Dari Ahmed Deedat ke Zakir Naik

Kenangan Tentang Ahmed Deedat, Guru dari Zakir Naik

Ada banyak hal yang menjadi kenangan masa-masa SMA. Salah satunya adalah mushola SMAN 3 Palembang. Percaya atau tidak, aku sempat menjadi anak ROHIS. Dibanding pengalaman rohani, ROHIS sejatinya membuatku mengenal banyak teman hebat. ROHIS entah kebetulan atau tidak, menjadi tempat berkumpul para juara kelas. Bahkan, sebagian besar dari kami adalah kebanggaan sekolah ketika pengumuman kelulusan ujian universitas menuliskan nama-nama kami di sana, di tempat yang favorit pula.

Salah satu pengalaman berkesan selama menjadi anak ROHIS adalah perkenalan dengan kristologi. Pengajarnya seorang senior—saat itu aku masih kelas I, dia kelas III. Berkesan, karena aku hanya ikut dua kali sesi membahas alkitab. Setelah itu, malas rasanya. Belajar kitab suci sendiri saja belum becus, kok malah belajar kitab suci agama lain. Itulah yang ada di pikiran saya waktu itu. Namun, pada sesi itulah, saya mengenal Ahmed Deedat, dan saya amat menyukainya. Meski tidak ikut sesi kristologi di kemudian hari, aku kadang-kadang ikut menonton Ahmed Deedat melalui VCD yang dipinjamkan teman.

Argumen-argumen Ahmed Deedat amatlah sederhana. Ia juga sangat murah senyum. Ia seperti seorang pendekar yang berkelena di sarang musuh, berdebat melawan pendeta-pendeta mana saja yang mengundangnya. Dan keistimewaan Ahmed Deedat adalah ia fokus pada teks. Ia tampak seperti ahli bahasa, dan ia mengoreksi teks-teks Injil pada bagian-bagian tertentu.

Salah satu hal yang kuingat dari debat itu ialah ketika Ahmed Deedat memaknai kata Haleluya. Ia menyusun ulang Haleluya dalam aturan penulisan Arabic, yang memulai pembacaan dari sebelah kanan. Haleluya menjadi Yalulehu. Familiar dengan Yalulehu? Ya La La Ha. Dalam bahasa Arab, Ya Allah. Salah satu debat yang seru juga adalah ketika ia “taruhan” dengan seorang pendeta untuk membacakan ayat dalam Injil. Kalau tak salah, salah satu ayat dalam Yehezkiel.

Debat-debat yang ditekuni Ahmed Deedat adalah sebuah bentuk entertainment. Karakternya sungguh menghibur, tetapi punya makna yang mendalam.

Kenapa Zakir Naik Tak Membuat Saya Terkesan?

Saya kenal nama Zakir Naik gara-gara polemik menulisan InsyaAllah. Viral, katanya penulisan yang benar adalah InshaAllah. Sha, bukan Sya. Sayangnya, kebodohan memang lebih cepat dari kecepatan cahaya. Mereka tidak memahami ada perbedaan pengejaan antara bahasa Inggris dan Indonesia.

Beda dengan Ahmed Deedat yang tidak punya background pendidikan akademis, Zakir Naik adalah seorang spesialis bedah. Namun, mungkin inilah yang menjadi masalah utama dari Zakir Naik. Seorang akademis yang nanggung biasanya jadi sok tahu. Tidak masalah bila Zakir Naik berdakwah dengan membawa disiplin ilmu bedahnya. Yang menjadi masalah adalah ketika beliau membawa disiplin sains yang lain, dan lalu bicara seperti seorang ekspertis. Seorang Doktor di bidang Manajemen pun tidak sepatutnya mengaku ahli di bidang Makro Ekonomi misalnya.

Dalam sebuah video, ketika membincangkan evolusi saja, Zakir Naik membuat 20 kesalahan dalam 5 menit. Ia bicara dengan percaya diri, namun yang dibicarakannya keliru. Ini yang bahaya. Ketika kita membicarakan sains, lalu mencocok-cocokannya dengan agama,  padahal belum tentu sebuah ayat mengacu ke sebuah fakta sains tersebut—dan kemudian ternyata apa yang kita bicarakan keliru, hal itu akan memalukan. Bukan saja memalukan, hal itu bisa berimplikasi pada pikiran orang tentang kesalahan agama. Manhaj Salafy sangat menghindari cocokologi seperti ini.

Ketika banyak orang Indonesia terhyped oleh Zakir Naik, sesungguhnya saya merasa geli. Oke, kita harus menaruh respek pada Zakir Naik karena banyak juga yang diucapkannya mengandung kebenaran. Keberaniannya pun patut diacungi jempol. Metode dakwah yang dijadikan pilihannya patut kita puji. Namun, please, dia bukanlah seorang ulama yang begitu mapan keilmuannya, meski tentu dia jauh lebih baik dariku.

Yang namanya ilmu keagamaan itu runutannya harus jelas ke sumber ilmunya. Misalnya, Imam Syafii kita bisa menarik garis dia belajar di dua madrasah kenamaan yang menjadi pusat ilmu, yakni ke Imam Malik dan Madrasah milik Hanafi. Dan ulama-ulama besar pun punya garis guru seperti itu. Mereka belajar ke pusatnya ilmu. Sekarang, kalau sudah menyangkut urusan tafsir dan sejenisnya, bisakah kita mendudukkan Zakir Naik dari sisi keilmuannya?

Seperti saya mendudukkan Ahmed Deedat sebagai seorang kristolog, Zakir Naik pun cukup didudukkan pada posisi itu. Jangan dianggap ia ahli tafsir misalnya.

Tapi mungkin saja, fenomena Zakir Naik di Indonesia ini terjadi karena mental jajahan kita. Kita menganggap sesuatu yang datang dari luar itu jauh lebih baik. Kita merendahkan jati diri kita sendiri. Padahal, orang Indonesia yang belajar agama ke sumber ilmunya itu banyak sekali lho. Bahkan di antara mereka, ada yang mendapat nilai tertinggi atau juga mendapat penghargaan khusus dari almamater mereka. Saya akan menyebut 3 nama. Firanda, dia seorang doktor dengan nilai terbaik di bidangnya di Saudi. Kalau Firanda disebut Wahabi, berarti dia Wahabi cerdas lho ya. Lalu ada Zainul Majdi, atau yang lebih dikenal dengan Tuan Guru Bajang. Tuan Guru Bajang ini adalah orang Indonesia kedua yang nilainya sangat istimewa dalam ilmu tafsir di Mesir. Tahu siapa orang pertamanya? Ya, Quraisy Shihab!

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *