Dari Deutsche Bank Hingga Pertumbuhan Ekonomi Global

 dimuat dalam Indonesian Treasury Update Vol 1 No. 2 19 Oct-1 Nov 2016

Ada dua isu yang berkembang terkait permasalahan Deutsche Bank (DB). Pertama, Deutsche Bank memiliki risiko gagal bayar utang. Kedua, denda sebesar USD14 Miliar menurunkan kepercayaan pasar sehingga ada risiko dampak sistemik yang dapat menimbulkan krisis finansial global. Namun, pihak DB segera memberikan informasi bahwa mereka memiliki biaya litigasi sebesar USD6,4 Miliar dan likuiditas sebesar USD243 Miliar. Selain itu, pihak DB pun baru saja mengumumkan laba di triwulan ketiga untuk mengembalikan kepercayaan pasar setelah sebelumnya saham DB sempat anjlok 10%.

Sementara itu, pasar sedang menantikan pemilihan presiden AS yang akan berlangsung pada tanggal 8 November 2016. Kebijakan yang akan diambil Donald Trump apabila memenangkan pilpres tersebut akan berbeda dari kebijakan AS selama ini. Salah satunya adalah dengan menetapkan tarif 45% atas barang-barang China. Perubahan kebijakan ekonomi AS pasca-pilpres akan banyak mempengaruhi keadaan ekonomi global.

Di sisi lain, Uni Eropa dan Kanada akhirnya menandatangani Comprehensive Economic and Trade Agreement (CETA). CETA adalah perjanjian perdagangan bebas Uni Eropa paling ambisius hingga saat ini, yang dirundingkan sejak tujuh tahun lalu. Bagi Kanada, ini merupakan kesepakatan penting untuk mengurangi ketergantungan pada Amerika Serikat (AS) sebagai pasar ekspor. Untuk Uni Eropa, CETA adalah pakta perdagangan pertama dengan negara G7 dan disepakati pada saat kredibilitas Uni Eropa telah berkurang setelah Brexit. Kesepakatan itu akan menghapuskan tarif pada hampir 99% barang, dan diharapkan CETA dapat menghasilkan peningkatan perdagangan senilai USD12 Miliar dalam setahun.

chart

Pertumbuhan ekonomi global diprediksi masih melemah. Kejadian-kejadian seperti Brexit, ISIS, dan pilpres AS telah menimbulkan ketidakpastian bisnis. Pada tahun 2016 ini, pertumbuhan ekonomi global masih di kisaran 2,2%. Pada tahun 2017, pertumbuhan diprediksi akan sedikit membaik, yakni di angka 2,6%.

Pertumbuhan ekonomi di Amerika Serikat diperkirakan tumbuh lebih rendah dari perkiraan sebelumnya. Hal ini tercermin dari indikator konsumsi yang belum solid dan investasi yang masih mengalami kontraksi. Meskipun pertumbuhan tenaga kerja terjadi dan ada penguatan tren untuk mendukung belanja, akselerasi pengupahan yang lebih cepat adalah kunci untuk mempertahankan level pendapatan dan mendukung konsumsi sebagai kunci yang akan mendorong pertumbuhan.

Ekonomi Eropa justru diperkirakan naik lebih tinggi. Permintaan tenaga kerja semakin meningkat dan hal ini mendorong pertumbuhan. Di saat yang sama, investasi dan produktivitas diproyeksikan meningkat.

Di Asia, meski tidak sesignifikan tahun lalu, pertumbuhan ekonomi di China, India dan Asia Tenggara masih relatif baik. Pertumbuhan di China diperkirakan berada di kisaran 3,6%, sementara India diestimasi akan mengalami pertumbuhan yang lebih tinggi (yoy) dibandingkan China. Konsumsi di India meningkat seiring dengan naiknya pendapatan.

Sementara itu, pertemuan negara-negara penghasil minyak, baru-baru ini belum menghasilkan kesepakatan, dan direncanakan akan melakukan pertemuan kembali di akhir November. Hal ini menyebabkan anjloknya harga minyak. Selain harga minyak, harga komoditas juga menurun. Turunnya harga minyak dan komoditas ini berdampak negatif pada perekonomian Amerika Latin, terutama bagi Brazil. Untuk menaikkan potensi perekonomian dan mendorong pertumbuhan ekonomi, dibutuhkan banyak sektor privat dan investasi luar negeri.

Di Afrika, pertumbuhan ekonomi positif, tetapi tidak menentu. Secara keseluruhan pertumbuhan pada angka 1,8%, terendah dalam dua dekade. Afrika sebenarnya masih penuh potensi ekspansi ekonomi mengingat keadaan demografinya yang luas. Namun sayang, keadan politik di regional tersebut yang tak menentu menyebabkan ketidakpastian pula dalam perekonomiannya.

Perlambatan ekonomi global yang terjadi beberapa tahun terakhir, baik Eropa, Jepang dan China, memberikan pengaruh pada negara-negara lain. Perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia merupakan fenomena menarik untuk dicermati. Pola normal pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah 6%. Pertumbuhan ekonomi diharapkan dapat mengurangi pengangguran dan kemiskinan. Kelompok rentan (vulnerable group) menjadi lebih rentan dan mudah jatuh dalam perangkap kemiskinan. Tanpa investasi baru, perekonomian Indonesia akan sulit tumbuh. Dana repatriasi tax amnesty di perbankan harus diikuti dengan optimalisasi penyalurannya ke sektor riil, sehingga ekses over liquidity tidak menjadi beban baru perekonomian.

Comments

comments