Hantu-Hantu Alexia

 

Aku masih SD ketika Ghost disiarkan di televisi. Sam Wheat yang mati ditikam seorang preman ketika sedang berjalan-jalan bersama Molly jadi arwah penasaran dan selalu ingin menolong kekasihnya itu. Cintanya yang kuat membuat ia enggan meninggalkan dunia. Luntang-lantung dalam usahanya melindungi Molly, Sam bertemu dengan Oda Mae Brown, seorang cenayang.

Cerita hantu yang juga berkesan juga ada di film The Sixth Sense. Satu-satunya film yang sukses dari M. Night Shyamalan itu mengisahkan hubungan unik antara Dr. Malcolm Crowe dengan Cole Sear. Cole Sear adalah seorang anak dengan kemampuan cenayang. Ia bisa melihat hantu. Hantu-hantu tertarik mendatanginya karena auranya yang berbeda. Hantu-hantu tahu ia dapat melihat mereka dan mencoba meminta bantuan Cole untuk menyelesaikan urusan-urusan yang belum selesai.

Terbentuk pikiran, bahwa dalam sebuah cerita hantu, hantu-hantu tidak akan menarik jika tak diadoni dengan “urusan yang belum selesai” dan keunikan “cenayang”. Semakin menarik kedua hal tersebut, semakin baik pula cerita yang terjalin.

Itu juga yang dilakukan Alexia Chen di dalam bukunya “A Girl Who Loves A Ghost.”

A Gir Who Loves A Ghost bercerita tentang seorang perempuan blasteran Amerika-Indonesia bernama Aleeta Jones. Ia tinggal di Jakarta dengan adiknya, Chle. Suatu hari ia tak sengaja membaca sebuah berita di koran. Ada kabar kematian seorang pemuda keturunan Jepang keluarga Nakano akibat pembunuhan. Dengan tulus ia berdoa untuk pemuda itu.

Di hari yang sama, satu sosok lelaki muncul menarik perhatiannya. Lelaki itu putih, tinggi dan tampan. Dia Jepang. Namanya Yuto. Hingga Al kemudian menyadari, hanya dialah yang dapat melihat sosok itu. Al berpikir lelaki itu hanya khayalannya. Tetapi bukan, ia bukanlah imajinasinya semata. Ia hantu. Namanya Yuto. Ia lelaki yang terbunuh di koran itu.

Singkat cerita, Yuto meminta bantuan kepada Aleeta Jones untuk menemukan pembunuhnya, juga menemukan adik kembarnya Hiro. Dalam perjalanannya, lika-liku konfliknya, Aleeta dan Yuto saling menyukai. Ternyata tema cinta tidak cuma abadi di dalam sajak, tema cinta juga wajib ada di dalam cerita hantu.

Aku percaya kita selalu membutuhkan sebuah aksioma untuk sebuah plot. Aksioma itu yang membuat segala cerita menjadi masuk akal. Ia adalah pondasi yang menyebabkan sebuah bangunan dapat terbangun. Pertanyaan kenapa Yuto dapat muncul di hadapan Aleeta dilandasi dari aksioma Aleeta memiliki bakat cenayang dari nenek buyutnya dan Aleeta mendoakan Yuto di hari kematiannya.

Aku jadi teringat hal yang membedakan sebuah cerita digolongkan cerita horor fantasi dengan realisme magis. Seorang teman bertanya padaku tentang itu dan aku menjawab realisme magis lebih merupakan sebuah bentuk sastra yang dikarakterisasi oleh 2 perspektif yang saling bertentangan, yaitu di satu sisi berbasis pada sebuah cara pandang rasional atas realitas, dan di sisi lain berbasis pada penerimaan pada hal-hal yang bersifat supranatural sebagai sebuah realitas yang prosaik. Meskipun demikian, realisme magis berbeda dari fantasi murni. Hal ini dikarenakan realisme magis ditata dalam bentuknya yang normal, sebuah dunia modern dengan deskripsi otentik atas manusia dan masyarakat.

Ciri realisme magis ada dalam The Sixth Sense. Selain anggapan bahwa hantu-hantu akan gentayangan bila ada urusan di dunia yang belum selesai, The Sixth Sense juga menyajikan mitos keindigoan. Orang-orang yang punya kemampuan melihat hantu dikatakan punya aura yang khusus, aura yang disukai hantu-hantu sehingga mereka suka sekali mendekat. Seorang teman yang punya kemampuan serupa juga mengamini hal itu, betapa dia sering diikuti oleh hantu-hantu dan harus bersusah payah untuk memintanya pergi.

Sementara Alexia Chen juga terlihat berusaha menampilkan kerealisme-magisan cerita dengan mengunggah aksioma itu. Sebuah arwah yang baru meninggal konon akan mendatangi orang-orang yang tengah mendoakannya dan yang dicintainya selama 40 hari bakda ia meninggal sebelum arwahnya naik ke nirwana. Alexia, sengaja atau tidak, memperhatikan setting waktu di dalam ceritanya itu untuk menciptakan dasar pikiran yang baik bagi ceritanya.

Namun, sayangnya penggarapan kematian dan filsafat kematian di dalam cerita belum digarap terlalu dalam dan serius. Alexia punya kecenderungan menulis cerita fantasi ketimbang realisme magis. Tapi, itu bukan berarti cerita Alexia buruk. Itu hanya soal pilihan. Toh, Alexia telah berhasil menerapkan konsep keekstriman dalam tokoh-tokohnya. Ia tidak mengambil tokoh-tokoh yang moderat. Ini terjewantahkan pula dalam dialog-dialog yang cair dan lancar, yang secara signifikan membangun karakter-karakter di dalamnya dengan begitu kuat.

Sebenarnya aku menantikan plot yang membuahkan kejutan lebih. Tidak adanya twist yang memutar leherku sudah terlihat dari cara membuka cerita. Cerita-cerita yang potensial menimbulkan kejutan biasanya akan dibuka dengan teknik in-medias res, memulainya dari tengah cerita. Misal, bagaimana bila ternyata yang membunuh Yuto adalah Rin atau Hiro. ternyata Rin bukan kakak kandung Yuto, atau ternyata keberadaan Hiro tengah disekap oleh pembunuh Yuto juga. Tegangan dalam konflik inilah yang kurang divariasikan oleh Alexia Chen.

Untungnya, plot pengungkapan pembunuh Yuto bisa dianggap sebagai subplot. Plot sesungguhnya adalah percintaan antara Aleeta dan Yuto. Ya, kita dapat memandangnya dari sudut pandang film Ghost. Dari sisi itu, novel ini tampak begitu filmis dan layak difilmkan, meski tipe-tipe percintaan seperti itu kerap kita temui pula dalam Chinese Ghost Story. Yang membedakan adalah sekali lagi, karakter. Alexia pandai betul menumpahkan cat-cat karakternya di dalam kanvas sehingga cerita novel ini dapat kubilang “mahal”.

Apapun itu, A Girl Who Loves A Ghost adalah kabar baik bagi dunia perbukuan kita, menawarkan sebuah penggarapan yang cukup baik cerita hantu dan romantismenya. Ia jauh lebih baik dari kebanyakan buku serupa.

(2014)

Comments

comments