Catatan Pringadi

Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan

Cerpen Haruki Murakami: Kodok Super Melindungi Tokyo

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Cerpen Haruki Murakami

Katagiri mendapati seekor katak raksasa menunggu dia di apartemennya. Katak yang kekar, berdiri setinggi lebih dari enam kaki dengan tumpuan kaki belakangnya. Hanya seorang laki-laki kecil kurus tidak lebih dari satu setengah meter, Katagiri tentu kalah telak oleh tubuh raksasa sang katak.

“Panggil saya ‘Bangkong,’” kata katak dengan suara berat yang jelas.

Katagiri berdiri terpaku di ambang pintu, tidak mampu berbicara.

“Jangan takut, saya di sini tidak untuk menyakiti Anda. Mari masuk dan tutup pintunya. Silahkan.”

Tas koper di tangan kanannya, tas belanja dengan sayuran segar dan salmon kalengan tergantung di lengan kirinya, Katagiri tidak berani bergerak.

“Silahkan, Tuan Katagiri, cepat dan tutup pintu, dan lepas sepatu Anda.”

Mendengar namanya disebut membuat Katagiri mengubah sikap. Dia menutup pintu seperti yang diperintahkan, mengatur tas belanja di undakan lantai kayu, menyematkan tas koper di bawah satu lengan, dan melepas sepatunya. Bangkong mengisyaratkannya untuk duduk di meja dapur, yang selanjutnya ia lakukan.

“Saya harus minta maaf, Tuan Katagiri, karena telah menerobos masuk saat Anda berada di luar,” kata Bangkong. “Saya tahu ini akan mengejutkan Anda saat mendapati saya di sini. Tapi saya tidak punya pilihan. Bagaimana kalau bikin secangkir teh dulu? Saya pikir Anda akan pulang segera, jadi saya sudah rebus air.”

Katagiri masih menggencet tasnya di lengannya. Seseorang sedang menjahiliku, pikirnya. Seseorang memakai kostum katak besar ini hanya untuk membuat lelucon denganku. Tapi ia tahu, saat ia melihat Bangkong menuangkan air mendidih ke dalam teko, sambil bersenandung, bahwa ini betul-betul anggota badan dan gerakan seekor katak yang nyata. Bangkong menaruh secangkir teh hijau di depan Katagiri, dan menuangkan satu lagi untuk dirinya sendiri.

Menyesap tehnya, Bangkong bertanya, “Sudah mendingan?”

Tapi tetap Katagiri tidak bisa berbicara.

“Saya tahu saya harus membuat janji untuk mengunjungi Anda, Tuan Katagiri. Saya sepenuhnya menyadari norma. Siapa pun akan terkejut menemukan katak besar menunggu di rumahnya. Tapi hal yang mendesak membawa saya ke sini. Mohon maafkan saya.”

“Hal mendesak?” akhirnya Katagiri berhasil mengungkapkan kata-kata.

“Ya, tentu saja,” kata Bangkong. “Kenapa lagi saya akan berani menerobos masuk ke rumah seseorang? Kekasaran seperti ini bukan gaya adat saya.”

“Apakah ‘hal’ ini ada hubungannya dengan saya?”

“Ya dan tidak,” kata Bangkong dengan memiringkan kepala. “Tidak dan ya.”

Aku harus menenangkan diriku sendiri, pikir Katagiri. “Apakah Anda keberatan jika saya merokok?”

“Silahkan, silahkan,” kata Bangkong sambil tersenyum. “Ini rumah Anda. Anda tidak perlu meminta izin pada saya. Merokok dan minum sebanyak yang Anda suka. Saya sendiri bukan seorang perokok, tapi saya hampir tidak bisa memaksakan ketidaksukaan saya pada orang lain yang merokok di rumah mereka sendiri.”

Katagiri menarik sebungkus rokok dari saku jasnya dan menyalakan korek. Dia melihat gemetar tangannya saat dia menyalakannya. Duduk di seberangnya, Bangkong tampak sedang mengamati setiap gerakannya.

“Anda bukan bagian dari semacam geng, kan?” Katagiri mendapat keberanian untuk bertanya.

“Ha ha ha ha ha ha! Anda punya rasa humor yang bagus, Tuan Katagiri!” Katanya, menamparkan tangan berselaput ke pahanya. “Mungkin ada kekurangan tenaga kerja terampil, tapi kenapa juga geng akan menyewa katak untuk melakukan pekerjaan kotor mereka? Mereka hanya akan menjadi bahan tertawaan.”

“Nah, jika Anda di sini untuk melobi pembayaran, Anda membuang-buang waktu Anda. Saya tidak memiliki otoritas untuk membuat keputusan seperti itu. Hanya atasan saya yang bisa melakukan itu. Saya hanya mengikuti perintah. Saya tidak bisa melakukan sesuatu untuk Anda.”

“Tenang, Tuan Katagiri,” kata Bangkong, mengangkat satu jari berselaputnya. “Saya tidak datang ke sini untuk urusan remeh tersebut. Saya menyadari bahwa Anda adalah asisten kepala Bagian Peminjaman di Tokyo Security Trust Bank cabang Shinjuku. Tapi kunjungan saya tidak ada hubungannya dengan pembayaran pinjaman. Saya datang ke sini untuk menyelamatkan Tokyo dari kehancuran.”

Katagiri memindai ruangan untuk mencari semacam kamera TV tersembunyi dalam kasus dia sedang direkam untuk dagelan yang mengerikan. Tapi tidak ada kamera. Ini hanya sebuah apartemen kecil. Tidak ada tempat bagi siapa pun untuk bersembunyi.

“Tak ada,” kata Bangkong, “kita adalah satu-satunya di sini. Saya tahu Anda berpikir bahwa saya gila, atau bahwa Anda sedang bermimpi, tapi saya tidak gila dan Anda tidak sedang bermimpi. Ini benar-benar sangat penting.”

“Terus terang saja, Tuan Bangkong—”

“Tolong,” kata Frog, mengangkat satu jari lagi. “Panggil saja ‘Bangkong.’”

“Terus terang saja, Bangkong,” ucap Katagiri, “Saya tidak bisa mengerti apa yang terjadi di sini. Ini bukan berarti bahwa saya tidak percaya, tapi saya sepertinya tidak dapat memahami situasi persisnya. Apakah Anda keberatan jika saya mengajukan beberapa pertanyaan?”

“Silahkan, silahkan,” kata Bangkong. “Saling pengertian itu sangat penting. Ada orang yang mengatakan bahwa ‘pemahaman’ hanyalah sekumpulan dari kesalahpahaman kita, dan memang saya menemukan pandangan ini menarik dengan caranya sendiri, saya khawatir bahwa kita tidak punya waktu luang untuk ngalor-ngidul. Hal terbaik bagi kita untuk mencapai saling pengertian melalui rute yang sesingkat mungkin. Oleh karena itu, dengan segala cara, silahkan ajukan banyak pertanyaan yang Anda ingin sampaikan.”

“Sekarang, Anda ini memang katak betulan, saya benar, kan?”

“Ya, tentu saja, seperti yang Anda lihat. Saya seekor katak betulah. Bukan metafora atau kiasan atau dekonstruksi atau pengambilan sampel maupun proses kompleks lainnya, saya katak asli. Haruskah saya berkuak-kuak untuk Anda?”

Katak menyondongkan ke belakang kepalanya dan menekuk otot-otot tenggorokan yang besar. Ribit! Ri-i-i-bit! Ribit-ribit-ribit! Ribit! Ribit! Ri-i-i-bit! Bunyi kuaknya yang nyaring itu mengguncang gambar yang tergantung di dinding.

“Baik, saya percaya, saya percaya!” tegas Katagiri, khawatir akan dinding tipis rumah apartemen sederhana tempatnya tinggal. “Itu hebat. Anda, tanpa harus bertanya lagi, betul-betul katak asli.”

“Ada yang mengatakan bahwa saya gabungan keseluruhan dari semua katak. Meskipun demikian, ini tidak berdampak apa-apa untuk mengubah fakta bahwa saya memang katak. Siapapun yang menyebut kalau saya bukan katak pasti seorang pembohong kotor. Saya akan meremukkan orang tersebut jadi serpihan!”

Katagiri mengangguk. Berharap untuk menenangkan diri, ia mengangkat cangkirnya dan menelan seteguk teh. “Sebelumnya Anda berkata kalau Anda datang ke sini untuk menyelamatkan Tokyo dari kehancuran?”

“Itulah yang saya katakan.”

“Kerusakan macam apa?”

“Gempa,” kata Bangkong dengan sangat berat.

Dengan mulut menganga, Katagiri menatap Bangkong. Dan Bangkong, tak mengatakan apa-apa, menatap Katagiri. Mereka melanjutkan menatap satu sama lain seperti ini untuk beberapa waktu. Berikutnya giliran Bangkong untuk membuka mulutnya.

“Gempa yang sangat, sangat besar. Sudah diatur untuk menghantam Tokyo pukul delapan tiga puluh pagi pada 18 Februari. Tiga hari dari sekarang. Gempa yang jauh lebih hebat ketimbang yang melanda Kobe bulan lalu. Jumlah korban tewas dari gempa tersebut mungkin akan melebihi seratus lima puluh ribu—sebagian besar dari kecelakaan yang melibatkan sistem komuter: kereta anjlok, tertimpa, tabrakan, runtuhnya jalur kereta cepat dan rel, robohnya kereta bawah tanah, ledakan tanker bahan bakar. Bangunan akan berubah menjadi tumpukan puing-puing, penghuninya mati tertimpa reruntuhan. Kebakaran di mana-mana, sistem jalan macet, ambulans dan truk pemadam kebakaran tidak berguna, orang hanya bisa berbaring, sekarat. Seratus lima puluh ribu! Seperti neraka. Orang-orang akan sadar akan kondisi rapuh dalam kolektivitas intensif yang dikenal sebagai ‘kota’.” sebut Bangkong dengan lembut menggoyangkan kepala. “Pusat gempa akan dekat dengan kantor distrik Shinjuku.”

“Dekat kantor distrik Shinjuku?”

“Tepatnya, itu akan menghantam langsung di bawah Tokyo Security Trust Bank cabang Shinjuku.”

Keheningan berat diikuti.

“Dan Anda,” kata Katagiri, “berencana untuk menghentikan gempa ini?”

“Tepat,” kata Bangkong, mengangguk. “Ini adalah apa yang ingin saya usulkan untuk dilakukan. Anda dan saya akan pergi ke lorong bawah tanah di bawah Tokyo Security Trust Bank cabang Shinjuku untuk melakukan pertempuran mematikan melawan Cacing.”

*

Sebagai anggota dari Divisi Kredit Trust Bank, Katagiri telah melalui banyak pertempuran. Dia telah enam belas tahun terbiasa bergelut setiap hari sejak saat dia lulus dari universitas dan bergabung menjadi staf bank. Dia, bisa dibilang, petugas pengumpul—bagian kerja yang kurang populer. Semua orang di divisinya lebih suka untuk mengajukan pinjaman, terutama pada saat gelembung ekonomi. Mereka punya begitu banyak uang pada hari-hari yang hampir setiap bagian mungkin pinjamkan—baik itu tanah atau saham—sudah cukup untuk meyakinkan petugas pinjaman untuk memberikan apa pun yang mereka pinta, semakin besar pinjaman yang diberikan semakin baik reputasi mereka di perusahaan. Beberapa pinjaman, meskipun, tidak pernah berhasil kembali ke bank: mereka harus “terjebak di bagian bawah panci.” Tinggal pekerjaan Katagiri untuk mengurus mereka. Dan ketika gelembung ekonomi berhenti, pekerjaan pun menumpuk. Pertama harga saham jatuh, dan kemudian nilai tanah, dan jaminan tak berarti lagi. “Keluar sana,” bosnya memerintahkan dia, “dan peras apapun yang bisa kau dapat dari mereka.”

Lingkungan Kabukicho di Shinjuku adalah sebuah labirin kekerasan: gangster turun-temurun, komplotan Korea, mafia Cina, senjata dan obat-obatan, uang mengalir di bawah permukaan dari satu liang ke yang liang lainnya, orang hilang sepanjang waktu seperti kepulan asap. Terjun ke Kabukicho untuk mengumpulkan debit buruk, Katagiri telah dikepung lebih dari sekali oleh mafia yang mengancam untuk membunuhnya, tetapi ia tidak pernah takut. Apa gunanya mereka membunuh satu orang pegawai bank? Mereka bisa saja menikamnya jika mereka ingin. Mereka bisa memukulinya. Dia sempurna untuk pekerjaan itu: tidak ada istri, tidak punya anak, kedua orang tua sudah meninggal, adik-adik yang telah dibiayai sampai menikah. Jadi bagaimana jika mereka membunuhnya? Itu tidak akan mengubah apa-apa bagi siapa pun-apalagi untuk Katagiri sendiri.

Bukan Katagiri tapi preman di sekitarnya yang justru gugup ketika mereka melihat dia begitu tenang dan dingin. Dia segera mendapatkan jenis reputasi di dunia mereka sebagai seorang pria tangguh. Sekarang, bagaimanapun, Katagiri yang tangguh dihadapkan pada kebingungan yang pelik. Apa yang katak ini bicarakan? Cacing?

“Siapa itu Cacing?” Tanyanya dengan beberapa ragu-ragu.

“Cacing hidup di bawah tanah. Dia adalah cacing raksasa. Ketika dia marah, dia menyebabkan gempa bumi,” kata Bangkong. “Dan sekarang dia sangat, sangat marah.”

“Apa yang membuat dia marah?” Tanya Katagiri.

“Saya tidak tahu,” kata Bangkong. “Tidak ada yang tahu apa yang dipikirkan si Cacing dalam kepala keruhnya. Beberapa pernah melihatnya. Dia biasanya tidur. Itulah yang benar-benar dia sukai: butuh waktu lama, tidur siang yang panjang. Dia melanjutkan tidur selama bertahun-tahun—berdekade-dekade—dalam kehangatan dan kegelapan bawah tanah. Matanya, seperti yang Anda bayangkan, telah berhenti berkembang, otaknya telah berubah lemas saat ia tidur. Jika Anda bertanya kepada saya, saya akan menebak dia mungkin tidak berpikir apa-apa, hanya terbaring di sana dan merasa setiap ada gemuruh kecil dan dengung yang mendekatinya, menyerap ke dalam tubuhnya, dan menyimpannya. Kemudian, melalui beberapa jenis proses kimia, ia menempatkan kembali sebagian besarnya dengan rasa marah. Mengapa hal ini terjadi saya tidak tahu. Saya tidak pernah bisa menjelaskannya.”

Bangkong terdiam, menonton Katagiri dan menunggu sampai kata-katanya telah tenggelam. Kemudian ia melanjutkan.:

“Tolong jangan salah paham. Saya merasa tidak ada permusuhan pribadi terhadap Cacing. Saya tidak melihat dia sebagai perwujudan kejahatan. Bukan berarti juga saya ingin menjadi temannya: Saya hanya berpikir bahwa, sejauh dunia yang bersangkutan, itu tak jadi masalah bagi seekor makhluk seperti dia ada. Dunia ini seperti mantel sangat besar, dan membutuhkan kantong dari berbagai bentuk dan ukuran. Tapi tepat saat ini Cacing telah mencapai titik di mana ia terlalu berbahaya untuk diabaikan. Dengan semua jenis kebencian yang ia telah serap dan simpan di dalam dirinya selama bertahun-tahun, jantung dan tubuhnya telah membengkak menjadi raksasa—lebih besar dari sebelumnya. Dan yang lebih parah lagi, gempa Kobe yang terjadi bulan lalu mengguncang dirinya dari tidur nyenyak yang dia nikmati. Dia mengalami semacam dorongan oleh kemarahan yang mendalam: sudah waktunya sekarang untuk dia juga, menyebabkan gempa besar, dan ia akan melakukannya di sini, di Tokyo. Saya tahu apa yang saya bicarakan, Tuan Katagiri: Saya telah menerima informasi yang dapat dipercaya tentang waktu dan skala gempa dari beberapa binatang-binatang kecil teman baik saya.”

Bangkong mengatupkan mulutnya dan memejamkan mata bundarnya dengan kelelahan yang jelas terlihat.

“Jadi apa yang Anda katakan adalah,” kata Katagiri, “bahwa Anda dan saya harus pergi ke bawah tanah bersama-sama dan mengalahkan Cacing untuk menghentikan gempa.”

“Seperti itu.”

Katagiri meraih cangkir teh, mengangkatnya, dan meletakkannya kembali. “Saya masih tidak mengerti,” katanya. “Mengapa Anda memilih saya untuk pergi dengan Anda?”

Bangkong menatap langsung ke mata Katagiri dan berkata, “Saya selalu memiliki rasa hormat mendalam pada Anda, Tuan Katagiri. Selama enam belas tahun yang panjang, Anda telah diam-diam menerima tugas paling berbahaya yang tidak punya daya tarik—pekerjaan yang orang lain hindari—dan Anda telah mengerjakannya dengan aduhai. Saya tahu benar betapa sulitnya ini bagi Anda, dan saya percaya bahwa baik atasan Anda atau rekan Anda belum benar-benar menghargai pencapaian Anda. Mereka buta, semuanya. Tapi Anda, yang tidak dihargai dan tidak mendapat dukungan, tidak pernah sekalipun mengeluh.

“Bukan hanya soal pekerjaan Anda. Setelah orang tua Anda meninggal, Anda yang mengurus adik-adik Anda yang masih remaja, membiayai mereka sampai kuliah, dan bahkan yang mengusahakan mereka untuk menikah, semuanya itu butuh pengorbanan besar waktu dan pendapatan Anda, dan dengan mengorbankan prospek pernikahan Anda sendiri. Terlepas dari ini, adik-adik Anda tidak pernah sekalipun menyatakan terima kasih atas upaya Anda terhadap mereka. Lebih dari itu: mereka telah menunjukkan sikap tidak menghormati dan berlaga acuh terhadap cinta kasih Anda. Menurut pendapat saya, perilaku mereka tak dapat diterima. Saya sangat berharap saya bisa memukuli mereka sampai remuk atas nama Anda. Tapi Anda, sementara itu, tidak menampakan rasa dongkol.

“Sejujurnya, Tuan Katagiri, tidak ada yang menarik untuk dilihat dari Anda, dan Anda tak pandai bicara, sehingga Anda cenderung dipandang rendah oleh orang-orang di sekitar Anda. Saya, bagaimanapun, dapat melihat apa yang seorang pria yang masuk akal dan berani Anda. Di Tokyo ini, yang disesaki jutaan orang, tidak ada satu pun yang saya bisa percaya seperti Anda untuk berjuang di sisi saya.”

“Beritahu saya, Tuan Bangkong—” kata Katagiri.

“Tolong,” kata Bangkong, mengangkat satu jari lagi. “Panggil saya ‘Bangkong.’”

“Beritahu saya, Bangkong,” Katagiri berkata, “bagaimana Anda tahu begitu banyak tentang saya?”

“Nah, Tuan Katagiri, buat apa saya jadi kodok selama bertahun-tahun. Saya terus menjaga mata saya pada hal-hal penting dalam hidup ini.”

“Tapi tetap, Bangkong,” kata Katagiri, “Saya tidak terlalu kuat, dan saya tidak tahu apa-apa tentang yang terjadi di bawah tanah. Saya tidak memiliki jenis otot yang diperlukan untuk melawan Cacing dalam kegelapan. Saya yakin Anda dapat menemukan seseorang yang lebih kuat dari saya—seorang pria yang bisa karate, contohnya, atau pasukan Angkatan Bela Diri.”

Bangkong memutar matanya yang besar. “Sejujurnya, Tuan Katagiri,” katanya, “Saya orang yang akan melakukan semua pertempuran. Tapi saya tidak bisa melakukannya sendiri. Ini poin pentingnya: Saya membutuhkan keberanian dan gairah Anda tentang keadilan. Saya ingin Anda berdiri di belakang saya dan berkata, ‘Terus maju, Bangkong! Kau hebat! Aku tahu kau bisa menang! Kau berjuang untuk sesuatu yang baik!’”

Bangkong membuka tangannya lebar, kemudian menamparkan tangan berselaputnya ke lutut sekali lagi.

“Sejujurnya, Tuan Katagiri, pikiran pertempuran dengan Cacing dalam gelap menakutkan saya juga. Selama bertahun-tahun saya hidup sebagai seorang pasifis, pecinta seni, hidup berdampingan dengan alam. Pertempuran bukanlah sesuatu yang saya ingin lakukan. Saya melakukannya karena saya harus. Yang pasti, pertarungan khusus ini akan menjadi sesuatu yang sengit. Saya mungkin tidak kembali hidup-hidup. Saya mungkin kehilangan dua anggota badan atau lebih. Tapi saya tidak bisa—saya tidak akan—lari. Seperti Nietzsche katakan, kebijaksanaan tertinggi adalah untuk tidak merasa takut. Apa yang saya inginkan dari Anda, Tuan Katagiri, adalah agar Anda bisa berbagi keberanian sederhana Anda dengan saya, untuk mendukung saya dengan sepenuh hati Anda sebagai teman sejati. Apakah Anda mengerti apa yang saya coba sampaikan?”

Tak satu pun dari ini masuk akal untuk Katagiri, tapi ia masih merasa bahwa—betapa pun terdengar anehnya—ia bisa percaya pada apa yang Bangkong katakan kepadanya. Sesuatu tentang Bangkong—raut wajahnya, cara dia berbicara—memiliki kejujuran sederhana yang menarik langsung ke hati. Setelah bertahun-tahun bekerja di divisi terberat di Security Trust Bank, Katagiri memiliki kemampuan untuk merasakan hal-hal seperti itu. Itu semua tapi bakat alami kedua baginya.

“Saya tahu ini pasti sulit bagi Anda, Tuan Katagiri. Seekor katak besar datang menerobos masuk ke rumah Anda dan meminta Anda untuk percaya semua hal-hal aneh. Reaksi Anda sangat wajar. Jadi saya berniat untuk memberikan bukti bahwa saya benar-benar ada. Katakan pada saya, Tuan Katagiri, Anda telah banyak mengalami kesulitan memulihkan pinjaman bank yang dibuat untuk Komplotan Big Bear, bukankah begitu?”

“Memang benar,” kata Katagiri.

“Yah, mereka memiliki banyak pemeras yang bekerja di belakang layar, dan orang-orangnya bekerja sama dengan mafia. Mereka berbuat licik untuk membuat perusahaan bangkrut dan mengajukan pinjaman. Petugas pinjaman bank Anda menyodorkan tumpukan uang untuk mereka tanpa pemeriksaan latar belakang yang layak, dan, seperti biasa, orang yang tersisa untuk membersihkan setelahnya adalah Anda, Tuan Katagiri. Tapi Anda kesulitan untuk menjangkau orang-orang ini: mereka bukan lawan enteng. Dan mungkin ada politisi kuat yang mendompleng mereka. Mereka punya hutang kepada Anda sebanyak tujuh ratus juta yen. Itu adalah situasi yang Anda hadapi, saya benar, kan?”

“Seperti itu.”

Bangkong mengulurkan tangannya lebar-lebar, membuka selaput besarnya yang berwarna hijau seperti sayap pucat. “Jangan khawatir, Tuan Katagiri. Serahkan segalanya pada saya. Besok pagi, Bangkong tua ini akan memecahkan masalah Anda. Santai saja dan nikmati tidur malam ini.”

Dengan senyum lebar di wajahnya, Bangkong berdiri. Kemudian, meratakan dirinya seperti cumi-cumi kering, ia menyelinap keluar melalui celah di sisi pintu yang tertutup, meninggalkan Katagiri sendirian. Dua cangkir teh di meja dapur adalah satu-satunya indikasi bahwa Bangkong memang mengunjungi apartemen Katagiri ini.

*

Saat Katagiri tiba di tempat kerja keesokan harinya pukul sembilan, telepon di mejanya berdering.

“Tuan Katagiri,” kata suara seorang pria. Dingin dan lugas. “Nama saya Shiraoka. Saya seorang pengacara dalam kasus Big Bear. Saya menerima telepon dari klien saya pagi ini berkaitan dengan masalah pinjaman tunda. Dia ingin Anda tahu bahwa dia akan mengambil tanggung jawab penuh untuk mengembalikan seluruh jumlah yang diminta pada tanggal jatuh tempo. Dia juga akan memberikan nota yang harus Anda tandatangani. Ada satu permintaannya bahwa Anda jangan mengirim Bangkong ke rumahnya lagi. Saya ulangi: dia ingin Anda untuk meminta Bangkong tidak lagi mengunjungi rumahnya. Saya sendiri tidak sepenuhnya mengerti maksudnya, tapi saya percaya ini jelas bagi Anda, Tuan Katagiri. Saya benar, kan?”

“Memang benar,” jawab Katagiri.

“Anda akan berbaik hati untuk menyampaikan pesan saya pada Bangkong, saya percaya.”

“Saya akan menyampaikannya. Klien Anda tidak akan pernah melihat Bangkong lagi.”

“Terima kasih banyak. Saya akan mempersiapkan nota untuk Anda besok.”

“Saya menghargai itu,” kata Katagiri.

Sambungan terputus.

Bangkong mengunjungi Katagiri di kantornya Trust Bank saat makan siang. “Untuk kasus Big Bear kelihatan berjalan lancar, saya kira?”

Katagiri melirik sekitar dengan gelisah.

“Jangan khawatir,” kata Bangkong. “Anda adalah satu-satunya orang yang bisa melihat saya. Tapi sekarang saya yakin Anda menyadari kalau saya benar-benar ada. Saya bukan produk dari imajinasi Anda. Saya dapat melakukan aksi dan memberi hasil. Saya makhluk hidup nyata.”

“Beritahu saya, Tuan Bangkong.”

“Saya mohon,” kata Bangkong, mengangkat satu jari. “Panggil saya ‘Bangkong’.”

“Beritahu saya, Bangkong,” kata Katagiri, “apa yang Anda lakukan pada mereka?”

“Oh, tidak banyak,” kata Bangkong. “Tidak ada yang jauh lebih rumit daripada merebus kubis Brussel. Saya hanya sedikit menakut-nakuti mereka. Sentuhan terror psikologis. Seperti Joseph Conrad pernah tulis, terror sesungguhnya adalah sesuatu yang manusia rasakan lewat imajinasi mereka. Tapi jangan dipikirkan, Tuan Katagiri. Ceritakan tentang kasus Big Bear. Beres, kan?”

Katagiri mengangguk dan menyalakan rokok. “Kelihatannya.”

“Jadi, apakah saya berhasil mendapat kepercayaan Anda berkaitan dengan masalah yang saya singgung dengan Anda semalam? Anda akan bergabung dengan saya untuk melawan Cacing?”

Mendesah, Katagiri melepas kacamatanya dan mengusap matanya. “Sejujurnya, saya tidak terlalu gila tentang ide tersebut, tapi saya kira saya tidak cukup pantas.”

“Tidak,” kata Bangkong. “Ini soal tanggung jawab dan kehormatan. Anda mungkin tidak terlalu ‘gila’ tentang ide tersebut, tapi kita tidak punya pilihan: Anda dan saya harus pergi ke bawah tanah dan menghadapi Cacing. Jika kita harus kehilangan nyawa karenanya, kita tidak akan memperoleh simpati dari siapa pun. Dan bahkan jika kita berhasil mengalahkan Cacing, tidak ada yang akan memuji kita. Tidak seorang pun akan tahu bahwa pertempuran hebat sedang terjadi jauh di bawah kaki mereka. Hanya Anda dan saya yang akan tahu, Tuan Katagiri. Pada akhirnya, ini akan menjadi pertempuran yang sunyi.”

Katagiri menatap tangannya sendiri untuk sementara waktu, kemudian memperhatikan asap mengepul dari rokoknya. Akhirnya, ia berbicara. “Anda tahu, Tuan Bangkong, saya hanya orang biasa.”

“Panggil ‘Bangkong,’ saya mohon,” kata Bangkong, tapi Katagiri mengacuhkannya.

“Saya benar-benar seorang pria biasa. Lebih rendah dari biasa-biasa. Saya akan botak, saya punya perut buncit, saya menginjak usia empat puluh bulan lalu. Kaki saya lemah. Dokter mengatakan kepada saya bahwa saya memiliki kecenderungan diabetes. Sudah tiga bulan atau lebih sejak saya terakhir tidur dengan wanita—dan saya harus membayarnya. Saya menerima beberapa pengakuan dalam divisi atas kemampuan saya menagih pinjaman, tetapi tidak ada rasa hormat yang nyata. Saya tidak memiliki satu orang yang menyukai saya, baik di tempat kerja atau dalam kehidupan pribadi saya. Saya tidak tahu bagaimana berbicara dengan orang lain, dan saya tak pandai berperilaku dengan orang yang belum dikenal, jadi saya tidak pernah memiliki teman. Saya tidak punya kemampuan atletik, saya tuli nada, pendek, phimotic, rabun jauh—dan astigmatic. Saya punya kehidupan yang mengerikan. Semua yang saya lakukan hanya makan, tidur, dan berak. Saya bahkan tidak tahu mengapa saya hidup. Mengapa orang seperti saya harus menjadi orang yang menyelamatkan Tokyo?”

“Karena, Tuan Katagiri, Tokyo hanya bisa diselamatkan oleh orang seperti Anda. Dan untuk orang-orang seperti Anda alasan saya mencoba untuk menyelamatkan Tokyo.”

Katagiri mendesah lagi, lebih dalam saat ini. “Baiklah, apa yang Anda ingin saya lakukan?”

*

Bangkong menjelaskan Katagiri rencananya. Mereka akan pergi ke bawah tanah pada malam 17 Februari (satu hari sebelum gempa yang diprediksi terjadi). Jalan masuk mereka akan melalui basement ruang boiler Tokyo Security Trust Bank cabang Shinjuku. Mereka akan bertemu di sana larut malam (Katagiri akan tinggal di gedung dengan dalih bekerja lembur). Di belakang gedung ada terowongan vertikal, dan mereka akan menemukan Cacing di bagian bawah dengan turun lewat tangga tali setinggi 150 kaki.

“Apakah Anda memiliki rencana pertempuran?” Tanya Katagiri.

“Tentu saja saya pikirkan. Kita tidak punya harapan untuk mengalahkan musuh seperti Cacing jika tanpa rencana pertempuran. Ia adalah makhluk berlendir: Anda tidak bisa membedakan mana mulutnya mana anusnya. Dan dia sebesar kereta komuter.”

“Apa rencana pertempuran Anda?”

Setelah jeda untuk berpikir, Bangkong menjawab, “Hmm, seperti yang sering disebutkan—’Diam adalah emas’?”

“Maksudnya saya tidak boleh menanyakannya?”

“Semacam itu.”

“Bagaimana jika saya takut kemudian kabur? Apa yang akan Anda lakukan, Tuang Bangkong?”

“‘Bangkong.’”

“Bangkong. Apa yang akan Anda lakukan?”

Katak berpikir sejenak lalu menjawab, “Saya akan bertempur sendirian. Kemungkinan saya mengalahkan dia sendirian mungkin sedikit lebih baik ketimbang peluang Anna Karenina dalam menghadang lokomotif kencang itu. Apakah Anda sudah membaca Anna Karenina, Tuan Katagiri?”

Ketika ia mendengar bahwa Katagiri tidak membaca novel, Bangkong menatapnya seolah-olah mengatakan, Sungguh memalukan. Rupanya Bangkong sangat menyukai Anna Karenina.

“Bagaimanapun, Tuan Katagiri, saya tidak percaya bahwa Anda akan meninggalkan saya untuk bertempur seorang diri. Saya yakin. Ini pertanyaan soal kejantanan—yang, sayangnya, saya tidak punya. Ha ha ha ha!” Bangkong tertawa dengan mulut terbuka lebar. Bukan hanya kejantanan yang tidak dimiliki Bangkong. Dia pun tidak punya gigi.

*

Bagaimanapun, hal tak terduga selalu terjadi.

Katagiri ditembak pada malam 17 Februari setelah ia selesai berkeliling sepanjang hari dan berjalan menyusuri jalan di Shinjuku dalam perjalanan kembali ke Trust Bank ketika seorang pria muda dengan jaket kulit melompat di depannya. Wajah pria itu kosong, dan dia mencengkeram pistol hitam kecil di satu tangannya. Pistolnya yang begitu kecil dan begitu hitam itu hampir tidak tampak nyata. Katagiri menatap objek di tangan pria itu, tidak menyangka bahwa pistol itu terarah pada dirinya dan bahwa orang itu menarik pelatuk. Itu semua terjadi terlalu cepat: itu tidak masuk akal baginya. Tapi pistol sudah meletus.

Katagiri melihat laras bedil menyentak di udara dan, pada saat yang sama, merasakan dampak seolah-olah seseorang memukul bahu kanannya dengan palu godam. Dia tidak merasakan sakit, tapi gebrakan itu membuatnya terkapar di trotoar. Tas kulit di tangan kanannya terlempar ke arah lain. Pria itu mengarahkan pistol ke arahnya sekali lagi. Tembakan kedua terdengar. Sebuah papan nama restoran kecil di trotoar meledak di depan matanya. Dia mendengar orang-orang berteriak. Kacamatanya terlepas, dan segala sesuatu menjadi kabur. Dia samar-samar menyadari bahwa orang itu mendekati dengan pistol mengarah padanya. Aku akan mati, pikirnya. Bangkong telah mengatakan bahwa teror sebenarnya adalah apa yang manusia rasakan lewat imajinasi mereka. Katagiri terputus dari imajinasinya dan tenggelam ke dalam keheningan tanpa beban.

*

Ketika ia terbangun, ia berada di atas tempat tidur. Ia membuka satu mata, mengambil waktu sejenak untuk mengamati sekitarnya, dan kemudian membuka mata satunya. Hal pertama yang memasuki bidang pandangnya adalah sangkutan logam di kepala tempat tidur dan tabung infus yang membentang dari sangkutan tadi ke tempat ia berbaring. Berikutnya ia melihat seorang perawat berpakaian putih. Dia menyadari bahwa dia berbaring telentang di ranjang keras dan memakai pakaian dengan potongan aneh, yang mana ia tampaknya telanjang.

Oh ya, pikirnya, aku sedang berjalan di sepanjang trotoar ketika seorang pria menembakku. Mungkin di bahu. Sebelah kanan. Dia menghidupkan kembali adegan dalam pikirannya. Ketika ia mengingat pistol hitam kecil di tangan pemuda itu, jantungnya berdebar hebat. Pria celaka itu mencoba membunuhku! pikirnya. Tapi tampaknya aku masih baik-baik saja. Ingatanku juga tak bermasalah. Aku tidak merasa sakit. Dan bukan hanya rasa sakit: Aku tidak punya perasaan apapun sama sekali. Aku tidak bisa mengangkat lenganku. . .
Kamar rumah sakit tidak memiliki jendela. Dia tidak tahu apakah itu siang atau malam. Dia ditembak sebelum pukul lima di malam hari. Berapa banyak waktu telah berlalu sejak saat itu? Apakah jam pertemuan malam hari dengan Bangkong telah berlalu? Katagiri mencari-cari jam di kamar itu, tapi tanpa kacamatanya ia tidak bisa melihat apa-apa di kejauhan.

“Permisi,” dia memanggil perawat.

“Oh, bagus, Anda akhirnya siuman,” kata perawat.

“Jam berapa sekarang?”

Dia melihat jam tangannya.

“Sembilan lebih lima belas.”

“SORE?”

“Jangan konyol, ini sudah pagi!”

“Sembilan-lima belas pagi?” Katagiri mengerang, susah payah berusaha untuk mengangkat kepalanya dari bantal. Bunyi kasar yang muncul dari tenggorokannya terdengar seperti suara orang lain. “Sembilan-lima belas pagi pada 18 Februari?”

“Ya,” kata perawat, mengangkat lengannya sekali lagi untuk memeriksa tanggal pada jam tangan digital nya.

“Hari ini tanggal 18 Februari 1995.”

“Apakah ada gempa besar di Tokyo pagi ini?”

“Di Tokyo?”

“Di Tokyo.”

Perawat menggeleng. “Tidak sejauh yang saya tahu.”

Dia menarik napas lega. Apapun yang terjadi, gempa setidaknya telah dihindari.

“Bagaimana dengan luka saya?”

“Luka Anda?” Tanyanya. “Apanya yang luka?”

“Saya ditembak.”

“Ditembak?”

“Ya, di dekat pintu masuk ke Trust Bank. Seorang pria menembak saya. Di bahu kanan, saya pikir.”

Perawat melontarkan senyum gugup ke arahnya. “Maaf, Pak Katagiri, tetapi Anda tidak ditembak.”

“Saya tidak ditembak? Apakah Anda yakin?”

“Seyakin bahwa tidak ada gempa pagi ini.”

Katagiri tertegun. “Lalu kenapa saya bisa ada di rumah sakit?”

“Seseorang menemukan Anda tergeletak di jalan, tak sadarkan diri. Di daerah Kabukicho Shinjuku. Anda tidak memiliki luka eksternal. Anda hanya kedinginan. Dan kami masih belum menemukan mengapa. Dokter akan segera datang. Anda sebaiknya berbicara dengannya.”

Tergeletak di jalan tak sadarkan diri? Katagiri sangat yakin ia melihat pistol terarah padanya. Dia mengambil napas dalam-dalam dan mencoba untuk meluruskan pikirannya. Dia akan mulai dengan menyusun semua fakta dalam urutan.

“Maksud Anda, saya sudah berbaring di kasur rumah sakit ini, tidak sadarkan diri, sejak sore kemarin, benar?”

“Benar,” kata perawat. “Dan tidur Anda benar-benar tak tenang, Tuan Katagiri. Anda nampaknya mendapat mimpi buruk yang mengerikan. Saya mendengar Anda berteriak, ‘Bangkong! Hei, Bangkong!” Anda melakukannya berkali-kali. Anda punya teman dengan panggilan ‘Bangkong’?”

Katagiri menutup matanya dan mendengarkan irama jantungnya yang lambat layaknya menandai menit hidupnya. Berapa banyak dari apa yang dia ingat benar-benar terjadi, dan berapa banyak yang halusinasi? Apakah Bangkong benar-benar ada, dan Bangkong bertempur melawan Cacing untuk menghentikan gempa? Atau semua itu bagian dari mimpi yang panjang? Katagiri tidak tahu mana yang benar lagi.

*

Cerpen Haruki Murakami

Bangkong datang ke kamar rumah sakit malam itu. Katagiri terbangun untuk menemukan dirinya dalam cahaya redup, duduk di kursi lipat besi, punggungnya bersandar ke dinding. Kelopak mata hijau besar Bangkong yang menonjol tertutup dalam suatu garis lurus.

“Bangkong!” Katagiri memanggilnya.
Bangkong perlahan membuka matanya. Perut putih besar menggembung dan menyusut dengan napasnya.

“Saya bermaksud untuk bertemu dengan Anda di ruang boiler di malam hari seperti yang saya janjikan,” kata Katagiri, “tapi saya mengalami kecelakaan malam kemarin— sesuatu yang sama sekali tak terduga — dan mereka membawa saya ke sini.”

Bangkong menggoyangkan kepalanya sedikit. “Saya tahu. Tidak apa-apa. Jangan khawatir. Anda sangat membantu saya dalam pertempuran saya, Tuan Katagiri.”

“Benarkah?”

“Ya benar. Anda melakukan pekerjaan besar dalam mimpi Anda. Itulah yang membuatnya mungkin bagi saya untuk melawan Cacing untuk menyelesaikan. Saya harus berterima kasih atas kemenangan saya ini.”

“Saya tidak mengerti,” kata Katagiri. “Saya tidak sadarkan diri sepanjang waktu. Mereka menginfus saya. Saya tidak ingat melakukan sesuatu dalam mimpi saya.”

“Itu bagus, Tuan Katagiri. Lebih baik Anda tidak ingat. Seluruh pertempuran mengerikan terjadi di dalam imajinasi. Itu adalah lokasi yang tepat dari medan perang kita. Di sanalah tempat kita mengalami kemenangan dan kekalahan kita. Masing-masing dan setiap orang dari kita adalah makhluk dari durasi terbatas: kita semua akhirnya kalah. Tapi seperti Ernest Hemingway melihat begitu jelas, nilai akhir dari hidup kita ditentukan bukan oleh bagaimana kita menang, tapi dengan bagaimana kita kalah. Anda dan saya bersama-sama, Tuan Katagiri, mampu mencegah pemusnahan Tokyo. Kita menyelamatkan seratus lima puluh ribu orang dari jurang kematian. Tidak ada yang menyadari hal itu, tapi itu adalah apa yang kita capai.”

“Bagaimana Anda bisa mengalahkan Cacing? Dan apa yang saya lakukan?”

“Kita mengeluarkan semua yang kita miliki dalam pertarungan sampai akhir yang pahit. Kita—” Bangkong mengatupkan mulutnya dan mengambil satu napas besar,”—kita menggunakan setiap senjata yang bisa tangan kita raih, Tuan Katagiri. Kita mengerahkan semua keberanian yang kita miliki. Kegelapan adalah sekutu musuh kita. Anda membawa generator bertenaga kaki dan menggunakan tenaga Anda untuk mengisi tempat dengan cahaya. Cacing mencoba untuk menakut-nakuti Anda dengan hantu-hantu dari kegelapan, tapi Anda tetap bertahan. Kegelapan bersaing dengan cahaya dalam pertempuran mengerikan, dan dalam terang saya bergulat dengan Cacing menjijikan itu. Dia bergelung di sekitar saya, dan melumuri saya dengan lendir mengerikannya. Aku mencabik-cabiknya, tapi ia masih menolak untuk mati. Semua yang dia lakukan adalah membagi menjadi potongan kecil. Lalu — ”

Bangkong terdiam, tapi segera, seakan penghabisan kekuatan terakhirnya, ia mulai berbicara lagi. “Fyodor Dostoyevsky, dengan kelembutan yang tak tertandingi, menggambarkan orang-orang yang telah ditinggalkan oleh Tuhan. Ia menemukan kualitas yang berharga dari eksistensi manusia dalam paradoks mengerikan dimana orang-orang yang telah menemukan Tuhan adalah yang ditinggalkan Tuhan. Berkelahi dengan Cacing dalam kegelapan, saya menemukan diri saya memikirkan ‘White Nights’-nya Dostoevsky. Aku. . . ” Kata-kata Bangkong seperti tenggelam. “Tuan Katagiri, apakah Anda keberatan jika saya tidur sejenak dulu? Saya benar-benar kelelahan.”

“Silakan,” kata Katagiri. “Tidur yang nyenyak.”

“Saya akhirnya tak mampu mengalahkan Cacing,” kata Bangkong, menutup matanya. “Saya berhasil untuk menghentikan gempa, tapi saya hanya mampu membuat pertempuran jadi imbang. Saya memberi cedera pada dirinya, dan dia pada saya. Tetapi untuk mengatakan yang sebenarnya, Tuan Katagiri. . . ”

“Apa, Bangkong?”

“Saya memang seekor Bangkong murni, tapi pada saat yang sama saya punya dunia bukan Bangkong.”

“Hmm, saya tidak mengerti.”

“Begitu juga saya,” kata Bangkong, matanya masih tertutup. “Ini hanya perasaan yang saya miliki. Apa yang Anda lihat dengan mata Anda belum tentu nyata. Musuh saya adalah, antara lain, yang ada dalam diri saya. Dalam diri saya ada bukan-saya. Otak saya mulai dipenuhi lumpur. Lokomotif mendekat. Tapi saya benar-benar ingin Anda untuk memahami apa yang saya katakan, Tuan Katagiri.”

“Anda lelah, Bangkong. Tidurlah. Anda akan baikan.”

“Saya perlahan-lahan, sedikit demi sedikit kembali ke lumpur, Tuan Katagiri. Dan lagi . . . Saya. . . ”
Bangkong kehilangan genggamannya pada kata-kata dan masuk dalam keadaan koma. Lengannya menjuntai hampir ke lantai, dan mulut lebar yang besar terkulai terbuka. Berusaha untuk memfokuskan matanya, Katagiri mampu melihat luka robek di sepanjang tubuh Bangkong. Goresan tak berwarna berlari melalui kulitnya, dan ada bagian di kepalanya mana daging telah terlepas.
Katagiri menatap lama dan keras pada Bangkong, yang duduk di sana sekarang dibungkus dalam jubah tidur tebal. Begitu aku keluar dari rumah sakit ini, pikirnya, aku akan membeli Anna Karenina dan White Nights dan membaca keduanya. Lalu aku akan berdiskusi panjang soal sastra bersama Bangkong.

Tak berselang lama, Bangkong mulai bergerak-gerak. Katagiri pada awalnya mengira bahwa ini hanyalah gerakan normal tak sadar saat tidur, tapi ia segera menyadari kesalahannya. Ada sesuatu yang tidak wajar tentang cara tubuh katak yang terus menyentak, seperti boneka besar yang terguncang oleh seseorang dari belakang. Katagiri menahan napas dan mengamati. Dia ingin berlari mendekati Bangkong, tapi tubuhnya sendiri tetap lumpuh.

Setelah beberapa saat, benjolan besar terbentuk di mata kanan Bangkong. Benjolan yang sama besar, mendidih jelek pecah di bahu dan pinggang Bangkong, kemudian seluruh tubuhnya. Katagiri tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada Bangkong. Dia hanya bisa menjadikannya tontonan, hampir tidak bernapas.

Kemudian, tiba-tiba, salah satu benjolan pecah dengan letupan keras. Kulitnya beterbangan, dan cairan lengket mengalir keluar, mengirimkan bau yang mengerikan di seberang ruangan. Sisa dari benjolan mulai bermunculan, satu demi satu, dua puluh atau tiga puluh, melemparkan kulit dan cairan ke dinding. Bau memuakkan tak tertahankan memenuhi ruangan rumah sakit. Lubang hitam besar yang tersisa di tubuh Bangkong di mana benjolan pecah, dan menggeliat, cacing serupa belatung dari segala bentuk dan ukuran merangkak keluar. Belatung putih gembung. Setelahnya muncul semacam makhluk seperti lipan kecil, dengan ratusan kaki yang membuat suara gemerisik menyeramkan. Seolah tak ada habisnya datang merangkak keluar dari lubang. Tubuh bangkong — atau yang sebelumnya tubuh Bangkong — benar-benar tertutup dengan makhluk-makhluk malam ini. Dua bola mata besar jatuh dari rongganya ke lantai, di mana mereka dimakan oleh serangga hitam dengan rahang yang kuat. Kerumunan cacing berlendir berlomba merayapi tembok menuju langit-langit, di mana mereka menutupi lampu neon dan membenamkan ke alarm asap.

Lantai, juga, ditutupi dengan cacing dan serangga. Mereka memanjat lampu dan memblokir cahaya dan, tentu saja, mereka merayap ke tempat tidur Katagiri. Ratusan dari mereka masuk ke bawah selimut. Mereka merayap naik ke kakinya, di bawah pakaiannya, antara pahanya. Cacing terkecil dan belatung merayap di dalam anus dan telinga dan hidungnya. Lipan memaksa mulutnya terbuka dan merangkak masuk ke dalam satu demi satu. Dalam keputusasaan, Katagiri menjerit.

Seseorang menyalakan lampu dan cahaya memenuhi ruangan.

“Tuan Katagiri!” panggil perawat. Katagiri membuka matanya dengan cahaya. Tubuhnya bermandikan keringat. Serangga-serangga tadi lenyap. Yang tertinggal adalah sensasi berlendir mengerikan.

“Mimpi buruk lagi, ya? Sungguh malang.” Dengan gerakan cepat yang efisien perawat menyiapkan suntikan dan menusukkan jarum ke lengannya.
Katagiri mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya. Jantungnya mengembang dan berdetak keras.

“Apa yang Anda mimpikan?”

Katagiri mengalami kesulitan membedakan mimpi dari kenyataan. “Apa yang Anda lihat dengan mata Anda tidak selalu nyata,” katanya kepada dirinya sendiri dengan suara keras.

“Itu memang benar,” kata perawat dengan senyum. “Terutama dalam mimpi.”

“Bangkong,” gumamnya.

“Apakah sesuatu terjadi dengan Bangkong?” Tanyanya.

“Dia menyelamatkan Tokyo dari kehancuran karena gempa bumi. Semua oleh dirinya sendiri.”

“Itu bagus,” kata perawat, menggantikan botol infus kosong dekatnya dengan yang baru. “Kita tidak perlu hal-hal mengerikan terjadi di Tokyo. Kita sudah sering melewatinya.”

“Tapi nyawanya. Dia pergi. Saya pikir ia kembali ke dalam lumpur. Dia tidak akan pernah datang ke sini lagi.”

Tersenyum, perawat mengeringkan keringat dengan handuk pada dahi Katagiri. “Anda sangat menyukai Bangkong, kan, Tuan Katagiri?”

“Lokomotif,” Katagiri bergumam. “Lebih dari siapa pun.” Kemudian dia menutup matanya dan tenggelam ke dalam tidur tenang tanpa mimpi.

***

Diterjemahkan dari cerpen Super Frog Save Tokyo dalam buku After the Quake. Kumcer yang dibuat Haruki Murakami dalam rangka belasungkawa atas tragedi gempa bumi Kobe pada 1995. Sumber: www.yeaharip.com

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *