Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan

Recent Posts

Puisi Pringadi Abdi Surya: Menu Asing dan Puisi Lainnya

Puisi Pringadi Abdi Surya: Menu Asing dan Puisi Lainnya

Menu Asing   kita adalah sepasang kekasih tetapi tak pernah saling menggenggam bertemu hanya untuk duduk, melihat menu memesan makan malam tetapi tak juga saling bertatapan yang kutahu kau hanya tertunduk, dan kudengar sebuah isakan aku menanyakan siapa yang telah berani membuatmu menangis lewat sebaris […]

Lomba Menulis Puisi “Sail Cimanuk”

Lomba Menulis Puisi “Sail Cimanuk”

 Bagi Anda yang menyukai dengan dunia tulis menulis terutama karya sastra berupa puisi, ada kabar gembira bagi Anda karena ada lomba menulis puisi tahun ini dengan judul “Sail Puisi Cimanuk” yang diselenggarakan dalam rangka menyemarakkan HUT (Hari Ulang Tahun) Kabupaten Indramayu ke 489. Tema kegiatan […]

Wahabi? Tidak Pernah Ada Wahabi!

Wahabi? Tidak Pernah Ada Wahabi!

Apa dan siapa Wahabi itu? Tanyakanlah pada sejumlah orang dan minta mereka menunjuk satu kelompok yang layak menyandang nama Wahabi.

Sampai hari ini, saya menganggap Wahabi adalah ilusi semata. Tidak pernah ada Wahabi. Dan perasaan ini ternyata didukung oleh Karen Armstrong. Karen Armstrong adalah seorang penulis buku yang isinya berfokus pada permasalahan teologi. Dia pernah dekat sangat gereja dan memutuskan untuk tidak beragama karena menurutnya, Tuhan yang dikenal manusia saat ini adalah bagian dari sejarah manusia. Hal itu bisa dilihat dalam bukunya Sejarah Tuhan maupun Masa Depan Tuhan.

Karen Armstrong bilang, Wahabi hanyalah sebuah sebutan. Sebutan ini disebutkan orang-orang saat itu kepada kelompok muslim yang tidak mereka sukai. Wahabi juga dikaitkan dengan fundamentalisme. Bagaimana pandangan Karen Armstrong pada fundamentalisme agama sila dibaca bukunya ya.

Apakah Wahabi adalah Arab Saudi?

Arab Saudi sering disebut sebagai negaranya Wahabi. Sebelumnya, kita kudu tarik diri ke masa lalu.

Ada salah satu kisah Rasulullah yang fenomenal. Yakni ketika terjadi perebutan untuk meletakkan batu hajar aswad ke Kakbah. Muhammad (belum menjadi Rasul) saat itu mengajukan solusi yang brilian untuk meletakkan batu tersebut di atas sorban. Kemudian para pemimpin kaum memegang sorban itu, dan mengoperkannya satu sama lain sampai ke Kakbah.

Kakbah sebagai kiblat umat Islam sudah sangat penting pada masa itu dan menjadi perebutan kaum di seluruh semenanjung Arab.

Singkat cerita, setelah Islam mengalami kemajuan, Kakbah berada dalam penguasaan Utsmani. Dinasti Utsmani pada saat itu memegang kuasa dan dalam sebuah literatur terjadi pergeseran makna Islam dalam pemerintahan. Pemerintahan saat itu disebut glamour dan berorientasi harta dan jauh dari nilai-nilai Islam.

Lalu muncullah seorang tokoh, mufti, bernama Muhammad bin Abdul Wahhab. Beliau menjabat sebagai muftinya Kerajaan Saud di wilayah Najd, mungkin sekitar Qatar.

Melihat hal itu, beliau menyeru untuk membersihkan kakbah dari nilai-nilai yang tak Islami. Di sisi lain, kalau kita melihat psikologi kaum sejak zaman dahulu, maka ada kepentingan politik untuk merebut kekuasaan. Dengan mengusir Utsmani dari kakbah, maka kakbah akan beralih penguasaannya ke tangan Saud. Penguasaan kakbah akan melahirkan legitimasi kepada penguasanya.

Apakah Wahabi ini adalah nama pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab? Jawabannya TIDAK.

Gerakan yang dipimpin Muhammad bin Abdul Wahhab ini tidak pernah menyebut diri mereka Wahabi. Mereka lebih dikenal dengan nama Salafy. Salafy ini merujuk ke generasi salafus soleh atau sahabat yang paling dekat dengan Muhammad. Praktik ibadah seharusnya mengikuti pada masa-masa itu karena merekalah yang paling dekat dengan Muhammad. Ajaran tauhidlah yang diutamakan dalam gerakan ini.

Tentu, Muhammad bin Abdul Wahhab bukanlah orang sembarangan. Tak mungkin ia punya pengaruh yang besar sehingga banyak yang mengikuti beliau bila tidak punya keistimewaaan. Sejarah masa muda Muhammad bin Abdul Wahhab bisa teman-teman cari sendiri ya. Salah satunya disebutkan bahwa beliau sama sekali tak menyukai pertumpahan darah.

Gerakan ini kemudian menang. Dinasti Saud sampai sekarang berkuasa (makanya dinamakan Saudi Arabia), tetapi muftinya tidak selalu dari keluarga Abdul Wahhab.

Apakah istilah Wahabi sudah ada sebelum gerakan Muhammad bin Abdul Wahhab?

Coba kita tanyakan ke teman-teman Salafy, siapa dan apa Wahabi? Mereka akan menjawab Khawarij. Salafy sama sekali menolak disebut Wahabi. Dan Salafy pun menyebut adanya Salafy gadungan yang ikut memakai salafy identitas.

Khawarij dalam sejarah dunia Islam sangatlah kelam. Hal ini bermula dari kematian Utsman bin Affan. Kematian Utsman ini didalangi oleh kelompok Khawarij.

Ali bin Abi Thalib menggantikan Utsman bin Affan sebagai khalifah. Di sisi lain, Muawiyah yang juga kerabat dari Utsman meminta keadilan kepada Ali untuk menghabisi semua yang ada sangkut-pautnya dengan Khawarij. Namun, Ali menolak. Menurut Ali, yang harus dihakimi adalah orang-orang yang terlibat dalam pembunuhan Utsman saja, bukan seluruh kelompok. Atas itu, terjadilah perpecahan antara Muawiyah dan Ali. Di sinilah mengerucutnya perseteruan Syiah yang mendukung Ali dan Muawiyah yang dianggap merepresentasikan Sunni dalam Perang Siffin.

Apa dinyana, singkat cerita, ternyata Khawarij mencoba membunuh Ali dan Muawiyah diam-diam. Rencana pembunuhan terhadap Ali berhasil sementara Muawiyah gagal. Kegagalan ini dimanfaatkan oleh Muawiyah dengan menghabisi Khawarij setelah itu.

Dalam beberapa literatur lain, ada yang menyamakan Khawarij dengan Salafy. Ini logikanya ke mana? Muawiyah oleh Salafy dianggap salah satu sahabat Rasulullah dan ia menumpas Khawarij. Bagaimana rumusnya A suka B, B tidak suka C, A tidak suka C, lalu A adalah C?

Apakah Khawarij musnah? Penyebutan Khawarij, dibanding sebuah kelompok, telah bertransformasi menjadi pemikiran atau bahkan ideologi. Ciri utamanya, mereka tidak segan membunuh sesama muslim.

Dari cerita ini, sebenarnya saya ingin bilang bahwa motif politik sangat kental. Kalau ada yang kembali menyebut Wahabi, langsung saja cermati motifnya.

Meski dalam cerita yang belum diceritakan di sini ada riak-riak lain dalam Dinasti Muawiyah sehingga Syiah sebagai entitas politik (bukan aliran ya) sangat membenci Sunni, atau ulah-ulah Syiah sendiri yang membuat garis batas antara Sunni-Syiah semakin melebar. Begitu juga dalam Saudi Arabia, bila kita lihat awalnya gerakan pembaharu itu untuk memurnikan Kakbah dengan nilai-nilai Islam, bagaimana sekarang?

Lalu bagaimana di Indonesia? Siapa Wahabi? Netizen suka menyebut PKS itu wahabi, FPI itu wahabi, atau salafy itu wahabi. Padahal PKS yang akarnya Ikhwanul Muslimin juga berseberangan dengan Salafy. Jadi balik lagi ke pernyataan Karen Armstrong, siapa kelompok yang tidak kita sukai… maka itulah yang kita sebut wahabi.

Jadi, siapa wahabimu?

Terjemahan Charles Bukowski dan Henry Wadsworth Longfellow

Terjemahan Charles Bukowski dan Henry Wadsworth Longfellow

And The Moon And The Stars And The World Charles Bukowski   Long walks at night– that’s what good for the soul: peeking into windows watching tired housewives trying to fight off their beer-maddened husbands.   Dan Bulan dan Bintang dan Dunia karya Charles Bukowski […]

Sajak Subagio Sastrowardoyo

Sajak Subagio Sastrowardoyo

Sajak Subagio Sastrowardoyo   Kampung Kalau aku pergi ke luar negeri, dik karena hawa di sini sudah pengap oleh pikiran-pikiran beku. Hidup di negeri ini seperti di dalam kampung di mana setiap orang ingin bikin peraturan mengenai lalu lintas di gang, jaga malam dan daftar […]

Membaca Realisasi APBN Semester I

Membaca Realisasi APBN Semester I


Tema APBN sebenarnya adalah sesuatu yang menarik. Apalagi sekembalinya Sri Mulyani ke Indonesia, pernyataan dari Menteri Keuangan tersebut membuat beberapa kalangan terbelalak. APBN kita tidak realistis. Pemotongan anggaran sebesar 133 Trilyun pun menjadi keputusan dalam sidang kabinet dibarengi dengan revisi target penerimaan pajak.

Pertanyaannya, bagaimana sih keadaan APBN kita sekarang? Apakah keadaan APBN kita benar-benar keadaan bahaya?

Sumber: I Account APBN 30 Juni

Secara garis besar, APBN terdiri dari lima elemen, yakni Pendapatan Negara dan Hibah, Belanja Negara, Keseimbangan Primer, Surplus/Defisit anggaran dan Pembiayaan.

Isu terbesar pertama ada di Pendapatan Negara dan Hibah yakni di Penerimaan Perpajakan. Dari gambar tersebut kita dapat melihat target penerimaan perpajakan adalah 1539,2 T. Hingga 30 Juni 2016, realisasinya baru 522 T atau hanya sebesar 33,9%. Titik yang harus menjadi fokus adalah pada Pajak Penghasilan Non-migas. Ini bisa berarti mengacu pada PPh Orang Pribadi dan PPh Badan.

Seperti yang diketahui, angkatan kerja tahun 2015 lebih dari 128 juta. Dari sejumlah itu, hanya sekitar 27 juta yang memiliki NPWP orang Pribadi. Dan dari jumlah itu, hanya 9,92 juta yang melaporkan SPT. Dan tak lebih dua juta orang yang SPTnya tidak nihil. Ini menyiratkan betapa potensi PPh orang pribadi begitu besar dan belum tersentuh.

Sumber: djpbn.kemenkeu.go.id

Realisasi penerimaan pajak yang tak sampai 34% di semester 1 adalah ancaman bagi APBN. Realisasi ini bahkan lebih rendah dari realisasi semester 1 tahun lalu. Dengan target yang lebih tinggi dari tahun lalu, maka bisa diramalkan target penerimaan negara hingga akhir tahun akan jauh di bawah target kecuali jika Tax Amnesty benar-benar bisa berhasil 100%.

Ancaman shortfall, atau cash flow shortage, bisa dilihat dari pergerakan realisasi belanja di semester 1 yang mencapai 41%. Dari tren yang ada, belanja secara progresif akan meningkat di semester kedua karena kontrak-kontrak yang sudah berlangsung akan selesai di triwulan III dan IV. Mengatasi itu, Sri Mulyani memerintahkan untuk mendata semua kontrak yang sudah berjalan dan belum berjalan. Kontrak-kontrak yang belum berjalan dan dipandang tidak begitu urgent akan diambil kebijakan lebih lanjut. Begitu juga dengan Belanja Barang (52). Sasaran selanjutnya adalah memangkas semua biaya perjalanan dinas, biaya operasional yang mungkin dipangkas dalam Belanja Barang tersebut.

Isu dalam belanja ini begitu banyak. Mulai dari Belanja Pegawai yakni terkait rasionalisasi PNS yang sangat perlu dilakukan demi ruang fiskal, adanya Dana Desa yang menjadi Mandatory Spending baru, dan kenyataan bahwa Pemerintah Pusat begitu perhatian dengan Papua dan Aceh, tercermin dari Dana Otsus yang dianggarkan hingga 18,3 T. Masalah Pengembalian Pajak yang nilainya fantastis juga menjadi misteri.

Persoalan ke depan, PR untuk APBN 2017 adalah pada kualitas belanja. Kita tidak perlu “gaya-gayaan” dengan meningkatkan belanja seakan-akan pertumbuhan ekonomi ekivalden dengan peningkatan APBN, tetapi dengan serius merumuskan apa yang benar-benar butuh dikerjakan dengan anggaran yang realistis.

Sumber: I Acccount APBN 30 Juni

Kemudian, selisih di antara penerimaan dan belanja tadi bagaimana? Ya, ditutup dengan pembiayaan. Pembiayaan ini salah satunya utang.

Kita lihat tadi realisasi penerimaan 634,7 T sementara realisasi belanja 865,4 T. Terjadi defisit anggaran sebesar 230,7 T. Angka defisit terhadap PDB yang dibolehkan undang-undang adalah 3%. Dengan angka semester 1 ini, defisit sudah mencapai 1,83%.

Satu hal yang menarik dari APBN juga adalah proporsi pembiayaan dalam negeri dan pembiayaan luar negeri. Dalam beberapa tahun terakhir, utang dalam negeri Indonesia melonjak. Pada tahun 2012 hal ini dikritik oleh Bank Dunia karena utang dalam negeri dianggap memiliki biaya dan risiko gagal bayar yang tinggi. Namun, hal ini juga dibantah. Utang dalam negeri bebas intervensi. Utang ke asing memiliki resiko intervensi. Dan jumlah bunga utang juga lari ke luar negeri.

Realisasi APBN I Account per 30 juni adalah laporan sementara dengan asumsi PDB 12.626 T.