Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan

Recent Posts

Menghadiahi Diri Sendiri

Menghadiahi Diri Sendiri

Seberapa dekat kita dengan diri kita sendiri? Sejauh mana kita mengenal binatang macam apa kita? Pertanyaan itu sangat penting untuk menemukan konsep diri kita yang utuh. Setiap ada yang berulang tahun, kita kerap memikirkan kado yang cocok untuk diberikan. Termasuk bila kita yang berulang tahun […]

Antara Dragon Ball, Han Kang, dan Noh Hee Kyung

Antara Dragon Ball, Han Kang, dan Noh Hee Kyung

            Dragon Ball Super sudah melebihi episode 100. Kelanjutan cerita Akira Toriyama itu terpaut cukup jauh dari Dragon Ball Z, yakni sekitar 10 tahun. Tidak seperti Dragon Ball GT yang dianggap sebagai cerita fan fiction, Dragon Ball Super adalah versi kanon Dragon Ball. Artinya, ia […]

I’m A Treasurer: Catatan Hati Treasury Agent yang Masih Sering Dikira Anak Pajak

I’m A Treasurer: Catatan Hati Treasury Agent yang Masih Sering Dikira Anak Pajak

Saya agen Treasury Republik Indonesia.

Saya membayangkan suatu saat saya bisa mengatakan itu dengan bangga, bukan untuk menjawab ketika banyak orang mengira saya pegawai Pajak.

Derita menjadi anak STAN, atau menjadi pegawai Kementerian Keuangan, adalah sering dikira semuanya anak Pajak. Padahal di STAN ada banyak jurusan. Di antaranya ada Akuntansi Pemerintahan, Bea Cukai, Kebendaharaan. Dan di Kementerian Keuangan ada banyak instansi selain DJP (Pajak), di antaranya ada DJBC (Bea Cukai), DJA (Anggaran), dan DJPb (Perbendaharaan).

Saya anak Akuntansi Pemerintahan dan bekerja di DJPb, Treasury Republik Indonesia.

Lalu apa bedanya? Apa kerjanya?

Negara ini punya APBN. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Penyusunan anggaran dimulai dari satuan terkecil Kementerian/Lembaga yang pembahasan dan pengesahannya melibatkan DJA (Anggaran).

Anggaran kita terdiri dari Pendapatan, Belanja, Pembiayaan. Pendapatan negara itu terdiri penerimaan pajak yang menjadi domain DJP (Pajak), bea dan cukai yang menjadi domain DJBC (Bea Cukai), dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang penerimaannya tersebar di K/L, BLU, yang monitoringnya berada di bawah Direktorat PNBP di DJA.

Di sisi belanja negara ada belanja transfer yang menjadi domain DJPK (Perimbangan Keuangan), dan belanja pemerintah pusat yang menjadi domain DJPb (Perbendaharaan). Pembiayaan (utang) diurus oleh DJPPR (Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko).

Nah, DJPb, tak terbatas pada domain itu saja, karena keberadaaanya yang ada di banyak tempat di nusantara ini menjadi tempat pencairan APBN. Tapi, itu adalah salah satu tugas kecil dari treasury tradisional yang mengurusi pencairan APBN hingga pertanggungjawabannya (Laporan Keuangan).

DJPB modern berperan dalam manajemen kas. Artinya, ia melihat APBN secara keseluruhan. Maka, DJBp membuat MPN G-2 untuk memastikan setiap penerimaan negara masuk ke kas negara. Terlibat di dalam DAK Fisik dan Dana Desa. Dan lebih jauh bagaimana merencanakan kas, agar ketersediaan kas selalu terjaga dengan efektif dan efisien.

Pertumbuhan ekonomi dan efisiensi pemerintah dilihat secara holistik oleh DJPb.

 

 

 

Puisi| Kereta ke Rohingya

Puisi| Kereta ke Rohingya

Tuhan meninggalkanku di Manggarai   Kereta-kereta penuh sesak Setiap orang berebut naik Tanpa membicarakan surga Tanpa membicarakan-Mu   Samar-samar kudengar Kita cukup menjadi manusia Untuk peduli   Tapi dadaku mungkin lupa Kemanusiaan seperti apa Yang menggerakkan tubuh pekerja   Rasa takut terlambat Kemacetan lalu lintas […]

Tere Liye, Royalti dan Pajak Penulis

Tere Liye, Royalti dan Pajak Penulis

Tere Liye membuat dunia perbukuan gempar. Baru saja ia merilis pernyataan tidak akan menjual bukunya lagi di toko buku disebabkan ketidakadilan pajak penulis yang ia rasakan. Berbondong-bondong para pelapak online segera menjaga koleksi buku Tere Liye mereka karena bisa jadi nanti hal ini menyebabkan kelangkaan […]

Sejarah Ejaan Bahasa Indonesia

Sejarah Ejaan Bahasa Indonesia

Ejaan Bahasa Indonesia (disingkat EBI) adalah ejaan bahasa Indonesia yang berlaku sejak tahun 2015 berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2015 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Nah, sebelum EBI berlaku, kita memiliki beberapa jenis ejaan lho. Apa saja?

ejaan bahasa Indonesia

1. Ejaan Van Ophuysen
Ejaan Van Ophuysen merupakan ejaan pertama yang dimiliki oleh bahasa Indonesia. Ejaan ini ditetapkan tahun 1901. Perancang ejaan Van Ophuysen adalah orang Belanda yakni Charles Van Ophusyen dengan dibantu Tengku Nawawi yang bergelar Soetan Ma’moer dan M. Taib Soetan Ibrahim. Ejaan ini menggunakan huruf latin dan bunyinya hampir sama dengan tuturan Belanda.

Ejaan ini digunakan untuk menuliskan kata-kata Melayu menurut model yang dimengerti oleh orang Belanda, yaitu menggunakan huruf latin dan bunyi yang mirip dengan tuturan Belanda, antara lain:

  • huruf ‘j’ untuk menuliskan bunyi ‘y’, seperti pada kata jang, pajah, sajang.
  • huruf ‘oe’ untuk menuliskan bunyi ‘u’, seperti pada kata-kata goeroe, itoe, oemoer (kecuali diftong ‘au’ tetap ditulis ‘au’).
  • tanda diakritik, seperti koma ain dan tanda trema, untuk menuliskan bunyi hamzah, seperti pada kata-kata ma’moer, ‘akal, ta’, pa’, dinamaï.

Huruf hidup yang diberi titik dua diatasnya seperti ä, ë, ï dan ö, menandai bahwa huruf tersebut dibaca sebagai satu suku kata, bukan diftong, sama seperti ejaan Bahasa Belanda sampai saat ini.

2. Ejaan Republik/Ejaan Soewandi
Edjaan Republik berlaku sejak 17 Maret 1947 menggantikan ejaan pertama yang dimiliki bahasa Indonesia saat itu. Ejaan ini merupakan upaya pemerintah untuk mengganti ejaan Van Ophuysen yang disusun oleh orang Belanda dan merupakan ejaan resmi pertama yang disusun oleh orang Indonesia.
Ejaan republik juga disebut dengan ejaan Soewandi. Mr. Soewandi merupakan seorang menteri yang menjabat sebgai menteri Pendidikan dan kebudayaan. Perbedaan ejaan Soewandi dengan ejaan Van Ophuysen ialah:
a. Huruf oe diganti dengan u.
Contohnya dalam ejaan Van Ophuysen penulisannya ‘satoe’, dalam ejaan Republik menjadi ‘satu’.
b. Huruf Hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan huruf K.
Contohnya: maklum, pak, tak, rakjat.
c. Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2
Contohnya: kupu2, main2.
d. Awalan di dan kata depan di kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang mendampinginya. Kata depan ‘di’ pada contoh dirumah, disawah, tidak dibedakan dengan imbuhan ‘di-‘ pada dibeli, dimakan.
3. Ejaan Melindo
Ejaan ini dikenal pada akhir tahun 1959. Sidang perutusan Indonesia dan Melayu (Slamet Mulyana-Syeh Nasir bin Ismail) menghasilkan konsep ejaan bersama yang kemudian dikenal dengan nama Ejaan Melindo (Melayu-Indonesia). karena perkembangan politik selama tahun-tahun berikutnya maka diurungkan peresmian ejaan tersebut.
4. Ejaan yang Disempurnakan (EyD)
Ejaan ini berlaku sejak 23 Mei 1972 hingga 2015, atas kerja sama dua negara yakni Malaysia dan Indonesia yang masing-masing diwakili oleh para menteri pendidikan kedua negara tersebut. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menerbitkan buku yang berjudul Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan yang tercatat pada tanggal 12 Oktober 1972. Pemberlakuan Ejaan yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah ditetapkan atas dasar keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 0196/U/1975.
Sebelum EYD, Lembaga Bahasa dan Kesusastraan, (sekarang Pusat Bahasa), pada tahun 1967 mengeluarkan Ejaan Baru (Ejaan LBK). Ejaan Baru pada dasarnya merupakan lanjutan dari usaha yang telah dirintis oleh  Ejaan Melindo. Para pelaksananya pun di samping terdiri dari panitia Ejaan LBK, juga dari panitia ejaan dari Malaysia. Panitia itu berhasil merumuskan suatu konsep ejaan yang kemudian diberi nama Ejaan Baru. Panitia itu bekerja atas dasar surat keputusan menteri pendidikan dan kebudayaan No. 062/67, tanggal 19 September 1967.
Ejaan Baru di Malaysia disebut Ejaan Rumi Bersama (ERB) sementara Indonesia menggunakan Ejaan yang Disempurnakan (EyD). EyD mengalami dua kali revisi, yakni pada tahun  1987 dan 2009.

Beberapa kebijakan baru yang ditetapkan di dalam EyD, antara lain:

  • Huruf f, v, dan z yang merupakan unsur serapan dari bahasa asing diresmikan pemakaiannya.
  • Huruf q dan x yang lazim digunakan dalam bidang ilmu pengetahuan tetap digunakan, misalnya pada kata furqan, dan xenon.
  • Awalan “di-” dan kata depan “di” dibedakan penulisannya. Kata depan “di” pada contoh di rumah, di sawah, penulisannya dipisahkan dengan spasi, sementara “di-” pada dibeli atau dimakan ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.
  • Kata ulang ditulis penuh dengan mengulang unsur-unsurnya. Angka dua tidak digunakan sebagai penanda perulangan

Secara umum, hal-hal yang diatur dalam EyD adalah:

  1. Penulisan huruf, termasuk huruf kapital dan huruf miring.
  2. Penulisan kata.
  3. Penulisan tanda baca.
  4. Penulisan singkatan dan akronim.
  5. Penulisan angka dan lambang bilangan.
  6. Penulisan unsur serapan.

5. Ejaan Bahasa Indonesia

Perbedaan Ejaan Bahasa Indonesia dengan EyD adalah:

  1. Penambahan huruf vokal diftong. Pada EyD, huruf diftong hanya tiga yaitu ai, au, oi, sedangkan pada EBI, huruf diftong ditambah satu yaitu ei (misalnya pada kata geiser dan survei).
  2. Penggunaan huruf tebal. Dalam EyD, fungsi huruf tebal ada tiga, yaitu menuliskan judul buku, bab, dan semacamnya, mengkhususkan huruf, serta menulis lema atau sublema dalam kamus. Dalam EBI, fungsi ketiga dihapus.