Catatan Pringadi

Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan

Category: Tips

Menikmati Keindahan Curug di Maribaya Resort

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Bagi yang senang liburan ke Bandung, nama Maribaya pasti sudah tidak asing lagi. Apalagi, setelah ada Maribaya Lodge, yang foto-fotonya happening banget di Instagram. Bukan cuma Maribaya Lodge, di Maribaya ada berbagai pilihan tempat wisata seperti Taman Hutan Raya dan Maribaya Resort.

Satu hal yang perlu dicatat, kalau mau ke Maribaya jangan lewat Dago. Kalau hari libur, macet sekali. Saya sendiri karena berumah di Cigadung, dan memakai motor, jadi dari Cigadung, ya tinggal ke atas lewat Dago Atas. Nah, sebelum saya pindah ke Jakarta beberapa bulan lalu, saya sempat berkunjung ke Maribaya Resort. Dua kali pula.

Maribaya memiliki air terjun/ curug yang sebenarnya terdiri dari 3 rangkaian. Dua di antaranya yakni Curug Cikawari dan Curug Cigulung ada di Maribaya Resort. Satu lagi bernama Curug Cikoleang. Ada yang bilang 4 dengan memasukkan Curug Omas sebagai Curug Maribaya, padahal bukan.

Curug Cikawari
Curug Cigulung

Maribaya berasal dari kata “Mari” yang berarti sehat dan “Baya” yang berarti bahagia. Maribaya juga memiliki legenda.

Dahulu kala, ada seorang petani miskin yang bernama Eyang Raksa Dinata yang mempunyai seorang anak gadis yang cantik jelita bernama Maribaya. Karena sangat cantik, bapaknya khawatir kalau anaknya jadi rebutan bagi para pemuda di daerahnya. Beliau pun mendapatkan ilham dan pamit pergi ke Tangkuban Perahu. Ia bertapa di sana dan dalam tapanya, ia didatangi oleh seorang kakek yang memberikannya dua bokor (pinggan besar bertepi lebar) berisi air. Salah satu bokor tersebut harus dibawa ke arah barat dan satu lagi di bawa ke arah timur.

Air yang ditumpahkan oleh bapaknya itu sekarang dikenal sebagai Situ Lembang. Bapaknya juga meminta kepada Maribaya untuk menumpahkan air dalam bokor tidak jauh dari rumahnya.

Beberapa hari kemudian, keajaiban terjadi. Di tempat Maribaya menumpahkan air, muncul mata air panas yang mengandung belerang. Air panas tersebut berkhasiat mengobati berbagai penyakit. Lalu tempat itu menjadi ramai dikunjungi penduduk sekitar yang mau berendam di kolam air panas itu. Dan mereka melemparkan uang logam ke dalam kolam sebagai imbalan.

Kolam air panas ini diwariskan kepada Maribaya sehingga daerah itu terkenal dan dinamakan Maribaya.

Tiket masuk Maribaya Resort pun terjangkau. Hanya Rp35.000,- dengan bonus air mineral. Tempat parkirnya luas. Sayangnya, untuk menikmati fasilitas lain seperti pemandian air panas, permainan anak, kita harus membayar lagi. Tapi tetap, harga Rp35.000,- itu pantas untuk pengelolaan dan kenyamanan yang kita dapatkan selama berkunjung ke sini.

Mengenal Air Terjun Oehala di Soe

Published / by Pringadi As / 1 Comment on Mengenal Air Terjun Oehala di Soe
Air terjun Oehala
Berenang di Oehala

Perjalanan dinas ke Kupang beberapa bulan silam meninggalkan kenangan yang berarti. Bakda perjalanan dinas ke Kanwil Perbendaharaan Provinsi NTT, aku melanjutkan perjalanan pribadi seorang diri menuju Mollo, Timor Tengah Selatan. Di sana ada seorang teman, cerpenis bernama Dicky Senda, yang pertama kutemui di residensi penulis Asean Literary Festival.

Sebenarnya ingin sekali aku mengikuti trip singkat yang ia adakan dalam tajuk desa wisata yang tengah ia galang. Ia bercerita mengenai kebudayaan orang Mollo, hutan penyihir, tomat mungil asli Mollo, jagung bose, dan puncak Fatumnasi yang tertinggi di NTT. Namun, karena alasan keterbatasan waktu (dan fisik), aku tak mampu mengikuti perjalanan itu.

Selepas dari hotel, aku tadinya ingin pergi ke terminal. Namun, malasnya menaiki bis adalah ngetem, sehingga aku memilih naik travel saja. Meski sama saja, aku harus menunggu juga. Tapi, setidaknya naik travel Avanza ini lebih nyaman.

“Nanti kalau sudah sampai Soe, bilang ya?” ujar Senda lewat pesan singkat.

Soe berjarak 110-an kilometer dari Kupang. Ibukota dari Timor Tengah Selatan ini dijuluki sebagai kota beku, karena suhu udaranya yang lebih dingin dari wilayah lain. Perjalanan ke sana begitu eksotis dengan pohon flamboyan yang baru berbunga, berganti pemandangan laut dari atas bukit, lalu ladang-ladang yang membentang dengan hewan ternak yang dilepas begitu saja, penjual jagung rebus manis yang murah meriah (10.000 dapat 6), lalu jalan berkelak-kelok menaiki bukit kembali, hutan rimba, dan jalan yang dipenuhi kupu-kupu. Semua itu dapat kita nikmati sampai kita rasakan suhu udara lebih dingin, itu tandanya kita sudah mendekati Soe.

Sesampainya di Soe, ternyata sinyal cukup susah. Setelah kepayahan menghubungi Senda, akhirnya tersambung juga dan kami bisa bertemu di depan sebuah penginapan. Seorang temannya sedang di hotel itu, baru saja mendaki dan bermalam di Fatumnasi.

Setelah menghabiskan sepiring makanan Padang (terpujilah warung Padang yang ada di mana-mana), Senda mengajakku mengunjungi air terjun Oehala. Tak jauh, katanya. Tak sampai setengah jam dari Soe.

Akses air terjun ini terbilang cukup mudah. Dari parkiran kendaraan, kita hanya harus turun melalui medan yang sudah disiapkan (disemen) sehingga terasa lebih mudah. Dan sungguh, pemandangan yang kusaksikan membuatku sumringah. Air terjun ini bertingkat-tingkat, dengan air yang menggoda minta diberenangi.

Berada di kaki gunug mutis, air terjun ini disebut juga air terjun tujuh tingkat karena undakannya yang ada tujuh. Oehala berasal dari bahasa Timor atau bahasa Dawan yang berarti air tempat persembahan, atau bisa juga air kedamaian.Sesuai namanya, air terjun yang berada di tengah hutan rimba ini betul-betul menawarkan kesejukan dan kedamaian. Tak ragu, aku langsung melepas baju dan berenang di air terjun ini. Sungguh segar sekali.


Beruntungnya lagi, pada saat ke sana, Oehala sedang sepi-sepinya. Bisa dilihat ‘kan, aku bisa berfoto sendirian dengan latar air terjun ini? Indah, bukan? Di bawahnya sebenarnya masih ada tingkat selanjutnya, namun aku sudah kadung tergoda untuk berenang, berenang dan berenang.

Aku bertanya-tanya bagaimana asal-usul Oehala, namun Senda bilang dia tidak tahu. Oehala memang terkenal dari dulu sebagai tempat beristirahat orang Soe dan sekitarnya. Aku pikir Oehala bisa menjadi magnet yang luar biasa bagi wisatawan. Sayangnya untuk fasilitas yang ada kurang memadai. Tidak ada toilet yang layak. Tempat beristirahat berupa lopo (saung khas NTT) kurang terawat. Penjual makanan dan ala-ala khas NTT pun bisa dibilang tak ada. Tapi, mungkin saja, itulah yang tetap menjaga kealamian Oehala.

Kamu tertarik buat ke sini juga? Yuk!

Teknik Menulis Puisi: Kenning

Published / by Pringadi As / 1 Comment on Teknik Menulis Puisi: Kenning

oleh Dedy Tri Riyadi

Kenning berasal dari kata “kenna eitt vio” yang artinya adalah “mengekspresikan sesuatu hal dengan menggunakan hal-hal lainnya.” Kenning sejatinya bermakna teori. Pemahaman lainnya berarti “untuk memahami,” karena kenning adalah pendefinisian satu kata menjadi beberapa kata yang menggambarkan kata tersebut. Secara ringkas, kenning adalah kata-kata yang digunakan untuk mendeskripsikan sesuatu. Definisi lain dari kenning adalah “compressed metaphor,” meskipun sebenarnya yang terjadi adalah membuat sebuah metafora dari dua tiga kata yang mencerminkan kata yang (akan) diwakili itu.

Kenning berasal dari daratan Eropa Utara. Puisi-puisi lama Nordik / Viking menggunakan kenning dalam pembuatannya, lalu kenning masuk ke dataran Inggris Raya. Beberapa contoh penerapan kenning bisa ditemukan dalam khazanah literasi mereka, seperti
a. bone-house yang berarti tubuh,
b. beadolema (battle-light) yang berarti pedang,
c. wave-floater berarti kapal,
d. hwaelweg (whale-way/road) artinya laut,
e. fischestel (fish hotel / fish home) artinya juga laut,
f. seolbaeth (seal-bath) itu laut juga,
g. bright-sweetnes, mendeskripsikan minuman berwarna terang dan berasa manis, yaitu mead (sejenis minuman berbasis madu),
h. Awakened Sleeper, menceritakan sesuatu yang sudah tertidur lalu bangun kembali, yaitu hantu,
i. Gold friend, mereka yang memiliki harta berupa emas, yaitu raja-raja atau bangsawan,
j. Ground’s embrace, atau ground’s hug, yaitu mereka yang jatuh ke pelukan bumi atau kematian,
k. Earth-Maker, pencipta jagad, siapa lagi kalau bukan Tuhan yang dimaksud,
l. Ship’s guide, yang berarti bintang, karena dulu kapal berlayar dengan bantuan rasi bintang untuk menunjukkan arah.

Kenning di sana diajarkan kepada anak-anak, untuk membuat puisi atau teka-teki. Sebenarnya, ini memberikan jalan agar anak-anak itu paham bagaimana caranya mengamati sesuatu dan mendeskripsikannya, sebelum melangkah lebih lanjut pada membuat metafora. Ambil contoh, ini tentang bagaimana mereka mendeskripsikan burung menggunakan kenning.
Burung:
1. Pemakan cacing,
2. Pembuat sarang,
3. Pengisi bantal (tentu maksudnya, bulu-bulu unggas itu biasa digunakan untuk pengisi bantal),
4. Penggiling biji
5. Pelahap ikan (tentu maksudnya burung pelikan / komodor yang suka makan ikan sekali telan),
6. Penerbang cekatan,
7. Buronan kucing,
8. Penghuni pohon,
9. Penyambar akrobatik,
10. Pelantun kicauan, dan masih banyak lagi.

Dalam perkembangannya, kenning juga dipergunakan untuk istilah-istilah yang sering kita dengar seperti first lady atau dalam bahasa Indonesia Ibu Negara, bookworm atau kutubuku untuk para penikmat buku, pertemuan empat mata, mind-blowing, kickass, badass, dan sebagainya.

Lalu, bagaimana jika dikaitkan dengan puisi? Puisi dengan kenning ini biasanya adalah puisi dengan kata pada judul sebagai hal yang dijabarkan dalam tubuh puisinya. Seperti contoh berikut;

Parents

Nappy changer
Dinner maker
Face kisser
Big huger
Mistake forgiver
Money giver
Taxi driver

Saya mencoba memodifikasi kenning ini untuk membuat puisi yang berbeda dengan puisi model kenning yang sudah ada itu. Hal ini karena kenning seolah hanya mengumpulkan metafora-metafora atau memberikan beberapa pengandaian hanya untuk satu hal saja. Jadi semua larik dalam puisi kenning itu akan merujuk pada satu hal saja. Untuk itu, rasanya perlu dikembangkan lagi.

Sebagai bahan, saya ambil berita ringan ini: Keren! Ada Taman Layang di Seoul. Judulnya saja. Karena judul sudah pasti menggambarkan isi. Nah, judul ini yang hendak kita main-mainkan dengan teknik kenning ini.

Keren menurut KBBI berarti tampak gagah dan tangkas, atau perlente (berpakaian bagus, berdandan rapi, dan sebagainya). Saya kenning-kan kata “keren” menjadi “Ia yang dilebihkan dari yang lainnya.” Kata selanjutnya adalah “ada.” Saya kenning-kan jadi “dimunculkan ke hadapanmu.” Taman, menjadi, “sekumpulan wangi dan warna.” Layang, menjadi, “dari suatu ketinggian.” (di) Seoul, menjadi, “jauh dari sisimu.”

Maka judul berita tadi jika disusun akan menjadi seperti ini:

Ia yang dilebihkan dari yang lainnya
telah dimunculkan ke hadapanmu,
sebagai sekumpulan wangi dan warna
dari suatu ketinggian, yang jauh
dari sisimu.

Bagaimana, asyik bukan?

Residensi Penulis ASEAN di Asean Literary Festival 2017

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

 

Setiap Tahun Festival Sastra Asean dimulai dengan program residensi. Penulis dari ASEAN & non ASEAN bersama untuk belajar dan berbagi.

Penulis yang dipilih dari program residensi juga akan menjadi pembicara festival.

Tahun ini, program residensi akan diadakan pada tanggal 27 Juli – 2 Agustus, diikuti oleh festival 3 – 6 Agustus

Apakah anda penulis dari ASEAN, Timor-Leste, dan Jepang?  Ikuti  Program Residensi 2017 untuk Festival Sastra Asean !

Kriteria kelayakan :
1. Penulis dari negara ASEAN, Timor-Leste dan Jepang
2. Berusia 18-40
3. Mampu berbahasa Inggris.
4. Bersedia mengikuti seluruh program dan tinggal di jakarta mulai 27 Juli – 6 Agustus
5. Bersedia menulis dan mempublikasikan pengalaman mereka selama mengikuti program dalam bahasa apa pun, dalam bentuk dan platform apa pun.

Program ini mencakup :
Penggantian tiket pesawat
akomodasi
konsumsi dan transportasi lokal

Kirimkan buku atau 5 short stories atau 5 esai atau 10 puisi beserta CV  Anda ke :

ASEAN LITERARY FESTIVAL OFFICE

Jl. Muara no. 11 RT 02/03 Rancho Tanjung Barat

Jakarta Selatan, Indonesia 12530 atau email ke : aseanresidency@gmail.com

Ditunggu sebelum 5 Juni 2017

Kutipan Kata-Kata Penulis Dunia

Published / by Pringadi As / Leave a Comment
“Seorang penulis membutuhkan kesepian, dan dia mendapatkan bagiannya itu. Dia membutuhkan cinta, dan ia dapat berbagi dan juga tidak membagi cinta. Dia membutuhkan persahabatan. Bahkan, ia membutuhkan alam semesta. Menjadi penulis sesungguhnya menjalani hari-hari layaknya seorang pemimpi yang memiliki kehidupan ganda”
– Jorge Luis Borges.
“Setiap manusia memiliki ratusan orang yang terpisah yang hidup di bawah kulitnya. Bakat penulis adalah kemampuannya untuk memberikan nama-nama mereka yang terpisah, identitas, kepribadian dan mereka berhubungan dengan karakter lain yang tinggal dengan dia”
– Mel Brooks
“Sastra adalah sebuah kemewahan, fiksi adalah sebuah kebutuhan. ”
– GK Chesterton
“Menulis buku adalah sebuah petualangan. Untuk memulainya, (ibaratkan) ini adalah sebuah mainan dan hiburan. Kemudian menjadi simpanan, maka menjadi master, maka menjadi tiran. Tahap terakhir adalah bahwa sama seperti Anda tentang untuk berdamai dengan perbudakan, Anda membunuh rakasa, dan melemparkannya kepada publik”
– Sir Winston Churchill
“Perbedaan antara fiksi dan kenyataan? Fiksi harus masuk akal”
– Tom Clancy
“Dunia Penulisan adalah seni menulis sesuatu yang akan dibaca dua kali, sedangkan jurnalisme apa yang akan dibaca sekali”
–Cyril Connolly
“Lebih baik menulis untuk diri Anda sendiri dan tidak umum, daripada menulis untuk publik dan tidak memiliki diri”
– Cyril Connolly
“Rahasia penulisan yang baik adalah untuk mengatakan hal yang lama dengan cara baru atau mengatakan sesuatu yang baru dengan cara lama”
– Richard Harding Davis
“Saya senang menjadi penulis. Apa yang saya tidak tahan adalah dokumen”
– Peter De Vries
“Ada satu jenis kebaikan dari penulis – yang mati.”
– James T. Farrell
“Menulis itu mudah. Yang Anda lakukan adalah menatap selembar kertas kosong sampai tetes bentuk darah di dahi”
– Gene Fowler Escaeva
“Hanya mereka ‘hal-hal yang indah yang terinspirasi oleh kegilaan dan ditulis oleh alasan” – André Gide
“Pengarang adalah seorang yang bodoh yang tidak puas memiliki orang-orang yang bosan hidup dengan dia, bersikeras menyiksa generasi yang akan datang”
– Montesquieu
“Ketika sesuatu dapat dibaca tanpa usaha, usaha besar telah dilakukan dalam penulisannya”
– Enrique Jardiel Poncela
“Jika Anda tidak memiliki kesepakatan mendapatkan penghasilan enam digit pada saat Anda sedang berumur tiga puluh lima, Anda sudah gagal. Lalu, mengapa Anda ingin menjadi penulis? ”
– James Atlas
“Aku tidak percaya hal ini. Semua aktivitas menulis adalah sulit. Yang paling dapat Anda harapkan adalah hari ketika berjalan cukup mudah. Tukang pipa tidak mendapatkan blok tukang ledeng, dan dokter tidak mendapatkan blok dokter, mengapa penulis hanya menjadi profesi yang memberikan nama khusus pada kesulitan kerja, dan kemudian mengharapkan simpati untuk menjawab hal itu?”
– Philip Pullman
“Untuk menyelesaikan (penulisan) adalah kesedihan untuk penulis, kematian yang sedikit. Dia menempatkan kata terakhir dan hal itu dilakukan. Tapi itu tidak benar-benar dilakukan. Cerita berlanjut dan meninggalkan penulis di belakang, karena tidak ada cerita yang pernah dilakukan”
– John Steinbeck
“Ada profesi yang sangat sedikit di mana orang-orang hanya duduk dan berpikir keras selama lima atau enam jam sehari dengan sendirinya. Tentu saja mengapa Anda ingin menjadi penulis – karena Anda memiliki kebebasan untuk melakukan hal itu, tapi begitu Anda memiliki kebebasan yang Anda juga memiliki kewajiban untuk melakukannya. ”
– Tobias Wolff
“Satu-satunya alasan-Inigo Deleon ‘untuk menjadi seorang penulis profesional adalah bahwa Anda tidak dapat membantu itu”
– Leo Rosten
“Tulisan harus dibaca, tapi tidak melihat atau mendengar” –Daphne du Maurier
“‘Inspirasi adalah indah ketika itu terjadi, tetapi penulis harus mengembangkan pendekatan untuk sisa waktu … Yang menunggu terlalu lama” – Leonard Bernstein
“‘Cara Menulis Cerpen Nasihat’ untuk penulis: Kadang-kadang Anda hanya perlu berhenti menulis. Bahkan sebelum Anda mulai” –Stanislaw J. Lec
“Jika seorang penulis menulis hanya untuk menghabiskan waktunya, Anda harus mengistirahat pena dan membuangnya” – Victor Hugo
“Cara Anda mendefinisikan diri sendiri sebagai penulis adalah bahwa Anda menulis setiap kali Anda punya waktu luang sebentar. Jika Anda tidak berperilaku seperti itu Anda tidak akan pernah melakukan apa-apa” – John Irving
“Untuk seorang penulis sejati setiap buku harus menjadi awal baru di mana ia mencoba lagi untuk sesuatu yang melampaui pencapaian. Dia harus selalu mencoba untuk sesuatu yang belum pernah dilakukan atau orang lain telah mencoba dan gagal. Kemudian kadang-kadang, dengan keberuntungan, dia akan berhasil. ” – Ernest Hemingway
“Seorang penulis teliti, dalam setiap kalimat yang ia menulis, akan bertanya pada diri sendiri setidaknya empat pertanyaan, sehingga: 1. Apa yang sedang saya coba katakan? 2. Kata-kata apa yang akan menyatakannya? 3. Apa foto atau idiom akan membuatnya lebih jelas? 4. Apakah gambar ini cukup segar untuk berpengaruh?” –George Orwell
“Penulis bukanlah pembuat manisan, dealer kosmetik, atau penghibur. Dia adalah orang yang telah sadar dan bertanggungjawab menandatangani kontrak dengan-Nya” – Anton Chekhov
“Menulis tidak harus sesuatu yang memalukan, tetapi melakukannya secara pribadi dan mencuci tangan Anda sesudahnya” – Robert Heinlein
“Butuh waktu lima belas tahun untuk menemukan bahwa saya tidak punya bakat untuk menulis, tapi aku tidak bisa berhenti karena pada saat itu aku terlalu terkenal” – Robert Benchley
“Keterampilan menulis adalah untuk menciptakan sebuah konteks di mana orang lain bisa berpikir” – Edwin Schlossberg
‘Menulis adalah satu-satunya profesi di mana tidak ada yang menganggap Anda konyol jika Anda memperoleh uang.” – Jules Renard
“Jangan pernah memberi tahu siapapun bahwa Anda sedang menulis buku, mau diet, olahraga, mengambil kursus, atau berhenti merokok. Mereka akan mendorong Anda untuk mati”  – Lynn Johnston
“Jika Anda tidak punya waktu untuk membaca, Anda tidak punya waktu atau alat untuk menulis” – Stephen King
“Bukan karena menulis adalah banyak kesenangan, tetapi tidak untuk menulis adalah rasa sakit ” – Frank Laurance Lukas

Tulisan Cicit Cut Meutia

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

oleh: Dara Meutia Uning

Sumber: https://indonesiana.tempo.co/read/105141/2016/12/22/darameutia/meutia-dan-saya#.WFvWS2HnC8w.facebook

Perkenalan saya dengan Cut Nyak Meutia berawal dari nama. Dari empat bersaudara, hanya nama saya yang tak menggunakan nukilan dari bahasa Arab. Saya cemburu karena nama saya terkesan amat ‘duniawi’. Seolah-olah saya kurang didoakan.

“Papa berniat, kalau punya anak perempuan akan diberi nama ‘Meutia’,” kata Mama mengutip Papa, “seperti nama nenek Papa.” Waktu itu, saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Mama bilang, nenek Papa amat pemberani.

Ketika kami kecil, Papa pernah membelikan buku-buku cerita tentang pahlawan nasional. Salah satunya tentang Cut Meutia. Tapi, seingat saya, Papa tak pernah menyebut kalau Cut Nyak Meutia itulah nenek beliau. Saya pikir, kebetulan saja nenek saya bernama Meutia, mirip dengan pahlawan itu.

Kira-kira ketika saya SMP, Papa tiba-tiba memajang foto seorang laki-laki yang tampak asing di ruang tengah. Wajahnya amat mirip Papa. Laki-laki di foto itu, Teuku Radja Sabi, putera semata wayang Cut Nyak Meutia. Ayah kandung Papa. Papa bilang, dia baru temukan foto itu di salah satu buku yang mengisahkan tentang Cut Meutia. Papa tak ingat wajah ayahnya karena beliau meninggal dunia ketika Papa berusia tiga tahun.

Setengah tak percaya, saya segera lalap buku yang Papa maksud. Di buku itu tertera silsilah. Nama Papa tercatat sebagai salah satu cucu Cut Meutia. Setengah tak percaya awalnya. Tapi, mendengar penjelasan dari paman, bibi, dan sepupu-sepupu yang tinggal di Aceh, akhirnya mau tak mau saya terima saja kenyataan itu.

Beberapa teman dekat, pernah saya beritahu. “Pantesan, Dar, elo bawaannya pengen perang melulu,” seloroh salah satu teman saya. Saya hanya cengengesan.

Keturunan pahlawan? Mimpi saja tak pernah. Terus terang saya tak ingin gembar-gembor dengan kenyataan itu. Bukan begitu cara Papa membesarkan kami. Karena itu, kehidupan kami pun bergulir seperti biasa.

 

***

 

Sejak itu, saya selalu penasaran dengan sosok Cut Nyak Meutia dan perempuan Aceh. Buku-buku Papa tentang Aceh, saya baca dengan tekun. Delapan tahun lalu, waktu saya mengadakan penelitian di Aceh tentang para mantan kombatan perempuan alias ex pasukan inong balee, perpustakaan Ali Hasjmy di Banda Aceh juga saya datangi.

Dalam berbagai bacaan itu, Cut Nyak Meutia senantiasa digambarkan dalam bentuk yang amat ideal. Terutama dalam buku terbitan lokal. Namun, pujian yang ditujukan pada perempuan kelahiran 1870 itu juga dikutip dari tulisan dan laporan prajurit Belanda.

Tapi, bagi saya, Cut Nyak Meutia memberi kesan mendalam dalam beberapa hal.

Pertama, dari sejarah pernikahannya. Cut Meutia tercatat menikah tiga kali. Pernikahan pertama dengan Teuku Syamsarif adalah hasil perjodohan—hal yang lazim dalam adat istiadat Aceh di kalangan bangsawan pada saat itu. Namun, suami pertamanya itu lebih condong dan kooperatif dengan Belanda. Cut Meutia tak suka, sehingga perceraian tak terelakkan. Cut Meutia kemudian menikah dengan adik mantan suami pertamanya, yakni Teuku Muhamad, atau yang lebih dikenal sebagai Teuku Cik di Tunong. Suami keduanya anti Belanda dan aktif berjuang melawan pendudukan Belanda.

Setelah suami keduanya gugur karena tertangkap Belanda dan dijatuhi hukuman mati, Cut Meutia menikah lagi dengan Pang Nangroe—tangan kanan suaminya dalam perjuangan. Pernikahan itu adalah wasiat almarhum Teuku Cik di Tunong—demi kelanjutan perjuangan melawan Belanda. Setelah lama menimbang, walaupun banyak uleebalang siap meminang dirinya, Cut Nyak Meutia memilih untuk mengikuti wasiat suaminya itu. Keputusan menikahi pria bukan dari kalangan bangsawan itu, amat tidak lazim. Toh, dia bersiteguh dan kembali bertempur dengan suami ketiganya di hutan dan pegunungan—mengabaikan ajakan Ibu Mertua dan iparnya agar menyerah dan ‘hidup tenang’ tanpa berperang lagi.

Menurut saya, itu menunjukkan Cut Nyak Meutia itu perempuan yang berjiwa merdeka. Dia memilih untuk menikahi laki-laki berdasarkan ideologi dan komitmennya pada perjuangan. Istilah saya, ente lembek dan menye-menye pro-Belanda, gue tendang! Dia amat percaya diri dan lebih nyaman dengan pilihannya sendiri, meski harus hidup susah di hutan. Menikah dan hidup nyaman ketika kemerdekaan terpasung karena dikontrol penjajah, bukan pilihan hidupnya.

Kedua, Cut Nyak Meutia adalah perempuan cerdas dan tangguh. Dia dibesarkan ketika Masjid Raya Banda Aceh baru saja dibumihanguskan Belanda pada 1873. Perlawanan rakyat Aceh sedang membara, sehingga tak heran, di usia belia, perempuan ini telah belajar cara berperang. Keahliannya dalam berperang mumpuni. Bukan hanya sekadar mengatur strategi, tapi juga lihai bela diri dan menggunakan senjata. Dia bukan tipe perempuan yang hanya bertindak di belakang layar (misalnya, ‘cuma’ mengatur strategi atau mengurus anak atau logistik di garis belakang), tapi dia juga aktor utama dalam pertempuran di garis depan, yang tak kalah vital perannya bagi moral pasukan.

Di Aceh, laki-laki dan perempuan saling membantu dalam pertempuran melawan Belanda. Hal itu dicatat dengan detail oleh para prajurit Belanda. Menurut mereka, perempuan Aceh turun ke medan pertempuran dengan semangat yang mengalahkan lelaki. Kemampuan mereka dalam bertempur juga bukan main-main. Karena itu, saya tak percaya, kalau Cut Meutia hanya duduk-duduk mengajar mengaji sambil menanti suaminya pulang perang di persembunyian dalam hutan.

Lho? Kan dia punya anak? Selama Cut Meutia hidup di hutan, literatur yang saya baca menyebutkan, Teuku Raja Sabi, putera semata wayangnya, diasuh dan dibesarkan oleh para lelaki maupun perempuan dalam pasukan pimpinan ibunya. Mulai dari ulama yang menjadi guru mengaji hingga guru bela diri.  Jadi, kalau jaman sekarang, ibu-ibu lain pamit berangkat kerja, pergi mengaji atau berdagang, Cut Nyak Meutia pamit untuk pergi berperang. “Dan jika Ibu tak kembali, tugas kamu selanjutnya melanjutkan perjuangan kami,” begitulah senandungnya ketika menidurkan anak tunggalnya itu.

Ketiga, Cut Nyak Meutia membuktikan bahwa perempuan dapat memberi banyak hal bagi bangsa, tanpa harus dibatasi oleh aturan dan norma yang mengungkung. Perempuan dinilai dari apa yang telah disumbangkan bagi kepentingan orang banyak. Dari pengorbanan dan pengabdiannya kepada rakyat. Bukan dari pakaian atau perhiasan yang dikenakan, bukan dari harta yang dimiliki, apalagi kedudukan.

Cut Nyak Meutia dipaparkan lebih sering tinggal di hutan pergi berperang ketimbang hidup di kampung.  Dia meninggalkan hidup yang nyaman sebagai bangsawan, dan melepaskan segala atribut yang menyertainya. Dia mengorbankan dua suaminya. Dan dia juga merelakan nasib anak tunggalnya ketika dia memilih untuk bertempur hingga titik darah penghabisan.

Perilaku dan tingkah lakunya itu membuat rakyat amat mencintainya. Sosoknya menjadi legenda. Bahkan tak sedikit kisah tentang dirinya menjadi mitos.

Saya selalu terbayang pertempuran terakhirnya. Mosselman, komandan pasukan yang menyerbu persembunyian Cut Meutia dan pasukannya di hulu Krueng Putoe pada 25 Oktober 1910 itu, memberikan gambaran detail. Cut Meutia memimpin pasukan dengan rambut tergerai dan teriakan komando melengking. Perlawanannya tak mengendur meski dirinya telah terkepung dan seluruh pasukannya telah gugur. Perintah menyerah senantiasa disambut dengan terjangan ke arah para pengepungnya, dan memakan nyawa dua tiga serdadu.

Peluru yang menembus kepala dan dadanya akhirnya menghentikan perjuangannya. Jenazahnya dimakamkan dengan takzim, meski dalam keterbatasan, oleh pasukan Belanda yang mengalahkannya. Mereka memberi penghormatan militer pada Cut Meutia karena perlawanannya yang gagah berani.

Perempuan pemberani itu, nenek buyut saya. Dia pahlawan kita.

***

Sejak heboh soal lembaran uang rupiah baru, dengan gambar Cut Nyak Meutia, salah seorang teman di Aceh mengatakan bahwa gambar itu akan dipermasalahkan. Alasannya, Cut Meutia tak mengenakan jilbab. Awalnya, saya tak percaya dengan anggapan itu. Nyatanya, topik ini malah menggelinding menjadi bola liar.

Bagi orang Aceh yang protes, saya mencoba berprasangka baik. Barangkali, itu didorong oleh kecintaan yang mendalam pada pahlawan legendaris itu. Bagi orang lain, yang menyebutnya sebagai ahli agama dan ahli strategi, dan karena itu, sepantasnya memakai jilbab, saya anggap dia kurang memahami sejarah.

Cut Meutia barangkali tak peduli apakah dirinya dianggap pahlawan atau bukan. Yang terpenting baginya hanya kemerdekaan bagi bangsanya. Demikian pula ribuan atau jutaan orang yang menjadi pahlawan bagi komunitasnya, lingkungannya, maupun bangsanya, di penjuru Nusantara ini.

Yang terpenting, bukanlah atribut penghormatan, tapi semangat juang dan keteguhan mereka bisa terus kita lestarikan. Bangsa kita mungkin tak sempurna, dengan sejarahnya yang penuh warna dan luka. Tapi, kita sebagai penerus seharusnya tak larut dalam saling cerca.

Agar kepahlawanan dan pengorbanan seseorang, seperti Cut Nyak Meutia, tak terhenti pada debat mengenai secarik kain. Karena apa yang telah dia capai selama hidupnya, lebih dari itu. Sudahkah Anda berkorban sebanyak itu?