Catatan Pringadi

Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan

Category: Tips

Kalimat-Kalimat Inspirasi dari Einstein

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

kutipan einstein

  • Dunia ini adalah sebuah tempat yang berbahaya untuk didiami; bukan karena orang-orangnya yang jahat, tetapi karena orang-orangnya yang tak peduli.
  • Hidup itu seperti naik sepeda. Agar tetap seimbang, kau harus terus bergerak.
  • Ketidakwarasan adalah melakukan hal yang sama secara berulang-ulang dan mengharapkan hasil yang berbeda.
  • Masalah-masalah penting yang kita hadapi tidak bisa dipecahkan dengan tingkat pemikiran yang sama dengan ketika kita menciptakannya.

kutipan Einstein

  • Untuk mengenal sebuah Negara, anda harus mempunyai kontak langsung dengan tanahnya. Sia-sia memandang dunia hanya dari balik kaca mobil.
  • Kita harus melakukan yang terbaik yang kita bias. Itulah tanggung jawab suci kita sebagai manusia.
  • Selagi ada cinta tidak perlu ada lagi pertanyaan.
  • Seorang manusia harus mencari sesuatu sebagaimana adanya, bukan yang bagaimana seharusnya menurut pikirannya.

kutipan einstein

  • Di hadapan Tuhan kita semua sama-sama bijak dan sama-sama tolol.
  • Bukan dengan duduk-duduk di kejauhan dan memanggil umat manusia sebagaimana larva yang dapat menolong mereka. Taksir agung individu adalah melayani, bukan mengausai.
  • Semua kita yang peduli akan kedamaian dan supremasi nalar maupun keadilan haruslah benar-benar sadar betapa kecil pengaruh nalar dan niatan baik yang jujur terhadap berbagai peristiwa politik.
  • Segala macam tindakan akan berakhir jika kekuatan-kekuatan dasar yang dahsyat tidak lagi mendorong kita.
  • Amarah hanya ada dihati orang-orang dungu.
  • Tidak banyak orang melihat dengan kedua mata mereka danmerasa dengan hati mereka.
  • Aku yakin bahwa sikap bersahaja dan menarik diri dari kehidupan merupakan hal terbaik bagi semua orang, bagi tubuh maupun pikiran.
  • Lebih mudah mengubah plutonium dari paad mengubah sikap manusia.
  • Jika orang jadi baik hanya karena takut akan hukuman dan berharap akan ganjaran, maka kita sungguh menyesalkannya.
  • Terus semaikan benih anda, karena anda tidak tahu mana yang akan tumbuh – mungkin semuanya.

kutipan einstein

  • Cinta adalah guru yang lebih baik dibanding dengan kewajiban.
  • Kalau kita menerima batasan-batasan kita, maka kita akan melampauinya.
  • Rasa ingin tahu punya alasan sendiri untuk ada.
  • Siapapun yang mengabaikan kebenaran untuk masalah-masalah sederhana tidak bisa dipercayai untuk masalah-masalah penting.
  • Belajarlah dari masa lalu, hiduplah untuk hari ini, berharaplah untuk masa depan. Yang terpenting adalah tidak berhenti bertanya

 

A Few Don’ts by an Imagiste, Ezra Pound

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Beberapa Hal yang Tak Boleh Dilakukan oleh Imajis

diterjemahkan Pringadi Abdi Surya

Sebuah imaji menghadirkan kompleksitas intelektual dan emosional dalam waktu yang singkat. Kompleksitas ini menyangkut perasaan kebebasan yang hadir seketika, lepas dari batas ruang dan waktu, terasa ada sesuatu yang tumbuh di dalam dada, yang umum kita alami ketika menyaksikan karya seni yang agung.

Bagi seorang imajis, lebih baik menyajikan satu imaji dalam seumur hidup ketimbang menciptakan beberapa karya lain.

Tulisan ini tentu bisa didebat. Ada beberapa hal yang tidak boleh dilakukan oleh para pemula untuk menciptakan baris-baris puisi, terutama ketika hendak menjadi seorang imajis.

Mari kita mulai dengan tiga aturan yang dicatat Mr. Flint, jangan jadi dogma (jangan pernah mempertimbangkan segala sesuatu sebagai dogma), tetapi hasil dari perenungan panjang, atau mungkin perenungan orang lain yang layak dipertimbangkan. Jangan kasih perhatian kritik dari mereka yang nggak pernah menulis karya yang diakui. Pertimbangkan ketidaksesuaian di antara tulisan aktual dari penyair dan dramasis Yunani, dan teori para ahli bahasa Yunani-Roma (Graeco-Roman),  yang disusun untuk menjelasankan ukuran mereka.

Bahasa

Jangan gunakan kata-kata yang berlebihan, tak boleh ada kata sifat, yang intinya, jangan terlalu mengungkapkan sesuatu.

Jangan gunakan ekspresi seperti “dim lands of peace” atau ” tanah muram perdamaian“. Hal itu memperburuk imaji. Sama saja kita mencampurkan yang abstrak dengan yang konkrit. Hal seperti itu datang dari penulis yang tidak menyadari objek alami selalu menjadi simbol yang cukup kuat.

Dobrak ketakutanmu pada abstraksi. Jangan menuliskan baris-baris medioker yang sudah digolongkan ke dalam prosa yang baik. Jangan berpikir orang-orang cerdas tidak akan menyadari ketika kau mencoba menhindari semua kesulitan tak terperanai saat menuliskan seni ini dengan cara memenggal komposisi kalimat dalam prosamu menjadi baris-baris puisi.

Hal yang membuat para ekspertis lelah hari ini akan membuat masyarakat lelah juga di kemudian hari.

Jangan bayangkan kalau seni menulis puisi itu lebih mudah dari seni musik, atau mengira kamu bisa membuat para ahli kagum sebelum kamu mengerahkan kemampuanmu dalam seni penulisan setidaknya seperti kebanyakan guru les piano mengerahkan kemampuannya dalam seni musik.

Belajarlah dari banyak seniman sebanyak kamu bisa, tetapi milikilah sebuah respek baik itu untuk mengakui kehebatan mereka, atau untuk mencoba tak terpengaruh oleh mereka.

Jangan biarkan pengaruh itu malah membuatmu hanya “mencuri” frase-frase tertentu dari satu-dua puisi yang kamu kagumi. Kalau tak salah pernah ada wartawan Turki yang tertangkap mencuri frase-frase dari penyair. Lupa-lupa ingat sih.

Hindari penggunaan hiasan, meskipun hiasan itu bagus.

Ritme dan Rima

Berikan kesempatan kepadanya, irama terbaik yang bisa ia temukan, lebih baik lagi dalam bahasa asing sehingga makna kata-kata tidak akan terlalu mengalihkan perhatiannya terhadap irama, misal Saxon Charms, Hebridean Folk Songs, sajak-sajak Dante, lirik Shakespeare—jika ia mampu memisahkan irama dari semantiknya. Biarkan ia mencacah-cacah dingin lirik Goethe hingga ke komponen suara terkecilnya, panjang pendek suku katanya, tekanannya, bahkan susunan vokal dan konsonannya.

Sebenarnya tidak butuh juga kita mengatakan kalau puisi harus bergantung pada musikalitasnya, tetapi jika bisa dibunyikan, memiliki musikalitas itu, tentu hal itu akan membuat para ahli takjub.

Coba kita pahami dulu asonansi dan aliterasi, rima langsung atau tertunda, yang sederhana atau poliponik, layaknya seorang musisi yang berharap mengenali harmoni dan detail karyanya. Tak ada waktu yang percuma bila dikerahkan dalam wilayah itu, bahkan ketika para seniman jarang membutuhkan hal itu.

Jangan bayangkan suatu hal akan baik-baik saja dalam sebuah baris hanya karena hal itu buruk jika dimasukkan ke dalam prosa.

Jangan jadi tukang fatwa, itu tugasnya para penulis di bidang filsafat. Jangan menjadi deskriptif, ingatlah bahwa para pelukis dapat menggambarkan pemandangan lebih baik dari yang kamu bisa, dan bahwa dialah yang lebih tahu akan semua itu.

Ketika Shakespeare berkata “Dawn in russet mantle clad”/fajar bertudung mantel coklat, dia menyajikan sesuatu yang tak dapat disajikan pelukis. Di sanalah, di baris tersebut, dia tidak mendeksripsikan sesuatu dengan normal, dia menyajikan atau menghadirkan sesuatu yang tak normal tersebut.

Pertimbangkanlah cara yang dilakukan ilmuwan ketimbang cara agen marketing dari produk sabun baru.

Ilmuwan tidak mengharapkan untuk diakui sebagai ilmuwan hebat sempai dia menemukan sesuatu. Dia memulainya dengan mempelajari hal-hal yang sudah ditemukan. Lalu dia berangkat dari sana. Ia sama sekali tak menyimpan keinginan dikenali sebagai seorang ternama. Ia tidak berharap koleganya bertepuk tangan atas hasil kerjanya sebagai pemula. Sayangnya, para pemula dalam puisi tidak menempatkan diri dan karyanya pada lingkungan yang tepat dan terpercaya. Mereka memamerkan karya mereka di etalase. Tidakkah ini alasan masyarakat menilai puisi tak ada bedanya dengan yang lain?

Jangan memotong kerjamu menjadi iambik yang terpisah. Jangan jadikan tiap baris berhenti di akhir, dan memulai baris berikutnya dengan susah payah. Biarkan permulaan tiap baris berikutnya berpaut dengan irama di akhir baris sebelumnya, kecuali memang iramamu membutuhkan jeda yang panjang.

Pendek kata, bertindaklah sebagai musisi, musisi yang cerdas tentunya, ketika mengerjakan bagian-bagian dari karyamu yang berkait erat dengan musikalitas. Aturan-aturan mereka berlaku juga untukmu, meski kau tidak mesti terkurung di dalamnya.

Secara alami, struktur irama tidak meruntuhkan bangunan kata-katamu, suara murni dari kata-kata itu, atau, tentu saja, makna yang diusung kata-kata itu. Mustahil, pada dasarnya, bagimu untuk menciptakan struktur irama yang cukup kuat dan memesona bila kau hanya korban dari segala kekeliruan dalam meletakkan pemberhentian baris dan jeda.

Vide further Vildrac and Duhamel’s notes on rhyme in “Technique Poetique.”

Musisi dapat mengandalkan tinggi rendah nada dan volume suara. Penyair tidak bisa. Istilah harmoni berbeda dalam puisi; dalam musik, ia merujuk pada keterpaduan suara dalam nada-nada yang berbeda. Bagaimanapun juga, dalam sajak-sajak yang baik, terdapat semacam dengungan dari tiap kata yang tersisa di telinga seperti nada dasar. Rima mesti mempunyai elemen kejutan agar bisa dinikmati; tidak perlu yang beraneh-aneh atau berlebihan, tetapi cukup, selama tepat fungsinya.

Bisa dilihat lebih jauh dalam catatan Vildrac dan Duhamel tentang Rima, dalam Technique Poetique.

Rima itulah yang akan mengejutkan imajinasi di benak pembaca, dan akan menjadi khusus, tidak bisa dierjemahkan, karena hanya akan membuai telinga jika dibaca dalam bahasa aslinya. Coba deh pertimbangkan cara Dante, jika dibandingkan dengan retorikanya Milton. Juga banyak baca karya-karya Wordsworth sebagai perbandingan biar tidak terasa hambar.

Bila ingin menggali lebih dalam lagi, baca juga Sappho, Catullus, Villon, Heine ketika ia marah-marah, Gautier ketika ia tidak kaku; atau bila itu semua membuatmu kesulitan, membaca Chaucer yang ringan akan menyenangkan. Prosa yang baik tidak akan mencelakakanmu, dan tentu akan berguna bagimu bila kau melatih diri dengan menulisnya.

Menerjemahkan juga latihan yang baik, terlebih bila kau menemukan karyamu sendiri “compang-camping setiap kali kau mencoba menulisnya kembali. Makna puisi yang diterjemahkan mesti tetap, tidak bolehcompang-comping.”

Jika kau menulis dalam bentuk simetris, jangan hanya menuliskan apa yang hendak kau tulis lalu menyempurnakan bentuk dengan serampangan.

Jangan mengacaukan suatu persepsi dengan mencoba menuliskannya dengan cara lain. Hal tersebut biasanya hasil dari kemalasan untuk menemukan pilihan kata yang pas. Meski ada pengecualiannya.

Tiga larangan sederhana di awal sebenarnya akan langsung menyingkirkan sembilan dari sepuluh puisi buruk yang dianggap bagus selama ini; dan akan menghindarkanmu dari kejahatan dalam menulis puisi. “…mais d’abord il faut etre un poète—tetapi sebelumnya, mesti menjadi penyair,” sebagaimana yang dikatakan MM. Duhamel dan Vildrac dalam akhir buku kecilnya, Notes sur la Technique Poetique; meski besar kemungkinan di Amerika, seseorang akan menelannya mentah-mentah, kalau tidak, mana mungkin mereka hidup di negeri menyebalkan itu!

 

Teks asli:

https://www.poetryfoundation.org/poetrymagazine/articles/58900/a-few-donts-by-an-imagiste

Sejarah Ejaan Bahasa Indonesia

Published / by Pringadi As / 2 Comments on Sejarah Ejaan Bahasa Indonesia

Ejaan Bahasa Indonesia (disingkat EBI) adalah ejaan bahasa Indonesia yang berlaku sejak tahun 2015 berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2015 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Nah, sebelum EBI berlaku, kita memiliki beberapa jenis ejaan lho. Apa saja?

ejaan bahasa Indonesia

1. Ejaan Van Ophuysen
Ejaan Van Ophuysen merupakan ejaan pertama yang dimiliki oleh bahasa Indonesia. Ejaan ini ditetapkan tahun 1901. Perancang ejaan Van Ophuysen adalah orang Belanda yakni Charles Van Ophusyen dengan dibantu Tengku Nawawi yang bergelar Soetan Ma’moer dan M. Taib Soetan Ibrahim. Ejaan ini menggunakan huruf latin dan bunyinya hampir sama dengan tuturan Belanda.

Ejaan ini digunakan untuk menuliskan kata-kata Melayu menurut model yang dimengerti oleh orang Belanda, yaitu menggunakan huruf latin dan bunyi yang mirip dengan tuturan Belanda, antara lain:

  • huruf ‘j’ untuk menuliskan bunyi ‘y’, seperti pada kata jang, pajah, sajang.
  • huruf ‘oe’ untuk menuliskan bunyi ‘u’, seperti pada kata-kata goeroe, itoe, oemoer (kecuali diftong ‘au’ tetap ditulis ‘au’).
  • tanda diakritik, seperti koma ain dan tanda trema, untuk menuliskan bunyi hamzah, seperti pada kata-kata ma’moer, ‘akal, ta’, pa’, dinamaï.

Huruf hidup yang diberi titik dua diatasnya seperti ä, ë, ï dan ö, menandai bahwa huruf tersebut dibaca sebagai satu suku kata, bukan diftong, sama seperti ejaan Bahasa Belanda sampai saat ini.

2. Ejaan Republik/Ejaan Soewandi
Edjaan Republik berlaku sejak 17 Maret 1947 menggantikan ejaan pertama yang dimiliki bahasa Indonesia saat itu. Ejaan ini merupakan upaya pemerintah untuk mengganti ejaan Van Ophuysen yang disusun oleh orang Belanda dan merupakan ejaan resmi pertama yang disusun oleh orang Indonesia.
Ejaan republik juga disebut dengan ejaan Soewandi. Mr. Soewandi merupakan seorang menteri yang menjabat sebgai menteri Pendidikan dan kebudayaan. Perbedaan ejaan Soewandi dengan ejaan Van Ophuysen ialah:
a. Huruf oe diganti dengan u.
Contohnya dalam ejaan Van Ophuysen penulisannya ‘satoe’, dalam ejaan Republik menjadi ‘satu’.
b. Huruf Hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan huruf K.
Contohnya: maklum, pak, tak, rakjat.
c. Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2
Contohnya: kupu2, main2.
d. Awalan di dan kata depan di kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang mendampinginya. Kata depan ‘di’ pada contoh dirumah, disawah, tidak dibedakan dengan imbuhan ‘di-‘ pada dibeli, dimakan.
3. Ejaan Melindo
Ejaan ini dikenal pada akhir tahun 1959. Sidang perutusan Indonesia dan Melayu (Slamet Mulyana-Syeh Nasir bin Ismail) menghasilkan konsep ejaan bersama yang kemudian dikenal dengan nama Ejaan Melindo (Melayu-Indonesia). karena perkembangan politik selama tahun-tahun berikutnya maka diurungkan peresmian ejaan tersebut.
4. Ejaan yang Disempurnakan (EyD)
Ejaan ini berlaku sejak 23 Mei 1972 hingga 2015, atas kerja sama dua negara yakni Malaysia dan Indonesia yang masing-masing diwakili oleh para menteri pendidikan kedua negara tersebut. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menerbitkan buku yang berjudul Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan yang tercatat pada tanggal 12 Oktober 1972. Pemberlakuan Ejaan yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah ditetapkan atas dasar keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 0196/U/1975.
Sebelum EYD, Lembaga Bahasa dan Kesusastraan, (sekarang Pusat Bahasa), pada tahun 1967 mengeluarkan Ejaan Baru (Ejaan LBK). Ejaan Baru pada dasarnya merupakan lanjutan dari usaha yang telah dirintis oleh  Ejaan Melindo. Para pelaksananya pun di samping terdiri dari panitia Ejaan LBK, juga dari panitia ejaan dari Malaysia. Panitia itu berhasil merumuskan suatu konsep ejaan yang kemudian diberi nama Ejaan Baru. Panitia itu bekerja atas dasar surat keputusan menteri pendidikan dan kebudayaan No. 062/67, tanggal 19 September 1967.
Ejaan Baru di Malaysia disebut Ejaan Rumi Bersama (ERB) sementara Indonesia menggunakan Ejaan yang Disempurnakan (EyD). EyD mengalami dua kali revisi, yakni pada tahun  1987 dan 2009.

Beberapa kebijakan baru yang ditetapkan di dalam EyD, antara lain:

  • Huruf f, v, dan z yang merupakan unsur serapan dari bahasa asing diresmikan pemakaiannya.
  • Huruf q dan x yang lazim digunakan dalam bidang ilmu pengetahuan tetap digunakan, misalnya pada kata furqan, dan xenon.
  • Awalan “di-” dan kata depan “di” dibedakan penulisannya. Kata depan “di” pada contoh di rumah, di sawah, penulisannya dipisahkan dengan spasi, sementara “di-” pada dibeli atau dimakan ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.
  • Kata ulang ditulis penuh dengan mengulang unsur-unsurnya. Angka dua tidak digunakan sebagai penanda perulangan

Secara umum, hal-hal yang diatur dalam EyD adalah:

  1. Penulisan huruf, termasuk huruf kapital dan huruf miring.
  2. Penulisan kata.
  3. Penulisan tanda baca.
  4. Penulisan singkatan dan akronim.
  5. Penulisan angka dan lambang bilangan.
  6. Penulisan unsur serapan.

5. Ejaan Bahasa Indonesia

Perbedaan Ejaan Bahasa Indonesia dengan EyD adalah:

  1. Penambahan huruf vokal diftong. Pada EyD, huruf diftong hanya tiga yaitu ai, au, oi, sedangkan pada EBI, huruf diftong ditambah satu yaitu ei (misalnya pada kata geiser dan survei).
  2. Penggunaan huruf tebal. Dalam EyD, fungsi huruf tebal ada tiga, yaitu menuliskan judul buku, bab, dan semacamnya, mengkhususkan huruf, serta menulis lema atau sublema dalam kamus. Dalam EBI, fungsi ketiga dihapus.

Tips Memilih Jurusan Kuliah

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Hal tersulit sesudah lulus SMA adalah memilih jurusan kuliah. Ada banyak kepentingan yang membuat sulit dalam pengambilan keputusan.

Saat itu, 2005, saya ikut bimbingan belajar Nurul Fikri. Saya katakan, Nurul Fikri adalah bimbingan belajar terbaik yang pernah saya ikuti. Siswanya tidak diajak berpikir pragmatis, tapi memahami suatu filosofi ilmu. Terbukti, murid-murid Nurul Fikri di masa saya menguasi 10 besar try out-try out publik di Kota Palembang saat itu.

Saya tidak termasuk ke sepuluh besar. Tapi, dalam beberapa kali kesempatan, nilai saya tak memalukan dan diprediksi mampu menembus Kedokteran UNSRI dan ITB kecuali Informatika dan Elektro. Ibu saya sih yang kepengen ada anaknya yang jadi dokter. Makanya, sekali kesempatan, saya mengisi Fakultas Kedokteran, lulus, dan hasil itu dikirimkan ke rumah. Ibu jadi menggebu-gebu meminta saya memilih kedokteran. Tapi saya justru mengisi Matematika ITB di SPMB.

Apa sih yang jadi pertimbangan?

  1. Pilihlah Bidang yang Kamu Sukai. Mau tidak mau, paling utama adalah dengarkan kata hatimu. Bidang apa yang kamu sukai. Bidang apa yang kamu kuasai. Kuliah di bidang itu, akan membuatnya seperti hiburan.
  2. Perhatikan Biaya Semesteran di Universitas Tersebut. Nah ini penting. Kuliah itu nggak murah. Kamu juga harus memperhatikan biayanya, konsultasikan ke keluargamu. Jangan sampai kamu terlalu membebani keluargamu.
  3. Cari info lapangan kerja yang berasal dari jurusan itu. Kita juga harus realistis. Kita harus memproyeksikan 4 tahun ke depan apakah lulusan jurusan A masih dibutuhkan di lapangan kerja.
  4. Lihat prediksi skor nasional/passing grade bila kamu ikut seleksi nasional, dan sesuaikan dengan kapasitasmu. Jangan gegabah memilih jurusan dengan nilai tertinggi padahal nilaimu setengahnya. Itu bunuh diri. Pilihan pertama, bolehlah memilih jurusan yang nilainya kirakira- 25% lebih tinggi dari ukuranmu. Pilihan kedua, zona aman. Keberuntungan nggak pernah begitu drastis pengaruhnya.
  5. Konsultasikan ke orang tuamu. Toh, doa orang tua itu penting. Jangan lupa untuk bicara ke mereka meski pendapat mereka ga sesuai kata hatimu. Minimal iya-iyain saja.

Kira-kira itu saja lima pertimbangan yang bisa membuat kita mantap memilih jurusan kuliah. Semoga berhasil.

Menulis, Pada Dasarnya….

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Kepada setiap yang bertanya tentang menulis, aku justru memberikan pertanyaan, apakah menulis bagimu?

Kadang orang keliru mempersepsikan arti menulis sehingga menulis dianggap upaya yang remeh. Kekeliruan berikutnya, menulis hanya dianggap bersenang-senang, berindah-indah, dan pekerjaan manusia-manusia klise. Padahal, menulis adalah sesuatu yang serius yang melibatkan banyak hal di dunia ini.

Hal pertama, menulis adalah teks. Artinya, seorang penulis kudu mempelajari aturan teks. Setidaknya (meski tak menguasai secara penuh), seorang penulis harus tahu caranya menulis kalimat dan tahu diksi (pilihan kata). Menulis kalimat pun sebenarnya butuh pemahaman yang baik tentang sintaksis, S P O K. Soal diksi pun juga harus tahu jenis-jenis kata: mana kata benda, kata sifat, kata keterangan, kata kerja, hingga ke ketepatan arti kata tersebut. Kemudian, penulis juga harus sedikit banyak mengerti soal ejaan. Komitmen inilah yang harus dijaga.

Hal kedua, menulis adalah pemberian. Orang yang memberi harus memiliki sesuatu. Itulah pengetahuan. Penulis kudu berpengetahuan. Kalau tidak, apa yang akan kamu tulis? Tulisanmu tidak akan ada isinya. Kosong. Paling banter muter-muter alias berindah-indah. Tulisan yang kosong tentu tidak berharga. Karena itu, seorang penulis harus mewajibkan dirinya haus pengetahuan, banyak membaca, baik buku maupun alam dan manusia di sekitarnya.

Ketiga, menulis adalah soal perasaan. Tidak cukup hanya pengetahuan, seorang penulis harus memiliki pemahaman. Pemahaman dimulai dari memahami diri sendiri baru memahami orang lain. Di sini pengetahuan berubah menjadi rasa. Penulis yang punya rasa akan menjadi sensitif dan mampu menangkap banyak hal. Efek ke tulisan, tulisannya akan menjadi lebih dalam dan dapat dimaknai oleh pembaca karena menyentuh pembaca. Bahasa lain dari perasaan ini adalah katarsis, pelepasan, menyucikan diri. Dengan melibatkan rasa, penulis akan merasakan pengalaman keterlibatan sesuatu yang menggelegak dari dalam dirinya… dan hal itu kemudian akan ditangkap oleh pembacanya.

Keempat, menulis adalah seni. Untuk dapat menjembatani hal ketiga, penulis harus berseni. Seni adalah keindahan. Seni adalah kreativitas. Keindahan tentu berbeda-beda dengan keindahan. Seseorang yang memiliki seni di dalam dirinya tahu bagaimana caranya mengekspresikan dirinya secara utuh. Ia akan menulis laiknya ia berbicara. Dirinya ada di dalam tulisannya. Seni juga bisa berarti jalan. Dengan seni, penulis memiliki jalan yang otentik di dalam karya-karyanya yang sulit ditiru oleh orang lain.

Keempat hal itu setidaknya harus dimiliki oleh kita semua yang ingin menulis. Apakah kamu sepakat?

Tips Tidak Kena DO (Drop Out) di PKN STAN

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Hal yang paling ditakuti mahasiswa adalah kena DO alias drop out. Dan aturan kampus STAN dikenal dengan ancaman DO yang begitu ketat. Bayangkan, IP Semester Ganjil tidak boleh di bawah 2,40 dan IPK saat Semester Genap minimal 2,75. Dan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara bukanlah sejenis universitas yang nilai bagusnya mudah kayak kacang goreng. Belum lagi, tidak boleh ada nilai D di mata kuliah utama. Jadi, meskipun semua nilai yang lain A, kalau ada satu nilai D, tetap saja DO.

Makanya, setiap pengumuman kelulusan, setidaknya mahasiswa sejumlah satu kelas akan berkurang karena DO.

Pada dasarnya, kalau targetnya asal lulus, maka itu bukan hal yang sulit. Kayak Kakak selama berkuliah di STAN, baik di D3 maupun di D4, kakak bisa lulus. Beda kasus kalau teman-teman ingin meraih prestasi menjadi peringkat terbaik selama di STAN—itu butuh sebuah usaha yang berbeda. Setidaknya ada beberapa saran dari Kakak kalau teman-teman tidak mau kena DO selama berkuliah di STAN:

  1. Absensi. Seperti yang kita tahu, dalam satu semester ada 16 kali perkuliahan. Syarat bisa ikut ujian adalah minimal 80% kehadiran atau 13 kali hadir. Jadi, jangan sampai kalian sering bolos. Kakak sendiri tipe yang mengambil jatah bolos. Dua kali setiap mata pelajaran. Jangan pernah berani ambil tiga kali jatah, ya? Sisakan satu buat cadangan karena kita tidak pernah tahu kapan kita sakit atau kapan kita bangun kesiangan. Lebih baik lagi, sebenarnya, jangan sengaja ambil jatah bolos. Ada paradigma di kampus STAN, kalau kamu sengaja bolos, tanpa keterangan, kamu tidak akan mendapatkan nilai A di mata kuliah tersebut.
  2. Jangan Telat. Beberapa dosen lebih sensi kepada mahasiswa yang telat ketimbang mahasiswa yang tidak masuk kelas. Jadi, jangan biasakan dirimu telat masuk kelas kalau nggak mau ditandai.
  3. Aktif di kelas, dan kerjakan tugas. Dalam 16 kali pertemuan perkuliahan itu, sebaiknya kamu menunjuk tangan minimal 2 kali. Ya, biar dosennya kenal sama kamu dan menganggap kamu terlibat aktif dalam kelas. Hal ini bisa menambah nilaimu kalau nilai akhirnya mepet-mepet batas. Kakak sendiri pernah ngobrol sama seorang dosen yang bilang membantu Nilai Kakak ada di batas atas C. Beliau memberikan nilai B- karena Kakak rajin bertanya. Kemudian, bila ada tugas, kerjakan dengan baik. Jangan copy paste.
  4. Jangan menyontek saat ujian. Ketahuan menyontek saat ujian, hukumannya langsung DO. Termasuk bila ujian itu berupa paper/ makalah. Jangan melakukan plagiarisme. Dosen-dosen di STAN sudah banyak yang menggunakan plagiarisme checker. Teman seangkatan kena DO karena KTTA-nya terbukti menjiplak.
  5. Berlatihlah memperbagus tulisan tangan. Percaya nggak, selain ujian pilihan ganda dan yang sifatnya hitung-hitungan seperti akuntansi, dosen tidak pernah benar-benar memeriksa kertas ujianmu? Saat memeriksa, kebanyakan dosen hanya melakukan scanning. Kalau tulisanmu bagus, jawabanmu penuh, dan hasil scanning itu menunjukkan jawaban yang memuaskan, maka kamu diberi nilai yang bagus pula. Soalnya, selain ujian pilihan ganda dan hitung-hitungan, hampir nggak ada dosen yang membagikan hasil ujian ke mahasiswa lho.
  6. Terakhir, jangan soliter menjelang ujian. Perbanyak koneksi, beredarlah di sekitar fotokopian untuk mencari kisi-kisi. Kisi-kisi soal adalah kunci. Belajarlah dari kisi-kisi yang ada itu.

 

Nah, itulah enam tips simpel tanpa harus belajar dengan giat biar tidak kena DO di STAN. Silakan dipraktikkan. Semoga bermanfaat!