Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan

Recent Posts

Islam dan Politik

Islam dan Politik

Salah satu hal yang sangat disayangkan adalah dalam banyak pembelajaran sejarah Islam, konteks politik tak diikutsertakan. Padahal, dalam perjalanan dunia Islam, ada banyak peristiwa politik terjadi seperti halnya Umar yang dibunuh seorang budak, Utsman yang didemo oleh Khawarij dengan tuduhan korupsi, peperangan Ali dengan Aisyah, […]

Komunisme dan Pan-Islamisme, Tan Malaka (1922)

Komunisme dan Pan-Islamisme, Tan Malaka (1922)

Penerjemah: Arief Chandra, Agustus 2009 Ini adalah sebuah pidato yang disampaikan oleh tokoh Marxis Indonesia Tan Malaka pada Kongres Komunis Internasional ke-empat pada tanggal 12 Nopember 1922. Menentang thesis yang didraf oleh Lenin dan diadopsi pada Kongres Kedua, yang telah menekankan perlunya sebuah “perjuangan melawan […]

Puisi| Stasiun Juanda

Puisi| Stasiun Juanda

aku akan pulang, aku akan pulang
sementara malam terus merambat
hingga ke jantungku
kukenang segala yang bisa kukenang
kereta yang akan datang terlambat
membuatku belajar arti menunggu

kau pasti tengah menanak nasi,
menggoreng telur mata sapi
menantiku berbicara soal aksi,
deklarasi, dan kabar Jakarta
yang tak pernah baik- baik saja
masalah-masalah lebih dari air bah
orang datang mengharap hidup
lalu mati dan tak mendapat tanah
dan memilih dihanyutkan di kali
yang tak lagi penuh sabun dan pasta
Waktu tiada, sekarat yang tersisa
terhimpit bunyi klakson kendaraan
dan semua yang berebut Tuhan

Jakarta selalu lebih rumit dari perempuan

aku akan pulang, aku akan pulang
bersama sekawanan binatang pekerja
dan aku adalah binatangmu
dengan kerinduan dan berkasih-kasihan
mengenalkanku kembali pada kemanusiaan
yang menuntut anyir darah
dengan alasan penting maupun remeh
atau bahkan tak beralasan sama sekali
saat itulah dari kejauhan ada sebuah sinar
bak kesadaran yang diterima hawking muda
yang jatuh cinta pada seni semesta
penciptaan yang amat sederhana dan pasti
orang hidup lalu mati, orang makan lalu mati
orang terbang lalu mati, semua orang mati
aku juga akan pulang, aku juga akan mati

Puisi| Stasiun Manggarai

Puisi| Stasiun Manggarai

  aku salah karena berpikir perempuan paling kejam kau lebih kejam dari semua karena berulang-ulang membuatku menunggu berjanji tak akan lagi, namun kau ingkari pula semua waktu yang sia-sia adalah omong kosong kau bisa menyita 1/12 hidup seseorang yang telah rapuh menahan rasa pulang hanya […]

Puisi| Air Mata

Puisi| Air Mata

aku memahami kita belajar matematika untuk menghitung nyawa demi nyawa yang menghilang begitu saja seperti janji Tuhan tak ada yang tahu: satu detik kemudian atau bahkan seribu tahun yang Anwar inginkan bumi akan berguncang dan terbelah tercipta puluhan lubang, yang dalam dan panjang segalanya terhisap, […]

Menulis Sepi

Menulis Sepi

Writing Residence. Dua kata ini menarik bagiku. Pada Mei 2016 lalu, aku terpilih mengikuti program residensi di ASEAN Writers Residence di Jakarta dalam rangkaian acara ASEAN Literary Festival 2016. Selama seminggu, aku berkumpul bersama 12 penulis dari negara-negara ASEAN dan Jepang dan banyak bertukar pikiran dengan mereka. Program residensi itu menumbuhkan berbagai perspektif baru dan aku menyukai itu.

Ketika membaca Asma Nadia ingin membuka writing residence, aku langsung tertarik. Apalagi dalam informasi itu disebutkan untuk penulis yang berada di Jakarta dapat memilih daerah yang menjadi tujuan. Ada satu tempat yang ingin benar-benar kukunjungi. Tempat ini sudah sejak lama memantik rasa penasaranku. Ia berada di suatu tempat di Nusa Tenggara Timur. Aku pernah satu kali ke NTT, ke Alor. Dan faktor pertama yang unik dari NTT adalah kerukunan umat beragamanya. Panitia MTQ bisa bukan beragama Islam. Sebaliknya, muslim juga bisa terlibat melindungi kegiatan yang berkaitan dengan gereja. Terkenang ucapan seorang yang menemaniku saat ke Alor, Osvo namanya. Ia berkata, bagi mereka bela di atas segalanya. Bela/darah adalah identitas. Selama satu bela, mereka akan saling menjaga.

Namun, bukan Alor yang ingin kukunjungi. Melainkan Mollo. 180 km dari Kupang.

Kenapa Mollo?

Aku punya seorang teman di Mollo. Namanya Christian Dicky Senda. Dia seorang cerpenis. Cerpen-cerpennya selalu bercerita tentang kearifan lokal di Mollo, juga masalah-masalah kemanusian yang terjadi di sana.

Sebagai seorang yang terlahir di Barat (Sumatra), dunia Timur terasa begitu berbeda. Aku ingin sekali menjejakkan kaki ke sana dan mengenali udaranya. Aku ingin mendapatkan perspektif baru mengenai keIndonesiaan yang lebih utuh dari sebelumnya.

Bila sampai di Mollo, hal pertama yang ingin kulakukan adalah mengeksplor pasar tradisional di Kapan, ibu kota kecamatan Mollo Utara. Di sana akan ditemukan banyak sekali produk pertanian organik dari warga termasuk beberapa bahan pangan yang sudah hampir jarang ditemukan di pasar-pasar di perkotaan. Kemudian treking ke beberapa kampung di sekitar desa Tafetob, bertemu dengan para penenun di desa Bosen, berinteraksi dengan petani jeruk dan sirih di Lelokasen. Atau kalau masih tersisa tenaga, aku mau treking yang lebih jauh dan menantang ke kampung Manesat Anin sejauh 12 km pergi pulang menyusuri sungai Sebau yang air jernihnya mengalir dari gunung Mutis menuju pantai selatan Timor. Di Manesat Anin aku bisa mengunjungi kebun warga, panen ubi dan sayuran, belajar bikin jagung bose hingga memasak bersama warga setempat. Ada beberapa menu spesial seperti jagung bose, singkong kuning rebus dan ubi kapuk bakar yang semuanya bisa dinikmati dengan ayam bakar dan sambal lu’at bunga gala-gala (kembang turi).

Mendadak saya terkenang ucapan Budi Darma. Masalah kebanyakan penulis adalah ketidakmampuan dalam mengenali apalagi mendalami masalah. Sastra hadir sebenarnya untuk mengangkat masalah itu ke permukaan, mengubahnya menjadi bentuk seni yang dapat dinikmati atau membuat pembaca ngeh bahwa benar ada masalah seperti ini. Ia bisa juga bisa ditampilkan dalam bentuk yang menghibur, masalah tidak ditulis gambling dan “disembunyikan” di dalam cerita.

Ketidakmampuan mengenali masalah terjadi selain karena kurangnya pembacaan terhadap literatur, salah satunya, adalah adanya jarak antara penulis dengan objek yang ia tulis. Penulis kebanyakan hanya mengira-ngira dari pembacaan yang singkat, atau dalam bahasa lain, penulis kurang melakukan riset. Karena itu, penulis perlu terjun langsung dan berinteraksi dengan objek yang ingin ditulisnya.

Kenapa Mollo—saya anggap Mollo merepresentasikan manusia yang belum banyak terpapar modernisme. Pada titik ini sebenarnya saya mempertanyakan kemanusiaan saya sendiri. Apakah hidup di kota, dengan tetek bengek kehidupan modern telah menggerus banyak hal dari dalam diri saya pribadi? Dan kenapa Mollo—sesampainya di sana, saya akan punya seorang teman yang akan mendampingi saya menemukan jawaban atas kegundahan hati.

Bukan berarti hanya, saya akan menulis mengenai Mollo. Tetapi, saya ingin berangkat dari Mollo untuk menuju sebuah gambaran apa sih manusia itu, dan bagaimana kemudian manusia yang saya pahami itu akan menjadi homo fictus di dalam karya saya.