Bukit Pasir Busung Bintan

Download Kumpulan Puisi Koran Tempo

Puisi-puisi ini termuat di Koran Tempo dan dikumpulkan oleh Ardy Kresna Crenata. Lumayan, ada lebih dari 200 halaman. Bisa kita baca dan pelajari kenapa puisi ini bisa dimuat di Koran Tempo.

Silakan download kumpulan puisi Koran Tempo.



Erni Aladjai
Burung Kepodang

Semenjak dia melihat kepodang
melintas di jendela rumah Maria
dia bertanya pada ibunya
kenapa kematian selalu ditandai kain putih

Apakah nyawa adalah gelap
atau napas itu seperti asap
mengirim jelaga di atap dapur
bukankah jika begitu semua sia-sia
bagai dawai kecapi yang putus?

Pergilah tidur anak kecil
lelaplah seperti gunung
dia ibu yang melarang anaknya
bertanya hal-hal rumit
si anak membawa lentera
ke dalam kamar dengan bayang-bayang
burung kepodang di dinding

Tengah malam si anak bermimpi
matanya bertumbuh tiga dan makin awas
mirip mata orang suci yang senang mengembara
menyebarkan biji-biji kebajikan

Lalu ibunya yang sedang sibuk
menjadi tukang sihir
baru menyadari
jika sudah tiga hari si anak belum bangun
dan pertanyaan perihal burung kepodang
sudah lama tak mengganggunya di kamar hantu

Di tempat lain
seribu kunang-kunang merayakan
kedatangan si anak yang sedang berlutut
memuja dewa lama
seperti anak samurai di bawah pohon kriptomeria
Bagi si anak
sederhana hidup di saat larangan
tak bertumbuh banyak

 



Zelfeni Wimra
aku kirim juga akhirnya puisi ini

aku kirim juga akhirnya puisi ini
aku kirim puisi ini kepada debu yang berhamburan
di sela jemari pengasah batu akik
sebagian terbang ke ketiadaan
sebagian menyuruk ke ruang paling rentan
dan orang-orang yang gemar menghias jari percaya,
beginilah cara memaknai luka
yang mencabik tubuh
menguliti diri

aku kirim puisi ini kepada tunas baru sebatang jeruk
daun pendahulu mereka telah habis
disantap ulat yang berencana menjadi kupu-kupu
setelah hujan berkepanjangan
serat kepompong itu membusuk,
ia kini terkulai di cabang berduri

aku kirim puisi ini kepada adik perempuan kembaran
setelah kakaknya kawin dan tidur di kamar pengantin,
ia menyendiri di bilik sunyi, tidur miring ke sisi jendela
menerawang cakrawala di seberang halaman
sejak lahir, apa saja selalu mereka bagi, tapi tidak untuk kali ini
aku kirim puisi ini kepada roda cadangan
yang melekat di pantat mobil jenazah,
ikut serta mengantarkan mayat menuju lahat
di antara para pelayat
dirinya memang tidak sedang berbuat apa-apa
namun tetap sedia menjadi pengganti yang setia



aku kirim puisi ini kepada tungku berabu dingin
sejak penghuni rumah satu persatu menunaikan usia
tidak ada lagi kayu bakar yang rela dilalap api
penghangat ruang dan pematang masakan setiap hari
aku kirim puisi ini kepada sebilah lidah
meskipun tuannya seorang diplomat kelahiran sumatera
tetapi dirinya pasih menggetarkan aneka bahasa eropa
sebab kini memang demikian kehendak bahasa

aku kirim puisi ini kepada pisau dapur seorang janda
sejak laki majikan tiada, dirinya sudah jarang diasah
bawang dan kentang sering mengeluhkan ketumpulannya
sari tubuh mereka akan redam jika disayat dengan mata yang
tidak tajam
inilah kini yang mereka ratapi siang-malam

aku kirim puisi ini kepada titik dan garis frekuensi
yang telah mewarnai layar televisi dengan gambar penghibur lara
lengkap dengan aneka tipu daya
sehingga aku bisa menonton sepak bola
dan lebih sering memikirkan brasilia ketimbang jakarta
aku kirim puisi ini kepada tanda gambar calon presiden
yang robek dikunyah angin dan hujan
setelah pemilu lama berlalu
musim jua yang menumbuhkan lupa
justru ketika ladang-ladang menampakkan buahnya
aku kirim puisi ini kepada bunga kalikanji
yang melekat di gaun perempuan sawah
betapa ia ingin ikut dipungut seperti padi
namun dirinya tetap saja rumput jarum yang sepi

aku kirim puisi ini kepada saudagar koran
aku percaya, pasti ada harganya
bisa dijual pembayar pulsa demi pulsa
dan semoga ia pun bisa duduk bersisian
dengan berita tentang derita

2014

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *