Emas, Tanah, dan Harga Diri

Aku pernah membuat sebuah puisi, yang menyatakan bahwa pasar bebas mengolok-olok asumsi makro ekonomi. Martabak mini yang lima tahun lalu berharga Rp1.000,- kini sudah menjadi Rp3.000,-. Padahal inflasi “hanya” 6% setahun. Jika di atas kertas, dihitung dari tingkat inflasi, harga martabak mini kini seharusnya tidak lebih dari Rp1.500,-.

Nilai sebuah mata uang pada faktanya semakin tidak berarti di hadapan nilai barang.

Setiap kali memandangi nominal angka di rekeningku, aku pun kian gelisah. Aku khawatir menabung uang artinya sama saja dengan menunggu uang-uang itu semakin turun nilainya. Tabungan 50 juta hari ini, sepuluh tahun lagi sudah tak memiliki kekuatan yang sama.

Seorang rekan menyarankan untuk membeli emas sebagai investasi. Aku pikir, emas bukanlah investasi. Emas adalah hedging atau lindung nilai. Dikatakan lindung nilai karena emas memiliki nilai yang tetap. Sementara definisi investasi di benakku adalah seperti kita menanam sebuah pohon, pohon itu tumbuh besar, lalu daunnya rindang, dan berbuah lebat. Ada nilai yang bertambah di sana.

Ketika kubincangkan hal ini dengan istriku, dia mengangguk setuju.

Sebagai pribadi, kami adalah pribadi yang sederhana. Irit. Dan benar-benar memperhitungkan hal-hal yang harus dimiliki dengan tepat. Kami cukup tahu dan bisa membedakan hal yang kami inginkan dengan yang kami butuhkan. Kami menetapkan gaya hidup harus di bawah penghasilanku sebagai pegawai Kementerian Keuangan. Jika keduanya sama, maka akan ketemu titik impas. Titik impas dalam otakku adalah sebuah kerugian.

Sempat kami mencoba berdagang. Kami bersepakat, uang diam itu tidak baik. Uang harus bekerja, berputar untuk menghasilkan. Aku pun berjualan mutiara sementara istriku berjualan baju dan sepatu. Pada mulanya, segalanya berjalan dengan baik. Aku bisa mendapatkan keuntungan 5-10 juta per bulan sementara istriku bisa mendapatkan sampai dengan 2 juta per bulan. Tetapi dalam bisnis, semuanya memiliki resiko. Ketika dihadapkan pada resiko-resiko ketertipuan, emosi menghadapi pelanggan, dan waktu yang harus terkuras, aku akhirnya memutuskan untuk berhenti ketimbang memilih harga yang harus dibayar dengan tetap melanjutkan bisnis itu.

Sampai pada suatu titik, istriku melanjutkan pascasarjananya, pun aku yang melanjutkan studiku. Kami beranggapan bahwa pendidikan adalah investasi. Sumber daya yang keluar untuk pendidikan tidak akan pernah sia-sia.

Namun, pendidikan sebagai investasi bukanlah jawaban atas kegelisahanku di awal tadi. Dalam hubungan jarak jauh aku dan istriku (aku di STAN dan dia di ITB), kami sering membincangkan rencana-rencana dan kesadaran baru untuk membuat uang tabungan itu hidup. Ini bukan makroekonomi yang mengatakan I = S (invest is saving). Kami membuat daftar hal-hal yang ingin kami lakukan:

1. Bisnis Makanan

Dengan fakta bahwa keuntungan dari bisnis makanan adalah minimal 200% (ceteris paribus) dan kemampuan memasaknya, kami bercita-cita membuat sebuah kedai, kafe, tempat makan. Hal itu sudah diancang-ancang di kampusnya. Ia kerap membikin makanan untuk dijual ke teman-teman mahasiswanya.

2. Institusi Pendidikan

Pada mulanya kami ingin membuat sebuah bimbingan belajar. Ide itu kami sampaikan ke orangtuaku. Dan ide itu bertransformasi menjadi sekolah. Pada saat ini, sebuah sekolah tengah dibangun di wilayah Banyuasin, Sumatra Selatan. Meski niat utama membangun institusi pendidikan bukanlah profit, melainkan social responsibilty untuk menjadi lebih bermanfaat bagi orang lain.

3. Tanah

Ini adalah visi. Investasi sesungguhnya adalah pada metafora itu sendiri. Tanah menumbuhkan pohon, pohon menjadi buah. Aku sedang merancang strategi untuk dapat memiliki tanah. Istriku bahkan bilang, di Korea membeli tanah/rumah itu dengan cicilan seumur hidup. Barangkali di zaman anak kami nanti, di Indonesia, juga akan berlaku hal yang sama. Dengan alasan itu, memiliki aset tetap yang tak punya asas penyusutan (tanah) adalah jawaban yang penting untuk kegelisahan tersebut.

 

Hal lain, ah, pernah juga terbersit untuk berkecimpung di reksadana. Namun, sampai saat ini aku masih ragu karena dalam sejarah perekonomian, tidak ada krisis ekonomi yang terjadi karena disebabkan oleh sektor riil. Semuanya sektor moneter. Sampai saat ini, aku belum akan melakukan sesuatu jika masih ada keraguan di dalam hatiku.

Barangkali nanti, dengan ilmu baru yang akan kuterima, keraguan itu bisa teratasi. Pastinya, kebebasan finansial adalah tujuan bagi siapa saja. Dengan cara apa saja, yang penting bukan hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang lain.

 

(2014)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *