Catatan Pringadi

Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan

Nasionalisme dalam Perspektif Internasionalisme

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Apakah arti sebuah negara?

Pertanyaan ini bisa mudah atau tidak mudah dijawab. Banyak ahli mendefinisikan negara dari berbagai sudut pandang. Namun, setidaknya kita bisa “sederhanakan” bahwa negara berarti ada wilayah, ada penduduk, dan ada pemerintah/sistem pemerintahannya.

Tidak mudah bersepakat membentuk suatu negara. Malaysia, Brunei, dan sebagian Indonesia berbangsa Melayu, namun tidak menjadi satu negara karena latar belakang penjajahan yang berbeda. Papua dan Papua Nugini berada dalam satu pulau, satu ras, tapi juga tidak menjadi satu negara. Korea Utara dan Korea Selatan punya sejarah panjang sebagai bangsa, dan mereka tetap berperang hingga sekarang. Bahkan yang tadinya satu, memecah diri menjadi beberapa negara.

Negara punya makna politik, kekuasaan–dan sudah naluri manusia untuk punya kekuasaan tersendiri.

Hari ini, tak sengaja saya membaca sebuah status, pilihlah antara nasionalisme dan khilafah! Bagi saya, kedua hal itu bukan sesuatu yang patut dipertentangkan. Apakah itu nasionalisme? Apakah itu khilafah?

Hal ini mengingatkanku pada saat karantina duta bahasa. Ada satu diskusi, mengenai posisi bahasa Indonesia di dunia. Panelis membanggakan bahasa Indonesia yang mulai dipelajari di berbagai negara, memiriskan penggunaan bahasa-bahasa asing di berbagai produk yang ada di Indonesia. Diskusi pun mengalir mengenai betapa kita terjajah secara bahasa oleh asing. Sungguh sesi yang membosankan!

Apakah fungsi bahasa? Pada dasarnya bahasa ada sebagai alat komunikasi. Saya ngomong sama kamu, kamu ngerti, sudah. Pada kenyataannya bahasa menjadi alat politik. Semakin banyak dipakai, maka semakin berkuasa suatu negara. Maka, membicarakan bagaimana cara membuat penting bahasa Indonesia di mata dunia seharusnya kita bicara soal kekuasaan, bagaimana Indonesia harus menjadi kuat dan penting di bidang ekonomi terutama. Karena di mata manusia, uang/perekonomian adalah indikator yang utama dari kekuasaan.

Jika kita kembalikan ke tujuan awal, bahasa sebagai alat komunikasi, maka kita bisa enyahkan batas politik tersebut, dan tak mempermasalahkan apapun bahasa yang dipakai, asal saling mengerti. Seperti kata Amir Khan di film P.K, di dunianya tak ada bahasa yang bermacam-macam, mereka bicara melalui pikiran, langsung, hingga tak ada kebohongan, tak ada salah paham. Begitu juga bila kita bicara negara… tujuan negara pada dasarnya adalah social welfare, kesejahteraan masyarakat. Bila dengan sebuah negara, masyarakat tak sejahtera, maka tak menjadi masalah dienyahkan pula batas itu menjadi satu makna: manusia… humanisme, internasionalisme, asalkan manusia sejahtera semuanya.

Namun, tentu saja, hal seperti itulah yang dinamakan UTOPIA!

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *