Draft Catatan Penutup Novel Saya

I

Tidak banyak yang tahu, saya pernah hampir menyerah dan tidak tidak berkeinginan menulis lagi. Titik nadir dalam kehidupan menulis saya itu terjadi ketika novel yang sudah saya buat sepenuh ingatan tiba-tiba diputuskan tidak jadi terbit. Padahal, naskah itu sudah selesai diedit, sudah memiliki sampul buku beserta blurb-nya, dan bahkan sudah ber-ISBN!

Saya merasa hancur dan bertanya-tanya, apakah benar saya seburuk itu? Apakah memang saya tidak layak dikonsumsi publik? Saya bahkan ingat kalimat paling meremehkan yang pernah saya terima: Jujur saja, kamu sendiri pasti merasa naskahmu ini buruk ‘kan?

Naskah itu adalah novel ini. Phi. Phi mengalami perjalanan penulisan yang panjang. Ide awalnya muncul pada tahun 2011 setelah kumpulan cerpen Dongeng Afrizal terbit. Beberapa cerpen di dalamnya menjadi ide dasar untuk pengembangan cerita. Selama kurang lebih tiga tahun, saya melakukan riset dan perenungan batin yang mendalam mengenai karakter-karakter di dalamnya, yang mulanya saya beri nama saya sendiri.

Phi semula berjudul Pi. Keduanya berbeda. Phi adalah rasio emas yang dianggap sebagai rasio keseimbangan alam semesta, sedangkan Pi berhubungan dengan lingkaran, 22/7, atau 3,14…. Naskah itu saya selesaikan pada September 2014 dan saya kirimkan ke Lomba Penulisan Novel Dewan Kesenian Jakarta 2014. Tak disangka, naskah itu masuk ke dalam 11 besar.

Saya menjawab kalimat meremehkan itu. Saya katakan seburuk-buruknya naskah saya, yang bahkan sudah saya revisi berbulan-bulan setelah itu, masuk long-list nominasi. Ia menjawab, “Kalau begitu, juri-juri DKJ yang buruk!” Seketika itu pula saya katakan saya tidak ingin melakukan revisi apa-apa lagi dan saya tarik naskah saya dari penerbit tersebut.

 

II

Saya menyukai hal-hal yang berbau klise.

Klise dalam sastra adalah pengulangan yang terlalu sering terhadap suatu hal sehingga kita merasa bosan. Klise berarti tidak ada kebaruan di dalamnya.

Namun, apakah yang berbau klise memang benar-benar klise? Ataukah pengecapan klise seringkali adalah buah dari ketidakmampuan kita menangkap sesuatu yang baru atau yang tersembunyi pada suatu ekspresi? Misalnya, senja sudah teramat sering dipakai dalam tulisan. Tentu akan sangat ceroboh bila kita memvonis bahwa semua makna yang mungkin ada dari senja sudah pernah ditulis sebelumnya.

Kebaruan dalam berekspresi sebenarnya tidak bisa dihadap-hadapkan pada usaha untuk mencari kedalaman dan mengembalikan kesederhanaan pada tempatnya. Ada juga usaha lain untuk mereformulasi kesan dari sebuah situasi yang sama—dan meski berbau klise, hal itu tidaklah klise.

Anggapan serupa terjadi pada hal-hal yang terasa cheesy dan garing.

Saya suka menonton drama dan variety show Korea. Alur dalam kebanyakan drama Korea sama. Namun, kesan yang hadir hampir selalu berbeda. Perbedaan kualitas akting, pembangunan latar kerap kali menjadi pembeda. Adegan-adegannya yang cheesy, bahkan kita bisa menebak dialog seperti apa yang akan muncul, tetap bisa membuat kita merasa deg-degan. The Flirt King, Kim Hee Chul, juga kerap melontarkan kalimat-kalimat yang cheesy kepada lawan mainnya di berbagai variety show, tapi ia selalu mampu membuat lawan mainnya bersemu merah.

Saya juga suka menonton stand up comedy. Salah satu komika yang sering saya tonton adalah Uus. Uus adalah komika paling garing di dunia. Leluconnya bersifat one-liner dan plesetan-plesetan. Namun, segaring-garingnya Uus, saya tetap bisa tertawa terbahak-bahak. Aneh ‘kan, lelucon yang garing kok bisa membuat saya tawa saya meledak?

 

Bersambung….

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Warning: Unknown: write failed: Disk quota exceeded (122) in Unknown on line 0

Warning: Unknown: Failed to write session data (files). Please verify that the current setting of session.save_path is correct (/tmp) in Unknown on line 0