Iman, Ilmu, dan Kesalahpahaman

Al-Mujaadilah ayat 11 :

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”.

 

Bisakah seseorang beriman tanpa berilmu pengetahuan? Sering saya menanyakan hal itu kepada diri saya sendiri. Mungkin sekitar umur 16 tahun saya pertama kali menanyakan hal itu. Dan sekitar 12 tahun berlalu, saya masih melakukan pencarian tentang Tuhan.

Alibi yang sering saya gunakan adalah Ibrahim. Ibrahim juga mencari Tuhan. Apakah ajaran Tauhid belum ada saat Ibrahim mencari? Ada. Tapi, Ibrahim tetap mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Saya pun mengajukan banyak pertanyaan, agar saya dapat meyakini sesuatu.

Hari ini saya tak sengaja berdebat dengan teman satu seksi. Dia tersinggung. Salah paham. Mulanya kami sedang membicarakan tentang anak dengan Kepala Seksi. Lalu Si Bapak berkata mengenai sebuah teori untuk menentukan kelamin jabang bayi. Beliau mengemukakan teori asam-basa.

Saya mengamini teori itu karena teori asam-basa adalah salah satu teori yang cukup mapan. Kondisi pH akan menentukan jenis kelamin. Tapi, bukan faktor satu-satunya. Karena teori ini pada dasarnya mengemukakan probabilitas.

Si Teman ini menyanggah si Bapak, “Teori itu nggak benar. Yang valid adalah…”

“Oh, yang siapa yang duluan itu…”

Aku pun langsung menyanggah, “Itu teori abal-abal, ah….”

Sontak si Teman ini langsung tersinggung, meninggikan suaranya, “Itu hadits nabi… kamu jangan sembarangan bilang itu abal-abal”

Nah, kami bekerja di Subdit Litbang. Penelitian dan Pengembangan. Berkutat dengan teori, metodologi, dll. Saya heran sekali, kok teori yang mapan, berani dia tak acuhkan, dan bilang nggak benar. Dan saya sama sekali tak diberikan kesempatan menjelaskan secara baik. Ketika saya mengalihkan kalimat kepada si Bapak sebagai upaya menjelaskan. Dia malah mencerocos tak ada hentinya. Soal cerocosannya belakangan ya saya tulis.

Sebenarnya bagaimana sih teori yang saya bilang abal-abal itu?

Jadi, ada teori-teorian di kalangan bapak-bapak. Kalau suami orgasme duluan, maka anaknya akan perempuan karena dianggap perempuannya yang mengendalikan. Sebaliknya jika istri berhasil orgasme (bareng atau duluan), maka kemungkinan anaknya cowok karena suami berhasil mengambil kontrol persetubuhan.

Saya katakan ini sebagai teori abal-abal, karena tidak ada penelitian dengan variabel demikian. Ini jadi bukan “teori”.

Secara ilmiahnya dijelaskan, bukan soal kontrol, melainkan sifat dari sperma. Sperma jantan cenderung cepat dan gesit. Sperma betina lambat. Ketika orgasme, maka sperma jantan akan meluncur lebih dulu diikuti sperma betina. Ketika perempuan belum orgasme, maka mekanisme pertahanan menuju ovumnya lebih kokoh. Sperma jantan yang duluan ini akan lebih dulu menghadapi mekanisme pertahanan sehingga kemungkinan besar mereka mati duluan. Mekanisme pertahanan ini akan melemah kemudian setelah serangan sperma jantan. Sperma betina yang belakangan pun akan relatif lebih mudah menuju ovum. Jadilah sperma tersebut membuahi ovum. Lahirlah bayi perempuan.

“Oh itu, ada di hadits? Segala sesuatu yang ada itu harus berasal dari iman. Kamu tidak boleh meragukan hadits, bla bla….”

Saya tidak meragukan hadits. Kadang susah ya ngomong sama orang yang sebegitu cepatnya mengambil asumsi atas yang kita ucapkan.

Saya bilang, “Pada dasarnya, segala yang ada itu bisa dijelaskan. Yang belum bisa, pada saatnya nanti akan dijelaskan…”

Lalu dia mencerocos. Awalnya mengenai daging babi haram. Lalu mengutip tentang lalat, salah satu sayapnya beracun, sayap lainnya penawarnya, kalau dicelup ke air jadi tidak beracun. Tanpa ilmu pengetahuan pun kita harus berangkat dari iman. Karena teori-teorian akan selalu ada sanggahannya.

Sebenarnya saya pengen sekali menjelaskan kalimat saya itu. Terkenang ucapan dosen agama tentang logika. Menurut penjelasannya waktu itu, logika terbagi ke dalam 4 struktur:

  1. Empiris, artinya segala sesuatu dapat dibuktikan dengan nyata, Bisa diindrai.
  2. Rasional, arti sederhananya masuk akal.
  3. Metarasional, kita tidak lagi memandang sesuatu dengan indra, tapi dengan batin.
  4. Suprarasional, di atas rasio… belum bisa dijelaskan, kadang sebagai aksioma.

Dia kemudian menyebut Isra Miraj yang baginya tidak bisa dijelaskan secara ilmiah. Sementara bagiku, Isra Miraj bukan tidak bisa dijelaskan, melainkan belum bisa dijelaskan. Tidak dan belum memiliki arti yang berbeda. Aku meyakini setiap hal dalam agama sesungguhnya punya hikmah dan penjelasan tersendiri. Dia mengungkit temannya yang mencoba menjelaskan peristiwa tersebut. Di sini saya ngguyu untuk pertama kali. Temannya jurusan arsitektur, dan kemudian ingin mencoba menjelaskannya dengan teori Einstein, dll… ini yang mau mendengarkan yang bodoh atau yang mau menjelaskan yang bodoh?

Dia kemudian bilang Kun Fayakun. Jadi, jadilah. Di sini saya lagi-lagi punya perbedaaan. Kun Fayakun. Jadi, maka jadilah. Menurut Pak Dosen di ITB dulu, kata “maka” atau “ya” menyatakan sebuah proses. Tidak ada satu pun yang terjadi secara begitu saja. Proses itu ada. Proses itu mungkin masih ghaib bagi kita.

Saya pikir kita cukup tahu, bahwa kompetensi dalam bidang tertentu sebaiknya bicara pada bidang tertentu itu saja. Sama halnya dengan soal teori asam-basa, saya akan diam dan mendengarkan jika dia memang punya kompetensi di bidang tersebut sehingga langsung bisa menyalahkan teori tersebut.

Isra Mi’raj adalah hal suprarasional itu. Dalam struktur logika, kita membutuhkan aksioma. Angka 0 adalah contoh aksioma. 1 lebih kecil dari 2 adalah aksioma. Tuhan adalah aksioma. Dengan aksioma, Tuhan ada, Tuhan Mahakuasa, maka kita bisa mengatakan Isra Mi’raj bisa terjadi karena keMahakuasaan Tuhan.

Usaha untuk menjelaskan Isra’ Miraj itu akan selalu ada. Saya ingat betul, saya mendapatkan pertanyaan dari teman sebangku saya, Randi, ketika kelas 2 SMA. Menurutmu Pring, bagaimana Isra’ Miraj, bukankah menurut teori Einstein, sebuah benda yang bergerak dengan kecepatan cahaya maka benda tersebut akan hancur?

Sampai saat ini, Fisika terus menerus meneliti hal apakah kita bisa menempuh atau melebih kecepatan cahaya. Kebetulan ketika menulis novel Phi, saya banyak membaca hal-hal Fisika dan Fisika sekarang sudah melangkah jauh. Terungkap, sebuah benda bisa bergerak melebihi kecepatan cahaya. Sudah ada materi yang ditemukan demikian. Tapi apakah manusia bisa? Ada banyak syarat, mulai dari dawai sejajar, sampai mencari jawaban tentang Gravitasi. Maka, ada istilah anti-gravitasi. Sejauh ini, itu masih hipotesis. Makanya, di film Interstellar, endingnya adalah ditemukan persamaan gravitasi itu. Selain itu, ada juga soal dimensi, hipotesis tentang dimensi, salah satunya, dunia ini memiliki 9 dimensi. Kita di langit pertama, memiliki 3 dimensi, X, Y, dan Z. t (waktu) tidak dimasukkan karena dalam hipotesis lain, t adalah persepsi. Jika persepsi tak ada, apakah waktu masih ada? Nah, langit ketujuh… jika dicocoklogikan dengan hipotesis ini akan pas. Langit ketujuhlah yang memiliki 9 dimensi tersebut. Seperti apa? Tidak tahu.

Apakah Fisika kekinian yang seperti di atas mencoba menjelaskan isra Miraj? Tidak. Boro-boro. Wong penelitinya saja bukan muslim. Tapi, kenapa ada judul ini… salah satunya adalah banyak non-muslim, tidak satu-dua, yang mendapat hidayah setelah menemukan sebuah penjelasan ilmiah yang baru diketahui padahal di Quran, hal itu sudah disebutkan.

Orang beriman dan berilmu pengetahuan, ya, kata yang Quran pakai adalah “dan”. Dalam struktur logika, “dan” menyatakan kesatuan, tidak boleh salah satunya saja. S B jadi S. B S jadi S juga. B B baru jadi B.

Sebelum penutup, beberapa waktu sebelumnya saya memiliki pikiran, betapa kagumnya saya dengan orang-orang Salafy. Mereka rata-rata punya pengetahuan literatur yang luar biasa. Sayangnya, mereka sama sekali anti dan nggak mau membaca literatur lain. Saya menyangsikan jika mereka mau mencari literatur pembanding atas literatur yang mereka baca. Hal itu masuk dalam pikiran saya ketika bertukar pikiran dengan seorang teman, yang sejak setahun terakhir tampaknya baru ikut ngaji Salaf, tentang Wali Songo. Karena kebetulan penerbitku banyak menerbitkan buku-buku sejarah nusantara, jadinya punya sedikit pengetahuan tentang itu.

Dalam kasus ini, teman sekantorku juga Salafy. Ketika dia mencerocos itu, ada satu momen yang bikin aku ingin tergelak. Ketika dia bilang, “Apa kita harus percaya sama orang yang bilang Tuhan tidak bermain dadu, Einstein komunis itu?”

Nah, di sinilah gagal paham itu terjadi. Yang pertama, jelas bahwa Einstein bukan komunis. Dan kedua, mari kita simak betul-betul kapan pernyataan “Tuhan tidak bermain dadu” itu keluar?

Tuhan tidak bermain dadu diucapkan Einstein ketika sedang berdiskusi dengan Niels Bohr tentang proton dan elektron. Bohr bilang, elektron dan segala sesuatu di dunia ini acak dan tidak dapat dipastikan. Einstein menyanggah hal itu. Tuhan tidak bermain dadu menyiratkan bahwa segala hal di alam semesta ini ada aturannya, presisi.

Bukan malah disangkutpautkan dengan komunis, pernyataan Einstein tersebut justru mengundang kegaduhan dan menjadi pertanyaan, “Apakah Einstein percaya Tuhan?”

Untuk menutup tulisan ini, saya akan menyertakan jawaban Einstein atas pertanyaan itu.

Saya bukanlah orang ateis. Tapi saya juga tidak bisa menyebut diri orang percaya. Yang ingin saya katakan adalah: Kita semua adalah seperti seorang anak kecil yang memasuki sebuah perpustakaan besar dan megah, penuh dengan buku-buku dari bermacam-macam bahasa. Anak itu tahu seseorang pasti telah menulis buku-buku ini. Tapi ia tidak tahu bagaimana. Ia juga tidak memahami bahasa buku itu. Sama seperti yang saya alami. Kita melihat angkasa yang luas megah. Angkasa yang teratur dan tunduk pada hukum-hukum alam. Saya hanya bisa terdiam mencoba memahami seluruh hukum itu. Pikiran saya yang terbatas tidak bisa mengungkap gaya misterius yang ada di angkasa luar.

Comments

comments