Catatan Pringadi

Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan

Category: Tips

Tips Memilih Jurusan Kuliah

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Hal tersulit sesudah lulus SMA adalah memilih jurusan kuliah. Ada banyak kepentingan yang membuat sulit dalam pengambilan keputusan.

Saat itu, 2005, saya ikut bimbingan belajar Nurul Fikri. Saya katakan, Nurul Fikri adalah bimbingan belajar terbaik yang pernah saya ikuti. Siswanya tidak diajak berpikir pragmatis, tapi memahami suatu filosofi ilmu. Terbukti, murid-murid Nurul Fikri di masa saya menguasi 10 besar try out-try out publik di Kota Palembang saat itu.

Saya tidak termasuk ke sepuluh besar. Tapi, dalam beberapa kali kesempatan, nilai saya tak memalukan dan diprediksi mampu menembus Kedokteran UNSRI dan ITB kecuali Informatika dan Elektro. Ibu saya sih yang kepengen ada anaknya yang jadi dokter. Makanya, sekali kesempatan, saya mengisi Fakultas Kedokteran, lulus, dan hasil itu dikirimkan ke rumah. Ibu jadi menggebu-gebu meminta saya memilih kedokteran. Tapi saya justru mengisi Matematika ITB di SPMB.

Apa sih yang jadi pertimbangan?

  1. Pilihlah Bidang yang Kamu Sukai. Mau tidak mau, paling utama adalah dengarkan kata hatimu. Bidang apa yang kamu sukai. Bidang apa yang kamu kuasai. Kuliah di bidang itu, akan membuatnya seperti hiburan.
  2. Perhatikan Biaya Semesteran di Universitas Tersebut. Nah ini penting. Kuliah itu nggak murah. Kamu juga harus memperhatikan biayanya, konsultasikan ke keluargamu. Jangan sampai kamu terlalu membebani keluargamu.
  3. Cari info lapangan kerja yang berasal dari jurusan itu. Kita juga harus realistis. Kita harus memproyeksikan 4 tahun ke depan apakah lulusan jurusan A masih dibutuhkan di lapangan kerja.
  4. Lihat prediksi skor nasional/passing grade bila kamu ikut seleksi nasional, dan sesuaikan dengan kapasitasmu. Jangan gegabah memilih jurusan dengan nilai tertinggi padahal nilaimu setengahnya. Itu bunuh diri. Pilihan pertama, bolehlah memilih jurusan yang nilainya kirakira- 25% lebih tinggi dari ukuranmu. Pilihan kedua, zona aman. Keberuntungan nggak pernah begitu drastis pengaruhnya.
  5. Konsultasikan ke orang tuamu. Toh, doa orang tua itu penting. Jangan lupa untuk bicara ke mereka meski pendapat mereka ga sesuai kata hatimu. Minimal iya-iyain saja.

Kira-kira itu saja lima pertimbangan yang bisa membuat kita mantap memilih jurusan kuliah. Semoga berhasil.

Menulis, Pada Dasarnya….

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Kepada setiap yang bertanya tentang menulis, aku justru memberikan pertanyaan, apakah menulis bagimu?

Kadang orang keliru mempersepsikan arti menulis sehingga menulis dianggap upaya yang remeh. Kekeliruan berikutnya, menulis hanya dianggap bersenang-senang, berindah-indah, dan pekerjaan manusia-manusia klise. Padahal, menulis adalah sesuatu yang serius yang melibatkan banyak hal di dunia ini.

Hal pertama, menulis adalah teks. Artinya, seorang penulis kudu mempelajari aturan teks. Setidaknya (meski tak menguasai secara penuh), seorang penulis harus tahu caranya menulis kalimat dan tahu diksi (pilihan kata). Menulis kalimat pun sebenarnya butuh pemahaman yang baik tentang sintaksis, S P O K. Soal diksi pun juga harus tahu jenis-jenis kata: mana kata benda, kata sifat, kata keterangan, kata kerja, hingga ke ketepatan arti kata tersebut. Kemudian, penulis juga harus sedikit banyak mengerti soal ejaan. Komitmen inilah yang harus dijaga.

Hal kedua, menulis adalah pemberian. Orang yang memberi harus memiliki sesuatu. Itulah pengetahuan. Penulis kudu berpengetahuan. Kalau tidak, apa yang akan kamu tulis? Tulisanmu tidak akan ada isinya. Kosong. Paling banter muter-muter alias berindah-indah. Tulisan yang kosong tentu tidak berharga. Karena itu, seorang penulis harus mewajibkan dirinya haus pengetahuan, banyak membaca, baik buku maupun alam dan manusia di sekitarnya.

Ketiga, menulis adalah soal perasaan. Tidak cukup hanya pengetahuan, seorang penulis harus memiliki pemahaman. Pemahaman dimulai dari memahami diri sendiri baru memahami orang lain. Di sini pengetahuan berubah menjadi rasa. Penulis yang punya rasa akan menjadi sensitif dan mampu menangkap banyak hal. Efek ke tulisan, tulisannya akan menjadi lebih dalam dan dapat dimaknai oleh pembaca karena menyentuh pembaca. Bahasa lain dari perasaan ini adalah katarsis, pelepasan, menyucikan diri. Dengan melibatkan rasa, penulis akan merasakan pengalaman keterlibatan sesuatu yang menggelegak dari dalam dirinya… dan hal itu kemudian akan ditangkap oleh pembacanya.

Keempat, menulis adalah seni. Untuk dapat menjembatani hal ketiga, penulis harus berseni. Seni adalah keindahan. Seni adalah kreativitas. Keindahan tentu berbeda-beda dengan keindahan. Seseorang yang memiliki seni di dalam dirinya tahu bagaimana caranya mengekspresikan dirinya secara utuh. Ia akan menulis laiknya ia berbicara. Dirinya ada di dalam tulisannya. Seni juga bisa berarti jalan. Dengan seni, penulis memiliki jalan yang otentik di dalam karya-karyanya yang sulit ditiru oleh orang lain.

Keempat hal itu setidaknya harus dimiliki oleh kita semua yang ingin menulis. Apakah kamu sepakat?

Tips Tidak Kena DO (Drop Out) di PKN STAN

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Hal yang paling ditakuti mahasiswa adalah kena DO alias drop out. Dan aturan kampus STAN dikenal dengan ancaman DO yang begitu ketat. Bayangkan, IP Semester Ganjil tidak boleh di bawah 2,40 dan IPK saat Semester Genap minimal 2,75. Dan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara bukanlah sejenis universitas yang nilai bagusnya mudah kayak kacang goreng. Belum lagi, tidak boleh ada nilai D di mata kuliah utama. Jadi, meskipun semua nilai yang lain A, kalau ada satu nilai D, tetap saja DO.

Makanya, setiap pengumuman kelulusan, setidaknya mahasiswa sejumlah satu kelas akan berkurang karena DO.

Pada dasarnya, kalau targetnya asal lulus, maka itu bukan hal yang sulit. Kayak Kakak selama berkuliah di STAN, baik di D3 maupun di D4, kakak bisa lulus. Beda kasus kalau teman-teman ingin meraih prestasi menjadi peringkat terbaik selama di STAN—itu butuh sebuah usaha yang berbeda. Setidaknya ada beberapa saran dari Kakak kalau teman-teman tidak mau kena DO selama berkuliah di STAN:

  1. Absensi. Seperti yang kita tahu, dalam satu semester ada 16 kali perkuliahan. Syarat bisa ikut ujian adalah minimal 80% kehadiran atau 13 kali hadir. Jadi, jangan sampai kalian sering bolos. Kakak sendiri tipe yang mengambil jatah bolos. Dua kali setiap mata pelajaran. Jangan pernah berani ambil tiga kali jatah, ya? Sisakan satu buat cadangan karena kita tidak pernah tahu kapan kita sakit atau kapan kita bangun kesiangan. Lebih baik lagi, sebenarnya, jangan sengaja ambil jatah bolos. Ada paradigma di kampus STAN, kalau kamu sengaja bolos, tanpa keterangan, kamu tidak akan mendapatkan nilai A di mata kuliah tersebut.
  2. Jangan Telat. Beberapa dosen lebih sensi kepada mahasiswa yang telat ketimbang mahasiswa yang tidak masuk kelas. Jadi, jangan biasakan dirimu telat masuk kelas kalau nggak mau ditandai.
  3. Aktif di kelas, dan kerjakan tugas. Dalam 16 kali pertemuan perkuliahan itu, sebaiknya kamu menunjuk tangan minimal 2 kali. Ya, biar dosennya kenal sama kamu dan menganggap kamu terlibat aktif dalam kelas. Hal ini bisa menambah nilaimu kalau nilai akhirnya mepet-mepet batas. Kakak sendiri pernah ngobrol sama seorang dosen yang bilang membantu Nilai Kakak ada di batas atas C. Beliau memberikan nilai B- karena Kakak rajin bertanya. Kemudian, bila ada tugas, kerjakan dengan baik. Jangan copy paste.
  4. Jangan menyontek saat ujian. Ketahuan menyontek saat ujian, hukumannya langsung DO. Termasuk bila ujian itu berupa paper/ makalah. Jangan melakukan plagiarisme. Dosen-dosen di STAN sudah banyak yang menggunakan plagiarisme checker. Teman seangkatan kena DO karena KTTA-nya terbukti menjiplak.
  5. Berlatihlah memperbagus tulisan tangan. Percaya nggak, selain ujian pilihan ganda dan yang sifatnya hitung-hitungan seperti akuntansi, dosen tidak pernah benar-benar memeriksa kertas ujianmu? Saat memeriksa, kebanyakan dosen hanya melakukan scanning. Kalau tulisanmu bagus, jawabanmu penuh, dan hasil scanning itu menunjukkan jawaban yang memuaskan, maka kamu diberi nilai yang bagus pula. Soalnya, selain ujian pilihan ganda dan hitung-hitungan, hampir nggak ada dosen yang membagikan hasil ujian ke mahasiswa lho.
  6. Terakhir, jangan soliter menjelang ujian. Perbanyak koneksi, beredarlah di sekitar fotokopian untuk mencari kisi-kisi. Kisi-kisi soal adalah kunci. Belajarlah dari kisi-kisi yang ada itu.

 

Nah, itulah enam tips simpel tanpa harus belajar dengan giat biar tidak kena DO di STAN. Silakan dipraktikkan. Semoga bermanfaat!

 

Tak Ada Alasan untuk Tak Menulis

Published / by Pringadi As / 2 Comments on Tak Ada Alasan untuk Tak Menulis

Seperti yang kita ketahui bersama, ada 4 kemampuan berbahasa, yakni menyimak, membaca, menulis, dan berbicara. Keempat hal tersebut seharusnya berurutan. Dua hal pertama adalah dasarnya. Namun, dua hal terakhir kadang terjadi anomali. Ada orang yang mampu lancar berbicara, namun mengaku tak bisa menulis.

Segalanya terkait dengan kebiasaan. Apakah kita sudah membiasakan diri menyimak, membaca, menulis, dan berbicara? Coba tanyakan kepada diri kita masing-masing seberapa sering kita melakukan hal-hal itu?

Eka Kurniawan, penulis Indonesia pertama yang menjadi nominee The Man Booker Prize, pernah menulis di blognya: ia menulis minimal dua jam sehari. Dua jam dalam satu hari itu ia sediakan khusus di depan layar, tidak peduli seberapa banyak ia berhasil menciptakan sesuatu. Kadang satu paragraf, kadang satu kalimat! (Tentu, kenyataannya, boleh saja diselingi sambil meriset secara kualitatif tulisan kita)

Stephen King juga pernah bilang, kalau kita merasa tidak punya waktu untuk membaca, kita juga tak akan punya waktu menulis. Nah, pertanyaannya adalah, pernahkah kita menargetkan diri membaca sekian buku dalam setahun? Saya, ya! Target saya 50 buku dalam setahun. Tentu buku yang tematik. Buku sastra. Buku yang menambah pengetahuan kita. Buku yang sudah difilter. Karena buku seperti makanan. Kalau salah makan, kita bisa sakit perut. Kalau tak bergizi, kita tak akan bertumbuh kembang. Apakah target saya tercapai? Kadang-kadang tidak juga.

Poinnya adalah seangkuh-angkuhnya penulis, ia harus punya kerendahan hati di hadapan ilmu pengetahuan. Sama halnya seperti seorang pencinta alam tidak boleh sombong di hadapan alam. Keinginan untuk belajar dan terus belajar, mencoba sesuatu yang baru itu harus tetap dijaga. Puas dengan karya yang sudah pernah diciptakan sesungguhnya adalah kematian bagi seorang penulis.

Nah, sekarang bagaimana dengan teman kita yang mampu lancar berbicara, namun merasa tidak bisa menulis? Ada caranya.

Pada dasarnya, menulis itu adalah menggambar suara. Saya paling benci dengan banyak teori menulis. Siapa pun seharusnya hanya perlu menyadari suaranya sendiri. Bagaimana kamu bicara dengan orang lain? Atau bagaimana suara hatimu berbisik padamu? Kamu hanya harus mengenali itu. Jika kamu berhasil, kamu akan memiliki gaya ucap yang khas. Caramu menyusun kalimat, menghentikan kalimat akan menjadi caramu. Tinggal nanti kamu perlu mengingat kembali fungsi-fungsi tanda baca, diksi yang tepat, kalimat efektif dan efisien, agar apa yang kamu maksud itu sesuai dengan kaedah bahasa.

Cara mengenali suara itu juga bisa dengan menggunakan alat bantu. Ya, rekam suaramu. Misal, kamu mau menulis mengenai inflasi. Bicaralah dengan kaca atau seseorang sambil merekam ucapanmu sendiri. Lalu, putar rekaman itu, dan tuliskan. Sesederhana itu ‘kan?

Tapi, nanti tulisan saya jelek?

Hal ini paling sering saya dengar dari mereka yang mau menulis. Takut tulisannya jelek. Bro, Sis, sesungguhnya tak ada yang berharap tulisanmu bagus. Jadi, jangan takut jelek.

Saya selalu bilang, setiap tulisan itu bagus. Setidaknya bagus untuk dirinya sendiri. Lama-kelamaan kita akan sadar bagaimana cara memperbaiki tulisan kita. Itu butuh proses.

Seorang bayi tidak serta merta bisa berjalan. Apakah para orang tua mengejek anak mereka karena masih merangkak?

Toh, jelek itu bukan aib. Ingat kata Patrick, “Aku jelek, dan aku bangga!”

 

Sesungguhnya, tak ada alasan untuk tak menulis. Setidaknya, tulislah sebuah status setiap hari.

 

9 Tempat Wisata Keren yang Pernah Kukunjungi

Published / by Pringadi As / 2 Comments on 9 Tempat Wisata Keren yang Pernah Kukunjungi

9 Foto Wisata Keren

Kesembilan foto di atas adalah foto yang paling banyak di-like di instagram-ku tahun lalu. Kebetulan atau tidak, kesemuanya adalah foto perjalananku. Bisakah kamu menebak di mana saja foto itu diambil? (Mulai dari kiri atas ke kanan bawah ya.)

  1. Teluk Saleh dalam perjalanan ke Dangar Ode. Itu adalah perjalanan pertamaku bersama Adventurous Sumbawa. Mei 2013 lalu. Foto diambil oleh Taufik Rahman, rekan sekantorku. Ia juga yang mendesain kaos Adventurous Sumbawa yang tengah kukenakan. Kalau perut, sungguh, itu tidak didesain. Perjalanan hari itu sangat menyenangkan. Lautnya tenang. Menaiki perahu nelayan, kami menempuh waktu kurang lebih 45 menit dari pelabuhan di Desa Prajak hingga sampai ke Dangar Ode.
  2. Gunung Bromo. Foto diambil sesaat setelah aku berhasil mendaki anak tangga menuju kawah Bromo. Dalam keadaan yang kurang sehat, dan habis kedinginan setelah menunggu matahari terbit, aku mendaki 250 anak tangga itu. Hanya untuk melihat kawah. Ya, kawah menganga dengan diameter +/- 800 m dan +/-600m. Lonjong. Berbau belerang pula. Namun, pemandangan yang terhampar sungguh menakjubkan. Oh, iya, saya ingat diprotes seorang teman ketika mengatakan Bromo ada di Malang. Lebih tepat, Bromo ada di Probolinggo.
  3. Coban Pelangi. Coban atau air terjun ini kukunjungi dalam rangkaian perjalanan Paket Bromo. Begitu dijemput di stasiun, kami menuju ke penginapan (home stay) dan tak jauh dari situ ada  air terjun ini. Sayangnya, air terjun ini tak punya kolam untuk diberenangi. Terlampau berbahaya.
  4. Pulang dari Pulau Moyo. Foto diambil oleh Taufik Rahman lagi. Ini adalah foto saat perjalanan pulang dari Moyo ke Labuhan Sumbawa. Di sisi kiri sudah tampak Tanjung Menangis. Pagi hari itu laut begitu tenang dan dari kejauhan bisa kusaksikan lumba-lumba menemani perjalanan kami. Meski menggunakan filter CPL, aslinya memang biru banget. Untuk pertama kalinya aku berhasil foto di ujung perahu. Yes!
  5. Sungai di Karekeh. Kami berenang di sungai ini setelah pulang dari menengok air terjun Ai Nyembir di Dusun Selang, Sumbawa. Belum puas berenang di Air Nyembir, kami menemukan sisi sungai yang terhalangi bebatuan sehingga menciptakan kolam alami dengan nyaris tanpa arus. Teman saya, Farhan, menantang saya untuk melakukan lompatan dari atas batu. Kedalaman sungai di sisi ini sekitar 2m. Dan saya pun memberanikan diri melompat. Begitulah hasilnya.
  6. Pantai Mali di Alor. Karena saya memenangkan lomba menulis di Ditjen Perbendaharaan, saya mendapatkan hadiah dinas ke Alor untuk menengok ke KPPN Filial Alor. Salah satu tempat yang memorable banget ya di Pantai Mali. Ia berada di sebelah bandara Mali. Untuk menuju spot ini, mobil masuk ke bandara, melalui landasan pesawat. Diizinkan karena pesawat hanya ada pagi hari. Kalau surut, maka pasir ini akan menghubungkan Alor dengan pulau lain. Namun, saat itu air sudah sebatas dengkul. Kalau memaksakan menyeberang, khawatir tidak bisa pulang.
  7. Hutan Kuang Amo. Foto ini diambil saat perjalanan pulang dari air terjun Ai Putih. Dua jam perjalanan harus ditempuh dari air terjun ini hingga sampai ke pusat desa Kuang Amo. Melewati pinggir sungai, hutan belantara, dan hutan bambu. Sungguh sebuah petualangan yang seru!
  8. Pantai Tanjung Tinggi, Belitong. Ceritanya saya dapat hadiah ke Belitong karena memenangkan lomba cerpen. Saya pun mengunjungi pantai ini. Pantai yang indah sekali. Airnya jernih. Ombaknya tenang. Dan pemandangan batu-batu dari zaman Jura pun memanjakan mata.
  9. Rafting di Bali. Saya lupa di mana raftingnya. Saat itu saya mendapat tugas diklat pengadaan barang dan jasa selama dua minggu. Sesama peserta sepakat, pada saat hari libur diklat, kami berjalan-jalan. Rafting pilihan utamanya. Karena kami semua laki-laki, jadi berani dong. Ini adalah rafting ketigaku. Super! Tapi, turun dan naik dari dan ke sungainya jauh lebih melelahkan dari raftingnya. Hehe.

Nah, dari kesembilan tempat itu, mana yang kamu suka? Mana yang sudah pernah kamu kunjungi? Jika belum, yuk ke sana!

Tips Memilih Kos-kosan di Sekitaran Kampus PKN STAN

Published / by Pringadi As / 3 Comments on Tips Memilih Kos-kosan di Sekitaran Kampus PKN STAN

Selamat kepada 6.964 mahasiswa baru Politeknik Keuangan Negara STAN. Selamat karena teman-teman sudah menyisihkan 154.622 peserta USM lainnya. Kakak jadi ingat rasanya lulus STAN 10 tahun silam. Biasa saja sih. Bahagia, tentu saja ada. Tapi jangan begitu terlarut ya dengan kebahagiaan, karena ada tantangan berikutnya yang tengah menunggu. Kakak baru menyadari tantangan ini ketika melanjutkan ke DIV tahun 2014 lalu. Tantangan itu adalah mencari kos-kosan!

Dulu, tahun 2007 itu, memilih kos tak sesulit itu. Seangkatan kakak tak sampai 2000 mahasiswa yang mendaftar ulang. Datang ke Bintaro sendirian dari Palembang untuk mendaftar ulang, tidur di kos kakak kelas semalam, besoknya sudah bisa cari kos dan langsung mendapatkan kos. Sekarang? Jangan harap!

Jumlah mahasiswa yang diterima semakin banyak. Sementara pertumbuhan jumlah kos-kosan tidak signifikan. Permintaan lebih tinggi dari penawaran. Hal ini mengakibatkan harga meningkat, dan pencarian kos-kosan jadi berebutan. Jangan ulangi hal yang Kakak lakukan, baru mencari kos saat daftar ulang. Kalau tidak sisa kos yang jelek (di bawah standar), maka sisa kos yang sangat mahal.

Membedah dunia kos-kosan di sekitar kampus PKN STAN sebenarnya bisa dilihat dari wilayahnya. Kakak membagi wilayah kos menjadi 6 wilayah:

  1. Kalimongso
  2. Sarmili
  3. PJMI
  4. Pondok Jaya (Ponjay)
  5. Ceger
  6. Dan lain-lain
  • Kalimongso adalah tempat kos paling strategis. Ibarat kata, tinggal gelinding nyampe. Tempat makan berlimpah dan murah meriah. Ada Cek Ikin, ada Warung Jatim, ada Warung Sederhana (Bu Bor) yang akan memanjakan lidah dan memberi porsi kuli. Begitu pun tempat foto kopian. Perdagangan buku kuliah bajakan di Kalimongso bisa bikin penerbit asli gulung tikar. Nilai paling plusnya, menjelang ujian (baik UTS maupun UAS), soal kisi-kisi beredar di foto kopian Kalimongso beserta kunci jawabannya. Harga kos-kosan di Kalimongso pun relatif lebih terjangkau. Namun, hal itu sebanding dengan fasilitas yang ada. Kos-kosan di Kalimongso sumpek, tidak bisa dimasuki mobil. Fasilitasnya pun terbatas. Lebih pelik, ada beberapa sudut di Kalimongso yang tidak bisa ditembus provider tertentu. Kalimongso cocok buat kamu yang menginginkan suasana guyub dan sederhana, dan punya hobi pulang ke kos tidur siang saat jeda kuliah!
  • Sarmili sedikit lebih jauh dari Kalimongso. Dulu, daerah Sarmili kurang direkomendasikan menjadi pilihan utama kos-kosan. Sebab utamanya, banyak nyamuk. Daerahnya kurang bersih dibandingkan wilayah yang lain. Namun, kini sudah jauh lebih mendingan. Pintu keluar Gang Sarmili tepat di dekat Student Centre. Kos-kosan di Sarmili juga relatif murah. Wilayah masing lenggang, jadi tenang belajar. Warga di Sarmili juga ramah dan terasa kekeluargaannya. Plus, jangan khawatir mencari masjid. Kekurangannya, kayaknya hampir ngga ada foto kopian. Dan suasananya yang menyatu dengan perkampungan warga mungkin kurang cocok dengan anak-anak generasi Z.
  • PJMI, Pondok Jurang Mangu Indah. Nah, pas DIV, Kakak kos di PJMI. Sesemester di Jalan Sejahtera (dekat gerbang PJMI Ceger), setahun di Jalan Ikan Terbang. Pas tingkat III di DIII pun kos di Jalan Dahlia Raya setelah dua tahun sebelumnya di Kalimongso. PJMI lebih menawarkan privasi. Ala-ala perumahan gitu. Yang enak adalah fasilitas internetnya tinggal milih, kebanyakan pakai First Media. Kencang. Dekat dengan Kalimongso dan Ceger. Posisi strategis bukan cuma buat kuliah, tapi juga buat cao kemana-mana. Harga kos-kosan menengah ke atas. Banyak kos-kosan yang ber-AC dan kamar mandi sendiri. Bisa masuk mobil. Mau makan juga banyak pilihan. Makanan di komplek memang lebih mahal sih. Dekat mau ke Harmoni (swalayan di Ceger). Kelemahannya, di PJMI banyak maling motor. Sudah beberapa teman kemalingan motor. Jadi, kudu hati-hati mengunci motormu, ya? Dan ya, kalau hujan, beberapa jalan menggenang, kita terpaksa lepas sepatu.
  • Ceger adalah wilayah kos yang sangat luas. Letaknya di jalan raya yang ada di belakang STAN. Kalau di depan itu Bintaro, belakangnya Ceger. Bak bumi dan langit. Biasanya yang kos di Ceger karena nggak dapat kosan di ketiga tempat di atas. Jalan kakinya cukup jauh. Tapi karena dekat jalan raya, ya apa saja ada di sana. Pilihan kosan pun beragam. Dan di Ceger, banyak kos yang bulanan. Kalau di ketiga tempat di atas, paling sebentar itu setengah tahunan. Tapi risikonya, bising dan ramai, dan banyak yang campur dengan karyawan.
  • Pondok Jaya, berada di seberang PJMI. Komplek juga. Namun, karena sudah masuk kawasan Bintaro, kosan di sini terkenal paling mahal. Jarang mahasiswa kos di sini kecuali kaya. Ponjay menawarkan kebebasan. Kalau di wilayah lain, kalian harus berhati-hati kalau bawa pacar ke kosan. Dulu sih strict banget. Sekarang, bisa curi-curi sih. Nah kalau di Ponjay, bebas banget. Di Ponjay, nggak ada foto kopian, nyari makan yang murah juga susah. Harus punya motor kalau ngekos di sini.
  • Dan lain-lain. Salah satu area dan lain-lain yang terkenal adalah Pondok Safari (Ponsaf). Jauh. Biasanya juga ada yang lebih jauh ke Sektor 9, atau mengarah ke Sektor 3. Biasanya modalnya kontrakan atau rumah petak. Tipe-tipe penyendiri biasanya cocok ngekos di area dan lain-lain. Harganya sudah pasti lebih mahal.

Kira-kira begitulah reviu saya tentang kos-kosan di sekitar kampus PKN STAN. Tentu hal ini subjektif. Hanya berdasarkan pengalaman selama kurang lebih 4,5 tahun kuliah di STAN. Tiga tahun dari 2007-2010 pas DIII. Dan 1,5 tahun ketika kembali ke Bintaro untuk menunaikan DIV 2014-2016 lalu.

Semoga bermanfaat!