Kenangan tentang Cinta

Aku mencintaimu dengan sepenuh kenangan. ~ Sungging Raga, dalam Simbiosa Alina Arsenal selalu disingkirkan Bayern Muenchen. Tampaknya Arsene Wenger belum pernah bisa menyingkirkan Pep Guardiola dari sekian pertemuan. Aku sendiri tak pernah bisa menyingkirkan kenangan-kenangan yang ada di dalam hidupku. Dari sekian kenangan, yang terbaik adalah masa-masa di kelas 2 SMA. Di masa itu, rasanya, […]

Read More

Surat Untuk Renald Khasali, Bagian 1

Belum dua tahun yang lalu, ternyata aku pernah mengirim surat ke Renald Khasali, si tokoh itu. Kukirim surat berjudul Pertanyaan-pertanyaan tentang Diri sebagai syarat seleksi program pemuda yang akan dimentori beliau. Sebenarnya, aku tak memenuhi syarat definisi pemuda yang dia inginkan karena pemuda dalam program itu harus belum menikah. Namun, aku tetap nekat menulis surat, […]

Read More

Bapakku yang NU Banget

Apa yang akan ditanyakan orang tuamu pertama kali ketika meneleponmu? Bapakku tidak bertanya kabar. Ia akan bertanya aku sudah shalat atau belum. Aku ngaji atau nggak. Dan kalau aku sudah shalat, beliau akan menegaskan shalat yang baik adalah shalat berjamaah di masjid. Soal kabar, itu nomor dua. Di usianya yang menginjak 62 tahun, ia kerap […]

Read More

Menjadi Ayah Lagi

Anak keduaku baru sekitar sebulan lalu lahir. Namun, aku merasa hal ini seperti baru. Pasalnya, jarak kelahiran dengan anak pertama terpaut 5 tahun 1 bulan. Terlebih, aku menghadapi situasi yang amat berbeda di antara keduanya. Hanna lahir ketika aku masih bertugas di Sumbawa. Pada usia kandungan 7 bulan, ibunya diungsikan ke Palembang akibat situasi yang […]

Read More

Tentang Kesedihan

Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku menghadapi kemerdekaan tanpa cinta ~ W.S. Rendra Saya lega, namun saya sedih. Saya lega setelah Mita Handayani akhirnya memberikan klarifikasi dan membuka kembali gembok tulisan Agama Kasih miliknya. Namun, saya sedih, karena banyak hal. Utamanya sedih karena kasihan pada Afi. Seharusnya dia mengakui ketika sudah diperingatkan beberapa orang secara […]

Read More

Puisi | Insan Perbendaharaan

Insan Perbendaharaan Jangan kau tanya lagi, seberapa Pancasila kami Ketika kami menjadi yang terakhir bertahan saat Timor Timur hendak melepaskan diri Dan kami pula yang pertama memulai Saat Aceh terkena bencana tsunami Kami berdiri menjadi perwakilan negara yang hadir untuk menyuntik tenaga pembangunan Memulihkan bagian tubuh bangsa yang terluka Persatuan Indonesia sudah mendarah di tubuh […]

Read More