Menanti Profesionalisme Pemberi Award di Bidang Buku dan Kepenulisan

Ada sejumlah pemberian penghargaan buku dan kepenulisan di tanah air. Dan pemberian penghargaan tersebut tak jarang memunculkan kontroversi. Pertanyaan-pertanyaan kenapa Si A yang menang, kenapa buku B yang terpilih padahal bukunya tidak laku atau bukunya tidak bagus-bagus amat, sering muncul di khalayak. Hal itu juga tidak dijawab dengan alasan yang memuaskan sehingga sebagian kalangan merasa antipati terhadap beberapa jenis penghargaan yang ada.

Era sekarang membutuhkan transparansi. Masyarakat pembaca sangat ingin tahu pertanggungjawaban juri atau dewan kurator. Kecurigaan ada motif-motif lain di belakang penghargaan pun muncul tak sedikit seiring dengan misteriusnya pemberian penghargaan.

Yang terbaru, Tempo akan memilih seorang Tokoh Sastra. Tempo menginginkan penerbit untuk mengirim buku-buku yang diterbitkan untuk Tempo seleksi. Sebenarnya sah-sah saja menentukan kualitas Tokoh Sastra dari kualitas karyanya. Namun, meminta penerbit atau penulis untuk mengirimkan karyanya adalah suatu bentuk “kemalasan”.

Dalihnya, mungkin saja ada buku-buku yang terlewat oleh panitia Tempo sehingga buku-buku yang tak terpantau dapat masuk ke dalam penyeleksian juga. Namun, dalih ini begitu mudah terpatahkan. Belajar dari Goodreads, sebelum seleksi dimulai, pihak Goodreads merilis buku yang sudah masuk dalam radar/ pantauan mereka. Bila ada buku yang belum dimasukkan, Goodreads mempersilakan pustakawan untuk mengirimkan judul buku yang belum ada tersebut.

Setidaknya hal ini menunjukkan bahwa panitia sudah bekerja keras memantau buku-buku yang terbit pada periode bersangkutan. Kriterianya pun harus jelas, mulai dari periode terbit dan jenis buku. Jangan sampai seperti sebuah penghargaan yang dulunya bernama Katulistiwa Literary Award itu… ada buku yang terbit di tahun sebelumnya dan buku yang baru terbit banget (melewati periode) masuk dalam longlist penghargaan tersebut. Hal ini sungguhlah sebuah lelucon yang kebangetan.

Tentu, penghargaan-penghargaan seperti ini perlu untuk menyemerakkan perbukuan, asal ada keterbukaan dan profesionalisme. Goodreads memberi penghargaan terfavorit berdasarkan rating dan voting di situs mereka. Penghargaan buku terpopuler atau terlaris pun bisa diberikan dengan data kuantitatif yang ada. Namun, jika kategorinya sudah terbaik, ketokohan, semuanya harus jelas, karena legacy dan warisan sejarah yang dipertaruhkan. Jangan sampai kita menambah keputusan buruk seperti halnya memasukkan DJA ke dalam 33 Tokoh Sastra Berpengaruh. Pret!

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *