menulis cerita pendek

Menulis Cerita Pendek (1): Teknik Membuka Cerita

Menulis cerita pendek membutuhkan teknik khusus. Kenapa? Kembali ke definisi, cerita pendek adalah cerita yang habis dibaca dalam sekali duduk. Artinya, kita kudu membuat pembaca bisa menghabiskan cerita dalam sekali duduk tanpa beranjak ke mana pun. Arti lainnya, cerita tersebut memiliki candu yang membuat pembaca terpaku sampai selesai untuk mendapatkan kenikmatan.

Tentu, dalam  menulis cerita pendek yang seperti itu, kita harus memaku pembaca sejak cerita dimulai. Membuka cerita pendek pun ada teknik khusus sehingga pembaca langsung tertarik dan ingin melanjutkan cerita tersebut. Apalagi jika cerita pendek kamu mau diikutkan ke lomba atau kirim ke koran.

Berikut beberapa teknik membuka cerita di antaranya:

BUKALAH DENGAN DIALOG

Tentu, dialog bukan sembarang dialog. Dialog menggambarkan karakter/memperkuat penokohan. Dialog yang dijadikan pembukaan cerita adalah dialog yang menarik, dialog yang menyimpan konflik, dialog yang bikin pembaca penasaran.


“ALINA, tolong aku!”
“Kamu di mana sekarang?”
“Di kartu pos.”
“Kartu pos?”
“Iya, aku terkurung di dalam kartu pos.”
“Sontoloyo!

(dalam Macondo, Melankolia)


BUKALAH DENGAN SETTING/LATAR

Ketika duduk di bangku sekolah, kita tentu sering mendengar pembukaan cerita seperti Pada suatu hari, di kerajaan Antah Berantah atau penggambaran latar dengan suasana alam. Nah, cara itu sebenarnya efektif juga asal tidak klise/melakukan perulangan/penggunaan kalimat yang sering digunakan.


Di stasiun Koenji, aku menaiki salah satu kereta cepat jalur Chuo. Gerbong yang aku tempati kosong, dan aku satu-satunya penumpang di gerbong tersebut. Hari ini aku tidak memiliki rencana atau kegiatan apapun sehingga aku dapat pergi ke manapun dan melakukan apapun sesuka hatiku. Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi, dan karena sekarang adalah musim panas, udara di sekitarku terasa sangat menyengat.

(dalam Tersesat di Kota Kucing)

Suatu pagi yang cerah di bulan April, di pinggiran jalan sempit di Harajuku, sebuah area perbelanjaan di Tokyo, aku berjalan melewati seorang gadis yang 100% sempurna.

(dalam Dia yang Sempurna)


Bukalah dengan Konflik/Tegangan

Cara membuka cerita seperti ini membutuhkan intensitas yang tinggi dari seorang pengarang. Kalau di film, Avengers :The Infinity War bisa dijadikan contoh ketika penonton sudah dibuat tegang di awal ketika Thanos menginvasi kapal yang dinaiki Thor.


BIASANYA, setiap cerita pembunuhan akan dimulai dengan ditemukannya mayat korban. Lalu dimulailah penyelidikan oleh seorang inspektur polisi, meneliti satu per satu misteri sampai ditemukan motif dan bukti-bukti yang mengarahkan kebenaran siapa pelaku pembunuhan. Tetapi, saya tidak akan bercerita dengan metode kuno seperti itu. Saya akan mulai dengan sebuah pengakuan, sayalah yang telah melakukan pembunuhan dengan memukulkan benda keras ke kepala, berkali-kali (saya akan berhenti kalau sudah merasa puas), sampai berdarah-darah dan sang korban sudah tak lagi menghembuskan napas. Kemudian, akan saya tinggalkan sebuah jam dinding di samping mayat korban. Jam dinding yang jarum-jarumnya sudah saya atur sesuai urutan dan waktu pembunuhan.

(dalam Seseorang dengan Agenda di Tubuh)


BUKALAH DENGAN KALIMAT/PERNYATAAN YANG MENARIK

Kalimat yang menarik bisa jadi kalimat yang puitis, pepatah atau kutipan tertentu, atau pernyataan-pernyataan yang tidak diduga pembaca sehingga pembaca bertanya-tanya, apa sih maksudnya? apa sih relevansinya terhadap cerita?


Tiga kali tiga sama dengan enam, dan aku dibilang tak lebih berotak ayam.

(Dalam Otak Ayam)

Malabar. Aku padamu bagai embun di pucuk daun teh yang lenyap dimakan cahaya. Berapa menit waktu telah melenyapkan aku dari kedua matamu ketika duduk di kafe itu, kau memesan Coupe la Braga, aku tak memesan apa pun kecuali segala rasa cemburumu yang diam-diam kupadatkan di dalam pikiran.

(Dalam MALABAR)


BUKALAH DENGAN GARIS BESAR CERITA

Dengan cara ini, pembaca bisa menduga garis besar cerita  dengan cara membaca paragraf pertama. Namun, penulis harus berhati-hati menggunakan jenis pembukaaan ini. Bisa saja pembaca pergi karena sudah merasa tahu cerita. Karena itu, jenis pembukaan penting untuk menahan informasi penting mengenai motif karakter (alasan/sebab-akibat mengapa kisah terjadi).


Wanita itu kesulitan mengingat namanya sendiri. Biasanya masalah ini terjadi saat ada orang yang tiba-tiba menanyakan namanya. Di butik, misalnya. Saat hendak mengukur jahitan untuk gaunnya, pramuniagawati akan bertanya, “Nama Anda, Bu?” lalu sekejap pikirannya buyar. Ia mengakalinya dengan mengeluarkan surat izin mengemudi, lalu perlahan membaca tulisan yang tertera pada kolom nama—yang tentu agak aneh buat lawan bicaranya. Jika kejadian macam ini berlangsung di telepon, tanpa sadar ia menciptakan kecanggungan, harus merogoh dompetnya dulu hingga membuat orang lain bertanya-tanya apa yang sedang terjadi di ujung sana.

(Dalam Monyet Shinagawa)


Lima cara di atas bukanlah cara baku. Masih banyak cara lain yang bisa dilakukan. Sekali lagi, pilihan untuk membuka cerita adalah sebuah selera. Tidak ada aturan baku dalam menulis.

Saya pribadi menyukai cara membuka cerita dengan dialog dan pernyataan yang menarik. Hal itu dikarenakan saya meyakini bahwa kunci sentral dari sebuah cerita adalah karakter/penokohan Sehingga segala sesuatunya harus mendukung penciptaan karakter tersebut. Dengan adanya dialog yang kuat di awal cerita, pembaca langsung bisa membayangkan karakter seperti apa yang ada di dalam cerita.

Kemenarikan pernyataan pun bukan sekadar dilihat dari struktur maupun impresi kalimat, melainkan keberadaannya di dalam cerita memang penting. Biasanya sebagai foreshadow atau pertanda terhadap baik itu gagasan atau konflik penceritaan.

Nah, bagaimana dengan kamu? Mau coba cara yang mana?

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *