Global Economic and Development Issues (dimuat di Indonesian Treasury Update No. 1 periode 5-18 Oktober 2016)

Hasil referendum Brexit, yakni keluarnya Inggris Raya dari Uni Eropa, masih memberikan dampak terhadap prospek ekonomi Eropa pada paruh kedua tahun ini. Ketidakpastian yang disebabkan Brexit membebani investasi, pengeluaran konsumen dan perdagangan untuk sementara waktu. Pertumbuhan ekonomi Inggris pun melemah menjadi 1,5% year on year di kuartal ketiga. Pelemahan pertumbuhan ekonomi pun terjadi di negara-negara Eropa lainnya. Situasi ini mungkin akan membaik secara bertahap apabila negara-negara anggota Uni Eropa berhasil menarik investasi asing dalam jangka menengah yang akan mempercepat pertumbuhan.

Pengurangan tenaga kerja juga terjadi di negara-negara Eropa. Misalnya, Fujitsu yang memiliki 14.000 pegawai di Inggris akan mengurangi 1.800 pegawai. Bank-bank di Eropa pun baru saja mengumumkan PHK terhadap lebih dari 20.000 karyawan sebagai upaya mendapatkan laba. Di saat yang sama, pihak Amerika Serikat mengumumkan denda USD14 miliar kepada Deutsche Bank sebagai akibat adanya penyalahgunaan penggunaan jaminan Kredit Perumahan Rakyat.

Sementara itu, meski lambat, pertumbuhan ekonomi terjadi di Amerika. Pada bulan September 2016, tercipta lebih dari 50.000 lapangan kerja. Tingkat upah pun naik meski belum merata. Persoalan upah minimum ini menjadi sorotan menjelang pemilihan presiden Amerika Serikat. Kondisi tersebut diyakini dapat dijadikan dasar untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin dari 0,25-0,50% menjadi 0,50-0,75%.

IMF mengatakan, prospek pertumbuhan di negara maju yang melambat juga dapat membuat dampak situasi negatif untuk negara-negara berkembang di Asia, karena ekspor yang lemah membebani pertumbuhan daerah dan inflasi. Managing Director IMF, Christine Lagarde, memperingatkan bahwa perekonomian global tumbuh terlalu lambat. Agar pertumbuhan ekonomi semakin inklusif, diperlukan upaya lebih kuat untuk memangkas kemiskinan.

Kemungkinan kenaikan suku bunga Amerika Serikat akan dapat mengganggu arus modal dan meningkatkan volatilitas aset di Asia. Harapan kenaikan suku bunga The Fed itu juga  berimbas pada menguatnya Dollar terhadap mata uang lainnya. Semua negara, termasuk Indonesia, kini sedang mengantisipasi naiknya suku bunga tersebut. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, Indonesia tidak perlu khawatir berlebihan terhadap rencana The Fed. Pemerintah Indonesia akan menjaga stabilitas makro ekonomi agar dampak dari kenaikan suku bunga The Fed dapat diminimalkan.

Sementara itu, negara-negara di Asia Tenggara yang selama ini bergantung pada China kembali bergantung pada Amerika Serikat. Pelemahan pertumbuhan ekonomi di China masih terus terjadi. Terjadi juga perubahan orientasi ekonomi dari basis industri menjadi jasa dan konsumsi domestik. Dua hal yang menyebabkan perlambatan itu terjadi ialah daya beli global yang menekan aktivitas ekspor China. Faktor lainnya adalah tumpukan utang korporasi yang berpotensi memicu krisis finansial. Di sektor properti, sejumlah kota besar di China mulai menunjukkan gejala munculnya bubble effect.

Kapitalisasi pasar modal di China turun 14,51% per Agustus 2016. Hal ini berarti ada aliran dana yang keluar dari China. Sedangkan negara-negara Asia Tenggara seperti Indonesia tumbuh 18,45%. Peningkatan ini menjadikan Indonesia sebagai emerging market terbesar di Asia Tenggara dengan nilai USD430 miliar, disusul Malaysia dan Thailand dengan nilai masing-masing USD402 miliar dan USD400 miliar.

Upaya mencari negara tujuan ekspor baru dilakukan secara simultan dengan upaya memperbaiki fundamental ekonomi ASEAN. IMF mencatat, lima dari enam negara terbesar di ASEAN mengalami peningkatan ekspor ke AS pada kuartal I/2016 dibandingkan dengan pencapaian pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, ekspor ke China selama Januari-Maret 2016 justru terus menurun. Amerika Serikat adalah salah satu dari sedikit negara yang kebutuhan impornya masih terus tumbuh sehingga digunakan sebagai mesin pertumbuhan baru ASEAN di kala situasi ekonomi China melambat.

Vietnam menjadi pemimpin utama kenaikan ekspor ke AS pada kuartal I/2016, dengan kenaikan 21% dibandingkan dengan posisi pada periode yang sama pada 2015. Vietnam memiliki bauran produk yang tepat, karena telah banyak memproduksi produk yang murah, termasuk tekstil. Di posisi kedua terdapat Singapura yang naik 10%. Perekonomian Singapura sangat terbantu oleh permintaan AS pada produk obat-obatan dan farmasi lainnya. Hal yang sama juga terjadi di Indonesia dan Thailand, yang mengalami kenaikan ekspor yang cukup tipis pada Januari-Maret 2016. Kondisi tersebut dapat sedikit mengompensasi penurunan ekspor ke China. Sepanjang semester I/2016 ekspor Indonesia ke China menurun 7,26% secara tahunan (yoy).

Kerja sama perdagangan bebas Trans-Pacific Patnership (TPP) berpeluang semakin meningkatkan ekspor Asia Tenggara ke Amerika, sementara itu dalam kerja sama tersebut China tidak termasuk di dalamnya. TPP diperkirakan dapat menaikkan produk domestik bruto pada setiap negara anggota hingga 1,1% pada 2030.

Di sisi lain, China mendesak negara-negara  Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) untuk segera membahas tindak lanjut kerja sama  Kawasan Perdagangan Bebas Asia Pasifik (FTAAP). Hal ini adalah salah satu solusi dalam memerangi sentimen proteksionisme perdagangan dan antiglobalisasi. China juga tengah tertarik  untuk bergabung dalam kerja sama Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) yang diikuti oleh negara-negara ASEAN ditambah oleh Jepang, Korea Selatan, India, Australia dan Selandia Baru.

 

Comments

comments