Catatan Pringadi

Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan

Category: Tips

Lomba Menulis Cerita Rakyat Kemendikbud

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Direktorat Pembinaan Anak Usia Dini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengadakan 4 lomba untuk konten (isi) laman Anggun Pendidikan Anak Usia Dini yaitu http://www.anggunpaud.kemdikbud.go.id atau http://www.paud.kemdikbud.go.id. Salah satu lomba tersebut adalah Lomba Penyusunan Cerita Rakyat

Tema Lomba Penyusunan Cerita Rakyat
Kali ini Lomba Konten Anggun PAUD adalah “Penumbuhan Budi Pekerti Pada Anak Usia Dini”

Ketentuan Lomba Penyusunan Cerita Rakyat

Cerita rakyat fokus pada pengembangan Nilai Agama dan Moral dan Bahasa.
Sasaran pengguna cerita rakyat adalah Guru PAUD, Pengelola PAUD.
Cerita rakyat dapat berbentuk;

(1) Fable (cerita binatang)
(2) Legenda (asal-usul terjadinya suatu tempat)
(3) Sage (unsur sebuah sejarah)
(4) Epos (kepahlawanan)
(5) Cerita jenaka.

Cerita disampaikan dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Panjang naskah berada pada kisaran 400 – 600 kata.

Hadiah Lomba Penyusunan Cerita Rakyat

1 orang pemenang pertama dengan hadiah Rp. 15.000.000,-
1 orang pemenang kedua dengan hadiah Rp. 10.000.000,-
1 orang pemenang ketiga dengan hadiah Rp. 7.500.000,-
10 hadiah hiburan dengan hadiah @Rp. 5.000.000

Persyaratan Lomba Penyusunan Cerita Rakyat
1. Peserta terbuka untuk umum, kecuali peserta Direktorat Pembinaan PAUD..
2. Naslah Orisinalitas mutlak (maknanya, naskah harus karangan kita sendiri)
3. Tidak mengandung unsur kekerasan, pornografi, suku, agama, ras, antar golongan, pelecehan fisik, simbol dan radikalisme.
4. Penerima manfaat cerita rakyat adalah anak PAUD usia di bawah bimbingan orang tua dan guru.
5. Peserta dapat mengirimkan lebih dari satu naskah.
6. Semua karya yang masuk akan menjadi hak milik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan u.p. Direktorat Pembinaan Anak Usia Dini.

Pengiriman Lomba Penyusunan Cerita Rakyat

Pengiriman hasil karya dimulai tanggal 15 Juni 2016, dan dikirimkan ke alamat :
Direktorat Pembinaan PAUD,
Kompleks Kemdikbud, Gedung E Lt. 7
Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta
Kode Pos 10270
Batas waktu pengiriman paling lambat tanggal 31 Agustus 2016 cap pos.
Semua kontributor dalam penyusunan dan pengembangan produk dicantumkan secara lengkap.

Penilaian Lomba Penyusunan Cerita Rakyat
Penilaian dilakukan oleh Tim Juri yang berkompeten di bidangnya berdasarkan kriteria berikut ini :

Orisinalitas karya
Kesesuaian dengan tema dan fokus aspek perkembangan
Kesesuaian karya dengan sasaran (pendidik atau anak didik usia 4-6 tahun)
Kejelasan pesan yang disampaikan
Kesantunan bahasa
Keutuhan cerita/karya
Keserasian karya: syair dan notasi, teks dengan ilustrasi, dst.

Pengumuman Pemenang Lomba Penyusunan Cerita Rakyat
Pemenang diumumkan melalui web http://www.anggunpaud.kemdikbud.go.id atau http://www.paud.kemdikbud.go.id tanggal 13 – 15 September 2016.

Penyerahan Hadiah Lomba Penyusunan Cerita Rakyat
Hadiah lomba akan diserahkan bersamaan dengan Hari Anak Universal bulan September 2016.

Pemanfaatan Naskah Lomba Penyusunan Cerita Rakyat
Naskah yang masuk ke Panitia dan dinyatakan menang menjadi hak Panitia dan akan di upload ke laman http://www.anggunpaud.kemdikbud.go.id atau http://www.paud.kemdikbud.go.id

Naskah yang tidak menang tetap menjadi hak penyusun kecuali apabila diserahkan ke Dit. Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini.

Kata Mutiara dalam Seni Perang Sun Tzu

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

“Seni tertinggi perang adalah untuk menaklukkan musuh tanpa pertempuran.”
– Sun Tzu , The Art of War

”Tampak lemah ketika kamu kuat dan kuat ketika Anda lemah. ”
– Sun Tzu , The Art of War

” Jika Anda tahu musuh dan mengenal diri sendiri, Anda tidak perlu takut hasil dari seratus pertempuran. Jika Anda mengenal diri sendiri, tapi bukan musuh, untuk setiap kemenangan yang diperoleh Anda juga akan menderita kekalahan. Jika Anda tidak tahu akan musuh maupun diri sendiri, Anda akan menyerah dalam setiap pertempuran . ”
– Sun Tzu , The Art of War

” Keunggulan Agung terdiri dari memecah perlawanan musuh tanpa pertempuran. ”
– Sun Tzu , The Art of War

” Prajurit Jaya kemenangan pertama dan kemudian pergi berperang , sementara prajurit mengalahkan pergi berperang pertama dan kemudian berusaha untuk menang”
– Sun Tzu , The Art of War

” Semua perang didasarkan pada tipu daya . ”
– Sun Tzu , The Art of War

” Biarkan rencana Anda menjadi gelap dan tak tertembus sebagai malam , dan ketika Anda bergerak , jatuh seperti petir . ”
– Sun Tzu , The Art of War

” Terus teman dekat, dan musuh Anda lebih dekat ”
– Sun Tzu

” Seorang pemimpin memimpin dengan contoh , bukan dengan kekuatan ”
– Sun Tzu

” Untuk mengetahui Musuh Anda , Anda harus menjadi Musuh Anda . ”
– Sun Tzu , The Art of Wari

” Bisakah Anda bayangkan apa yang akan saya lakukan jika saya bisa melakukan semua yang saya bisa? ”
– Sun Tzu , The Art of War

” Peluang kalikan karena mereka disita . ”
– Sun Tzu

” Bahkan pedang terbaik jatuh ke air garam pada akhirnya akan berkarat . ”
– Sun Tzu , The Art of War

” Dengan demikian kita akan mengetahui bahwa ada lima hal penting untuk kemenangan :
1 Dia akan menang yang tahu kapan harus melawan dan kapan tidak melawan.
2 Dia akan menang yang tahu bagaimana menangani keduanya kekuatan superior dan inferior .
3 Dia akan menang yang tentara yang dijiwai oleh semangat yang sama di seluruh jajarannya .
4 Ia akan menang siapa , mempersiapkan dirinya , menunggu untuk mengambil musuh tidak siap .
5 Dia akan menang yang memiliki kapasitas militer dan tidak diganggu oleh penguasa . ”
– Sun Tzu , The Art of War

” Strategi tanpa taktik adalah rute paling lambat menuju kemenangan . Taktik tanpa strategi adalah suara sebelum kekalahan . ”
– Sun Tzu , The Art of War

” Libatkan orang dengan apa yang mereka harapkan , itu adalah apa yang mereka mampu untuk membedakan dan menegaskan proyeksi mereka . Mengendap menjadi pola diprediksi respon , menempati pikiran mereka sementara Anda menunggu saat yang luar biasa – apa yang mereka tidak bisa mengantisipasi ” .
– Sun Tzu , The Art of War

” Ketika kuat , menghindari mereka . Jika semangat kerja yang tinggi , menekan mereka. Tampak sederhana untuk mengisinya dengan kesombongan . Jika nyaman , knalpot mereka. Jika bersatu , memisahkan mereka. Serangan kelemahan mereka . Emerge untuk mengejutkan mereka . ”
– Sun Tzu

” Mengenal diri sendiri dan Anda akan memenangkan semua pertempuran ”
– Sun Tzu

” Ketika musuh santai , membuat mereka bekerja keras . Ketika penuh, kelaparan mereka . Bila menetap , membuat mereka bergerak .”
– Sun Tzu , The Art of War

” Pindah cepat seperti angin dan erat – terbentuk sebagai Wood . Serangan seperti Fire dan akan tetap seperti gunung . ”
– Sun Tzu , The Art of War

” Semua perang didasarkan pada tipu daya . Oleh karena itu , ketika mampu menyerang , kita harus tampak tidak mampu ketika menggunakan kekuatan kita , kita harus tampak tidak aktif , ketika kita dekat , kita harus membuat musuh percaya kita jauh , ketika jauh , kita harus membuat dia percaya kita dekat . ”
– Sun Tzu , The Art of Warfare

“Tidak ada contoh dari negara yang telah memperoleh manfaat dari perang berkepanjangan . ”
– Sun Tzu , The Art of War

” Membangun lawan jembatan emas untuk mundur di . ”
– Sun Tzu

” Anda harus percaya pada diri sendiri . ”
– Sun Tzu

” Jika musuh Anda aman di semua titik , akan disiapkan untuknya . Jika dia berada dalam kekuatan yang unggul , menghindari dia . Jika lawan temperamental , berusaha untuk mengganggu dia . Berpura-pura menjadi lemah , bahwa ia dapat tumbuh arogan . Jika dia mengambil kemudahan nya , memberinya tanpa istirahat. Jika pasukannya bersatu , memisahkan mereka. Jika berdaulat dan subjek yang sesuai , menempatkan pembagian antara mereka. Menyerangnya di mana dia tidak siap , muncul dimana Anda tidak diharapkan . ”
– Sun Tzu

” Jadilah sangat halus bahkan sampai tak berbentuk . Jadilah sangat misterius bahkan sampai soundlessness . Dengan demikian Anda bisa menjadi direktur nasib lawan s . ​​”
– Sun Tzu

” Jika pikiran bersedia , daging bisa terus dan terus tanpa banyak hal .”
– Sun Tzu

“Ada tidak lebih dari lima catatan musik , namun kombinasi dari lima menimbulkan lebih melodi dari sebelumnya dapat didengar .

Ada tidak lebih dari lima warna primer , namun dalam kombinasi
mereka menghasilkan lebih warna daripada yang bisa pernah dilihat .

Ada tidak lebih dari lima rasa kardinal , namun kombinasi
mereka menghasilkan rasa lebih dari sebelumnya bisa dicicipi . ”
– Sun Tzu , The Art of War

” Kemenangan terbesar adalah bahwa yang tidak memerlukan pertempuran. ”
– Sun Tzu , The Art of War

” Orang mungkin tahu bagaimana menaklukkan tanpa bisa melakukannya . ”

Hari #5, Alasan Pendidikan

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Tak sengaja membaca komentar seorang teman di sebuah status tentang keinginan kuliah di luar negeri. “Terus kalau sudah balik ke Indonesia mau ngapain?”

Aku tercenung membaca pertanyaan itu dan bertanyatanya apa yang sudah kulakukan dan apa yang akan kulakukan. Apakah selama ini yang kulakukan hanya untuk kepentinganku sendiri dan apa yang kurencanakan akan kulakukan tak bermanfaat juga bagi orang banyak?

Aku jujur mengakui, aku ingin kuliah ke luar negeri. Kalau tidak ke Jepang, ya Australia. Kalau tidak ke Australia, ya ke Eropa. Alasan pertamanya tentulah pengalaman. Aku ingin jalan-jalan, bertemu banyak orang, memiliki sudut pandang baru. Tapi itu semua untuk diriku. Aku belum berpikir sesuatu yang lebih besar. Aku belum berpikir pengamalan apa yang akan aku lakukan nantinya.

Ketika hendak mengikuti tes D4 STAN pun, baru di tes ketiga aku lulus. Di tes pertama dan kedua aku gagal meski aku punya keyakinan tak seharusnya aku gagal. Istriku berkata, mungkin ada yang salah dari niatku, mungkin Tuhan menyiapkan waktu yang terbaik untukku. Luruskanlah niat terlebih dahulu, katanya.

Aku jujur mengakui menganggap D4 sebagai sweet escape, pelarian manis dari rutinitas pekerjaan dan penempatan yang jauh dari keluarga. Dengan lulus D4, aku akan lebih dekat dengan istri dan anakku. Bintaro–Bandung ditempuh hanya dengan satu travel saja. Pun alasan lain, kenyataan bahwa setelah lulus D4 aku akan naik golongan menjadi III.a tanpa perlu ikut ujian penyesuaian,  dan kemungkinan penempatan yang lebih baik nantinya. Alasan lain, aku akan lebih dekat dengan teman-temanku di dunia kepenulisan yang banyak berada di Jakarta dan sekitarnya.

Tapi ternyata, selama mengikuti perkuliahan aku malah mendapatkan sesuatu yang berharga. Adalah Ghul, seorang teman yang paling sering duduk sebangku denganku yang memberi pencerahan pertama.

Ghul menceritakan sebuah riwayat kepadaku. Ada seorang pekerja mendapat upah 5 dirham dari pekerjaannya. Ia merasa upah itu tidak cukup untuk menghidupi keluarganya. Lalu datanglah ia ke seorang ulama untuk berkonsultasi. Ulama tersebut malah memberi saran untuk menghadap majikannya dan meminta upah 4 dirham saja. Sang lelaki pekerja pun datang dan meminta penurunan upah menjadi 4 dirham. Sebulan kemudian, sang pekerja datang lagi ke ulama dan mengadu, penghasilan 4 dirham itu tak cukup juga. Sang ulama malah memberi saran untuk meminta menurunkan upahnya menjadi 3 dirham saja. Karena percaya atas kebesaran sang ulama, sang lelaki pekerja pun menuruti saran ulama tersebut.

Sebulan berikutnya, sang lelaki pekerja datang lagi ke ulama tersebut dan terheran-heran, takjub ia bertanya, “Kenapa upah saya yang 3 dirham jadi cukup untuk menghidupi keluarga saya? Padahal kan 3 dirham jauh lebih kecil dari 5 dirham?”

Sang ulama tersenyum dan berkata, “Itulah yang pantas untuk pekerjaanmu lakukan sekarang.”

Artinya, berkah pekerjaan itu ada di 3 dirham. Sisanya bukan haknya. Implikasinya, saat itu Ghul mengajakku bertanya, kalau kita mengeluh terus mendapatkan penghasilan kurang, selama kita tugas belajar ini, apakah penghasilan yang kita dapatkan itu sudah pantas kalau cuma kos-kampus-kantin saja?

Ghul mengajakku sadar bahwa kita harus berusaha agar pantas dihargai 5 dirham, bekerja lebih baik lagi, memberi manfaat lebih banyak lagi, dan yang lebih penting kita menemukan peran 5 dirham yang tepat sesuai kapasitas yang kita miliki.

Di kesempatan lain, Direktur STAN, pada suatu kuliah berkata kita harus menemukan satu hal yang benar-benar kita sukai dan kita kuasai. Tidak mungkin semua mata kuliah dilahap sampai ngelotok kering. Pilih satu saja, maqam tempat kita menjadi ahli. Aku pikir ini ada hubungannya dengan peran itu tadi.

Di situlah aku kemudian tertarik pada satu bidang dan merasa aku D4 ini adalah untuk dipertemukan dengan bidang itu.

Pun nanti S2, aku akan berusaha untuk memang menjadikan diriku ahli di suatu bidang dan kemudian aku dapat mengaplikasikannya untuk kepentingan dan kebaikan orang banyak.

Semoga.

 

Insurgent dan Dunia Kecil Kita

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

 

 

Pemberontakan Tris berlanjut. Bakda penyerangan terhadap Abnegation, atas perintah dan rekayasa Jeanine, Tris dan Four harus terus melarikan diri, mencari faksi Dauntless yang lain, untuk melakukan pembalasan terhadap Jeanine.

Jeanine sendiri mencari kotak pesan sang pendiri, yang ditemukan di rumah keluarga Tris. Kotak pesan itu hanya bisa dibuka oleh seorang Divergent. Jeanine memulai pemburuan terhadap para Divergent. Ternyata, tidak setiap Divergent itu sama. Butuh seorang Divergent yang spesial yang dapat membuka kotak itu.

Seperti di film pertama, Divergent, dunia dibagi menjadi beberapa faksi: Dauntless, Erudite, Abnegation, Condor dan Amity. Mereka percaya faksi tersebut ada untuk menjaga kedamaian. Mereka juga percaya merekalah kaum manusia yang tersisa. Mereka berada dalam sebuah wilayah di dalam dinding. Dunia di luar dinding adalah dunia yang dipercayai penuh dengan ancaman bagi kemanusiaan.

Pola cerita seperti juga dapat ditemui di film The Maze Runner. Sekelompok pemuda terkurung di dalam suatu tempat. Pada waktu tertentu, pintu akan terbuka dan terhampar labirin mengelilingi tempat itu disertai monster. Bedanya, mereka percaya bahwa di balik labirin itu ada jalan keluar.

Jalan keluar itu menjadi solusi di Insurgent. Kotak pesan para pendiri yang ingin dibuka Jeanine tidak menyingkap fakta mengencai ancaman para Divergent, malah justru sebaliknya. Pendiri kota mengatakan bahwa keberadaan faksi adalah sebuah eksperimen untuk melahirkan Divergent, yang dapat melampaui semua faksi yang ada. Karakter Divergent dianggap dapat menyelematkan umat manusia, sebuah harapan baru bagi kemanusiaan. Divergent 100% itu ada para diri Tris.

Sementara di The Maze Runner, jalan keluar, menyingkap fakta lain. Dunia di luar labirin adalah dunia yang kacau. Mereka menjadi eksperimen di dalam tempat tersebut juga untuk mencari solusi kemanusiaan.

Di Insurgent, fakta yang sama juga disiratkan ketika di akhir cerita, Jeanine berkata, “Apa yang  kita ketahui tentang dunia di luar tembok sementara sudah 200 tahun berlalu sejak sistem ini didirikan?”

Di situ aku pun bertanya-tanya, tentang keberadaan manusia. Kita beribu tahun percaya, kita adalah manusia satu-satunya di alam semesta. Kita hidup di suatu tempat bernama bumi, dilingkupi atmosfer yang memisahkan kita dengan luar angkasa. Ada keinginan untuk menembus langit dan sampai kini, misi demi misi baru mengantarkan manusia bermimpi ke Mars. Sementara ada banyak galaksi lain di alam semesta.

Jangan-jangan kita ini seperti Divergent. Ditempatkan di suatu tempat, sengaja dibagi beberapa faksi, terisolasi dan dibuat percaya kitalah manusia satusatunya di alam semesta, tahutahu hanya sebagai sebuah eksperimen untuk kemudian melahirkan manusia yang mampu melampaui faksi yang dibikin di awal itu.

Menurut kamu?

Tips Menulis Puisi Pringadi Abdi Surya

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Menulis adalah proses. Baru beberapa tahun belakangan, menulis adalah sesuatu yang populer. Di blog, di media sosial mana pun, bermunculan berbagai tulisan dan orang-orang yang ingin menulis, ingin menjadi penulis, ingin menerbitkan buku. Hal ini positif di satu sisi, karena buku akan menjadi semakin banyak, dan kita tidak akan kekurangan bacaan. Namun seringkali ada satu hal yang dilupakan, menulis adalah proses, bukan sesuatu yang instan. Segala hal yang berbau instan akan meminimumkan kualitas, kecuali mie instan (Hidup anak kos!).

 

Saya selalu mengingat, ada empat kemampuan berbahasa

1. Menyimak.

Menyimak itu pekerjaan yang melibatkan indra, yakni melihat, mendengar segala sesuatu dengan seksama, dengan detil, dengan khusuk dan tawadhu. Menyimak juga berarti melatih kepekaan kita sebagai manusia terhadap lingkungan sekitar.

2. Membaca

Ada satu hal yang menjadi titik tumpu dari membaca, yakni analisis. Membaca bukan berarti membaca buku, tapi membaca adalah sebuah proses belajar. Adalah hal yang normal, dan sangat normal, jika kita membaca, pertanyaan-pertanyaan hadir di benak kita. Ada usaha untuk memahami hal-hal yang kita baca: buku, situasi, perasaan…

3. Menulis

Hukum alam, input ~ output. Artinya, semakin banyak kita membaca, semakin banyak kita ingin menulis. Menulis adalah upaya penegasan atas pertanyaan yang hadir tatkala kita membaca, baik itu berupa jawaban atas pertanyaan, pengulangan atas pertanyaan itu, atau kegundahan yang mendalam karena kita tidak kunjung mendapatkan jawaban.

4. Berbicara

Adalah hal yang baik bila anak-anak kita diajarkan berbahasa sejak dini. Berbahasa yang baik dan benar lebih cepat merangsang otak seorang anak ketimpang pelajaran matematika. Sebab bahasa adalah tentang struktur, cara berpikir, ketenangan dalam menyusun kata untuk menyampaikan informasi secara tepat. Pada saat berbicara, itu bisa berarti kemampuan otak dalam membuat kalimat dan memerintahkan mulut untuk mengucapkannya sama baiknya. Berbicara yang tepat adalah kita telah memahami hal yang hendak kita katakan, bukan sekadar asal bunyi.

 

Menulis Kreatif

Kreatifitas adalah kemampuan untuk mencipta, berinovasi. Secara alami, manusia adalah makhluk yang kreatif, meski banyak hambatan untuk menuju kreativitas.

Hambatan terbesar justru datang dari pengalaman masa kecil, ketika orang tua dan lingkungan membiasakan kita dengan kata “Jangan begini, jangan begitu…” atau kata “Tidak boleh ini dan itu..” Kita telah terbiasa dengan larangan. Padahal hukum agama pun asalnya mubah/diperbolehkan, ketika itu menjadi larangan di kitab suci, dengan alasan yang kuat, ia baru menjadi haram. Begitu pun seharusnya manusia, yang membolehkan, membebaskan anak-anaknya untuk mencoba hal ingin mereka lakukan, kecuali hal itu berefek pada keselamatan atau nyawa si anak.

Secara singkat, hambatan-hambatan lainnya adalah

1.       Kebiasaan. Secara alami untuk berubah. Orang merasa nyaman ketika   mengikuti kebiasaannya, jadi secara alami sulit keluar dari kebiasaannya

2.       Malas. Keluar dari kebiasaan perlu usaha

3.       Kurang percaya diri. Akibat kurang pengalaman jadi kurang percaya diri

4.       Takut gagal. Karena pengalaman pernah ide-ide mereka ditertawakan atau takut dikritik orang lain.

5.       Karena pikiran kreatif dihambat oleh aturan, etika, tidak ada masalah atau         kebanjiran masalah, tidak punya waktu atau terlalu banyak waktu

 6.       Atau karena banyak pikiran lain yang mengganggu.

 

Solusinya? Salah satunya adalah dengan brainstorming. Badai otak—kata google translate.

 

Proses berpikir kreatif tidak bisa dipaksakan. Ide kreatif akan muncul pada saat kita sedang santai. Pada saat duduk di toilet itu ide paling sering muncul. Salah satu cara untuk bisa masuk mudah ke dalam tingkat getaran otak yang kreatif adalah dengan proses re-creation atau menciptakan kembali. Kita menggunakan satu karya kreatif untuk memicu aliran kreatifitas kita.

Kebanyakan orang mengatakan “saya tidak bisa menulis” karena “tidak berbakat,” juga tidak kreatif. Jika Anda bisa berbicara, menulis surat di selembar kertas, mengetahui struktur dasar kalimat, menulis pesan terima kasih, Anda memiliki keterampilan berbahasa yang cukup untuk belajar menulis secara alami. Pengetahuan mengenai tatabahasa bukan persyaratan minimal. Anda hanya perlu memanfaatkan otak Anda dengan benar sehingga memunculkan pemikiran yang kreatif.

 

Pertama, pikirkan sebuah kata benda. Kemudian, tentukan 10 kata benda lain yang langsung terlintas berhubungan dengan kata tersebut. Setelah itu, gunakan 11 kata tersebut ke dalam puisi yang kita buat.

Sebagai contoh, kata intinya adalah Prancis. Sepuluh kata yang berhubungan dengannya adalah eiffel, revolusi, roti, bahasa, cinta, perang, gantungan, perempuan, hati, pedang. Diusahakan sepuluh kata tersebut datang dengan tanpa berpikir panjang. Spontanitas. Puisi yang kemudian kuciptakan dari kata-kata tersebut seperti di bawah ini:

Kau Akan Mengajari Aku Bahasa Prancis

 

seorang pria romantis harus bisa bahasa prancis

dan memiliki cita-cita berkunjung ke eiffel

 

di sana tak akan ada tiang dan tali gantungan

yang dijanjikan pelaku korupsi satu rupiah

 

orang-orang hanya akan memadu kasih, mencicip

bibir masing-masing yang seringnya lancip

seperti pedang milik joan of arc, perempuan orleans

yang menaklukkan kuda seperti menaklukkan hati para pria

 

berbicara bahasa prancis, segala sesuatu harus dilatih

terutama lidah. kau pun mulai mengajariku makan masakan

prancis, roti prancis dan seharusnya lidah orang prancis

yang lincah dan terkenal dengan ciuman-ciumannya

 

sehingga kemudian begitu mudah mengucap revolusi

 

seorang pria romantis adalah seseorang yang memimpin

revolusi itu dan berteriak perang pria kecil

tidak cukup di atas ranjang

 

aku bertanya-tanya seberapa penting menjadi pria romantis

tapi mengingat kau akan mengajarkan aku bahasa prancis,

aku menjadi teramat bahagia

 

dan berterima kasih kepada tuhan

yang telah menciptakan kebahagiaaan

Cara kedua, adalah melihat karya seni lain. Bisa lukisan, musik, atau karya sastra yang lain. Dengan melihat karya seni lain, itu akan memantik kesadaran kesenian kita dan memicu kesadaran kreatif kita.

Ini adalah puisi Subagio Sastrowardoyo:

NADA AWAL

Tugasku hanya menterjemah
gerak daun yang tergantung
di ranting yang letih. Rahasia
membutuhkan kata yang terucap
di puncak sepi. Ketika daun
jatuh takada titik darah. tapi
di ruang kelam ada yang merasa
kehilangan dan mengaduh pedih

 

Reaksi atas puisi tersebut:

Nada Kedua

 

pada tanah basah, aku tak akan mengeruk

rahasia. sesuatu yang terkubur

atau tertanam, akan menumbuhkan

kenyataan-kenyataan. kau tak akan butuh lisanku

yang lambat mengucap kasih

yang teramat pedih bila selalu direnungkan

atau bila nanti bertemu, biarlah

 

dalam nada kedua inilah, kita harus terpisah

 

Dan yang ketiga adalah cari sebuah puisi berbahasa asing yang benar-benar asing alias kita tidak tahu artinya. Kemudian, reka-rekalah artinya, jadikan puisi itu milik Anda. Coba perhatikan puisi di bawah ini dan silakan mencobanya.

Hagamos un trato

Si una vez adviertes que te miro a los ojos,
y una veta de amor reconoces en los míos,
no pienses que deliro,
piensa simplemente que puedes contar conmigo.
Si otras veces me encuentras huraña sin motivo,
no pienses que es flojera;
igual puedes contar conmigo.
Pero hagamos un trato: yo quisiera contar contigo,
es tan lindo saber que existes,
uno se siente vivo y cuando digo esto,
no es para que vengas corriendo en mi auxilio,
sino para que sepas tú siempre puedes contar conmigo.

Mario Benedetti

 

Semoga bermanfaat!

Penulis, Profesi dan Pajak

Published / by Pringadi As / 1 Comment on Penulis, Profesi dan Pajak

Ketika hendak menandatangani Surat Perjanjian Penerbitan, pastilah seorang penulis akan ditanya, “Punya NPWP nggak?” Ini terkait dengan pajak royalti yang akan dikenakan. Seorang penulis yang memiliki NPWP akan dikenakan pajak royalti 15%, sementara yang tidak memiliki NPWP akan dikenakan pajak sebesar 30%.

Dari hal tersebut, sebenarnya bisa dikatakan bahwa penulis sudah diakui sebagai profesi. Tetapi pada kenyataannya, ketika penulis ingin membuat NPWP, ada kebingungan di bagian pajaknya. Misalnya pada pengalaman Alby Syafie. Ketika Alby hendak membuat NPWP, dikatakan bahwa penulis masuk ke kategori usaha sendiri dan perlu membuat SIUP.

Apakah “PENULIS” sudah dianggap sebagai profesi di negara ini? Itu pertanyaannya.

Penulis yang menulis buku memperoleh penghasilan berupa royalti. Royalti adalah suatu jumlah yang dibayarkan atau terutang dengan cara atau perhitungan apa pun, baik dilakukan secara berkala maupun tidak, sebagai imbalan atas salah satunya penggunaan atau hak menggunakan hak cipta di bidang kesusastraan, kesenian atau karya ilmiah, paten, desain atau model, rencana, formula atau proses rahasia, merek dagang, atau bentuk hak kekayaan intelektual/industrial atau hak serupa lainnya. Royalti ini dikenakan PPh pasal 23.

PPh pasal 23 dikenakan kepada Wajib pajak dalam negeri dan Bentuk Usaha Tetap (BUT) yang menerima atau memperoleh penghasilan yang berasal dari modal, penyerahan jasa atau penyelenggaraan kegiatan selain yang telah dipotong PPh pasal 21.

Apa yang aku ingin gugat di sini?

Jika penulis sudah dianggap profesi, seharusnya penghasilan yang diterima penulis masuk ke PPh pasal 21. Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 adalah pajak atas penghasilan berupa gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain dengan nama apa pun yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri sehubungan dengan pekerjaan/ jabatan, jasa, dan kegiatan.

Penghasilan yang diterima penulis penuh waktu diterima rutin dan terukur dalam surat perjanjian penerbitan.  Bila kemudahan pemotongan oleh penerbit dijadikan alasan menjadikan “royalti” sebagai objek Pasal 23, itu akan melanggar asas keadilan bagi penulisnya. Penulis tentu bukan badan usaha dan tidak memerlukan SIUP.

Pengenaan PPh pasal 23 atas royalti terjadi karena royalti adalah passive income. Sementara PPh pasal 21 adalah active income. Passive income berarti tanpa bekerja, seorang penulis kemudian tinggal menerima hasilnya.

Tapi filosofi muncul sebelum peraturan. Kita juga harus memperhatikan asas-asas pemungutan pajak:

1)      Asas Equality

Pemungutan pajak harus bersifat adil dan merata, yaitu dikenakan pada orang pribadi yang harus sebanding dengan kemampuan membayar pajak (ability to pay) dan sesuai dengan manfaat yang diterima.

2)      Asas Certainty

Penetapan pajak hendaknya tidak sewenang-wenang, jadi wajib pajak harus mengetahui kapan membayar dan batas waktu pembayaran

3)      Asas Convenience of Payment

Kapan Wajib Pajak itu harus membayar pajak sebaiknya sesuai dengan saat-saat yang tidak menyulitkan Wajib Pajak, misalnya pada saat memperoleh penghasilan.

4)      Asas Economy

Secara ekonomi, biaya pemungutan dan pemenuhan kewajiban pajak bagi Wajib Pajak diharapkan seminimum mungkin, demikian pula beban yang dipikul.

Apa perbedaan yang dapat dihasilkan?

Tidak banyak penulis yang beruntung mendapatkan royalti melebih penghasilan tidak kena pajak per tahunnya. Barangkali Ditjen Pajak pun belum tahu bagaimana proporsi pembagian penghasilan buku di Indonesia. Distributor dan toko mendapatkan 50-60%, penerbit mendapat 25-42%, sementara penulis hanya mendapat 8-15% dari harga buku kotor. Rata-rata saat ini, penerbit besar memberikan 10% bagi penulis. Dengan oplah cetakan pertama rata-rata 3000 buku, dan diasumsikan harga buku Rp50.000,-. Maka maksimal royalti pada cetakan pertama hanya sebesar Rp15.000.000,- dan tentu ini di bawah PTKP (Tidak Kawin 24.300.000).

Katakanlah, si penulis ini dapat menghasilkan 3 buku dalam 1 tahun dan masing-masing buku terjual habis 3000 eksemplar (kondisi yang langka), ia akan mendapatkan maksimal penghasilan 45 juta dalam tahun tersebut.

Jika menggunakan pasal 23, maka pajak yang dibayarkan untuk 1 buku adalah sebesar Rp2.250.000,- dan untuk 3 buku adalah Rp6.750.000,-

Jika menggunakan pasal 21, untuk penghasilan 1 buku pertama, tidak akan dikenakan pajak karena di bawah PTKP. Sementara jika sang penulis bisa menghasilkan 3 buku dan terjual 3000 dalam 1 tahun, ia harus membayar pajak sebesar 5% X (45.000.000-24.300.000) = Rp1.285.000,-

Memang benar, selisih itu dapat dikreditkan/lebih bayar. Tetapi, apakah seorang warga negara harus direpotkan mengurus haknya yang lebih bayar sementara ada cara yang lebih mudah bagi warga negara?

Pengalaman seorang penulis yang sadar ini, mengurus lebih bayarnya memerlukan waktu 3-4 bulan. Dengan penggantian time value of money sebesar 2%.

Apa yang luput dari hal ini?

Ada perbedaan arti kata “royalti” dari konsepnya dibandingkan dengan praktiknya. Bayangkan persepsi orang awam bila mendengar kata “royalti”, itu akan menjadi sesuatu yang wah. Hak cipta pada dasarnya dihargai sangat tinggi. Tetapi kenyataannya, kata “royalti” di dunia kepenulisan bukanlah sesuatu yang wah. Hanya ada kurang dari 10% penulis Indonesia yang menerima royalti di atas PTKP dalam setahunnya. Dunia kepenulisan jarang diperhatikan pemerintah. Baru hari-hari belakangan, penulis penuh waktu dapat mencantumkan profesi penulis di KTP-nya. Dulu, seorang Khrisna Pabichara bahkan pernah ditertawakan oleh petugas administrasi ketika ia menyebut “penulis” ketika hendak membuat KTP.

Pengabaian  pada profesi penulis, dan menganggapnya sebagai pekerjaan bebas, ini belum terselesaikan secara penuh. Ada banyak hal yang berhubungan dengannya. Peran pemerintah dalam memajukan dunia kepenulisannya dalam bidang perpajakan pun diperlukan. Misalnya untuk membedakan pengenaan pajak buku terjemahan dengan buku yang ditulis oleh penulis lokal. Penulis-penulis perlu dibikin percaya bahwa seseorang bisa hidup dari menulis saja seperti halnya Eka Kurniawan.

 

Kebijakan adalah kebijakan jika dianggap mampu memuaskan publik, bukan? Di luar segala peraturan, apakah kamu merasa adil atas kondisi yang terjadi?