Masa Kecil yang Bahagia

Apa tanda-tanda seseorang berbakat menjadi penulis? Salah satunya adalah masa kecil yang tidak bahagia.

Saya lupa pernah membaca pernyataan tersebut di mana. Dilihat dari aspek itu, berarti saya tidak punya bakat menulis. Sebab masa kecil saya bahagia…sangat bahagia.

Zane kerap bertanya mengenai masa kecil saya. Dia tidak percaya kalau banyak hal seru yang saya alami ketika kecil. Orang tua saya pun menganggap saya hanyalah seorang anak rumahan, tukang mengurung diri di kamar, dan tidak banyak tahu tentang sisi-sisi lain yang saya alami karena saya memang tidak pernah bercerita apa-apa kepada mereka.

Saya anak bungsu. Lima bersaudara. Bapak saya seorang pegawai negeri sipil. Ibu saya ibu rumah tangga. Saya dan kakak saya yang keempat terpaut usia 6 tahun. Kakak perempuan saya itu suka sebel, mungkin karena dia gagal menjadi anak bungsu. Anak bungsu mendapat keistimewaan, lebih disayang.

Salah satu keistimewaan yang saya miliki adalah, apabila Bapak pulang membawa snack rapat (beliau selalu membawa snack-nya ke rumah), saya dipersilakan memilih terlebih dahulu kue mana yang saya sukai. Sebulan sekali, Bapak juga membeli roti di Holland Bakery, 7 picis. Masing-masing kami mendapat 1 picis. Tapi kadang, saya serakah meminta lebih. Ibu kerap memberikan setengah potong miliknya buat saya. Ketika memasak Indomie dengan telor pun, potongan telor yang lebih besar biasanya diberikan buat saya. Jika hari Minggu tiba, semua anggota keluarga akan membersihkan rumah dan halaman. Saya tak ikut serta. Saya menonton televisi sampai pukul 9.

Punya 4 orang kakak yang usianya beda jauh juga menguntungkan. Kakak pertama saya sangat telaten. Perfeksionis dan sabar. Dia seorang libra. Dialah yang mengajari saya membaca dan berhitung sehingga saya ingat sekali, sebelum TK (usia saya 3 tahunan) saya sudah bisa membaca. Selama TK 1 tahun, saya sudah tidak mengeja. Dan disuruh langsung masuk sekolah dasar. Padahal saat itu usia saya masih 4,5 tahun. Kakak pertama ini jugalah yang mengenalkan Annida ketika saya SMP. Berkat membaca cerpen-cerpen di Annida itu, saya jadi kepengen menulis cerpen juga.

Di luar rumah, saya punya beberapa teman. Teman saya semuanya baik-baik. Saya merasa semua orang bersikap baik kepada saya. Kadang-kadang saya justru tak nyaman dengan hal itu.

Hal di atas tak terlepas dari latar belakang keluarga saya. Bapak saya sungguh orang yang baik dan dihormati masyarakat. Beliau seorang pembelajar dan sangat supel. Beliau juga sangat kharismatik. Tidak ada yang berani membantah kalimat beliau di rumah. Hanya dengan tatapan mata, kami semua menurut padanya.

Apalagi setelah menunaikan ibadah haji pada saat saya kelas III SD, sejak saat itu peruntungan keluarga kami berubah drastis. Bapak dipanggil Haji, dan masih jarang Haji di kampug saya. Krisis moneter pada tahun 1997 justru menjadi keuntungan yang tinggi. Modal dalam perkaretan mendadak naik hingga 8 kali lipat karena kurs dan harga komoditas, dan usaha yang dijalani oleh keluarga kemudian berkembang pesat.

Saya percaya haji Bapak saya mabrur. Mabrur bukanlah kondisi yang given. Tapi kondisi ketika seseorang menyadari ada potensi dalam dirinya, kemudian menjadi momentum perubahan. Bapak berubah drastis. Kontribusinya ke umat semakin besar hingga saat ini…bahkan di usia pensiunnya, ia terus memikirkan kerja untuk masyarakat.

Namun, ada sisi saya yang tak nyaman dengan itu. Saya tak ingin berada dalam bayang-bayang Bapak. Sejak kelas 5 SD saya memikirkan hal itu. Tak enak menjadi anak yang terus-menerus diistimewakan. Ketika menjadi murid dengan nilai terbaik dalam tes kelas unggulan se-Kecamatan, saya dipanggil ke ruang Kepala Sekolah. Di sana ada orang dari Diknas. Saya ditanya, anak siapa. Ketika menyebut nama Bapak, Kepala Sekolah bilang kepada orang Diknas, saya anaknya Bapak. Lalu, dia bilang, keluarga Bapak adalah penyedia bibit unggul.

Saya istimewa. Saya ingin istimewa dalam pribadi saya sendiri.

Maka, ketika ditawari untuk sekolah ke Kota Palembang, saya tak menolak. Anak kampung sekolah ke kota adalah hal yang langka sekali waktu itu. Apalagi tingkat SMP. Saya pun sekolah ke SMP 3 Palembang, salah satu SMP terbaik di provinsi Sumatra Selatan.

Di sinilah saya merasa kenyamanan, tak ada yang mengenal siapa saya. Dari seluruh siswa yang diterima di sekolah ini, NEM saya ada di urutan kelima. Hanya ada 4 orang yang berada di atas saya. Salah satunya… nantinya, akan menjadi salah satu sahabat saya hingga hari ini.

Ketika SMP inilah saya mengenal kehidupan. Dipalak adalah hal biasa. Muntah karena naik bis, telat berangkat sekolah, tak punya ongkos karena duit hilang, lalu jalan kaki sejauh 6 kilo lebih untuk sampai ke rumah… jatuh cinta, mimpi basah, main di got-got hanya untuk mencari ikan gapi, punya teman yang menusuk siswa sekolah lain, diajari naik bis dan makan mpek-mpek nggak bayar…semua itu saya alami di Palembang. Di rumah, saya juga punya teman dengan area yang lebih luas. Semuanya akibat bola kaki. Saya ikut klub bola Wak Totok. Saya bahkan pernah bikin klub sendiri, lalu sparing dengan klub bola lain, naik truk ramai-ramai, menang dan kalah…taruhan main sepak bola juga pernah. Berenang di kedukan, lalu pulangnya dikejar anjing juga jadi pengalaman yang tak bisa saya lupakan.

Masa kecil saya…sungguh, benar-benar bahagia. Saya pun tak akan mau menukarnya dengan penderitaan…meski itu bisa membuat saya berbakat menjadi penulis besar seperti Kafka sekalipun.

 

 

 

 

 

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *