Catatan Pringadi

Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan

Category: Puisi

Buku Puisi

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

the_diary_by_slawekgruca-d76z4aj

Aku Cukup Menulis Puisi, Masihkah Kau Bersedih

56 puisi, 108 halaman

Harga Rp40.000,-

http://bukuindie.com/buku/puisi-sastra/aku-cukup-menulis-puisi-masih-kau-bersedih/

atau SMS/WA 085239949448

Ini bukanlah buku puisi pertamaku. 

Dulu, ketika aku masih kelewat percaya diri, aku mencetak sebuah buku puisi. Judulnya Alusi. Aku cetak sebanyak 1000 eksemplar dengan penerbitnya Pustakapujangga. Itu uang sendiri. Aku masih ingat, biaya cetaknya 5 juta rupiah. Selesai cetak, Mas Nurel mengantarkan buku itu ke Bandung. Kebetulan Aan Mansyur datang ke Bandung kala itu. Ia mengadakan bedah buku puisinya di Ultimus. Aku datang sekalian untuk berpacaran dengan Zane.

Buku puisi itu laku lebih kurang 300 eksemplar yang kujual sendiri. Di toko, ia laku sekitar 100 eksemplar saja. Sisanya aku berikan ke Mayoko Aiko, untuk dibagi-bagikan setiap kali ia mengadakan kuis atau door prize. Rugi? Tidak. Aku jual buku itu seharga Rp25.000,-. Aku masih mendapatkan uang lebih, aku pun mendapat banyak pengalaman dalam berhubungan dengan banyak orang. Aku juga belajar bahwa puisi-puisiku amatlah buruk.

Setelah itu, aku tak menerbitkan buku puisi atas namaku sendiri. Hanya ada beberapa antologi, hasil proses kurasi berbagai event yang memuat namaku. Belasan atau mungkin dua puluhan. Aku tidak terlalu memikirkan mereka sampai-sampai arsip buku-buku itu aku tak punya. Ada satu buku yang memuat cukup banyak puisiku, sekitar 40 puisi bahkan. Judulnya Sebuah Medley. Itu buku puisi atas nama dua orang, aku dan Andi Arnida Massusungan. Beliaulah yang mendanai buku tersebut dan mengajakku untuk mengikutsertakan puisiku di dalamnya.

Dalam jangka waktu lebih dari 5 tahun itu, setelah Alusi pada tahun 2009, aku lebih dikenal sebagai prosais.

Aku rajin mengirimkan cerpen ke koran. Kumpulan cerpen pertamaku terbit di 2011, Dongeng Afrizal. Beberapa antologi cerita pendekku pun, termasuk dalam Temu Sastrawan Indonesia, cerpenku lah yang terpilih. Pada tahun 2014, Gramedia Pustaka Utama yang banyak didambakan penulis juga menerbitkan kumpulan cerpenku dan Sungging Raga dalam Simbiosa Alina. Ternyata keren diterbitkan GPU itu cuma mitos.

Belum cukup itu, aku pun belajar menulis novel dan kebetulan pada Lomba Novel DKJ 2014 lalu, aku masuk 11 besar. Pun ada novel yang ditulis berempat, berjudul 4 Musim Cinta, sudah digadang-gadang akan terbit 2015.

Orang-orang lupa aku menulis puisi.

Adalah Irwan Bajang yang mengemukakan ide itu pada akhir September 2014. Kami bertemu di perayaan buku puisi Khrisna Pabichara. Ia bertanya padaku, “Pring, mana puisimu, sini kuterbitkan?”

Irwan Bajang adalah pemilik Indie Book Corner. Biasanya kau tahu, untuk terbit, itu artinya kamu harus bayar biaya cetak. Tapi ini tidak. Dia meminta naskahku.

“Mulai tahun 2015 ini, aku mau menerbitkan buku-buku sastra. Dea, Kekal, Kau….” lanjutnya.

Aku sumringah dalam hati. Di balik itu aku berpikir apakah naskahku layak diterbitkan. Belakangan, aku didera penyakit tidak percaya diri pada karya-karyaku. Aku juga lebih suka menulis puisi di facebook, di blog, dan tak ada dari mereka yang dimuat di koran-koran.

“Kenapa?” tanyaku. “Aku juga punya naskah cerita, dengan konsep seperti Surga Sungsang, cerita pendek yang berkesinambungan, seperti sebuah novel, tapi belum selesai, kau mau lihat?” Aku melanjutkan pertanyaan karena aku tak siap mendengar jawaban yang pertama.

Dia mengangguk dan membaca naskahku itu. Dia memuji caraku membuka cerita. “Seperti biasanya, pembukaanmu istimewa…” katanya. “Tentang puisi itu…” lanjutnya.

“Kau serius?” sergahku dengan pertanyaan. “Bila ya, segera kukumpulkan puisiku, dan aku harap kau memilih dan memilahnya. Aku ingin sebuah konsep.”

Itulah sekelumit pembicaraan kami saat itu. Dan baru pada Maret 2015, buku itu terbit, berbarengan dengan buku puisinya Dea Anugerah.

 

Sajak Nizar Qabbani, Terjemahan Lepas M. Aan Mansyur

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Lari-lari Kecil pada Pagi Hari

Kita memasukkan diri ke dalam barisan

seperti kawanan domba yang hendak disembelih.

Kita berlari, terengah-engah, ingin mencium

sol sepatu para pembunuh.

Mereka menculik anak Maryam

padahal ia masih bayi. Mereka mencuri

dari diri kita ingatan pohon-pohon jeruk,

dan aprikot dan rimbun semak mint,

dan lilin dari masjid-masjid.

Mereka meletakkan di tangan kita

sekaleng sarden bernama Gaza

dan sepotong tulang kering bernama

Yerikho. Mereka membiarkan kita

tumbuh sebagai tubuh tanpa tulang,

sepasang lengan tanpa jemari.

Setelah perselingkuhan rahasia yang basah

di Oslo, kita dilanda kekeringan.

Mereka memberi kita tanah air

yang lebih kecil dari sebiji gandum.

Tanah air yang akan kita telan tanpa air,

seperti sebutir aspirin.

Kita memimpikan perdamaian yang hijau

dan bulan sabit putih

dan laut biru.

Namun, kini, kita menemukan diri kita

cuma seonggok tinja.

*

Tuan Sultan

Jika ada yang menjamin keselamatanku,

jika aku mampu bertemu dengan Sultan,

aku akan mengatakan kepadanya: O Tuanku Sultan!

Anjing Tuan yang rakus merobek-robek jubahku,

mata-mata Tuan mengikutiku sepanjang waktu.

Mata mereka, hidung mereka, kaki-kaki mereka

mengejarku seperti takdir, seperti nasib.

Mereka menginterogasi istriku

dan menulis nama semua sahabatku.

Wahai, Sultan!

Karena aku berani mendekati dindingmu yang tuli,

karena aku mencoba mengungkapkan kesedihan

dan kesusahanku, aku dipukuli

dengan sepatu bututku sendiri.

Wahai, Tuan Sultan!

Engkau telah kalah perang dua kali

karena setengah dari orang-orang kita

tidak memiliki bahkan sepotong lidah.

 

*

 

Bahasa

Ketika seorang lelaki jatuh cinta,

kenapa ia harus memakai kata-kata?

Apakah para wanita mendambakan

kekasih mereka berbaring di dekatnya

sebagai ahli bahasa?

Aku tidak mengucapkan apa pun

kepada wanita yang aku cintai.

Aku memasukkan kamus-kamus

ke dalam koper dan melarikan diri

dari semua bahasa.

*

Percakapan

 

Jangan kausebut cintaku

seikat cincin atau gelang.

Cintaku adalah pengepungan.

Keberanian dan kemauan keras

yang bangkit dari kematian mereka.

Jangan kausebut cintaku

sebagai semata bulan.

Cintaku lebih hebat dari ledakan

cahaya.

*

 

Surat dari Bawah Laut

 

Jika engkau sahabatku,

bantu aku menanggalkanmu.

Atau, jika engkau kekasihku,

bantu aku menyembuhkan diri darimu.

Andai aku tahu lautan sedalam ini,

aku tidak akan menceburkan diri,

Andai aku tahu bagaimana aku berakhir,

aku tidak akan pernah memulai.

Aku mendambakanmu, maka ajari aku ketidakinginan.

Ajari aku mencabut akar cintamu dari kedalaman.

Ajari aku memadamkan kesedihan di mata

hingga cinta memutuskan bunuh diri.

Jika engkau seorang nabi,

bersihkan aku dari kutukan ini,

bebaskan aku dari ketiadaan iman.

Mencintaimu ibarat tak memeluk satu agama pun,

maka sucikan aku dari kehampaan ini.

Jika engkau kuat,

angkat aku dari dasar laut ini

karena aku tidak tahu berenang.

Ombak biru di sepasang matamu

menarikku ke palung paling dalam

biru

biru

seluruh biru

dan aku tidak memiliki pengalaman

mencintai dan tidak ada perahu

sama sekali.

Jika engkau mengasihiku

ulurkan lenganmu, rengkuh aku,

sebab aku dipenuhi nafsu

dari rambut hingga kuku-kuku

kakiku.

Aku bernapas dari sini, di bawah laut.

Aku tenggelam,

tenggelam,

tenggelam.

Cahaya Lebih Penting daripada Lampu

Cahaya lebih penting daripada lampu,

puisi lebih penting daripada buku catatan,

dan ciuman lebih penting daripada sepasang bibir.

Surat-suratku kepadamu

lebih agung dan lebih penting daripada kita berdua.

Lembaran-lembaran itu satu-satunya dokumen

di mana orang-orang kelak menemukan

kecantikanmu

dan kegilaanku.

*

Wahai,Kekasihku

Wahai, Kekasihku,

jika kau berada di sini, di puncak kegilaanku,

kau akan menyingkirkan semua perhiasanmu,

kau akan menjual habis gelang-gelangmu,

dan pulas tertidur di mataku.

*

Tentang Menyelami Lautan

 

Cinta, pada akhirnya, tiba juga

dan kita memasuki surga,

menyelusup

di bawah kulit air

seperti ikan.

Kita melihat mutiara laut berkilau

dan mata kita dipenuhi kekaguman.

Cinta, pada akhirnya, menimpa kita juga,

tanpa paksaan, dengan keinginan yang setara,

sebesar yang kuberi, sebesar yang kauberi,

dan kita merasa sama adil.

Cinta menyerahkan diri, pasrah,

seperti mata air yang terbit begitu saja

dari balik tanah.

 

*

 

Coretan-coretan Anak Kecil

 

Kesalahanku, kesalahan terbesarku,

Duhai, Putri bermata laut,

adalah mencintaimu

seperti seorang anak kecil mencintai.

Namun, kekasih paling mulia,

sesungguhnya, adalah anak kecil.

Kesalahan pertamaku

dan bukan yang terakhir

adalah hidup

di pusat keingintahuan

selalu siap terkesiap

bahkan oleh peralihan sederhana

kelam dan terang. Malam dan siang.

Dan menyediakan diri kepada setiap perempuan

yang aku cintai untuk memecahkan diriku

menjadikanku ribuan serpihan,

mengubahku jadi kota terbuka dan terluka,

dan meninggalkanku di balik punggungnya

sebagai kepulan debu.

Kelemahanku adalah melihat dunia

dengan pikiran anak kecil.

Dan, sungguh, kesalahanku adalah menyeret cinta

keluar dari gua, melepaskannya ke udara,

memugar dadaku jadi gereja

yang menerima semua pecinta.

*

Cintamu adalah Sekolahku

Cintamu mengajariku bagaimana cara berduka,

dan selama berabad-abad yang sungguh kucari

adalah perempuan yang mampu membuatku bersedih.

Aku membutuhkan seorang perempuan

yang membuatku menangis di bahunya seperti seekor burung.

Aku membutuhkan perempuan yang mau mengumpulkan

serpihan diriku seperti mengumpulkan pecahan-pecahan kaca.

Cintamu, Duhai Perempuanku, mengenalkanku kebiasaan buruk

paling buruk, mengajariku meminum ribuan gelas kopi setiap malam,

mengajakku ke laboratorium mengamati bahan-bahan kimia,

memaksaku mengunjungi dokter dan para peramal,

Cintamu mengajariku meninggalkan rumah

menelusuri ruas-ruas jalan, mencari wajahmu

di benang-benang hujan dan lampu-lampu kendaraan,

mengamati pakaianmu di tubuh orang-orang yang tak kukenal,

mencari senyummu di poster-poster dan iklan-iklan koran.

Cintamu mengajariku mengembara, mencari model rambut

yang membuat semua perempuan gipsi cemburu, mencari

wajah dan suara yang lebih indah dari seluruh wajah dan suara.

Cintamu, Perempuanku, memasukkanku ke dalam kesedihan,

kota yang tidak pernah kudatangi sebelum menemukanmu.

Aku tidak tahu, kesedihan adalah manusia itu sendiri.

Tanpa air mata, manusia hanya kenangan.

Bayangan belaka.

Cintamu mengajariku menggambar wajahmu dengan kapur

seperti seorang anak kecil. Di tembok-tembok kota, di dinding

perahu para nelayan, di lonceng-lonceng geraja, di patung-patung

Yesus.

Cintamu mengajariku bahwa cinta mampu mengubah peta waktu.

Cintamu mengajariku bahwa jika aku mencintai, bumi akan tertegun

dan lupa bagaimana cara perputar.

Cintamu mengajarkan kepadaku hal-hal yang tak masuk akal.

Aku membaca buku-buku dongeng. Aku memasuki kastil

para peri. Aku bermimpi mereka akan menikahkan aku

dengan putri Sultan. Duhai, sepasang mata itu, lebih bening

daripada mata air, lebih segar dari buah-buah delima.

Aku bermimpi jadi seorang pangeran dan menculiknya.

Dan aku bermimpi memberikannya seuntai kalung mutiara.

Cintamu, Wahai Perempuanku, mengajariku arti hayalan

dan kegilaan. Mengajariku bahwa hidup akan baik-baik saja

meskipun putri Sultan tidak pernah datang. Mengajariku

menemukan dan mencintaimu dalam hal-hal sederhana.

Di pohon-pohon musim gugur yang telanjang, di daun-daun

kering yang jatuh, di butiran-butiran hujan, di ketenangan kuil,

di tengah riuh kafe tempat orang mabuk, dalam malam-malam

senyap, dalam bergelas-gelas kopi hitam.

Cintamu mengungsikanku di kamar-kamar hotel murah tak bernama,

di gereja-gereja tak bernama, di rumah-rumah kopi tak bernama.

Cintamu mengajariku bagaimana malam dipenuhi kesedihan

orang-orang asing. Mengajariku melihat Beirut sebagai perempuan,

kekejaman godaan sebagai perempuan, memasangkan gaun

paling indah yang dia punya ke tubuh setiap malam,

dan menumpahkan parfum ke dadanya.

Cintamu mengajariku menangis tanpa air mata.

Mengajariku menidurkan kesedihan, seperti anak kecil

dan kakinya yang kelelahan berjalan dari Rouche ke Hamra.

Cintamu mengajariku bagaimana cara berduka,

dan selama berabad-abad yang sungguh kucari

adalah perempuan yang mampu membuatku bersedih.

Aku membutuhkan seorang perempuan

untuk membuatku menangis di bahunya seperti seekor burung.

Aku membutuhkan perempuan yang mau mengumpulkan

serpihan diriku seperti mengumpulkan pecahan-pecahan kaca.

*

Ketika Aku Mencintai

 

Ketika aku mencintai,

aku merasa akulah penguasa waktu,

aku pemilik bumi dan segala sesuatu di atasnya,

dan aku menunggang kuda dan melaju

menuju matahari.

Ketika aku mencintai,

aku adalah lelehan cahaya,

kasat mata, dan puisi di buku catatanku

tumbuh jadi taman bunga paling indah.

Ketika aku mencintai,

air mengalir dari sela jari-jariku,

rumput tumbuh di lidahku,

Ketika aku mencintai,

aku menjadi waktu di luar seluruh waktu .

Ketika aku mencintai seorang wanita,

semua pohon, tanpa alas kaki,

berjalan ke arahku.

*

Ketika Aku Mencintaimu

Ketika aku mencintaimu,

bahasa baru terbit seperti mata air,

kota baru, negara-negara baru, ditemukan .

Jam dinding bernapas seperti anak-anak anjing.

Gandum tumbuh di halaman-halaman buku.

Burung-burung berlepasan dari matamu

seperti lelehan madu. Serombongan kafilah

datang dari dadamu membawa ramuan India.

Buah-buah mangga berjatuhan dari dahan,

hutan terbakar, dan gendang-gendang Nubia

tak henti menyeru para penari.

Ketika aku mencintaimu,

sepasang payudaramu melepaskan rasa malu,

berubah menjadi petir dan gelegar guntur,

sebilah pedang, dan badai pasir yang hebat .

Ketika aku mencintaimu,

kota-kota Arab bangkit dan meneriakkan

perlawanan terhadap zaman penindasan,

menumpahkan kemarahan kepada hukum

yang menganiaya suku-suku tertentu.

Dan aku, ketika aku mencintaimu,

aku ikut berbaris melawan semua kejahatan,

melawan pengusaha yang menimbun garam,

melawan penguasa yang mengubah gurun

jadi kebun sendiri.

Dan aku akan terus mencintaimu

hingga banjir bandang itu datang,

Aku akan terus mencintaimu

hingga banjir bandang itu datang

menghapus dunia.

*

Pada Musim Panas

Pada musim panas,

kubawa diriku ke pantai

berbaring dan memikirkanmu.

Kutumpahkan ke dada laut

seluruh perasaanku kepadamu.

Laut akan menanggalkan pantai,

meninggalkan karang-karang,

kerang-kerang, juga ikan-ikan,

dan berjalan mengikutiku pulang.

 

*

 

Kekasihku Bertanya Kepadaku

Kekasihku bertanya kepadaku:

“Apa bedanya aku dengan langit?”

Perbedaannya, Sayang,

adalah jika kau tertawa,

aku lupa apa itu langit.

*

Puisi tentang Laut

Di pelabuhan biru matamu

berembus hujan dan kilau suar

ibarat suara-suara yang merdu.

Matahari gemetar dan layar

melukis perjalanan mereka

ke keabadian.

Di pelabuhan biru matamu

lautan terbuka seperti jendela.

Burung-burung datang dari jauh,

mencari pulau-pulau yang tiada

dalam peta.

Di pelabuhan biru matamu

salju jatuh menyelimuti bulan Juli.

Kapal sarat dengan bebatuan mulia

tumpah ke laut dan tidak tenggelam.

Di pelabuhan biru matamu

aku menyusur pantai bagai anak kecil.

Menghirupembuskan aroma garam

dan memulangkan burung-burung

yang kelelahan ke sarang.

Di pelabuhan biru matamu

karang bersenandung pada malam hari.

Siapa gerangan yang menyembunyikan ribuan puisi

ke dalam lembaran buku tertutup di matamu?

Andai saja, andai saja aku seorang pelaut,

andai saja ada seorang memberiku perahu,

aku akan menggulung layarku setiap malam

dan bersandar di pelabuhan biru

matamu.

Segera Terbit: Aku Cukup Menulis Puisi, Masihkah Kau Bersedih?

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

the_diary_by_slawekgruca-d76z4aj

 

Hujan di Luar Berderai-derai,

Boleh Aku Mencintaimu?

 

kata-kataku tak pernah lebih panjang dari usia kupu-kupu

sejak kuketahui ada yang meletakkan ribuan kepompong

di sepasang paru-paruku

 

(2014)

 

Pada Maret 2015 ini, dijadwalkan sebuah buku kumpulan puisiku akan terbit. Judulnya cukup panjang, Aku Cukup Menulis Puisi, Masihkah Kau Bersedih?

Berawal dari pertemuan dengan Irwan Bajang pada peluncuran buku puisinya Khrisna Pabichara, bulan September 2014 lalu, ia berkata hendak menerbitkan puisi-puisiku. Aku sendiri sebenarnya tidak punya hasrat lebih untuk itu. Sudah lama, aku tidak mengirimkan puisiku ke koran-koran. Hanya beberapa kali juga aku mengikutsertakan mereka ke berbagai antologi atau mengirimkannya ke sayembara. Beberapa di antaranya beruntung, membuatku menerima semacam blackberry atau galaxy tab.

Ini adalah buku puisi keduaku setelah Alusi. Mengingat Alusi, aku menulisnya pada tahun 2009, dengan terburu-buru. Dengan kredo menciptakan alusi, bukan hanya sebagai sebuah gaya bahasa, aku menulis segala yang ada di pikiranku. Aku tidak tahu kenapa dulu aku begitu percaya diri. Bermodalkan uang 5 juta, aku cetak sendiri buku itu 1000 eksemplar melalu Pustakapujangga milik Mas Nurel. Aku jual dengan harga Rp25.000,- per buku. Alhamdulillah, lebih dari 200 eksemplar bisa kujual sendiri. Stok di toko pun terjual lebih dari 100 eksemplar. Sisanya, aku berikan ke perpustakaan, kegrup kepenulisan untuk dibagi-bagikan setiap kali mereka mengadakan event.

Buku puisiku kali ini murni diterbitkan IBC. Sebagai penerbitan indie (bukan lawan kata major, tetapi lawan kata mainstream), tentu buku ini tidak akan hadir di toko buku. Bila saja kamu lewat dan membaca blogku, kamu bisa memesannya langsung ke aku atau ke IBC. Harganya Rp40.000,- Inflasi seringkali mengolok-olok isi dompet, ya? Dalam 6 tahun, harga produksi buku meningkat drastis.

Sila dipesan ke @pringadi_as atau SMS/WA ke 085239949448

Tiga Puisi

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Malam Menua, Rambut Beruban Bukan Salah Soal Ujian

ia akan pergi ke tukang potong rambut untuk menyambut masa ujian

disisakan setengah centi dari pikirannya agar ia bisa berpikir pendek

 

dengan demikian, pertanyaan-pertanyaan yang muncul di lembar soal

akan tidak ragu-ragu dia jawab, benar atau salah, itu urusan tuhan

 

(2015)

 

Kerapu Merah

dengan jelas diakui, kerapu merah tidak enak dipanggang matang

kerapu merah lebih baik dibiarkan berenang, mengikuti gelombang

sampai ke laut sekitar jimbaran atau sampai ke dekat ujung pandang

 

dengan begitu, setiap dompet akan bergidik, satu kilogram sunu

dihargai tiga-empat ratus ribu rupiah, anggaran pulsa tiga bulan

dan nelayan-nelayan tidak akan memakai perahu sebesar papan setrikaan

 

dan menjadi penjudi ulung, dengan tuhan sebagai bandar

satu nyawa melayang sebanding dengan satu jaring penuh tangkapan ikan

 

dengan begitu, tak perlu jauh-jauh kapal cepat pencuri datang kemari

bersembunyi dalam bulan mati, menebar pukat seolah-olah itu kalimat

cinta yang mudah diucapkan banyak penyair kesepian

 

dalam pikiranku yang salah ini, tuhan menjadi tuhan karena dia hanya satu

kelangkaan ini suatu hari dapat mengancam keimanan umat manusia

jika suatu hari hanya tersisa satu kerapu merah, kerapu merah menjadi tuhan

 

(2015)

 

Di Selat Alas Kau Berjanji Menikam Seseorang

 

ini tidak mungkin dipercaya, jarak sepuluh kilometer antara

lombok dan sumbawa dapat memicu kematian

 

seseorang dapat ditikam, didorong ke laut lalu tenggelam

orang-orang tidak akan tahu, mereka lebih suka memikirkan

harga daging sapi, seikat kangkung, kelangkaan ikan

pada bulan purnama, juga ombak dan cuaca barat siwa

daripada negara, ketua KPK, penumpang yang terlantar di bandara

apalagi hanya mayat, yang tak memiliki hubungan kerabat

 

di situlah, kadang-kadang aku merasa sedih

teringat pesan singkatmu semalam, kita tak memiliki masa silam

padahal udara pernah sangat kejam, aku ingin berteriak

tapi dadaku dibuatnya sesak, hidupku dibuatnya terisak

 

terserah, bila kapal ini bernasib seperti munawar, lalu aku terdampar

melihat bekas pulau kenawa yang terbakar, dan baru

ditumbuhi belukar, aku pasrah, tetapi bukan aku yang mati

karena belum kusampaikan kata-kata yang sudah lama

menjadi bantal dalam tidurku, dan terbayang adegan di pasar

ketika aku tertipu, ingin membeli cumi tapi diberi gurita

 

hal itulah yang membuatku tak terima, kau membuatku mengira

kau telah jatuh cinta padaku selama-lamanya

kepalsuan itulah yang membuatku ragu pada wanita mana saja

juga jarak mana saja, karena jarak sepuluh kilometer ini

harus kutempuh dua jam lebih lamanya, sementara

sepuluh kilometer yang lain hanya membutuhkan waktu sepuluh menit!

 

(2015)

Aku Pikir Aku Akan Menulis Sajak Cinta Tetapi Aku Tidak Tahu Cinta Seperti Apa

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

“Cinta adalah…” Betapa sering sebuah kalimat

dimulai dengan cara menyebut cinta. Setiap orang
dari setiap desa akan mengajukan metafora
yang berbeda. Negara dalam Bhinneka Tunggal Ika
maksudnya, berbeda-beda cara dalam ungkapkan cinta.

Itu juga yang menjadi alasan garuda menengok ke kanan
seekor garuda betina tengah tampil cantik menawan.

Setiap cinta butuh kecantikan. Seseorang rela mati
demi kecantikan. Dan segala seni bicara kecantikan.

“Kamu adalah…” Selanjutnya pasti bicara kamu.

Kata sifat, kata kerja, kata keterangan akan lepas
bila tak ada subjek, tak ada objek.

Aku tidak menganggapmu mati dan tak memiliki kehendak

Sebuah cinta selalu membebaskan diri pencinta
dan juga yang dicintainya untuk saling mencintai
atau justru bertepuk sebelah tangan.

Tepukan seperti itu akan sangat dipahami oleh sunyi
yang piawai membujuk banyak orang menjadi penyair mendadak.

“Cinta adalah kamu…” Itu bagiku.
“Kamu adalah cinta…” Itu bagi cinta.

Aku Menyalakan Lilin Untukmu

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

aku merindukan mati lampu supaya kita dapat berpelukan
di sekitar lilin yang baru dinyalakan
bersama kita memainkan bayangbayang
dan menyaksikan dinding bak layar bioskop dengan film baru tayang

aku menciptakan seekor elang
yang mengepakkan sayapnya pedih
setelah menghabiskan sekepal daging sidharta
cakarnya yang biasa gigih menjadi letih
kau menyebut cakar itu hatiku
lalu tanganmu menyalak, menjadi anjing penjaga

aku telah lama meninggalkan rumah
kau telah lama menungguku pulang

aku merindukan mati lampu terutama
bila hujan turun di antara dua orang kasmaran
aku akan melihat nyala lilin itu tergoda
melepaskan diri dari sumbu ketimbang selalu disalahkan
di antara kita, siapa saja boleh mengaku salah
juga boleh mengaku saling kasmaran

aku tidak tahu mana yang mendekati kebenaran
aku tidak tahu mana yang benar kurindukan