Catatan Pringadi

Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan

Category: Tips

Residensi Penulis ASEAN di Asean Literary Festival 2017

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

 

Setiap Tahun Festival Sastra Asean dimulai dengan program residensi. Penulis dari ASEAN & non ASEAN bersama untuk belajar dan berbagi.

Penulis yang dipilih dari program residensi juga akan menjadi pembicara festival.

Tahun ini, program residensi akan diadakan pada tanggal 27 Juli – 2 Agustus, diikuti oleh festival 3 – 6 Agustus

Apakah anda penulis dari ASEAN, Timor-Leste, dan Jepang?  Ikuti  Program Residensi 2017 untuk Festival Sastra Asean !

Kriteria kelayakan :
1. Penulis dari negara ASEAN, Timor-Leste dan Jepang
2. Berusia 18-40
3. Mampu berbahasa Inggris.
4. Bersedia mengikuti seluruh program dan tinggal di jakarta mulai 27 Juli – 6 Agustus
5. Bersedia menulis dan mempublikasikan pengalaman mereka selama mengikuti program dalam bahasa apa pun, dalam bentuk dan platform apa pun.

Program ini mencakup :
Penggantian tiket pesawat
akomodasi
konsumsi dan transportasi lokal

Kirimkan buku atau 5 short stories atau 5 esai atau 10 puisi beserta CV  Anda ke :

ASEAN LITERARY FESTIVAL OFFICE

Jl. Muara no. 11 RT 02/03 Rancho Tanjung Barat

Jakarta Selatan, Indonesia 12530 atau email ke : aseanresidency@gmail.com

Ditunggu sebelum 5 Juni 2017

Kutipan Kata-Kata Penulis Dunia

Published / by Pringadi As / Leave a Comment
“Seorang penulis membutuhkan kesepian, dan dia mendapatkan bagiannya itu. Dia membutuhkan cinta, dan ia dapat berbagi dan juga tidak membagi cinta. Dia membutuhkan persahabatan. Bahkan, ia membutuhkan alam semesta. Menjadi penulis sesungguhnya menjalani hari-hari layaknya seorang pemimpi yang memiliki kehidupan ganda”
– Jorge Luis Borges.
“Setiap manusia memiliki ratusan orang yang terpisah yang hidup di bawah kulitnya. Bakat penulis adalah kemampuannya untuk memberikan nama-nama mereka yang terpisah, identitas, kepribadian dan mereka berhubungan dengan karakter lain yang tinggal dengan dia”
– Mel Brooks
“Sastra adalah sebuah kemewahan, fiksi adalah sebuah kebutuhan. ”
– GK Chesterton
“Menulis buku adalah sebuah petualangan. Untuk memulainya, (ibaratkan) ini adalah sebuah mainan dan hiburan. Kemudian menjadi simpanan, maka menjadi master, maka menjadi tiran. Tahap terakhir adalah bahwa sama seperti Anda tentang untuk berdamai dengan perbudakan, Anda membunuh rakasa, dan melemparkannya kepada publik”
– Sir Winston Churchill
“Perbedaan antara fiksi dan kenyataan? Fiksi harus masuk akal”
– Tom Clancy
“Dunia Penulisan adalah seni menulis sesuatu yang akan dibaca dua kali, sedangkan jurnalisme apa yang akan dibaca sekali”
–Cyril Connolly
“Lebih baik menulis untuk diri Anda sendiri dan tidak umum, daripada menulis untuk publik dan tidak memiliki diri”
– Cyril Connolly
“Rahasia penulisan yang baik adalah untuk mengatakan hal yang lama dengan cara baru atau mengatakan sesuatu yang baru dengan cara lama”
– Richard Harding Davis
“Saya senang menjadi penulis. Apa yang saya tidak tahan adalah dokumen”
– Peter De Vries
“Ada satu jenis kebaikan dari penulis – yang mati.”
– James T. Farrell
“Menulis itu mudah. Yang Anda lakukan adalah menatap selembar kertas kosong sampai tetes bentuk darah di dahi”
– Gene Fowler Escaeva
“Hanya mereka ‘hal-hal yang indah yang terinspirasi oleh kegilaan dan ditulis oleh alasan” – André Gide
“Pengarang adalah seorang yang bodoh yang tidak puas memiliki orang-orang yang bosan hidup dengan dia, bersikeras menyiksa generasi yang akan datang”
– Montesquieu
“Ketika sesuatu dapat dibaca tanpa usaha, usaha besar telah dilakukan dalam penulisannya”
– Enrique Jardiel Poncela
“Jika Anda tidak memiliki kesepakatan mendapatkan penghasilan enam digit pada saat Anda sedang berumur tiga puluh lima, Anda sudah gagal. Lalu, mengapa Anda ingin menjadi penulis? ”
– James Atlas
“Aku tidak percaya hal ini. Semua aktivitas menulis adalah sulit. Yang paling dapat Anda harapkan adalah hari ketika berjalan cukup mudah. Tukang pipa tidak mendapatkan blok tukang ledeng, dan dokter tidak mendapatkan blok dokter, mengapa penulis hanya menjadi profesi yang memberikan nama khusus pada kesulitan kerja, dan kemudian mengharapkan simpati untuk menjawab hal itu?”
– Philip Pullman
“Untuk menyelesaikan (penulisan) adalah kesedihan untuk penulis, kematian yang sedikit. Dia menempatkan kata terakhir dan hal itu dilakukan. Tapi itu tidak benar-benar dilakukan. Cerita berlanjut dan meninggalkan penulis di belakang, karena tidak ada cerita yang pernah dilakukan”
– John Steinbeck
“Ada profesi yang sangat sedikit di mana orang-orang hanya duduk dan berpikir keras selama lima atau enam jam sehari dengan sendirinya. Tentu saja mengapa Anda ingin menjadi penulis – karena Anda memiliki kebebasan untuk melakukan hal itu, tapi begitu Anda memiliki kebebasan yang Anda juga memiliki kewajiban untuk melakukannya. ”
– Tobias Wolff
“Satu-satunya alasan-Inigo Deleon ‘untuk menjadi seorang penulis profesional adalah bahwa Anda tidak dapat membantu itu”
– Leo Rosten
“Tulisan harus dibaca, tapi tidak melihat atau mendengar” –Daphne du Maurier
“‘Inspirasi adalah indah ketika itu terjadi, tetapi penulis harus mengembangkan pendekatan untuk sisa waktu … Yang menunggu terlalu lama” – Leonard Bernstein
“‘Cara Menulis Cerpen Nasihat’ untuk penulis: Kadang-kadang Anda hanya perlu berhenti menulis. Bahkan sebelum Anda mulai” –Stanislaw J. Lec
“Jika seorang penulis menulis hanya untuk menghabiskan waktunya, Anda harus mengistirahat pena dan membuangnya” – Victor Hugo
“Cara Anda mendefinisikan diri sendiri sebagai penulis adalah bahwa Anda menulis setiap kali Anda punya waktu luang sebentar. Jika Anda tidak berperilaku seperti itu Anda tidak akan pernah melakukan apa-apa” – John Irving
“Untuk seorang penulis sejati setiap buku harus menjadi awal baru di mana ia mencoba lagi untuk sesuatu yang melampaui pencapaian. Dia harus selalu mencoba untuk sesuatu yang belum pernah dilakukan atau orang lain telah mencoba dan gagal. Kemudian kadang-kadang, dengan keberuntungan, dia akan berhasil. ” – Ernest Hemingway
“Seorang penulis teliti, dalam setiap kalimat yang ia menulis, akan bertanya pada diri sendiri setidaknya empat pertanyaan, sehingga: 1. Apa yang sedang saya coba katakan? 2. Kata-kata apa yang akan menyatakannya? 3. Apa foto atau idiom akan membuatnya lebih jelas? 4. Apakah gambar ini cukup segar untuk berpengaruh?” –George Orwell
“Penulis bukanlah pembuat manisan, dealer kosmetik, atau penghibur. Dia adalah orang yang telah sadar dan bertanggungjawab menandatangani kontrak dengan-Nya” – Anton Chekhov
“Menulis tidak harus sesuatu yang memalukan, tetapi melakukannya secara pribadi dan mencuci tangan Anda sesudahnya” – Robert Heinlein
“Butuh waktu lima belas tahun untuk menemukan bahwa saya tidak punya bakat untuk menulis, tapi aku tidak bisa berhenti karena pada saat itu aku terlalu terkenal” – Robert Benchley
“Keterampilan menulis adalah untuk menciptakan sebuah konteks di mana orang lain bisa berpikir” – Edwin Schlossberg
‘Menulis adalah satu-satunya profesi di mana tidak ada yang menganggap Anda konyol jika Anda memperoleh uang.” – Jules Renard
“Jangan pernah memberi tahu siapapun bahwa Anda sedang menulis buku, mau diet, olahraga, mengambil kursus, atau berhenti merokok. Mereka akan mendorong Anda untuk mati”  – Lynn Johnston
“Jika Anda tidak punya waktu untuk membaca, Anda tidak punya waktu atau alat untuk menulis” – Stephen King
“Bukan karena menulis adalah banyak kesenangan, tetapi tidak untuk menulis adalah rasa sakit ” – Frank Laurance Lukas

Tulisan Cicit Cut Meutia

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

oleh: Dara Meutia Uning

Sumber: https://indonesiana.tempo.co/read/105141/2016/12/22/darameutia/meutia-dan-saya#.WFvWS2HnC8w.facebook

Perkenalan saya dengan Cut Nyak Meutia berawal dari nama. Dari empat bersaudara, hanya nama saya yang tak menggunakan nukilan dari bahasa Arab. Saya cemburu karena nama saya terkesan amat ‘duniawi’. Seolah-olah saya kurang didoakan.

“Papa berniat, kalau punya anak perempuan akan diberi nama ‘Meutia’,” kata Mama mengutip Papa, “seperti nama nenek Papa.” Waktu itu, saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Mama bilang, nenek Papa amat pemberani.

Ketika kami kecil, Papa pernah membelikan buku-buku cerita tentang pahlawan nasional. Salah satunya tentang Cut Meutia. Tapi, seingat saya, Papa tak pernah menyebut kalau Cut Nyak Meutia itulah nenek beliau. Saya pikir, kebetulan saja nenek saya bernama Meutia, mirip dengan pahlawan itu.

Kira-kira ketika saya SMP, Papa tiba-tiba memajang foto seorang laki-laki yang tampak asing di ruang tengah. Wajahnya amat mirip Papa. Laki-laki di foto itu, Teuku Radja Sabi, putera semata wayang Cut Nyak Meutia. Ayah kandung Papa. Papa bilang, dia baru temukan foto itu di salah satu buku yang mengisahkan tentang Cut Meutia. Papa tak ingat wajah ayahnya karena beliau meninggal dunia ketika Papa berusia tiga tahun.

Setengah tak percaya, saya segera lalap buku yang Papa maksud. Di buku itu tertera silsilah. Nama Papa tercatat sebagai salah satu cucu Cut Meutia. Setengah tak percaya awalnya. Tapi, mendengar penjelasan dari paman, bibi, dan sepupu-sepupu yang tinggal di Aceh, akhirnya mau tak mau saya terima saja kenyataan itu.

Beberapa teman dekat, pernah saya beritahu. “Pantesan, Dar, elo bawaannya pengen perang melulu,” seloroh salah satu teman saya. Saya hanya cengengesan.

Keturunan pahlawan? Mimpi saja tak pernah. Terus terang saya tak ingin gembar-gembor dengan kenyataan itu. Bukan begitu cara Papa membesarkan kami. Karena itu, kehidupan kami pun bergulir seperti biasa.

 

***

 

Sejak itu, saya selalu penasaran dengan sosok Cut Nyak Meutia dan perempuan Aceh. Buku-buku Papa tentang Aceh, saya baca dengan tekun. Delapan tahun lalu, waktu saya mengadakan penelitian di Aceh tentang para mantan kombatan perempuan alias ex pasukan inong balee, perpustakaan Ali Hasjmy di Banda Aceh juga saya datangi.

Dalam berbagai bacaan itu, Cut Nyak Meutia senantiasa digambarkan dalam bentuk yang amat ideal. Terutama dalam buku terbitan lokal. Namun, pujian yang ditujukan pada perempuan kelahiran 1870 itu juga dikutip dari tulisan dan laporan prajurit Belanda.

Tapi, bagi saya, Cut Nyak Meutia memberi kesan mendalam dalam beberapa hal.

Pertama, dari sejarah pernikahannya. Cut Meutia tercatat menikah tiga kali. Pernikahan pertama dengan Teuku Syamsarif adalah hasil perjodohan—hal yang lazim dalam adat istiadat Aceh di kalangan bangsawan pada saat itu. Namun, suami pertamanya itu lebih condong dan kooperatif dengan Belanda. Cut Meutia tak suka, sehingga perceraian tak terelakkan. Cut Meutia kemudian menikah dengan adik mantan suami pertamanya, yakni Teuku Muhamad, atau yang lebih dikenal sebagai Teuku Cik di Tunong. Suami keduanya anti Belanda dan aktif berjuang melawan pendudukan Belanda.

Setelah suami keduanya gugur karena tertangkap Belanda dan dijatuhi hukuman mati, Cut Meutia menikah lagi dengan Pang Nangroe—tangan kanan suaminya dalam perjuangan. Pernikahan itu adalah wasiat almarhum Teuku Cik di Tunong—demi kelanjutan perjuangan melawan Belanda. Setelah lama menimbang, walaupun banyak uleebalang siap meminang dirinya, Cut Nyak Meutia memilih untuk mengikuti wasiat suaminya itu. Keputusan menikahi pria bukan dari kalangan bangsawan itu, amat tidak lazim. Toh, dia bersiteguh dan kembali bertempur dengan suami ketiganya di hutan dan pegunungan—mengabaikan ajakan Ibu Mertua dan iparnya agar menyerah dan ‘hidup tenang’ tanpa berperang lagi.

Menurut saya, itu menunjukkan Cut Nyak Meutia itu perempuan yang berjiwa merdeka. Dia memilih untuk menikahi laki-laki berdasarkan ideologi dan komitmennya pada perjuangan. Istilah saya, ente lembek dan menye-menye pro-Belanda, gue tendang! Dia amat percaya diri dan lebih nyaman dengan pilihannya sendiri, meski harus hidup susah di hutan. Menikah dan hidup nyaman ketika kemerdekaan terpasung karena dikontrol penjajah, bukan pilihan hidupnya.

Kedua, Cut Nyak Meutia adalah perempuan cerdas dan tangguh. Dia dibesarkan ketika Masjid Raya Banda Aceh baru saja dibumihanguskan Belanda pada 1873. Perlawanan rakyat Aceh sedang membara, sehingga tak heran, di usia belia, perempuan ini telah belajar cara berperang. Keahliannya dalam berperang mumpuni. Bukan hanya sekadar mengatur strategi, tapi juga lihai bela diri dan menggunakan senjata. Dia bukan tipe perempuan yang hanya bertindak di belakang layar (misalnya, ‘cuma’ mengatur strategi atau mengurus anak atau logistik di garis belakang), tapi dia juga aktor utama dalam pertempuran di garis depan, yang tak kalah vital perannya bagi moral pasukan.

Di Aceh, laki-laki dan perempuan saling membantu dalam pertempuran melawan Belanda. Hal itu dicatat dengan detail oleh para prajurit Belanda. Menurut mereka, perempuan Aceh turun ke medan pertempuran dengan semangat yang mengalahkan lelaki. Kemampuan mereka dalam bertempur juga bukan main-main. Karena itu, saya tak percaya, kalau Cut Meutia hanya duduk-duduk mengajar mengaji sambil menanti suaminya pulang perang di persembunyian dalam hutan.

Lho? Kan dia punya anak? Selama Cut Meutia hidup di hutan, literatur yang saya baca menyebutkan, Teuku Raja Sabi, putera semata wayangnya, diasuh dan dibesarkan oleh para lelaki maupun perempuan dalam pasukan pimpinan ibunya. Mulai dari ulama yang menjadi guru mengaji hingga guru bela diri.  Jadi, kalau jaman sekarang, ibu-ibu lain pamit berangkat kerja, pergi mengaji atau berdagang, Cut Nyak Meutia pamit untuk pergi berperang. “Dan jika Ibu tak kembali, tugas kamu selanjutnya melanjutkan perjuangan kami,” begitulah senandungnya ketika menidurkan anak tunggalnya itu.

Ketiga, Cut Nyak Meutia membuktikan bahwa perempuan dapat memberi banyak hal bagi bangsa, tanpa harus dibatasi oleh aturan dan norma yang mengungkung. Perempuan dinilai dari apa yang telah disumbangkan bagi kepentingan orang banyak. Dari pengorbanan dan pengabdiannya kepada rakyat. Bukan dari pakaian atau perhiasan yang dikenakan, bukan dari harta yang dimiliki, apalagi kedudukan.

Cut Nyak Meutia dipaparkan lebih sering tinggal di hutan pergi berperang ketimbang hidup di kampung.  Dia meninggalkan hidup yang nyaman sebagai bangsawan, dan melepaskan segala atribut yang menyertainya. Dia mengorbankan dua suaminya. Dan dia juga merelakan nasib anak tunggalnya ketika dia memilih untuk bertempur hingga titik darah penghabisan.

Perilaku dan tingkah lakunya itu membuat rakyat amat mencintainya. Sosoknya menjadi legenda. Bahkan tak sedikit kisah tentang dirinya menjadi mitos.

Saya selalu terbayang pertempuran terakhirnya. Mosselman, komandan pasukan yang menyerbu persembunyian Cut Meutia dan pasukannya di hulu Krueng Putoe pada 25 Oktober 1910 itu, memberikan gambaran detail. Cut Meutia memimpin pasukan dengan rambut tergerai dan teriakan komando melengking. Perlawanannya tak mengendur meski dirinya telah terkepung dan seluruh pasukannya telah gugur. Perintah menyerah senantiasa disambut dengan terjangan ke arah para pengepungnya, dan memakan nyawa dua tiga serdadu.

Peluru yang menembus kepala dan dadanya akhirnya menghentikan perjuangannya. Jenazahnya dimakamkan dengan takzim, meski dalam keterbatasan, oleh pasukan Belanda yang mengalahkannya. Mereka memberi penghormatan militer pada Cut Meutia karena perlawanannya yang gagah berani.

Perempuan pemberani itu, nenek buyut saya. Dia pahlawan kita.

***

Sejak heboh soal lembaran uang rupiah baru, dengan gambar Cut Nyak Meutia, salah seorang teman di Aceh mengatakan bahwa gambar itu akan dipermasalahkan. Alasannya, Cut Meutia tak mengenakan jilbab. Awalnya, saya tak percaya dengan anggapan itu. Nyatanya, topik ini malah menggelinding menjadi bola liar.

Bagi orang Aceh yang protes, saya mencoba berprasangka baik. Barangkali, itu didorong oleh kecintaan yang mendalam pada pahlawan legendaris itu. Bagi orang lain, yang menyebutnya sebagai ahli agama dan ahli strategi, dan karena itu, sepantasnya memakai jilbab, saya anggap dia kurang memahami sejarah.

Cut Meutia barangkali tak peduli apakah dirinya dianggap pahlawan atau bukan. Yang terpenting baginya hanya kemerdekaan bagi bangsanya. Demikian pula ribuan atau jutaan orang yang menjadi pahlawan bagi komunitasnya, lingkungannya, maupun bangsanya, di penjuru Nusantara ini.

Yang terpenting, bukanlah atribut penghormatan, tapi semangat juang dan keteguhan mereka bisa terus kita lestarikan. Bangsa kita mungkin tak sempurna, dengan sejarahnya yang penuh warna dan luka. Tapi, kita sebagai penerus seharusnya tak larut dalam saling cerca.

Agar kepahlawanan dan pengorbanan seseorang, seperti Cut Nyak Meutia, tak terhenti pada debat mengenai secarik kain. Karena apa yang telah dia capai selama hidupnya, lebih dari itu. Sudahkah Anda berkorban sebanyak itu?

Komunisme dan Pan-Islamisme, Tan Malaka (1922)

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Penerjemah: Arief Chandra, Agustus 2009


Ini adalah sebuah pidato yang disampaikan oleh tokoh Marxis Indonesia Tan Malaka pada Kongres Komunis Internasional ke-empat pada tanggal 12 Nopember 1922. Menentang thesis yang didraf oleh Lenin dan diadopsi pada Kongres Kedua, yang telah menekankan perlunya sebuah “perjuangan melawan Pan-Islamisme”, Tan Malaka mengusulkan sebuah pendekatan yang lebih positif. Tan Malaka (1897-1949) dipilih sebagai ketua Partai Komunis Indonesia pada tahun 1921, tetapi pada tahun berikutnya dia dipaksa untuk meninggalkan Hindia Belanda oleh pihak otoritas koloni. Setelah proklamasi kemerdekaan pada bulan Agustus 1945, dia kembali ke Indonesia untuk berpartisipasi dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda. Dia menjadi ketua Partai Murba (Partai Proletar)), yang dibentuk pada tahun 1948 untuk mengorganisir kelas pekerja oposisi terhadap pemerintahan Soekarno. Pada bulan Februari 1949 Tan Malaka ditangkap oleh tentara Indonesia dan dieksekusi.

 

Kamerad! Setelah mendengar pidato-pidato Jenderal Zinoviev, Jenderal Radek dan kamerad-kamerad Eropa lainnya, serta berkenaan dengan pentingnya, untuk kita di Timur juga, masalah front persatuan, saya pikir saya harus angkat bicara, atas nama Partai Komunis Jawa, untuk jutaan rakyat tertindas di Timur.

Saya harus mengajukan beberapa pertanyaan kepada kedua jenderal tersebut. Mungkin Jenderal Zinoviev tidak memikirkan mengenai sebuah front persatuan di Jawa; mungkin front persatuan kita adalah sesuatu yang berbeda. Tetapi keputusan dari Kongres Komunis Internasional Kedua secara praktis berarti bahwa kita harus membentuk sebuah front persatuan dengan kubu nasionalisme revolusioner.  Karena, seperti yang harus kita akui, pembentukan sebuah front bersatu juga perlu di negara kita, front persatuan kita tidak bisa dibentuk dengan kaum Sosial Demokrat  tetapi harus dengan kaum nasionalis revolusioner. Namun taktik yang digunakan oleh kaum nasionalis seringkali berbeda dengan taktik kita; sebagai contoh, taktik pemboikotan dan perjuangan pembebasan kaum Muslim, Pan-Islamisme. Dua hal inilah yang secara khusus saya pertimbangkan, sehingga saya bertanya begini. Pertama, apakah kita akan mendukung gerakan boikot atau tidak? Kedua, apakah kita akan mendukung Pan-Islamisme, ya atau tidak? Bila ya, seberapa jauh kita akan terlibat?

Metode boikot, harus saya akui, bukanlah sebuah metode Komunis, tapi hal itu adalah salah satu senjata paling tajam yang tersedia pada situasi penaklukan politik-militer di Timur. Dalam dua tahun terakhir kita telah menyaksikan keberhasilan aksi boikot rakyat Mesir 1919 melawan imperialisme Inggris, dan lagi boikot besar oleh Cina di akhir tahun 1919 dan awal tahun 1920. Gerakan boikot terbaru terjadi di India Inggris. Kita bisa melihat bahwa dalam beberapa tahun kedepan bentuk-bentuk pemboikotan lain akan digunakan di  timur. Kita tahu bahwa ini bukan metode kita; ini adalah sebuah metode borjuis kecil, satu metode kepunyaan kaum borjuis nasionalis. Lebih jauh kita bisa mengatakan; bahwa pemboikotan berarti dukungan terhadap kapitalisme domestik; tetapi kita juga telah menyaksikan bahwa setelah gerakan boikot di India, kini ada 1800 pemimpin yang dipenjara, bahwa pemboikotan telah membangkitkan sebuah atmosfer yang sangat revolusioner, dan gerakan boikot ini telah memaksa pemerintahan Inggris untuk meminta bantuan militer kepada Jepang, untuk menjaga-jaga kalau gerakan ini akan berkembang menjadi sebuah pemeberontakan bersenjata. Kita juga tahu bahwa para pemimpin  Mahommedan di India – Dr. Kirchief, Hasret Mahoni dan Ali bersaudara – pada kenyataannya adalah kaum nasionalis; kita tidak melihat sebuah pemberontakan ketika Gandhi dipenjara. Tapi rakyat di India sangat paham seperti halnya setiap kaum revolusioner disana: bahwa sebuah pemberontakan lokal hanya akan berahir dalam kekalahan, karena kita tidak punya senjata atau militer lainnya di sana, oleh karena itu masalah gerakan boikot akan, sekarang atau di hari depan, menjadi sebuah masalah yang mendesak bagi kita kaum Komunis. Baik di India maupun Jawa kita sadar bahwa banyak kaum Komunis yang cenderung ingin memproklamirkan sebuah gerakan boikot di Jawa, mungkin karena ide-ide Komunis yang berasal dari Rusia telah lama dilupakan, atau mungkin ada semacam pelepasan mood Komunis yang besar di India yang bisa menentang semua gerakan. Bagaimanapun juga kita dihadapkan pada pertanyaan: apakah kita akan mendukung taktik ini, ya atau tidak? Dan seberapa jauh kita akan mendukung?

Pan-Islamisme adalah sebuah sejarah yang panjang. Pertama saya akan berbicara tentang pengalaman kita di Hindia Belanda dimana kita telah bekerja sama dengan kaum Islamis. Di Jawa kita memiliki sebuah organisasi yang sangat besar dengan banyak petani yang sangat miskin, yaitu Sarekat Islam. Antara tahun 1912 dan 1916 organisasi ini memiliki sejuta anggota, mungkin sebanyak tiga atau empat juta. Itu adalah sebuah gerakan popular yang sangat besar, yang timbul secara spontan dan sangat revolusioner.

Hingga tahun 1921 kita berkolaborasi dengan mereka. Partai kita, terdiri dari 13,000 anggota, masuk ke pergerakan popular ini dan melakukan propaganda di dalamnya. Pada tahun 1921 kita berhasil membuat Sarekat Islam mengadopsi program kita. Sarekat Islam juga melakukan agitasii pedesaan mengenai kontrol pabrik-pabrik dan slogan: Semua kekuasaan untuk kaum tani miskin, Semua kekuasaan untuk kaum proletar! Dengan demikian Sarekat Islam melakukan propaganda yang sama seperti Partai Komunis kita, hanya saja terkadang menggunakan nama yang berbeda.

Namun pada tahun 1921 sebuah perpecahan timbul karena kritik yang ceroboh terhadap kepemimpinan Sarekat Islam. Pemerintah melalui agen-agennya di Sarekat Islam mengeksploitasi perpecahan ini, dan juga mengeksploitasi keputusan Kongres Komunis Internasional Kedua: Perjuangan melawan Pan-Islamisme! Apa kata mereka kepada para petani jelata? Mereka bilang: Lihatlah, Komunis tidak hanya menginginkan perpecahan, mereka ingin menghancurkan agamamu! Itu terlalu berlebihan bagi seorang petani muslim. Sang petani berpikir: aku telah kehilangan segalanya di dunia ini, haruskah aku kehilangan surgaku juga? Tidak akan! Ini adalah cara seorang Muslim jelata berpikir. Para propagandis dari agen-agen pemerintah telah berhasil mengeksploitasi ini dengan sangat baik. Jadi kita pecah. [Ketua: Waktu anda telah habis]

Saya datang dari Hindia Belanda, dan menempuh perjalanan selama empat puluh hari .[Tepuk Tangan]

Para anggota Sarekat Islam percaya pada propaganda kita dan tetap bersama kita di perut mereka, untuk menggunakan sebuah ekspresi yang popular, tetapi di hati mereka mereka masih bersama Sarekat Islam, dengan surga mereka. Karena surga adalah sesuatu yang tidak bisa kita berikan kepada mereka. Karena itulah, mereka memboikot pertemuan-peretemuan kita dan kita tidak bisa melanjutkan propaganda kita lagi.

Sejak awal tahun lalu kita telah bekerja untuk membangun kembali hubungan kita dengan Sarekat Islam. Pada kongres kami bulan Desember tahun lalu kita mengatakan bahwa Muslim di Kaukasus dan negara-negara lain, yang bekerjasama dengan Uni Soviet dan berjuang melawan kapitalisme internasional, memahami agama mereka dengan lebih baik, kami juga mengatakan bahwa, jika mereka ingin membuat sebuah propaganda mengenai agama mereka, mereka bisa melakukan ini, meskipun mereka tidak boleh melakukannya di dalam pertemuan-pertemuan tetapi di masjid-masjid.

Kami telah ditanya di pertemuan-pertemuan publik: Apakah Anda Muslim – ya atau tidak? Apakah Anda percaya pada Tuhan – ya atau tidak? Bagaimana kita menjawabnya? Ya, saya katakan, ketika saya berdiri di depan Tuhan saya adalah seorang Muslim, tapi ketika saya berdiri di depan banyak orang saya bukan seorang Muslim [Tepuk Tangan Meriah], karena Tuhan mengatakan bahwa banyak iblis di antara banyak manusia! [Tepuk Tangan Meriah] Jadi kami telah mengantarkan sebuah kekalahan pada para pemimpin mereka dengan Qur’an di tangan kita, dan di kongres kami tahun lalu kami telah memaksa para pemimpin mereka, melalui anggota mereka sendiri, untuk bekerjasama dengan kami.

Ketika sebuah pemogokan umum terjadi pada bulan Maret tahun lalu, para pekerja Muslim membutuhkan kami, karena kami memiliki pekerja kereta api di bawah kepemimpinan kami. Para pemimpin Sarekat Islam berkata: Anda ingin bekerjasama dengan kami, jadi Anda harus menolong kami juga. Tentu saja kami mendatangi mereka, dan berkata: Ya, Tuhan Anda maha kuasa, tapi Dia telah mengatakan bahwa di dunia ini pekerja kereta api adalah lebih berkuasa! [Tepuk Tangan Meriah] Pekerja kereta api adalah komite eksekutif Tuhan di dunia ini. [Tertawa]

Tapi ini tidak menyelesaikan masalah kita, jika kita pecah lagi dengan mereka kita bisa yakin bahwa para agen pemerintah akan berada di sana lagi dengan argumen Pan-Islamisme mereka. Jadi masalah Pan-Islamisme adalah sebuah masalah yang sangat mendadak.

Tapi sekarang pertama-tama kita harus paham benar apa arti sesungguhnya dari kata Pan-Islamisme. Dulu, ini mempunyai sebuah makna historis dan berarti bahwa Islam harus menaklukkan seluruh dunia, pedang di tangan, dan ini harus dilakukan di bawah kepemimpinan seorang Khalifah [Pemimpin dari Negara Islam – Ed.], dan Sang Khalifah haruslah keturunan Arab. 400 tahun setelah meninggalnya Muhammad, kaum muslim terpisah menjadi tiga Negara besar dan oleh karena itu Perang Suci ini telah kehilangan arti pentingnya bagi semua dunia Islam. Hilang artinya bahwa, atas nama Tuhan, Khalifah dan agama Islam harus menaklukkan dunia, karena Khalifah Spanyol mengatakan, aku adalah benar-benar Khalifah sesungguhnya, aku harus membawa panji [Islam], dan Khalifah Mesir mengatakan hal yang sama, serta Khalifah Baghdad berkata, Aku adalah Khalifah yang sebenarnya, karena aku berasal dari suku Arab Quraish.

Jadi Pan-Islamisme tidak lagi memiliki arti sebenarnya, tapi kini dalam prakteknya memiliki sebuah arti yang benar-benar berbeda. Saat ini, Pan-Islamisme berarti perjuangan untuk pembebasan nasional, karena bagi kaum Muslim Islam adalah segalanya: tidak hanya agama, tetapi juga Negara, ekonomi, makanan, dan segalanya. Dengan demikian Pan-Islamisme saat ini berarti persaudaraan antar sesama Muslim, dan perjuangan kemerdakaan bukan hanya untuk Arab tetapi juga India, Jawa dan semua Muslim yang tertindas. Persaudaraan ini berarti perjuangan kemerdekaan praktis bukan hanya melawan kapitalisme Belanda, tapi juga kapitalisme Inggris, Perancis dan Itali, oleh karena itu melawan kapitalisme secara keseluruhan. Itulah arti Pan-Islamisme saat ini di Indonesia di antara rakyat kolonial yang tertindas, menurut propaganda rahasia mereka – perjuangan melawan semua kekuasaan imperialis di dunia.

Ini adalah sebuah tugas yang baru untuk kita. Seperti halnya kita ingin mendukung perjuangan nasional, kita juga ingin mendukung perjuangan kemerdekaan 250 juta Muslim yang sangat pemberani, yang hidup di bawah kekuasaaan imperialis. Karena itu saya tanya sekali lagi: haruskah kita mendukung Pan-Islamisme, dalam pengertian ini?

Saya akhiri pidato saya. [Tepuk Tangan Meriah]


Ihwal Pengiriman Karya ke basabasi.co

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

hwal Rubrik Puisi basabasi.co

Mulai Selasa (20 September 2016) rubrik puisi di basabasi.co akan tayang kembali. Dengan demikian saya, sebagai penjaga rubrik puisi, merasa perlu mengemukakan beberapa hal berikut:

1. Rubrik puisi basabasi.co membuka diri terhadap keragaman tema, gaya, dan pelbagai eksperimen bentuk dan isi.
2. Ruang untuk puisi-puisi yang dimuat kira-kira hampir sama dengan ruang yang disediakan koran, sekitar lima puisi jika panjangnya seperti sajak “Hujan Bulan Juni” karya Sapardi Djoko Damono
3. Menerima juga kiriman naskah sajak terjemahan, meski frekwensi pemuatannya tak akan sesering puisi-puisi para penyair Indonesia.
4. Naskah puisi dikirim ke gerobaknaskah@basabasi.co dengan subyek email sesuai kolom yang dituju: puisi.
5. Pastikan karya yang dikirimkan belum dipublikasikan dalam bentuk apa pun. Redaktur tak akan mengembalikan naskah yang dikirimkan, jika dua bulan sejak pengiriman karya tidak dimuat maka penyair berhak mengirimkannya ke media lain.
6. Naskah sajak yang dimuat pada basabasi.co akan mendapatkan honorarium plus bonus kaos ekslusif.
7. Naskah sajak yang dimuat akan tayang setiap hari Selasa di www.basabasi.co dan diumumkan juga di akun-akun medsos terkait. Selain itu, melalui akun facebook ini saya akan turut pula mengumumkannya.

Saya tunggu kiriman karyanya

Salam dan jabat erat,

Tia setiadi

NB: Jika berkenan, mohon informasi ini dishare.

Bukan Hanya Mojang Bandung yang Cantik, Hotel Amaroossa Bandung Juga Cantik!

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Pernah mendengar guyonan ala anak muda tentang mojang Bandung yang cantik atau geulis? Nah kalau kamu belum pernah dengar guyonan ini dan penasaran bener enggak sih kalau mojang Bandung itu cantik-cantik,langsung aja datang ke Kota  Kembang Bandung. Lakukan survey kecil-kecilan sendiri deh disana, bisa dengan cara melihat-lihat mojang yang seliweran sana-sini atau mungkin boleh bertanya ke anak muda khususnya yang laki-laki ya, benar enggak sih mojang Bandung itu cantik-cantik?

Kalo menurut pengamatan singkat dan ketika ditanya kepada beberapa traveler atau pelancong dari luar kota, dapat kesimpulan bahwa memang mojang Bandung teh geulis-geulis! Tapi data dan fakta ini hanya hasil pengamatan secara singkat dan random aja lho! Karena mungkin banyak wanita yang tidak setuju penerapatan standar cantik itu seperti apa. Tapi memang sih cantik itu relatif, tapi kalau jelek itu mutlak! Eh, jokes dikit!

Oke kali ini kamu bukan sedang diajak untuk menentukan standar kecantikan, atau bukan juga suruh voting tentang mojang Bandung itu cantik atau tidak, tapi yang pasti yang mungkin kamu enggak bisa elakkan kalau  kota Bandung itu itu emang cantik dan penuh pesona! Kota Bandung juga terpilih menjadi kota wisata favorit ke-4 di Asia! Duh, udah mojangnya cantik kotanya juga penuh pesona!

Sebagai kota wisata favorit tentu kehadiran berbagai tempat menarik yagn mengundang minat para pelancong atau traveler untuk datang ke Bandung tak terelakkan. Bukan hanya tempat wisatanya yang menjadi daya tarik, restoran dan berbagai tempat makan dan hang out di Bandung juga ngangenin! Tak ketinggalan salah satu tempat penting untuk traveler yang juga cukup dicari saat berkunjung ke Bandung ya hotel!

Keberadaan hotel di sebuah kota wisata yang selalu ramai dikunjungi wisatawan seperti Bandung merupakan hal yang penting. Oleh sebab itu di kota ini tersedia banyak penginapan dan hotel yang bisa dipilih para traveler untuk akomadasinya selama berada di Kota Kembang.  Kalau kamu mau cari hotel cantik yang instagramable di Bandung salah satunya adalah Amaroossa Bandung. Kamu bisa mencari tahu tariff hotel ini pada beberapa situs booking hotel salah satunya Traveloka.

Hotel Amaroossa Bandung berlokasi di Jalan Aceh nomor 71A, kota Bandung, Jawa Barat. Lokasi hotel ini juga cukup strategis, dekat dengan Bandara Husein Sastranegara. Jarak dari hotel ke Bandara tidak sampai 5 kilometer, kalau kamu berkendara dengan mobil atau taksi mungkin hanya menghabiskan waktu 30 menit, tapi tergantung sih macat atau enggak, secara Bandung itu kalo lagi akhir pekan atau musim liburan itu rame banget!

Hotel Amaroossa Bandung terlihat cantik dengan desain interiornya. Hampir di setiap sudut ruangan hotel ada bunga, lampu-lampu yang cantik dan sofa sehingga terlihat cantik, manis dan anggun, enggak lah deh mojang Bandung cantiknya! Katanya sih konsep desain interior yang cantik dari hotel ini sesuai dengan kesukaan owner. Beliau suka mengoleksi sofa dan lampu-lampu yang cantik!

gb1 gb2

Beberapa sudut ruangan di Amaroossa Bandung via lafamilledewijaya.com

Selain desain sudut ruangannya yang cantik, kamar dari Hotel Amaroossa Bandung juga tak kalah cantik. Terdapat 92 kamar dan dibagi menjadi beberapa tipe seperti deluxe, executive dan president suite. Desain kamar hotel terlihat begitu anggun dan cantik dengan dominasi warna cokelat krem. Hiasan lampu-lampu cantik dan sofa juga mempermanis tampilan kamar di sudut-sudut ruangan.

Selain cantik, kamar hotel di Amaroossa Bandung dilengkapi dengan fasilitas seperti TV, meja, laci, dan kursi.

gb3

Kamar Hotel Amaroossa Bandung via Traveloka.com

 

Tidak cukup kamar tidur dan ruangan-ruangan hotel yang cantik, hotel ini juga mendesain cantik kamar mandi di setiap kamarnya. Dominasi warna cokelat kayu ditambah hiasan cermin yang cantik dan bathub siap memanjakan  dan membuat nyaman pengunjung saat bersih-bersih. Ruangan shower juga tersedia dengan nuansa milenum. Amenetis yang tersedia juga cukup lengkap.

gb4

Kamar Mandi Hotel Amaroossa Hotel via Traveloka.com

 

Dengan segala desain ruangan dan kamarnya yang cantik, hotel ini juga cocok untuk kamu  yang ingin honeymoon bersama pasangan. Suasananya yang cantik dan anggun tentu akan membuat momen honeymoon terasa lebih romantis, dan jangan lupa abadikan di kamera setiap momen cantik di hotel ini. See you and have a nice trip!