya. Tapi mungkin sesuatu yang memalukan baginya untuk mengakuinya.”

“Tapi kami sudah berusia dua puluh, sudah sama-sama dewasa. Cukup dewasa untuk tidak merasa malu.”

“Beberapa orang mungkin sedikit lebih cepat dewasa ketimbang yang lain,” kataku.

Erika memikirkan hal ini. Dia tampaknya tipe orang yang selalu menangani beragam hal di kepala.

“Aku pikir Kitaru sedang mencari sesuatu,” aku melanjutkan. “Dengan caranya sendiri, dengan kecepatannya sendiri. Hanya saja aku berpikir dia tidak memahami betul apa yang ingin dicapainya itu. Itu sebabnya dia tidak dapat membuat kemajuan apapun. Jika kamu tidak tahu apa yang kamu cari, tentunya tidak mudah untuk mencarinya.”

Erika mendongakan kepalanya dan menatapku tepat di mata. Nyala lilin tercermin dalam matanya yang gelap, kecil, setitik cahaya yang berkilau. Itu begitu indah membuatku susah untuk berpaling darinya.

“Tentu saja, kamu mengenalnya jauh lebih baik daripada aku,” aku menegaskan.

Dia mendesah lagi.

“Sebenarnya, aku sedang suka pria lain selain Aki-kun,” katanya. “Seorang pria di klub tenisku yang setahun di atasku.”

Sekarang giliranku yang terdiam.

“Aku benar-benar mencintai Aki-kun, dan aku tidak berpikir aku bisa merasakan hal yang sama kalau dengan orang lain. Setiap kali aku jauh darinya aku merasakan sakit yang mengerikan di dadaku, selalu di tempat yang sama. Ini benar. Ada tempat di hatiku yang dicadangkan hanya untuk dia. Tapi pada saat yang sama aku punya dorongan kuat dalam diriku untuk mencoba sesuatu yang lain, untuk merasakan berhubungan dengan semua jenis orang. Sebut saja rasa ingin tahu, rasa haus untuk tahu lebih banyak. Ini adalah emosi alami dan aku tidak bisa menekannya, tidak peduli sekeras apapun aku mencoba.”

Aku membayangkan tanaman yang tumbuh melampaui pot tempatnya ditanam.

“Ketika aku mengatakan aku bingung, inilah yang kumaksud,” kata Erika.

“Berarti kamu harus memberitahu Kitaru tentang perasaanmu ini,” kataku. “Jika kau menyembunyikannya dari dia kalau kau sedang suka dengan orang lain, kemudian ia mengetahui ini, itu justru akan menyakitinya. Kamu tentunya tidak menginginkan hal ini.”

“Tapi bisakah dia menerima itu? Fakta bahwa aku kencan dengan orang lain?”

“Aku pikir dia akan mengerti bagaimana perasaanmu,” kataku.

“Kau pikir begitu?”

“Ya,” kataku.

Aku pikir Kitaru akan mengerti kebingungan pacarnya ini, karena ia pun merasa hal yang sama. Dalam hal ini, mereka benar-benar berada di gelombang yang sama. Namun, aku tidak sepenuhnya yakin bahwa Kitaru dengan tenang akan menerima apa yang benar-benar Erika lakukan (atau pikirkan). Kitaru tidak tampak seperti seseorang yang kuat bagiku. Tetapi akan lebih sulit baginya jika Erika terus merahasiakan ini darinya atau mungkin berbohong kepadanya.

Erika menatap nyala lilin yang berkedip-kedip oleh hembusan AC. “Aku sering mendapat mimpi yang sama,” katanya. “Aki-kun dan aku berada di sebuah kapal. Sedang melakukan perjalanan panjang di sebuah kapal besar. Kita berduaan di sebuah kabin kecil, itu larut malam, dan melalui jendela kapal kita bisa melihat bulan purnama. Tapi bulan ini terbuat dari es murni yang transparan. Dan bagian bawahnya tenggelam di laut. ‘Itu terlihat seperti bulan,’ Aki-kun memberitahuku, ‘tapi itu benar-benar terbuat dari es dan tebalnya hanya sekitar delapan inci. Jadi ketika matahari terbit di pagi hari itu semua bakal mencair. Kau harus melihatnya baik-baik sekarang, saat kau masih memiliki kesempatan.’ Aku sering bermimpi begini beberapa kali. Ini adalah mimpi yang indah. Selalu bulan yang sama. Selalu tebalnya delapan inci. Aku bersandar pada Aki-kun, hanya kami berdua, gelombang laut memukul-mukul lembut di luar sana. Tapi setiap kali aku bangun aku merasa sedih.”

Erika Kuritani terdiam beberapa lama. Lalu ia berbicara lagi. “Aku pikir betapa indahnya jika Aki-kun dan aku bisa melanjutkan pelayaran itu selamanya. Setiap malam kami akan meringkuk berdekatan dan menatap keluar jendela kapal untuk melihat bulan yang terbuat dari es itu. Pagi datang dan bulan akan mencair, kemudian pada malam akan muncul kembali. Tapi mungkin itu tidak terjadi. Mungkin satu malam bulan tidak akan muncul. Ini membuatku takut untuk membayangkannya. Aku mendapat ketakutan ini seperti aku benar-benar bisa merasakan tubuhku menyusut.”

***

Ketika aku bertemu Kitaru di kedai kopi pada hari berikutnya, ia menanyakan soal kencan kemarin.

“Kau menciumnya?”

“Tidak mungkin lah,” kataku.

“Jangan khawatir-aku tidak akan marah jika kau melakukannya kok,” katanya.

“Aku tidak akan melakukan hal seperti itu.”

“Kalau memegang tangannya?”

“Tidak, aku tidak memegang tangannya.”

“Jadi, apa yang kau lakukan?”

“Kami pergi nonton film, jalan-jalan, makan malam bersama, dan ngobrol,” kataku.

“Hanya itu?”

“Biasanya kau tidak mencoba untuk bergerak terlalu cepat pada kencan pertama.”

“Benarkah?” Kata Kitaru. “Aku tidak pernah berkencan seperti kebanyakan orang, jadi aku tidak tahu.”

“Tapi aku menikmati saat-saat bersamanya. Jika saja dia pacarku, aku tidak akan pernah melepaskannya.”

Kitaru memikirkan ini. Dia hendak mengatakan sesuatu tapi berpikir lebih baik tidak. “Jadi, apa yang kau makan?” Tanyanya akhirnya.

Aku mengatakan pizza dan Chianti.

“Pizza dan Chianti?” Dia terdengar terkejut. “Aku tidak pernah tahu kalau dia menyukai pizza. Kami hanya pernah makan di semacam toko mie dan warung murah. Wine? Aku bahkan tidak tahu kalau dia minum.”

Kitaru sendiri tidak pernah menyentuh minuman keras.

“Mungkin ada beberapa hal yang kau tidak tahu tentang dia,” kataku.

Aku menjawab semua pertanyaan mengenai kencan kemarin itu. Tentang film Woody Allen (karena desakannya, aku memberi ulasan seluruh cerita filmnya), makanan (berapa bayarnya, apakah kita bayar sendiri-sendiri atau tidak), apa yang dia kenakan (gaun katun putih, rambut disematkan), celana dalam apa yang dikenakannya (mana aku tahu soal ini?), apa yang kita bicarakan. Aku tidak mengatakan apapun kalau dia pacaran dengan pria lain. Aku juga tidak menyebutkan mimpinya tentang bulan yang terbuat dari es itu.

“Kalian sudah memutuskan kapan akan melakukan kencan kedua?”

“Tidak, kami tidak membicarakannya,” kataku.

“Kenapa tidak? Kau menyukainya, kan?”

“Dia hebat. Tapi kita tidak bisa terus seperti ini. Maksudku, dia pacarmu, kan? Kau mengatakan boleh-boleh saja menciumnya, tapi tidak mungkin aku bisa melakukan itu.”

Kitaru semakin termenung. “Kau tahu?” Katanya akhirnya. “Aku telah memeriksakan diri ke terapis sejak akhir SMP. Orang tua dan guruku, mereka semua mengatakan kalau harus memeriksakan diri. Karena aku melakukan hal-hal aneh di sekolah dari waktu ke waktu. Kau tahu-sesuatu yang tidak normal. Tapi terapis sesungguhnya tidak membantu, sejauh yang aku lihat. Kedengarannya memang baik secara teori, tapi terapis hanya memberikan omong kosong. Mereka melihatmu seakan-akan mereka tahu apa yang terjadi, kemudian membuatmu berbicara terus menerus dan mereka hanya mendengarkan. Hey, aku juga bisa melakukan itu.”

“Kau masih memeriksakan diri ke terapis?”

“Ya. Dua kali sebulan. Hanya buang-buang uang saja, jika kau bertanya padaku. Apakah Erika tidak memberitahumu tentang hal ini?”

Aku menggeleng.

“Terus terang, aku tidak tahu apa yang begitu aneh tentang cara berpikirku. Bagiku, sepertinya aku hanya melakukan hal-hal biasa dengan cara yang biasa. Tapi orang mengatakan kepadaku bahwa hampir semua yang kulakukan adalah aneh.”

“Nah, memang ada beberapa hal tentangmu yang tidak normal,” kataku.

“Seperti apa?”

“Seperti dialek Kansai-mu itu.”

“Kau mungkin benar,” Kitaru mengakui. “Itu sesuatu yang sedikit tidak biasa.”

“Orang normal tidak akan melakukan hal sejauh itu.”

“Ya, kau mungkin benar.”

“Tapi, sejauh yang aku tahu, bahkan jika apa yang kau lakukan adalah tidak normal, asalkan itu tidak mengganggu siapa pun tentunya tidak masalah.”

“Untuk kali ini belum.”

“Jadi apa yang salah dengan itu?” Kataku. Aku mungkin sedikit kesal (pada apa atau siapa aku tidak bisa mengatakan). Aku bisa merasakan nadaku mulai meninggi. “Jika kau tidak mengganggu siapa pun, jadi kenapa? Kau ingin berbicara dengan dialek Kansai, maka silahkan saja. Teruskan. Kau tidak ingin belajar untuk ujian masuk? Maka jangan belajar. Merasa tidak ingin menempelkan tanganmu di celana dalamnya Erika Kuritani? Siapa yang mengatakan kau harus? Ini hidupmu. Kamu bebas melakukan apa yang kau inginkan dan mengacuhkan apa yang dipikirkan orang lain.”

Kitaru, dengan mulutnya yang sedikit terbuka, menatapku dengan tercengang. “Kau tahu Tanimura? Kau seorang pria yang baik. Meskipun kadang-kadang agak terlalu normal, kau tahu kan?”

“Apa yang akan kau katakan?” Kataku. “Kau tidak bisa mengubah kepribadianmu.”

“Tepat. Kau tidak dapat mengubah kepribadianmu. Ini memang yang ingin aku katakan.”

“Tapi Erika adalah gadis yang hebat,” kataku. “Dia benar-benar peduli tentangmu. Apa pun yang kau lakukan, jangan biarkan dia pergi. Kau tidak akan menemukan seorang gadis yang hebat sepertinya lagi.”

“Aku sudah tahu itu. Kau tidak perlu memberitahuku,” kata Kitaru. “Tapi hanya mengetahui tidak akan membantu.”

***

Sekitar dua minggu kemudian, Kitaru berhenti bekerja di kedai kopi. Aku katakan cuti, tapi dia tiba-tiba tak kelihatan lagi. Dia memutuskan hubungan, tidak menyebutkan apapun tentang mengambil cuti. Dan ini ketika musim tersibuk kami, sehingga pemilik cukup marah. Kitaru punya satu minggu gaji, tapi dia tidak datang untuk mengambilnya. Dia menghilang begitu saja. Aku harus mengatakan itu menyakitiku. Aku pikir kami adalah teman baik yang sulit untuk dipisahkan. Aku tidak punya teman lain di Tokyo.

Dua hari terakhir sebelum ia menghilang, Kitaru tak seperti biasanya jadi pendiam. Dia tidak banyak berkata ketika aku berbicara dengannya. Dan kemudian ia pergi dan menghilang. Aku bisa saja menelepon Erika Kuritani untuk memeriksa keberadaannya, tapi entah kenapa aku tidak bisa melakukannya. Aku pikir bahwa apa yang terjadi di antara mereka berdua adalah urusan mereka, dan bukan hal yang baik bagiku untuk terlibat lebih jauh. Entah bagaimana aku harus menerima dunia kecil yang kumiliki.

Setelah semua ini terjadi, untuk beberapa alasan aku terus berpikir tentang mantan pacarku. Mungkin aku merasakan sesuatu, ketika melihat Kitaru dan Erika bersama-sama. Aku menulis sebuah surat yang panjang untuk meminta maaf akan perbuatanku dahulu. Aku bisa saja jauh lebih ramah padanya. Tapi aku tidak pernah mendapat balasan surat darinya.

***

Aku bisa mengenali Erika Kuritani dengan cepat. Aku memang hanya bertemu dengannya dua kali, dan enam belas tahun telah berlalu sejak saat itu. Tapi tidak salah lagi kalau aku mengenalinya. Dia masih menawan, dengan ekspresi sama yang hidup dan bersemangat. Dia mengenakan gaun hitam berenda, dengan sepatu hak tinggi hitam dan dua untaian mutiara di leher rampingnya. Dia juga mengingatku segera. Kami sedang berada di sebuah pesta mencicipi anggur di sebuah hotel di Akasaka. Ini adalah pesta dengan dresscode hitam-hitam, dan aku mengenakan jas dan dasi hitam untuk acara ini. Dia adalah seorang perwakilan dari perusahaan periklanan yang mensponsori acara tersebut, dan jelas telah bekerja keras untuk menangani acara ini. Ini memakan waktu yang lama untuk masuk ke alasan bahwa aku ada di sana.

“Tanimura-kun, kenapa kamu tidak pernah berhubungan denganku setelah kencan malam itu?” Tanyanya. “Aku berharap kita bisa bicara lagi.”

“Kau terlalu cantik untukku,” kataku.

Dia tersenyum. “Ah terdengar indah, bahkan jika kamu hanya menyanjungku.”

Tapi apa yang kukatakan bukanlah kebohongan atau sanjungan. Dia memang terlalu cantik bagiku untuk membuatku tertarik padanya. Saat itu, dan bahkan sekarang.

“Aku menelepon kedai kopi tempatmu bekerja, tetapi mereka mengatakan kamu tidak bekerja di sana lagi,” katanya.

Setelah Kitaru keluar, pekerjaan menjadi sangat membosankan, dan aku pun berhenti dua minggu kemudian.

Erika dan aku mengingat-ingat secara singkat kehidupan kami selama enam belas tahun terakhir. Setelah kuliah, aku dipekerjakan oleh sebuah penerbit kecil, tapi berhenti setelah tiga tahun dan telah jadi penulis sejak saat itu. Aku menikah saat usia dua puluh tujuh tahun tapi belum dianugerahi anak. Erika sendiri masih lajang. “Mereka membuatku bekerja begitu keras,” dia bercanda, “sampai-sampai aku tidak memiliki waktu untuk menikah.” Dia adalah orang pertama yang memunculkan topik tentang Kitaru.

“Aki-kun bekerja sebagai koki sushi di Denver sekarang,” katanya.

“Denver?”

“Denver, Colorado. Setidaknya, menurut kartu pos yang ia kirimkan padaku beberapa bulan yang lalu.”

“Kenapa Denver?”

“Aku tidak tahu,” kata Erika. “Kartu pos sebelumnya dari Seattle. Dia seorang koki sushi di sana. Itu sekitar setahun yang lalu. Dia mengirimiku kartu pos seenaknya. Sebagian malah kartu konyol dengan isi yang hanya beberapa garis putus-putus. Kadang-kadang ia bahkan tidak menulis alamat asalnya.”

“Koki sushi,” pikirku. “Jadi dia tidak masuk perguruan tinggi ya?”

Dia menggeleng. “Pada akhir musim panas itu, aku pikir dia masuk, tapi tiba-tiba ia mengumumkan bahwa ia akan mengakhiri belajar untuk ujian masuk dan dia memilih sebuah sekolah memasak di Osaka. Mengatakan kalau dia benar-benar ingin belajar masakan Kansai dan pergi ke pertandingan di Stadion Koshien, stadionnya Hanshin Tigers. Tentu saja, aku bertanya kepadanya, ‘Bagaimana kau bisa memutuskan sesuatu yang sangat penting tanpa meminta pendapatku dulu? Bagaimana denganku?’”

“Dan apa yang dia katakan itu?”

Dia tidak menanggapi. Dia hanya memegang bibirnya ketat, seolah-olah dia akan menitikkan air mata jika dia mencoba untuk berbicara. Aku segera mengganti topik.

“Ketika kita pergi ke restoran Italia di Shibuya, aku ingat kita memesan Chianti yang murah. Sekarang lihatlah kita, mencicipi anggur Napa premium. Sebuah takdir, yang aneh.”

“Aku ingat,” katanya, menarik diri bersama-sama. “Kita juga menonton film Woody Allen. Yang mana itu ya?”

Aku memberitahunya.

“Itu film yang hebat.”

Aku setuju. Itu memang salah satu karya terbesar dari Woody Allen.

“Apakah hubunganmu dengan pria di klub tenis yang kamu sukai itu berjalan baik?” Aku bertanya.

Dia menggeleng. “Tidak. Hubungan kami tidak berjalan baik seperti yang aku pikir. Kami berpacaran selama enam bulan dan kemudian putus.”

“Bolehkah aku mengajukan pertanyaan?” Kataku. “Ini sesuatu yang sangat pribadi.”

“Silahkan.”

“Aku tidak ingin kamu menjadi tersinggung.”

“Aku akan mencoba sebisaku agar tidak tersinggung.”

“Kau tidur dengan pria itu, kan?”

Erika menatapku dengan heran, pipinya memerah.

“Kenapa kau menanyakan ini sekarang?”

“Pertanyaan yang bagus,” kataku. “Ini ada dalam pikiranku untuk waktu yang lama. Tapi ini memang pertanyaan yang aneh. Maafkan aku.”

Erika menggelengkan kepalanya sedikit. “Tidak apa-apa. Aku tidak tersinggung. Aku hanya tidak mengharapkan menerima pertanyaan seperti itu. Itu semua masa lalu.”

Aku melihat ke sekeliling ruangan. Orang-orang dengan pakaian formal tercerai-berai. Gabus penutup dibuka satu demi satu dari tiap botol anggur mahal. Seorang pianis perempuan sedang memainkan “Like Someone in Love.”

“Jawabannya adalah ya,” kata Erika. “Aku tidur dengannya beberapa kali.”

“Keingintahuan, rasa haus untuk tahu lebih banyak,” kataku.

Dia memberikan sedikit senyum. “Betul. Keingintahuan, rasa haus untuk tahu lebih banyak.”

“Itulah cara kita mengembangkan cincin tahunan pohon kita.”

“Jika kau mengatakan begitu,” katanya.

“Dan aku menduga bahwa pertama kali kamu tidur dengannya itu setelah kencan kita di Shibuya kan?”

Dia membalik-balik halaman dalam buku rekor mentalnya. “Aku juga berpikir demikian. Sekitar seminggu setelah itu. Aku mengingat sepanjang waktu itu cukup baik. Ini adalah pertama kalinya bagiku.”

“Dan Kitaru cukup cepat mengerti,” kataku, menatap matanya.

Dia menunduk dan meraba mutiara di kalung satu-satu, seakan memastikan bahwa semua masih ada di tempatnya. Dia sedikit mendesah, mungkin mengingat-ingat sesuatu. “Ya, kau benar tentang itu. Aki-kun punya intuisi yang kuat.”

“Tapi selalu tidak berhasil dengan laki-laki lain.”

Dia mengangguk. “Sayangnya, aku tidak sepintar itu. Aku selalu mengambil jalan panjang. Aku selalu mengambil jalan yang berputar-putar.”

Itulah yang kita semua lakukan: tanpa henti mengambil jalan panjang. Aku ingin menceritakan ini, tapi diam. Melontarkan kata-kata mutiara seperti itu salah satu dari masalahku.

“Apakah Kitaru sudah menikah?”

“Sejauh yang kutahu, dia masih lajang,” kata Erika. “Setidaknya, dia belum mengatakan kepadaku bahwa dia menikah. Mungkin kami berdua adalah tipe orang yang tidak akan pernah melakukan pernikahan.”

“Atau mungkin kalian hanya sedang mengambil jalan panjang memutar untuk sampai ke sana.”

“Mungkin.”

“Apakah kamu masih bermimpi tentang bulan yang terbuat dari es itu?” Aku bertanya.

Kepalanya tersentak dan dia menatapku. Sangat tenang, perlahan, senyum tersebar di wajahnya. Senyum terbuka yang benar-benar alami.

“Kamu masih ingat mimpiku?” Tanyanya.

“Untuk beberapa alasan, aku mengingatnya.”

“Meskipun itu mimpi orang lain?”

“Mimpi adalah sesuatu yang bisa kau pinjam dan pinjamkan,” kataku.

“Itu ide yang bagus,” katanya.

Seseorang memanggil namanya dari belakangku. Sudah waktunya baginya untuk kembali bekerja.

“Aku tidak punya mimpi itu lagi,” katanya di perpisahan. “Tapi aku masih ingat setiap detailnya. Apa yang aku lihat, apa yang kurasakan. Aku tidak bisa melupakannya. Aku mungkin tidak akan pernah melupakannya.”

***

Ketika aku mengemudi dan lagu “Yesterday”-nya The Beatles diputar di radio, aku tidak bisa tidak mendengar kembali lirik gila Kitaru ketika bernyanyi di kamar mandi. Dan aku menyesal tidak menuliskannya saat itu. Liriknya begitu aneh namun aku mengingatnya untuk sementara, tapi secara bertahap ingatanku mulai memudar sampai akhirnya aku hampir lupa seluruhnya. Yang aku ingat sekarang hanya sebagian kecilnya, dan aku bahkan tidak yakin apakah ini benar-benar yang Kitaru nyanyikan. Dengan berjalannya waktu, memori, mau tidak mau, menyusun kembali ingatannya sendiri.

Ketika aku masih dua puluh atau lebih, aku mencoba beberapa kali untuk menulis buku harian, tapi aku tidak bisa melakukannya. Begitu banyak hal yang terjadi di sekitarku saat itu sehingga aku hampir tidak bisa bertahan dengan semua itu, apalagi untuk berdiri diam dan menuliskan semuanya dalam sebuah buku catatan. Dan sebagian besar hal-hal tadi tidak membuatku berpikir, Oh, aku harus menuliskan semua ini. Ini semualah yang hanya bisa kulakukan untuk tetap membuka mata di angin sakal yang kuat, menarik napas, dan terus melangkah maju.

Tapi anehnya, aku sangat ingat Kitaru dengan baik. Kami berteman selama beberapa bulan, namun setiap kali aku mendengar “Yesterday”, setiap adegan dan percakapan dengannya tersimpan dengan baik dalam pikiranku. Percakapan kami berdua saat ia berendam dalam bak mandi di rumahnya di Denenchofu. Pembicaraan tentang formasi menyerang Hanshin Tigers, hal-hal soal seks, betapa membosankannya belajar untuk ujian masuk, dan begitu kaya dan emosionalnya dialek Kansai. Dan aku mengingat betul kencan aneh dengan Erika Kuritani. Dan apa yang Erika ungkapkan-di bawah cahaya lilin di atas meja di restoran Italia itu. Rasanya seolah-olah hal itu terjadi baru kemarin saja. Musik memang memiliki kekuatan untuk menghidupkan kembali kenangan lama, kadang-kadang begitu seringnya menghadirkan luka.

Tapi ketika aku bercermin tentang diriku sendiri pada usia dua puluhan, apa yang paling aku ingat adalah kesendirian dan kesepian. Aku tidak punya pacar untuk menghangatkan tubuhku atau jiwaku, tidak ada teman yang bisa kuajak curhat. Tidak tahu apa yang harus aku lakukan setiap hari, tidak punya visi untuk masa depan. Untuk sebagian besar, aku tetap tenggelam dalam diriku sendiri. Kadang-kadang aku dalam seminggu tidak berbicara dengan siapa pun. Kehidupan seperti ini terus kulakukan selama setahun. Tahun yang panjang, sangat panjang. Apakah periode ini adalah sebuah musim dingin yang menempa cincin tahunan pohon dalam diriku, aku tidak bisa mengatakan. Saat itu aku juga merasa seolah-olah setiap malam aku sedang memandang keluar jendela kapal, melihat bulan yang terbuat dari es. Yang transparan, delapan inci tebalnya, bulan yang membeku. Tapi aku melihat bulan itu sendirian saja, tidak dapat berbagi keindahan yang dingin itu dengan siapa pun.

Kemarin

Adalah dua hari sebelum besok,

Dan sehari setelah kemarin lusa.

Cerpen Haruki Murakami: Syahrazad

SETIAP kali mereka bersetubuh, dia mendongengi Habara kisah yang aneh dan mencekam sesudahnya. Seperti Ratu Syahrazad dalam “Seribu Satu Malam.” Meskipun, tentu saja, Habara tidak seperti sang raja, dia tidak berniat untuk memenggal kepala sang ratu keesokan harinya. (Yang pasti wanita itu tidak pernah tinggal dengan Habara sampai pagi.) Dia mendongengi Habara karena keinginan Syahrazad sendiri, sebab menurut dugaan Habara, wanita itu menikmati meringkuk di tempat tidur dan ngobrol dengan seorang pria saat mereka berada pada kelesuan, saat-saat intim setelah bercinta. Dan ada kemungkinan juga, karena dia ingin menghibur Habara, yang hanya bisa menghabiskan setiap harinya terkurung dalam ruangan.

Oleh karenanya, Habara menjuluki wanita itu Syahrazad. Dia tidak pernah memanggilnya langsung dengan nama itu, tapi hanya Habara pakai untuk menyebut wanita itu dalam buku harian kecilnya. “Syahrazad datang hari ini,” dia mencatatnya dengan bolpoin. Kemudian Habara akan merekam inti cerita hari itu dengan sederhana, dan dengan samar untuk membingungkan siapa saja yang mungkin bakal membaca buku hariannya.

Habara tidak tahu apakah ceritanya benar, rekaan, atau sebagian benar dan sebagian rekaan. Dia tidak punya cara untuk mengetahui. Realitas dan anggapan, observasi dan imajinasi murni tampak campur aduk bersama-sama dalam tiap narasinya. Oleh karena itu Habara menikmati kisah-kisahnya layaknya seorang bocah, tanpa harus terlalu mempertanyakan kebenarannya. Pada akhirnya tak ada beda, mau itu bohong atau benar-benar terjadi, atau tambal sulam yang rumit dari keduanya, terus kenapa?

Bagaimana pun, Syahrazad sudah memberi hadiah lewat ceritanya yang menyentuh hati. Tidak peduli apa jenis ceritanya, dia selalu membuatnya jadi istimewa. Suaranya, pengaturan temponya, alurnya, semua sempurna. Dia menarik perhatian pendengarnya, menggodanya, mendorongnya untuk merenungkan dan berspekulasi, dan kemudian, pada akhirnya, memberi pendengarnya tepat apa yang dia inginkan. Karena terpesona, Habara mampu melupakan realitas yang mengelilinginya, meski hanya untuk sesaat. Seperti papan tulis yang dilap dengan kain basah, ia terhapus dari kekhawatiran, dari beragam kenangan tak menyenangkan. Harus minta apa lagi? Pada titik dalam hidupnya ini, melupakan adalah sesuatu yang Habara inginkan lebih dari apa pun.

Syahrazad berusia tiga puluh lima, empat tahun lebih tua dari Habara, dan merupakan seorang ibu rumah tangga dengan dua anak di sekolah dasar (meskipun dia juga seorang perawat terdaftar dan sesekali dipanggil untuk suatu pekerjaan). Suaminya adalah tipikal seorang pekerja kantoran. Rumah mereka berjarak dua puluh menit berkendara dari rumah Habara. Semua informasi pribadi tadi (atau hampir semua) Syahrazad sendiri yang memberitahukannya. Habara tidak punya cara untuk memverifikasi semua itu, tapi juga ia tak punya alasan untuk meragukannya. Syahrazad tidak pernah mengungkapkan namanya. “Kau tak butuh-butuh amat buat mengetahuinya, kan?” tanya Syahrazad. Sebaliknya Syahrazad pun tak pernah memanggil Habara dengan namanya langsung, meskipun tentu saja dia sudah tahu. Syahrazad sangat merahasiakan namanya, seolah-olah itu sesuatu yang mendatangkan kesialan atau hal tak pantas kalau sampai nama aslinya bocor keluar melewati bibirnya.

Di permukaan, setidaknya, Syahrazad yang ini tak memiliki kesamaan dengan si ratu cantik dalam “Seribu Satu Malam.” Wanita ini dalam perjalanan menuju usia menengah dan sudah muncul timbunan lemak di rahang dan timbul garis keriput di sudut matanya. Gaya rambutnya, makeup-nya, dan gaya berpakaiannya memang tidak serampangan, namun tidak juga cukup bagus untuk menerima suatu pujian. Penampilannya memang cukup menarik, tapi wajahnya tidak terlalu cantik, sehingga kesan yang ditinggalkannya serasa kabur. Akibatnya, orang-orang yang berjalan di sampingnya, atau yang berbagi lift dengannya, mungkin cuma memperhatikan dirinya sekilas. Sepuluh tahun sebelumnya, ia mungkin seorang wanita muda yang ceria dan menarik, bahkan mungkin sebaliknya. Di beberapa titik, bagaimana pun, tirai telah jatuh di bagian hidupnya dan tampaknya tidak mungkin ditarik ulur kembali.

Syahrazad mengunjungi Habara dua kali seminggu. Harinya tidak tetap, tapi dia tidak pernah datang pada akhir pekan. Tidak diragukan lagi dia memakai hari itu untuk menghabiskan waktu dengan keluarganya. Dia selalu menelepon satu jam sebelum tiba. Dia membeli bahan makanan di supermarket terdekat dan mengangkutnya dalam mobil sedannya, Mazda biru kecil. Model lama, ada penyok di bumper belakang dan roda-rodanya hitam dengan lumur yang melekat. Parkir di tempat yang disediakan depan rumah, Syahrazad akan membawa barang belanjaan tadi menuju pintu depan lalu membunyikan bel. Setelah memeriksa lubang intip, Habara akan membuka kunci, melepas kaitan rantai, dan menyilahkan dia masuk. Di dapur, wanita itu akan menyortir bahan makanan dan memasukannya ke dalam lemari es. Lalu dia membuat daftar bahan-bahan untuk dibeli pada kunjungan berikutnya. Dia melakukan tugas ini dengan terampil, dengan tanpa gerakan sia-sia, dan tanpa banyak cakap.

Setelah selesai, mereka berdua akan bergerak tanpa kata ke kamar tidur, seakan mereka tergerus oleh arus yang tak terlihat. Syahrazad dengan cepat melucuti pakaiannya sendiri dan, masih membisu, bergabung dengan Habara di tempat tidur. Wanita itu nyaris tak berbicara saat mereka bercinta, melakukan setiap tindakan itu seolah-olah ia sedang menjalankan sebuah tugas. Saat sedang menstruasi, dia menggunakan tangannya untuk mencapai tujuan yang sama. Cara kerjanya yang cekatan dan agak lugas ini mengingatkan Habara bahwa wanita itu memang seorang perawat profesional berlisensi.

Setelah bersenggama, mereka berbaring di tempat tidur dan berbincang-bincang. Lebih tepatnya, Syahrazad yang berbicara sementara Habara hanya mendengarkan, menambahkan beberapa kata, dan sesekali mengajukan pertanyaan. Ketika jam menunjukan empat tiga puluh, ia akan memutus kisahnya (untuk beberapa alasan, kisahnya selalu berakhir saat akan mencapai klimaks), melompat dari tempat tidur, mengenakan kembali pakaiannya, dan bersiap-siap untuk pergi. Dia harus pulang, katanya, untuk menyiapkan makan malam.

Habara akan mengantarnya sampai pintu, mengunci, dan mengamati melalui tirai sampai mobil biru kecil yang kumal itu melaju pergi. Pukul enam tepat, Habara akan membuat makan malam sederhana dan memakannya sendiri. Dia pernah bekerja sebagai juru masak, sehingga menyiapkan makan malam bukanlah kesulitan besar. Dia minum Perrier untuk makan malamnya (dia tidak pernah menyentuh alkohol) dan dilanjut dengan secangkir kopi, yang ia teguk sambil menonton DVD atau membaca. Dia menyukai buku lama, terutama yang harus ia baca beberapa kali untuk memahaminya. Tidak ada hal lain yang harus dilakukan. Dia tidak punya seorang pun untuk diajak bicara. Tidak ada seorang pun untuk ditelepon. Tanpa adanya komputer, ia tidak punya cara untuk mengakses internet. Tidak berlanggan koran, dan ia tidak pernah menonton televisi. (Ada alasan yang baik untuk itu.) Tak ada penjelasan mengapa dia tidak boleh pergi ke luar. Kalau Syahrazad berhenti menengoknya karena ada suatu alasan misalnya, ia akan ditinggal sendirian.

Habara tidak terlalu khawatir tentang hal itu. Jika itu terjadi, ia berpikir, akan sulit, tapi pasti akan ada jalan lain. Aku tidak terdampar di pulau terpencil. Tidak, ia berpikir, akulah pulau terpencilnya. Dia selalu nyaman berada dalam kesendirian. Bagaimanapun, yang mengganggunya justru pikiran bahwa dia tidak bisa berbicara di tempat tidur dengan Syahrazad. Atau, lebih tepatnya, kehilangan lanjutan dari kisahnya.

*

AKU dulunya seekor belut lamprei dalam kehidupan sebelumnya,” kelakar Syahrazad sekali waktu, saat mereka tengah berbaring di tempat tidur bersama-sama. Sebuah celetukan yang begitu sederhana, seolah-olah dia memberitahukan bahwa letak Kutub Utara berada di sebelah utara. Habara tidak tahu seperti apa makhluk bernama lamprei itu, tidak punya gambaran sedikit pun. Jadi dia tidak bisa menanggapi.

“Apakah kau tahu bagaimana cara lamprei makan ikan?” Tanya wanita itu.

Habara tidak tahu. Bahkan, itu pertama kalinya ia mendengar bahwa lamprei makan ikan.

“Lamprei tidak memiliki rahang. Itulah yang membedakan mereka dari belut lain.”

“Hah? Belut punya rahang ya?”

“Apakah kau tidak pernah memerhatikan?” Katanya, terkejut.

“Aku sering makan belut, tapi aku tidak pernah punya kesempatan untuk melihat apakah mereka punya rahang.”

“Nah, kau harus mengeceknya sekali waktu. Datangi akuarium atau tempat seperti itu. Belut biasanya punya rahang dan gigi. Tapi lamprei hanya punya pengisap, yang mereka gunakan untuk melampirkan diri pada bebatuan di dasar sungai atau danau. Kemudian mereka hanya akan mengapung di sana, bergerak bolak-balik, seperti rumput liar.”

Habara membayangkan sekelompok lamprei bergoyang mengambang seperti rumput liar di dasar danau. Adegan tampak jauh bercerai dari kenyataan, meskipun kenyataannya, dia tahu, kadang-kadang bisa sangat nyata.

“Lamprey hidup seperti itu, bersembunyi di antara rumput liar. Berbaring menunggu. Kemudian, ketika ikan kecil melewat di atas kepalanya, mereka akan melesat ke atas dan menyedotnya dengan pengisap mereka. Di dalam pengisap mereka terdapat alat serupa lidah dengan gigi, yang memuntir perut ikan sampai terbuka lubang sehingga mereka bisa mulai makan daging ikan itu, sedikit demi sedikit.”

“Aku tidak mau jadi ikan itu,” kata Habara.

“Kalau menengok zaman Romawi kuno, belut lamprei dibiakan dalam kolam. Budak yang membangkang bakal dilempar ke sana dan belut lamprey akan memakan mereka hidup-hidup.”

Habara berpikir bahwa ia tidak akan menikmati menjadi budak Romawi.

“Pertama kali aku melihat seekor lamprei adalah saat di sekolah dasar, pada perjalanan kelas ke sebuah akuarium,” kata Syahrazad. “Saat aku membaca deskripsi tentang cara mereka hidup, aku tahu bahwa aku adalah salah satu dari mereka dalam kehidupan terdahulu. Maksudku, aku bisa benar-benar ingat—mengikat ke batu, bergoyang tak terlihat di antara rumput liar, mengawasi ikan yang berenang di atasku.”

“Apakah kau ingat saat memakan ikan-ikan itu?”

“Tidak, aku tak ingat kalau yang itu.”

“Itu melegakan,” kata Habara. “Tapi apakah hanya itu tadi yang kau ingat dari kehidupanmu saat jadi lamprei—bergoyang ke sana kemari di dasar sungai?”

“Kehidupan terdahulu tidak bisa diingat begitu saja,” katanya. “Jika kau beruntung, kau akan mendapatkan seberkas kilatan kenangan. Ini seperti mengintip sekilas melalui lubang kecil di dinding. Dapatkah kau ingat setiap kehidupan terdahulumu?”

“Tidak, tidak ingat,” kata Habara. Sejujurnya, dia tidak pernah mendapat dorongan untuk meninjau kembali kehidupan terdahulu. Dia hanya fokus pada kehidupan yang sekarang.

“Namun, rasanya cukup nyaman di dasar danau. Terbalik dengan mulutku menempel pada batu, mengamati ikan yang lewat di atas kepala. Aku juga mendapati gertakan kura-kura yang sangat besar sekali, ada juga makhluk hitam besar yang melesat cepat, seperti pesawat ruang angkasa jahat di film ‘Star Wars’. Dan burung putih besar dengan paruh panjang yang tajam; dilihat dari bawah, mereka tampak seperti awan putih yang mengambang di langit.”

“Dan kau bisa melihat semua hal-hal ini sekarang?”

“Sangat jelas,” kata Syahrazad. “Cahayanya, tarikan arusnya, semuanya. Kadang-kadang aku bahkan bisa kembali ke sana dalam pikiranku.”

“Kau bisa berpikir saat jadi lamprey?”

“Ya.”

“Apa yang lamprey pikirkan?”

“Lamprei berpikir sangat lamprei. Tentang topik lamprey dalam konteks yang sangat lamprey. Tidak ada kata-kata untuk menjelaskan pikiran-pikiran itu. Semua soal dunia air. Ini seperti ketika kita berada di dalam rahim. Kita berpikir berbagai hal di sana, tapi kita tidak bisa mengungkapkan pikiran-pikiran di sana dalam bahasa yang kita gunakan di sini. Benar, kan?”

“Tunggu sebentar! Kau ingat bagaimana rasanya saat berada di dalam rahim?”

“Tentu,” kata Syahrazad, mengangkat kepalanya untuk melihat dada Habara. “Kau tak bisa?”

Tidak, kata Habara. Dia tidak bisa.

“Kalau begitu aku akan memberitahumu kapan-kapan. Tentang kehidupan di dalam rahim.”

“Syahrazad, Lamprey, Kehidupan Terdahulu” adalah yang Habara catat dalam buku hariannya hari itu. Dia meragukan bahwa siapa pun yang membaca bisa menebak apa arti dari kata-kata itu.

*

HABARA bertemu Syahrazad untuk pertama kalinya empat bulan sebelumnya. Habara dipindahkan ke rumah ini, di kota provinsi sebelah utara Tokyo, dan Syahrazad ditugaskan sebagai “fasilitator” untuknya. Karena Habara tidak bisa pergi ke luar, tugas Syahrazad adalah untuk membeli makanan dan barang-barang lain yang dibutuhkan dan membawanya ke rumah. Dia juga menyediakan beragam buku dan majalah yang Habara inginkan untuk dibaca, dan juga CD yang ingin didengarkan. Selain itu, Syahrazad memilih bermacam-macam DVD—meskipun Habara sulit menerima film pilihannya.

Seminggu setelah Habara tiba, seolah-olah sudah terlihat jelas langkah berikutnya, Syahrazad mengantarnya ke tempat tidur. Ada kondom di meja samping tempat tidur ketika Habara tiba. Habara menduga bahwa seks adalah salah satu kegiatan yang ditugaskan kepadanya—atau mungkin “aktivitas penunjang” adalah istilah yang mereka gunakan. Apapun istilahnya, dan apa pun motivasinya, Habara tetap menjalani alur tadi dan menerima ajakannya tanpa ragu-ragu.

Seks mereka bukan semacam formalitas, tapi tidak bisa dikatakan juga bahwa mereka melakukannya sepenuh hati. Syahrazad tampak penuh waspada, tetap hati-hati agar jangan sampai mereka menjadi terlalu antusias—sama seperti instruktur mengemudi yang tidak ingin murid-muridnya terlalu antusias mengemudi saat pelatihan berlangsung. Bagaimana pun, cara bercinta mereka tidak bisa dibilang bergairah, tidak juga sepenuhnya praktis. Mungkin memang ini awalnya salah satu tugas Syahrazad (atau, setidaknya, sebagai sesuatu keharusan), tetapi pada titik tertentu ia tampak—dalam beberapa hal—telah menemukan semacam kesenangan di dalamnya. Habara bisa mengatakan ini dengan jelas lewat respon tubuh Syahrazad, suatu respon yang menyenangkan dirinya juga. Pada akhirnya, Habara bukan binatang liar dikurung dalam kandang tapi manusia yang dilengkapi dengan berbagai emosi, dan seks sebagai kebutuhan dasar tubuh haruslah terpenuhi. Belum jelas sejauh mana Syahrazad melihat hubungan seksual mereka sebagai salah satu tugasnya, dan berapa banyak pengaruh terhadap kehidupan pribadinya? Habara tidak tahu.

Ada beberapa hal lain juga. Habara sering mendapat kesulitan dalam membaca perasaan dan maksud Syahrazad. Sebagai contoh, Syahrazad sering mengenakan celana katun polos. Jenis celana yang Habara bayangkan sering dipakai oleh ibu rumah tangga di usia tiga puluhan—ini sepenuhnya dugaan, karena ia tidak memiliki pengalaman dengan ibu rumah tangga di usia itu. Dalam beberapa hari, Syahrazad muncul dengan celana sutra berenda warna-warni sebagai gantinya. Mengapa Syahrazad beralih antara dua celana itu Habara tidak mengerti.

Hal lain yang membuatnya bingung adalah fakta bahwa persetubuhan mereka dan kisah Syahrazad yang begitu memikat, sehingga sulit untuk mengatakan di mana satu berakhir dan yang lainnya mulai. Habara belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya: meskipun ia tidak mencintainya, dan seksnya begitu-begitu saja, ia terhubung erat padanya secara fisik. Itu semua agak membingungkan.

*

AKU di usia belasan ketika aku mulai membobol rumah kosong,” kata Syahrazad suatu hari saat mereka berbaring di tempat tidur.

Habara—seperti sering terjadi ketika Syahrazad bercerita—menemukan dirinya kehilangan kata-kata.

“Apakah kau pernah menyelinap masuk ke rumah seseorang?” Tanyanya.

“Aku pikir tidak pernah,” jawab Habara dengan suara kering.

“Lakukan sekali dan kau bakal kecanduan.”

“Tapi itu ilegal.”

“Coba saja. Memang berbahaya, tapi kau pasti bakal ketagihan.”

Habara menunggunya dengan tenang untuk melanjutkan.

“Hal yang paling keren tentang berada di rumah orang lain ketika tidak ada orang di sana,” Syahrazad berkata, “adalah bahwa betapa sepi tempat itu. Tak ada suara. Itu seperti tempat yang paling sepi di dunia. Itulah yang aku rasakan. Ketika aku duduk di lantai dan terus berdiam di sana, hidupku sebagai seekor lamprey datang kembali kepadaku. Aku pernah bilang bahwa aku adalah seekor lamprey di kehidupan terdahulu, kan?”

“Ya, kau pernah cerita.”

“Seperti itulah. Pengisapku terpaut pada sebuah batu di dasar air dan tubuhku mengambang bolak-balik di atas kepala, seperti rumput liar di sekitarku. Semuanya begitu tenang. Mungkin karena aku tidak punya telinga waktu itu. Pada hari-hari cerah, cahaya menghunjam jatuh dari permukaan seperti anak panah. Ikan dari beragam warna dan bentuk melayang di atas. Dan pikiranku kosong dari pelbagai pikiran. Selain pikiran lamprey, tentu saja. Memang berkabut tapi begitu murni. Itu adalah tempat yang indah.”

*

PERTAMA kali Syahrazad membobol masuk ke rumah seseorang, jelasnya, yaitu saat dia masih SMP dan naksir pada anak laki-laki di kelasnya. Meskipun anak laki-laki itu tidak bisa dikatakan tampan, dia tinggi dan rapi, seorang murid teladan yang bermain di tim sepak bola, dan Syahrazad sangat tertarik padanya. Tapi ia tampaknya menyukai gadis lain di kelasnya dan tidak memperhatikan Syahrazad. Bahkan, sangat mungkin si laki-laki tidak menyadari kalau Syahrazad itu ada. Meski begitu, Syahrazad tidak bisa menyingkirkan laki-laki itu keluar dari pikirannya. Hanya melihat laki-laki itu membuat napas Syahrazad megap-megap; kadang-kadang dia merasa seolah-olah dia akan muntah. Jika dia tidak melakukan sesuatu tentang hal itu, pikir Syahrazad, dia mungkin bakal gila. Tapi menyatakan cintanya bukan perkara mudah.

Suatu hari, Syahrazad bolos sekolah dan pergi ke rumah anak laki-laki itu. Hanya lima belas menit berjalan kaki dari tempat tinggalnya. Dia telah meneliti situasi keluarga laki-laki itu terlebih dahulu. Ibunya mengajar bahasa Jepang di sebuah sekolah di kota sebelah. Ayahnya, yang pernah bekerja di sebuah perusahaan semen, telah tewas dalam kecelakaan mobil beberapa tahun sebelumnya. Adiknya adalah seorang siswa SMP. Ini berarti rumah pasti kosong pada siang hari.

Tidak mengherankan, pintu depan terkunci. Syahrazad memeriksa di bawah keset berharap menemukan kunci. Benar saja, kuncinya ada di sana. Masyarakat perumahan yang tenang di kota-kota provinsi seperti mereka memiliki sedikit tindak kejahatan, dan kunci cadangan sering ditinggalkan di bawah keset atau pot tanaman.

Untuk amannya, Syahrazad membunyikan bel, menunggu untuk memastikan bahwa tidak ada jawaban, mengawasi jalanan kalau-kalau dia sedang diamati, membuka pintu, kemudian masuk. Dia mengunci pintu kembali dari dalam. Melepas sepatu, dia memasukannya dalam kantong plastik dan menempatkannya dalam ransel di punggungnya. Kemudian dia berjingkat menaiki tangga ke lantai dua.

Kamar tidur anak laki-laki itu ada di sana, seperti yang Syahrazad bayangkan. Tempat tidurnya itu rapi. Di rak buku ada stereo kecil, dengan koleksi beberapa CD. Di dinding, ada kalender dengan foto tim sepak bola Barcelona dan, di samping itu, ada semacam banner tim, dan tidak ada yang lain. Tidak ada poster, tidak ada foto-foto. Hanya dinding berwarna krem. Sebuah tirai putih menggantung di atas jendela. Ruangan itu rapi, segala sesuatu berada di tempatnya. Tidak ada buku berserakan, tidak ada pakaian di lantai. Ruangan memang mencerminkan kepribadian penghuninya yang teliti. Atau cerminan dari sang ibu yang terus menjaga agar rumahnya tetap sempurna. Atau keduanya. Hal ini membuat Syahrazad gugup. Sedikit saja ceroboh, pasti akan ketahuan kalau kamar si laki-laki itu jadi berantakan. Namun, pada saat yang sama, dari kebersihan dan kesederhanaan ruang, dan betapa rapihnya, membuat Syahrazad merasa bahagia. Karena mengingatkan pada cerminan si laki-laki.

Syahrazad merebahkan dirinya ke kursi meja dan duduk di sana untuk sementara waktu. Ini adalah tempat lelaki itu belajar setiap malam, pikir Syahrazad, hatinya berdebar-debar. Satu demi satu, dia mengambil alat di meja, menggulungnya antara jari-jarinya, membaui mereka, dan mendekatkan ke bibirnya. Pensilnya, guntingnya, penggarisnya, stapler-nya – benda paling biasa menjadi entah bagaimana bercahaya karena milik lelaki itu.

Dia membuka laci mejanya dan dengan hati-hati memeriksa isinya. Laci teratas dibagi menjadi beberapa kompartemen, yang masing-masing berisi sekat kecil dengan beragam barang dan souvenir yang berserakan. Laci kedua sebagian besar diisi oleh buku-buku pelajaran untuk setiap kelas yang sedang ia ambil, sedangkan yang di bagian bawah (laci paling bawah) dipenuhi dengan tumpukan kertas lama, buku-buku pelajaran terdahulu, dan soal ujian. Hampir semuanya berhubungan dengan sekolah atau soal sepakbola. Syahrazad berharap bisa menemukan sesuatu yang pribadi—mungkin buku harian, atau surat-surat—tapi di meja tidak ditemukan apapun semacam itu. Bahkan tidak ada foto. Ini membuat Syahrazad merasa aneh. Apakah laki-laki itu tidak punya kehidupan selain sekolah dan sepak bola? Atau dia sangat hati-hati sehingga menyembunyikan segala sesuatu yang bersifat pribadi, agar tidak ada seorang pun yang tahu?

Namun, hanya duduk di meja dan mengedarkan matanya ke tulisan tangan laki-laki itu membuat Syahrazad terhanyut pada kata-katanya. Untuk menenangkan diri, ia bangkit dari kursi dan duduk di lantai. Dia menatap langit-langit. Kesunyian di sekelilingnya adalah mutlak. Dengan cara ini, ia kembali ke dunia lamprey.

*

JADI itu semua yang kau lakukan,” tanya Habara, “menyusup masuk kamarnya, memeriksa barang-barangnya, dan hanya duduk di lantai?”

“Tidak,” kata Syahrazad. “Ada lagi. Aku ingin sesuatu darinya untuk dibawa pulang. Sesuatu yang paling sering ia pakai setiap hari atau yang paling dekat dengan tubuhnya. Tapi itu harus barang yang tidak terlalu penting agar ia tak terlalu peduli kalau-kalau ia akan kehilangan barang itu. Jadi aku mencuri salah satu pensilnya.”

“Hanya sebatang pensil?”

“Iya. Satu yang telah ia pakai. Tapi mencuri belum cukup. Ini bukan hanya soal pencurian. Fakta bahwa aku telah melakukan itu akan hilang. Pada akhirnya, aku adalah Sang Pencuri Cinta.”

Sang Pencuri Cinta? Kedengaran seperti judul sebuah film bisu bagi Habara.

“Jadi aku memutuskan untuk meninggalkan sesuatu di kamarnya, suatu tanda. Sebagai bukti bahwa aku sudah pernah ke sana. Sebuah deklarasi bahwa ini adalah pertukaran, bukan hanya sekadar pencurian. Tapi barang apa yang harus kutinggalkan? Tidak ada yang muncul di kepalaku. Aku mencari-cari dalam ransel dan sakuku, tapi aku tidak bisa menemukan sesuatu yang pas. Aku menyesal karena tidak berpikir untuk membawa sesuatu yang cocok. Akhirnya, aku memutuskan untuk meninggalkan pembalut di sana. Salah satu yang belum dipakai, tentu saja, dan masih dalam bungkus plastik. Menstruasiku semakin dekat, jadi aku membawa beberapa hanya untuk jaga-jaga. Aku menyembunyikannya di sudut paling belakang laci terbawah, tempat yang bakal sulit untuk ditemukan. Itu benar-benar mengubahku. Fakta bahwa pembalutku itu tersimpan di laci mejanya. Mungkin karena aku begitu dihidupkan bahwa masa menstruasiku bakal datang segera setelah itu.”

Sebuah pembalut ditukar dengan pensil, pikir Habara. Mungkin ini adalah yang harus Habara tulis dalam buku hariannya hari itu: “Pencuri Cinta, Pensil, Pembalut.” Dia sangat ingin melihat reaksi mereka saat membaca ini!

“Aku ada di dalam rumahnya hanya lima belas menit atau lebih. Aku tidak bisa tinggal lebih lama dari itu: ini adalah pengalaman pertamaku menyelinap ke sebuah rumah, dan aku takut kalau seseorang tiba-tiba muncul ketika aku masih berada di sana. Aku memeriksa jalan untuk memastikan, menyelinap keluar pintu, menguncinya, dan menyimpan kunci di bawah keset. Lalu aku pergi ke sekolah. Membawa pensil miliknya yang berharga itu.”

Syahrazad terdiam. Dari tampilannya, dia berusaha kembali ke waktu silam itu dan mereka ulang beragam hal yang terjadi berikutnya, satu per satu.

“Minggu itu adalah minggu paling bahagia dalam hidupku,” katanya setelah jeda panjang. “Aku menulis hal-hal acak di buku catatanku dengan pensil itu. Aku membauinya, menciumnya, mengusapkan ke pipiku, memutar-mutar di antara jari-jariku. Kadang-kadang aku bahkan menempatkannya dalam mulutku dan mengisapnya. Tentu saja, itu membuatku gelisah karena semakin aku sering memakainya untuk menulis, semakin pendek pensil itu jadinya, tapi aku tidak bisa menahan diri. Jika itu sudah terlalu pendek, aku pikir, aku bisa datang kembali dan mengambil yang lain. Ada sepaket besar pensil yang tidak digunakan dalam kotak pensil di atas mejanya itu. Ide yang membuatku gila—ini memberiku sensasi geli yang aneh. Tidak lagi jadi soal buatku bahwa di dunia nyata dia tidak pernah melihatku atau menunjukkan sikap bahwa ia menyadari keberadaanku. Karena aku diam-diam memiliki sesuatu darinya—bagian dari dirinya, seolah-olah begitu.”

SEPULUH hari kemudian, Syahrazad bolos sekolah lagi dan berkunjung untuk kedua kalinya ke rumah si lelaki. Saat itu pukul sebelas pagi. Seperti sebelumnya, dia memungut kunci dari bawah keset kemudian membuka pintu. Sekali lagi, kamar lelaki itu masih tampak sempurna. Pertama, Syahrazad memilih pensil yang sudah digunakan dan dengan hati-hati memindahkan ke dalam kotak pensilnya. Kemudian dengan hati-hati dia berbaring di tempat tidur si lelaki, melipat tangannya di dada, dan menatap langit-langit. Ini adalah kasur tempat si lelaki tidur setiap malamnya. Pikiran ini membuat jantungnya berdebar lebih cepat, dan dia merasa sulit untuk bernapas normal. Paru-parunya tidak terisi oleh udara dan tenggorokannya kering seperti tulang, membuat setiap tarikan napas terasa menyakitkan.

Syahrazad turun dari tempat tidur, merapihkan selimut, dan duduk di lantai, seperti saat kunjungan pertamanya. Dia menatap kembali langit-langit. Aku belum siap untuk kasur si lelaki, Syahrazad membatin. Itu sesuatu yang masih sulit untuk dia tangani.

Kali ini, Syahrazad menghabiskan setengah jam di rumah si lelaki. Dia mengambil beragam buku catatan si lelaki dari laci dan melihat-lihatnya. Dia menemukan sebuah buku laporan membacanya. Itu tentang ulasan “Kokoro”, novel karya Soseki Natsume, tugas membaca saat musim panas. Tulisan tangan si lelaki begitu indah, sesuatu yang diharapkan dari seorang siswa teladan, tidak ada kesalahan atau kelalaian satu pun. Tugas itu diberi nilai Sempurna. Apa lagi yang bisa mereka beri? Setiap guru yang disuruh menilai tulisan tangan yang sempurna ini secara otomatis akan memberikan nilai Sempurna, bahkan tanpa perlu repot-repot membaca satu baris pun.

Syahrazad pindah mendekat ke laci, memeriksa isinya secara runtut. Pakaian dan kaus kaki. Kemeja dan celana. Seragam sepak bola. Semua terlipat rapi. Tidak ada yang bernoda atau kusut. Apa si lelaki itu yang melipat sendiri? Atau, kemungkinan besar, ibunya yang melakukan semuanya? Dia tiba-tiba merasa cemburu terhadap ibu si lelaki, yang bisa melakukan hal-hal untuk si lelaki setiap harinya.

Syahrazad membungkuk dan membaui pakaian dalam laci. Semua masih segar baru dicuci dan harum matahari. Dia mengambil sebuah kaus abu-abu polos, membukanya, dan menekannya ke wajahnya. Mungkinkah bau keringatnya masih tertinggal di bawah lengan? Tapi tidak tercium. Namun, dia menahannya untuk beberapa waktu, menghirup melalui hidungnya. Dia ingin membawa pulang kaus itu. Tapi ini terlalu berisiko. Pakaian-pakaiannya begitu cermat diatur dan dijaga. Lelaki itu (atau ibunya) mungkin tahu persis jumlah kaos di dalam laci. Jika salah satu hilang, pasti bakal ketahuan. Syahrazad hati-hati melipat kembali kaos tadi dan mengembalikan ke tempat semula. Sebagai gantinya, Syahrazad mengambil sebuah lencana kecil, berbentuk seperti bola sepak, yang ia temukan di salah satu laci meja. Tampaknya itu klub di kelasnya tahun kemarin. Syahrazad meragukan bahwa lelaki itu akan mengetahuinya. Setidaknya, perlu beberapa waktu sebelum si lelaki menyadari bahwa lencananya hilang. Saat masih di sana, Syahrazad memeriksa laci bawah meja untuk memastikan pembalut yang ia simpan. Ternyata masih ada.

Syahrazad membayangkan apa yang akan terjadi jika ibu si lelaki itu menemukan sebuah pembalut. Apa yang akan ibunya pikirkan? Apakah ibunya akan menuntut si lelaki untuk menjelaskan kenapa ada pembalut di mejanya? Atau ibunya akan merahasiakan penemuannya tersebut, hanya memikirkan berulang kecurigaan dalam pikirannya saja? Syahrazad tak tahu. Tapi dia memutuskan untuk tetap meninggalkan pembalut itu di sana. Pada akhirnya, itu jadi semacam bukti pertama bagi keberadaannya.

Untuk memperingati kunjungan kedua, Syahrazad meninggalkan tiga helai rambutnya. Malam sebelumnya, ia telah mencabutnya, membungkus dalam plastik, dan menyegel dalam amplop kecil. Sekarang dia mengambil amplop tadi dari ransel dan menyelipkannya ke salah satu buku catatan matematika tua di dalam laci. Tiga helai rambut yang lurus dan hitam, tidak terlalu panjang atau terlalu pendek. Tidak ada yang akan tahu milik siapa kecuali kalau dilakukan tes DNA, meski memang jelas rambut itu milik seorang gadis.

Dia keluar dari rumah si lelaki dan langsung pergi ke sekolah, tiba tepat waktu untuk kelas sore pertamanya. Sekali lagi, ia bisa berbahagia untuk sekitar sepuluh hari. Dia merasa bahwa si lelaki telah menjadi miliknya. Tapi, seperti yang Anda harapkan, rantai peristiwa tidak akan berakhir tanpa insiden. Karena, seperti yang Syahrazad ucapkan, menyelinap ke rumah orang lain adalah sesuatu yang sangat adiktif.

*

SAAT titik ini dalam cerita Syahrazad melirik jam di samping tempat tidur dan melihat bahwa sudah pukul 04:32. “Harus pergi sekarang,” katanya, seolah pada dirinya sendiri. Dia melompat dari tempat tidur dan mengenakan celana dalam putih polosnya, mengaitkan bra, mengenakan celana jeans-nya, dan menarik kaus Nike biru gelap melalui atas kepalanya.  Lalu ia membasuh tangannya di kamar mandi, menyibak rambutnya, dan melaju pergi dengan Mazda birunya.

Ditinggalkan sendirian tanpa perintah apa-apa untuk dilakukan, Habara berbaring di tempat tidur dan merenung tentang kisah yang baru saja Syahrazad ceritakan padanya, menikmatinya sedikit demi sedikit, seperti sapi mengunyah rumput. Kemana arah cerita itu? ia bertanya-tanya. Seperti semua cerita Syahrazad yang lain, Habara tak pernah tahu. Ia merasa sulit untuk membayangkan Syahrazad sebagai siswa SMA. Apakah dia ramping saat itu, bebas dari timbunan lemak seperti saat ini? Seragam sekolah, kaus kaki putih, rambutnya dikepang kah?

Habara belum lapar, sehingga ia menunda menyiapkan makan malam dan kembali ke buku yang telah ia baca, dan mendapati dirinya tidak bisa berkonsentrasi. Gambaran Syahrazad yang menyelinap ke kamar teman sekelasnya dan membenamkan wajahnya di kaus si lelaki terlalu segar dalam pikirannya. Dia tidak sabar untuk mendengar apa yang terjadi selanjutnya.

*

KUNJUNGAN berikutnya Syahrazad ke rumah Habara adalah tiga hari kemudian, setelah lewat akhir pekan. Seperti biasa, Syahrazad datang membawa wadah kertas besar berisi beragam barang-barang kebutuhan. Dia pergi melalui makanan di lemari es, menggantikan beragam keperluan yang telah lewat tanggal kedaluwarsa, meneliti makanan kaleng dan botol di lemari, memeriksa pasokan bumbu dan rempah-rempah untuk memastikan apa yang menipis, dan menulis sebuah daftar belanja. Dia menaruh beberapa botol Perrier di lemari es untuk bersantai. Akhirnya, dia tumpuk buku-buku baru dan DVD yang dibawanya di atas meja.

“Apakah ada yang lain yang kau butuhkan atau inginkan?”

“Aku pikir tak ada,” jawab Habara.

Kemudian, seperti biasa, mereka berdua pergi ke tempat tidur dan berhubungan seks. Setelah melakukan beberapa foreplay, Habara menyelipkan kondomnya, memasuki Syahrazad, dan, setelah berada di waktu yang tepat, ejakulasi. Setelah memastikan isi pada kondomnya, Syahrazad mulai melanjutkan kisahnya.

*

SEPERTI sebelumnya, dia merasa bahagia dan puas selama sepuluh hari setelah penyusupan keduanya. Dia menyelipkan lencana sepakbola dalam tempat pensil dan dari waktu ke waktu merabanya selama kelas berlangsung. Dia menggigiti pensil yang telah ia ambil dan menjilati ujungnya. Sepanjang waktu dia terus memikirkan kamar si lelaki. Dia membayangkan mejanya, kasur tempatnya tidur, lemari yang mengemas pakaiannya, celana boxer putih, dan pembalut juga tiga helai rambut Syahrazad yang tersembunyi di laci.

Dia telah kehilangan semua minat di sekolah. Di kelas, dia terus memain-mainkan lencana dan pensil atau jatuh terbuai dalam lamunan. Ketika dia pulang, dia tidak dalam kondisi pikiran untuk menuntaskan PR-nya. Nilai Syahrazad tidak pernah bermasalah sebelumnya. Dia memang bukan murid unggul, tapi dia adalah seorang gadis serius yang selalu mengerjakan tugasnya. Jadi ketika gurunya bertanya padanya di kelas dan dia tidak mampu memberikan jawaban yang tepat, alih-alih marah, guru tersebut malah kebingungan. Akhirnya, sang guru memanggilnya ke kantor saat istirahat makan siang. “Apa ada masalah?” Ia bertanya. “Apakah ada sesuatu yang mengganggumu?” Syahrazad hanya bisa bergumam sesuatu yang samar tentang tidak enak badan. Rahasianya terlalu berat dan gelap untuk diungkapkan kepada siapa pun—Syahrazad harus menanggungnya sendiri.

*

AKU terus membobol rumahnya,” ungkap Syahrazad. “Aku terpaksa. Seperti yang dapat kau bayangkan, itu sesuatu yang sangat berisiko. Bahkan aku sangat tahu itu. Cepat atau lambat, seseorang akan memergokiku di sana, dan polisi akan dilibatkan. Bayangan itu membuatku mati ketakutan. Tapi, setelah bola bergulir, tidak ada cara untuk bisa menghentikannya. Sepuluh hari setelah ‘kunjungan’ keduaku, aku pergi ke sana lagi. Aku tak punya pilihan. Aku merasa bahwa jika aku tidak melakukannya, hidupku akan berakhir. Melihat ke belakang, aku pikir aku benar-benar sedikit gila.”

“Apakah itu tidak menimbulkan masalah bagimu di sekolah, bolos dari kelas begitu sering?” Tanya Habara.

“Orang tuaku punya kesibukan sendiri, sehingga mereka terlalu sibuk untuk memberikan banyak perhatian kepadaku. Aku tidak pernah mendapat masalah sampai saat itu, tidak pernah sampai melibatkan mereka. Jadi mereka pikir tak terlalu ikut campur merupakan pendekatan terbaik. Catatan peringatan ke sekolah adalah hal sepele. Aku menjelaskan kepada guru wali kelasku bahwa aku punya masalah medis sehingga aku harus menghabiskan setengah hari di rumah sakit untuk beberapa waktu. Karena guru memeras otak mereka atas apa yang harus dilakukan untuk anak-anak lain yang bolos sekolah, mereka tidak terlalu mengkhawatirkanku untuk mengambil izin setengah hari.”

Syahrazad melirik sekilas jam di samping tempat tidur sebelum melanjutkan kembali.

“Aku mengambil kunci dari bawah keset dan masuk ke rumah itu untuk ketiga kalinya. Keadaan di sana sesunyi seperti sebelumnya—tidak, bahkan lebih sunyi untuk beberapa alasan. Mengejutkanku ketika kulkas tiba-tiba berbunyi—itu terdengar seperti binatang besar mendesah. Telepon berdering saat aku berada di sana. Dering itu sangat keras dan kasar yang membuatku berpikir jantungku akan berhenti. Aku ditutupi dengan keringat. Tidak ada yang mengangkat, tentu saja, dan baru berhenti setelah sekitar dering kesepuluh. Rumah itu terasa lebih sunyi setelahnya.”

*

SYAHRAZAD menghabiskan waktu yang lama berbaring di tempat tidurnya hari itu. Kali ini jantungnya tidak berdetak begitu liar, dan dia mampu bernapas normal. Dia bisa membayangkan anak itu sedang tidur dengan tenang di sampingnya, bahkan merasa seolah-olah Syahrazad sedang mengawasinya saat si lelaki tidur. Dia merasa bahwa, jika Syahrazad mengulurkan tangan, dia bisa menyentuh lengan berototnya. Si lelaki tidak ada di sampingnya, tentu. Syahrazad baru saja jatuh dalam kabut lamunan.

Syahrazad mendapat dorongan kuat untuk menciumnya. Bangkit dari tempat tidur, dia berjalan ke laci, membuka satu slot, dan memeriksa baju-baju di dalamnya. Baju-baju itu telah dicuci dan dilipat rapi. Semuanya masih segar, dan bebas dari bau, seperti sebelumnya.

Sebuah ide menimpanya. Dia berlari menuruni tangga ke lantai pertama. Di sana, di ruang di samping kamar mandi, ia menemukan keranjang binatu dan membuka tutupnya. Itu adalah campuran beragam pakaian kotor dari tiga anggota keluarga—ibu, anak perempuan, dan si lelaki. Cucian selama sehari, kalau diperhatikan. Syahrazad mengambil sepotong pakaian laki-laki. Satu kaos oblong putih. Dia membauinya. Aroma begitu jelas yang berasal dari si lelaki. Bau apek yang pernah Syahrazad cium sebelumnya, ketika berdekatan dengan teman-teman laki-laki sekelasnya. Bukan aroma harum, tentu saja. Tapi fakta bahwa bau ini adalah milik si lelaki membawa Syahrazad pada sukacita yang tak berkesudahan. Ketika ia meletakkan hidungnya di bagian ketiak kemudian menghirupnya, Syahrazad merasa seolah-olah dia berada dalam pelukannya, tangan si lelaki menggenggam erat Syahrazad.

Dengan kaos di tangan, Syahrazad menaiki tangga ke lantai dua dan berbaring di tempat tidur si lelaki lagi. Dia membenamkan wajahnya di baju si lelaki dan rakus membauinya. Sekarang dia bisa merasakan sensasi lesu di bagian bawah tubuhnya. Putingnya juga mengeras. Mungkinkah menstruasi? Tidak, itu terlalu dini. Apakah ini yang namanya hasrat seksual ini? Jika demikian, maka apa yang bisa dia lakukan tentang hal itu? Dia tak tahu. Satu hal yang pasti, tentu saja—ini tidak boleh terjadi dalam situasi seperti ini. Tidak di sini di kamarnya, di tempat tidur si lelaki.

Pada akhirnya, Syahrazad memutuskan untuk membawa pulang kaos itu. Ini berisiko, sudah pasti. Ibu si lelaki kemungkinan besar bakal tahu kalau sebuah baju telah hilang. Meski si ibu tidak menyadari bahwa kaos itu hilang karena dicuri, ia masih akan bertanya-tanya ke mana perginya kaos itu. Setiap wanita yang terus menjaga rumahnya sampai begitu tertata pastilah seorang yang gila akan kerapihan. Ketika sesuatu hilang, dia akan mencari di setiap jengkal rumah dari atas ke bawah, seperti anjing polisi, tak akan berhenti sampai ia berhasil menemukannya. Tidak diragukan lagi, ibu si lelaki akan mengungkap jejak Syahrazad di kamar anak kebanggaannya ini. Tapi, meski Syahrazad paham betul akan hal ini, dia tidak ingin berpisah dengan baju itu. Otaknya tak berdaya untuk membujuk hatinya.

Sebaliknya, Syahrazad malah mulai berpikir tentang barang apa yang harus ditinggalkan. Celana dalamnya tampak seperti pilihan terbaik. Itu memang sesuatu yang biasa, sederhana, relatif baru, dan segar pagi itu. Dia bisa menyembunyikannya di bagian paling belakang lemari. Adakah barang lain yang lebih tepat untuk ditinggalkan dalam pertukaran ini? Tapi, ketika dia menanggalkan celana dalamnya, selangkangannya basah. Aku kira ini berasal dari birahi tadi, pikirnya. Mustahil untuk meninggalkan sesuatu yang ternoda oleh nafsunya di kamar si lelaki. Syahrazad hanya akan merendahkan dirinya sendiri. Syahrazad memakainya kembali dan mulai berpikir tentang apa lagi yang harus ditinggalkan.

*

SYAHRAZAD menghentikan ceritanya. Untuk waktu yang lama, dia tidak mengatakan sepatah kata pun. Dia berbaring di sana bernapas tenang dengan mata tertutup. Di sampingnya, Habara mengikuti, menunggunya untuk melanjutkan.

Akhirnya, Syahrazad membuka matanya dan bicara. “Hei, Tuan Habara,” katanya. Ini adalah pertama kalinya Syahrazad menyapanya dengan nama langsung.

Habara menatapnya.

“Apakah kau pikir kita bisa melakukannya sekali lagi?”

“Saya pikir saya bisa,” katanya.

Jadi mereka bercinta lagi. Kali ini, bagaimanapun, sangat berbeda dari waktu sebelumnya. Keji, bergairah, dan lebih panjang. Klimaksnya begitu jelas. Serangkaian kejang hebat yang meninggalkan gemetar. Bahkan wajah Syahrazad ikut berubah. Bagi Habara, ini seperti menangkap sekilas Syahrazad di masa mudanya: wanita dalam pelukannya sekarang seorang gadis tujuh belas tahun bermasalah yang entah bagaimana terjebak dalam tubuh seorang ibu rumah tangga tiga puluh lima tahun. Habara bisa merasakan Syahrazad sedang di sana, matanya terpejam, tubuhnya bergetar, polos menghirup aroma dari kaos berkeringat si lelaki.

Kali ini, Syahrazad tidak menceritakan sebuah cerita sehabis berhubungan seks. Dia juga tidak memeriksa isi kondom Habara. Mereka hanya berbaring di sana diam-diam di samping satu sama lain. Mata Syahrazad terbuka lebar, dan ia menatap langit-langit. Seperti lamprey menatap permukaan air yang terang. Betapa indahnya itu, pikir Habara, jika ia juga bisa menghuni waktu atau ruang lain—meninggalkan tubuh ini, manusia bernama Nobutaka Habara ini dan menjadi seekor lamprey tanpa nama. Dia membayangkan dirinya dan Syahrazad berdampingan, pengisap mereka menempel ke batu, tubuh mereka melambai dalam arus, mengamati permukaan karena mereka menunggu ikan gendut yang berenang dengan pongah di atasnya.

“Jadi apa yang kau tinggalkan dalam pertukaran untuk baju itu?” Habara memecah keheningan.

Syahrazad tidak langsung menjawab.

“Tidak ada,” katanya akhirnya. “Tidak ada sesuatu yang aku bawa yang bisa menyamai baju dengan baunya itu. Jadi aku hanya mengambil dan langsung menyelinap keluar. Itu adalah ketika aku menjadi pencuri, sesederhana itu.”

*

DUA BELAS hari kemudian, Syahrazad kembali ke rumah si lelaki itu untuk keempat kalinya, ada kunci baru di pintu depan. Warna emas berkilauan terkena sinar matahari tengah hari, seolah-olah untuk memamerkan kebanggaan yang kokoh. Dan tidak ada kunci yang disembunyikan di bawah keset. Jelas, ibunya curiga akibat baju hilang itu. Dia pasti mencari dari atas ke bawah, tercium tanda-tanda yang menggambarkan sesuatu yang aneh terjadi di rumahnya. Nalurinya memang tepat, reaksinya cepat.

Syahrazad, tentu saja, kecewa dengan perkembangan ini, tapi pada saat yang sama ia merasa lega. Seolah-olah seseorang telah melangkah dari belakangnya dan melepas beban berat dari bahunya. Ini berarti aku tidak bisa membobol rumahnya lagi, pikirnya. Tidak ada keraguan, jika saja kuncinya tetap sama, maka invasinya ini akan berlanjut terus menerus. Juga sudah dipastikan bahwa tindakannya akan meningkat lebih jauh di setiap kunjungan. Pada akhirnya, anggota keluarga akan muncul saat Syahrazad sedang berada di lantai dua. Tak akan ada jalan untuk melarikan diri. Tidak ada cara untuk membela dirinya yang bisa mengeluarkannya dari kesulitan. Ini adalah masa depan yang telah menunggunya, cepat atau lambat, dan hasilnya akan menghancurkannya. Sekarang Syahrazad telah berhasil mengelak. Mungkin dia harus berterima kasih pada ibu si lelaki—meski dia tidak pernah bertemu wanita itu—karena memiliki mata seperti elang.

Syahrazad menghirup aroma kaos si lelaki setiap malam sebelum dia pergi tidur. Dia tidur dengan kaos itu di sampingnya. Dia akan membungkusnya dengan kertas dan menyembunyikannya sebelum dia berangkat ke sekolah di pagi hari. Kemudian, setelah makan malam, dia akan menariknya keluar untuk membelai dan mengendusinya. Dia khawatir kalau-kalau bau itu akan memudar sejurus berlalunya hari, tapi itu tidak terjadi. Bau keringatnya telah meresapi kaus itu untuk selamanya.

Sekarang setelah aktivitas penyusupan yang telah berakhir, pikiran Syahrazad perlahan mulai kembali normal. Melamunnya di kelas berkurang, dan kata-kata gurunya mulai bisa terserap lagi. Namun, fokus utamanya tidak pada suara gurunya, tetapi pada perilaku teman sekelasnya itu. Dia terus mengawasi diam-diam dirinya, mencoba untuk mendeteksi perubahan, indikasi kalau-kalau si lelaki mungkin gugup akan sesuatu. Tapi si lelaki bertindak persis sama seperti biasa. Ia melemparkan kepalanya ke belakang dan tertawa spontan seperti biasa, dan menjawab segera ketika dipanggil. Dia berteriak keras-keras saat latihan sepak bola dan berkeringat seperti biasa. Syahrazad tidak mendapati sesuatu yang luar biasa—hanya pemuda biasa, dengan pembawaan yang lurus-lurus saja.

Namun, Syahrazad tahu ada satu bayangan yang mengikutinya. Atau sesuatu yang seperti itu. Tak ada yang tahu, kemungkinan. Hanya Syahrazad saja (dan, kalau dipikir-pikir, mungkin juga ibu si lelaki). Pada penyusupan ketiga, Syahrazad menemukan sejumlah majalah porno tersembunyi di relung terjauh dalam lemari. Majalah itu penuh dengan gambar wanita bugil, meragangkan kakinya dan memamerkan kelamin mereka dengan murah hatinya. Beberapa gambar menampilkan tindakan seks: pria memasukkan penis berbentuk pancing ke dalam tubuh wanita yang posisinya sangat tidak wajar. Syahrazad tidak pernah melihat foto seperti ini sebelumnya. Syahrazad duduk di meja dan membalik perlahan majalah itu, mempelajari setiap foto dengan minat yang tinggi. Syahrazad menduga bahwa si lelaki melakukan masturbasi saat melihat majalah-majalah itu. Tetapi gagasan itu tak Syahrazad anggap sebagai sesuatu yang menjijikkan. Syahrazad menerima masturbasi sebagai aktivitas normal. Semua sperma laki-laki harus pergi ke suatu tempat, seperti gadis-gadis harus mengalami menstruasi. Dengan kata lain, si lelaki sangat khas remaja. Bukan orang yang suci-suci amat. Dia menemukan bahwa pengetahuan ini merupakan sesuatu yang melegakan.

*

KETIKA pembobolanku berhenti, gairahku terhadapnya mulai reda. Bertahap memang, seperti surut pasang dari pantai panjang yang landai. Entah bagaimana, aku menemukan diriku membaui kausnya tak sesering sebelumnya dan menghabiskan lebih sedikit waktu membelai pensil dan lencananya. Demam itu sudah lewat. Apa yang aku telah tertular bukan sesuatu seperti sakit tapi hal itu sangat nyata. Selama itu berlangsung, aku tidak bisa berpikir jernih. Mungkin semua orang mengalami periode gila seperti itu pada satu waktu. Atau mungkin itu adalah sesuatu yang terjadi hanya untukku. Kalau kau bagaimana? Apakah kau pernah memiliki pengalaman seperti itu?”

Habara mencoba mengingat, tapi kosong belaka. “Tidak, tidak ada yang seekstrim dirimu, saya pikir,” katanya.

Syahrazad tampak agak kecewa dengan jawabannya.

“Pokoknya, aku lupa semua tentang dia setelah aku lulus. Begitu cepat dan mudah, itu aneh. Apa karena dirinya yang membuat usia tujuh belasku terasa begitu keras? Aku tak ingat. Hidup ini aneh, kan? Kau bisa benar-benar terpesona oleh sesuatu dalam satu menit, rela mengorbankan segalanya untuk membuatnya milikmu, tapi kemudian sedikit waktu berlalu, atau perspektifmu berubah sedikit saja, tiba-tiba kau terkejut betapa cahaya itu dengan cepatnya memudar. Apa yang aku cari? kau bertanya-tanya. Jadi itulah kisah saat masa ‘melanggar-dan-masuk’ ku.”

Dia membuatnya terdengar seperti Blue Period-nya Picasso, pikir Habara. Tapi ia mengerti apa yang Syahrazad coba untuk sampaikan.

Syahrazad melirik jam di samping tempat tidur. Itu hampir waktu baginya untuk pergi.

“Sejujurnya,” katanya akhirnya,”cerita tidak berakhir di sana. Beberapa tahun kemudian, ketika aku berada di tahun keduaku di sekolah keperawatan, goresan takdir aneh membawa kami bersama-sama lagi. Ibunya memainkan peran besar di dalamnya; pada kenyataannya, ada sesuatu yang menakutkan tentang seluruh hal ini—seperti salah satu cerita hantu lawas. Mungkin terdengar agak luar biasa. Apakah kau ingin mendengar tentang hal itu?”

“Aku ingin,” kata Habara.

“Mungkin lebih baik menunggu sampai kunjungan berikutnya,” kata Syahrazad. “Sudah larut. Aku harus pulang dan menyiapkan makan malam.”

Syahrazad bangkit dari tempat tidur dan mengenakan pakaian—celana dalamnya, stoking, kamisol, dan, akhirnya, roknya dan blus. Habara biasa menyaksikan gerakannya ini dari tempat tidur. Ini membuatnya berpikir kalau saat perempuan mengenakan pakaian bisa lebih menarik ketimbang saat mereka menanggalkan pakaian.

“Ada buku yang kau inginkan untuk kubawa?” Tanya Syahrazad, dalam perjalanan keluar pintu.

“Tidak, tidak ada yang bisa saya pikirkan,” jawabnya. Apa yang benar-benar ia inginkan, Habara pikir, adalah agar Syahrazad bisa menceritakan seluruh kisahnya, tapi dia tidak bisa mengungkapkannya dalam kata-kata. Hal itu mungkin bakal membahayakan peluang Habara sehingga tidak akan pernah mendengar kisahnya lagi.

*

HABARA pergi tidur lebih awal malam itu dan berpikir tentang Syahrazad. Mungkin dia tidak akan pernah melihat Syahrazad lagi. Ini membuatnya khawatir. Kemungkinan itu terlalu nyata. Tidak ada dari kontak personal—tidak ada sumpah, tidak ada hubungan implisit di antara mereka—yang mengikat. Ada kemungkinan hubungan mereka diciptakan oleh orang lain, dan mungkin akan berakhir karena kemauan orang itu juga. Dengan kata lain, mereka terikat hanya oleh benang sangat tipis. Itu mungkin—tidak, sudah pasti—bahwa benang itu pada akhirnya akan rusak dan semua kisah-kisah aneh dan asing yang Syahrazad ceritakan akan terputus untuknya. Satu-satunya pertanyaan adalah kapan itu akan terjadi.

Habara menutup matanya dan berhenti memikirkan Syahrazad. Sebaliknya, ia memikirkan lamprey. Belut lamprey tanpa rahang mengikatkan diri pada batu, bersembunyi di antara rerumputan dasar air, sedang bergoyang maju-mundur. Habara membayangkan bahwa dirinya adalah salah satu dari mereka, menunggu ikan muncul. Tapi tidak ada ikan lewat, tidak peduli berapa lama ia menunggu. Baik yang gemuk, bahkan yang kecil sekalipun, tidak ada ikan sama sekali. Akhirnya matahari terbenam, dan dunianya itu merengkuh dalam kegelapan.

Diterjemahkan dari “Scheherazade” yang dirilis di The New Yorker 13 Oktober 2014. Cerpen Haruki Murakami yang dialihbahasakan dari Jepang ke Inggris oleh Ted Goossen.

Ekonomi Indonesia Kuartal I

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis pertumbuhan ekonomi kuartal pertama tahun ini mencapai 5,01% year on year (YoY). Angka ini sesuai dengan proyeksi sebagian ekonom dan proyeksi Bank Indonesia (BI). Tetapi lebih rendah dibanding proyeksi pemerintah yang sebesar 5,1% YoY.

Capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi kuartal pertama 2016 dan kuartal kempat 2016 yang tercatat masing-masing sebesar 4,92% dan 4,94% YoY. Pertumbuhan itu dipengaruhi oleh harga komoditas nonmigas di pasar internasional kuartal pertama tahun ini yang mengalami peningkatan.  Selain itu, kondisi ekonomi global kuartal pertama juga meningkat. Pertumbuhan ekonomi beberapa negara mitra dagang Indonesia seperti China menguat menjadi 6,9% dari sebelumnya 6,7%, Amerika Serikat menjadi 1,9% dari 1,6%, dan Singapura menjadi 2,5% dari 1,9%. Selain itu, inflasi kuartal pertama 2017 juga tercatat hanya 1,19%, lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu sebesar 3,61%.

Pertumbuhan ini didukung oleh hamper semua lapangan usaha kecuali Pertambangan dan Penggalian yang mengalami kontraksi sebesar 0,49%. Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Informasi dan Komunikasi sebesar 9,1%, Transportasi dan Pergudangan sebesar 7,65%, dan Jasa Keseharan-Kegiatan sosial sebesar 7,13%. Secara struktur, tidak ada perubahan yang berarti: Industri Pengolahan, Pertanian, Kehutan dan Perikanan, Perdagangan Besar-Eceran, Reparasi Mobil-Sepeda Motor, dan Konstruksi masih mendominasi PDB Indonesia.

Kalau dilihat dari sisi penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi, Industri Pengolahan memiliki sumber pertumbuhan tertinggi sebesar 0,91%, disusul Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 0,9%, Perdagangan Besar-Eceran, Reparasi Mobil-Sepeda Motor sebesar 0,64%, dan Konstruksi sebesar 0,61%.

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan pun terjadi di semua komponen. Komponen tertinggi dicapai Komponen Ekspor Barang dan Jasa sebesar 8,04% diikuti Pengeluaran Konsumsi Lembaga Non Profit yang melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT) sebesar 8,02%, dan Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT) sebesar 4,93%.

PDB Indonesia menurut pengeluaran atas dasar harga berlaku pun tidak menunjukkan perubahan struktur yang berarti. Aktivitas permintaan masih didominasi oleh Komponen PK-RT yang mencakup lebih dari separuh PDB Indonesia, disusul oleh PMTB, Ekspor Barang dan Jasa, Impor Barang dan jasa, dan Pengeluaran Konsumsi Pemerintah, sedangkan peranan komponen PK-LNPRT relatif kecil.

Bila dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhan eknomi nasional, Komponen PK-RT merupakan komponen terbesar dengan nilai 2,71% diikuti Komponen Ekspor barang dan Jasa sebesar 1,71%. Sedangkan sumber pertumbuhan ekonomi nasional dari komponen lainnya sebesar 0,59%.

Realisasi belanja pemerintah juga meningkat menjadi Rp 400,14 triliun dari periode yang sama tahun lalu Rp 391,04 triliun. Nilai ekspor dan impor juga naik, masing-masing sebesar 20,84% YoY dan 14,83% YoY. Sementara realisasi penanaman modal yang tercatat di BKPM naik 13,2% YoY, penjulan mobil naik 5,96% YoY, penjualan semen naik 1,48% YoY dan adanya peningkatan produksi makanan dan minuman dalam rangka persiapan menyambut puasa lebaran.

Sementara itu, inflasi bulan Mei 2017 kemungkinan besar meningkat, setelah inflasi April sebelumnya cukup rendah pada level 0,09%. Selain faktor administered prices, ada juga karena volatile food inflation yang beberapa bulan terakhir masih deflasi.

Tantangan besar pemerintah adalah untuk menekan inflasi pangan yakni masih ada di seputar permasalahan distribusi antar daerah produsen ke konsumen, dan pemberantasan praktik-praktik spekulasi. Menjelang ramadan, harga-harga beberapa komditas telah melonjak naik seperti bawang putih. Untuk daging, kalau harus impor perlu dipersiapkan jauh-jauh hari sehingga sehingga cukup waktu untuk dilepas ke pasaran saat Ramadan dan Lebaran.

Posisi cadangan devisa (Cadev) Indonesia hingga akhir April 2017 tercatat sebesar USD123,2 miliar, lebih tinggi dibandingkan dengan posisi akhir Maret 2017 yang sebesar USD121,8 miliar. Peningkatan tersebut terutama dipengaruhi oleh penerimaan devisa, antara lain berasal dari penerimaan pajak dan devisa ekspor migas bagian pemerintah serta hasil lelang Surat Berharga Bank Indonesia (SBBI) valas.

Penerimaan devisa tersebut melampaui kebutuhan devisa untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan SBBI valas jatuh tempo. Cadangan devisa tersebut dinilai mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan. Posisi cadangan devisa per akhir April 2017 tersebut cukup untuk membiayai 8,9 bulan impor atau 8,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Posisi Cadev bulan kemarin melanjutkan tren peningkatan yang sudah terjadi pada bulan Maret lalu yang mendapat dorongan dari masuknya dana asing dari pasar keuangan. Selain itu, kenaikan cadangan devisa juga ditopang oleh penerbitan sukuk global pada akhir Maret. Tercatat akhir Maret 2017 kemarin, Cadev mencapai sebesar USD121,8 miliar atau setara Rp1.622 Triliun (kurs Rp13.320/USD). Posisi ini lebih tinggi dibandingkan akhir Februari 2017 yang sebesar USD119,9 miliar.

Indeks Tendensi Bisnis (ITB) pada triwulan I-2017 sebesar 103,42. Hal ini menunjukkan kondisi bisnis meningkat jika dibandingkan triwulan sebelumnya. Namun tingkat optimisme pelaku bisnis lebih rendah jika dibandingkan dengan triwulan IV-2016 (nilai ITB sebesar 106,70). Indeks Tendensi Bisnis (ITB) adalah indikator perkembangan ekonomi usaha terkini yang datanya diperoleh dari Survei Tendensi Bisnis (STB) yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik bekerja sama dengan Bank Indonesia. STB dilakukan setiap triwulan di beberapa kota besar terpilih di seluruh provinsi di Indonesia. Jumlah sampel STB triwulan I-2017 sebesar 1.938 perusahaan besar dan sedang, dengan responden pimpinan perusahaan. ITB merupakan indeks yang menggambarkan kondisi bisnis dan perekonomian pada triwulan berjalan dan perkiraan triwulan mendatang.

Pada triwulan I-2017 tercatat 12 kategori lapangan usaha mengalami peningkatan kondisi bisnis, empat kategori mengalami penurunan, dan satu kategori relatif stagnan. Peningkatan kondisi bisnis tertinggi terjadi pada lapangan usaha Jasa Keuangan dan Asuransi dengan nilai ITB sebesar 127,31. Sementara itu, kategori lapangan usaha Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial mengalami tekanan kondisi bisnis terbesar dengan nilai ITB sebesar 92,00. Kondisi bisnis pada triwulan I-2017 yang meningkat disebabkan oleh capaian dari tiga komponen pembentuknya. Penggunaan kapasitas produksi/usaha dengan capaian nilai indeks sebesar 104,60, pendapatan usaha dengan capaian nilai indeks sebesar 104,54, dan rata-rata jumlah jam kerja dengan capaian nilai indeks sebesar 101,13.

Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan