Triennial VI Hui Zhang

Mencari Metafora Baru di Pameran Trieniial Seni Grafis Indonesia VI

Matanya tajam. Lehernya terlilit rambutnya sendiri yang panjang. Menatap karya itu, entah kenapa aku merasakan semacam kegelisahan yang sulit dijelaskan. Karya berjudul “Gaze Toward the Light 2” karya Hui Zhang dari China itulah yang kemudian memenangkan Triennial VI.

Triennial adalah kompetisi seni grafis di Indonesia yang digelar oleh Bentara Budaya Jakarta sejak tahun 2003. Harapan kompetisi ini ialah agar dapat memicu perkembangan kualitas karya para pegrafis  di Indonesia sekaligus memperlebar cakrawala apresiasi para penikmat seni di tanah air secara berkesinambungan.

Kompetisi Triennial ini ternyata menarik minat dan perhatian sejak kali pertama digelar. Pada Triennial I, 2003 lalu, 146 seniman mengikuti kompetisi ini dengan jumlah 286 karya. Jumlah ini sayangnya menurun pada 2006, Triennial II hanya diikuti 93 peserta dengan jumlah 164 karya. Keikutsertaan seniman berbalik meningkat pada penyelenggaraan ketiga, pada tahun 2009, yakni sebanyak 166 peserta dengan jumlah 309 karya. Begitu juga 3 tahun berikutnya, Triennial IV diikuti 224 pegrafis dengan total 405 karya.

Baru pada perhelatan kelima, Bentara Budaya mulai membuka partisipasi peserta dari mancanegara. Tak kurang dari 21 negara memiliki wakilnya di Triennial Seni Grafis Indonesia V 2015. Total peserta 198 dengan jumlah 355 karya. Pada saat itu, pemenang pertama berasal dari India yaitu Jayanta Naskar. Pemenang kedua berasal dari Thailand, Puritip Suriyapatarapun. Pegrafis dari Indonesia, Muhlis Lugis dari Makassar berhasil menyabet pemenang ketiga.

Dalam perhelatan keenam, kompetisi seni grafis tiga tahunan itu juga diikuti oleh peserta dari berbagai negara. 166 pegrafis yang berasal dari 26 negara dengan jumlah 317 karya. Selain dari Indonesia, peserta Triennial VI berasal dari Argentina, Bangladesh, Nepal, Bosnia, Brazil, Bulgaria, Cina, Kolombia, Mesir, Perancis, India, Italia, Jepang, Moldova, Filipina, Polandia, Thailand, Korea Selatan, Amerika Serikat, Turki, Serbia, Kroasia, Singapura, dan Kanada.

Pada Malam Penganugerahan Pemenang dan Pembukaan Pameran Triennial Seni Grafis Indonesia VI (24/05/2019) di Bentara Budaya Jakarta, dewan juri yang terdiri dari Ipong Purnama Sidhi (Ketua Dewan Juri dan curator Bentara Budaya), Dwi Marianto (penulis buku dan dosen ISI Yogyakarta), Edi Sunaryo (Perupa dan Dosen ISI Yogyakarta), Devy Ferdianto (Pegrafis dan Kepala Divisi Seni Cetak Ganara), dan Theresia Agustina Sitompul (Perupa, Pegiat Studio Grafis Minggiran Yogyakarta dan Dosen ISI Surakarta) mengatakan seluruh karya telah diseleksi secara ketat.

Hasil penjurian tersebut dapat dimaknai sebagai salah satu perwajahan seni grafis dunia. Visualisasi yang ditampilkan pada karya-karya finalis adalah materi refleksi untuk mengetahui seberapa jauh perkembangan seni gravis konvensional di ranah global. Dari kompetisi ini, bisa ditemukan gagasan yang otentik, metafora yang segar dan merepresentasikan berbagai persoalan lokal maupun global, sosiokultural juga personal yang terjadi di berbagai negara.

Karya-karya tersebut juga mengacu pada norma konvensional seni grafis yang mencakup ketaatan teknis pada empat teknik cetak dasar seni grafis (cetak tinggi, cetak dalam, cetak datar, dan cetak saring). Proses yang dilakukan secara analog itu memiliki orisinalitas dan otentitas estetik.

Direktur Program Budaya Jakarta, Frans Sartono, mengatakan bahwa kompetisi Triennial ini adalah bentuk komitmen Bentara Budaya untuk mendukung perkembangan seni grafis di Indonesia. Keterlibatan peserta internasional dimaksudkan untuk memicu antusiasme pegrafis dalam negeri. Sayangnya pada Triennial VI kali ini peserta dari Indonesia tidak meraih pemenang I sampai III. Gunawan Bonaventura, dengan karyanya Keep Smile, hanya menjadi salah satu peserta dengan penghargaan khusus.

Pameran karya-karya finalis Triennial VI ini dibuka untuk umum. Silakan datang ke Bentara Budaya Jakarta di Jalan Palmerah Selatan No. 17, Jakarta mulai 25 April sampai 5 Mei pukul 10.00-18.00 WIB. Gratis lho.

Bukan hanya pameran, dalam rangkaian pameran akan ada juga workshop seni grafis, gambar bareng bersama komunitas Sketchers, workshop Kokoru dan dongeng anak. Workshop seni grafis akan digelar pada Kamis 25 April 2019 pukul 14.00 – 17.00 bersama Theresia Agustina Sitompul dan gratis untuk umum. Untuk gambar bareng bersama komunitas Sketchers akan digelar pada Sabtu (27/4/2019) mulai pukul 13.00 – 17.00 WIB. Workshop Kokoru dan dongeng anak akan diselenggarakan pada Selasa (30/4/2019) pukul 08.30 – 11.30 WIB dan bagi siapa pun yang ingin mengikuti cukup mendaftar melalui sekolah masing-masing.

 

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *