Catatan Pringadi

Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan

Category: Puisi

Aku Menyalakan Lilin Untukmu

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

aku merindukan mati lampu supaya kita dapat berpelukan
di sekitar lilin yang baru dinyalakan
bersama kita memainkan bayangbayang
dan menyaksikan dinding bak layar bioskop dengan film baru tayang

aku menciptakan seekor elang
yang mengepakkan sayapnya pedih
setelah menghabiskan sekepal daging sidharta
cakarnya yang biasa gigih menjadi letih
kau menyebut cakar itu hatiku
lalu tanganmu menyalak, menjadi anjing penjaga

aku telah lama meninggalkan rumah
kau telah lama menungguku pulang

aku merindukan mati lampu terutama
bila hujan turun di antara dua orang kasmaran
aku akan melihat nyala lilin itu tergoda
melepaskan diri dari sumbu ketimbang selalu disalahkan
di antara kita, siapa saja boleh mengaku salah
juga boleh mengaku saling kasmaran

aku tidak tahu mana yang mendekati kebenaran
aku tidak tahu mana yang benar kurindukan

Sesaat Sebelum Pesawatku Jatuh

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

aku ingin dibiarkan tenggelam dan menghilang
dimakan ikan-ikan kelaparan
atau membusuk tinggal tulang

sebelumnya aku akan menikmati kisah pi
dalam permainan gelombang laut
yang lebih dahsyat dari gelombang maut
dan menatap langit malam tahun baru
tanpa nyala kembang api yang memencar
ada rasi bintang yang malumalu mengintipku
mereka menahan diri agar
aku tak ingat jalan pulang

kau tak perlu mencariku
dengan menghabiskan uang rakyat bermilyar-milyar
dan lima ribu lima ratus ton bahan bakar
yang dapat menjadi ribuan ton pencacah lapar

aku akan tenang, bila tenggelam dan menghilang
dimakan ikan-ikan kelaparan
atau membusuk tinggal tulang

ini seperti seseorang menghamburkan abuku ke laut
aku menyatu dengan yang menyucikan segala
yang kembali kepadanya

suatu hari bila kau merindukanku pula
kau tak akan perlu meratap di pusara
pura-pura menggenggam tanah basah
tetapi pergilah ke pantai utara
dan berharap satu dari sekian banyak pasir di sana
adalah pecahan tulangku yang terdampar

tidak apa-apa, manusia terbiasa dengan kesedihan
juga perasaan kehilangan

Tolong Tebak, Ada Apa dalam Kepala 1 Januariku?

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

aku mencoba menumbuhkan pohon di dalam kepalaku, tetapi
tak ada unsur hara yang memadai.
ada hamparan tanah yang gersang, tak dihuni siapa pun
sebatang rumput yang masih bertahan menyebut dahaga
tetapi itu cara terbaik menguji iman

aku pikir-pikir tak pernah ada yang mondar-mandir
kecuali angin yang sudah milik seseorang

aku tak paham, kapan aku akan milik seseorang?

Rumah

Published / by Pringadi As / 1 Comment on Rumah

aku ingin membuatkanmu rumah dengan arsitektur sederhana
batu batanya dibuat dari lumpur, atapnya daun rumbia

setiap hujan turun, kita akan mendengarkan suara yang berisik
dan saling memeluk ketakutan milik kita
rasa khawatir menjadi sedemikian menarik
karena kita akan mengenang itu sejauh selamanya

siapa saja boleh bertamu, pintu terbuka setiap saat
kau akan menyajikan secangkir teh
itu baik buat kesehatan orang-orang yang tersesat

bila tiba saatnya, kita akan melempar malam ke luar jendela
dan dari tempat tidur tikar rotan, akan kita kenang tuhan
seperti banyak sejarah lain yang memenuhi isi dada

aku mencintai kesederhanaan ini seperti tukang batu dari nubia
aku tentu tak akan iri pada gedung-gedung tinggi
bangunan yang seperti hunian orang-orang zek
yang terpenjara di dalam hatinya sendiri

(2014)

 

Home

I am willing to build a home for ya, with simple arrchitecture

the bricks come from the mud, the roops come from the sago palm leaves

 

when day raining heavily, we will hear the voices, the noise

and I hug your fear, tight to the end

I never know that these worries are so interesting

it has to be because we will recall them as far as forever

 

anyone could visit us, the door will open any time

then you will serve a cup of tea

it’lll be a good for healthy of misguided people

 

when the time comes, we will throw out a night from our window

and from bed-rattan-mats, we will remember the trua nature God

just like other histories we have in our chest

 

I love this simplicity just like nubia’s mason told me

I, of course, won’t be jealous with those artificial storey building

they are just like a home-living for Zek

and be prisoned in the their dark-empty heart

 

(2014)

Sajak-Sajak Sapardi Djoko Damono

Published / by Pringadi As / 1 Comment on Sajak-Sajak Sapardi Djoko Damono
sapardi-djoko-damono3
Pada Suatu Pagi Hari
 
Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil
Berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun
Rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil
Menangis dan tak ada orang bertanya kenapa.
Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk
Memecahkan cermin membakar tempat tidur. Ia hanya ingin
Menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di
Lorong sepi pada suatu pagi.
Pada Suatu Hari Nanti
 
pada suatu hari nanti
jasadku takakan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau takkan kurelakan sendiri
pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetapa kusiasati
pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau takkan letih-letihnya kucari
Di Restoran
 
Kita berdua saja, duduk. Aku memesan
Ilalang panjang dan bunga rumput –
Kau entah memesan apa. Aku memesan
Batu di tengah sungai terjal yang deras –
Kau entah memesan apa. Tapi kita berdua
Saja, duduk. Aku memesan rasa sakit
Yang tak putus dan nyaring lengkingnya,
Memesan rasa lapar yang asing itu.
Dalam Sakit
 
waktu lonceng berbunyi
percakapan merendah, kita kembali menanti-nanti
kau berbisik: siapa lagi akan tiba
siapa lagi menjemputmu berangkat berduka
di ruangan ini kita gaib dalam gema. Di luar malam hari
mengendap, kekal dalam rahasia
kita pun setia memulai percakapan kembali
seakan abadi, menanti-nanti lonceng berbunyi
Dalam Diriku
 
dalam diriku mengalir sungai panjang,
darah namanya;
dalam diriku menggenang telaga darah,
sukma namanya;
dalam diriku meriak gelombang sukma.
hidup namanya!
dan karena hidup itu indah,
aku menangis sepuas-puasnya
Akulah Si Telaga
 
akulah si telaga: berlayarlah di atasnya
berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil
yang menggerakkan bunga-bunga padma
berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya,
sesampai di seberang sana, tinggalkan begitu saja perahumu
biar aku yang menjaganya
Aku Ingin
 
aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Juara II Lomba Cipta Puisi Nasional Komunitas Kopi Andalas 2012

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Sekian Fragmen Perjalanan, Ketika Aku dan Kau Memutuskan

Pergi atau Kembali demi Menuntaskan Rindu dan Kerinduan

I.

Hujan turun tipis. Kau bersiap menepis kenyataan bahwa kita duduk berhadap-hadapan, memesan dua gelas jahe, dengan madu dan coklat, dan orang-orang menatap kita dengan pandangan yang berkilat. Aku ingin meminta sesaat, mencari detak jantung yang berisik, pelan kian melubangi dada seperti peluru berkaliber berat. Kau meneguk satu gelas, dan gelas-gelasnya pecah seperti udara yang berebut masuk ke hidung, memenuhi paru-paru, meledakkannya jadi remah roti milik Hansel Gretel.

Dan hujan berteriak, seperti raungan burung koak. Beberapa milik kenangan tercerai berai, pontang-panting, tunggang-langgang, meloncat dua meter ke langit, tersangkut di pohon perdu. Kau yang merindu, tapi ombak terlalu tinggi dan angin yang kemarin memejam, bangun malam ini.

Suara, tidakkah ini tampak begitu ganjil? Aku dan bayangan kompak saling bermusuhan?

II.

Karena para perokok mengadakan rapat di dekat jembatan, lupa mandi pagi dan gosok gigi, asap-asap terkepul lalu berkumpul di langit. Burung-burung pingsan, banyak anak sekolah kesiangan. Seorang pegawai KPPN lupa absen dan hendak menyalahkan hujan yang akrab memeluk dirinya. Dia melihat ke atas, dua jejak asap mula-mula sebesar bola ping pong melebar menyerupai cendawan. Seseorang telah meledakkan C4, Seseorang telah meledakkan C4! Dia menjerit, pegawai negeri di imigrasi dan pengadilan negeri ikut

berhamburan, panik dan mulai belajar mengatupkan tangan kembali, memohon kiamat tidak terjadi hari itu dengan alasan terlalu banyak dosa dan paspor-paspor terbengkalai, devisa negara akan berkurang karena para TKI gagal berangkat.

Padahal, para perokok hanya saling berlomba mengepulkan asap yang paling gagah seperti adu kelamin yang tabah bercinta dengan sesuatu bernama sunyi.

III.

Janus jatuh di pohon mangga. Anak kecil yang biasa bermain sepeda terbangun, keluar kamar dengan mengendap. Padahal malam masih muda, jalan-jalan sekitar Sumbawa masih ramai, berpasang kekasih saling bertukar anai-anai. Tapi kumbang telah tidur, katak telah tidur, lalat-lalat yang biasa mengacau, menghindari nyala lilin juga telah tidur.

Pukul 21 Wita, ada Janus di luar sedang menyembunyikan salah satu wajahnya, ada aku di dalam sedang mencari satu-satunya wajah.

IV.

Malaikat yang mematahkan sayapnya itu menyamar menjadi dirimu. Matahari ada sembilan, satu di langit dan sisanya mengitari Kau sebagai pusat galaksi. Aku hanya seekor bulan yang hendak mengorbit di sebuah planet, agar air dapat pasang surut dan dongeng tentang pungguk jadi abadi.

V.

Maka, langit terbuat dari kecap. Hitam pekat dan kental. Sekoloni semut berusaha memanjatnya tapi tak ada sulur pohon dari surga, tak ada dinding pondasi cakar ayam yang kuat menantang udara yang tipis, dikuasai nitrogen dan karbondioksida. Aku menduga, bila kiamat tiba, sehektar cabe akan mekar mula-mula lalu tumbuh besar seperti dongeng milik Jack, berbuah, meletus dan langit jadi warna merah, pedas, membara. Orang-orang yang tadinya takut diabetes pergi ke WC, membuka celana dan menunaikan haknya yang paling asasi, tapi berkali-kali sampai dehidrasi. Rumah sakit penuh. Dokter-dokter yang tak makan seminggu kewalahan dan mayat-mayat bergelimpangan terlantar di jalan-jalan karena ongkos ambulance yang kian mahal sesuai teori ekonomi Adam Smith. Maka di dunia lain, Smith menggerutu dan menggugat Tuhan, meminta dipercepat saja kiamatnya biar tak makin banyak tuntutan dialamatkan kepadanya.

Dunia awalnya amat sederhana, langit terbuat dari kecap. Kita di dalam botol, saling mencecap bibir masing-masing.

(2012)

 

  • PENGUMUMAN LOMBA CIPTA PUISI NASIONAL KOMUNITAS KOPI ANDALAS 2012

Panitia Lomba Cipta Puisi Kopi Andalas telah menerima 150 karya dari 69 penulis seluruh Indonesia. 150 karya tersebut sebelumnya diserahkan oleh panitia kepada dewan juri dengan menghilangkan  nama penulis dan menggantinya dengan angka, hal ini mengingat panitia memperlakukan puisi dengan status yang sama tanpa melihat siapa pengarangnya. Seperti diketahui sebelumnya, setiap peserta dikenakan biaya sebesar sepuluh ribu/puisi. Inilah yang mendasari panitia menyamakan status puisi yang masuk ke ruang panitia. Puisi yang disusun acak berdasarkan angka tersebut diberikan oleh panitia kepada dewan juri pada tanggal 15 Januari 2013, adapun dewan jurinya adalah :

–   Rusli Marzuki Saria (Penyair Senior Sumatera Barat)

–   Zelfeni Wimra (Penyair dan Cerpenis)

–   Muhammad Ibrahim Ilyas (Penyair dan Budayawan)

Ketiga dewan juri tersebut melakukan akumulasi penilaian pada Selasa, 29 Januari 2013 di Taman Budaya, Sumatera Barat dan memutuskan hasil sebagai berikut :

Keputusan Pertama :

Puisi terbaik I dengan nomor puisi 45, dengan judul “Makassar”

Puisi terbaik II dengan nomor puisi 32 dengan judul “Sekian Fragmen Perjalanan, Ketika Aku dan Kau Memutuskan Pergi atau Kembali Demi Menuntaskan Rindu dan Kerinduan”

Puisi terbaik III dengan nomor puisi 15, dengan judul “Gambar Kecil di Meja Belajar Budi”

Keputusan Kedua:

Selain memilih tiga puisi terbaik yang menjadi pemenang, dewan juri hanya merekomendasikan 52 puisiyang layak untuk dibukukan oleh panitia, termasuk tiga karya terbaik.

Dua keputusan dewan juri di atas, menjadi acuan panitia yang tidak dapat diganggu gugat oleh peserta dikemudian hari. Akhirnya panitia pada Rabu, 30 Januari 2013 mengumumkan pemuncak dalam Lomba Cipta Puisi Nasional Komunitas Kopi Andalas adalah :

  1. Puisi terbaik I dengan nomor puisi 45, dengan judul Makassar”karya Bara Pattyradja.
  2. Puisi terbaik II dengan nomor puisi 32 dengan judul “Sekian Fragmen Perjalanan, Ketika Aku danKau MemutuskanPergi atau Kembali Demi Menuntaskan Rindu dan Kerinduan”karya Pringadi Abdi Surya.
  3. Puisi terbaik III dengan nomor puisi 15, dengan judul Gambar Kecil di Meja Belajar Budi”karya Sudianto-Manusia Perahu.

Tiga puisi terbaik akan memperoleh hadiah berupa :

1) Terbaik I : Tabungan Rp. 1.500.000,- +sertifikat+ 2 eks buku antologi

2) Terbaik II : Tabungan Rp. 500.000,- +sertifikat+ 2 eks buku antologi

3) Terbaik III : Tabungan Rp. 500.000,- +sertifikat+ 2 eks buku antologi

   

Kemudian, 49 karya lainnya yang akan dibukukan adalah :

  1. “Menanggalkan Nyawa pada Hujan” karya Faustina Bernadette Hanna Kesuma
  2. “Hikayat Kali Porong” karya Samian Adib
  3. “Laut Menulis Kesunyian” karya Dodi Prananda
  4. “100 Tahun Kematianku” karya Hasan S.Ramadan
  5. “Gerimis Bernama Lin” karya Rahmi Intan Jeyhan
  6. “Kelainan Jiwa” karya Irma Garnesia
  7. “Catatan Tahun Baru” karya Pringadi Abdi Surya
  8. “Hawa” karya Dika Agusta
  9. “Ingin Kutulis Sebuah Sajak” karya Ni Wayan Idayati
  1. “Sajak Galodo” karya Syarifuddin Arifin
  2. “Riwayat Tanah Merah” karya Ahmad Musabbih
  3. “Kukenali Sajak yang Tak Sengaja Membuatmu Jatuh Cinta” karya  Pringadi Abdi Surya
  4. “Kala Itu” karya Dini Riza’i
  5. “Sebuah Perjalanan” karya Samian Adib
  6. “Cerita dari Sungai Junok” karya Frasdia Muzammil
  7. “Perempuan Menggenggam Bara” karya Achmad A.Arifin
  8. “Pecundang Adu Senyum” karya Dika Agusta
  9. “Ode Bagi Senja” karya Ni Wayan Idayati
  10. “Dua Episode Ibu” karya Dodi Prananda
  11. “Obituari” karya Ni Wayan Idayati
  12. “Hujan Desember” karya Syarifuddin Arifin
  13. “Wasiat” karya Bara Pattyradja
  14. “Sajak Untuk Orang Kesepian” karya Irma Garnesia
  15. “Seperti Dakocan” karya Syarifuddin Arifin
  16. “Satu Kilometer Rindu Dari Jantungku” karya Bara Pattyradja
  17. “Laut di Selat Madura”karta Frasdia Muzammil
  18. “Ibu Jadah” karya Samian Adib
  19. “Puisi Buat Baisillah” karya Bara Pattyradja
  20. “Ketika Kita Bertukar Masalalu” Ni Wayan Idayati
  21. “Susu Bersantan” karya Syarifuddin Arifin
  22. “Seperti Perahu” karya Frasdia Muzammil
  23. “Azarenka (1)” karya Budi Setyawan
  24. “Kawan Lama” karya Kemas Verri Rahman
  25. “Aku Pulang” karya Novia Rika Perwitasari
  26. “Di Lerung Kotamu” karya Budi Setyawan
  27.  “Teralis” karya Rahmannisa Atmadja
  28. “Tarian Penutup” karya Rahmi Intan Jeyhan
  29. “ Gita Cinta Anak Negeri” karya Samian Adib
  30. “Carut” karya karya Hasan S.Ramadan
  31. “ Di Ujung Senja” karya Windi Pebri Candra
  32. “Serupa Kembang” karya Nita Rizky Yani
  33. “ Tanah Leluhur” karya Homaedi
  34. “Puisi Penjaja Roti” karya Widya Karima (Dini Widya Herlinda)
  35. “Lubang Telinga Dunia” karya Ganto Swaro (Beni Usman)
  36. “Iktiar Burung” karya Rila Weni Dayanti
  37. “Menembus Kabut Benua” karya Budi Setyawan
  38. “Hari Perayaan” karya Novia Rika Perwitasari
  39. “Sayap Tak Berbulu” karya Anisah Kusuma Nizmasari
  40. “Batas Tiga Dunia” karya Novia Rika Perwitasari

Selamat ! Kami panitia Lomba Cipta Puisi Nasional Komunitas Kopi Andalas mengucapkan selamat dan terimakasih atas apresiasi rekan-rekan. Pengiriman hadiah baik berupa uang, sertifikat serta buku antologi kepada tiga pemenang terbaik serentak dilaksanakan pada Senin, 25 Februari 2013 mendatang. Hal ini dikarenakan panitia akan mempersiapkan penerbitan buku antologi puisi dan sertifikat pemenang. Hadiah berupa uang, buku antologi dan sertifikat hanya diperuntukkan untuk tiga pemenang terbaik. Jika peserta lainnya yang ingin mendapatkan buku antologi yang kami terbitkan silahkan menghubungi panitia pelaksana atas nama Halvika Padma (083181565044) dan akan dikenakan biaya cetak buku dan pengiriman buku. Kepada tiga peserta puisi terbaik diharapkan segera melakukan konfirmasi kepada panitia atas namaYosefintia Sinta (085288609699) untuk memastikan rekening dan alamat pengiriman nantinya. Salam kopi andalas, salam sastra.

Padang, 31 Januari 2013.12:54 PM