Curug Cibareubey dan Sebuah Metafora

 


-Seorang penyair dari Jawa Barat mengirimiku pesan minggu lalu. “Pring, jalan yuk!” katanya sambil mengunggah foto sebuah air terjun di instagram.

Dia tahu aku punya hobi jalan-jalan dan kami sudah lama berwacana mau menjelajah tempat wisata di sekitar Bandung sejak ia tahu aku telah pindah ke Bandung. Baru Kamis lalu wacana itu terealisasi. Gokilnya, kami sama-sama tidak tahu dan belum pernah ke tempat yang ingin kami tuju.

“Pokoknya mah di Subang banyak air terjun. Kita ke sana saja,” ujarnya.

Melewati Lembang, sambil googling kami kemudian memutuskan akan ke Curug Cibareubeuy. Dari jalan utama, kami berbelok ke Jalan Sari Ater. Tidak tergoda untuk mandi air panas di Sari Ater, kami meneruskan perjalanan hingga Desa Cibeusi. Motor diparkirkan di tempat penitipan. Kemudian kami berjalan kaki. Jaraknya sekitar 4 kilometer.

Aku sebenarnya agak bergidik mendengar angka 4 kilometer itu. Maklum, aku baru saja sembuh dari asma pagi itu. Malamnya saja suara tikus masih menghinggapi dadaku. Tapi, sembari meyakinkan diriku, aku pasti bisa menempuh perjalanan ini.

Ada dua jalur jalan untuk menuju Curug Cibareubeuy. Jalur pertama langsung naik ke bukit, melewati hutan. Dan jalur kedua, melewati persawahan dengan jalan meniti di pematang, meloncat dari batu ke batu. Kami memilih jalur kedua dengan alasan medan dan situasi. Musim penghujan akan membuat tanah lebih becek dan licin. Jalur yang lebih banyak mendaki akan lebih sulit dilalui. Kemudian situasi lebih aman di persawahan karena banyak petani. Kalau ada apa-apa bisa langsung bertanya ke petani ataupun meminta bantuan mereka.

Belum separuh perjalanan, napasku sudah ngos-ngosan. Beberapa kali kami beristirahat, duduk d atas batu dan bertanya, “Masih jauh nggak sih?” Sampai kemudian sebuah pemandangan membuat semangat. Air terjun itu terlihat dari kejauhan. Di sini, saya meresapi satu hal. Apabila kita menetapkan sebuah tujuan ataupun sebuah visi, tujuan/visi tersebut selain terukur juga harus dapat terlihat. Jika setiap kita mampu melihatnya, dengan rela dan semangat kita akan menujunya.

Setelah melalui areal persawahan, kami mulai memasuki hutan. Sebelumnya kami sempat bertanya ke petani, masih berapa jauh. Petani itu menjawab dekat, tinggal satu tanjakan lagi. Dan tanjakan yang dimaksud sungguh terlalu. Hampir saja aku berangkat nekat memakai sandal jepit tapi urung. Jika aku pakai sandal jepit, tentu aku tak akan mampu mengatasi tanjakan seperti ini. Terjal dan licin sekali.

Sesampainya di ujung tanjakan, kami menemukan sebuah saung. Seorang lelaki tua menyapa kami. Kami ditawari air nira hangat dan tentu tawaran itu kami terima. Segelas kami membayar 5000 saja dan merasakan kealamian tiada dara, pengembali tenaga yang telah terkuras sepanjang perjalanan. Sambil menyeruput wedang, Si Bapak bercerita ternyata hidup terpisah dari keluarganya. Di sini ia punya 6 batang aren. Dari tiap aren itu dalam satu hari menghasilkan sekitar sepuluh gelas. Sehari-hari, ia membuat gula aren dari nira yang dipanennya.

Setelah wedang tandas, kami melanjutkan perjalanan. Hanya sekitar 10-15 menit kemudian, kami sampai ke tujuan. Suara gemuruh air terjun mulai terdengar dan senyum merekah di bibirku. Tiket masuknya Rp10.000,- saja. Dan itu harga yang sangat murah dibandingkan pemandangan yang disajikan.

Curug Cibareubey tingginya sekitar 70 meter. Dan yang kuingat dari setiap air terjun yang kutemui adalah pelajaran ketika SD. Setiap bicara energi potensial, maka buku pelajaran selalu menyebut air terjun. Ketinggian air terjun memberikan energi potensial pada air. Sekian persen dari energi air tersebut bisa diubah menjadi energi listrik.

Aku duduk di atas batu di dekat air terjun dan merenung. Sementara temanku sudah asik nyemplung di bawah air terjun. Di organisasi tempatku bekerja, Kementerian Keuangan, tengah terjadi Transformasi Kelembagaan. Dari sisi struktur organisasi, akan ada banyak perubahan. Misalnya, Pajak dan Bea Cukai tak lagi berada di Kemenkeu dan menjadi Badan terpisah yang berada di bawah koordinasi Kemenko Perekonomian, penggabungan beberapa unit eselon I untuk menajamkan fungsinya. Dan banyak pegawai yang belum siap berubah. Aku pikir, hal itu disebabkan karena mereka belum mampu melihat tujuan, tidak memahami jalan ke tujuan, atau jangan-jangan belum memahami posisi saat ini.

Sementara bagi rakyat, mungkin tak mau tahu menahu soal perubahan yang akan terjadi. Tapi rakyat yang kian kini kian kepo harusnya dapat diperlihatkan produk-produk, output-output dari kegiatan yang sudah dilakukan dan sedang akan dilakukan oleh organisasi. Ada banyak hal indah seperti air terjun Cibareubeuy dalam sebuah perubahan itu. Misalnya saja, sawah-sawah yang kulewati tadi. Mereka adalah sawah-sawah para kelompok tani. Para kelompok tani kerapkali menjadi tujuan dari belanja bantuan sosial atau belanja barang yang diserahkan ke masyarakat, seperti skripsi yang kini tengah kukerjakan, yang objeknya adalah anggara irigasi tersier di Jawa Barat. Karena perubahanlah, sekarang, penyaluran belanja itu langsung ke rekening penerima (kelompok tani), tidak perlu melalui bendahara dinas terkait. ketat dan diawasi pula sehingga secara mekanisme seharusnya uang itu diterima utuh oleh petani, tanpa ada yang memotong.

Perubahan yang dilakukan saat ini tentu saja adalah untuk menghasilkan kinerja yang lebih baik dalam rangka pelayanan publik. Dengan begitu, kupikir, aku akan dapat membantah Mochtar Lubis suatu saat nanti. Kukatakan bahwa ada lho orang-orang yang menjadi PNS dengan niatan pengabdian. Orang-orang inilah yang ketika meninggikan kualitas dirinya, meninggikan tingkat kinerjana akan menjadi energi potensial bak air terjun itu.

Selepas termangu di atas batu dan takut kesambet, aku pun akhirnya turut membuka maju dan nyemplung ke bawah air terjun demi merasakan air-air yang jatuh itu memijat tubuhku. Sebelum akhirnya hujan datang dan dengan cekatan kami ngacir dari curug dan menyantap semangkuk mie yang dijual oleh Abah Ocid, pemilik Kampung Senyum yang menyediakan tempat untuk para musafir di sekitar curug.

(2016)

 

Perbedaan Cicilan Pinjaman dari Bank Syariah dan Konvensional

Dalam beberapa waktu terakhir saya ingin mencari pinjaman untuk membeli rumah. Sebagai umat beragama yang kadang-kadang baik, saya paling takut riba. Karena itulah, saya pengennya membeli rumah secara tunai. Namun, apa daya kemampuan ekonomi tidak memungkinkan sehingga harus kredit. Dan kredit yang diutamakan adalah kredit syariah. Pertama, pengennya non-bank, namun perumahan syariah non-bank kudu menyatu dengan pengembangnya. Jadinya beralih ke perbankan syariah. Namun, betapa tercengangnya saya melihat pola cicilan yang tergolong tinggi di bank-bank syariah dibanding bank konvensional.

Bank-bank syariah menerapkan cicilan flat. Artinya, cicilannya tetap sampai jangka waktu yang disepakati. Nah kalau dikonversikan menjadi rate, maka cicilan bank syariah ini terlihat lebih tinggi dari bank konvensional. Kenapa bisa begitu? Karena bank syariah sejatinya sudah membuang resiko pasar uang dari nasabah. Risiko ini memang sesuatu yang tidak dikehendaki siapapun. Tapi di tengah ketidakpastian global, kelesuan ekonomi, bunga di pasar sangat mungkin fluktuatif. Bank konvensional memakai floating rate, atau bunga mengambang itu. Misal, kita meminjam selama 10 tahun. Maka 2 tahun pertama, bunganya tetap dan sangat lebih rendah dibanding bank syariah. Rata-rata di bawah 10% bahkan. Namun, setelah itu yang berlaku adalah bunga mengambang atau floating rate. Di sini risiko kegagalan pasar melekat juga ke nasabah.

Keuntungan suku bunga tetap:
– Kepastian besarnya bunga yang dibayar
– Tidak ada perubahan suku bunga walaupun suku bunga pasar mengalami kenaikan

Suku bunga mengambang:
– Pada saat terjadi penurunan suku bunga pasar maka tingkat suku bunga kredit ikut turun

Keuntungan suku bunga tetap bagi Debitur adalah adanya kepastian besarnya suku bunga yang harus dibayar setiap periodenya. Selain itu, apabila suku bunga pasar mengalami kenaikan maka debitur diuntungkan karena adanya selisih suku bunga tersebut. Sementara itu keuntungan suku bunga floating bagi Debitur dapat terjadi apabila suku bunga pasar mengalami penurunan
sehingga besarnya bunga yang harus dibayar Debitur pada periode tersebut pun menjadi lebih rendah daripada periode sebelumnya.

Tiga Puisi Pringadi Abdi Surya

Memeluk Bahaya

sayang, hiduplah dalam bahaya
dengan begitu, setiap hari engkau akan mengingat tuhan

tuhan hadir dalam kilatan peluru,
dalam langkah kaki yang terburu

sesuatu tak pernah berhenti mengejarmu
ia yang kalah adalah ia yang lelah

sayang, hiduplah sambil memeluk ketakutan
peluk lebih erat dari engkau memeluk bahagia

kelak, tuhan yang akan memelukmu
sebagai balas jasa kau telah mengingatnya
setelah lama ia dilupakan


Matikan Televisi

aku mencintaimu sehingga kumatikan televisi
bibirmu begitu merah
dan aku teringat api

di mataku, tubuhmu seperti sebatang pohon randu
yang paham arti meranggas
rambutmu yang hitam, bergelombang
aku terhanyut dan merasa berada dalam hutan Chopin
dengan bau tanah basah yang khas

mencintaimu adalah kerakusan, tidak mungkin
aku hanya menggenggam tanganmu atau
memeluk pinggangmu yang ramping
udara dingin di dalam ruangan pelan-pelan menghilang
perasaan terbakar ini, aku tidak tahu asmara atau api
lalu kau memintaku membuka tirai, juga jendela dan hidupku
bukan udara yang menyapa kita

aku mencintaimu, sehingga tak dapat kututup mata
meski kabut atau asap yang menyergap
membuatku tak mampu melihatmu sama sekali
bagaimana caramu bernapas, mengeluh, mengusap pipi
hanya bibirmu begitu merah, menyala
aku terbakar mulai dari ujung jari
hingga jantungku

Memeluk Seluruhmu

Aku ingin memeluk seluruhmu
dirimu yang lebih luas dari seluruh nama
kedua lenganku yang tak terbiasa
mengukur dunia—kelilingnya telah diaku
oleh columbus, menemukan dunia baru
tempat orang-orang lari atau mencari kesunyian

dunia baruku adalah kamu, tetapi seluruhmu
di luar nalarku

aku tak bisa berpikir jernih
sungai musi, sungai kapuas, sungai bengawan
diberi tawas setempayan masih
sekeruh ingatan

sampai aku merasa khianat
sampai aku mengusir sepenuh kalimat
yang diciptakan daun-daun merah kemarin
disematkan cicit-cicit burung sriti muda
yang terbang setinggi-tingginya

aku ingin memeluk seluruhmu
seperti lengan sayap burung itu
ketika hendak memeluk langit

Dari Birokrasi ke Birokrasi

Dari Birokrasi ke Birokrasi

Setiap mendengar birokrasi, publik kebanyakan memberikan cap negatif. Birokrasi dianggap lambat. Bahkan kerap dikatakan, tak pernah ada yang pasti di dalam birokrasi. Para birokrat pun tak lepas dari anggapan makan gaji buta dan tak profesional.

Reformasi birokrasi yang telah dilakukan Kementerian Keuangan berusaha membuktikan bahwa paradigma itu keliru. Perbaikan pelayanan publik yang dilakukan kantor-kantor vertikal di Kemenkeu pun memberikan dampak pasti. Pemprosesan SPM menjadi SP2D yang dulunya memakan waktu diselesaikan menjadi 1 jam saja. Dari sisi internal, penerapan balance scorecard dan Indikator Kinerja Utama (IKU) menjadi alat kontrol. Reformasi Birokrasi secara tegas mengubah 3 pilar: penataan organisasi, proses bisnis, dan sumber daya manusia menjadi lebih baik.

Transformasi Kelembagaan yang kini berjalan adalah kelanjutan dari niat Kementerian Keuangan dalam memberikan pelayanan yang lebih baik.

Selama semester I 2016 ada beberapa inisiatif yang telah berhasil dijalankan di berbagai tema. Untuk tema penganggaran, salah satunya adalah dengan adanya publikasi informasi tentang penganggaran pada website DJA. Upaya membangun engagement dengan masyarakat ini juga dilakukan di Pajak dan Bea Cukai. DJP telah berhasil memperluas fungsionalitas website yang user friendly dan mudah diakses. Jumlah orang yang berkunjung pada tahun lalu saja sudah mencapai 10,29 juta. Hal ini diharapkan dapat memberikan dampak positif berupa kesadaran para wajib pajak untuk melaporkan pajaknya. Bea Cukai juga memanfaatkan website sebagai bagian dari kehumasan untuk meningkatkan citra dan kepuasan pelanggannya.

Dalam kesempatan temu para Duta Transformasi Kelembagaan, Selasa (26/07), Bambang Brodjonegoro menekankan pentingnya Transformasi Kelembagaan ini guna mencapai visi Kementerian Keuangan menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Di tengah melesunya perekonomian dunia, pertumbuhan ekonomi mengalami perlambatan. Semester I 2016, defisit anggaran melebar ke 1,83%. Hal ini terjadi karena realisasi penerimaan pada semester I tidak menggembirakan. Kelesuan ekonomi menjadi salah satu penyebab turunnya realisasi tersebut. Bambang Brodjonegoro meberikan pesan khusus, program tax amnesty harus didukung dan disukseskan. Dari tax amnesty inilah diharapkan akan ada tambahan kurang lebih 165 trilyun yang masuk ke kas negara. Dengan demikian, shortfall bisa dihindari. Bila tidak, realisasi utang bisa saja makin bertambah dan batas defisit 3% yang ditentukan undang-undang terancam terlewati.

Kesuksesan program-program pemerintah membutuhkan dukungan kepercayaan dari masyarakat. Diperkirakan ada lebih dari 11.000 trilyun dana orang Indonesia di luar negeri. Jika mereka tak percaya dengan pemerintahan berjalan, maka tak mungkin mereka mau meletakkan dananya di dalam negeri. Padahal, bila dana tersebut diinvestasikan di dalam negeri, akan dengan cepat menggerakkan roda pertumbuhan ekonomi.

Dukungan kepercayaan dari masyarakat itu juga akan tercermin dari kesadaran masyarakat membayar pajak. Dari 252 juta penduduk Indonesia, tercatat baru sekitar 27 juta saja yang memiliki NPWP. Dan dari 27 juta itu, hanya sekitar 10 juta saja yang menyampaikan SPT. Tentu, kita tidak melihatnya sebagai sebuah kegagalan kinerja, melainkan tantangan dan peluang yang dapat diraih di masa depan.

Transformasi kelembagaan sesuai pilarnya yang pertama adalah memperkuat budaya akuntabilitas berorientasi outcome. Artinya, sebuah kinerja tidak dilihat hanya dari keluarannya saja, tetapi menganalisis betul-betul apakah keluaran tersebut memberikan manfaat atau mencapai tujuan. Artinya juga, dibutuhkan audit kinerja dari setiap pekerjaaan, tidak sebatas audit keuangan. Kemenkeu dalam SE-32/MK.1/2015 telah merilis alat awal untuk menilai kinerja dengan tidak hanya berdasarkan penyerapan anggaran dan keluarannya saja, tetapi juga efisiensinya.

Efektivitas dan efisiensi menjadi kata kunci dalam transformasi kelembagaan ini. Para duta Transformasi Kelembagaan tentu menjadi pion penting dalam menilai proses bisnis yang ada saat ini. Inisiatif perubahan yang dapat menyederhanakan proses bisnis dan memberikan dampak yang baik inilah yang diperlukan.

Yoris Sebastian, seorang pecandu kreativitas, yang turut hadir dalam temu Duta Transformasi Kelembagaan itu juga memberikan pesan bahwa ide inisiatif itu tidak melulu harus besar. Pengalamannya saat membuat kompetisi inovasi di sebuah bank memunculkan inovasi mengenai kokot (staples) yang dianggap remeh, namun bila ditotal secara nasional dapat menghasilkan penghematan milyaran per tahun.

Ditjen Perbendaharaan pun telah melakukan inisiatif seleksi untuk pemberian penghargaan bagi pegawai berprestasi yang telah menemukan inovasi dalam proses bisnis dan kini telah memasuki penilaian akhir.

Efektivitas dan efisiensi dalam pekerjaan itu akan mementahkan anggapan bahwa birokrasi itu ribet dan tidak pasti. Bahkan suatu saat saya membayangkan, karena sangking pastinya, setiap pegawai setiap bulannya menerima to-do-list, daftar target kinerja yang harus ia kerjakan bulan ini.  Karena bebasis kinerja, yang penting pekerjaan selesai. Mau di mana saja, dengan cara apa saja, pekerjaan tetap harus selesai. Seperti saya punya sepupu, dia seorang desainer grafis. Dalam sebulan, paling dua minggu dia masuk kantor. Sisanya jalan-jalan. Tetapi ia punya target kinerja yang bisa ia selesaikan kapan saja. Tidak harus di kantor. Mungkin suatu saat kita juga demikian.

 

(2016)

 

Mandatory Spending di APBN Indonesia

Mandatory spending adalah belanja atau pengeluaran yang sudah diatur oleh undang-undang. Tujuan mandatory spending ini sebenarnya adalah untuk mengurangi masalah ketimpangan sosial dan ekonomi daerah. Namun, pada kenyataannya, mandatory spending malah menjadi masalah. Mandatory spending menjadi “beban” di APBN.

Seperti yang kita ketahui bersama, salah satu prinsip penganggaran kita adalah anggaran berbasis kinerja. Anggaran Berbasis Kinerja (Performance Based Budgeting) mencerminkan beberapa hal. Pertama, maksud dan tujuan permintaan dana. Kedua, biaya dari program-program yang diusulkan dalam mencapai tujuan ini. Dan yang ketiga, data kuantitatif yang dapat mengukur pencapaian serta pekerjaan yang dilaksanakan untuk tiap-tiap program.(1)

Penganggaran dengan pendekatan kinerja ini berfokus pada efisiensi penyelenggaraan suatu aktivitas. Efisiensi itu sendiri adalah perbandingan antara output dengan input. Suatu aktivitas dikatakan efisien, apabila output yang dihasilkan lebih besar dengan input yang sama, atau output yang dihasilkan adalah sama dengan input yang lebih sedikit. Anggaran ini tidak hanya didasarkan pada apa yang dibelanjakan saja, seperti yang terjadi pada sistem anggaran tradisional, tetapi juga didasarkan pada tujuan/rencana tertentu yang pelaksanaannya perlu disusun atau didukung oleh suatu anggaran biaya yang cukup dan penggunaan biaya tersebut harus efisien dan efektif. (2)

Sederhananya, suatu entitas (kantor) dilihat dulu kinerjanya. Ia punya anggaran sebesar X dengan target output sebanyak Y. Maka, kinerjanya akan dilihat bagaimana kantor tersebut mencapai output Y, bisa dengan anggaran sebesar X, atau mampu efisien dengan lebih kecil dari Y, atau justru output tidak tercapai. Hal ini akan berimplikasi pada anggaran tahun berikutnya. Jika kinerjanya buruk, maka tahun berikutnya bisa jadi anggaran yang diberikan berkurang karena kantor tersebut dianggap tak bekinerja baik.

Berapa dan Apa Saja Mandatory Spending Itu?

Yang paling ngetren adalah Anggaran Pendidikan. Amanat Undang-Undang mengatakan Anggaran Pendidikan adalah 20% dari APBN sesuai amanat Amandemen ke empat UUD 1945 pasal 31 ayat 4 tentang Penyediaan Anggaran Pendidikan. Selain pendidikan, ada Anggaran Kesehatan yang diamanatkan sebesar 5% dari APBN kewajiban penyediaan Dana Alokasi Umum (DAU) minimal 26 persen dari penerimaan dalam negeri neto, dan Dana Bagi Hasil (DBH) sesuai ketentuan UU No.33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. Juga ada kewajiban penyediaan Dana Alokasi Umum (DAU) minimal 26 persen dari penerimaan dalam negeri neto, dan Dana Bagi Hasil (DBH) sesuai ketentuan UU No.33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah yang dibagi ke penyediaan dana otonomi khusus sesuai dengan Undang-Undang Otonomi Khusus provinsi Aceh dan Papua masing-masing sebesar 2 persen dari DAU Nasional. Selain itu, tahun 2016 ini, pemerintah ketimpa kewajiban Dana Desa yang saat ini baru mencapai 6,5% dari total anggaran transfer ke daerah, masih di bawah 10 persen sebagaimana diamanatkan UU Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa.

Mandatory spending itu bersifat diskresioner, atau mengikat. Dengan kata lain, anggaran ini tetap, dari atas ke bawah (top down), tidak mengikuti penganggaran yang seharusnya bersifat bottom up (dari bawah ke atas). Mandatory spending juga bisa dikatakan kebal pada prinsip anggaran berbasis kinerja karena mau bagaimanapun kinerjanya, persentase anggaran itu tetap.

Di dalam APBN kita, selain mandatory spending, ada belanja-belanja lain yang juga diskresioner seperti belanja pegawai, bagian belanja operasional yang rutin, belanja subsidi, juga pembayaran bunga utang. Diskresi ini menyebabkan ruang fiskal di APBN kita sangat terbatas. Pemerintah jadi bingung mau berbuat apa dengan sisa anggaran yang non-diskresi. Dari tahun ke tahun, belanja yang non-diskresioner itu tak sampai 30% dari APBN. Bahkan pada tahun 2007 dan 2008, belanja non-diskresi tak sampai 20% dari total anggaran.

Jadi, jika kita beropini oh pemerintah tidak melakukan apa-apa di tahun anggaran ini, salah satu sebabnya adalah ruang fiskal yang terbatas ini. Pemerintah harus benar-benar memilih prioritas pada belanja infrastruktur sebagai kewajiban pemerintah menyediakan fasilitas buat rakyat. Tidak mungkin pemerintah dapat membangun rel kereta sekaligus di semua daerah. Jalur kereta Sumatra saja diperkirakan menghabiskan dana sekitar 60 T, atau sudah 3% APBN.

Karena itu, penting bagi pemerintah untuk meninjau kembali mandatory spending ini untuk mengembalikan trah anggaran berbasis kinerja. Juga meninjau kembali belanja-belanja diskresi. Salah satu kebijakan yang patut diancungi jempol adalah rasionalisasi PNS yang akan mengurangi beban belanja pegawai. Negara sekali-kali harus sedikit tega menyisihkan pegawai-pegawai yang tidak berkontribusi kepada negara dan hanya menjadi beban bagi negara. Sayangnya, kebijakan itu sirna begitu menterinya diganti.

Ah.

Catatan Kaki:

(1) dan (2) Definisi Anggaran Berbasis Kinerja dari  http://www.anggaran.depkeu.go.id/web-content-list.asp?ContentId=628

Lomba Foto dan Menulis Cerpen Kemenag RI 2016

Adapun hadiah yang disediakan oleh panitia lomba sebesar 200 Jt. Hadiah ini akan dibagikan untuk kalian para pemenang lomba foto dan menulis cerpen dari Kementrian Agama Republik Indonesia.

Penyelangga lomba ini khusunya ialah Diktorat Pendidikan Diniah dan Pesantren yang tahun 2016 dalam memperingati Gebyar Hari Santri Nasional, dimana Hari Santri Nasional akan diagendakan jatuh pada tanggal 22 Oktober 2016.

Tema Lomba: “Dari Pesantren Untuk Indonesia”

Syarat dan Ketentuan Lomba Foto Sebagai Berikut:

Peserta lomba akan dibagi menjadi dua, yang pertama adalah Umum, dan yang kedua adalah santri
Foto yang diikutsertakan dalam lomba merupakan karya sendiri, no plagiat, no pornografi dan juga belum pernah di publikasikan ke media cetak ataupun media online
Foto merupakan hasil jepretan tahun 2016
Keputusan panitia tidak bisa dinggu gugat
Panitia berhak mempublikasikan hasil photo terpilih, akan tetapi tetap karya menjadi hak pemilik photo
Photo tidak boleh melebih deadline pendaftaran, yakni pada tanggal 26 September 2016
Karya Foto harus sesuai dengan tema
Pendaftarn lomba foto ini gratis

Syarat dan Ketentuan Lomba Cerpen Sebagai Berikut:

Peserta lomba cerpen, akan dibagi menjadi dua, yang pertama adalah Umum, dan yang kedua adalah santri
Cerpen yang diikutsertakan dalam lomba merupakan karya sendiri, no plagiat, no pornografi dan juga belum pernah di publikasikan ke media cetak ataupun media online
Keputusan panitia tidak bisa dinggu gugat
Panitia berhak mempublikasikan hasil cerpen terpilih, akan tetapi tetap karya menjadi hak pemilikcerpen
Cerpen tidak boleh melebih deadline pendaftaran, yakni pada tanggal 26 September 2016
Karya Cerpen harus sesuai dengan tema
Pendaftran Lomba Cerpen ini Gratis

Selengkapnya agar lebih jelas tentang Lomba Foto dan Menulis Cerpen dari Kemenag RI 2016 ini para pembaca sekalian bisa download DI SINI tapi yang pasti lomba ini akan diumumkan pada tanggal 05 Oktober 2016.

informasi penyelanggara lomba di alamat ini http://ditpdpontren.kemenag.go.id/uncategorized/lomba-foto-dan-cerpen-santri-2016/

Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan