Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan

Recent Posts

Pantai Leppu di Labangka, Pantai Terindah di Sumbawa

Pantai Leppu di Labangka, Pantai Terindah di Sumbawa

  Tak bisa kulupakan perjalanan tiga tahun silam. Atas petunjuk Bung Koesnady Deo, teman-teman Adventurous Sumbawa melakukan perjalanan ke daerah Labangka. Tepatnya Labangka III. Di sana ada pantai tersembunyi yang indah sekali dengan garis pantai yang begitu panjang. Namanya pantai Leppu. Dinamakan Leppu sesuai dengan […]

Tak Ada Alasan untuk Tak Menulis

Tak Ada Alasan untuk Tak Menulis

Seperti yang kita ketahui bersama, ada 4 kemampuan berbahasa, yakni menyimak, membaca, menulis, dan berbicara. Keempat hal tersebut seharusnya berurutan. Dua hal pertama adalah dasarnya. Namun, dua hal terakhir kadang terjadi anomali. Ada orang yang mampu lancar berbicara, namun mengaku tak bisa menulis. Segalanya terkait […]

Tiga Curug di Bogor: Curug Nangka, Curug Daun, dan Curug Kawung

Tiga Curug di Bogor: Curug Nangka, Curug Daun, dan Curug Kawung

Curug Kawung
Curug Kawung

Perjalanan sejauh 31 km kurang-lebih dari Kampung Baru Citayem itu terbayar dengan keindahan tak terperi. Panorama pegunungan yang serba hijau terbentang di sepanjang jalan. Udara dingin pun seperti seorang kekasih yang lama tak bertemu, yang langsung memberi pelukan terbaiknya ketika motor yang kukendarai mulai mendaki menuju Curug Nangka.

Kakak keempat sedang berkunjung dari Palembang. Aku pun mengajaknya jalan-jalan. Pilihan jatuh ke Curug Nangka karena jarak tempuhnya masih dapat diterima dari rumah dengan motor. Dan merujuk ke Google Maps, rutenya tidak terlalu sulit. Selain itu, di area tersebut, tidak hanya ada satu curug, melainkan ada tiga curug. Curug Nangka, Curug Daun, dan Curug Kawung. Satu kali mengegas, tiga curug terkunjungi.

Lokasinya berada di Desa Warung Loa, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, di lereng kaki Gunung Salak. Lokasi ini berada di ketinggian sekitar 750 m di atas permukaan laut.

Begitu sampai di lokasi, kami dihampiri penjaga. Tiket masuk resmi per orang Rp7.500,- (ada karcisnya). Lalu, parkir motor kami diminta Rp5.000,- (juga diberi karcisnya). Namun, ada biaya lain yang diminta sejumlah Rp30.000,- oleh petugas berpakaian hijau-hijau. Saya sama sekali tak tahu peruntukannya. Saya jadi teringat dosen seminar keuangan publik. Ia adalah tipe orang yang tidak mau membayar parkir jika tak ada karcisnya. Karena menurutnya, parkir termasuk retribusi ke daerah. Tanpa karcis, uang itu tidak akan masuk ke kas daerah (ditilep oleh peminta uang parkir). Hal seperti ini tak boleh dibudayakan. Sayangnya, saya tak mau mendebat petugas yang tak memberikan karcis itu. Malas.

Nuansa sejuk menyelimuti kawasan ini. Pohon pinus tumbuh begitu tinggi. Terlihat beberapa ekor monyet liar di sekitar. Namun, kawasan ini terlalu ramai bagi saya. Begitu banyak penjaja makanan. Sedikit kecewa ketika melihat di beberapa titik ada sampah yang dibuang sembarangan.

Untuk mencapai curug, kita harus melakukan treking dari parkiran. Jalannya sedikit mendaki. Urutannya dari yang terdekat adalah Curug Nangka, Curug Daun, barulah Curug Kawung. Curug Nangka berada di dalam lembah. Saya memutuskan untuk ke Curug Daun terlebih dahulu, lalu melanjutkan ke Curug Kawung, baru turun lagi ke Curug Nangka sekalian pulang.

Curug Daun

Bersama kakak di Curug Daun

Curug Daun tidak terlalu tinggi. Bisa dibilang keunikan curug ini adalah formasi bebatuannya. Saya tidak tahu apakah dibuat atau tidak, namun bebatuannya membentuk beberapa kolam kecil yang bertingkat-tingkat sehingga sangat asik diberendami. Dinamakan Curug Daun karena bentuk pancurannya melengkung seperti daun. Tingginya pun hanya sekitar 6 meter. Namun, alam tetap jangan diremehkan. Batu-batunya licin. Jadi, kita tetap harus berhati-hati.

Curug Kawung
Selfie di Curug Kawung

Curug Kawung berada di hulu, sekitar 100-200 m dari Curug Daun. Karena lebih tinggi keberadaanya, curug ini lebih sepi. Pengunjung yang berkeluarga biasanya hanya sampai di Curug Daun. Diberi nama Kawung karena bila musim hujan tiba, saat debit air tinggi, sentuhan air dan bebatuan itu akan mengeluarkan suara wung wung. Jadi Kawung. Tinggi curug ini sekitar 25 m. Airnya pun lebih cenderung mengalir di bebatuan. Saat menikmatinya, ada mitos yang menyarankan kita mencuci muka dan meminum airnya. Orang yang mandi atau berendam di sini pun akan memiliki kekuatan seperti harimau. Kharismatik, disegani, juga disayang.

Curug Nangka

Terakhir, Curug Nangka. Dinamakan demikian karena dulunya ada pohon nangka sebesar gulungan kasur berada di dekatnya. Untuk mencapai curug ini ada 2 jalan. Bisa melewati jalan di sisi sungai. Namun, jalan turunnya yang langsung ke dekat curug sangat terjal. Saya pilih jalan yang menelusuri sungai dalam celah yang cukup sempit biar kerasa aura petualangannya. Namun, jalan ini menyimpan bahaya yang lebih besar. Jika ada air bah datang, maka hanya kepada Tuhanlah kamu bisa berharap.

Jalan di Lembah ke Curug Nangka
Jalan di Lembah ke Curug Nangka

Curug Nangka memiliki banyak cerita. Warga setempat percaya di curug ini ada ruangan misterius. Ada suatu lubang, yang dapat menembus sampai ke daerah Cipatuhunan, Kute Maneh, Sukabumi. Ruangan tersebut juga biasa dijadikan tempat bersemedi oleh para pemuka agama. Jalan turun terjal menuju curug tadi pun menyimpan cerita. Konon, barangsiapa yang bisa turun dengan selamat, tanpa jatuh akibat terpeleset itu tandanya dia adalah seorang yang sangat mencintai dan menghargai lingkungan. Dan dilarang pula melamun atau pikiran kosong karena tak jarang ada pengunjung yang kesurupan di curug ini.

Sungguh, dengan lokasinya yang relatif mudah dijangkau, kesegaran alamnya, dan pemandangan tiga curug yang memukau ini, saya merekomendasikan kamu datang atau berkemah kemari. Dan kalau bisa jangan akhir pekan atau hari libur agar dapat kamu saksikan secara purna keindahan dan merasakan kekhusukan bercengkerama dengan alam.

Mengapa Harus Defisit Anggaran?

Mengapa Harus Defisit Anggaran?

Seberapa Penting Defisit Anggaran?   Pada masa Depresi Besar, teori klasik ataupun neo klasik tak dapat menyelesaikan persoalan. Keynes datang membawa solusi. Pada masa resesi, anggaran berimbang atau surplus tidak dapat diterapkan. Pemerintah haruslah menerapkan defisit anggaran. Kini, defisit anggaran diterapkan hampir di setiap negara. […]

Membaca Peci Miring, Membaca Masa Kecil Gus Dur

Membaca Peci Miring, Membaca Masa Kecil Gus Dur

  Bagaimana perasaan seorang bocah lelaki berusia 5 tahun ketika kehilangan kakek yang sangat dekat dengannya? Dan bagaimana pula, ketika belum lulus sekolah dasar, bocah itu juga kehilangan ayahnya? Kakeknya bernama Hasyim Asy’ari. Ayahnya bernama Wahid Hasyim. Dan bocah itu bernama Abdurrahman Ad-Dakhil yang kelak […]

Sejumlah Pertanyaan Tentang Cinta

Sejumlah Pertanyaan Tentang Cinta


Puisi | Sejumlah Pertanyaan tentang Cinta

apakah kamu masih mencintaiku, meski suatu hari
aku tak lagi menulis puisi untukmu
lirik-lirikku berubah menjadi, mengenai orang mati
yang tak bersalah, dan mungkin sedang ditunggu kekasihnya
memikirkan puasa besok akan bersahur dan berbuka dengan apa
tetapi lalu ia tak lagi ada di dunia, dan hanya
menghiasi setiap pemberitaan
yang tak pernah benar-benar memikirkan kemanusiaan?

aku menjadi lupa padamu, dan teringat banyak hal
yang lebih penting kutuliskan
daripada terus-terusan memuja segala hal yang ada padamu
toh, kecantikanmu akan tetap kecantikanmu
tak akan hilang atau berkurang meski kutuliskan atau tidak kutuliskan
sementara orang mati, meski tak akan hidup lagi
membuatku merasa suatu hari aku akan mati
dan saat itu, aku tak akan lagi bertemu denganmu
mati tua atau mati muda–yang tak pernah kita tahu
adalah kepastian

apakah kamu masih mencintaiku, meski suatu hari
ada perpisahan
yang tak mungkin kita hadapi dengan bahagia?

aku akan tetap cinta padamu, meski aku tak tahu
akan berubah menjadi macam apa nantinya
atau aku kehilangan kemanusiaanku sendiri