Cerpen | Senja Terakhir di Dunia

 

“Ceritakan kepadaku tentang senja…” pinta Alina kepadanya.
Tukang cerita itu terkejut. Dulu sekali, seseorang pernah meminta hal yang sama. Dan saat itulah ia menceritakan kisah Alina dengan Sukab1)—kisah yang membuatnya harus berhadapan dengan polisi, karena ternyata saat itu Sukab tak terima persoalan pribadinya diungkap ke publik. Ia terpaksa harus meringkuk di penjara setelah didakwa bersalah atas pencemaran nama baik. Kini, setelah dua puluh tahun berlalu—dan ia pun bebas, tak disangka-sangka Alina menyambutnya di pintu keluar. Alina sudah keriput dan beruban. Meski masih tampak sisa-sisa kecantikan di wajahnya.
“Senja adalah…” Kata-kata itu terhenti. Ia tak sanggup meneruskan cerita. Ia menangis sambil memandangi Alina yang diam-diam ia cintai itu.

***

Sudah beberapa tahun terakhir ini senja menghilang dari bumi. Bukan cuma sepotong. Tetapi seluruhnya. Tanpa disangka, akibat ceritanya dua puluh tahun silam itu, hampir semua laki-laki di dunia berlomba-lomba menggunting senja untuk diberikan ke pacarnya. Ada-ada saja alasannya. Ada yang kepengen balikan lagi. Ada yang digunakan untuk pelet alias pengasihan. Ada juga yang cuma dihadiahkan di hari ulang tahun sang pacar, dimasukkan ke dalam pigura, dan dipajang di dalam kamar.
Tukang cerita itu memandangi sekeliling. Banyak hal yang berubah. Dua puluh tahun lalu, becak masih di mana-mana. Sampai suatu hari, ia pun harus menceritakan kepunahan dan itu mengenai kisah tukang becak terakhir di dunia, juga kepada Alina—yang kerap mengunjunginya di penjara. Kini, semuanya tinggal cerita, jalan-jalan layang dibangun, gedung-gedung pencakar langit bertebaran, dan jalan melewati gang menuju rumah Alina pun harus ditempuh dengan naik bajaj. Tetapi, mereka memilih berjalan kaki.
“Sudah dua puluh tahun ya?”
“Dan kamu tidak menua.”
Ia diam sebentar. Dilihatnya selokan. Airnya memang masih cukup bening karena mengalir dan kotorannya mengendap. Ia perhatikan wajahnya dan memang tidak banyak berubah. Hanya tumbuh kumis dan jambang yang memanjang. Janggutnya pun menjuntai tak terurus.
“Apa yang ingin kamu ketahui tentang senja?”
“Kesedihan.”
“Sukab?”
Alina menggeleng. “Ada banyak hal yang terjadi selama dua puluh tahun ini. Kisah Sukab sudah kuanggap berakhir.”
“Di dunia kappa, hukum berlaku dengan terbalik. Perasaan pun demikian. Hal-hal yang sering kita anggap lucu dan tidak serius justru dianggap serius. Sementara hal-hal yang serius, menyedihkan dan menyengsarakan dianggap lelucon terbaik di sana.”
“Kappa? Di negeri ini mana ada Kappa.”
“Tidakkah aku pernah bercerita kalau aku pernah keliling dunia?”
“Kamu bahkan tidak pernah bercerita apa-apa tentang dirimu kepadaku.”
Tukang cerita itu tertunduk. Matanya sembab. Ia memandangi kembali gedung-gedung tinggi. Ia saksikan anak-anak tak lagi bisa bermain sepuasnya. Di tiap tiang listrik, ada pengumuman anak hilang. Di tiap mesjid, ada pengumuman kematian. Di tiap kafe, ada perayaan ulang tahun. Di tiap hotel pun, ada penyelenggaraan rapat, konsinyering, pembahasan peraturan yang jadi kedok penghabisan dana akhir tahun anggaran.
“Apa yang ingin kamu ketahui tentang aku, Alina?”
“Kesedihan.”
“Tukang cerita tidak berhak memiliki kesedihan.”
“Tukang cerita tidak berhak memiliki senja?”
“Sejatinya, kita memang tidak berhak memiliki apa-apa.”
“Aku memang tidak pernah memiliki Sukab.”
Alina menangis lagi. Ini kedua kalinya, ia menyaksikan Alina menangis. Di dalam hatinya, ia merasa cemburu kenapa air mata Alina tidak pernah dipersembahkan untuknya. Sukab, laki-laki yang telah membuatnya menangis itu, kini tak jelas juntrungannya. Bahkan oleh tukang cerita sekalipun, Sukab tak lagi bisa diceritakan. Mungkin, kini ia sedang bersenang-senang di sebuah negara yang tak ada dalam peta bersama Maneka. Ah, Maneka… Tiba-tiba ia pun ikut-ikutan menangis.
“Kenapa kamu ikut menangis?”
“Apa menangis perlu alasan?”
Keduanya menangis bersama-sama. Orang-orang yang menyaksikan mereka (ada yang sedang main catur, makan es krim, menyeruput kopi, mengangkat kasur yang baru dijemur, memarahi anaknya yang tidak mau pulang ke rumah) berhenti melakukan pekerjaannya dan ikut-ikutan menangis juga. Air mata mereka mengalir ke selokan. Selokan penuh air mata. Sudah lama rasanya air mata tidak sebanjir itu sejak beberapa puluh tahun lalu, sebelum senja menghilang dari bumi, saat ratusan ribu massa merangsek ke jantung pemerintahan menurunkan seorang kepala negara. Orang-orang menangis bahagia. Pada akhirnya, orang-orang tidak lagi menangis karena menyesal telah menghabiskan air matanya untuk kebahagiaan yang fana. Karena setelahnya, mereka dipaksa tertawa dan menertawakan semua kejadian yang seharusnya bikin mereka menangis.
“Aku baru menyadari ternyata setelah mulutku lama dibungkam dipenjara, dan aku hanya bercerita lewat surat-suratku kepadamu, Lin, aku lupa bagaimana cara memulai cerita dengan baik dan benar.”
“Tak perlu hal yang baik pula benar di dunia ini… Kebaikan sudah jadi omong kosong. Kebenaran telah jadi pembenaran.”
“Lantas, kenapa suratku tak pernah kamu balas?”
“Karena setiap melihat kertas surat, aku jadi teringat Sukab. Maaf.”
“Orang-orang yang mencuri senja itu kebanyakan sudah ditangkap. Mereka dimasukkan ke dalam sel yang berdekatan denganku.”
“Lalu, kenapa bumi masih tanpa senja?”
“Tidak semudah itu. Ada tiga jenis pencuri senja yang kutemui di penjara. Yang pertama, pencuri kacangan. Begitu diancam akan disiksa, mereka langsung menyerahkan senja yang mereka sembunyikan. Tentu, para sipir ini tidak bisa menampik godaan senja yang terang benderang itu. Ada yang diam-diam menyimpannya atau beberapa di antara mereka bersepakat untuk menjualnya kepada kepala penjara. Sebaliknya, yang sudah terlanjur memperjualbelikan atau malah menggunakan senja, pasti setiap malam mereka akan menjerit kesakitan karena digebuki oleh para sipir sialan itu.
Yang kedua ini pencuri elit. Gembong-gembong senja ini sudah kaya raya, punya harta yang berlimpah, dan dengan mudahnya mereka menyogok kepala penjara sampai para sipir. Mereka bahkan punya kamar khusus. Fasilitas khusus. Dijaga dengan sangat khusus biar tak ada media yang meliputnya.”
“Kamu saja yang menceritakan ini ke media?”
“Siapa yang mau percaya kepada narapidana macam aku, Lin?”
“Aku.”
“Ya, jika semua manusia di dunia punya hati sejujur kamu.”
“Kejujuran memang mahal.”
“Tidak semahal kebebasan.”
Mereka saling berpandangan. Tukang cerita pelan-pelan memberanikan diri memeluk punggung tangan Alina. Alina diam saja. Beberapa saat kemudian, mereka sudah bergenggaman tangan. Masing-masing jari berada di sela jari yang lainnya. Mereka berjalan sambil menatapi langit yang masih cerah. Lalu Blup! Langit padam dan datanglah malam.
“Seperti inilah bumi tanpa senja, seperti tiba-tiba mati lampu saja,” keluh Alina. “Sekarang, aku ingin mendengar apapun tentangmu. Kesedihan yang tak pernah kamu miliki itu…semuanya.”
Lampu-lampu dinyalakan. Dari kejauhan, terlihat gedung-gedung berkerlap-kerlip. Di sepanjang gang ini, hanya beberapa rumah yang memiliki lampu. Harga bahan bakar yang naik membuat tarif dasar listrik ikut naik. Tidak banyak orang yang bisa bayar listrik. Jadi, mereka kembali ke masa lalu, menyalakan petromax, lampu teplok, atau lilin-lilin kecil yang tak pernah meleleh dimakan api.
“Namaku Sakum. Dulu, aku seorang penyair. Aku mengenal Sukab. Dan aku pernah memiliki seorang istri.”
“Benarkah itu? Kenapa kamu baru menceritakannya sekarang?”
“Aku mengenal Sukab dari surat-suratnya kepada istriku, Maneka. Ia juga pernah mengirimkan sepotong bibir paling indah di dunia. Bibir itu bisa berbicara sendiri, bisa bercerita kisah-kisah yang membuat Maneka terbuai dan jatuh cinta. Lalu ia pun pergi mencari Sukab. Aku tidak tahu di mana dia sekarang. Hal yang terakhir kutahu, dia membuat sebuah cerita dan dalam ceritanya pun aku hanya muncul sebagai tokoh ‘suami’ yang disebutkan tiga kali dalamm ribuan kata yang lain.2) Menyedihkan bukan?”
“Ternyata, kita sama-sama menyedihkan ya?”
Genggaman mereka semakin erat. Seperti dieratkan oleh lem Fox.
“Rumahmu masih jauh, Lin?”
Sudah satu jam mereka berjalan kaki. Dari gang ketemu gang, lorong ke lorong, tapi belum sampai-sampai juga.
“Kamu belum cerita tentang pencuri ketiga.”
“Ya, pencuri ketiga adalah pencuri paling tabah. Mereka adalah penggemar senja sejati. Digebuk, disetrum, dicap besi panas, dicelup-celupkan ke dalam air, mereka tetap tidak mau mengaku. Mereka sangat pandai menyembunyikan senja.”
“Memangnya di mana mereka menyembunyikannya?”
“Aku juga tidak tahu. Mereka tidak pernah bilang apa-apa. Tapi, aku yakin sekali, muka secerah itu adalah muka-muka yang tercerahkan oleh senja. Muka-muka yang bahagia.”
“Hmm, padahal aku ingin tahu secuil cerita senja yang tersisa.”
Sakum tersenyum. Tangannya yang semula menggenggam Alina berpindah ke bahunya. Ia sudah berani memeluk Alina.
“Akan kuceritakan sebuah rahasia,” Sakum berbisik.
“Apa itu?”
“Sebelum aku dibebaskan mereka menitipkan senja kepadaku. Bukan cuma sepotong. Tapi berpuluh-puluh potong.” Sakum berbinar-binar. Alina juga ikut berbinar-binar.
“Di mana. Di mana? Di mana!” Alina tampak begitu tak sabar.
Sakum membuka jaketnya. Lalu membuka kemejanya. Kaos lengan panjangnya. Kaos dalamnya. Celana jeansnya. Celana dalamnya. Sakum benar-benar telanjang seutuhnya. Tubuh sakum tampak terang benderang. Indah sekali. Senja seperti bertumpuk-tumpuk menyusupi tulangnya.
Alina tampak gembira. Gembira sekali. Rambut putihnya tiba-tiba jadi hitam lagi. Keriputnya kembali kencang juga.
Alina memeluk Sakum. Sakum memeluk Alina. Mereka saling memeluk.
Alina mencubui Sakum. Sakum mencubui Alina. Mereka saling mencumbu.
Orang-orang kaget dengan sinar benderang itu. Mereka keluar rumah dan menyaksikan percumbuan terdahsyat di dunia. Mula-mula mereka hanya melihat dari kejauhan. Seseorang lalu berani mendekat dan mulai berebut memeluk Sakum. Berebut melumat Sakum. “Hei semua, senja ada di tubunnya!”
Mendadak orang-orang berlarian menyerbunya. Sakum masih dicumbui Alina. Orang-orang jadi gila. Alina juga. Orang-orang mengerogoti kulit, tulang, sampai ke sumsumnya. Senja jadi berhamburan dibuatnya.
Sejak saat itu, Sakum dimuat media sebagai Grenouille!***

Comments

comments