Menulis Sepi

Writing Residence. Dua kata ini menarik bagiku. Pada Mei 2016 lalu, aku terpilih mengikuti program residensi di ASEAN Writers Residence di Jakarta dalam rangkaian acara ASEAN Literary Festival 2016. Selama seminggu, aku berkumpul bersama 12 penulis dari negara-negara ASEAN dan Jepang dan banyak bertukar pikiran dengan mereka. Program residensi itu menumbuhkan berbagai perspektif baru dan aku menyukai itu.

Ketika membaca Asma Nadia ingin membuka writing residence, aku langsung tertarik. Apalagi dalam informasi itu disebutkan untuk penulis yang berada di Jakarta dapat memilih daerah yang menjadi tujuan. Ada satu tempat yang ingin benar-benar kukunjungi. Tempat ini sudah sejak lama memantik rasa penasaranku. Ia berada di suatu tempat di Nusa Tenggara Timur. Aku pernah satu kali ke NTT, ke Alor. Dan faktor pertama yang unik dari NTT adalah kerukunan umat beragamanya. Panitia MTQ bisa bukan beragama Islam. Sebaliknya, muslim juga bisa terlibat melindungi kegiatan yang berkaitan dengan gereja. Terkenang ucapan seorang yang menemaniku saat ke Alor, Osvo namanya. Ia berkata, bagi mereka bela di atas segalanya. Bela/darah adalah identitas. Selama satu bela, mereka akan saling menjaga.

Namun, bukan Alor yang ingin kukunjungi. Melainkan Mollo. 180 km dari Kupang.

Kenapa Mollo?

Aku punya seorang teman di Mollo. Namanya Christian Dicky Senda. Dia seorang cerpenis. Cerpen-cerpennya selalu bercerita tentang kearifan lokal di Mollo, juga masalah-masalah kemanusian yang terjadi di sana.

Sebagai seorang yang terlahir di Barat (Sumatra), dunia Timur terasa begitu berbeda. Aku ingin sekali menjejakkan kaki ke sana dan mengenali udaranya. Aku ingin mendapatkan perspektif baru mengenai keIndonesiaan yang lebih utuh dari sebelumnya.

Bila sampai di Mollo, hal pertama yang ingin kulakukan adalah mengeksplor pasar tradisional di Kapan, ibu kota kecamatan Mollo Utara. Di sana akan ditemukan banyak sekali produk pertanian organik dari warga termasuk beberapa bahan pangan yang sudah hampir jarang ditemukan di pasar-pasar di perkotaan. Kemudian treking ke beberapa kampung di sekitar desa Tafetob, bertemu dengan para penenun di desa Bosen, berinteraksi dengan petani jeruk dan sirih di Lelokasen. Atau kalau masih tersisa tenaga, aku mau treking yang lebih jauh dan menantang ke kampung Manesat Anin sejauh 12 km pergi pulang menyusuri sungai Sebau yang air jernihnya mengalir dari gunung Mutis menuju pantai selatan Timor. Di Manesat Anin aku bisa mengunjungi kebun warga, panen ubi dan sayuran, belajar bikin jagung bose hingga memasak bersama warga setempat. Ada beberapa menu spesial seperti jagung bose, singkong kuning rebus dan ubi kapuk bakar yang semuanya bisa dinikmati dengan ayam bakar dan sambal lu’at bunga gala-gala (kembang turi).

Mendadak saya terkenang ucapan Budi Darma. Masalah kebanyakan penulis adalah ketidakmampuan dalam mengenali apalagi mendalami masalah. Sastra hadir sebenarnya untuk mengangkat masalah itu ke permukaan, mengubahnya menjadi bentuk seni yang dapat dinikmati atau membuat pembaca ngeh bahwa benar ada masalah seperti ini. Ia bisa juga bisa ditampilkan dalam bentuk yang menghibur, masalah tidak ditulis gambling dan “disembunyikan” di dalam cerita.

Ketidakmampuan mengenali masalah terjadi selain karena kurangnya pembacaan terhadap literatur, salah satunya, adalah adanya jarak antara penulis dengan objek yang ia tulis. Penulis kebanyakan hanya mengira-ngira dari pembacaan yang singkat, atau dalam bahasa lain, penulis kurang melakukan riset. Karena itu, penulis perlu terjun langsung dan berinteraksi dengan objek yang ingin ditulisnya.

Kenapa Mollo—saya anggap Mollo merepresentasikan manusia yang belum banyak terpapar modernisme. Pada titik ini sebenarnya saya mempertanyakan kemanusiaan saya sendiri. Apakah hidup di kota, dengan tetek bengek kehidupan modern telah menggerus banyak hal dari dalam diri saya pribadi? Dan kenapa Mollo—sesampainya di sana, saya akan punya seorang teman yang akan mendampingi saya menemukan jawaban atas kegundahan hati.

Bukan berarti hanya, saya akan menulis mengenai Mollo. Tetapi, saya ingin berangkat dari Mollo untuk menuju sebuah gambaran apa sih manusia itu, dan bagaimana kemudian manusia yang saya pahami itu akan menjadi homo fictus di dalam karya saya.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *