Catatan Pringadi

Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan

Menghadiahi Diri Sendiri

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Seberapa dekat kita dengan diri kita sendiri? Sejauh mana kita mengenal binatang macam apa kita? Pertanyaan itu sangat penting untuk menemukan konsep diri kita yang utuh.

Setiap ada yang berulang tahun, kita kerap memikirkan kado yang cocok untuk diberikan. Termasuk bila kita yang berulang tahun atau berprestasi, kita menanti-nanti pemberian hadiah dari orang lain yang dekat dengan kita. Saya sudah lama berhenti mengharapkan hal semacam itu—kecuali dari kekasih tercinta. Saya lebih sering menghadiahi diri sendiri jika ada hal spesial yang telah saya jalani.

Sebenarnya saya seseorang yang sensitif. Saya terbiasa membaca raut wajah orang ketika memandang saya. Saya memiliki persepsi yang mendalam terhadap cara orang lain memandang saya. Saya tahu jika ada orang yang menghargai saya. Saya tahu jika ada orang yang tidak suka saya. Bahkan, kata-kata yang ditujukan untuk bercanda, saya cerna baik-baik. Bercanda adalah hal paling serius yang dilakukan manusia.

Dalam dua minggu ini, saya mendapat tugas mengajar ilmiah populer. Minggu lalu saya pergi ke Kepulauan Riau. Minggu ini saya pergi ke Aceh. Ada beberapa rekan saya yang memandang saya dengan pandangan berbeda. Mereka pikir saya diistimewakan oleh atasan saya.

Yang terjadi sebenarnya, penugasan saya awalnya tidak ada hubungannya dengan atasan saya. Saya dihubungi oleh bagian pengembangan. Beliau bertanya apakah saya mau mengajar. Saya jawab saya bersedia selama diizinkan oleh atasan. Tentu, saya katakan seperti itu karena saya menghormati posisi saya di bagian saya berada.

Kebetulan, atasan saya itu juga sering menulis. Seorang doktor. Maka, ia diminta mengajar pula. Jadilah dua orang dari satu bagian yang mengajar. Bukan atasan saya yang mengajak saya. Malah atasan saya itu mengurangi jatah mengajar saya dari 6 kali menjadi 3 kali dan melimpahkannya ke orang lain, agar saya bisa mengerjakan tugas kantor.

Apakah saya marah dan kecewa jatah mengajar saya dikurangi? Tidak. Sama sekali tidak. Karena mengajar itu bukan hal yang mudah. Tanggung jawabnya pun berat.

Bayangkan saja, dari pukul delapan pagi sampai pukul lima sore, saya berdiri di depan kelas, membagi ilmu, dan berhati-hati agar penyampaian saya dapat diterima. Saya berkeliling ke tiap peserta mengecek tulisan mereka. Setiap malam, saya membaca tulisan mereka lagi, membaca KFR agar saya makin mengerti substansi objek/bahan tulisan. Apakah itu adalah tindakan senang-senang?

Selama hari mengajar saya akan menjaga kondisi tubuh saya. Saya tidak makan aneh-aneh. Saya juga tidak berjalan-jalan. Saya hanya ke kantor, balik ke hotel, dan pergi cari makan kalau malam. Sudah, begitu saja.

Orang kemudian hanya melihat sisi selanjutnya ketika saya memposting foto saya yang tengah bersenang-senang. Saya memang suka traveling dan saya lakukan itu pada hari Sabtu setelah semua proses mengajar selesai. Saya baru bisa berbahagia ketika tanggung jawab saya selesai.

Itulah cara saya memberi hadiah kepada diri saya sendiri. Dengan begitu, saya akan merasa segalanya menarik dan menyenangkan. Saya pun jadi mencintai hidup yang saya jalani.

 

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *