Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan

Kereta Pagi

Tahukah kau apa yang lebih menyeramkan dari sekawanan pemabuk yang baru saja kehilangan kerabatnya yang terbunuh karena mempertahankan tanah tempat ia berpijak? Aku akan bilang, para binatang pekerja yang berumah di sekitar Bogor dan bekerja di Jakarta, yang antre menunggu kereta datang, lebih tak berprikemanusiaan dibandingkan mereka.

Setiap pagi pada hari kerja, aku harus menghadapi bahaya itu. Bahaya yang lebih mengancam bukanlah pada saat berebut naik kereta, namun pada saat berada di dalam kereta, ketika para binatang di stasiun berikutnya mendesak masuk ke dalam gerbong yang sudah penuh. Kadang kubayangkan akan ada bunyi kraak yang dramatis yang berasal dari patahnya tulang seseorang, meski paling sering hanya bunyi desahan orang-orang yang mengeluh menghadapi situasi sesulit itu.

Kereta berjalan, sebagian besar orang menunduk sambil melihat layar ponsel pintar yang membuat orang-orang semakin bodoh. Yang duduk, pura-pura tertidur, agar nanti jika ada orang tua, perempuan hamil, mereka tak jadi orang pertama yang diminta berdiri menyerahkan tempat duduknya. Tempat duduk itu sudah seperti kursi kekuasaan yang berat sekali untuk dilepaskan. Aku pikir orang-orang seperti itu pernah mencalonkan diri menjadi anggota dewan, namun tak kesampaian.

Aku adalah seekor binatang pekerja. Hidup seperti ini, aku tak tahu, apa yang sebenarnya kuharapkan? Tapi itulah bedanya binatang dengan manusia. Binatang tak punya akal budi. Aku tak ingin memikirkan semua itu karena hanya dengan demikianlah perutku terisi.

 

 

Comments

comments



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *