Joeng

I.
Sudah dua kali hari ini, ada orang datang ke kantor kas negara sambil berurai air mata dan terbata-bata berkata, “Bapak, di mana saya bisa meminta uang dari Tuhan?”

II.
Sebenarnya saya terhitung baru bertugas sebagai front office di Seksi Pencairan Dana, kurang lebih 9 bulan. Ibarat janin, saya baru bersiap diri untuk dilahirkan, merancang tangis pertama agar udara berkenan hadir di paru-paru.

Dunia masih hitam putih, Benar dan salah. Saya periksa SPM1 dengan uji substantif dan formal. Jangan macam-macam, satu huruf saja salah, akan saya kembalikan. Ada kalanya ibu-ibu petugas satker2 menangis, memohon supaya SPM itu diloloskan. Tapi apa daya, peraturan berkata tidak. Air mata gombal tidak cukup untuk jadi alasan kebenaran. Macam-macam saja tingkah pola petugas satker. Tapi kali ini tetap yang paling aneh, meminta uang dari Tuhan?

“Bapak dari satker mana ya?” Seseorang berpakaian bebas, memakai kaos dan celana tiga perempat, bersandal jepit dan belum mematikan rokoknya tiba-tiba menyelonong masuk, bertanya, tanpa nomor antrian.
“Satker itu apa?” dia balik bertanya.
“Satuan kerja, Pak. Stakeholder kita dari satuan kerja yang menerima DIPA APBN. Kalau Bapak mau mengajukan SPM ke loket 1, dalam hal ini saya. Kalau mau rekonsiliasi, ke loket 2 di sebelah kiri, Pak.”
“Stikholder itu makanan jenis apa? Daging sapi atau kerbau?”
“Bapak jangan main-main dengan saya!” Saya menggebrak meja, marah. Akhir-akhir ini saya cukup sensitif. Apalagi saya baru saja ditinggal kekasih. Karena tak kuat pacaran jarak jauh, dia bilang tidak cinta lagi. “Maaf kalau saya tidak sopan dengan Bapak, tapi tolong dong, kalau ke kantor itu harus berpakaian minimal celana panjang dan bersepatu!” Nada saya kali ini lebih keras.

Dia tidak menjawab. Tiba-tiba membalikkan badan, dan langsung keluar ruangan. Saya ditinggalkan dengan penuh tanda tanya. Tuhan tampaknya senang sekali memberi tanda tanya, selain tanda seru. Pacar saya itu, sudah sembilan tahun kami pacaran, sudah semua saya berikan, bahkan kejantanan pun sudah rela saya pasrahkan. Beginilah perempuan sekarang—banyak merayu, banyak menipu. Kedok lugu dan imej sebagai korban selalu digembar-gemborkan. Padahal, seringkali perempuanlah yang merusak lelaki, memperkosa kecintabutaan kami pada keindahan perempuan.

Minggu terakhir bulan. Sepi. Saya memandang keluar, tampak pohon perdu menggugurkan daunnya. Jalan muram, tapi tetap harus hati-hati. Tentang sapi dan kerbau, bila orang Mataram berkendaraan diibaratkan sapi, di Sumbawa Besar mereka seperti kerbau. Normalnya, kita bisa memperkirakan laju kendaraan untuk jarak tertentu. Di sini tidak. Bila dari jauhan ada yang bermotor, berjalan lambat, kita tetap harus waspada, karena bisa saja tiba-tiba ia mengebut, menarik putaran gasnya hingga maksimal, menderu-deru, seolah memamerkan diri sebagai orang pertama yang punya motor di muka bumi ini.

Saya jadi merindukan Palembang. Meski tanpa suara ombak, tanpa bunyi printer dot matrix—pencetak SP2D3 yang dalam satu tahun mencapai dua puluh lima ribu lembar. Pagu 900an milyar. Tapi belanja modalnya seperti daging koyor-koyor, gelondongan, menumpuk di akhir tahun anggaran, mepet-mepet dengan batas akhir pengajuan SPM. Padahal Presiden sudah marah-marah. Penyerapan anggaran dengan tren demikian tentu tidak akan berefek pada masyarakat. Alhamdulillah, kadang-kadang Presiden kita itu ada benarnya.

III.
Saya agak sensi sama sekretaris kantor ini. Kemarin saya pergoki dia bikin teh pakai air kamar mandi. Serta merta saya disemprot dan diancam akan dikempesi badan saya yang gemuk ini bila berani-beraninya membocorkan hal itu. Saya ini pintar menyimpan rahasia, jadi saya cukup mengatakannya kepada Pak Slamet sambil berbisik, “Ini rahasia ya, jangan bilang ke siapa-siapa!” Sore harinya saya kena semprot lagi, karena teh di dalam ceret itu sedikit pun tak berkurang. Dia bilang pasti saya telah memprovokasi orang-orang.

Pagi-pagi tidak ada satker. Pukul 11 ke atas mereka baru akan datang sekalian pulang. Pegawai Pemda memang parah-parah. Karena absen tidak handkey, mereka bisa bebas datang jam berapa pun dan pulang bila anak-anak mereka kelar bersekolah. “Sekalian menjemput,” kilahnya.

Asumsi saya pun terbukti. Pukul 12 kurang, nyaris istirahat, seorang petugas satker datang dengan setumpuk SPM dibungkus map di tangannya. Dari seragamnya saya tahu dia dari Badan Pusat Statistik. Saya agak heran sama satker satu ini karena SPM yang setumpuk itu hanya berisi belanja 52 yang berupa honor. Semua kegiatan survey dari a-z diberi honor. Saya pun berseloroh, “Mbak mbak… kalau semua hal dihonorin, jadi tupoksi pekerjaan Mbak di kantor apa sih?”

Yang menjawab malah bukan dia. Pak Slamet menyeringai sinis di samping saya dan berkata, “Tupoksinya ya absen, Pring. Mereka digaji cuma buat absen….”

Di dalam hati saya mengaminkan tetapi tidak ikut menyeringai karena khawatir si mbak makin tersinggung nantinya.

Saya bertanya begitu bukan karena saya marah pernah tidak lulus ujian masuk STIS dan malah diterima di STAN. Tetapi, saya benar-benar peduli pada nasib anggaran belanja negara dan daerah yang sudah mayoritas dihabiskan di belanja pegawai (51) malah ditambah seenaknya di 52 untuk keperluan pegawai. Harusnya, jenis belanja itu digemukkan di 53 alias belanja modal guna pembangunan infrastruktur. Penyerapan anggaran yang ideal tentu harus berporsi demikian agar terasa manfaatnya pada masyarakat sekitar.

Saya periksa SPM pertama, sudah ada yang salah. Klasifikasi anggaran pada SPTB3 tidak ditulis dengan benar. Pasti hasil copy-paste dari lembar SPTB yang lain. Heran saya melihat bendahara-bendahara kadang belum paham dengan penulisan klasifikasi anggaran atau bahkan ada yang mengatakan bahwa ganti uang persediaan hanya dapat diajukan satu bulan sekali secara rutin. Padahal ganti uang persediaan itu bisa dimintakan berkali-kali dalam satu bulan selama pertanggungjawabannya mencapai 75% nilai uang persediaan.

Sedang asik-asiknya saya memeriksa SPM, suara sekretaris yang cempreng itu terdengar lantang mengusir seorang peminta sumbangan. Si Joeng, bahasa Sumbawanya cerewet, menghalang-halangi lelaki tua itu yang hendak memaksa masuk ke ruang kepala kantor. Merasa tidak berhasil, ia balik berlari ke arah saya. Beruntung ia tidak nekat melompati meja loket penerimaan SPM. “Bapak, katakan, harus ke mana lagi saya meminta uang dari Tuhan?”
Dahi saya bekernyit. “Siapa yang bilang kas negara itu tempat meminta uang dari Tuhan?” Nada saya agak tinggi.
“Orang.”
“Orang yang mana?”
“Orang ya orang.”

Hampir habis kesabaran saya, Si Joeng datang dan langsung memegang lengan peminta sumbangan. Dengan paksa, ia menyeretnya keluar. Sementara itu, satpam-satpam yang harusnya berjaga dan yang duduk di dekat pintu masuk, bertugas membukakan pintu bagi setiap tamu yang datang entah sudah menghilang ke mana. Kepala Kantor serba salah dalam hal ini. Pernah saya tanyakan kenapa kita tidak menggunakan tenaga penyedia jasa satpam dan cleaning service seperti halnya kantor pajak. Beliau menjawab tidak mudah untuk “memecat” dan mengganti mereka sebab sudah lama mereka bekerja di sini. “Mengganti mereka bisa saja sama dengan membunuh hidup mereka, Pring….” Saya diam kalau alasannya sudah perasaan.

Perasaan. Ah, perasaan. Saya kembali mengingat Aina. Apa Aina punya perasaan? Kalau tidak, harusnya Aina saja yang jadi kepala kantor. Biar kinerjanya bagus, pegawai tentu harus diperintah seperti robot. Kalau sudah usang, dipensiunkan. Kalau tidak bisa diinstalasi program terbaru, disingkirkan di gudang sampai menunggu penghapusan barang dari KPKNL. Duh.

Saya kemudian menghadap kepala seksi. Bapak satu ini dekat dengan Tuhan. Shalatnya selalu pas setelah adzan. Dia yang pernah bilang, Tuhan selalu mendatangi kita tapi kita tak sedang di rumah. Ah, saya selalu merasa di rumah. Hanya kadang-kadang saya sedang tidur dan tak mendengar ketukan pintu. Selain konsultasi masalah pencairan dana dan peraturan-peraturan terkait, beliau selalu mau mendengarkan keluhan-keluhan saya tentang Tuhan. Tuhan yang satu itu sering bikin saya galau.
“Permisi Pak…”
“Ya, duduk. Ada apa, Mas?”
“Begini, Pak… tadi ada orang datang ke sini…”
“Satker? Pihak ketiga? Kalau pihak ketiga, usir aja… jangan sungkan-sungkan.”
“Bukan. Bukan keduanya. Ini orang, tiba-tiba datang terus bertanya, di mana bisa meminta uang dari Tuhan.” Pak Kepala Seksi malah melongo. “Saya pikir di kantor ini bapak yang paling kenal Tuhan, barangkali bapak tahu di mana tempatnya,” lanjut saya.

Bapak itu tampak berpikir keras. Tetapi tidak ada adegan bola lampu menyala di samping kepalanya. Ia mengetuk-ngetukkan pensil di atas meja lalu berkata, “Ini berat, Mas. Saya tidak tahu caranya meminta uang dari Tuhan, kalau memanjatkan doa saya tahu…”
“Jadi bagaimana harusnya kita memberi jawaban, Pak? Saya tak tega melihat orang-orang itu datang dan penampakannya sangat lusuh sekali. Mungkin mereka benar-benar butuh uang. Sementara negara bukanlah Tuhan yang dapat memberikan uang kepada pihak yang benar-benar membutuhkan.” Saya pun menjadi iba dan prihatin seperti kebiasaan presiden.
“Iya sih… kamu benar. Nanti saya pikirkan sebuah cara,” tukasnya.

KPPN selama ini memang jadi tempat yang dituntut serba tahu. Jadi, kalau tak dapat menjawab saat ditanya, itu adalah aib. Beberapa hari yang lalu ada yang protes karena terdapat selisih antara saldo di aplikasi SAKPA4 dengan aplikasi BMN5. Saya jawab, KPPN tidak mengurusi masalah BMN, itu wewenangnya KPKNL6. “Lho kalian kan sama-sama Kementerian Keuangan, kok tidak tahu menahu sih?!” Dia agak marah. Saya jawab, “Apa Ibu tahu-menahu soal Ditjen Pendidikan Islam di Kementerian Agama, kan sama-sama 025?” Dia pun diam. Tapi itu belum seberapa, ada seorang lagi yang datang saat hujan, membawa mobil, parkir tepat di depan pintu masuk, lalu membawa beberapa perangkat komputer sambil berkata, “Tolong cek komputer saya, apanya yang rusak?” Duh.

IV.
Tepat sebelum istirahat, orang yang kali pertama datang menanyakan uang dari Tuhan itu datang lagi. Pertanyaannya agak berbeda, “Tolong jangan berbohong, saya tahu di sinilah tempat meminta uang dari Tuhan!”

Kami sudah mengantisipasi ini. Pak Kepala Seksi berinisiatif meminta sumbangan sukarela kepada para pegawai dengan dalih untuk membantu fakir miskin. Fakir miskin dan anak terlantar seharusnya dipelihara negara dan kami, para pegawai pemerintah juga harus ikut bertanggung jawab pada mereka. “Ini Pak, semalam Tuhan mengirimkannya diam-diam. Ini untuk semua orang yang meminta uang dari Tuhan.”

“Tuh kan, kalian ini jangan coba-coba menyimpan uang yang bukan hak kalian!” Dia membuka amplop. Saya yang geram. Seenaknya saja menuduh demikian. Biar pun dikata nanti saya masuk neraka, penyebabnya tak akan karena korupsi. “Hah, kok jumlahnya Cuma sembilan ratus lima puluh ribu? Saya mintanya kan satu juta!” tambahnya tak puas.

Karena bingung menjawab apa, saya katakan, “Pajak penghasilan 5%. Dipotong itu.”
“Ooo, memang dasar ya tukang pajak itu, Tuhan saja masih dipotong.” Dia mengangguk-angguk sebelum pergi dan saya harap tak akan pernah kembali.

V.
Saya datang ke KUA. Penjaga di loket pelayanan yang seadanya menyambut saya dengan muka kecut. “Maaf Bapak, ada keperluan apa?” tanyanya.
“Tolong katakan sejujurnya, di mana saya bisa minta istri dari Tuhan?!”

(2012)

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com danNulisbuku.com

Comments

comments