Dua Puisi Pringadi Abdi di Buku Amarah (2013)

Saya jadi ingin mendokumentasikan karya-karya lama yang sudah dimuat di blog. Dua Puisi dalam buku Amarah ini awalnya kuikutkan lomba di Lembaga Bhinneka. Sajak untuk Kenangan berhasil meraih juara pertama (kalau tidak salah), dan tak disangka, beberapa karya yang diikutsertakan dalam lomba tersebut dibukukan.

Buku Antologi Amarah


Sajak untuk Kenangan

[1]

satu porsi martabak har dan es teh tawar di depan sekolah kita,
jalan
Jenderal Sudirman yng memantik perlawanan dari rakyat
berbambu runcing,
sudah menjadi sejarah yang terpaksa kita salin
di buku harian

sebab jarak sudah memisahkan kita, di dua pulau yang terapung,
di pulau yang menitiskan raja-raja menjadi patung.

[2]

sebab di museum bala putra dewa, kita tidak menemukan
kelaminnya
arca-arca rusak, kolam-kolam yang dulu pernah bulus sudah
tinggal fosil, dan beberapa ensiklopedia dibiarkan nama
terpampang tak berbentuk.

kita duduk di taman, satu-satunya tempat yang menyediakan
burung-burung
terbang, dan sebuah patung cupid buta sedang kencing berdiri
dan menertawakan kita yang tak kunjung bertukar bibir.

[3]

di sisi Sungai Musi, kita bermain tebak-tebakan, di mana
sebenarnya Sriwijaya ditenggelamkan?

ampera yang merah, sungai yang kuning, dan langit yang hitam
seperti
sedang ada seseorang yang belajar menggambar dan gagal
mewarnai.

kita tertawa, menertawakan ia yang mungkin tidak pernah
masuk TK.

[4]

aku katakan kepadamu, dompetku tidak setebal diktat para
mahasiswa
tidak setebal berkas kumpulan kasus pidana dan perdata yang tak
pernah selesai pada keadilan
daripada kita makan di warung legenda, kita ke Jakabaring saja
menemui bapak penjual angkringan yang tabah meneliti minyak
jelatah

ku katakan kepadamu, aku tidak suka memakan kembang gula,
menonton
kembang api, dan merayu kembang desa. Sebab
dadaku terlanjur kembang-kempis untuk mengenangmu yang
jauh
merajut kata-kata yang lepuh,

dulu.


 

Ujung Musim Kemarau

Aku tak melihat debu di ujung rambutmu. Bertanya
shampoo apa yang kau gunakan, membuatku
teringat pada wangi dupa yang dibakar di kelenteng.
Kemaren kau tengah menenteng seplastik luka,
aku pikir kenangan tak pernah begitu kejam, malam
kehilangan suara jangkrik, hari-hari dipenuhi influenza.
Selamat tinggal, Cinta; bayangan randu yang meranggas,
seorang gadis duduk di ayunan tua, membiarkan roknya
digeniti angin, tetapi bukan kau, bukan wangi serupa
yang kucium ketika hujan mulai membunuh dirinya
demi luka yang lain.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *