Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan

Kenangan tentang Cinta

Aku mencintaimu dengan sepenuh kenangan. ~ Sungging Raga, dalam Simbiosa Alina

Arsenal selalu disingkirkan Bayern Muenchen. Tampaknya Arsene Wenger belum pernah bisa menyingkirkan Pep Guardiola dari sekian pertemuan.

Aku sendiri tak pernah bisa menyingkirkan kenangan-kenangan yang ada di dalam hidupku.

Dari sekian kenangan, yang terbaik adalah masa-masa di kelas 2 SMA. Di masa itu, rasanya, hidup terasa begitu berwarna.

Aku duduk sebangku dengan Randi Firdian. Pria asal Bengkulu itu baru pindah ke Palembang saat mau masuk SMA. Logatnya lucu. Bicaranya formal dan lembut. Dia sedikit bicara, tapi sekali bicara nyelekit. Pria ini adalah pria paling cuek yang pernah kukenal. Ranselnya selalu menggelembung. Penuh. Aku pikir dia banyak membawa buku pelajaran. Dia pintar, tetapi tidak menonjolkan diri di kelas. Tidak pernah berinisiatif maju untuk mengerjakan soal di papan tulis. Dan di semester I, dia meraih peringkat I. Aku sendiri berada di bawahnya, yak, peringkat II.

Isi tas yang penuh itu bukan buku pelajaran, melainkan komik. Darinya aku menjadi pencinta komik. Katanya kita bisa belajar hidup dari komik. Dan dia benar.

Komik menjadi candu dalam hidupku. Taman Bacaan Nanda, di samping Methodist menjadi tempat kami pergi sepulang sekolah. Satu komik dikenakan tarif sewa 1000 rupiah. Dia merekomendasikan Kungfu Komang untuk dibaca. Katanya aku mirip Kulpang, jadi aku harus membacanya.

Sialan. Itu memang komik paling ngakak sedunia. Aku sendiri jadi sering memanggilnya Gwedopang atau si Kepala Besar.

Kami duduk di kolom pertama, baris ketiga dihitung dari pintu masuk. Kelas 2.11. Ini kelas gudang. Ini juga kelas setan. Sering sekali guru tidak masuk mengajar ke kelas kami. Jam-jam kosong adalah jam-jam yang karib dengan kami.

Dinamakan kelas gudang karena ketika pembagian kelas, tidak ada label kelas 2.11 di penjuru sekolah. Kami berkumpul, bertanya pada pihak kelas, di mana lokasi kelas tersebut. Satu pegawai mengantar kami ke sebuah ruangan, di pojok khusus. Ia membuka pintu dan terpaparlah debu-debu yang maha dahsyat, kursi-kursi bekas yang seharusnya sudah dihapuskan sebagai barang milik negara. Dengan santai berkata, “Ini kelas kalian mulai dari sekarang.”

Alhasil, ketika anak-anak kelas lain sudah memilih bangku untuk diduduki, kami menguli. Mengangkati seluruh isi gudang tersebut, menyusunnya, mengepelnya sehingga bisa dikatakan layak untuk ditempati. Jadilah kami terkenal seantero sekolah sebagai “Anak Gudang”.

Dinamakan kelas setan karena di kelas ini ada anak perempuan bunuh diri. Kabarnya setelah diperkosa, ia menceburkan diri ke sumur tua. Ada yang berpendapat kalau sumur itu berada di dalam kelas. Ada yang bilang persis di samping kelas kami. Dulu, sumur itu selalu menampakkan diri, menonjol, meski sudah direnovasi–ditinggikan berkali-kali lantainya. Setelah diadakan pengajian selama sebulan, barulah ia tidak muncul lagi. Aku tahu ini dari kakakku, yang alumni SMA tersebut 5 tahun di atasku. Katanya hal itu benar terjadi.

Akibat penderitaan tersebut, bisa dikatakan kelas kami sangat kompak. Terkenal kocak. Dan kebersamaannya bahkan menyaingin anak-anak kelas unggulan di 2.1 yang memang sudah sekelas dari kelas 1.

Kekocakan tersebut misalnya, ketika jam olahraga, biasanya kami di seluruh lari mengelilingi sekolah. Di depan guur olahraga, kami akan serius lari. Sesampainya di koridor yang tak terlihat, Tiarawan dengan pose merentangkan tangan, berkata, “STOP!” lalu kami jalan dengan riang sambil bernyanyi, “Biawak Tokak, Biawak Tokak…” Merujuk pada julukan satu guru yang paling sering tidak masuk.

~

Di masa ini juga kisah-kisah cinta terjadi. Randi yang kami jodoh-jodohkan dengan Kholijah (yang sama pendiamnya) tampaknya jengah juga, meski ia pasti tidak menampik memiliki ketertarikan dengan wanita itu. Ketika Iwan berteriak dari belakang, “Randi, Kholijah mau lho sama kamu!” Serta merta dia berkata kurang-lebih, “Aku terlalu tampan bagimu.” Hening. Lalu tawa memecah seketika. Tapi pasti kata-kata itu menyakiti Kholijah. Aku tahu.

Sigit yang aktivis Rohis juga berulah. Maklum, dia ketua Divisi Dakwah. Aku memarahinya karena dia pedekate dengan Desti, dan setelah itu dengan Nurrohmah, memojok di kelas. Akhirnya dia dipindahkan ke Divisi Seni. Entah kenapa, beberapa tahun setelah itu, malah aku yang pacaran dengan Nurrohmah. Ah.

Aku sendiri bukan tanpa kasus. Ada Novilda Disanti. Aku menyukainya dari kelas 1. Tapi kesukaanku bertambah karena dia ada di kelas 2.10. Dia duduk di depan pula. Jadi setiap hari mau tidak mau aku melihat wajahnya setiap melewati kelas itu.

Lalu karena Akbar adalah anggota majalah sekolah, dan ada momen salam-salam di majalah. Aku menitipkan pesan. Begini bunyinya:

From Someone in 2.11

To Novilda Disanti in 2.10

Semoga kamu tetap menjadi matahari yang selalu menyinari hatiku.

Dan kelas heboh. Tapi siapa yang tahu rahasiaku. Cuma Dicky, teman sebangkuku di kelas 1. Angga, teman SD yang satu SMA denganku. Randi. Dan Akbar. Tidak ada yang lain.

Arif, Iwan, Tiarawan, dedengkot-dedengkot itu menuduh Randi sebagai pelakunya. Mustahil mendesak Akbar yang super cool itu untuk bicara. Pasti dia akan tersenyum saja. Randi dituduh begitu pun cuek sekali. Tapi dasar Dicky yang ember. Keesokan harinya dia datang ke kelas dan berkata, “Lho kenapa jadi Randi? Kan Pringadi yang suka Novilda dari dulu…” Tam tam tam.

Selama beberapa Minggu setelah itu tersebar, aku habis diolok. Setiap lewat 2.10, aku disoraki. Sampai pernah ketika aku terlambat, sial, aku sering terlambat, mereka kompak bersoran, “Ciee… Vilda….” Gobloknya, aku lari karena itu. Kekanak-kanakan sekali.

Kalau sudah tertangkap basah, mending mandi hujan saja sekalian.

Aku mengirim surat cinta kemudian. Kukonsep dalam Bahasa Inggris. Akbar yang menulis tangan di musholla karena tulisan tanganku berantakan. Rico yang mengirimkannya mengingat mereka pernah sekelas di 1.3. Dan aku menunggu. Menunggu.

Tapi surat itu tersebar. Elvina malah menegurku, “Pring, aku baca lho suratmu. Manis sekali.” Asem.

Itulah surat pertamaku untuk seorang perempuan. Itu juga masa mudaku dan cintaku yang cinta monyet.

Kisah tentang Novilda Disanti ini aku tulis khusus dalam sebuah cerpen di Simbiosa Alina yang berjudul Nyonya Vilda.

Comments

comments



2 thoughts on “Kenangan tentang Cinta”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *