Tahun Anggaran yang Bahagia

Tulisan ini sudah dimuat di https://news.detik.com/kolom/d-4375377/tahun-anggaran-yang-bahagia

Senyum Menteri Keuangan Sri Mulyani merekah. Penerimaan negara diperkirakan akan melampaui target. Hasil menggembirakan ini patut diapreasiasi, terlebih defisit APBN diproyeksikan hanya sebesar 2,12% terhadap PDB tahun ini, lebih kecil dari yang dianggarkan yaitu 2,19% terhadap PDB. Ini menunjukkan postur APBN yang cukup baik.

Padahal, tahun 2018 adalah tahun yang penuh tantangan. Agresivitas AS yang menaikkan suku bunga The Fed sempat membuat ketidakpastian global semakin meningkat. Dolar kembali ke kampung halamannya membuat mata uang Paman Sam itu kian perkasa. Rupiah ikut terdampak dan sempat menembus Rp 15.000 per dolar AS. Kekhawatiran Krisis 97-98 akan terulang ramai menjadi bahasan.

Di tengah ketidakpastian itu, pemerintah tetap percaya diri. Bahkan tidak ada APBN Perubahan tahun ini. Hal itu menimbulkan pertanyaan, sebab ketidakpastian global membuat indikator makroekonomi berubah. Bila tetap menggunakan asumsi makroekonomi awal, APBN akan kehilangan konteksnya.

Kepercayaan diri itu berasal dari tren realisasi APBN yang proporsional pada semester I tahun 2018. Baik pos belanja maupun pendapatan terlihat berada di jalur yang tepat. Toh, tidak ada yang mampu memprediksi sejauh mana ketidakpastian global akan memberikan dampak pada Indonesia. Terlebih fondasi makroekonomi kita sudah cukup kokoh, tak rapuh seperti zaman runtuhnya Orde Baru.

Kepercayaan diri pemerintah itu juga yang menjadi faktor penting dalam menjaga pasar agar tidak panik. Tindakan pemerintah dalam mengatasi menguatnya dolar begitu tepat. Selain memang karena mengendurnya tensi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China serta faktor eksternal lain, pemerintah berhasil mengembalikan kepercayaan investor. Caranya, BI mengeluarkan kebijakan seperti mempercepat persiapan teknis Domestic Non-Deliverable Forwards (DNDF). Aturan yang mulai berlaku pada awal November 2018 ini memberikan alternatif bagi perusahaan dalam negeri atau investor yang membutuhkan lindung nilai (hedging) kurs mata uang.

Defisit Anggaran

Dalam beberapa tahun belakangan, kita dihantui isu defisit anggaran yang tak terkendali. Bahkan sempat, defisit anggaran tersebut dikhawatirkan akan melampaui 3% seperti yang telah ditetapkan sebagai batas dalam UU Keuangan Negara. Akibatnya, muncul wacana batas tersebut dihapuskan saja asal tujuan kesejahteraan rakyat tercapai, daripada karena melanggarnya, Presiden bisa kena impeachment.

Pemerintah menjawab dengan makin prudent dalam pengelolaan APBN. Defisit 2018 adalah defisit terendah dalam 5 tahun terakhir. Ini mengisyaratkan beberapa hal. Pertama, pemerintah semakin mandiri. Artinya, pemerintah makin mampu memenuhi belanjanya dari penerimaan negara (perpajakan dan PNBP). Ketergantungan terhadap utang semakin kecil. Kedua, fokus pengelolaan APBN menunjukkan pemerintah semakin efisien tanpa harus mengurangi output.

Buah dari Tax Amnesty berupa data yang semakin baik membuahkan hasil pertumbuhan perpajakan 15-16% tahun ini. Perekonomian yang terus tumbuh di atas 5% juga patut menjadi acungan jempol. Inilah pilar kuat yang juga menopang kurs kita.

Keseimbangan sektor riil dan moneter adalah kunci dari ketahanan terhadap krisis keuangan. Belajar dari pengalaman 97-98, pemerintah pun memperkuat sektor rill ini dengan mengucurkan kredit usaha rakyat bagi Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM). Realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga akhir tahun diperkirakan bisa mencapai Rp 120 triliun atau sekitar 97% dari target penyaluran sepanjang tahun ini sebesar Rp123,8 triliun. Terlebih, penyaluran KUR ini memperhatikan sektor produksi yang menyehatkan arah fiskal kita.

Bukan hanya skema KUR untuk UMKM, pemerintah juga makin menyempurnakan skema kredit Ultramikro (UMi). Pembiayaan UMi ini menyasar usaha mikro guna mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik.

Lebih Bahagia

Realisasi APBN 2018 yang lumayan baik itu perlu kita apresiasi. Tahun 2018, dengan sejumlah masalah yang menghantui, bisa dilalui dengan baik.

Tentu, hal ini jangan sampai membuat pemerintah lengah. Tahun 2019 lebih penuh tantangan. Ketidakpastian global akibat perang dagang antara AS dan China masih akan terus berlanjut. Pergolakan akibat suku bunga The Fed juga akan terjadi. Stabilitas di dalam negeri juga harus dipertahankan karena tahun politik. Pembenahan dalam UMKM perlu juga dilakukan untuk makin menguatkan sektor riil.

Menghadapi semua itu, pemerintah perlu ekstra hati-hati. Tak ada yang tahu, apakah kita bisa lebih bahagia tahun 2019. Kita hanya bisa berusaha dan berdoa.

Saat Aku Berpikir Meminimalisasi Riba

Hatiku tergerak menulis ini ketika melihat ada seseorang yang menertawakan keberanian beberapa orang untuk memutus riba dari hidupnya. Keputusan antiriba itu tentu saja tidak mudah. Sulit. Dan karena itu, tidak sepantasnya ditertawakan.

Terlepas memang, definisi dan ruang lingkup riba kita memiliki perbedaan. Ruang tafsir itu berbeda-beda. Ada yang ikut pendapat bahwa bank konvensional itu riba, ada juga yang moderat, mengatakan tidak. Ada yang mengatakan bank syariah pun tidak sepenuhnya bebas riba. Semua punya landasan dan harus saling menghormati. Dan sebagai muslim, tentu saja kita patut setuju kalau riba itu berbahaya.

Aku sendiri punya pengalaman ingin terbebas dari riba. Tentu, aku mendengarkan banyak pendapat terlebih dahulu, mana yang riba dan mana yang bukan riba.

Momentumnya adalah saat aku kuliah D4 di PKN STAN. Di sana aku mendapat pengetahuan mengenai akuntansi syariah dan teori akuntansi.

Pada dasarnya, ekonomi syariah itu menyaratkan keseimbangan antara sektor riil dan moneter. Simpelnya, uang tidak boleh berkembang lebih besar dari barang.

Pendekatan yang sering kupakai adalah teori konstruksi pasar saham. Ada 3 bentuk di sana yaitu weak-form, semistrong, dan strong form.

Dalam weak-form, harga di pasar saham mencerminkan harga sesungguhnya. Misal harga air mineral, 1000. Harga di pasar selembar juga 1000. Kalau semistrong, perusahaan tersebut memiliki nilai tambah yang membuat harga sahamnya lebih tinggi. Sedangkan pada strong form, bahkan barangnya belum ada, baru berupa informasi bahwa bulan depan akan ada tambang baru, itu akan menaikkan nilai sahamnya.

Pasar saham yang baik ada dalam bentuk strongform. Padahal dengan pola pikir itu, nilai uang akan berkembang terus-menerus jauh dari kenyataan yang ada saat ini. Harapan dan ekspektasi itulah yang menjadi komoditas, bukan barang sebenarnya.

Harapan dan ekspektasi itulah yang juga ada, karena selain pasar saham, ada juga pasar uang. Uang yang diperdagangkan sehingga kita mengenal fluktuasi kurs.

Dari sini, aku ingin mengatakan bahwa sebenarnya nilai uang itu harus didasarkan pada kehadiran suatu barang. Makanya, kalau mau pinjam ke bank konvensional dan bank syariah, akadnya berbeda. Kalau bank konvensional, yang kita pinjam adalah uangnya. Uang itu yang dikenakan bunga. Sedangkan pada bank syariah, bank yang membelikan kita barang, lalu barang tersebut dijual lagi dengan margin tertentu, yang kemudian kita cicil.

Setelah memahami itu, aku berpikir tentang berhenti dari sebuah produk asuransi P*****SIAL. Selain karena pemahaman itu, ada yang bilang riba itu is a bitch. Kalau kita terjebak riba, akan ada suatu keanehan pada rejeki kita, entah kesehatan atau keuangan. Nah, anakku itu didaftarkan pada asuransi. Dia sering sekali sakit. Aku dapat intuisi, apa ada yang salah dengan asuransi ini?

Kenapa aku berpikir bahwa asuransi ini riba? Asuransi ini ada 3 paket katanya, kesehatan, perlindungan jiwa, dan pendidikan (kalau tak salah).

Nah, balik lagi, bahwa nilai uang harus ada dasarnya. Maka, aku bertanya lagi, apakah tiap anak masuk sekolah, pihak asuransi akan memberi bantuan? Jawabannya tidak.

Sebab begini, kalau benar “asuransi pendidikan”, pihak asuransi harus mendata biaya sekolah di Indonesia. Sehingga setiap kejadian menjadi dasar pembayaran bagi pelanggan. Kalau tidak seperti itu, bahkan mengurangi total premi, namanya “investasi” biasa. Labelnya saja sok-sok asuransi pendidikan.

Mulanya aku menelpon tidak untuk berhenti. Karena sayang juga, berat, udah 2 tahun, 750.000/bulan. Which is, sudah 15 juta uangku di sana. Aku mau pindah ke P*****SIAL Syariah. Sebab kalau kita ke label syariah, meski masih ada ribanya, dosanya ditanggung oleh yang kasih label. Tapi ternyata nggak bisa. Setelah konsultasi dengan orang terdekat, akhirnya kuputuskan berhenti.

Saat berhenti itulah, aku juga memahami value seorang teman. Tadinya aku bergabung dengan asuransi karena pemasarnya teman kuliahku di ITB. Banyak diskusi sudah kulakukan di awal, dan manis-manis semua. Misalnya, manakala dia mengajukan simulasi pengembalian dana yang pesimis, moderat, dan optimis. Saat itu aku protes, kok ratenya gede-gede amat. Ini dijamin gitu bahwa paling rendah ratenya akan segini? Dia dengan percaya diri bilang iya. Dan tak mungkin pesimis. Seburuk-buruknya ya moderat.

Aku peringatkan ya, di hadapan uang, seorang teman bukanlah seorang teman. Ketika berhenti, ia melakukan perhitungan, dan aku kaget karena ratenya tak sampai setengah skenario pesimis. Aku ketawa miris saja mendengarkan alasannya. Padahal sudah kubilang di awal, kalau ada resesi ekonomi macam 2008 gimana, dst. Selain itu, ia tak memberi informasi lengkap tentang biaya macam-macamnya kalau berhenti di tengah-tengah. Sebab aku ingat sekali waktu itu, aku bertanya kalau berhenti tiba-tiba gimana. Ia menjawab, uang akan dikembalikan kok.

Ternyata ia menjawab kalau sudah 24 bulan sudah ga bisa dikembalikan. Padahal, awal aku bilang mau berhenti itu menjelang bulan ke-23, tapi ya dilambat-lambatin biar sudah premi ke-24. Jadi berapa pengembalian yang kuterima? Ya, 2 jutaan.

Bandingkan 15 juta dengan 2 jutaan? Dengan saat itu penghasilanku tak sampai 6 juta sebulan. Berat? Berat banget!

Lalu aku berhenti, dan alhamdulillah anakku jadi jauh lebih sehat. Perubahan yang paling terasa adalah dia jadi mau makan, meski masih lambat dan harus disuruh-suruh.

Termasuk ketika aku pindah ke Jakarta dan hendak membeli rumah. Aku mencari rumah yang tidak mencicil ke bank. Alhamdulillah, meski di kampung, aku dapat rumah yang mencicil langsung ke pengembang. Flat.

Pada mulanya aku juga berpikir kartu kredit adalah riba. Tapi sebagaimana kita tahu, kartu kredit adalah alat ganti pembayaran. Asal tidak kena bunganya (dibayar tepat waktu), ada kajian yang membahas seperti itu, maka boleh-boleh saja. Jadilah aku pakai kartu kredit setelah lama mempelajari soal itu. Kupakai bukan buat belanja aneh-aneh. Hanya untuk keperluan pembayaran tiket dan tagihan yang butuh cepat dibayar.

Tentu, aku menghormati pula yang bilang kartu kredit adalah riba. Memang ada kajian yang demikian. Bahkan bila termasuk saldo Gopay dan sejenisnya adalah riba.

Silakan saja, hidup dengan prinsip masing-masing, asalkan jelas landasannya. Tapi jangan sekali-kali menertawakan prinsip hidup orang lain seakan prinsip hidup kita lebih baik. Toh, kupikir tak ada manusia yang tak ingin jadi lebih baik. Kenapa kita tidak berjalan di atas jalan kebaikan yang kita yakini tanpa perlu menyalah-nyalahkan orang lain?

Menilik Kembali Pencapaian pada Tahun 2018

Akhirnya… ya, akhirnya, pada tahun 2018, aku punya novel yang kutulis sendirian. Judulnya PHI. Penerbitnya Shira Media. Selalu kusebut “kutulis sendirian” karena sebelumnya aku punya novel lain, ditulis berempat. Judulnya 4 Musim Cinta, diterbitkan oleh Exchange.

Lega rasanya mengingat draft awal novel tersebut sebenarnya sudah jadi sejak September 2014. Kuikutkan ke Lomba Novel DKJ 2014.  Masuk nominasi pemenang pula. Namun, jalan terbit begitu panjang. Revisi demi revisi kulakukan. Dipinang, dicampakkan. Hingga akhirnya Shira Media menjadi pelabuhan sesungguhnya.

Setelah novel itu terbit, ada beberapa kejadian yang mengikutinya. Pertama, aku suka mempromosikan bukuku, sehingga aku berkenalan dengan beberapa teman dan komunitas baru. Buku itu pun dibincangkan di Katahati, di Komunitas Literasi Palembang, juga di beberapa grup literasi daring. Berkat Phi pula, aku jadi diwawancarai Majalah Pajak. Meski sayangnya, beberapa rencana bincang proses kreatif masih urung dilakukan seperti rencana di Yogya dengan penerbit, di Bandung, dan di Bogor.

Tahun 2018 pula menjadi tahun yang baik dalam perjalananku sebagai narablog. Berkat informasi dari seorang teman, Anastasya (Mamih), aku mengikuti seleksi Danone Blogger Academy 2018. Dari 600-an pendaftar, terpilih 20 peserta. Aku menjadi salah satunya.

Selama 3 pertemuan kami mendapatkan materi mengenai lingkungan dan kesehatan. Seru. Lalu kami juga melakukan field trip ke Yogyakarta dan Klaten. Tugas akhirnya, kami diminta membuat artikel dengan gaya bercerita plus video pendukung. Aku membuat Bijak Merawat Mata Air.  Alhamdulillah, aku terpilih menjadi salah satu dari 3 pemenang.

Pengalaman menjadi narablog, terutama di Kompasiana, mengantarku mendapatkan nominasi di kategori Fiksi. Aku tak menyangka pula bisa masuk menjadi salah satu dari 5 nominee. Meski tak menang, itu sudah menjadi kebahagiaan tersendiri buatku.

Beberapa tulisan menjadi headline di Kompasiana, dan karena cukup aktif, aku beberapa kali diundang menjadi penulis tamu dalam beberapa kegiatan yang bekerja sama dengan Kompasiana. Hal itu menjadi pengalaman tersendiri buatku.

Dalam lomba menulis, ada beberapa lomba yang kumenangkan. Yang menjadi puncak, meski hadiahnya sedikit, adalah lomba menulis puisi Liksitera Sumsel. Aku juara pertama. Lomba menulis blog Sandisk pun aku masuk menjadi salah satu pemenang, meski hadiahnya ya Sandisk saja. Lumayan. Disyukuri. Lomba menulis cerpen Shira Media, sayangnya, aku hanya menduduki peringkat IV, jadi tak mendapat hadiah apa-apa selain ikut dibukukan dalam antologi cerpen 20 besar.

Tahun ini juga menjadi tahun kembalinya aku menulis di media massa, meski belum aktif benar. Beberapa tulisanku dimuat di media seperti Detik.com, Seluang.id, Koran Serambi Aceh, Solo Pos, dan Pikiran Rakyat. Alhamdulillah. Beberapa kali pula ikut kurasi antologi puisi seperti Negeri Poci, alumni penulis MIWF, Banjarbaru Rainy Day Festival, dan Festival Sastra Gunung Bintan.

Di luar kegiatan kepenulisan, aku terhitung banyak sekali melakukan perjalanan/traveling. Tercatat lebih dari 20 curug/air terjun yang kudatangi pada tahun ini. Mulai dari Curug Ngumpet, Curug Kondang, Curug Batu Ampar, Balong Endah, Curug Nangka, Curug Daun, Curug Kawung, Curug Goa Lumut, Curug Pasir Reunyit, Curug Cigamea, Air Terjun Jumog, Parang Ijo, Grojogan Sewu, Air terjun Goa Petruk, Watu Layah, Curug Aseupan, Curug Gelosor, Curug Putri, Curug Tilu, Curug Bugbrug, Leuwi Hejo, Leuwi Lieuk, Cibaliung, dan Curug Cipanas Nagrak.

Tentu saja ada juga banyak kesedihan ataupun kegagalan. Tapi, aku tak tertarik membicarakan itu. Bukankah membagi kebahagiaan itu lebih baik?

Milan Kundera dan Pandangan Terhadap Fiksi

Milan Kundera, penulis berkebangsaan Ceko yang  memandang dirinya sebagai penulis sastra Perancis, adalah nama yang akan ditemui siapa pun yang menggeluti sastra. Karena imajinasinya yang memiliki daya pakau tersendiri, ia selalu disebut dalam “peta sastra dunia”, penulis yang memang kita harus baca karya-karyanya.

Banyak orang membahasnya. Aku baca satu kemarin. Peter Kussi menulis “Milan Kundera: Dialog dengan Fiksi”.

Dalam tulisannya itu, Kussi menyebutkan bahwa Milan Kundera menulis fiksi untuk mengajukan pertanyaan. Dapatkah fiksi yang ia tulis benar-benar terjadi? Kundera menguliti dan menginterogasi karakter-karakter fiksinya sedemikian rupa sehingga para pembacanya juga akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada diri mereka sendiri.

Kundera mengonstruksi ceritanya dengan narasi investigatif. Ia menggunakan berbagai teknik narasi. Kadang menggunakan narator jamak sehingga menghasilkan sudut pandang yang jamak pula.

Bukunya yang paling terkenal, The Book of Laughter and Forgetting, menyajikan kekontrasan yang luar biasa. Saat tank Rusia menyerbu negaranya, Sang Ibu malah berpikir tentang buah pir yang dijanjikan ahli farmasi.

Kita jadi bertanya, mana yang lebih penting antara tank dan buah pir?

Secara tidak langsung, Kundera ingin mengatakan bahwa novel sesungguhnya tidak menggambarkan realitas, tetapi lebih kepada eksistensi. Eksistensi bukanlah tentang apa yang terjadi, tetapi apa yang mungkin terjadi. Fiksi adalah bangunan dari berbagai kemungkinan yang bisa dilakukan manusia.

Dunia di dalam fiksi berbeda dengan dunia nyata. Manusia di dalam fiksi juga berbeda dengan manusia. Diistilahkan dengan homofictus. Beberapa penulis membangun dunia dan karakter fiksi ke arah yang ekstrem. Bagi mereka, tidak ada yang moderat di dalam fiksi. Dunia yang ekstrem itulah yang menyebabkan para homofictus memiliki pikiran/tindakan yang ekstrem pula.

Manusia tidak bisa hidup tanpa perasaan, tapi saat mereka menganggap nilai dalam diri mereka sendiri, ukuran tentang kebenaran, sebagai pembenaran atas suatu perilaku tertentu, mereka menjadi menakutkan. Sentimen nasional yang paling mulia telah siap berdiri untuk melegitimasi sebuah kengerian terbesar, dan manusia, dadanya kian membengkak dengan semangat yang liris, melakukan kekejaman atas nama cinta yang kudus.

Ketika perasaan menggantikan rasionalitas, mereka menjadi dasar untuk tidak adanya ke-sepengertian, untuk intoleransi; mereka menjadi seperti apa yang dikatakan Carl Jung, “brutalitas suprastruktur”.

Dunia adalah medan kemungkinan dan pertanyaan. Ia hendak melawan dunia yang dogmatis yang begitu saja diterima tanpa ada pertanyaan-pertanyaan. Perlawanan Kundera dengan satirnya, melawan orang-orang yang tak bisa tertawa, mereka yang tak percaya kemungkinan, menolak pencarian, dan mengharamkan pertanyaan. Yang kedua, untuk melawan mereka yang menerima ide-ide dan gagasan tanpa berpikir. Dan yang ketiga adalah untuk melawan kitsch, yaitu mereka yang menyalin kebodohan setelah menerima ide dan gagasan tanpa berpikir ke dalam bahasa keindahan dan perasaan.

Esai lain yang menarik, kali ini ditulis oleh Milan Kundera sendiri, berjudul  An Introduction to a Variation. Dalam esai ini, Kundera tegas mengkritik kebudayaan zaman sekarang. Menurutnya, pekerja sastra atau seni lain melakukan pendekatan serba meringkas yang merupakan refleksi sesungguhnya dari akar kecenderungan di zaman kita.

Peringkasan itu, menurut saya, adalah juga kecenderungan untuk simplifikasi masalah/gagasan dalam kekaryaan. Peringkasan itu juga yang mengakibatkan kedangkalan. Sehingga bisa kita baca, beberapa karya sastra kita kini, terutama yang membawakan “masa lalu” dinarasikan dengan satu arah saja dan cenderung sempit.

Kundera tidak setuju bahwa fiksi (terkhusus novel) telah kehabisan segala bentuk kemungkinan-kemungkinannya. Saya setuju bahwa begitu banyak kemungkinan-kemungkinan yang luput dari prosa. Ada banyak hal yang luput dieksplorasi. Bahkan dalam konteks ke-Indonesiaan, ada banyak dunia yang belum disambangi.

Hal yang bisa kita pelajari dari membaca karya dan proses kreatif Milan Kundera  bahwa menulis adalah usaha menemukan dan menjelajahi kemungkinan-kemungkinan baru dengan semangat satir dan ironi, yang seringkali bertujuan mengejek klaim-klaim kebenaran mutlak.

Beda Pengertian Resensi, Sinopsis, Blurb, dan Review Buku

Pernah nggak kamu ditanya orang, “Eh, lihat dong sinopsis bukumu? Itu lho yang ada di belakang buku….”

Banyak yang tidak tahu, tulisan yang ada di belakang buku bukanlah sinopsis, melainkan blurb. Sinopsis adalah ringkasan cerita sebuah novel. Kita kudu menceritakan isi novel secara ringkas/pendek  tanpa mengesampingkan unsur-unsur intrinsik novel tersebut. Sinopsis menceritakan alur cerita secara lengkap. Awal cerita, konflik cerita, peyelesaian konflik. Sinopsis juga menjelaskan secara lengkap siapa tokohnya, karakter tokoh, dan setting./latar.

Sedangkan blurb, yang berada di sampul belakang buku, adalah konten promosi yang menceritakan potongan cerita, yang dibuat sedemikian rupa sehingga menarik calon pembaca untuk membelinya. Blurb tentu tidak akan menceritakan akhir cerita. Ia tentu saja hendak membuat pembaca merasa penasaran.

Sementara itu, resensi berasal dari bahasa Latin yaitu revider/recensere/recensio yang berarti menimbang atau menilai sebuah tulisan atau buku. Resensi dilakukan untuk mengkaji kembali isi buku, membahasnya, bahkan memberikan kritik dan saran tentang suatu buku. Biasanya resensi berisi tentang kelebihan, kekurangan, dan informasi ringkas mengenai sebuah karya.

Resensi buku memiliki format penulisan yang baku, biasanya mencakup judul buku, data buku seperti penulis, penerbit, tahun terbit, jumlah halaman, dan harga, pengenalan singkat penulis, isi buku secara ringkas, penilaian, serta kesimpulan. Saat menulis resensi, hampir keseluruhan buku akan dibahas, mulai dari cover, gaya penulisan, hingga jenis kertas.

Sedangkan Review berarti mengolah referensi, membandingkan dan memberi pendapat pribadi berdasarkan referensi ilmiah, serta menyimpulkan isi buku dengan pendapat pribadi. Bisa dibuat dalam bentuk esai atau opini. Di sini kita memberikan pandangan mengenai isi buku yang telah dibaca.

Kang Emil, Tolong Selamatkan Curug Cipanas Nagrak!

Bayangan Curug Cipanas Nagrak yang indah itu sirna ketika kutapakkan kaki di sana. Padahal sudah kusengajakan diri tidak mandi dulu agar bisa berendam di curug mini berair panas tersebut. Tidak seperti foto-foto yang banyak diunggah di media sosial, Curug Cipanas Nagrak tak terurus. Kotor sekali. Sampah di mana-mana. Jijik melihatnya.

Curug Cipanas Nagrak

Kecurigaan akan buruknya Curug Cipanas Nagrak sudah mulai terasa ketika kami sampai di lokasi. Pada papan penunjuk yang pertama, tertera tulisan curug ditutup karena sudah tak dikelola sejak November 2018. Namun, warga mengarahkan kami naik beberapa puluh meter lagi, dan nampak keramaian di sana.

“Curugnya tak dibuka lagi?” tanya saya ke salah satu warga.

Ia tidak menjawab, dan malah mengarahkan saya untuk memarkirkan motor. “Parkirnya 10.000. Biaya masuknya gratis. Bebas,” katanya.

“Curugnya masih bisa dikunjungi?” tanya saya lagi.

“Iya, silakan,” jawabnya.

Kami pun menuruni jalan tanah. Tampak saung-saung dengan kolam-kolam di depannya. Yang mengherankan kok saung-saung itu tidak ada penjaganya. Dari kejauhan, tampak pula orang-orang ramai berkerumun, berendam di kolam di depan curug. Pemandangan yang indah dari kejauhan.

Namun sayang, keindahan itu hanya ada di kejauhan. Begitu kami mendekat, kolam pertama sudah tampak kumuh, Cokelat. Tidak biru seperti di foto-foto. Beberapa sampah tampak di sisi-sisinya.

Curug Cipanas Nagrak

Kami yang sudah beli sarapan di Dago, mencari saung-saung. Selera makanku mendadak lenyap melihat sampah-sampah bertumpuk dikerumuni lalat-lalat. Dan heran melihat sejumlah orang, masih santai berkumpul makan di dekatnya,

Kudekati curug utama dan kolam di depannya. Orang-orang berendam di sana. Menanti diguyur aliran air terjun. Namun, di depannya pemandangan tak tahan kulihatnya. Air tampak kehijauan penuh kotoran.

Curug Cipanas Nagrak

Sungguh, sayang sekali, Curug Cipanas Nagrak di Parongpong ini harusnya bisa jadi destinasi keren, mengingat keunikannya, curug air panas. Dikelilingi tempat yang asri pula. Aku membayangkan andai ia bisa dikelola seperti Curug Tilu Leuwi Opat, pasti bakal keren banget.

Setelah kucari informasi via Google, katanya terhitung mulai tanggal 22 November 2018 wisata alam yang sedang hits di Kabupaten Bandung Barat Tersebut akan diperbaiki dan Direnovasi demi memberikan pelayanan dan kenyamanan yang lebih untuk setiap tamu yang datang. Namun, belum diketahui kapan destinasi wisata ini bisa kembali dinikmati oleh pengunjung. Pas ke sana kemarin, tak ada tanda-tanda perbaikan pun.

Bisa nggak ya, Kang Emil, pengelolaannya diambil alih Pemprov Jabar saja gitu? Pasti kalau Kang Emil yang pegang, bakal jadi keren banget.

 

Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan