Category Archives: Tips

20 Stephen King’s Rules For Writers

1. First write for yourself, and then worry about the audience. “When you write a story, you’re telling yourself the story. When you rewrite, your main job is taking out all the things that are not the story.”

Tulislah untuk dirimu sendiri. Baru setelah itu, pikirkan pembacamu. Maksudnya adalah ketika kita menulis cerita, anggap kita sedang bercerita kepada diri kita sendiri. Tulislah/ceritakanlah sesuatu yang ingin kita baca/dengar. Ketika menuliskan naskah itu kembali (mengedit), tugas utama itu berubah menjadi membuang segala hal yang tidak terkait dengan jalannya cerita di tulisan kita.

2. Don’t use passive voice. “Timid writers like passive verbs for the same reason that timid lovers like passive partners. The passive voice is safe.”

Jangan gunakan suara yang pasif. Para penulis amatir menyukai kata kerja pasif seperti halnya pencinta amatiran yang menyukai pasangan yang pasif. Kalimat pasif hanya untuk bermain aman saja.

3. Avoid adverbs. “The adverb is not your friend.”

4. Avoid adverbs, especially after “he said” and “she said.”

5. But don’t obsess over perfect grammar. “The object of fiction isn’t grammatical correctness but to make the reader welcome and then tell a story.”

Jangan terobsesi dengan aturan gramatikal yang sempurna. Objek fiksi itu bukanlah kesempurnaan gramatikal melainkan membuat pembaca mau membacamu dan mendengar ceritamu.

6. The magic is in you. “I’m convinced that fear is at the root of most bad writing.”

Salah satu penghambat kita menulis adalah rasa takut. Terutama takut tulisan kita buruk, takut dicaci pembaca. Justru hal-hal seperti itu malah membuat tulisan kita jadi buruk. Menulis butuh keberanian. Jadi, tumbuhkanlah keberanian itu agar ada sihir dari tulisanmu.

7. Read, read, read. ”If you don’t have time to read, you don’t have the time (or the tools) to write.”

Bagaimana caranya kita bisa menulis jika tidak membaca? Baca, baca, baca, lalu tulis! Baca, baca, baca, lalu tulis! Hal ini mengindikasikan bahwa seenggaknya perbandingan baca dan tulis, ya harus lebih banyak membaca.

8. Don’t worry about making other people happy. “If you intend to write as truthfully as you can, your days as a member of polite society are numbered, anyway.”

Menulis bukan untuk membuat orang bahagia, bukan pula untuk memperbaiki moral bangsa. Menulis, ya menulis saja, sejujur-jujurnya.

9. Turn off the TV. “TV—while working out or anywhere else—really is about the last thing an aspiring writer needs.”

Matikan televisi. Lebih lengkap bisa dibaca di sini, soal tulisan yang baik.

10. You have three months. “The first draft of a book—even a long one—should take no more than three months, the length of a season.”

11. There are two secrets to success. “I stayed physical healthy, and I stayed married.

Kunci sukses ada dua: sehat dan menikah.

12. Write one word at a time. “Whether it’s a vignette of a single page or an epic trilogy like ‘The Lord of the Rings,’ the work is always accomplished one word at a time.”

13. Eliminate distraction. “There’s should be no telephone in your writing room, certainly no TV or videogames for you to fool around with.”

14. Stick to your own style. “One cannot imitate a writer’s approach to a particular genre, no matter how simple what that writer is doing may seem.”

Percaya dirilah pada gaya menulis kita sendiri. Jangan tergoda meniru-niru.

15. Dig. “Stories are relics, part of an undiscovered pre-existing world. The writer’s job is to use the tools in his or her toolbox to get as much of each one out of the ground intact as possible.”

Seperti halnya karya ilmiah, tulisan itu tidak boleh melebar, tetapi mendalam. Maka, galilah tema yang sudah kamu tentukan. Gali sedalam-dalamnya unsur-unsur penceritaannya.

16. Take a break. “You’ll find reading your book over after a six-week layoff to be a strange, often exhilarating experience.”

17. Leave out the boring parts and kill your darlings. “(kill your darlings, kill your darlings, even when it breaks your egocentric little scribbler’s heart, kill your darlings.)”

18. The research shouldn’t overshadow the story. “Remember that word back. That’s where the research belongs: as far in the background and the back story as you can get it.”

19. You become a writer simply by reading and writing. “You learn best by reading a lot and writing a lot, and the most valuable lessons of all are the ones you teach yourself.”

20. Writing is about getting happy. “Writing isn’t about making money, getting famous, getting dates, getting laid or making friends. Writing is magic, as much as the water of life as any other creative art. The water is free. So drink.”

Saya sering bilang, tujuan saya menulis adalah untuk bahagia. Hal yang saya dapatkan selain kebahagiaan hanyalah efek samping. Jadi, kalau menulis nggak bikin kamu bahagia, berhentilah jadi penulis.

 

Tulisan yang Baik Adalah….

Kak, seperti apakah tulisan yang baik/bagus itu? Sering saya mendapatkan pertanyaan seperti itu.

Saya selalu menjawab, tulisan yang baik adalah tulisan yang selesai. Tidak mudah memang memulai sebuah tulisan, tetapi lebih sulit lagi menyelesaikan tulisan tersebut. Maka, apapun hasilnya, kita patut mengapresiasi orang-orang yang berhasil menyelesaikan tulisannya. Lebih jauh lagi, kata selesai memiliki makna tulisan tersebut sudah sublim, sudah memuat struktur berpikir yang utuh, tidak setengah-setengah.

Pertanyaan yang lebih tepat adalah, bagaimana caranya menyelesaikan sebuah tulisan?

Pertama, hindari televisi, ponsel, dan internet. Saya percaya, aktivitas menulis adalah aktivitas sunyi. Dalam kesunyian itulah kita berbicara kepada diri kita sendiri. Sebanyak apa kita berhasil mengangkut hal dari dalam, lalu membawanya keluar. Tak cukup sekadar membawa, kita harus mengubahnya sehingga dapat diterima publik. Ketika menulis, Stephen King bahkan mengunci dirinya di dalam kamar, dan menjauhkan semua akses dari dunia luar.

Televisi, ponsel, dan internet menggoda kita dengan banyaknya informasi yang tersedia. Namun, lautan informasi itu membuat kita tenggelam di dalamnya. Akibatnya, kita bisa kehilangan jati diri kita ketika menulis, kehilangan fokus, dan tergoda untuk menunda-nunda penulisan.

Bacalah buku-buku yang bermutuIni adalah tahap yang lebih awal sebelum memulai penulisan. Otak sama dengan pencernaan, butuh asupan. Buku-buku bermutu itu bisa menjadi asupan bagi otak. Percayalah, kita tidak akan bisa menulis kalau masukannya tak ada. Masukan itu kita olah menjadi keluaran yang bernilai tambah dalam bentuk tulisan. Bacaan dengan jumlah dan mutu yang cukup membuat kita memiliki energi untuk menyelesaikan tulisan. Kita tidak akan kehabisan bahan di tengah jalan.

Tulislah hal yang menarik buatmu. Hal yang menarik bisa jadi hal yang paling dekat dengan kita atau hal yang paling kita kuasai. Saya tidak bisa membayangkan jika seorang penulis tidak memiliki ketertarikan terhadap hal yang ia tulis. Karena itulah, menulis juga berarti membangun minat. Kalau kita tak menguasai suatu bahan, kita harus memiliki minat untuk mempelajari bahan tersebut. Setelah itu, baru tuliskan!

Terakhir, jangan pernah menunda-nunda sesuatu. Prokrastinator, orang yang suka menunda-nunda sesuatu adalah biang dari keburukan. Jangan pernah menggampangkan proses. Tak perlu ada toleransi-toleransi waktu. Eka Kurniawan, menurut pengakuan di blognya, selalu rutin menulis minimal 2 jam sehari. Begitu pun Faisal Oddang. Penulis-penulis seperti Fitzgerald, 8 jam dalam sehari. Kita perlu menetapkan waktu menulis rutin itu.

Dan tentu saja, untuk lebih mendisiplinkan diri, buat jadwal penyelesaian tulisan. Stephen King bilang, 3 bulan adalah waktu yang ideal untuk menyelesaikan draft sebuah novel. Ingat, jangan menulis sambil meriset. Riset dilakukan sebelum itu. Dan jangan lupa, menghadiahi dirimu sendiri ketika berhasil menyelesaikannya.

 

Catatan:

  1. Kadang-kadang ada tulisan kita yang tak selesai. Draft-draft yang memang buntu. Ingat, simpanlah tulisan-tulisan itu. Suatu saat kita akan akan membutuhkannya. 
  2. Buatlah setiap kalimat terdengar baik. Ada irama-irama tertentu di dalam tulisan. Dan kita memiliki irama tersendiri. Bila kita berhasil menemukan irama itu, kita akan menyukai waktu menulis itu… sehingga percaya atau tidak, tulisan kita akan lebih cepat selesai (karena kita menikmatinya).

  3. Perkaya kosa kata. Kadang, ada hal di kepala yang sudah ingin kita ungkapkan, tetapi kita kekurangan kata. Rasanya tak enak jika menggunakan kata itu lagi-itu lagi. Maka, penguasaan terhadap kosa kata menjadi penting pula kita miliki. Alternatifnya, siapkan kamus dan tesaurus di sampingmu!

LIMA HAL PENTING DALAM PENULISAN CERITA/FIKSI

 

Show, not tell. Sering kita mendengar ungkapan demikian. Cerita yang baik seharusnya show, bukan tell. Salah satu makna show ini adalah keberhasilan membangun setting/latar.

Latar menjadi hal pertama yang harus dibangun. Sebab sebuah cerita yang baik tak mungkin terjadi di mana saja, dan kapan saja. Cerita menjadi unik, berkesan, ketika ia terjadi pada ruang dan waktu tertentu. Hal inilah yang menuntun kita pada ungkapan selanjutnya, bahwa fiksi berbeda dengan kenyataan. Fiksi harus masuk akal, sementara kenyataan seringkali tak masuk akal.

Inilah yang dinamakan unsur plausibilitas. Kemungkinan terjadinya suatu adegan. Misal, saya membuat adegan makan bubur ayam sepulang dari kantor, malam hari, di Kepri. Adegan tersebut sulit terjadi karena makan bubur ayam malam-malam bukan budaya Kepri. Hal tersebut mungkin terjadi jika kota yang kita pilih adalah Jakarta atau Bandung yang banyak penjual bubur ayam hingga tengah malam.

Kita perlu melakukan riset yang cukup atas kondisi geografi, demografi, sejarah, kebudayaan, dan segala hal yang terkait. Kelemahan pada latar akan mementahkan cerita yang kita buat.

Hal penting berikutnya adalah karakter. Boleh jadi, karakter adalah hal paling penting yang membuat sebuah cerita menjadi menarik atau tidak. Ada ungkapan bahwa karakterlah yang menentukan plot, a character is a plot.

Para penulis harus bersungguh-sungguh membuat tokohnya hidup. Tokoh tersebut (homofictus) haruslah ekstrem positif atau ekstrem negatif. Kalau dia baik, ya buatlah dia sangat baik seperti tokoh Fahri dalam Ayat-Ayat Cinta. Jika dia jahat, buatlah dia jahat seperti umm, siapa ya, Rita Repulsa kali ya.

Pada intinya ada beberapa rumusan mengenai cara membuat karakter. Pertama, hindari stereotip atau karakter yang mudah ditebak. Ia harus unik. Kedua, karakter tersebut memiliki kedalaman. Caranya, beri dia masa lalu, dan jangan lupa tambahkan masa depannya. Masa lalu akan membuat pembaca percaya kenapa si tokoh bisa menjadi seperti sekarang, dan masa depan akan menuntun si tokoh kepada tujuan dan konflik yang mungkin bisa tercipta. Ketiga, tambahkan preferensi si tokoh pada banyak hal, semisal ia lebih suka minum teh dari kopi, punya alergi terhadap asap rokok, beserta alasannya.

Pada umumnya, penokohan memiliki beberapa peran. Pertama, ada protagonis. Protagonis tidak melulu orang yang baik. Protagonis adalah tokoh utama yang memiliki tujuan. Bisa jadi dia jahat. Kedua, ada antagonis. Antagonis pun bukan berarti tokoh yang jahat. Antagonis adalah tokoh yang menghalangi protagonis mencapai tujuannya. Sidekick adalah orang terdekat dari tokoh utama. Biasanya dia gendut. Orang gendut wajib hadir dalam cerita. Hehe. Terakhir, ada mentor. Pola ini sering muncul pada komik Shonen. Naruto memiliki Jiraiya sebagai mentor. Wiro Sableng juga ding, punya Shinto Gendeng sebagai mentornya.

Hal penting ketiga adalah PLOT.  Plot berbeda dengan alur. Jika alur adalah jalannya roda, plot adalah hal yang membuat roda berputar. Plot juga berkaitan dengan konflik, tanggapan dan perubahan yang dialami karakter terhadap konflik, serta cara penyelesaian konflik. Plot yang baik dimulai dengan deskripsi karakter yang baik. Maka ada ungkapan, a plot is a character.

Keempat, yang paling sering dibahas, tapi tak kalah penting: TEMA. Apa sih yang hendak dibicarakan dalam cerita? Inilah yang membuat cerita menjadi penting atau tidak penting. Namun, menyasar pentingnya sebuah cerita, justru dapat merusak karakter. Kita harus berhati-hati agar tidak terjadi pendangkalan pada karakter kita agar cerita tidak menjadi tell.

Kelima, hal yang membuat setiap penulis menjadi otentik—gaya bercerita. Kita pelan-pelan harusnya bisa menemukan gaya menulis kita sendiri. Diksi kita sendiri. Usaha mengepigoni penulis lain sah-sah saja dilakukan di awal, asalkan usaha itu dilakukan untuk menemukan karakter kita sendiri.

 

Kalimat-Kalimat Inspirasi dari Einstein

kutipan einstein

  • Dunia ini adalah sebuah tempat yang berbahaya untuk didiami; bukan karena orang-orangnya yang jahat, tetapi karena orang-orangnya yang tak peduli.
  • Hidup itu seperti naik sepeda. Agar tetap seimbang, kau harus terus bergerak.
  • Ketidakwarasan adalah melakukan hal yang sama secara berulang-ulang dan mengharapkan hasil yang berbeda.
  • Masalah-masalah penting yang kita hadapi tidak bisa dipecahkan dengan tingkat pemikiran yang sama dengan ketika kita menciptakannya.

kutipan Einstein

  • Untuk mengenal sebuah Negara, anda harus mempunyai kontak langsung dengan tanahnya. Sia-sia memandang dunia hanya dari balik kaca mobil.
  • Kita harus melakukan yang terbaik yang kita bias. Itulah tanggung jawab suci kita sebagai manusia.
  • Selagi ada cinta tidak perlu ada lagi pertanyaan.
  • Seorang manusia harus mencari sesuatu sebagaimana adanya, bukan yang bagaimana seharusnya menurut pikirannya.

kutipan einstein

  • Di hadapan Tuhan kita semua sama-sama bijak dan sama-sama tolol.
  • Bukan dengan duduk-duduk di kejauhan dan memanggil umat manusia sebagaimana larva yang dapat menolong mereka. Taksir agung individu adalah melayani, bukan mengausai.
  • Semua kita yang peduli akan kedamaian dan supremasi nalar maupun keadilan haruslah benar-benar sadar betapa kecil pengaruh nalar dan niatan baik yang jujur terhadap berbagai peristiwa politik.
  • Segala macam tindakan akan berakhir jika kekuatan-kekuatan dasar yang dahsyat tidak lagi mendorong kita.
  • Amarah hanya ada dihati orang-orang dungu.
  • Tidak banyak orang melihat dengan kedua mata mereka danmerasa dengan hati mereka.
  • Aku yakin bahwa sikap bersahaja dan menarik diri dari kehidupan merupakan hal terbaik bagi semua orang, bagi tubuh maupun pikiran.
  • Lebih mudah mengubah plutonium dari paad mengubah sikap manusia.
  • Jika orang jadi baik hanya karena takut akan hukuman dan berharap akan ganjaran, maka kita sungguh menyesalkannya.
  • Terus semaikan benih anda, karena anda tidak tahu mana yang akan tumbuh – mungkin semuanya.

kutipan einstein

  • Cinta adalah guru yang lebih baik dibanding dengan kewajiban.
  • Kalau kita menerima batasan-batasan kita, maka kita akan melampauinya.
  • Rasa ingin tahu punya alasan sendiri untuk ada.
  • Siapapun yang mengabaikan kebenaran untuk masalah-masalah sederhana tidak bisa dipercayai untuk masalah-masalah penting.
  • Belajarlah dari masa lalu, hiduplah untuk hari ini, berharaplah untuk masa depan. Yang terpenting adalah tidak berhenti bertanya

 

A Few Don’ts by an Imagiste, Ezra Pound

Beberapa Hal yang Tak Boleh Dilakukan oleh Imajis

diterjemahkan Pringadi Abdi Surya

Sebuah imaji menghadirkan kompleksitas intelektual dan emosional dalam waktu yang singkat. Kompleksitas ini menyangkut perasaan kebebasan yang hadir seketika, lepas dari batas ruang dan waktu, terasa ada sesuatu yang tumbuh di dalam dada, yang umum kita alami ketika menyaksikan karya seni yang agung.

Bagi seorang imajis, lebih baik menyajikan satu imaji dalam seumur hidup ketimbang menciptakan beberapa karya lain.

Tulisan ini tentu bisa didebat. Ada beberapa hal yang tidak boleh dilakukan oleh para pemula untuk menciptakan baris-baris puisi, terutama ketika hendak menjadi seorang imajis.

Mari kita mulai dengan tiga aturan yang dicatat Mr. Flint, jangan jadi dogma (jangan pernah mempertimbangkan segala sesuatu sebagai dogma), tetapi hasil dari perenungan panjang, atau mungkin perenungan orang lain yang layak dipertimbangkan. Jangan kasih perhatian kritik dari mereka yang nggak pernah menulis karya yang diakui. Pertimbangkan ketidaksesuaian di antara tulisan aktual dari penyair dan dramasis Yunani, dan teori para ahli bahasa Yunani-Roma (Graeco-Roman),  yang disusun untuk menjelasankan ukuran mereka.

Bahasa

Jangan gunakan kata-kata yang berlebihan, tak boleh ada kata sifat, yang intinya, jangan terlalu mengungkapkan sesuatu.

Jangan gunakan ekspresi seperti “dim lands of peace” atau ” tanah muram perdamaian“. Hal itu memperburuk imaji. Sama saja kita mencampurkan yang abstrak dengan yang konkrit. Hal seperti itu datang dari penulis yang tidak menyadari objek alami selalu menjadi simbol yang cukup kuat.

Dobrak ketakutanmu pada abstraksi. Jangan menuliskan baris-baris medioker yang sudah digolongkan ke dalam prosa yang baik. Jangan berpikir orang-orang cerdas tidak akan menyadari ketika kau mencoba menhindari semua kesulitan tak terperanai saat menuliskan seni ini dengan cara memenggal komposisi kalimat dalam prosamu menjadi baris-baris puisi.

Hal yang membuat para ekspertis lelah hari ini akan membuat masyarakat lelah juga di kemudian hari.

Jangan bayangkan kalau seni menulis puisi itu lebih mudah dari seni musik, atau mengira kamu bisa membuat para ahli kagum sebelum kamu mengerahkan kemampuanmu dalam seni penulisan setidaknya seperti kebanyakan guru les piano mengerahkan kemampuannya dalam seni musik.

Belajarlah dari banyak seniman sebanyak kamu bisa, tetapi milikilah sebuah respek baik itu untuk mengakui kehebatan mereka, atau untuk mencoba tak terpengaruh oleh mereka.

Jangan biarkan pengaruh itu malah membuatmu hanya “mencuri” frase-frase tertentu dari satu-dua puisi yang kamu kagumi. Kalau tak salah pernah ada wartawan Turki yang tertangkap mencuri frase-frase dari penyair. Lupa-lupa ingat sih.

Hindari penggunaan hiasan, meskipun hiasan itu bagus.

Ritme dan Rima

Berikan kesempatan kepadanya, irama terbaik yang bisa ia temukan, lebih baik lagi dalam bahasa asing sehingga makna kata-kata tidak akan terlalu mengalihkan perhatiannya terhadap irama, misal Saxon Charms, Hebridean Folk Songs, sajak-sajak Dante, lirik Shakespeare—jika ia mampu memisahkan irama dari semantiknya. Biarkan ia mencacah-cacah dingin lirik Goethe hingga ke komponen suara terkecilnya, panjang pendek suku katanya, tekanannya, bahkan susunan vokal dan konsonannya.

Sebenarnya tidak butuh juga kita mengatakan kalau puisi harus bergantung pada musikalitasnya, tetapi jika bisa dibunyikan, memiliki musikalitas itu, tentu hal itu akan membuat para ahli takjub.

Coba kita pahami dulu asonansi dan aliterasi, rima langsung atau tertunda, yang sederhana atau poliponik, layaknya seorang musisi yang berharap mengenali harmoni dan detail karyanya. Tak ada waktu yang percuma bila dikerahkan dalam wilayah itu, bahkan ketika para seniman jarang membutuhkan hal itu.

Jangan bayangkan suatu hal akan baik-baik saja dalam sebuah baris hanya karena hal itu buruk jika dimasukkan ke dalam prosa.

Jangan jadi tukang fatwa, itu tugasnya para penulis di bidang filsafat. Jangan menjadi deskriptif, ingatlah bahwa para pelukis dapat menggambarkan pemandangan lebih baik dari yang kamu bisa, dan bahwa dialah yang lebih tahu akan semua itu.

Ketika Shakespeare berkata “Dawn in russet mantle clad”/fajar bertudung mantel coklat, dia menyajikan sesuatu yang tak dapat disajikan pelukis. Di sanalah, di baris tersebut, dia tidak mendeksripsikan sesuatu dengan normal, dia menyajikan atau menghadirkan sesuatu yang tak normal tersebut.

Pertimbangkanlah cara yang dilakukan ilmuwan ketimbang cara agen marketing dari produk sabun baru.

Ilmuwan tidak mengharapkan untuk diakui sebagai ilmuwan hebat sempai dia menemukan sesuatu. Dia memulainya dengan mempelajari hal-hal yang sudah ditemukan. Lalu dia berangkat dari sana. Ia sama sekali tak menyimpan keinginan dikenali sebagai seorang ternama. Ia tidak berharap koleganya bertepuk tangan atas hasil kerjanya sebagai pemula. Sayangnya, para pemula dalam puisi tidak menempatkan diri dan karyanya pada lingkungan yang tepat dan terpercaya. Mereka memamerkan karya mereka di etalase. Tidakkah ini alasan masyarakat menilai puisi tak ada bedanya dengan yang lain?

Jangan memotong kerjamu menjadi iambik yang terpisah. Jangan jadikan tiap baris berhenti di akhir, dan memulai baris berikutnya dengan susah payah. Biarkan permulaan tiap baris berikutnya berpaut dengan irama di akhir baris sebelumnya, kecuali memang iramamu membutuhkan jeda yang panjang.

Pendek kata, bertindaklah sebagai musisi, musisi yang cerdas tentunya, ketika mengerjakan bagian-bagian dari karyamu yang berkait erat dengan musikalitas. Aturan-aturan mereka berlaku juga untukmu, meski kau tidak mesti terkurung di dalamnya.

Secara alami, struktur irama tidak meruntuhkan bangunan kata-katamu, suara murni dari kata-kata itu, atau, tentu saja, makna yang diusung kata-kata itu. Mustahil, pada dasarnya, bagimu untuk menciptakan struktur irama yang cukup kuat dan memesona bila kau hanya korban dari segala kekeliruan dalam meletakkan pemberhentian baris dan jeda.

Vide further Vildrac and Duhamel’s notes on rhyme in “Technique Poetique.”

Musisi dapat mengandalkan tinggi rendah nada dan volume suara. Penyair tidak bisa. Istilah harmoni berbeda dalam puisi; dalam musik, ia merujuk pada keterpaduan suara dalam nada-nada yang berbeda. Bagaimanapun juga, dalam sajak-sajak yang baik, terdapat semacam dengungan dari tiap kata yang tersisa di telinga seperti nada dasar. Rima mesti mempunyai elemen kejutan agar bisa dinikmati; tidak perlu yang beraneh-aneh atau berlebihan, tetapi cukup, selama tepat fungsinya.

Bisa dilihat lebih jauh dalam catatan Vildrac dan Duhamel tentang Rima, dalam Technique Poetique.

Rima itulah yang akan mengejutkan imajinasi di benak pembaca, dan akan menjadi khusus, tidak bisa dierjemahkan, karena hanya akan membuai telinga jika dibaca dalam bahasa aslinya. Coba deh pertimbangkan cara Dante, jika dibandingkan dengan retorikanya Milton. Juga banyak baca karya-karya Wordsworth sebagai perbandingan biar tidak terasa hambar.

Bila ingin menggali lebih dalam lagi, baca juga Sappho, Catullus, Villon, Heine ketika ia marah-marah, Gautier ketika ia tidak kaku; atau bila itu semua membuatmu kesulitan, membaca Chaucer yang ringan akan menyenangkan. Prosa yang baik tidak akan mencelakakanmu, dan tentu akan berguna bagimu bila kau melatih diri dengan menulisnya.

Menerjemahkan juga latihan yang baik, terlebih bila kau menemukan karyamu sendiri “compang-camping setiap kali kau mencoba menulisnya kembali. Makna puisi yang diterjemahkan mesti tetap, tidak bolehcompang-comping.”

Jika kau menulis dalam bentuk simetris, jangan hanya menuliskan apa yang hendak kau tulis lalu menyempurnakan bentuk dengan serampangan.

Jangan mengacaukan suatu persepsi dengan mencoba menuliskannya dengan cara lain. Hal tersebut biasanya hasil dari kemalasan untuk menemukan pilihan kata yang pas. Meski ada pengecualiannya.

Tiga larangan sederhana di awal sebenarnya akan langsung menyingkirkan sembilan dari sepuluh puisi buruk yang dianggap bagus selama ini; dan akan menghindarkanmu dari kejahatan dalam menulis puisi. “…mais d’abord il faut etre un poète—tetapi sebelumnya, mesti menjadi penyair,” sebagaimana yang dikatakan MM. Duhamel dan Vildrac dalam akhir buku kecilnya, Notes sur la Technique Poetique; meski besar kemungkinan di Amerika, seseorang akan menelannya mentah-mentah, kalau tidak, mana mungkin mereka hidup di negeri menyebalkan itu!

 

Teks asli:

https://www.poetryfoundation.org/poetrymagazine/articles/58900/a-few-donts-by-an-imagiste

Sejarah Ejaan Bahasa Indonesia

Ejaan Bahasa Indonesia (disingkat EBI) adalah ejaan bahasa Indonesia yang berlaku sejak tahun 2015 berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2015 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Nah, sebelum EBI berlaku, kita memiliki beberapa jenis ejaan lho. Apa saja?

ejaan bahasa Indonesia

1. Ejaan Van Ophuysen
Ejaan Van Ophuysen merupakan ejaan pertama yang dimiliki oleh bahasa Indonesia. Ejaan ini ditetapkan tahun 1901. Perancang ejaan Van Ophuysen adalah orang Belanda yakni Charles Van Ophusyen dengan dibantu Tengku Nawawi yang bergelar Soetan Ma’moer dan M. Taib Soetan Ibrahim. Ejaan ini menggunakan huruf latin dan bunyinya hampir sama dengan tuturan Belanda.

Ejaan ini digunakan untuk menuliskan kata-kata Melayu menurut model yang dimengerti oleh orang Belanda, yaitu menggunakan huruf latin dan bunyi yang mirip dengan tuturan Belanda, antara lain:

  • huruf ‘j’ untuk menuliskan bunyi ‘y’, seperti pada kata jang, pajah, sajang.
  • huruf ‘oe’ untuk menuliskan bunyi ‘u’, seperti pada kata-kata goeroe, itoe, oemoer (kecuali diftong ‘au’ tetap ditulis ‘au’).
  • tanda diakritik, seperti koma ain dan tanda trema, untuk menuliskan bunyi hamzah, seperti pada kata-kata ma’moer, ‘akal, ta’, pa’, dinamaï.

Huruf hidup yang diberi titik dua diatasnya seperti ä, ë, ï dan ö, menandai bahwa huruf tersebut dibaca sebagai satu suku kata, bukan diftong, sama seperti ejaan Bahasa Belanda sampai saat ini.

2. Ejaan Republik/Ejaan Soewandi
Edjaan Republik berlaku sejak 17 Maret 1947 menggantikan ejaan pertama yang dimiliki bahasa Indonesia saat itu. Ejaan ini merupakan upaya pemerintah untuk mengganti ejaan Van Ophuysen yang disusun oleh orang Belanda dan merupakan ejaan resmi pertama yang disusun oleh orang Indonesia.
Ejaan republik juga disebut dengan ejaan Soewandi. Mr. Soewandi merupakan seorang menteri yang menjabat sebgai menteri Pendidikan dan kebudayaan. Perbedaan ejaan Soewandi dengan ejaan Van Ophuysen ialah:
a. Huruf oe diganti dengan u.
Contohnya dalam ejaan Van Ophuysen penulisannya ‘satoe’, dalam ejaan Republik menjadi ‘satu’.
b. Huruf Hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan huruf K.
Contohnya: maklum, pak, tak, rakjat.
c. Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2
Contohnya: kupu2, main2.
d. Awalan di dan kata depan di kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang mendampinginya. Kata depan ‘di’ pada contoh dirumah, disawah, tidak dibedakan dengan imbuhan ‘di-‘ pada dibeli, dimakan.
3. Ejaan Melindo
Ejaan ini dikenal pada akhir tahun 1959. Sidang perutusan Indonesia dan Melayu (Slamet Mulyana-Syeh Nasir bin Ismail) menghasilkan konsep ejaan bersama yang kemudian dikenal dengan nama Ejaan Melindo (Melayu-Indonesia). karena perkembangan politik selama tahun-tahun berikutnya maka diurungkan peresmian ejaan tersebut.
4. Ejaan yang Disempurnakan (EyD)
Ejaan ini berlaku sejak 23 Mei 1972 hingga 2015, atas kerja sama dua negara yakni Malaysia dan Indonesia yang masing-masing diwakili oleh para menteri pendidikan kedua negara tersebut. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menerbitkan buku yang berjudul Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan yang tercatat pada tanggal 12 Oktober 1972. Pemberlakuan Ejaan yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah ditetapkan atas dasar keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 0196/U/1975.
Sebelum EYD, Lembaga Bahasa dan Kesusastraan, (sekarang Pusat Bahasa), pada tahun 1967 mengeluarkan Ejaan Baru (Ejaan LBK). Ejaan Baru pada dasarnya merupakan lanjutan dari usaha yang telah dirintis oleh  Ejaan Melindo. Para pelaksananya pun di samping terdiri dari panitia Ejaan LBK, juga dari panitia ejaan dari Malaysia. Panitia itu berhasil merumuskan suatu konsep ejaan yang kemudian diberi nama Ejaan Baru. Panitia itu bekerja atas dasar surat keputusan menteri pendidikan dan kebudayaan No. 062/67, tanggal 19 September 1967.
Ejaan Baru di Malaysia disebut Ejaan Rumi Bersama (ERB) sementara Indonesia menggunakan Ejaan yang Disempurnakan (EyD). EyD mengalami dua kali revisi, yakni pada tahun  1987 dan 2009.

Beberapa kebijakan baru yang ditetapkan di dalam EyD, antara lain:

  • Huruf f, v, dan z yang merupakan unsur serapan dari bahasa asing diresmikan pemakaiannya.
  • Huruf q dan x yang lazim digunakan dalam bidang ilmu pengetahuan tetap digunakan, misalnya pada kata furqan, dan xenon.
  • Awalan “di-” dan kata depan “di” dibedakan penulisannya. Kata depan “di” pada contoh di rumah, di sawah, penulisannya dipisahkan dengan spasi, sementara “di-” pada dibeli atau dimakan ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.
  • Kata ulang ditulis penuh dengan mengulang unsur-unsurnya. Angka dua tidak digunakan sebagai penanda perulangan

Secara umum, hal-hal yang diatur dalam EyD adalah:

  1. Penulisan huruf, termasuk huruf kapital dan huruf miring.
  2. Penulisan kata.
  3. Penulisan tanda baca.
  4. Penulisan singkatan dan akronim.
  5. Penulisan angka dan lambang bilangan.
  6. Penulisan unsur serapan.

5. Ejaan Bahasa Indonesia

Perbedaan Ejaan Bahasa Indonesia dengan EyD adalah:

  1. Penambahan huruf vokal diftong. Pada EyD, huruf diftong hanya tiga yaitu ai, au, oi, sedangkan pada EBI, huruf diftong ditambah satu yaitu ei (misalnya pada kata geiser dan survei).
  2. Penggunaan huruf tebal. Dalam EyD, fungsi huruf tebal ada tiga, yaitu menuliskan judul buku, bab, dan semacamnya, mengkhususkan huruf, serta menulis lema atau sublema dalam kamus. Dalam EBI, fungsi ketiga dihapus.