Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan

Kepada Saudaraku, Cesar Vallejo

Saudaraku, hari ini aku duduk di bangku bata di rumah

di tempat yang sama dirimu menciptakan kekosongan tak berdasar

Aku mengingat kita biasa bermain pada jam-jam ini, dan Mama

membelai kita: “Tetapi, para putraku…”

 

Sekarang, aku pergi bersembunyi

seperti sebelumnya, dari segala pelajaran malam,

dam aku percaya dirimu tak akan membiarkanku menjauh.

Melalui ruang tamu, ruang tunggu, koridor.

Kemudian, kau menghilang, dan aku tak akan membiarkanmu menjauh.

Aku ingat kita membuat diri kita menangis,

Saudaraku, dari begitu banyak tawa.

 

Miguel, kamu pergi ke persembunyian itu

pada suatu malam di bulan Agustus, menjelang dini hari

tetapi, ketimbang tertawa kecil, kau malah sedih.

Dan hati kembar itu, dari malam-malam mereka yang mati

kian terganggu karena tak menemukanmu. Dan kini

sebuah bayangan menimpa jiwaku.

 

Dengarkan, Saudaraku. Jangan terlambat

pulang ke rumah, Baiklah… Mama mungkin khawatir.
To My Brother

Brother, today I sit on the brick bench of the house,
where you make a bottomless emptiness.
I remember we used to play at this hour, and mama
caressed us: “But, sons…”

Now I go hide
as before, from all evening
lectures, and I trust you not to give me away.
Through the parlor, the vestibule, the corridors.
Later, you hide, and I do not give you away.
I remember we made ourselves cry,
brother, from so much laughing.

Miguel, you went into hiding
one night in August, toward dawn,
but, instead of chuckling, you were sad.
And the twin heart of those dead evenings
grew annoyed at not finding you. And now
a shadow falls on my soul.

Listen, brother, don’t be late
coming out. All right? Mama might worry.

Comments

comments



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *