Catatan Pringadi

Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan

A Few Don’ts by an Imagiste, Ezra Pound

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Beberapa Hal yang Tak Boleh Dilakukan oleh Imajis

diterjemahkan Pringadi Abdi Surya

Sebuah imaji menghadirkan kompleksitas intelektual dan emosional dalam waktu yang singkat. Kompleksitas ini menyangkut perasaan kebebasan yang hadir seketika, lepas dari batas ruang dan waktu, terasa ada sesuatu yang tumbuh di dalam dada, yang umum kita alami ketika menyaksikan karya seni yang agung.

Bagi seorang imajis, lebih baik menyajikan satu imaji dalam seumur hidup ketimbang menciptakan beberapa karya lain.

Tulisan ini tentu bisa didebat. Ada beberapa hal yang tidak boleh dilakukan oleh para pemula untuk menciptakan baris-baris puisi, terutama ketika hendak menjadi seorang imajis.

Mari kita mulai dengan tiga aturan yang dicatat Mr. Flint, jangan jadi dogma (jangan pernah mempertimbangkan segala sesuatu sebagai dogma), tetapi hasil dari perenungan panjang, atau mungkin perenungan orang lain yang layak dipertimbangkan. Jangan kasih perhatian kritik dari mereka yang nggak pernah menulis karya yang diakui. Pertimbangkan ketidaksesuaian di antara tulisan aktual dari penyair dan dramasis Yunani, dan teori para ahli bahasa Yunani-Roma (Graeco-Roman),  yang disusun untuk menjelasankan ukuran mereka.

Bahasa

Jangan gunakan kata-kata yang berlebihan, tak boleh ada kata sifat, yang intinya, jangan terlalu mengungkapkan sesuatu.

Jangan gunakan ekspresi seperti “dim lands of peace” atau ” tanah muram perdamaian“. Hal itu memperburuk imaji. Sama saja kita mencampurkan yang abstrak dengan yang konkrit. Hal seperti itu datang dari penulis yang tidak menyadari objek alami selalu menjadi simbol yang cukup kuat.

Dobrak ketakutanmu pada abstraksi. Jangan menuliskan baris-baris medioker yang sudah digolongkan ke dalam prosa yang baik. Jangan berpikir orang-orang cerdas tidak akan menyadari ketika kau mencoba menhindari semua kesulitan tak terperanai saat menuliskan seni ini dengan cara memenggal komposisi kalimat dalam prosamu menjadi baris-baris puisi.

Hal yang membuat para ekspertis lelah hari ini akan membuat masyarakat lelah juga di kemudian hari.

Jangan bayangkan kalau seni menulis puisi itu lebih mudah dari seni musik, atau mengira kamu bisa membuat para ahli kagum sebelum kamu mengerahkan kemampuanmu dalam seni penulisan setidaknya seperti kebanyakan guru les piano mengerahkan kemampuannya dalam seni musik.

Belajarlah dari banyak seniman sebanyak kamu bisa, tetapi milikilah sebuah respek baik itu untuk mengakui kehebatan mereka, atau untuk mencoba tak terpengaruh oleh mereka.

Jangan biarkan pengaruh itu malah membuatmu hanya “mencuri” frase-frase tertentu dari satu-dua puisi yang kamu kagumi. Kalau tak salah pernah ada wartawan Turki yang tertangkap mencuri frase-frase dari penyair. Lupa-lupa ingat sih.

Hindari penggunaan hiasan, meskipun hiasan itu bagus.

Ritme dan Rima

Berikan kesempatan kepadanya, irama terbaik yang bisa ia temukan, lebih baik lagi dalam bahasa asing sehingga makna kata-kata tidak akan terlalu mengalihkan perhatiannya terhadap irama, misal Saxon Charms, Hebridean Folk Songs, sajak-sajak Dante, lirik Shakespeare—jika ia mampu memisahkan irama dari semantiknya. Biarkan ia mencacah-cacah dingin lirik Goethe hingga ke komponen suara terkecilnya, panjang pendek suku katanya, tekanannya, bahkan susunan vokal dan konsonannya.

Sebenarnya tidak butuh juga kita mengatakan kalau puisi harus bergantung pada musikalitasnya, tetapi jika bisa dibunyikan, memiliki musikalitas itu, tentu hal itu akan membuat para ahli takjub.

Coba kita pahami dulu asonansi dan aliterasi, rima langsung atau tertunda, yang sederhana atau poliponik, layaknya seorang musisi yang berharap mengenali harmoni dan detail karyanya. Tak ada waktu yang percuma bila dikerahkan dalam wilayah itu, bahkan ketika para seniman jarang membutuhkan hal itu.

Jangan bayangkan suatu hal akan baik-baik saja dalam sebuah baris hanya karena hal itu buruk jika dimasukkan ke dalam prosa.

Jangan jadi tukang fatwa, itu tugasnya para penulis di bidang filsafat. Jangan menjadi deskriptif, ingatlah bahwa para pelukis dapat menggambarkan pemandangan lebih baik dari yang kamu bisa, dan bahwa dialah yang lebih tahu akan semua itu.

Ketika Shakespeare berkata “Dawn in russet mantle clad”/fajar bertudung mantel coklat, dia menyajikan sesuatu yang tak dapat disajikan pelukis. Di sanalah, di baris tersebut, dia tidak mendeksripsikan sesuatu dengan normal, dia menyajikan atau menghadirkan sesuatu yang tak normal tersebut.

Pertimbangkanlah cara yang dilakukan ilmuwan ketimbang cara agen marketing dari produk sabun baru.

Ilmuwan tidak mengharapkan untuk diakui sebagai ilmuwan hebat sempai dia menemukan sesuatu. Dia memulainya dengan mempelajari hal-hal yang sudah ditemukan. Lalu dia berangkat dari sana. Ia sama sekali tak menyimpan keinginan dikenali sebagai seorang ternama. Ia tidak berharap koleganya bertepuk tangan atas hasil kerjanya sebagai pemula. Sayangnya, para pemula dalam puisi tidak menempatkan diri dan karyanya pada lingkungan yang tepat dan terpercaya. Mereka memamerkan karya mereka di etalase. Tidakkah ini alasan masyarakat menilai puisi tak ada bedanya dengan yang lain?

Jangan memotong kerjamu menjadi iambik yang terpisah. Jangan jadikan tiap baris berhenti di akhir, dan memulai baris berikutnya dengan susah payah. Biarkan permulaan tiap baris berikutnya berpaut dengan irama di akhir baris sebelumnya, kecuali memang iramamu membutuhkan jeda yang panjang.

Pendek kata, bertindaklah sebagai musisi, musisi yang cerdas tentunya, ketika mengerjakan bagian-bagian dari karyamu yang berkait erat dengan musikalitas. Aturan-aturan mereka berlaku juga untukmu, meski kau tidak mesti terkurung di dalamnya.

Secara alami, struktur irama tidak meruntuhkan bangunan kata-katamu, suara murni dari kata-kata itu, atau, tentu saja, makna yang diusung kata-kata itu. Mustahil, pada dasarnya, bagimu untuk menciptakan struktur irama yang cukup kuat dan memesona bila kau hanya korban dari segala kekeliruan dalam meletakkan pemberhentian baris dan jeda.

Vide further Vildrac and Duhamel’s notes on rhyme in “Technique Poetique.”

Musisi dapat mengandalkan tinggi rendah nada dan volume suara. Penyair tidak bisa. Istilah harmoni berbeda dalam puisi; dalam musik, ia merujuk pada keterpaduan suara dalam nada-nada yang berbeda. Bagaimanapun juga, dalam sajak-sajak yang baik, terdapat semacam dengungan dari tiap kata yang tersisa di telinga seperti nada dasar. Rima mesti mempunyai elemen kejutan agar bisa dinikmati; tidak perlu yang beraneh-aneh atau berlebihan, tetapi cukup, selama tepat fungsinya.

Bisa dilihat lebih jauh dalam catatan Vildrac dan Duhamel tentang Rima, dalam Technique Poetique.

Rima itulah yang akan mengejutkan imajinasi di benak pembaca, dan akan menjadi khusus, tidak bisa dierjemahkan, karena hanya akan membuai telinga jika dibaca dalam bahasa aslinya. Coba deh pertimbangkan cara Dante, jika dibandingkan dengan retorikanya Milton. Juga banyak baca karya-karya Wordsworth sebagai perbandingan biar tidak terasa hambar.

Bila ingin menggali lebih dalam lagi, baca juga Sappho, Catullus, Villon, Heine ketika ia marah-marah, Gautier ketika ia tidak kaku; atau bila itu semua membuatmu kesulitan, membaca Chaucer yang ringan akan menyenangkan. Prosa yang baik tidak akan mencelakakanmu, dan tentu akan berguna bagimu bila kau melatih diri dengan menulisnya.

Menerjemahkan juga latihan yang baik, terlebih bila kau menemukan karyamu sendiri “compang-camping setiap kali kau mencoba menulisnya kembali. Makna puisi yang diterjemahkan mesti tetap, tidak bolehcompang-comping.”

Jika kau menulis dalam bentuk simetris, jangan hanya menuliskan apa yang hendak kau tulis lalu menyempurnakan bentuk dengan serampangan.

Jangan mengacaukan suatu persepsi dengan mencoba menuliskannya dengan cara lain. Hal tersebut biasanya hasil dari kemalasan untuk menemukan pilihan kata yang pas. Meski ada pengecualiannya.

Tiga larangan sederhana di awal sebenarnya akan langsung menyingkirkan sembilan dari sepuluh puisi buruk yang dianggap bagus selama ini; dan akan menghindarkanmu dari kejahatan dalam menulis puisi. “…mais d’abord il faut etre un poète—tetapi sebelumnya, mesti menjadi penyair,” sebagaimana yang dikatakan MM. Duhamel dan Vildrac dalam akhir buku kecilnya, Notes sur la Technique Poetique; meski besar kemungkinan di Amerika, seseorang akan menelannya mentah-mentah, kalau tidak, mana mungkin mereka hidup di negeri menyebalkan itu!

 

Teks asli:

https://www.poetryfoundation.org/poetrymagazine/articles/58900/a-few-donts-by-an-imagiste

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *