Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan

Recent Posts

Puisi Pablo Neruda

Puisi Pablo Neruda

Pablo Neruda (12 Juli 1904- 23 September 1973) adalah nama samaran penulis Chili, Ricardo Eliecer Neftalí Reyes Basoalto. Neruda yang dianggap sebagai salah satu penyair berbahasa Spanyol terbesar pada abad ke-20, adalah seorang penulis yang produktif. Tulisan-tulisannya merentang dari puisi-puisi cinta yang erotik, puisi-puisi yang surealis, […]

Nasionalisme dalam Perspektif Internasionalisme

Nasionalisme dalam Perspektif Internasionalisme

Apakah arti sebuah negara? Pertanyaan ini bisa mudah atau tidak mudah dijawab. Banyak ahli mendefinisikan negara dari berbagai sudut pandang. Namun, setidaknya kita bisa “sederhanakan” bahwa negara berarti ada wilayah, ada penduduk, dan ada pemerintah/sistem pemerintahannya. Tidak mudah bersepakat membentuk suatu negara. Malaysia, Brunei, dan […]

Kelulusan SMA

Kelulusan SMA

Salah satu hal yang saya sesali ketika kelulusan SMA adalah saya tidak ikut mencorat-coret baju sekolah. Saya terlalu lugu waktu itu dan berpendapat bahwa hal itu nggak ada gunanya. Lebih baik baju disumbangkan kepada orang yang membutuhkan. Mencorat-coret baju adalah tindakan tolol, dan sebagainya.

Itu semua omong kosong. Mari kita survei, berapa persen dari kita yang bekas baju sekolahnya benar-benar disumbangkan? Baju yang umurnya 1 tahun (mungkin juga ada yang 3 tahun) yang sudah bekas keringat, kusam, dan mungkin ada bolongnya itu malah banyak berakhir sebagai lap. Disumbangkan pun rasanya tak layak.

Mencoret baju hanyalah kebebasan berekspresi. Tidak ada salahnya. Tidak melanggar hukum juga. Salah satu teman, malah memajang baju yang penuh coretan di kamarnya, dibungkus sedemikian rupa. Itu adalah kenangan, kenangan terakhir dari teman-remannya, yang setelah kelulusan banyak akan terpisahkan entah kemana, dan menjalani hidup sebagai manusia dewasa. Aku merasakan pedih karena aku tak punya kenangan semacam itu. Aku tak tahu seberapa banyak teman-teman SMA-ku yang benar-benar menganggapku teman. Seberapa besar aku hidup di kenangan orang lain?

Jadi, jika kamu masih SMA, pas lulus nanti, jangan ragu untuk berekspresi…. tinggalkan kenangan tentangmu di baju temanmu. Jangan terpengaruh dengan ucapan “Ngapain coret-coret, nggak manfaat, mending bagi makanan ke yatim piatu, bla bla….” Salah. Itu adalah dua hal yang berbeda, tidak linier. Kalian tetap dapat melakukan keduanya. Mencoret-coret dan bersedekah sekaligus!

Membeli Rumah

Membeli Rumah

Sudah saatnya kita memiliki tempat tinggal untuk bertahan dari Tuhan yang telah menakdirkan segala baik yang kekal maupun tidak kekal Di sanalah kita akan mengistirahatkan akal dan membiarkan hanya perasaan, yang banyak ditinggalkan bermain seperti dua anak kecil, yang tak kenal dosa atau takut gagal

Rumah Murah di Indonesia

Rumah Murah di Indonesia

Hampir setiap hari aku melewati Ragajaya. Di sana terhampar perumahan subsidi dengan harga yang relatif murah. Rumah ukuran 36/60 dipasarkan dengan harga mulai dari Rp130 juta, dengan cicilan berbunga ringan. Namun, suatu hari aku mendadak bertanya-tanya, ketika melihat sebuah rumah terparkir sebuah mobil di halamannya. […]

Belajar Mengendarai Mobil

Belajar Mengendarai Mobil

Kira-kira satu minggu yang lalu, aku mendapat kejutan. Bapak datang dari Palembang, berdua, mengendarai mobil. Mobil itu belum pernah kukenal. Ternyata, mobil itu kemudian ditinggal. Hadiah untukku.

Padahal aku belum punya SIM A. Aku belum bisa mengendarai mobil. Dulu pernah kursus. Sudah bisa parkir, mengitari kota Palembang. Jalan di kampung beberapa kali. Namun, aku tak menyetir lagi karena suatu pagi ketika aku diminta mengeluarkan mobil dari garasi rumahku yang sempit, karena masih mengantuk, aku keliru memundurkan mobil. Harusnya mobil itu mundur lurus dulu, baru dipatah kiri. Tapi pagi itu, aku membelokkan setir ke kanan. Sontak saja mobil itu menyerempet dinding. Dan aku kena marah habis-habisan. Sejak itu, aku tak mau menyetir mobil lagi.

Menyesal juga, di usia yang nyaris 29 tahun, aku belum bisa menyetir mobil. Dalihku, aku tak ingin punya mobil. Tak mampu beli mobil saat ini karena harga mobil nyaris seharga rumah. Aku lebih suka membeli aset-aset yang tak mengalami penyusutan.

Namun, keadaan istri yang sedang hamil tua anak kedua membuatku berpikir, nantinya aku akan butuh mobil. Rumah di kampung, jauh dari manamana. Membawa bayi mungil ke dokter, dengan ancaman musim hujan, tak baik untuk dirinya juga. Dan menaiki motor berempat, rasanya akan mengerikan karena jalan yang jelek.

Hadiah itu pun kuterima dengan terima kasih.

Singkat cerita, selama 3 hari aku belajar mobil. Maju mundur, lalu berani jalan di jalan tanah dekat komplek, lalu menuju lapangan sepakbola. Setelah sukses agak mulus masukin kopling, ganti gigi, parkir, aku pun berpuas diri. Setelah itu, sang sopir pulang ke Palembang. Dan aku baru berkesempatan mindahin mobil Rabu lalu. Alhamdulillah sukses untuk pertama kalinya walaupun nyaris nyerempet tembok.

Minggu ini berencana lanjut latihan menyetir di lapangan. Namun, hujan turun dengan deras. Dan ketika reda, lewat lapangan kulihat sebuah palang. DILARANG BELAJAR MOBIL DI LAPANGAN INI. Ternyata, sekarang sudah dilarang.