Lomba Menulis Puisi & Cerpen, Komunitas Sastra Graf

Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober sekaligus peluncuran komunitas sastra Graf, kami mengadakan lomba menulis puisi dan cerpen. Berikut syarat dan ketentuannya:

Syarat peserta:

  • Follow Instagram @graflit.id, twitter @graflit_iddan like fanpage facebook @graflit.id
  • Bagikan poster ini di IG-story instagammu dengan tag @graflit.id dan 3 teman yang ingin kamu ajak untuk mengikuti lomba ini.
  • Highlight IG-story tersebut sampai lomba ini berakhir.

Ketentuan naskah:

Tema bebas (khusus cerpen harus berlatar tempat di Indonesia)


Puisi

  • Maksimal 2 halaman. Ketik dalam 1 file Ms. Word dengan format naskah A4, font Times New Roman 12, margin normal, spasi 1,5. Ketik judul puisi dan nama penulis (boleh nama pena) di atas naskah. Tulis biodata penulis pada halaman yang terpisah.

Cerpen

  • Maksimal 10 halaman. Ketik dalam 1 file Ms. Word dengan format naskah A4, font Times New Roman 12, margin normal, spasi 1,5. Ketik judul puisi dan nama penulis (boleh nama pena) di atas naskah. Tulis biodata penulis pada halaman yang terpisah.
  • Simpan naskah dengan nama file kategori_judul_nama penulis (contoh: Puisi_Hari Terakhir_Dena)
  • Kirim file tersebut dalam bertuk lampiran (bukan di badan surel) ke graflitid@gmail.com dengan subjek seperti nama file di poin 3.
  • Peserta hanya boleh mengirimkan 1 naskah terbaik pada masing-masing kategori (boleh ikut 2 kategori).
  • Naskah yang sudah masuk tidak bisa direvisi.
  • Naskah orisinil dan belum pernah dilombakan.

Hadiah

  • Juara 1 cerpen dan puisi akan mendapatkan voucher penerbitan sebesar Rp 300.000,00, voucher belanja sebesar Rp 200.000, e-sertifikat, dan souvenir menarik.
  • Juara 2 cerpen dan puisi akan mendapatkan voucher penerbitan sebesar Rp 150.000,00, voucher belanja sebesar Rp 100.000,00, e-sertifikat, dan souvenir menarik
  • 50 peserta terpilih kategori cerpen dan 100 peserta terpilih kategori puisi akan mendapat e-sertifikat dan karyanya akan dibukukan.
  • Lima pengirim pertama akan mendapatkan souvenir menarik dari Graf.

Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2018 (DL: 25 Oktober 2018)

Panitia Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival menerima naskah puisi untuk buku antologi. Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival merupakan sebuah festival sastra independen yang bertujuan mempromosikan Bahasa Indonesia dan Bahasa Banjar serta puisi dan prosa secara nasional dan internasional.

Persyaratan:
1. Puisi belum pernah dipublikasikan di media mana pun
2. Peserta wajib melampirkan biodata
3. Puisi ditulis di MS Word dan dikirim ke email bjblitfest@gmail.com
4. Pengiriman puisi dibuka hingga 25 Oktober 2018.
5. Para penulis puisi akan diundang ke festival.

Catatan Pembacaan Kumpulan Puisi Percakapan Interior, Kurnia Effendi

Menarik, bila kita menyimak ujaran Kurnia Effendi (Kef) di Teras sebagai pengantar atas puisi-puisinya. Kef mengatakan bahwa monolog interior tak hanya sanggup merangkum semesta tiga dimensi, tetapi bersedia pula menukik runcing pada perasaan-perasaan yang nyaris tak terjangkau tatapan atau pendengaran biasa.

Pernyataan di atas tentu tak bisa kita lepaskan dari latar belakang beliau yang merupakan lulusan Desain Interior. Bila awam memahami interior sebagai “di dalam ruangan”, desain interior ternyata memiliki definisi yang lebih dalam—ilmu yang mempelajari perancangan suatu karya seni yang ada di dalam suatu bangunan dan digunakan untuk memecahkan masalah manusia.

Masalah, sebagaimana umum diketahui dalam dunia penelitian, bukanlah gejala/symptom, bukan pula sebatas fenomena, melainkan menukik masuk dan mencari sebab dari yang terlihat. Dalam kasus Percakapan Interior, Kef mengakui itu sebagai upaya eksplorasi terhadap kedalaman dan keluasan berdasarkan pengalaman yang telah dilalui.

Perngalaman yang telah dilalui Kef berupa perjalanan demi perjalanan tak terlepas dari buah modernisasi. Modernisasi sebagai sebuah pembebasan menginginkan sikap pengakuan terhadap dunia dengan cirinya yang khas: individualis, progresif, dan sekuler. Manusia kemudian mencari makna dari aktivitas yang dilalui, dari segala ciri modernisasi yang pelan-pelan mengaburkan jiwa manusia itu. Namun, bersamaan dengan itu, manusia juga akan merasakan kerinduan akan keutuhan dirinya. Kekuatan kesadaran manusia akan memicu pembebasan interior yang melampaui akal-budi manusia.

Proses inilah yang tampak dalam puisi-puisi Kef. Di Lo Spazio misalnya:

            Di meja Angky Camaro terbentang harapan

            Secangkir espreso dan kentang goreng

            Membusungkan bagian lambung terdalam

 

Lo Spazio adalah nama restoran terkenal. Tentu, bisa makan di Lo Spazio adalah sebuah capaian tersendiri. Pun penyebutan Angky Camaro, sebagai salah satu marketer paling andal di dunia otomotif makin mengentalkan nuansa pengakuan terhadap dunia. Espreso, selain sebagai simbol persahabatan dan keakraban, juga menyiratkan kelas sosial tertentu. Selanjutnya, penegasan dunia dengan kata lambung menunjukkan bahwa persoalan utama manusia di dunia ini adalah mengatasi rasa laparnya.

Namun, dalam baris penutup puisi, Kef berkata:

            Setelah makan pagi, kita

            Hampir tak punya nama

Di sini kerinduan Kef pada keutuhan diri sebagai manusia ditampilkan. Nama adalah persoalan identitas. Manusia akan tenggelam dalam hiruk-pikuk modernisasi dan menjadi tak berarti siapa dirinya. Pertanyaan “siapa diri” dalam konteks interior alam semesta adalah keberartian sebagai manusia. Kita adalah debu semesta raya. Namun, selaiknya, setitik debu pun memiliki makna.

Relasi modernisasi yang berlanjut ke pembebasan interior itu kita temukan dalam banyak puisi Kef. Dalam hal ini, kita pun dipaksa mengingat kembali ungkapan Seno Gumira Ajidarma dalam Menjadi Tua di Jakarta: “Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.” Diam-diam, Kef ingin menanamkan rasa takut itu ke benak pembaca.

Beliau yang sudah mengalami pensiun kini kembali ke ruang di dalam dirinya. Di sana ia mengenang, sekaligus memikirkan ulang segala hal yang pernah ia lalui dan ia miliki. Tapi ia tidak otoriter terhadap tafsir. Ia membebaskan pemaknaan kepada pembacanya. Ia bahkan tetap membuka pintunya terhadap kemungkinan-kemungkinan penciptaan. Puisi dari kata poiesis berarti penciptaan itu. Dari Joko Pinurbo, GM, Afrizal, hingga Emi Suy ia jadikan tamu di ruang miliknya. Dengan kerendahan hati, ia biarkan para tamu itu menghiasi ruang.

Luasnya tafsir yang bisa hadir di benak pembaca bahkan sudah bisa kita saksikan sejak puisi pertama.

Masih berdesir harum itu, menetap di serat katun sofa,

Tempat dudukmu—dan bokong yang kuremas itu—

Sebelum jatuh senja

Seperti yang sudah-sudah, kautinggalkan jejak lain:

Sidik bibir pada lengkung cangkir,

Sebelum ciuman terakhir

 

Terdapat baris “sebelum jatuh senja”. Secara sederhana, senja bisa dimaknai sebagai usia yang sudah tua. Namun, senja itu indah. Senja yang turun setelah matahari terbenam itu juga sebentar datangnya. Di sini, saya merasa Kef ingin bilang, hidup yang indah ini cuma sebentar. Sebentar sekali. Namun, karena sebentar itulah segala sesuatunya terasa indah.

Dalam Pedestrian, Kef berkata:

Membujur ke utara seperti arah langkahmu

Angin tak singgah lagi tanpa suaramu

 

Membentang sunyi lantai marmer sisa kepundan

Alangkah janggal jika padamu

Kuingatkan alamat rumah

Menjulang sepi tiang-tiang korintian

Harapan itu tinggal sejumlah remah

 

Rumah yang sebenarnya berarti tempat kembali. Manusia kembali ke utara—menuju Tuhan. Di sini juga pembebasan interior itu berlangsung dengan aduhai. Salah, bila manusia menempatkan dunia dan seisinya sebagai tujuan terakhir. Pada akhirnya, segala hal itu akan menghasilkan kesepian bagi diri. Tak ada artinya lagi.

 

(2018)

Menimbang Cukai Minuman Berpemanis

Tulisan ini kali pertama dimuat di Detik.

Banyak orang keliru memahami fungsi utama cukai. Cukai hanya dianggap sebagai salah satu penerimaan negara. Akibatnya, ketika ada kebijakan kenaikan cukai seperti kenaikan cukai rokok sebesar 10,4% pada 2018, hal itu dianggap sebagai semata usaha pemerintah untuk menaikkan penerimaan negara.

Padahal, cukai memiliki peranan yang lebih penting, yakni sebagai regulator yang mengendalikan, mengawasi, sekaligus membatasi suatu produk. Misalnya, rokok. Dengan kenaikan cukai rokok, ada target yang disasar, yakni penurunan konsumsi rokok.

Cukai sebagai regulator ini pun tersurat dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 Tentang Cukai. Cukai adalah pungutan negara yang dikenakan terhadap barang-barang tertentu yang mempunyai sifat atau karakteristik yang ditetapkan. Karakteristik barang yang dikenakan cukai meliputi barang-barang yang konsumsinya perlu dikendalikan, peredarannya perlu diawasi, pemakaiannya menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat dan lingkungan hidup, dan pemakaiannya perlu pembebanan pungutan negara demi keadilan dan keseimbangan.

Namun, bukan berarti fungsi cukai sebagai penerimaan negara tidak dipedulikan. Saat ini ada tiga karakteristik barang yang menjadi objek cukai, yaitu etil alkohol, minuman yang mengandung etil alkohol, dan hasil tembakau. Dari tahun ke tahun, penerimaan cukai terus meningkat dengan porsi besar pada cukai hasil tembakau.

Hanya saja, objek cukai kita masih terlalu sedikit. Berdasarkan International Tax and Investment Center (2016), Indonesia merupakan negara yang memiliki objek cukai paling sedikit di antara seluruh negara ASEAN. Sejak 1998 telah dilakukan evaluasi perluasan objek cukai. Kemungkinan penambahan objek cukai yang baru-baru ini kembali mengemuka adalah cukai plastik dan minuman ringan berpemanis dan/atau berkarbonasi.

Wacana perluasan tersebut ditujukan untuk membatasi pemakaian produk plastik dan minuman ringan berpemanis dan/atau berkarbonasi. Selain, memang kita tidak bisa menampik adanya kebutuhan penerimaan negara agar dapat menciptakan ruang fiskal yang lebih lebar.

Penambahan minuman ringan berpemanis dan/atau berkarbonasi sebagai objek cukai memiliki kaitan dengan terus bertambahnya penderita diabetes di Indonesia. Berdasarkan data dari International Diabetes Federation (IDF) (2017), Indonesia menduduki peringkat ke-6 dunia dengan jumlah penderita diabetes terbanyak dengan jumlah 10,3 juta orang. Angka ini diproyeksikan meningkat menjadi 16,7 juta orang pada 2045.

Memang, ada banyak parameter yang menyebabkan penyakit diabetes. Minuman berpemanis tidak bisa menjadi satu-satunya yang disalahkan. Faktor keturunan, gaya hidup, dan makanan menjadi debat yang berkepanjangan dalam hal sebagai penyebab utama diabetes. Dari segi makanan misalnya, ada debat bahwa pengonsumsian nasi putih yang rutin dan banyak dituding lebih berbahaya daripada konsumsi minuman berpemanis.

Dengan asumsi konsumsi nasi dan gula tetap (karena tidak mungkin ada penambahan pola konsumsi nasi di masyarakat yang 3 kali sehari), konsumsi minuman berpemanis justru naik secara signifikan. Dalam 20 tahun terakhir, konsumsi minuman berpemanis mengalami peningkatan yang signifikan, yaitu tumbuh dari 50 juta liter menjadi 780 juta liter. Safriani (2014) bahkan mengungkapkan, lebih dari 80% masyarakat mengonsumsi minuman tersebut sebanyak sedikitnya dua kali seminggu. Lebih dari setengahnya mengonsumsi lebih dari 200 ml per hari.

Orang yang mengonsumsi minuman berpemanis lebih dari satu kali seminggu memiliki risiko 1,83 kali lebih besar untuk terkena penyakit Diabetes Melitus tipe 2. Malik et. al (2006) menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat konsumsi minuman berpemanis, semakin tinggi pula asupan total energi yang bisa memicu obesitas. Obesitas memiliki korelasi terhadap penyakit seperti hipertensi, penyakit kardiovaskular, diabetes, dan berbagai jenis kanker.

Untuk diketahui, rata-rata dalam satu kemasan minuman berpemanis ukuran 200 ml memiliki kandungan pemanis sebanyak 40 g. Batas konsumsi gula yang disarankan oleh Kementerian Kesehatan adalah sebanyak 50 g per hari. Namun, selisih 10 gram tersebut adalah selisih yang sedikit jika dibandingkan dengan keberadaan gula dalam makanan seperti pada nasi, yang setelah dicerna menjadi glukosa (gula).

Tentu, sulit meminta masyarakat untuk tidak makan nasi karena nasi adalah makanan pokok masyarakat Indonesia. Apalagi, harga beras adalah salah satu komponen penting dalam perekonomian Indonesia. Yang paling mungkin adalah mengurangi konsumsi produk yang bukan pokok seperti minuman berpemanis tersebut. Belum lagi jika ditambah dengan fakta bahwa sebagian minuman berpemanis tersebut menggunakan pemanis buatan yang ditengarai lebih berbahaya bagi kesehatan.

Salah satu negara yang sukses menerapkan cukai pada minuman berpemanis adalah Meksiko. Minuman berpemanis dianggap sebagai penyebab utama obesitas di Meksiko dengan kontribusi tambahan gula dalam pola makan mencapai 70% (Kontan, 2017). Kebijakan pengenaan cukai atas minuman berpemanis tersebut dikatakan berhasil karena menurunkan konsumsi atas minuman berpemanis sampai dengan 12% per kapita per hari.Dengan kini Indonesia berada di peringkat keenam penderita diabetes terbanyak di dunia, sudah saatnya pemerintah mengendalikan penyakit tersebut, salah satunya dengan pengenaan cukai terhadap minuman berpemanis. Namun, pemerintah tetap perlu berhati-hati dalam implementasinya, terutama dalam penetapan tarif cukai.

Pemerintah perlu menghitung tradeoff penurunan pendapatan industri minuman berpemanis yang berefek terhadap perekonomian seperti pada penurunan pajak langsung maupun tidak langsung, penurunan penyerapan tenaga kerja, serta penurunan minat investor. Pemerintah perlu menemukan titik keharmonisan antara kepentingan ekonomi dan kepentingan dampak kesehatan yang ditimbulkan.

Pringadi Abdi Surya bekerja di Ditjen Perbendaharaan Kementerian Keuangan

Puisi: Pelajaran Pertama Menendang Bola

ia pernah menendang bola

seolah-olah ia tendang dunia sejauh-jauhnya

semua pemain akan mengejar dan memperebutkannya

tapi terlanjur melambung terlalu tinggi

tanpa pamit pada gravitasi

 

bola itu mendarat di surga

setelah sukses melubangin ozon

tuhan yang lama sendiri dan tersiksa memungutnya

dan menyesal menciptakan kehidupan penuh oksimoron

 

bola itu, bola kecil itu, ia tunggu dan rindukan

sambil memandangi langit yang begitu bosan

menolak berbagai kepalan tangan

 

Tuhan yang baik, kapan bolaku kembali…

 

tapi tahun-tahun berllau, ia kian sendiri

teman-teman bermain bolanya telah pergi

dunia yang dikira ramah menculik mereka

menyekapnya, seperti tahanan dalam penjara

tak ada lagi yang berebut posisi striker

mencetak gol, lalu dielu-elukan bak pahlawan

dan saling mengolok bila ada yang lakukan blunder

lalu dicap sebagai pesakitan

 

bola itu, bola kecil itu, teronggok lesu

kenangan-kenangan masa kecil sudah tak berlaku

dikalahkan perangkap bernama waktu

 

Tuhan yang baik, kapan temanku kembali…

Festival Sastra Tanjung Bintan 2018

Dalam rangka memeriahkan festival Sastra Internasional “Gunung Bintan“ dan Jamuan Penutup Hari Puisi Indonesia (HPI) 2018 di Kepri, Yayasan Jembia Emas dan Dewan Kesenian Kepri dengan dukungan Dinas Kebudayaan Kepri dan Pemkab Bintan akan menerbitkan antologi puisi bersama dengan tema: Jejak Hang Tuah Dalam Puisi.

Dengan ketentuan sebagai berikut:

1. Terbuka untuk umum, terutama para penyair Negeri Serumpun (Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunai Darusssalam, Thailand, Miyanmar, Kamboja dan vietnam)
2. Tiap penyair dapat mengirimkan maksimum 5 puisi
3. Puisi yang dimuat adalah hasil kurasi dari tim kurator yang ditunjuk antara lain : Sutarji calzoum Bachri, Hasan Aspahani, dan Rida K Liamsi
4. Puisi sudah dapat diterima mulai tgl 25 September dengan batas terakhir 25 oktober 2018
5. Puisi disertai dengan biodata singkat penyair dan foto diri yang terbaru
6. Puisi yang dikirim boleh puisi yang baru atau yang lama atau yang sudah pernah dimuat dengan catatan bertemakan Hang Tuah dan Jejak Sejarahnya, serta menyebutkan puisi tersebut pernah dimuat dimana
7. Puisi puisi dikirim ke email panitia: antologipuisijazirah@gmail.com atau rliamsipku@gmail.com atau ke wa : 08117001943.
8. Penyair Yang puisinya dimuat akan diundang pada Acara Festival Sastra Internasional Gunung Bintan yang direncanakan diadakan di kaki gunung Bintan, di kabupaten Bintan, kepulauan Riau tanggaL 29 dan 30 November 2018.
9. Penyair yg puisinya dimuat namun tidak bisa datang, akan dkirimkan 3 eks buku antologi bersama tersebut.
10. Penyair yang diundang akan ditanggung akomodasi dan kosumsi selama acara dan mendapat sekedar souvenir khas kepulauan riau. Tetapi panitia tidak menanggung biaya transfortasi dari tempat asal penyair ke tempat acara.
11. Puisi puisi yang dimuat tidak diberi honorarium

Hal hal yang belum jelas dapat ditanya pada : wa 08117001943 dan fatih muftih : 085376022456
Festival Sastra Internasional “Gunung Bintan“ juga akan diisi dengan acara antara lain:

1. Parade baca puisi para penyair undangan dan peluncuran antologi bersama Jejak Hang Tuah, dalam puisi
2. Seminar sastra yang bertema: Penyair dan Sumbangannya pada Sejarah dengan sejumlah pembicara dari Negeri negeri Serumpun.
3. Berkunjung ke tapak tapak sejarah menelusuri jejak Laksamana Hang Tuah di pulau Bintan
4. Jika sedang musim durian daun akan dapat menikmati pesta durian daun, durian khas Bintan.

Para penyair yang diundang yang datang dari luar kota Tanjungpinang dan Bintan akan dijemput oleh panitia di Bandara Raja Haji Fisabilillah, tanjungpinang atau di pelabuhan laut Seri Bintan Pura, Tanjungpinang. (R)