Memahami Nota Keuangan RAPBN 2018

Asumsi Dasar Makro Ekonomi 2018

Nota keuangan menjadi gambaran mengenai prospek ekonomi tahun depan. Dalam Nota Keuangan mencakup target pertumbuhan ekonomi, sasaran inflasi, proyeksi nila tukar, dan proyeksi harga minyak dunia. pemerintah juga menjabarkan mengenai target penerimaan perpajakan serta indikator lainnya.

Belanja Negara

Rancangan APBN 2018 masih bersifat ekspansif. Simpelnya, belanja dianggarkan lebih besar dari tahun sebelumnya sebagai stimulus fiskal untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4%. Angka 5,4% ini sebenarnya dinilai ambisius, mengingat ketidakpastian global masih menghantui perekonomian. Sebagai perbandingan, realisasi pertumbuhan ekonomi semester pertama saja hanya 5,01%. Ketidakpastian global ini akan memicu volatilitas harga komoditas yang menjadi bagian ekspor terbesar kita. Jika harga komoditas turun, dipastikan pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan akan sulit dicapai.

Anggaran belanja pemerintah pusat menurut fungsinya pada RAPBN 2018 naik ~100 triliun sebesar menjadi Rp1.443,2 triliun dari APBN 2017 sebesar Rp 1.343,0 triliun. Alokasi anggaran pemerintah pusat yang terbesar adalah fungsi pelayanan umum yaitu 30,3% dari total anggaran fungsi. Sisanya sekitar 69,7% tersebar pada fungsi-fungsi lainnya, yakni pertahanan, ketertiban dan keamanan, ekonomi, perlindungan lingkungan hidup, perumahan dan fasilitas umum, kesehatan, pariwisata, agama, pendidikan dan perlindungan sosial.

Peningkatan signifikan terjadi di fungsi pelayanan umum, pariwisata dan ekonomi. Dalam RAPBN 2018, anggaran untuk fungsi layanan umum naik dari Rp347,4 triliun menjadi Rp437,9 triliun pada tahun depan. Anggaran belanja pariwisata tercatat meningkat dari Rp3,34 triliun menjadi Rp7,45 trilun. Sementara itu, anggaran belanja pemerintah pusat untuk fungsi ekonomi naik menjadi Rp344,4 triliun dari APBN 2017 sebesar Rp323,4 triliun.

Pendapatan Negara yang Realistis?

Realisasi penerimaan pajak semester I 2017 sebesar Rp482,6 triliun atau 37,95 persen dari target. Realisasi ini naik 8,2% dari tahun lalu. Tapi kenaikan ini juga karena ada faktor Tax Amnesty tahap III di awal tahun.

Dalam RAPBN 2018, pendapatan negara diproyeksikan sebesar Rp1.878,4 triliun, terdiri dari penerimaan perpajakan sebesar Rp1.609,4 triliun dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp267,9 Triliun dan penerimaan hibah sebesar Rp1,1 triliun.

Dalam APBN-P, target penerimaan pajak hanya sebesar 1472,7 T. Penambahan target 9,7% ini, saya tidak tahu apakah feasible atau tidak. Ataukah justru kita akan memulai lagi perhitungan shortfall kita tahun demi tahun.

Pengelolaan pembiayaan yang terukur dan terjaga

Poin ini juga sangat penting. Dalam RAPBN tahun 2018 defisit diperkirakan mencapai Rp325,9 triliun (2,19 persen PDB) atau turun dibandingkan outlook APBN Perubahan tahun 2017 sebesar 2,67 persen terhadap PDB.

Hal yang perlu dilihat bukan hanya angka defisit dalam satu tahun berjalan, tetapi defisit hariannya yang memungkinkan pembiayaan meleset jauh dari defisit satu tahun. Sebagai contoh, selisih antara pembiayaan dan defisit anggaran pada tahun 2016 saja mencapai 30 triliun. Artinya, kita melakukan pembiayaan lebih dari defisit/utang yang dibutuhkan yang diakibatkan oleh pengelolaan yang kurang baik.

 

Comments

comments