Lebih dari Sekadar Kisah Cinta

Catatan Pembacaan atas Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk

Dapatkah karya sastra mengubah zaman? Pertanyaan itulah yang tercetus di benakku ketika selesai membaca Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Barangkali, jika tak ada novel ini, akan sangat sulit bagi seseorang di luar Minangkabau untuk menikahi perempuan Minangkabau.

Perempuan memang memegang peranan penting dalam adat Minangkabau. Minangkabau menganut sistem matrilineal. Artinya, garis keturunan didasarkan pada ibu. Hal ini juga mengandung konsekuensi warisan adat diturunkan ke anak perempuan tertua terlebih dahulu. Atau yang lebih dikenal dengan istilah bundo kanduang. Dapat dianggap sebagai kemalangan, jika tidak memiliki anak perempuan. Garis sukunya akan terputus.

Yang dialami oleh Zainuddin lebih pelik lagi. Ayahnya tercampak dari tanah adat, lalu menikahi perempuan Makassar. Meski memiliki darah Minang, Zainuddin tak dianggap Minang. Ia tidak memiliki suku. Hal itu diungkapkan Zainuddin dengan berkata, “Di Makassar aku dianggap orang Minangkabau, di Minangkabau aku dianggap orang Makassar.”

Tradisi pernikahan dalam adat Minangkabau juga tidak sederhana. Peran ninik-mamak begitu penting. Hubungan antara mamak (saudara laki-laki ibu) dengan kemenakannya begitu erat. Mamak berkewajiban mendidik sang kemenakan. Mamak juga yang berperan penting dalam musyawarah untuk memutuskan calon suami bagi kemenakannya. Keputusan orang tua dan mamaklah yang menentukan apakah seorang lelaki diterima atau tidak jadi menantu di keluarga itu. Hal ini diperlihatkan tatkala Zainuddin melamar Hayati. Para ninik-mamak bermusyawarah untuk menghasilkan keputusan menolak Zainuddin.

Latar peristiwa Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk adalah pada tahun 1930. Kini, 86 tahun sudah berlalu. Pembaca di luar Minangkabau pasti bertanya-tanya, apakah adat Minangkabau masih seperti itu?

Ninik Mamak merupakan salah satu unsur pemerintahan nagari. Ketika Orde Baru berkuasa, fungsi Ninik Mamak digantikan Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD). Selama masa 30 tahun lebih di Orde Baru itu, tentu ada pergeseran-pergeseran yang terjadi. Ada yang positif semisal peran absolut ninik-mamak menjadi lebih fleksibel, ada juga pengaruh negatif karena fungsi pengawasan keluarga yang hilang mengakibatkan perubahan tingkah laku generasi muda. Karena itu, baru ketika reformasi, pada UU Otonomi Daerah, peran Ninik Mamak dikembalikan lagi dalam unsur pemerintahan.

Ketika saya menikahi perempuan Minang, beberapa hal yang tergambar di Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk pun saya alami. Ketika Zainuddin hendak melamar Hayati, haruslah via induk bako, atau saudara perempuan dari ayahnya. Saya yang non-Minangkabau sebelumnya harus memiliki keluarga, memiliki suku terlebih dahulu. Jadilah saya diangkat anak dan mendapat suku Chaniago. Tinggal beberapa hari di rumah Chaniago sebelum melangkah ke prosesi selanjutnya. Keluarga baru sayalah yang kemudian melamar ke Ninik Mamak.

Sebenarnya, di tiap nagari, detail adat itu berbeda-beda. Hayati berada di Batipuh. Batipuh dikenal dengan semboyan Batipuah Nagari Gadang Sapuluah Anak Kotonya Campo Koto Piliang yang berarti bahwa Batipuh merupakan negeri yang sangat luas dan sangat tegas nan kuat dalam adat istiadat Koto Piliang. Ketegasan itu tergambar jelas di novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wejk. Dalam relasi Zainuddin-Hayati pun tidak pernah terjadi hal-hal yang melanggar aturan agama. Di Minangkabau juga dikenal semboyan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Adat bersendikan syarat, syarat bersendikan kitab suci. Kita dapat melihat, meski dimabuk cinta, Zainuddin tidak pernah menyentuh Hayati. Mereka berbalas-balasan surat dan surat itu diantarkan oleh orang ketiga. Ketika mereka tampak berkhalwat (berdua-duaan), hal itu serta merta menjadi hal tak disedap dipandang mata. Dengan cepat, hal itu menjadi isu yang negatif dan mengundang kemarahan dari keluarga Hayati.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk juga menunjukkan tradisi sastra yang kuat di Minangkabau. Dalam prosesi adat seperti Balatak Tando, dua pihak keluarga akan bersahut-sahutan pantun. Dalam surat-surat Zainuddin dan Hayati, kita juga menemukan bahasa yang indah. Pun di dalam novel ini, ada banyak kalimat yang indah dan membius.

“Cinta bukan melemahkan hati, bukan membawa putus asa, bukan menimbulkan tangis sedu sedan. Tetapi cinta menghidupkan pengharapan, menguatkan hati dalam perjuangan menempuh onak dan duri penghidupan.”
“Anak lelaki tak boleh dihiraukan panjang, hidupnya ialah buat berjuang, kalau perahunya telah dikayuhnya ke tengah, dia tak boleh surut palang, meskipun bagaimana besar gelombang. Biarkan kemudi patah, biarkan layar robek, itu lebih mulia daripada membalik haluan pulang.”
“Kadang-kadang cinta bersifat tamak dan loba, kadang-kadang was-was dan kadang-kadang putus asa.”
“Kalau pikiran tertutup bagaimana mungkin bisa mengarang?”
“Sejauh-jauhnya kita tersesat, pada kebenaran kita akan kembali.”

Ada banyak kalimat lain yang dapat membuat pembaca terpiuh-piuh di novel tersebut. Saya menduga kecenderungan keindahan bahasa di suatu wilayah juga dipengaruhi kondisi geografi wilayah tersebut. Misal, di Makassar pesisir, orang dikenal keras bahasanya karena geografinya berupa pesisir pantai. Orang harus berteriak-teriak mengalahkan deru ombak untuk bisa didengar. Di Palembang, panas, dan antarrumah berjauhan sehingga harus berteriak untuk memanggil satu sama lain. Minangkabau dianugerahi keindahan alam yang luar biasa. Sepanjang mata memandang, tampak hijau persawahan. Tanah yang subur, udara yang sejuk. Tak heran, bahasanya pun menjadi indah.

~
Apakah karya sastra itu?

Sering saya mendapatkan pertanyaan seperti itu. Banyak orang mengatakan teenlit bukan sastra, chicklit bukan sastra, pop bukan sastra. Bagi saya hal itu keliru. Karya sastra adalah karya yang merekam zaman, atau karya yang hadir sebagai reaksi dari zaman. Senada dengan hal itu, di dalam kitab Sutasoma dikatakan, kurang-lebih, susastra adalah sebuah kolam yang bening, yang memantulkan bulan dengan sempurna. Kalimat itu bisa berarti karya sastra mampu menampilkan wujud zaman apa adanya, secerah dan seburuk mungkin. Segala sesuatu yang ditulis memiliki dasar. Dan kolam yang bening, bisa digunakan untuk bercermin.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk tak dinafikkan adalah karya sastra yang baik. Meski dalam sejarahnya, novel ini sempat dituduh hasil plagiasi—yang kemudian dibela oleh HB Jassin, dkk. hal itu tak menutupi kecemerlangannya.
Novel ini bukan kritik atas adat Minangkabau, melainkan kritik atas pergeseran penerapan adat di Minangkabau terutama pada hal yang berbau materi. Ninik mamak, dalam hal menerima calon menantu, seharusnya hanya melihat syarat utama yakni apakah sang lelaki sudah memiliki pekerjaan, apakah sang lelaki tampak bertanggung jawab dan apakah perempuan menerima sang lelaki. Dalam kasus Zainuddin yang tidak memiliki suku, adat memungkinkan pemberian suku kepada Zainuddin (seperti yang saya alami). Novel ini membabarkan bahwa kepentingan materialisme itu ada dalam kedok adat. Azis dipilih karena keterpandangannya, hartanya.

Kritik Hamka yang kedua terlihat pada kelakuan anak muda di perkotaan yang mulai meninggalkan agama. Relasi itu terlihat pada Khadijah, sahabat Hayati, yang tidak mengenakan baju kurung dan mengatakahn pakaian adat sudah tidak modern. Modernitas harus muncul juga dalam penampilan. Pemberian nama Khadijah sendiri punya arti penting. Hamka seolah ingin menampilkan ironi di antara nama dan perbuatan. Hamka ingin menampilkan wanita modern seharusnya seperti Khadijah (istri Rasulullah) yang merupakan pengusaha sukses, namun tetap menjadi wanita yang mulia.

Kritik ketiga, Hamka juga ingin berkata, tak pernah ada ujung yang baik dari hedonisme, dari judi dan utang. Azis yang terjebak dalam kehidupan hura-hura, bermain judi dan terlilit utang pada akhirnya harus kehilangan segalanya.

Kritik-kritik itu berhasil ditempatkan dengan baik oleh Hamka, sebagai sari dari cerita. Ia tidak menggurui. Ia berhasil membawa pembaca dalam ketegangan yang intens di sepanjang cerita. Maka, tak salah jika dikatakan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk adalah karya sastra terbaik Buya Hamka.

Lalu apakah karya sastra dapat mengubah zaman?
Pertanyaan ini hanya akan bisa dijawab oleh waktu. Dalam hal, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, sepertinya iya.

(2016)

Lomba Menulis Cerpen dan Cerber Femina 2016

Syarat Umum Sayembara Cerpen dan Cerber femina 2016/ 2017:

Peserta adalah Warga Negara Indonesia.
Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar, menggunakan ejaan yang disempurnakan.
Naskah harus karya asli, bukan terjemahan.
Tema bebas, namun sesuai untuk majalah femina.
Naskah belum pernah dipublikasikan di media cetak, elektronik dan online, dan tidak sedang diikutsertakan dalam sayembara lain.
Peserta hanya boleh mengirim 2 naskah terbaiknya.
Hak untuk menyiarkannya di media online ada pada PT Gaya Favorit Press.
Redaksi berhak mengganti judul dan menyunting karya.
Naskah yang tidak menang, namun memenuhi syarat, akan dimuat di femina.
Penulis akan mendapat honor sesuai standar femina.
Keputusan juri mengikat, tidak dapat diganggu gugat, dan tidak ada surat-menyurat.
Lomba ini tertutup untuk karyawan Femina Group.
Naskah dikirim ke : Redaksi Femina, Jl. H.R. Rasuna Said Kav. B32-33, Kuningan, Jakarta Selatan, 12910

Syarat Khusus Cerpen :

Diketik dengan komputer di atas kertas HVS kuarto dengan jarak dua spasi. Font Arial ukuran 12.
Panjang naskah 6-8 halaman, dan dikirim sebanyak dua rangkap disertai 1 (satu) CD berisi naskah.
Naskah dilampiri formulir asli dan fotokopi KTP.
Pada amplop kiri atas ditulis: Sayembara Mengarang Cerpen Femina 2015.
Naskah ditunggu selambat-lambatnya 1 Oktober 2016.
Pemenang akan diumumkan di majalah femina yang terbit pada bulan November 2016.

Syarat Khusus Cerber :

Diketik dengan komputer di atas kertas HVS kuarto dengan jarak dua spasi. Font Arial ukuran 12.
Panjang naskah 40-50 halaman.
Dijilid dan dikirim sebanyak dua rangkap disertai 1 (satu) CD berisi naskah.
Naskah dilampiri formulir asli dan fotokopi KTP, serta sinopsis cerita.
Pada amplop kiri atas ditulis : Sayembara Mengarang Cerber Femina 2015/2016.
Naskah ditunggu selambat-lambatnya 30 November 2016.
Pemenang akan diumumkan di majalah femina yang terbit pada bulan April 2017.

Hadiah Lomba :

Sayembara Cerpen*
Pemenang 1 : Rp4.000.000
Pemenang 2: Rp3.000.000
Pemenang 3: Rp2.000.000
Sayembara Cerber*
Pemenang 1 : Rp7.000.000 + Beasiswa Workshop Menulis Skenario dari Plot Point + Profil di Majalah Femina
Pemenang 2 : Rp6 .000.000 + Beasiswa Workshop Menulis Skenario dari Plot Point
Pemenang 3 : Rp5.000.000 + Beasiswa Workshop Menulis Skenario dari Plot Point

Formulir Pendaftran bisa didownload klik di sini (Download, Print, lalu isi dan sertakan pada saat pengiriman Naskah)

Info Lebih Lanjut dan Lengkap Silahkan Hubungi :
Website : www.femina.co.id
Twitter : @FeminaMagazine
Facebook : Femina Magazine Indonesia
Instagram : @feminamagazine

Infratruktur dan Struktur Belanja Pemerintah

Tahukah kita bahwa rel kereta pertama dibangun di Kemijen (Semarang) pada 17 Juni 1864. Proyek tersebut dilaksanakan oleh NISM (Nederlands Indische Spoorweg Maatschappij) guna memfasilitasi pengiriman tembakau,, nila dan gula yang merupakan barang ekspor dari Yogyakarta dan Surakarta agar cepat sampai di pelabuhan Semarang.

Kesadaran Belanda dalam pembangunan infrastruktur begitu baik. Belanda juga mulai membangun rel kereta api di Sumatra pada tahun 1876 dan juga di Sulawesi pada tahun 1923. Jaringan rel kereta api dipilih karena kereta apilah moda transportasi yang paling aman, paling cepat dan paling bebas hambatan saat itu. Bahkan hingga kini, di negara-negara maju, kereta api adalah pilihan utama pemerintah dalam menyediakan transportasi massal bagi masyarakatnya.

China misalnya, punya 91.000 km rel kereta api. India punya 65.000 km rel kereta api. Indonesia bagaimana? Indonesia punya sekitar 6700 km rel dan yang beroperasi hanya sekitar 4700 km. Mirisnya, sebagian besar rel kereta api itu adalah peninggalan zaman Belanda.

Struktur Belanja Pemerintah

Rel kereta api hanyalah salah satu cerminan bagaimana pembangunan infrastruktur yang dilakukan oleh pemerintah selama ini. Daerah-daerah di luar Jawa bisa dikatakan sangat minim kemajuan di bidang infrastruktur bahkan sejak reformasi dimulai. Hal itu terjadi bukan karena keengganan pemerintah dalam membangun infrastruktur, melainkan karena ruang fiskal yang begitu terbatas.

Kita bisa lihat pada tahun 2009. belanja infrastruktur kita adalah sekitar 76,3 Trilyun. Pada tahun 2010, belanja infrastruktur naik sedikit menjadi 86 Trilyun. Pada tahun 2011, 114,2 T. Pada tahun 2012 145,5. Sedangkan pada tahun 2013, 184,3 T. Perbandingan belanja infrastuktur terhadap PDB Indonesia bahkan kalau jauh dari negara-negara di ASEAN. Kita hanya berada di atas Filipina dan Vietnam.

Ruang fiskal yang terbatas itu tak bisa dihindari karena banyaknya mandatory spending atau belanja yang sudah diamanatkan undang-undang, termasuk betapa banyaknya kategori belanja pegawai (51): gaji dan pensiun pegawai negeri. Pemerintah juga dihadapkan pada pilihan untuk mengalokasikan anggaran pada belanja subsidi bahan bakar yang pernah mencapai 276 Triliun. Baru pada pemerintahan kali ini, kebijakan itu berubah. Kebijakan pemberian subsidi itu pun dikurangi hingga hanya sekitar 80 Triliun menyebabkan adanya uang tabungan bersih sekitar 186 Trilyun. Dari situlah kemudian pemerintah mendapatkan tambahan anggaran infrastruktur. Dan pada tahun 2016 ini anggaran infrastruktur kita lebih dari 300 Trilyun.

Kebijakan ini bisa dikatakan sebagai keberuntungan pemerintah karena di saat yang sama harga minyak dunia relatif rendah. Saya tidak tahu nanti, jika harga minyak dunia meroket seperti zaman SBY, pilihan seperti apa yang akan dilakukan oleh pemerintah.

Lantas Apa Gunanya Belanja Infrastruktur?

Positifnya adalah di pemerintahan baru ini pembangunan infrastruktur marak dibicarakan. Adanya tol laut membutuhkan pembangunan dermaga-dermaga baru. Kereta api jalur Sumatra dan Sulawesi juga serius dihitung yang investasinya setidaknya membutuhkan anggaran total sekitar 60 triliun. Pembangunan kereta api cepat Jakarta-Bandung seakan ingin menjawab betapa sudah tidak akomodatifnya perjalanan melalui mobil yang setiap hari di diancam kemacetan sedemikian parah.

Belanja infrastruktur juga terbukti berkorelasi positif dengan pertumbuhan ekonomi dengan catatan belanja infrastuktur tersebut diarahkan pada pendukung pertumbuhan ekonomi seperti kegiatan-kegiatan dalam bidang kedaulatan pangan (Rp25,8 triliun), energi ketenagalistrikan (5,0 triliun), kemaritiman (15,3 triliun), pariwisata dan ekonomi kreatif (Rp2,1 triliun) serta kegiatan industri (Rp1,6 triliun). Baik itu didanai APBN, public private partnership, atau bentuk kerja sama lain yang sifatnya b to b, sungguh pembangunan infrastruktur saat ini sangat diperlukan.

Di luar Jawa, yang sudah sangat lama diabaikan, pembangunan infrastruktur utama adalah harga mati (gedung sekolah, rumah sakit, dll). Sementara data juga menunjukkan infrastruktur di lima provinsi utama di Indonesia seperti DKI Jakarta juga butuh perbaikan. Dengan begitu Indonesia mendapatkan tantangan besar dalam bagaimana menyediakan dana untuk pembangunan infrastruktur mengingat angagran yang sedemikian terbatas. Banyak hal perlu dilakukan untuk memperluas ruang fiskal dan itu bukan tanpa hambatan politik maupun bukan politik.

APBN kita yang terus meningkat di sisi belanja (sekitar 2000 T) menghadapi ancaman serius dari tidak tercapainya target pajak. Hingga bulan Mei saja, penerimaan pajak yang dicapai lebih rendah dari bulan Mei yang sama tahun lalu. Hingga dalam RAPBN P ada penghematan yang dilakukan oleh pemerintah termasuk juga dalam belanja modal. Semakin tinggi pajak diperlukan untuk membiayai pengeluaran publik, semakin mengurangi pendapatan disposable dari para pembayar pajak, sehingga membatasi kebebasan ekonomi mereka dan kemampuan mereka untuk membeli apa yang mereka inginkan dari pasar.Kemungkinan besar, dalam jangka panjang, tingkat pajak yang tinggi mungkin juga memiliki dampak negatif pada efisiensi ekonomi dan pertumbuhan ekonomi, terutama jika pajak dikumpulkan secara tidak efisien dan uang dibelanjakan secara tidak produktif.

Ancaman selanjutnya adalah berkaca pada penelitian yang dilakukan OEDC adalah bahwa public spending tidak berkorelasi dengan pertumbuhan indeks pembangunan manusia. Hal ini terjadi karena distribusi manfaat yang diterima antarpenduduk tidak seimbang. Ketidakseimbangan ini disebabkan adanya kesenjangan ekonomi. Sehingga pemerintah, menurut penelitian itu, harus membagi fokus antara menyediakan infrastruktur utama terlebih dahulu ketimbang infrastruktur pro growth.

Yang dilakukan di Amerika Latin kemudian adalah, mengalokasikan anggaran pada belanja subsidi sosial. Sehingga yang lebih penting menurutnya adalah, masyarakat dapat merasakan tangan pemerintah secara utuh dalam urusan-urusan kebutuhan asasi seperti pendidikan dan kesehatan dengan baik. Hal itu yang kemudian akan mendorong peningkatan indeks pembangunan manusia.

Namun, lagi-lagi ini pilihan pemerintah dalam pro pertumbuhan atau pro pemerataan. Dan untuk menentukan prioritas utama dalam pembangunan infrastruktur itu, pemerintah sudah sepatutnya melakukan capital budgeting atas setiap proyek infrastrukturnya. Analisis biaya dan manfaat harus dengan cermat dilakukan hingga menghitung impact/dampak yang dihasilkan dari proyek tersebut.

(2016)

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/pringadiasurya/membincang-infrastruktur_576a486f917e6144113a6bf3

Sajak-Sajak Chairil Anwar

Tak Sepadan

Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros.

Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka.

Jadi baik juga kita pahami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka.

Sia-sia

Penghabisan kali itu kau datang
membawaku karangan kembang
Mawar merah dan melati putih:
darah dan suci
Kau tebarkan depanku
serta pandang yang memastikan: Untukmu.

Sudah itu kita sama termangu
Saling bertanya: Apakah ini?
Cinta? Keduanya tak mengerti.

Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri.

Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi.

AKU

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

HAMPA

Sepi di luar. Sepi menekan-mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti.
Sepi.
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencekung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.

Di Mesjid

Kuseru saja Dia
Sehingga datang juga

Kami pun bermuka-muka.

Seterusnya Ia Bernyala-nyala dalam dada.
Segala daya memadamkanya

Bersimpah peluh diri yang tak bisa diperkuda

Ini ruang
Gelanggang kami berperang.

Binasa-membinasa
Satu menista lain gila

Derai-derai Cemara

Cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

Aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

Hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

DOA

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu

Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling

Kata-kata Mutiara dari Naruto

Uzumaki-Naruto-192x300

“Ada seseoarang yg harus aku percayai terlebih dahulu… Aku harus percaya pada diriku sendiri.” [Naruto]

“Aku akan membebaskan mereka semua ! Lalu menyelamatkan mereka tanpa kegagalan !” [Naruto]

“Aku tidak akan tahu sampai aku mencobanya!” [Naruto]

“Aku tidak akan lari, aku akan berdiri dengan kata kata ku sendiri.” [Naruto]

“Aku tidak akan kalah dari seseorang yang menyerah pada nasib, seseorang yang terus melarikan diri!” [Naruto]

“Aku telah bersumpah bahwa aku akan melepas topeng itu dari wajahmu!” [Naruto]

“Bencilah pada kejahatan tapi bukan dengan orangnya.” [Naruto]

“Jangan tarik kata kata mu, sekalipun itu akan membawamu kepada kehancuran.” [Naruto]

“Jika kamu menungguku untuk menyerah, kamu akan menungguku selamanya.” [Naruto]

“Kamu itu hanya lari dari semuanya!” [Naruto]

“Kamu pernah bermimpi hal yang sama denganku!” [Naruto]

“Kamu pernah mengatakan padaku.. ‘aku bukan siapa-siapa dan aku tidak ingin menjadi siapapun’..” [Naruto]

“Kamu telah menjdi musuh seluruh shinobi, malah mengalahkan omong kosong, bahwa yg kau lakukan itu demi dunia ini!” [Naruto]

“Kamu tidak bisa bersembunyi di balik topeng itu!” [Naruto]

“Mimpi yang sampai mengorbankan teman adalah omong kosong.” [Naruto]

“Padahal sebenarnya, kamu melakukan ini semua hanya untuk dirimu sendiri!” [Naruto]

“Tidak ada seorangpun bahkan orang yang berharga bagimu juga, tidak akan pernah mengakui mimpimu ini!” [Naruto]

“Tidak perlu merasa takut kehilangan seseorang, karena masih ada banyak orang di sekililingmu yang takut kehilanganmu.” [Naruto]

Love and Friendship, Emily Bronte

Love is like the wild rose-briar,
Friendship like the holly-tree
The holly is dark when the rose-briar blooms
But which will bloom most constantly?

The wild-rose briar is sweet in the spring,
Its summer blossoms scent the air;
Yet wait till winter comes again
And who will call the wild-briar fair?

Then scorn the silly rose-wreath now
And deck thee with the holly’s sheen,
That when December blights thy brow
He may still leave thy garland green.

Cinta dan Persahabatan
Terjemahan Bebas Pringadi Abdi Surya

Cinta tak ubahnya mawar liar
Persahabatan seperti pohon oak
Oak begitu gelap ketika mawar liar itu merekah
Tetapi apa yang akan terus-menerus mekar?

Mawar liar terasa manis di musim semi
Semerbaknya mengharumkan udara;
Lalu menunggu hingga musim dingin datang lagi
dan siapa akan memanggil mawar liar adil?

Kemudian hinakan mawar liar saat ini
dan mendekorasi engkau dengan kemilau oak
Bahwa ketika Desember menghawari alismu
Dia masih meninggalkan karangan bunga

Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan