Sastra Tutur Sumatra Selatan

Mengenal Sastra Tutur di Sumatra Selatan

Baru-baru ini aku menonton drama Korea 100th day of Prince yang diperankan oleh D.O EXO. Salah satu adegan dalam film tersebut mengingatkanku pada sastra tutur. Adalah ketika Won Deuk (diperankan oleh D.O) begitu dihargai ketika menunjukkan kemampuannya membaca dan menulis. Ya, zaman dahulu, pendidikan (membaca dan menulis) tidak dienyam semua pihak.

Hanya kalangan tertentu saja yang bisa mengenyamnya. Lalu, bagaimanakah sastra/literasi berkembang menghadapi situasi yang demikian? Bangsa kita memiliki sastra lisan/sastra tutur. Budaya menembangkan sastra ini mengakar di nusantara, termasuk di Sumatra Selatan.

Sastra Tutur di Sumatra Selatan

Sastra tutur di Sumatera Selatan diekspresikan dalam berbagai bentuk dengan nama khusus. Hal ini terjadi karena luasnya wilayah dan keragaman masyarakatnya.



Beberapa bentuk sastra lisan/sastra tutur yang dikenal di Sumatra Selatan antara lain Njang Panjang dan Bujang Jelihim di Ogan Komering Ulu (OKU), Jelihiman di Ogan Ilir (OI), Senjang di Musi Banyuasin (MUBA), Geguritan, Tadut, Betadur, dan Tangis Ayam yang berkembang di Lahat, Nyanyian Panjang dan Bujang Jemaran di Ogan Komering Ilir (OKI). Di luar itu, tentu masih banyak bentuk sastra tutur yang lain.

Geguritan

Pada abad ke 18 sampai pertengahan abad 20 di dusun Besemah, geguritan tumbuh dan berkembang. Geguritan adalah seni prosa lirik berbentuk cerita panjang yang ditembangkan. Isinya falsafah, ajaran moral, nasihat, aturan-aturan adat, suara-suara hati nurani, sejarah, dan potret karakter manusia dan kisah-kisah kepahlawanan.

Geguritan biasanya dituturkan dalam acara-acara umum seperti syukuran panen, pesta pernikahan, acara pada saat malam bulan purnama. Penembangan guritan juga diselenggarakan ketika ada anggota keluarga yang meninggal dunia sebagi penghibur bagi anggota keluarga yang ditinggalkan. Penuturan guritan dilakukan usai maghrib hingga lewat tengah malam.

Selama penuturan berlangsung, penutur guritan duduk bersila dengan tangan dilipat diatas sambang (alat khusus terbuat dari bambu berdiameter 9 cm panjang 2 jengkal dan dilubangi ujungnya). Dengan bantuan alat ini penggurit mengatur vibrasi suaranya.

Di saat bulan purnama musim panen, perempuan dusun Besemah mulai menganyam tikar di lapangan terbuka dan orang tua, muda, anak-anak berkumpul. Di saat-saat seperti itu penggurit pun mulai melantunkan guritan sampai larut malam.

Guritan terdiri dari dua jenis, yaitu guritan lama dan guritan baru. Guritan lama berisi kisah-kisah masa silam dan peribahasa-peribahasa. Bahasa yang digunakan dalam penuturan guritan lama adalah bahasa lama yang masyarakat Besemah sekarang tidak paham.

Lain hal dengan guritan baru, guritan baru berisi kisah-kisah peristiwa selama zaman gerilya dan bahasa yang digunakan pun dimengerti orang banyak. Di antara guritan yang terkenal adalah “Keriye Rumbang Ngempang Lematang” dan “Jagad Besemah”

J A G A T B E S E M A H 1945

Ilok gale mangkal guritan
ilok gale mangkal pantunan
guritan ini kite batasi
peristiwa jagat Besemah.

Bukan li luat nggachi Lahat
bukan dik linjang nggachi Lintang
bukan dik intim nggachi Kikim
jangan ragu kurang sebase lame.

Bukan “puisi” asak isi
bukan “perosa” nuntut jasa
bukan ambisi endak kureksi
bukane jasa endak ingatkah

Kalu di Jawe ade wayang
pilam kelasik di India
Abu Nawas di Timur Tengah
ade guritan di Besemah

Singgan dikukup aban putih
sibang disinjar mate achi
diatas langit teterukop
dibawah bumi tetelentang
ilok gale mangkal guritan

Tadut

Kata tadut dari kata dalam bahasa Arab jadidun berarti “baru”. Lalu menjadi tadut dalam dialek Besemah yang berarti pembaharuan. Maksud dari pembaharuan adalah pembaharuan terhadap kepercayaan lama yang ada dengan kepercayaan baru. Hal ini disebabkan oleh masuknya ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW di daerah Besemah.



Agama Tauhid sebetulnya sudah sejak lama ada di Besemah, namun yang diajarkan adalah ajaran Nabi Ibrahim dan Nabi Musa. Karena itulah, perkembangan tadud dibarengi dengan masuknya Islam ajaran Nabi Muhammad di masyarakat Besemah.

Tadut merupakan jenis puisi yang dipergunakan untuk menyampaikan ajaran agama Islam pada saat Islam berkembang cukup pesat di daerah Pagaralam. Penutur tadut biasanya adalah seorang laki-laki yang pemahaman terhadap ajaran agama Islam cukup tinggi.

Dengan kata lain, penutur tadut adalah pemegang kitab kuning atau perukunan (melayu). Karena isi tadut kebanyakan adalah ajaran agama, penuturan tadut biasanya dituturkan pada malam hari di dalam kelompok pengajian tradisional atau yang disebut bepu’um. Kebanyakan anggota pengajian tradisonal adalah orang-orang lanjut usia.

Malam ini malam jemahat kah masuk malam Sabtu
Perintah Nabi Muhammad ngajung semayang lime waktu
Malam ini malam Sabtu kah masuk malam Ahad
Semayang lime waktu jangan benagh berbuat jahat……

Tembang/ Nyanyian Panjang

Tembang/ Nyanyian panjang merupakan merupakan bentuk folklore yang terdiri dari kata-kata dan lagu, yang beredar secara lisan di antara anggota kolektif tertentu, berbentuk tradisional, serta banyak mempunyai varian.

Nyanyian panjang dikenal juga dengan nama tembang panjang atau njang panjang. Dahulu, Nyanyian panjang sempat mendapat tempat di hati masyarakat pendukungnya dengan berbagai tema yang disuguhkan penutur kepada pendengar.

Di antara nyanyian panjang yang cukup dikenal adalah Raden Alit dan nyanyian panjang Sejarah Saman Diwa. Pada saat proses penuturan nyanyian panjang sejarah saman Diwa penutur nyanyian panjang bisanya kerasukan ruh leluhur. Ayakan padi yang ada pada penutur lalu dipukul-pukul sebanyak tiga kali.

Nyanyian panjang dituturkan dengan bahasa masyarakat setempat, seperti bahasa Ogan, Bahasa Belide, dan bahasa enim. Di masa lalu nyanyian panjang dituturkan saat panen telah tiba, saat ada hajatan masyarakat, seperti pesta pernikahan, pada acara khitanan, dan pada saat kelahiran bayi bahkan kalau ada orang yang meninggal dunia.

Senjang

Senjang pertama kali dipopulerkan oleh masyarakat Kecamatan Sungai Keruh Kabupaten Musi Banyuasin. Penyebaran sastra tutur senjang ke beberapa kecamatan lain di Musi Banyuasin membuat irama senjang tidak sama antara satu kecamatan dengan kecamatan lain.

Senjang menghubungkan orang tua dengan generasi muda atau dapat juga antara masyarakat dengan pemerintah dalam penyampaian aspirasi yang berupa nasihat, kritik maupun penyampaian strategi ungkapan rasa gembira.

Karena antara lagu dan musik tidak saling bertemu, maksudnya saat berlagu musik berhenti, saat berbunyi orang yang bersenjang diam sehingga syair dan musik tidak pernah bertemu. Itulah yang disebut senjang.

Diamati dari segi bentuk, senjang adalah puisi yang berbentuk pantun( talibun). Hal ini dapat dilihat dari jumlah lirik dalam satu bait selalu lebih dari empat baris. Keistimewaan senjang dilihat dari penyajiannya yang selalu diiringi dengan musik. Setiap kali pesenjang berhenti bernyanyi, maka musik akan dimainkan.

Ikatan senjang juga memiliki pola tersendiri. Sebuah senjang biasanya terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama merupakan bagian pembuka. Bagian kedua merupakan isi senjang yang akan disampaikan. Bagian ketiga merupakan bagian penutup yang biasanya berisi permohonan maaf dan pamit dari pesenjang.

Bagian pembuka senjang dapat dilihat dari contoh berikut:

Cobo – cobo maen gelumbang Entahke padi entah dedak Bemban burung pulo lalang Untuk bahan muat keranjang Cobo – cobo kami nak basenjang Entahke pacak entah dak Kepalang kami telanjur senjang Kalu salah tolong maaf ke

Contoh bagian isi senjang :

Kalu adek ke Palembang Jangan lali ngunde tajur Tajur pasang di Sekanak Bawa batang buah Banono Kala adek bajo linjang Jangan sampai talanjur Kalu rusak lagi budak Alamat idop dak samparno

Contoh bagian penutup senjang:

Kalu nak pegi ke Karang Waru Singgah tegal di Jerambah Pogok Tengah jalan ke Rantau Kasih Nak pegi ke dusun ulak Kami senjang barenti dulu Adat karena abis pokok Kami ucapke terime kaseh Maap ke bae kate yang salah

Keberadaan sastra tutur di Sumatra Selatan terancam punah. Sebagai salah satu aset bernilai tinggi milik masyarakat Sumatra Selatan sudah seharusnya masyarakat dan pemerintah setempat bekerja sama menjaga dan melestarikan kembali sastra tutur di kalangan generasi muda. Semoga bulan bahasa dan sastra selalu jadi momentum untuk melestarikan sastra tutur di Sumatra Selatan.

Nah, bagaimana dengan kondisi sastra tutur di daerahmu?



Catatan Tambahan:

Sumber tulisan ini diringkas dari makalah Putu Carolina, Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009 saat rangkaian acara 2009 lalu. Pertama kali saya publikasikan di Kompasiana.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *