Ekonomi Indonesia Kuartal I

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis pertumbuhan ekonomi kuartal pertama tahun ini mencapai 5,01% year on year (YoY). Angka ini sesuai dengan proyeksi sebagian ekonom dan proyeksi Bank Indonesia (BI). Tetapi lebih rendah dibanding proyeksi pemerintah yang sebesar 5,1% YoY.

Capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi kuartal pertama 2016 dan kuartal kempat 2016 yang tercatat masing-masing sebesar 4,92% dan 4,94% YoY. Pertumbuhan itu dipengaruhi oleh harga komoditas nonmigas di pasar internasional kuartal pertama tahun ini yang mengalami peningkatan.  Selain itu, kondisi ekonomi global kuartal pertama juga meningkat. Pertumbuhan ekonomi beberapa negara mitra dagang Indonesia seperti China menguat menjadi 6,9% dari sebelumnya 6,7%, Amerika Serikat menjadi 1,9% dari 1,6%, dan Singapura menjadi 2,5% dari 1,9%. Selain itu, inflasi kuartal pertama 2017 juga tercatat hanya 1,19%, lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu sebesar 3,61%.

Pertumbuhan ini didukung oleh hamper semua lapangan usaha kecuali Pertambangan dan Penggalian yang mengalami kontraksi sebesar 0,49%. Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Informasi dan Komunikasi sebesar 9,1%, Transportasi dan Pergudangan sebesar 7,65%, dan Jasa Keseharan-Kegiatan sosial sebesar 7,13%. Secara struktur, tidak ada perubahan yang berarti: Industri Pengolahan, Pertanian, Kehutan dan Perikanan, Perdagangan Besar-Eceran, Reparasi Mobil-Sepeda Motor, dan Konstruksi masih mendominasi PDB Indonesia.

Kalau dilihat dari sisi penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi, Industri Pengolahan memiliki sumber pertumbuhan tertinggi sebesar 0,91%, disusul Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 0,9%, Perdagangan Besar-Eceran, Reparasi Mobil-Sepeda Motor sebesar 0,64%, dan Konstruksi sebesar 0,61%.

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan pun terjadi di semua komponen. Komponen tertinggi dicapai Komponen Ekspor Barang dan Jasa sebesar 8,04% diikuti Pengeluaran Konsumsi Lembaga Non Profit yang melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT) sebesar 8,02%, dan Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT) sebesar 4,93%.

PDB Indonesia menurut pengeluaran atas dasar harga berlaku pun tidak menunjukkan perubahan struktur yang berarti. Aktivitas permintaan masih didominasi oleh Komponen PK-RT yang mencakup lebih dari separuh PDB Indonesia, disusul oleh PMTB, Ekspor Barang dan Jasa, Impor Barang dan jasa, dan Pengeluaran Konsumsi Pemerintah, sedangkan peranan komponen PK-LNPRT relatif kecil.

Bila dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhan eknomi nasional, Komponen PK-RT merupakan komponen terbesar dengan nilai 2,71% diikuti Komponen Ekspor barang dan Jasa sebesar 1,71%. Sedangkan sumber pertumbuhan ekonomi nasional dari komponen lainnya sebesar 0,59%.

Realisasi belanja pemerintah juga meningkat menjadi Rp 400,14 triliun dari periode yang sama tahun lalu Rp 391,04 triliun. Nilai ekspor dan impor juga naik, masing-masing sebesar 20,84% YoY dan 14,83% YoY. Sementara realisasi penanaman modal yang tercatat di BKPM naik 13,2% YoY, penjulan mobil naik 5,96% YoY, penjualan semen naik 1,48% YoY dan adanya peningkatan produksi makanan dan minuman dalam rangka persiapan menyambut puasa lebaran.

Sementara itu, inflasi bulan Mei 2017 kemungkinan besar meningkat, setelah inflasi April sebelumnya cukup rendah pada level 0,09%. Selain faktor administered prices, ada juga karena volatile food inflation yang beberapa bulan terakhir masih deflasi.

Tantangan besar pemerintah adalah untuk menekan inflasi pangan yakni masih ada di seputar permasalahan distribusi antar daerah produsen ke konsumen, dan pemberantasan praktik-praktik spekulasi. Menjelang ramadan, harga-harga beberapa komditas telah melonjak naik seperti bawang putih. Untuk daging, kalau harus impor perlu dipersiapkan jauh-jauh hari sehingga sehingga cukup waktu untuk dilepas ke pasaran saat Ramadan dan Lebaran.

Posisi cadangan devisa (Cadev) Indonesia hingga akhir April 2017 tercatat sebesar USD123,2 miliar, lebih tinggi dibandingkan dengan posisi akhir Maret 2017 yang sebesar USD121,8 miliar. Peningkatan tersebut terutama dipengaruhi oleh penerimaan devisa, antara lain berasal dari penerimaan pajak dan devisa ekspor migas bagian pemerintah serta hasil lelang Surat Berharga Bank Indonesia (SBBI) valas.

Penerimaan devisa tersebut melampaui kebutuhan devisa untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan SBBI valas jatuh tempo. Cadangan devisa tersebut dinilai mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan. Posisi cadangan devisa per akhir April 2017 tersebut cukup untuk membiayai 8,9 bulan impor atau 8,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Posisi Cadev bulan kemarin melanjutkan tren peningkatan yang sudah terjadi pada bulan Maret lalu yang mendapat dorongan dari masuknya dana asing dari pasar keuangan. Selain itu, kenaikan cadangan devisa juga ditopang oleh penerbitan sukuk global pada akhir Maret. Tercatat akhir Maret 2017 kemarin, Cadev mencapai sebesar USD121,8 miliar atau setara Rp1.622 Triliun (kurs Rp13.320/USD). Posisi ini lebih tinggi dibandingkan akhir Februari 2017 yang sebesar USD119,9 miliar.

Indeks Tendensi Bisnis (ITB) pada triwulan I-2017 sebesar 103,42. Hal ini menunjukkan kondisi bisnis meningkat jika dibandingkan triwulan sebelumnya. Namun tingkat optimisme pelaku bisnis lebih rendah jika dibandingkan dengan triwulan IV-2016 (nilai ITB sebesar 106,70). Indeks Tendensi Bisnis (ITB) adalah indikator perkembangan ekonomi usaha terkini yang datanya diperoleh dari Survei Tendensi Bisnis (STB) yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik bekerja sama dengan Bank Indonesia. STB dilakukan setiap triwulan di beberapa kota besar terpilih di seluruh provinsi di Indonesia. Jumlah sampel STB triwulan I-2017 sebesar 1.938 perusahaan besar dan sedang, dengan responden pimpinan perusahaan. ITB merupakan indeks yang menggambarkan kondisi bisnis dan perekonomian pada triwulan berjalan dan perkiraan triwulan mendatang.

Pada triwulan I-2017 tercatat 12 kategori lapangan usaha mengalami peningkatan kondisi bisnis, empat kategori mengalami penurunan, dan satu kategori relatif stagnan. Peningkatan kondisi bisnis tertinggi terjadi pada lapangan usaha Jasa Keuangan dan Asuransi dengan nilai ITB sebesar 127,31. Sementara itu, kategori lapangan usaha Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial mengalami tekanan kondisi bisnis terbesar dengan nilai ITB sebesar 92,00. Kondisi bisnis pada triwulan I-2017 yang meningkat disebabkan oleh capaian dari tiga komponen pembentuknya. Penggunaan kapasitas produksi/usaha dengan capaian nilai indeks sebesar 104,60, pendapatan usaha dengan capaian nilai indeks sebesar 104,54, dan rata-rata jumlah jam kerja dengan capaian nilai indeks sebesar 101,13.

Comments

comments