Catatan Pringadi

Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan

Category: Tips

Tak Ada Alasan untuk Tak Menulis

Published / by Pringadi As / 2 Comments on Tak Ada Alasan untuk Tak Menulis

Seperti yang kita ketahui bersama, ada 4 kemampuan berbahasa, yakni menyimak, membaca, menulis, dan berbicara. Keempat hal tersebut seharusnya berurutan. Dua hal pertama adalah dasarnya. Namun, dua hal terakhir kadang terjadi anomali. Ada orang yang mampu lancar berbicara, namun mengaku tak bisa menulis.

Segalanya terkait dengan kebiasaan. Apakah kita sudah membiasakan diri menyimak, membaca, menulis, dan berbicara? Coba tanyakan kepada diri kita masing-masing seberapa sering kita melakukan hal-hal itu?

Eka Kurniawan, penulis Indonesia pertama yang menjadi nominee The Man Booker Prize, pernah menulis di blognya: ia menulis minimal dua jam sehari. Dua jam dalam satu hari itu ia sediakan khusus di depan layar, tidak peduli seberapa banyak ia berhasil menciptakan sesuatu. Kadang satu paragraf, kadang satu kalimat! (Tentu, kenyataannya, boleh saja diselingi sambil meriset secara kualitatif tulisan kita)

Stephen King juga pernah bilang, kalau kita merasa tidak punya waktu untuk membaca, kita juga tak akan punya waktu menulis. Nah, pertanyaannya adalah, pernahkah kita menargetkan diri membaca sekian buku dalam setahun? Saya, ya! Target saya 50 buku dalam setahun. Tentu buku yang tematik. Buku sastra. Buku yang menambah pengetahuan kita. Buku yang sudah difilter. Karena buku seperti makanan. Kalau salah makan, kita bisa sakit perut. Kalau tak bergizi, kita tak akan bertumbuh kembang. Apakah target saya tercapai? Kadang-kadang tidak juga.

Poinnya adalah seangkuh-angkuhnya penulis, ia harus punya kerendahan hati di hadapan ilmu pengetahuan. Sama halnya seperti seorang pencinta alam tidak boleh sombong di hadapan alam. Keinginan untuk belajar dan terus belajar, mencoba sesuatu yang baru itu harus tetap dijaga. Puas dengan karya yang sudah pernah diciptakan sesungguhnya adalah kematian bagi seorang penulis.

Nah, sekarang bagaimana dengan teman kita yang mampu lancar berbicara, namun merasa tidak bisa menulis? Ada caranya.

Pada dasarnya, menulis itu adalah menggambar suara. Saya paling benci dengan banyak teori menulis. Siapa pun seharusnya hanya perlu menyadari suaranya sendiri. Bagaimana kamu bicara dengan orang lain? Atau bagaimana suara hatimu berbisik padamu? Kamu hanya harus mengenali itu. Jika kamu berhasil, kamu akan memiliki gaya ucap yang khas. Caramu menyusun kalimat, menghentikan kalimat akan menjadi caramu. Tinggal nanti kamu perlu mengingat kembali fungsi-fungsi tanda baca, diksi yang tepat, kalimat efektif dan efisien, agar apa yang kamu maksud itu sesuai dengan kaedah bahasa.

Cara mengenali suara itu juga bisa dengan menggunakan alat bantu. Ya, rekam suaramu. Misal, kamu mau menulis mengenai inflasi. Bicaralah dengan kaca atau seseorang sambil merekam ucapanmu sendiri. Lalu, putar rekaman itu, dan tuliskan. Sesederhana itu ‘kan?

Tapi, nanti tulisan saya jelek?

Hal ini paling sering saya dengar dari mereka yang mau menulis. Takut tulisannya jelek. Bro, Sis, sesungguhnya tak ada yang berharap tulisanmu bagus. Jadi, jangan takut jelek.

Saya selalu bilang, setiap tulisan itu bagus. Setidaknya bagus untuk dirinya sendiri. Lama-kelamaan kita akan sadar bagaimana cara memperbaiki tulisan kita. Itu butuh proses.

Seorang bayi tidak serta merta bisa berjalan. Apakah para orang tua mengejek anak mereka karena masih merangkak?

Toh, jelek itu bukan aib. Ingat kata Patrick, “Aku jelek, dan aku bangga!”

 

Sesungguhnya, tak ada alasan untuk tak menulis. Setidaknya, tulislah sebuah status setiap hari.

 

9 Tempat Wisata Keren yang Pernah Kukunjungi

Published / by Pringadi As / 2 Comments on 9 Tempat Wisata Keren yang Pernah Kukunjungi

9 Foto Wisata Keren

Kesembilan foto di atas adalah foto yang paling banyak di-like di instagram-ku tahun lalu. Kebetulan atau tidak, kesemuanya adalah foto perjalananku. Bisakah kamu menebak di mana saja foto itu diambil? (Mulai dari kiri atas ke kanan bawah ya.)

  1. Teluk Saleh dalam perjalanan ke Dangar Ode. Itu adalah perjalanan pertamaku bersama Adventurous Sumbawa. Mei 2013 lalu. Foto diambil oleh Taufik Rahman, rekan sekantorku. Ia juga yang mendesain kaos Adventurous Sumbawa yang tengah kukenakan. Kalau perut, sungguh, itu tidak didesain. Perjalanan hari itu sangat menyenangkan. Lautnya tenang. Menaiki perahu nelayan, kami menempuh waktu kurang lebih 45 menit dari pelabuhan di Desa Prajak hingga sampai ke Dangar Ode.
  2. Gunung Bromo. Foto diambil sesaat setelah aku berhasil mendaki anak tangga menuju kawah Bromo. Dalam keadaan yang kurang sehat, dan habis kedinginan setelah menunggu matahari terbit, aku mendaki 250 anak tangga itu. Hanya untuk melihat kawah. Ya, kawah menganga dengan diameter +/- 800 m dan +/-600m. Lonjong. Berbau belerang pula. Namun, pemandangan yang terhampar sungguh menakjubkan. Oh, iya, saya ingat diprotes seorang teman ketika mengatakan Bromo ada di Malang. Lebih tepat, Bromo ada di Probolinggo.
  3. Coban Pelangi. Coban atau air terjun ini kukunjungi dalam rangkaian perjalanan Paket Bromo. Begitu dijemput di stasiun, kami menuju ke penginapan (home stay) dan tak jauh dari situ ada  air terjun ini. Sayangnya, air terjun ini tak punya kolam untuk diberenangi. Terlampau berbahaya.
  4. Pulang dari Pulau Moyo. Foto diambil oleh Taufik Rahman lagi. Ini adalah foto saat perjalanan pulang dari Moyo ke Labuhan Sumbawa. Di sisi kiri sudah tampak Tanjung Menangis. Pagi hari itu laut begitu tenang dan dari kejauhan bisa kusaksikan lumba-lumba menemani perjalanan kami. Meski menggunakan filter CPL, aslinya memang biru banget. Untuk pertama kalinya aku berhasil foto di ujung perahu. Yes!
  5. Sungai di Karekeh. Kami berenang di sungai ini setelah pulang dari menengok air terjun Ai Nyembir di Dusun Selang, Sumbawa. Belum puas berenang di Air Nyembir, kami menemukan sisi sungai yang terhalangi bebatuan sehingga menciptakan kolam alami dengan nyaris tanpa arus. Teman saya, Farhan, menantang saya untuk melakukan lompatan dari atas batu. Kedalaman sungai di sisi ini sekitar 2m. Dan saya pun memberanikan diri melompat. Begitulah hasilnya.
  6. Pantai Mali di Alor. Karena saya memenangkan lomba menulis di Ditjen Perbendaharaan, saya mendapatkan hadiah dinas ke Alor untuk menengok ke KPPN Filial Alor. Salah satu tempat yang memorable banget ya di Pantai Mali. Ia berada di sebelah bandara Mali. Untuk menuju spot ini, mobil masuk ke bandara, melalui landasan pesawat. Diizinkan karena pesawat hanya ada pagi hari. Kalau surut, maka pasir ini akan menghubungkan Alor dengan pulau lain. Namun, saat itu air sudah sebatas dengkul. Kalau memaksakan menyeberang, khawatir tidak bisa pulang.
  7. Hutan Kuang Amo. Foto ini diambil saat perjalanan pulang dari air terjun Ai Putih. Dua jam perjalanan harus ditempuh dari air terjun ini hingga sampai ke pusat desa Kuang Amo. Melewati pinggir sungai, hutan belantara, dan hutan bambu. Sungguh sebuah petualangan yang seru!
  8. Pantai Tanjung Tinggi, Belitong. Ceritanya saya dapat hadiah ke Belitong karena memenangkan lomba cerpen. Saya pun mengunjungi pantai ini. Pantai yang indah sekali. Airnya jernih. Ombaknya tenang. Dan pemandangan batu-batu dari zaman Jura pun memanjakan mata.
  9. Rafting di Bali. Saya lupa di mana raftingnya. Saat itu saya mendapat tugas diklat pengadaan barang dan jasa selama dua minggu. Sesama peserta sepakat, pada saat hari libur diklat, kami berjalan-jalan. Rafting pilihan utamanya. Karena kami semua laki-laki, jadi berani dong. Ini adalah rafting ketigaku. Super! Tapi, turun dan naik dari dan ke sungainya jauh lebih melelahkan dari raftingnya. Hehe.

Nah, dari kesembilan tempat itu, mana yang kamu suka? Mana yang sudah pernah kamu kunjungi? Jika belum, yuk ke sana!

Tips Memilih Kos-kosan di Sekitaran Kampus PKN STAN

Published / by Pringadi As / 3 Comments on Tips Memilih Kos-kosan di Sekitaran Kampus PKN STAN

Selamat kepada 6.964 mahasiswa baru Politeknik Keuangan Negara STAN. Selamat karena teman-teman sudah menyisihkan 154.622 peserta USM lainnya. Kakak jadi ingat rasanya lulus STAN 10 tahun silam. Biasa saja sih. Bahagia, tentu saja ada. Tapi jangan begitu terlarut ya dengan kebahagiaan, karena ada tantangan berikutnya yang tengah menunggu. Kakak baru menyadari tantangan ini ketika melanjutkan ke DIV tahun 2014 lalu. Tantangan itu adalah mencari kos-kosan!

Dulu, tahun 2007 itu, memilih kos tak sesulit itu. Seangkatan kakak tak sampai 2000 mahasiswa yang mendaftar ulang. Datang ke Bintaro sendirian dari Palembang untuk mendaftar ulang, tidur di kos kakak kelas semalam, besoknya sudah bisa cari kos dan langsung mendapatkan kos. Sekarang? Jangan harap!

Jumlah mahasiswa yang diterima semakin banyak. Sementara pertumbuhan jumlah kos-kosan tidak signifikan. Permintaan lebih tinggi dari penawaran. Hal ini mengakibatkan harga meningkat, dan pencarian kos-kosan jadi berebutan. Jangan ulangi hal yang Kakak lakukan, baru mencari kos saat daftar ulang. Kalau tidak sisa kos yang jelek (di bawah standar), maka sisa kos yang sangat mahal.

Membedah dunia kos-kosan di sekitar kampus PKN STAN sebenarnya bisa dilihat dari wilayahnya. Kakak membagi wilayah kos menjadi 6 wilayah:

  1. Kalimongso
  2. Sarmili
  3. PJMI
  4. Pondok Jaya (Ponjay)
  5. Ceger
  6. Dan lain-lain
  • Kalimongso adalah tempat kos paling strategis. Ibarat kata, tinggal gelinding nyampe. Tempat makan berlimpah dan murah meriah. Ada Cek Ikin, ada Warung Jatim, ada Warung Sederhana (Bu Bor) yang akan memanjakan lidah dan memberi porsi kuli. Begitu pun tempat foto kopian. Perdagangan buku kuliah bajakan di Kalimongso bisa bikin penerbit asli gulung tikar. Nilai paling plusnya, menjelang ujian (baik UTS maupun UAS), soal kisi-kisi beredar di foto kopian Kalimongso beserta kunci jawabannya. Harga kos-kosan di Kalimongso pun relatif lebih terjangkau. Namun, hal itu sebanding dengan fasilitas yang ada. Kos-kosan di Kalimongso sumpek, tidak bisa dimasuki mobil. Fasilitasnya pun terbatas. Lebih pelik, ada beberapa sudut di Kalimongso yang tidak bisa ditembus provider tertentu. Kalimongso cocok buat kamu yang menginginkan suasana guyub dan sederhana, dan punya hobi pulang ke kos tidur siang saat jeda kuliah!
  • Sarmili sedikit lebih jauh dari Kalimongso. Dulu, daerah Sarmili kurang direkomendasikan menjadi pilihan utama kos-kosan. Sebab utamanya, banyak nyamuk. Daerahnya kurang bersih dibandingkan wilayah yang lain. Namun, kini sudah jauh lebih mendingan. Pintu keluar Gang Sarmili tepat di dekat Student Centre. Kos-kosan di Sarmili juga relatif murah. Wilayah masing lenggang, jadi tenang belajar. Warga di Sarmili juga ramah dan terasa kekeluargaannya. Plus, jangan khawatir mencari masjid. Kekurangannya, kayaknya hampir ngga ada foto kopian. Dan suasananya yang menyatu dengan perkampungan warga mungkin kurang cocok dengan anak-anak generasi Z.
  • PJMI, Pondok Jurang Mangu Indah. Nah, pas DIV, Kakak kos di PJMI. Sesemester di Jalan Sejahtera (dekat gerbang PJMI Ceger), setahun di Jalan Ikan Terbang. Pas tingkat III di DIII pun kos di Jalan Dahlia Raya setelah dua tahun sebelumnya di Kalimongso. PJMI lebih menawarkan privasi. Ala-ala perumahan gitu. Yang enak adalah fasilitas internetnya tinggal milih, kebanyakan pakai First Media. Kencang. Dekat dengan Kalimongso dan Ceger. Posisi strategis bukan cuma buat kuliah, tapi juga buat cao kemana-mana. Harga kos-kosan menengah ke atas. Banyak kos-kosan yang ber-AC dan kamar mandi sendiri. Bisa masuk mobil. Mau makan juga banyak pilihan. Makanan di komplek memang lebih mahal sih. Dekat mau ke Harmoni (swalayan di Ceger). Kelemahannya, di PJMI banyak maling motor. Sudah beberapa teman kemalingan motor. Jadi, kudu hati-hati mengunci motormu, ya? Dan ya, kalau hujan, beberapa jalan menggenang, kita terpaksa lepas sepatu.
  • Ceger adalah wilayah kos yang sangat luas. Letaknya di jalan raya yang ada di belakang STAN. Kalau di depan itu Bintaro, belakangnya Ceger. Bak bumi dan langit. Biasanya yang kos di Ceger karena nggak dapat kosan di ketiga tempat di atas. Jalan kakinya cukup jauh. Tapi karena dekat jalan raya, ya apa saja ada di sana. Pilihan kosan pun beragam. Dan di Ceger, banyak kos yang bulanan. Kalau di ketiga tempat di atas, paling sebentar itu setengah tahunan. Tapi risikonya, bising dan ramai, dan banyak yang campur dengan karyawan.
  • Pondok Jaya, berada di seberang PJMI. Komplek juga. Namun, karena sudah masuk kawasan Bintaro, kosan di sini terkenal paling mahal. Jarang mahasiswa kos di sini kecuali kaya. Ponjay menawarkan kebebasan. Kalau di wilayah lain, kalian harus berhati-hati kalau bawa pacar ke kosan. Dulu sih strict banget. Sekarang, bisa curi-curi sih. Nah kalau di Ponjay, bebas banget. Di Ponjay, nggak ada foto kopian, nyari makan yang murah juga susah. Harus punya motor kalau ngekos di sini.
  • Dan lain-lain. Salah satu area dan lain-lain yang terkenal adalah Pondok Safari (Ponsaf). Jauh. Biasanya juga ada yang lebih jauh ke Sektor 9, atau mengarah ke Sektor 3. Biasanya modalnya kontrakan atau rumah petak. Tipe-tipe penyendiri biasanya cocok ngekos di area dan lain-lain. Harganya sudah pasti lebih mahal.

Kira-kira begitulah reviu saya tentang kos-kosan di sekitar kampus PKN STAN. Tentu hal ini subjektif. Hanya berdasarkan pengalaman selama kurang lebih 4,5 tahun kuliah di STAN. Tiga tahun dari 2007-2010 pas DIII. Dan 1,5 tahun ketika kembali ke Bintaro untuk menunaikan DIV 2014-2016 lalu.

Semoga bermanfaat!

Sembilan Tips Sapardi Djoko dalam Menulis Sajak Liris

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Hasan Aspahani

BUTIR-BUTIR berikut ini disarikan dari tulisan berjudul “Keremang-remangan Suatu Gaya”, yaitu sebuah ulasan Sapardi Djoko Damono atas sajak Abdul Hadi WM. Saya kira tulisan itu adalah sebuah petunjuk yang sangat jelas dan bagus bagi penyair yang hendak menulis sajak-sajak lirik yang baik. Saya tak menambahkan penjelasan, karena menurut saya apa yang dipaparkan beliau sudah amat jelasnya.

1. Sebuah sajak yang buruk biasanya berusaha “meyakinkan” pembacanya dan dengan demikian memaksanya saja untuk mendengar dengan pasif.

2. Perasaan yang paling khas dalam arti: yang paling banyak melibatkan manusia dari zaman ke zaman, adalah bahan terbaik untuk sajak lirik.

3. Penyair harus menjelmakan perasaan yang klise itu sebagai bahan sajaknya — misalnya cinta — dengan segar, menjadi sajak yang segar dengan ungkapan yang tidak klise, tetapi harus unik dan personal.

4. Untuk menuliskan sajak lirik yang baik, penyair harus cermat mengamati dan mencatat perasaan-perasaan sendiri dan peristiwa-peristiwa di alam sekitarnya.

5. Dua elemen penting dalam sajak lirik adalah menyatakan perasaan yang samar-samar dan dengan cara yang sederhana menyatukannya dengan alam sekitar.

6. Kesamar-samaran itu unik, dan dia akan menjadi tidak unik lagi, dan berhenti sebagai puisi – kalau ia digamblangkan.

7. Penyair harus sadar bahwa sebenarnya perasaan yang samar-samar itu tidak komunikatif, dan penyair harus mengkomunikasikannya, dengan bahasa, alat komunikasi.

8. Ujian bagi penyair lirik: ia mungkin tergelincir ke dalam sajak-sajak gelap, sajak-sajak yang sama sekali kehilangan kontak dengan pembaca atau ia menghasilkan sajak yang habis sekali baca bahkan tidak jarang sudah habis sebelum dibaca sampai terakhir.

9. Penyair harus meletakkan sajak liriknya tepat pada garis yang memisahkan kedua kemungkinan tersebut di atas. Itulah garis yang harus dicari, ditemukan dan dicapai oleh penyair lirik yang baik.

* Disarikan dari buku “Sihir Rendra: Permainan Makna”, terbitan Pustaka Firdaus, Jakarta, 1999. (Dari Note Hasan Aspahani)

Cara Menghitung PPN dan Royalti Buku yang Benar

Published / by Pringadi As / 3 Comments on Cara Menghitung PPN dan Royalti Buku yang Benar

Seperti yang kita ketahui, sejak ada penegasan pengenaan pajak atas buku, berbagai masalah timbul di penerbit. Mulai dari kenaikan tarif sharing toko dan distributor, hingga ke penghitungan pajak itu sendiri. Penghasilan penerbit otomatis berkurang karena pembagian hasil penjualan yang semakin sedikit ke penerbit.

Sebagian penerbit rupanya masih keliru dalam memaknai pajak, dalam hal ini PPN.

Misalnya:

  • Harga buku di toko buku Rp88.000,- berapakah pajaknya?

Jawaban Penerbit:

  • Penerbit menghitung PPN 10% sebesar Rp8.800 dan royalti 10% x 88.000 sebesar Rp8.800,-

Perhitungan di atas SALAH.

Jawaban yang benar adalah:

  • PPN = 10/11 x Rp88.000,- = Rp8.000,-
  • Royalti = 10% x (Rp88.000-Rp8.000) = Rp8.000,-

Bisa diperhatikan, bukan? Ada perbedaan Rp1.600,- di sana. Jika penjualan terjual 1000 eksemplar saja, penerbit sudah kehilangan Rp1,6 juta. Lumayan.

Kenapa demikian? Sebenarnya harga yang tertera saat buku sudah berada di toko adalah harga dengan PPN. Sehingga, PPN itu harus dikeluarkan terlebih dahulu. Atau, penerbit terlebih dahulu sudah menetapkan harga. Ketika buku tersebut dijual, barulah dikenakan PPN. Karena sejatinya, PPN itu ditanggung oleh pembeli.

Tapi, dengan begitu sebenarnya kita sama saja memberatkan konsumen, karena harga buku menjadi lebih mahal 10%. Gimana nih, pemerintah?

Alamat Media Cetak yang Menerima Puisi dan Cerpen

Published / by Pringadi As / 3 Comments on Alamat Media Cetak yang Menerima Puisi dan Cerpen

#Informasi

MEDIA TEMPAT MENGIRIM CERPEN/ PUISI

AMANAH
Email: sastra.amanah@gmail.com

ANALISA
Email: rajabatak@yahoo.com

BALI POS
Email: balipost@indo.net.id

BANJARMASIN POS
Email: hamsibpost@yahoo.co.id

BASABASI
Email: gerobaknaskah@basabasi.co

BERITA PAGI
Email: huberitapagi@yahoo.com

DINAMIKANEWS
Email: dinamikanews@yahoo.co.id

DUTA MASYARAKAT
Email: harianduta@gmail.com

FAJAR MAKASSAR
Email: budayafajar@gmail.com

FLORES SASTRA
Email: floressastra@gmail.com

GEMA MENOREH
Email: redaksigema_menoreh@yahoo.co.id

HALUAN
Email: budayahaluan@gmail.com

HORISON ONLINE
Email: horisonpuisi@gmail.com / horisoncerpen@gmail.com

JAWA POS
Email: ari@jawapos.co.id / ariemetro@yahoo.com

JOGLOSEMAR
Email: harianjoglosemar@gmail.com

JURNAL CERPEN INDONESIA
Email: jurnalcerpen@yahoo.com / jurnalcerita@yahoo.com

KEDAULATAN RAKYAT
Email: jayadikastari@yahoo.com

KENDARI POS
Email: arhamkendari@yahoo.com

KOMPAS
Email: opini@kompas.com

LAMPUNG POS
Email: lampostminggu@yahoo.com

LINIKINI
Email: linifiksi@linikini.id

LOMBOK POS
Email: literasilombokpost@gmail.com

MAJALAH BOBO
Email: bobonet@gramedia-majalah.com

MAJALAH FEMINA
Email: kontak@femina-online.com, kontak@femina.co.id

MAJALAH UMMI
Email: kru_ummi@yahoo.com

MALANG POS
Email: redaksi@malang-post.com

MEDAN BISNIS
Email: mdn_bisnis@yahoo.com

MEDIA INDONESIA
Email: (CERPEN) cerpenmi@mediaindonesia.com (PUISI) puisi@mediaindonesia.com (alternatif email: miweekend@mediaindonesia.com)

MERAPI
Email: budaya.merapi@yahoo.co.id

MIMBAR UMUM
Email: mimbarumum@yahoo.com

MINGGU PAGI
Email: we_rock_we_rock@yahoo.co.id

NUSANTARANEWS
Email: redaksi@nusantaranews.co

NOVA
Email: nova@gramedia-majalah.com

PADANG EKSPRES
Email: cerpen_puisi@yahoo.com

PIKIRAN RAKYAT
Email: khazanah@pikiran-rakyat.com

RADAR BANYUWANGI
Email: budayaradarbwi@gmail.com

RADAR BOJONEGORO
Email: lembarbudaya@gmail.com

RADAR BROMO
Email: ruangpublik_radarbromo@yahoo.com

RADAR JEMBER
Email: radarjember@gmail.com

RADAR LAMPUNG
Email: zetizenradarlampung@gmail.com

RADAR MALANG
Email: sastra.radarmalang@gmail.com

RADAR MOJOKERTO
Email: opini_darmo@yahoo.com

RADAR SURABAYA
Email: radarsurabaya@yahoo.com

RAKYAT SULTRA
Email: bastra.kbsultra@gmail.com

RAKYAT SUMBAR
Email: sastrasumbar@yahoo.com

REPUBLIKA
Email: islamdigest@redaksi.republika.co.id

RIAU POS
Email: infozetizenriau@gmail.com

SERAMBINEWS
Email: redaksi@serambinews.com

SINGGALANG
Email: singgalang.redaksi@gmail.com

SOLO POS
Email: redaksi@solopos.co.id

SUARA MERDEKA
Email: swarasastra@gmail.com

SUARA NTB
Email: suarantbsastra@gmail.com

SUMATERA EKSPRES
Email: serisumeks@gmail.com

TANJUNGPINANG POS
Email: redaksi@tanjungpinangpos.co.id

TEMPO
Email: sastra@tempo.co.id

TRIBUN JABAR
Email: cerpen@tribunjabar.co.id / hermawan_aksan@yahoo.com

WAKTU
Email: sastra.waktu@gmail.com

WASPADA
Email: sunanlangkat@yahoo.com