Mengenal Inflasi dan Membedah Klaim Pemerintah Terhadap Inflasi Tahun Ini

Inflasi. Kata ini sering kita baca di berbagai media seolah momok menakutkan bagi pemerintah. Apakah inflasi itu sebenarnya?

Definisi inflasi secara sederhana adalah proses meningkatnya harga-harga barang secara terus-menerus yang disebabkan oleh berbagai faktor mulai dari konsumsi yang meningkat (permintaan lebih tinggi dari penawaran), proses distribusi yang tidak lancar, atau melimpahnya uang di pasar (masalah likuiditas). Harga barang yang naik itu mengakibatkan turunnya nilai mata uang. Titik tekannya bukan di tinggi-rendahnya harga, melainkan proses dari peristiwa itu. Dia berlangsung terus-menerus. Dan saling mempengaruhi harga barang yang lain.

Badan Pusat Statistik menghitung inflasi dari Indeks Harga Konsumen (IHK). Indeks Harga Konsumen adalah rata-rata harga dari sejumlah barang yang sudah ditetapkan. Jadi, kadang kita membaca satu berita, harga cabai naik, tapi inflasi tetap rendah 3% misalnya. Itu mengindikasikan mungkin hanya harga cabai yang naik. Harga cabai tidak mempengaruhi harga barang lainnya yang cenderung tetap atau malah ada yang menurun.

Pemerintah memiliki target atau sasaran inflasi. Dalam Nota Kesepahaman antara Pemerintah dan Bank Indonesia, sasaran inflasi ditetapkan untuk tiga tahun melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK). Berdasarkan PMK No.93/PMK.011/2014 tentang Sasaran Inflasi tahun 2016, 2017, dan 2018 tanggal 21 Mei 2014 sasaran inflasi yang ditetapkan oleh Pemerintah untuk periode 2016 – 2018, masing-masing sebesar 4%, 4% dan 3,5% masing-masing dengan deviasi ±1%.

Mengapa kok pemerintah malah menetapkan target inflasi? Satu aliran Ekonomi berpendapat, inflasi yang terkendali adalah tanda pertumbuhan ekonomi. Batas tersebut dianggap sebagai batas yang menunjukkan bahwa ekonomi sedang tumbuh. Daya beli masyarakat meningkat.

Tentang Klaim Pemerintah bahwa Ramadhan tahun ini Harga-harga di Pasar Terkendali

Inflasi bulan Juni 2017 diperkirakan sebesar 0,5% (mtm), meningkat dari bulan sebelumnya 0,39% (mtm). Secara tahunan, inflasi diperkirakan sebesar 4,36% (yoy). Dari angka inilah pemerintah bilang inflasi terkendali karena masih dalam target atau sasaran inflasi 4% +/- 1%.

Perkiraan inflasi tersebut lebih rendah dari capaian inflasi 2015 sebesar 0,54% (mtm) dan 2016 0,66% (mtm). Artinya selama bulan Puasa 2017, kinerja pemerintah dan tim pengendali inflasinya bisa dikatakan berhasil karena dibandingkan 2 tahun sebelumnya, inflasi bulanan mengalami penurunan.

Bicara inflasi, kita pula tidak bisa melepaskan diri dari komponen inflasi. Ada 3 komponen inflasi, yakni

  1. Inflasi Inti (core inflation), yakni komponen inflasi yang cenderung menetap atau persisten di dalam pergerakan inflasi, dan dipengaruhi oleh faktor fundamental seperti kurs mata uang terhadap dollar.
  2. Inflasi volatile, yakni inflasi yang dominan dipengaruhi oleh tekanan dalam kelompok bahan makanan.
  3. Inflasi administered price, yakni inflasi yang dominan dipengaruhi oleh tekanan akibat kebijakan pemerintah seperti penetapan harga BMM dan listrik.

Inflasi Juni 2017 ini terjadi karena faktor administered price dan volatile food. Administered price berasal dari penyesuaian tarif listrik akibat pencabutan subsidi listrik untuk rumah 900 VA pada Mei 2017 sebesar 30% sebagai lanjutan dari rangkaian pencabutan subsidlistrik sejak Januari 2017. Pelanggan pascabayar baru akan merasakan dampak kenaikan tersebut pada bulan Juni dan inilah sebabnya ada inflasi. Tarif angkutan menjelang lebaran menjadi sebab dari inflasi ini. Pada tahun 2015, inflasi administred price sebesar 1,67% saat puasa (mtm) dan 1,32% (mtm) pada tahun 2016.

Sementara itu, inflasi volatile pun terjadi karena permintaan kebutuhan menjelang lebaran yang meningkat. Namun, akibat stok pangan yang terjaga dan adanya upaya perbaikan distribusi, dari komponen ini, inflasi berhasil dikendalikan. Bila merujuk pada dua tahun lalu, invlasi volatile food cukup tinggi mencapai 2,13% (mtm) dan pada tahun 2016 sebesar 1,20% (mtm).

Pada Juni 2017, baik administered price maupun volatile food, diperkirakan tidak mencapai 1%.

Di sisi inflasi inti, keadaan fundamental ekonomi Indonesia yang relatif baik membuat tidak terjadi pergolakan yang berarti pada komponen ini.

Dari angka ini sebenarnya kita patut mengapresiasi kinerja pemerintah dan segala pihak terkait dalam pengendalian inflasi karena kinerjanya telah menunjukkan perbaikan. Jika ada di lapangan harga yang meningkat, maka harga tersebut tidaklah mempengaruhi harga lainnya.

Selamat, pemerintah!

Comments

comments

2 thoughts on “Mengenal Inflasi dan Membedah Klaim Pemerintah Terhadap Inflasi Tahun Ini”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *