Category Archives: Tips

Kenapa Banyak Orang Memilih Pesan Tiket Kereta di Bukalapak? Inilah Alasannya!

Kereta sudah menjadi alat transportasi umum yang banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia dengan berbagai tujuan. Untuk bisa menggunakan akomodasi tersebut Anda tentunya harus mempunyai tiket yang dibeli pada loket stasiun. Tetapi semenjak adanya Bukalapak dan situs online lainnya saat ini pemesanan tidak sudah semakin mudah. Dimana saja dan kapan saja Anda bisa langsung pesan tiket kereta di Bukalapak tanpa proses yang lama. Inilah kemudahan yang ada pada jaman modern seperti sekarang ini, jadi Anda lebih mudah dan tidak perlu lagi kerepotan mendapatkan tiket.

Bukalapak sendiri merupakan e-commerce yang mampu menjadi solusi kebutuhan masyarakat dalam berbagai hal, salah satunya pemesanan kereta. Kenapa banyak sekali orang yang lebih memilih menggunakan Bukalapak dari pada toko online lainnya, berikut ini alasannya yaitu:

Terpercaya.

Siapa yang pernah mengalami masalah saat menggunakan situs online, misalnya saja seperti menjadi korban penipuan tiket. Hal inilah yang sering dikhawatirkan masyarakat saat memesan tiket melalui online, saat semuanya sudah dibayarkan ternyata tiket tidak kunjung datang. Hal itu tidak akan terjadi pada Bukalapak karena sudah ada jaminan secara langsung, jadi aman dan terpercaya.

Proses mudah.

Jika Anda sudah pernah menggunakan Bukalapak sebagai tempat belanja ataupun transaksi lainnya pasti paham kemudahan yang dimaksudkan. Ya, mudah dalam proses pemesanan mulai dari icon yang jelas, halaman yang mudah dan proses yang tidak ribet. Bahkan bagi orang yang belum pernah pesan tiket kereta di Bukalapak saja tidak akan merasa kesulitan menggunakannya.

Proses cepat.

Diburu waktu akibat jadwal pekerjaan merupakan salah satu alasan kenapa Anda memilih membeli tiket melalui online, tetapi itu akan sama saja ketika Anda memilih situs yang tidak memberikan layanan yang cepat dan tepat. Hal itu tidak akan Anda alami jika menggunakan Bukalapak sebagai tempat pemesanan tiket, hanya dengan 5 menit saja semuanya bisa langsung proses selesai.

Pembayaran mudah.

Yang terakhir adalah sistem pembayaran sangat mudah, mengingat Bukalapak menyediakan berbagai alternatif pembayaran yang sangat aman, mudah, dan cepat. Lebih mudah lagi jika Anda menggunakan Bukadompet sebagai transaksi pembayaran.

 

Nah, di atas adalah alasan kenapa banyak sekali orang yang lebih memilih Bukalapak dari pada toko online lainnya sebagai tempat pembelian ataupun pemesanan tiket kereta api. Jika Anda merasa tertarik untuk mencobanya tetapi masih bingung caranya.

Pada artikel ini akan dibahas secara lengkap cara atau panduan Anda memesan tiket kereta yaitu:

  1. Buka situs Bukalapak, di sana akan terlihat pilihan tiket kereta api dalam sekali jalan atau sekaligus bisa Anda pilih pulang pergi. Lalu pilih tanggal keberangkatan, awal keberangkatan dan tujuannya.
  2. Setelah itu muncullah daftar kereta yang dapat Anda pilih sesuai dengan keinginan, dalam hal ini Anda bisa secara langsung membandingkan antara harga satu dengan lainnya. Setelah selesai lanjut pada tahapan berikutnya.
  3. Setelah Anda memilih barulah untuk mengisi identitas secara tepat sesuai, lalu muncul pemberitahuan informasi dan pembayaran.

Setelah prosesnya Anda lakukan secara baik dan benar sampai akhir barulah tiket secara otomatis akan Anda terima melalui email ataupun pesan lain yang telah ada masukkan pada saat pengisian identitas. Semuanya terlihat sangat mudah, apalagi ini online jadi Anda bisa melakukan pesan tiket kereta di Bukalapak kapan saja selagi Anda perlu. Bahkan pemesanan bisa dilakukan jauh hari atau mendekati tanggal keberangkatan selagi masih ada sisa kursi.

 

Surat Anton Chekov kepada Kakaknya, Nikolai Chekov

Suatu kali, pengarang besar Rusia Anton Chekov (1860-1904) menulis sepucuk surat untuk kakaknya, Nikolai Chekov, seorang pelukis sekaligus pemabuk ulung. Konon ia beberapa kali minum sampai tertidur di jalanan. Surat ini ditulis Anton sebagai nasihat penuh kasih untuk Nikolai.

Moscow, 1886.

.. Kau acapkali mengeluh, orang tak memahamimu. Goethe atau Newton tak pernah meratapi hal serupa. Hanya Yesus yang bilang begitu, itu pun Dia bicara tentang ajaran-Nya, bukan diri-Nya sendiri. Orang mengerti dirimu dengan baik. Dan jika kau tak memahami dirimu sendiri, itu bukan salah mereka.

Kuyakinkan, sebagai adik dan sahabat, aku sepenuh hati memahami dan menerimamu. Aku kenal kau seperti aku hafal kelima jari tanganku sendiri. Kalau kau mau, sebagai bukti, aku bisa beberkan sifat-sifat luhurmu. Menurutku kau baik, murah hati, tak egois, selalu siap membantu orang lain meski dengan sekeping uang terakhirmu; tak pernah iri atau benci, sederhana, belas kasih pada semua makhluk; bisa dipercaya, tanpa ragu, dan tak mendendam… Kau punya berkah yang tak dimiliki orang lain: bakat. Ini menempatkanmu di atas jutaan manusia, karena di muka bumi ini hanya satu dari dua juta orang adalah seniman. Bakat membuatmu istimewa: andai kau katak atau tarantula pun, orang akan tetap menghargaimu. Asal ada bakat, segalanya termaafkan.

Kau hanya punya satu kekurangan, dan segala keresahan dan ketidakbahagiaanmu bersumber dari situ. Kau kurang berbudaya. Maafkan aku, tapi veritas magis amictiate… kau tahu, hidup punya aturannya sendiri. Agar bisa nyaman berada di antara orang terdidik, dan bahagia bersama mereka, seseorang harus berbudaya sampai pada taraf tertentu. Bakat telah membawamu ke lingkaran itu, .. tapi kau terpisah dari sana, terombang-ambing antara dua dunia yang berlawanan.

Orang berbudaya harus, dalam pendapatku, memiliki karakter berikut:

1. Menghormati kepribadian manusia, dan karena itu selalu bersikap baik, lembut, sopan, dan mengalah pada orang lain. Mereka tidak memusingkan hal-hal kecil; kalau mereka tinggal dengan orang lain, mereka tidak menganggap itu sebagai pertolongan dan, kalau harus pergi, mereka tidak berkata “tak ada yang sanggup tinggal denganmu”. Mereka memaklumi kebisingan dan cuaca dingin dan daging yang dimasak terlalu kering dan gurauan dan kehadiran orang asing di rumah mereka.

2. Mereka punya belas kasih, bukan hanya kepada pengemis dan kucing. Hati mereka tersentuh oleh sesuatu yang tak terlihat oleh mata. Mereka begadang semalaman untuk menolong P… untuk membayari kuliah saudara-saudaranya, dan membelikan baju untuk ibu mereka.


3. Mereka menghargai milik orang lain, dan karena itu selalu melunasi utang.


4. Mereka tulus, dan menjauhi kebohongan. Mereka bahkan tidak bohong untuk hal-hal kecil. Kebohongan adalah penghinaan untuk yang mendengar, dan menempatkannya di posisi yang lebih rendah dari si pembohong. Mereka tidak berlagak, mereka bersikap di luar rumah sama seperti ketika di dalam rumah, dan mereka tidak pamer di depan orang-orang yang kekurangan. Mereka tidak suka mengoceh dan mempertontonkan kesombongan di depan orang lain. Untuk menghormati hak orang lain, mereka lebih suka diam daripada bicara.


5. Mereka tidak cari simpati. Mereka tidak bilang “Tak ada yang memahamiku,” atau “Aku dinomorduakan,” karena segala penyataan itu cara murahan untuk mendapatkan perhatian, dan itu adalah vulgar, basi, dan salah…


6. Mereka tak memiliki kesombongan yang dangkal. Mereka tak peduli pada hal-hal yang tampak berkilauan tapi palsu, seperti kenal banyak pesohor, bersalaman dengan si P [catatan penerjemah sebelumnya: kemungkinan inisial P merujuk pada penyair Palmin] yang mabuk, mendengarkan pujian para pengagum yang terpesona, duduk di kedai dan menjadi terkenal… Kalau mereka melakukan sesuatu, mereka tidak membesar-besarkannya, dan tidak menyombongkan diri bisa masuk ke tempat-tempat yang tertutup untuk orang lain… Orang yang benar-benar berbakat tidak menonjolkan diri di tengah keramaian, sejauh mungkin dari reklame. Bahkan Krylov berkata, gaung tong kosong lebih nyaring dari yang berisi.


7. Jika mereka memiliki bakat, mereka menghormatinya. Mereka mengorbankan istirahat, perempuan, anggur, kesombongan… Mereka bangga pada bakat mereka. Lagipula, mereka orangnya pilih-pilih.


8. Mereka mengembangkan perasaan estetik dalam diri mereka sendiri. Mereka tak bisa pergi tidur dengan berpakaian lengkap, melihat retakan di tembok dipenuhi serangga, menghirup udara kotor, berjalan di lantai bekas diludahi, memasak di kompor minyak. Sebisa mungkin mereka menahan diri dan memuliakan insting seksual… Apa yang mereka inginkan dalam diri perempuan bukan sekadar teman tidur.. Mereka tidak menginginkan kecerdasan yang muncul dari kebohongan terus menerus. Mereka tidak minum vodka sepanjang hari. Mereka minum ketika mereka bebas, atau untuk merayakan sesuatu… Karena mereka ingin mens sana in corpore sano [jiwa kuat dalam tubuh sehat].


Dan seterusnya. Seperti itulah orang yang berbudaya. Untuk menjadi berbudaya dan tidak berada satu tingkat di bawah lingkunganmu, tak cukup hanya membaca “The Pickwick Papers” dan belajar monolog dari “Faust.”…

Yang dibutuhkan adalah usaha terus menerus, siang malam, terus membaca, belajar, berkeinginan.. Setiap jam berharga… Datanglah pada kami, hancurkan botol vodka itu, berbaringlah dan membaca.. Turgenev, kalau kausuka, yang memang belum pernah kaubaca.

Kau harus berhenti bersikap sombong, kau bukan anak kecil… sebentar lagi umurmu tiga puluh.

Sudah waktunya!

Aku mengharapkan kedatanganmu. Kami semua begitu.


Versi terjemahan bahasa Inggris dari surat ini bisa kaubaca di situs terbaik di dunia ini.

Begitu membaca surat ini, aku langsung ingin menerjemahkannya, sebagian karena apa yang ditulis Anton Chekov (selanjutnya akan kusebut Anton saja, untuk membedakannya dari Nikolai) bicara banyak untuk jiwa-jiwa muda yang tersesat (cie). Surat ini ditulis Anton dalam usia 26 tahun, dan Nikolai 28 tahun. Umurku juga 28 tahun sekarang dan aku seperti bisa merasakan apa yang bergejolak dalam diri Nikolai saat itu.

Menjelang 30 tahun adalah usia yang rawan. Kau sedang bersiap-siap jadi orang dewasa sungguhan. Kau harus menentukan posisimu di dunia ini, apa yang mau kaulakukan sampai kau mati, bagaimana cara memaknai hidupmu, nilai-nilai apa yang akan kaupegang dan kauturunkan ke anak-anakmu, dan seterusnya dan seterusnya.

Kalau kau merasa memiliki bakat seni, kau harus lebih berhati-hati. Orang akan memandangmu istimewa karena kau berbakat, kau akan dipuji (dan dicaci) sedemikian rupa, padahal pujian (dan cacian) itu tidak mendefinisikan siapa dirimu. Dua hal saja yang perlu kaulakukan: hidup dengan baik, dan terus berupaya mengeksplorasi bakatmu.

Hanya itu.

Kurasa itu yang dimaksud Anton ketika menasihati Nikolai soal ‘hidup berbudaya’. Turunan dari nasihat itu bisa banyak: berhenti mabuk-mabukan, selesaikan sekolah, melukis setiap hari, banyak membaca, dan seterusnya. Tak kalah penting: menghargai orang lain. Dengan cara itu, kau akan berhenti menganggap hanya dirimu yang punya masalah di dunia ini. Anton seperti ingin bilang pada Nikolai: “Get your shit together, Bro. Hargailah bakatmu, dan jangan cengeng.”

Tiga tahun setelah Anton menulis surat ini, Nikolai meninggal dunia karena tuberkolosis.

 

Sumber:

http://www.andinadwifatma.com/2015/05/surat-anton-chekov-kepada-nikolai-chekov.html

Kutipan Inspiratif Haruki Murakami

Coba kau pikirkan baik-baik. Kondisi semua orang sama saja. Sama seperti ketika kita naik pesawat rusak. Tentu saja di situ ada orang yang bernasib baik dan bernasib buruk. Ada yang tangguh, ada juga yang lemah; ada yang kaya, ada pula yang miskin. Hanya saja, tidak ada orang yang memiliki kekuatan yang jauh lebih besar daripada orang lain. Semua orang sama. Orang yang memiliki sesuatu selalu khawatir, jangan-jangan apa yang dia miliki sekarang akan hilang, sedangkan orang yang tidak memiliki apa-apa selalu cemas, jangan-jangan selamanya aku akan tetap menjadi orang yang tidak punya apa-apa. Semua orang sama! Karena itu, manusia yang menyadari hal itu lebih cepat harus berusaha menjadi sedikit lebih tangguh. Sekadar pura-pura pun tidak apa. Betul kan? Di mana pun tidak akan ada manusia yang tangguh. Yang ada hanyalah manusia yang pura-pura tangguh.

“Jika kamu dapat mencintai seseorang dengan sepenuh hati, bahkan untuk satu orang, itulah keselamatan dalam hidup. Meskipun kamu tidak dapat bersama dengannya,” – Haruki Murakami, 1Q84

“Saya dapat menahan segala beban asalkan ada maknanya,” – Haruki Murakami, 1Q84

“Inilah dunia, pada akhirnya, sebuah perjuangan tanpa akhir akan kenangan yang saling bertentangan,” – Haruki Murakami, 1Q84

Jika kau mengingatku, maka aku tak peduli jika semua orang melupakanku.

“Kamu dapat menyembunyikan kenangan, akan tetapi tidak akan bisa menghapus jejak langkah bagaimana kenangan itu dibuat,” – Haruki Murakami, Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage

“Seiring dengan berjalannya waktu kita menemukan siapa diri kita, akan tetapi semakin kita mengenalnya, semakin kita kehilangan diri sendiri,” – Haruki Murakami, Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage

Hal terpenting yang kita pelajari di sekolah adalah fakta bahwa hal yang paling penting tidak bisa dipelajari di sekolah.

“Seiring dengan berjalannya waktu, kamu akan memahami. Apa yang berlalu, berlalu; apa yang tidak, tidak terjadi. Waktu menyelesaikan semuanya. Dan apa yang waktu tidak dapat selesaikan, kamu harus atasi sendiri.” – Haruki Murakami, Dance Dance Dance

“Yang kita cari adalah bentuk kompensasi dari apa yang kita lakukan,”– Haruki Murakami, Dance Dance Dance

Kematian bukan lawan dari kehidupan, kematian itu bagian dari kehidupan.


“Kenangan akan menghangatkan dirimu dari dalam. Namun mereka juga membuatmu bersedih,” – Haruki Murakami, Kafka on the Shore

“Dengar- tak ada perang yang akan bisa mengakhiri semua perang,”– Haruki Murakami, Kafka on the Shore

“Keheningan, adalah sesuatu yang sebenarnya dapat kamu dengar,”– Haruki Murakami, Kafka on the Shore

“Setiap kita akan kehilangan sesuatu yang berharga. Kehilangan kesempatan, kehilangan kemungkinan, perasaan yang tidak akan pernah kembali lagi. Itulah hidup.” – Haruki Murakami, Kafka on the Shore

20 Stephen King’s Rules For Writers

1. First write for yourself, and then worry about the audience. “When you write a story, you’re telling yourself the story. When you rewrite, your main job is taking out all the things that are not the story.”

Tulislah untuk dirimu sendiri. Baru setelah itu, pikirkan pembacamu. Maksudnya adalah ketika kita menulis cerita, anggap kita sedang bercerita kepada diri kita sendiri. Tulislah/ceritakanlah sesuatu yang ingin kita baca/dengar. Ketika menuliskan naskah itu kembali (mengedit), tugas utama itu berubah menjadi membuang segala hal yang tidak terkait dengan jalannya cerita di tulisan kita.

2. Don’t use passive voice. “Timid writers like passive verbs for the same reason that timid lovers like passive partners. The passive voice is safe.”

Jangan gunakan suara yang pasif. Para penulis amatir menyukai kata kerja pasif seperti halnya pencinta amatiran yang menyukai pasangan yang pasif. Kalimat pasif hanya untuk bermain aman saja.

3. Avoid adverbs. “The adverb is not your friend.”

4. Avoid adverbs, especially after “he said” and “she said.”

5. But don’t obsess over perfect grammar. “The object of fiction isn’t grammatical correctness but to make the reader welcome and then tell a story.”

Jangan terobsesi dengan aturan gramatikal yang sempurna. Objek fiksi itu bukanlah kesempurnaan gramatikal melainkan membuat pembaca mau membacamu dan mendengar ceritamu.

6. The magic is in you. “I’m convinced that fear is at the root of most bad writing.”

Salah satu penghambat kita menulis adalah rasa takut. Terutama takut tulisan kita buruk, takut dicaci pembaca. Justru hal-hal seperti itu malah membuat tulisan kita jadi buruk. Menulis butuh keberanian. Jadi, tumbuhkanlah keberanian itu agar ada sihir dari tulisanmu.

7. Read, read, read. ”If you don’t have time to read, you don’t have the time (or the tools) to write.”

Bagaimana caranya kita bisa menulis jika tidak membaca? Baca, baca, baca, lalu tulis! Baca, baca, baca, lalu tulis! Hal ini mengindikasikan bahwa seenggaknya perbandingan baca dan tulis, ya harus lebih banyak membaca.

8. Don’t worry about making other people happy. “If you intend to write as truthfully as you can, your days as a member of polite society are numbered, anyway.”

Menulis bukan untuk membuat orang bahagia, bukan pula untuk memperbaiki moral bangsa. Menulis, ya menulis saja, sejujur-jujurnya.

9. Turn off the TV. “TV—while working out or anywhere else—really is about the last thing an aspiring writer needs.”

Matikan televisi. Lebih lengkap bisa dibaca di sini, soal tulisan yang baik.

10. You have three months. “The first draft of a book—even a long one—should take no more than three months, the length of a season.”

11. There are two secrets to success. “I stayed physical healthy, and I stayed married.

Kunci sukses ada dua: sehat dan menikah.

12. Write one word at a time. “Whether it’s a vignette of a single page or an epic trilogy like ‘The Lord of the Rings,’ the work is always accomplished one word at a time.”

13. Eliminate distraction. “There’s should be no telephone in your writing room, certainly no TV or videogames for you to fool around with.”

14. Stick to your own style. “One cannot imitate a writer’s approach to a particular genre, no matter how simple what that writer is doing may seem.”

Percaya dirilah pada gaya menulis kita sendiri. Jangan tergoda meniru-niru.

15. Dig. “Stories are relics, part of an undiscovered pre-existing world. The writer’s job is to use the tools in his or her toolbox to get as much of each one out of the ground intact as possible.”

Seperti halnya karya ilmiah, tulisan itu tidak boleh melebar, tetapi mendalam. Maka, galilah tema yang sudah kamu tentukan. Gali sedalam-dalamnya unsur-unsur penceritaannya.

16. Take a break. “You’ll find reading your book over after a six-week layoff to be a strange, often exhilarating experience.”

17. Leave out the boring parts and kill your darlings. “(kill your darlings, kill your darlings, even when it breaks your egocentric little scribbler’s heart, kill your darlings.)”

18. The research shouldn’t overshadow the story. “Remember that word back. That’s where the research belongs: as far in the background and the back story as you can get it.”

19. You become a writer simply by reading and writing. “You learn best by reading a lot and writing a lot, and the most valuable lessons of all are the ones you teach yourself.”

20. Writing is about getting happy. “Writing isn’t about making money, getting famous, getting dates, getting laid or making friends. Writing is magic, as much as the water of life as any other creative art. The water is free. So drink.”

Saya sering bilang, tujuan saya menulis adalah untuk bahagia. Hal yang saya dapatkan selain kebahagiaan hanyalah efek samping. Jadi, kalau menulis nggak bikin kamu bahagia, berhentilah jadi penulis.

 

Tulisan yang Baik Adalah….

Kak, seperti apakah tulisan yang baik/bagus itu? Sering saya mendapatkan pertanyaan seperti itu.

Saya selalu menjawab, tulisan yang baik adalah tulisan yang selesai. Tidak mudah memang memulai sebuah tulisan, tetapi lebih sulit lagi menyelesaikan tulisan tersebut. Maka, apapun hasilnya, kita patut mengapresiasi orang-orang yang berhasil menyelesaikan tulisannya. Lebih jauh lagi, kata selesai memiliki makna tulisan tersebut sudah sublim, sudah memuat struktur berpikir yang utuh, tidak setengah-setengah.

Pertanyaan yang lebih tepat adalah, bagaimana caranya menyelesaikan sebuah tulisan?

Pertama, hindari televisi, ponsel, dan internet. Saya percaya, aktivitas menulis adalah aktivitas sunyi. Dalam kesunyian itulah kita berbicara kepada diri kita sendiri. Sebanyak apa kita berhasil mengangkut hal dari dalam, lalu membawanya keluar. Tak cukup sekadar membawa, kita harus mengubahnya sehingga dapat diterima publik. Ketika menulis, Stephen King bahkan mengunci dirinya di dalam kamar, dan menjauhkan semua akses dari dunia luar.

Televisi, ponsel, dan internet menggoda kita dengan banyaknya informasi yang tersedia. Namun, lautan informasi itu membuat kita tenggelam di dalamnya. Akibatnya, kita bisa kehilangan jati diri kita ketika menulis, kehilangan fokus, dan tergoda untuk menunda-nunda penulisan.

Bacalah buku-buku yang bermutuIni adalah tahap yang lebih awal sebelum memulai penulisan. Otak sama dengan pencernaan, butuh asupan. Buku-buku bermutu itu bisa menjadi asupan bagi otak. Percayalah, kita tidak akan bisa menulis kalau masukannya tak ada. Masukan itu kita olah menjadi keluaran yang bernilai tambah dalam bentuk tulisan. Bacaan dengan jumlah dan mutu yang cukup membuat kita memiliki energi untuk menyelesaikan tulisan. Kita tidak akan kehabisan bahan di tengah jalan.

Tulislah hal yang menarik buatmu. Hal yang menarik bisa jadi hal yang paling dekat dengan kita atau hal yang paling kita kuasai. Saya tidak bisa membayangkan jika seorang penulis tidak memiliki ketertarikan terhadap hal yang ia tulis. Karena itulah, menulis juga berarti membangun minat. Kalau kita tak menguasai suatu bahan, kita harus memiliki minat untuk mempelajari bahan tersebut. Setelah itu, baru tuliskan!

Terakhir, jangan pernah menunda-nunda sesuatu. Prokrastinator, orang yang suka menunda-nunda sesuatu adalah biang dari keburukan. Jangan pernah menggampangkan proses. Tak perlu ada toleransi-toleransi waktu. Eka Kurniawan, menurut pengakuan di blognya, selalu rutin menulis minimal 2 jam sehari. Begitu pun Faisal Oddang. Penulis-penulis seperti Fitzgerald, 8 jam dalam sehari. Kita perlu menetapkan waktu menulis rutin itu.

Dan tentu saja, untuk lebih mendisiplinkan diri, buat jadwal penyelesaian tulisan. Stephen King bilang, 3 bulan adalah waktu yang ideal untuk menyelesaikan draft sebuah novel. Ingat, jangan menulis sambil meriset. Riset dilakukan sebelum itu. Dan jangan lupa, menghadiahi dirimu sendiri ketika berhasil menyelesaikannya.

 

Catatan:

  1. Kadang-kadang ada tulisan kita yang tak selesai. Draft-draft yang memang buntu. Ingat, simpanlah tulisan-tulisan itu. Suatu saat kita akan akan membutuhkannya. 
  2. Buatlah setiap kalimat terdengar baik. Ada irama-irama tertentu di dalam tulisan. Dan kita memiliki irama tersendiri. Bila kita berhasil menemukan irama itu, kita akan menyukai waktu menulis itu… sehingga percaya atau tidak, tulisan kita akan lebih cepat selesai (karena kita menikmatinya).

  3. Perkaya kosa kata. Kadang, ada hal di kepala yang sudah ingin kita ungkapkan, tetapi kita kekurangan kata. Rasanya tak enak jika menggunakan kata itu lagi-itu lagi. Maka, penguasaan terhadap kosa kata menjadi penting pula kita miliki. Alternatifnya, siapkan kamus dan tesaurus di sampingmu!

LIMA HAL PENTING DALAM PENULISAN CERITA/FIKSI

 

Show, not tell. Sering kita mendengar ungkapan demikian. Cerita yang baik seharusnya show, bukan tell. Salah satu makna show ini adalah keberhasilan membangun setting/latar.

Latar menjadi hal pertama yang harus dibangun. Sebab sebuah cerita yang baik tak mungkin terjadi di mana saja, dan kapan saja. Cerita menjadi unik, berkesan, ketika ia terjadi pada ruang dan waktu tertentu. Hal inilah yang menuntun kita pada ungkapan selanjutnya, bahwa fiksi berbeda dengan kenyataan. Fiksi harus masuk akal, sementara kenyataan seringkali tak masuk akal.

Inilah yang dinamakan unsur plausibilitas. Kemungkinan terjadinya suatu adegan. Misal, saya membuat adegan makan bubur ayam sepulang dari kantor, malam hari, di Kepri. Adegan tersebut sulit terjadi karena makan bubur ayam malam-malam bukan budaya Kepri. Hal tersebut mungkin terjadi jika kota yang kita pilih adalah Jakarta atau Bandung yang banyak penjual bubur ayam hingga tengah malam.

Kita perlu melakukan riset yang cukup atas kondisi geografi, demografi, sejarah, kebudayaan, dan segala hal yang terkait. Kelemahan pada latar akan mementahkan cerita yang kita buat.

Hal penting berikutnya adalah karakter. Boleh jadi, karakter adalah hal paling penting yang membuat sebuah cerita menjadi menarik atau tidak. Ada ungkapan bahwa karakterlah yang menentukan plot, a character is a plot.

Para penulis harus bersungguh-sungguh membuat tokohnya hidup. Tokoh tersebut (homofictus) haruslah ekstrem positif atau ekstrem negatif. Kalau dia baik, ya buatlah dia sangat baik seperti tokoh Fahri dalam Ayat-Ayat Cinta. Jika dia jahat, buatlah dia jahat seperti umm, siapa ya, Rita Repulsa kali ya.

Pada intinya ada beberapa rumusan mengenai cara membuat karakter. Pertama, hindari stereotip atau karakter yang mudah ditebak. Ia harus unik. Kedua, karakter tersebut memiliki kedalaman. Caranya, beri dia masa lalu, dan jangan lupa tambahkan masa depannya. Masa lalu akan membuat pembaca percaya kenapa si tokoh bisa menjadi seperti sekarang, dan masa depan akan menuntun si tokoh kepada tujuan dan konflik yang mungkin bisa tercipta. Ketiga, tambahkan preferensi si tokoh pada banyak hal, semisal ia lebih suka minum teh dari kopi, punya alergi terhadap asap rokok, beserta alasannya.

Pada umumnya, penokohan memiliki beberapa peran. Pertama, ada protagonis. Protagonis tidak melulu orang yang baik. Protagonis adalah tokoh utama yang memiliki tujuan. Bisa jadi dia jahat. Kedua, ada antagonis. Antagonis pun bukan berarti tokoh yang jahat. Antagonis adalah tokoh yang menghalangi protagonis mencapai tujuannya. Sidekick adalah orang terdekat dari tokoh utama. Biasanya dia gendut. Orang gendut wajib hadir dalam cerita. Hehe. Terakhir, ada mentor. Pola ini sering muncul pada komik Shonen. Naruto memiliki Jiraiya sebagai mentor. Wiro Sableng juga ding, punya Shinto Gendeng sebagai mentornya.

Hal penting ketiga adalah PLOT.  Plot berbeda dengan alur. Jika alur adalah jalannya roda, plot adalah hal yang membuat roda berputar. Plot juga berkaitan dengan konflik, tanggapan dan perubahan yang dialami karakter terhadap konflik, serta cara penyelesaian konflik. Plot yang baik dimulai dengan deskripsi karakter yang baik. Maka ada ungkapan, a plot is a character.

Keempat, yang paling sering dibahas, tapi tak kalah penting: TEMA. Apa sih yang hendak dibicarakan dalam cerita? Inilah yang membuat cerita menjadi penting atau tidak penting. Namun, menyasar pentingnya sebuah cerita, justru dapat merusak karakter. Kita harus berhati-hati agar tidak terjadi pendangkalan pada karakter kita agar cerita tidak menjadi tell.

Kelima, hal yang membuat setiap penulis menjadi otentik—gaya bercerita. Kita pelan-pelan harusnya bisa menemukan gaya menulis kita sendiri. Diksi kita sendiri. Usaha mengepigoni penulis lain sah-sah saja dilakukan di awal, asalkan usaha itu dilakukan untuk menemukan karakter kita sendiri.