Mitos dan Bukan Mitos tentang Burung Gagak

mitos gagak

Mitos tentang burung gagak lumrah di sekitar kita. Bahkan ada yang menjulukinya sebagai “Burung Kematian”. Tapi, benarkah demikian?

Burung gagak sendiri menjadi salah satu hewan yang disebut dalam kitab suci Alquran. Ia menjadi tokoh kunci dalam kisah Qabil dan Habil. Tepatnya dalam Surat Al Maidah ayat 29-30, kisah itu bisa kita baca:

“Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang diantara orang-orang yang merugi.”

[QS. Al-Ma’idah ayat 30]

” Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil: ” Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal.”

[QS. Al-Ma’idah ayat 31]

Seekor gagak mengajari manusia. Ya, ternyata gagak memiliki kecerdasan yang tinggi. Bahkan Majalah American Scientific pernah mempublikasikan hasil penelitian yang menyebutkan bahwa burung gagak memiliki kemampuan dan mental yang sangat baik, sehingga ia dapat beradaptasi dengan baik di lingkungannya. Para ilmuwan ini juga mengatakan bahwa burung gagak menggunakan logika untuk memecahkan masalah dan beberapa kemampuan mereka bahkan melampaui dari kera besar.

Namun, di masyarakat, gagak justru menjadi banyak mitos. Mitos apa saja itu?

Mitos gagak adalah burung kematian

Mitos ini lazim didengar di banyak negara di dunia termasuk di Indonesia. Suara burung gagak sering disebut sebagai penanda kematian. Jika suara gagak terdengar di tempat yang biasa tidak pernah disinggahi spesies burung tersebut, artinya ada orang yang meninggal dunia di sekitarnya. Jika gagak bertengger di sebuah rumah, lalu berkoak, anggota keluarga di rumah itu akan ada yang meninggal.

Mitos gagak sebagai burung kematian ini juga sama dengan burung kedasih. Burung kedasih ini biasanya berbunyi sejak menjelang maghrib sampai tengah malam. Konon, jika suara burung ini terdengar ketika maghrib, maka yang meninggal masih berusia remaja. Sementara jika suaranya terdengar di malam hari, orang yang meninggal di sekitar tempatnya berkicau adalah orang dewasa. Kalau Anda mendengar burung ini berkicau di tengah malam, artinya ada orang berilmu tinggi yang meninggal.

Di Celtic,  burung gagak digambarkan sebagai jelmaan Morrigan. Morrigan adalah seorang dewi yang dipercaya oleh orang Celtic di Eropa sebagai dewi kematian. Dalam mitologi Celtic, Morrigan digambarkan sebagai wanita cantik yang merupakan ratu dari segala hantu dan setan. Burung gagak yang muncul pada saat perang atau pemakaman selalu dipercaya sebagai jelmaan dari Dewi Morrigan ini. Konon, tugas dari sang dewi ini adalah menjadi perantara antara dunia manusia dan dunia roh.

Mitos gagak adalah jelmaan penyihir

Orang Inggris khususnya percaya kalau gagak adalah peliharaan para penyihir. Dan seorang penyihir juga bisa berubah menjadi gagak hitam.


“Tidak ada ‘penularan penyakit (Adwa), tidak ada burung penentu nasib baik dan buruk (Thiyarah), tidak ada burung hantu pembawa sial (Hamah), tidak ada bulan shafar pembawa sial atau keberuntungan (Shofar)”

(HR. Bukhori dan Muslim)


Tentu, hal itu adalah mitos. Selain cerdas, kamu mungkin akan kaget kalau tahu fakta mengenai burung satu ini. Gagak bisa membedakan siapa mahkluk hidup yang bisa dijadikan sahabat, mengenal manusia yang baik dan tidak baik. Dia berani menyerang mahkluk lain yang ukurannya lebih besar, bahkan menyerang manusia sekalipun.

Ya, gagak juga memiliki daya ingat yang tinggi. Ketika menjumpai manusia yang berusaha menyakitinya, burung ini akan merekam wajah manusia tersebut dan mengingatnya. Di kemudian hari, jika ia bertemu dengan manusia tersebut, maka si gagak akan menjauhinya.

Gagak bahkan adalah hewan yang sangat setia kepada pasangannya. Gagak jantan hanya akan mengawini satu gagak betina yang sama dan tidak berpisah sampai salah satunya mati.

Makanya, bagi yang membaca Emperor Domination, tokoh utamanya, Li Qiye, adalah kelahiran kembali dari “Dark Crow” seekor gagak yang statusnya seperti Tuhan di semesta novel itu karena gagak bukanlah hewan yang buruk. Justru gagak adalah hewan yang memiliki kemuliaan.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *