Catatan Pringadi

Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan

Category: Puisi

Puisi Pringadi Abdi Surya: Menu Asing dan Puisi Lainnya

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Menu Asing

 

kita adalah sepasang kekasih

tetapi tak pernah saling menggenggam

bertemu hanya untuk duduk, melihat menu

memesan makan malam

tetapi tak juga saling bertatapan

yang kutahu kau hanya tertunduk, dan kudengar sebuah isakan

aku menanyakan siapa yang telah berani

membuatmu menangis

lewat sebaris kalimat di dalam pesan singkat

kau menjawab pengetahuan

juga tuhan yang ternyata mahatahu

termasuk sejak kali pertama bertemu

menjalin hubungan hingga menu apa

yang akan kita pesan, apa yang akan terjadi kemudian

dari kuncup bunga hingga gugur kelopak terakhir milik mata

segala telah ditentukan

untuk apa lagi percakapan, perdebatan, kecupan, dekapan

kalau itu tak dapat mengubah sesuatu

aku juga ingin menangis

tetapi pria tak seperti perempuan

ada banyak hal yang lebih berkecamuk

bangsa, negara, itu nanti saja

apalagi tuhan dan pengetahuan

aku lihat daftar menu, sebelah kanan terlebih dahulu

lalu teringat bulan yang hampir mati

hanya ada air putih di kepala

dengan es yang cukup untuk mengguyurnya

seperti tantangan dari orang ternama

apa besok kita dapat hidup atau mati sepele

tersedak, ada bom, atau meteor jatuh

pulang dari sini kecelakaan lalu lintas, terlindas

waktu

bicara atau diam, waktu tidak peduli

kita adalah sepasang kekasih, waktu juga

tidak peduli kita tidak pernah saling menggenggam waktu

apakah peduli

tuhan,

apakah maha peduli?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Aku Berutang Padamu Satu Jalan Pulang

 

aku bertamu padamu di desember itu

membawa bunga tulip

lambang depresi besar yang kini kembali

mengenalkan dirinya sebagai khidir

 

di perjalanan aku terjebak kemacetan

bukan hanya dadaku yang lalu lintas

perasaan mengenaimu yang selalu bebas

 

ketika kubuka jendela sedikit, udara

berbau sakit, apa yang marah di mata

mereka membakar ban, menelan korban

seolah menang sebelum mengapikan tuhan

 

desember yang kukenang tidak mengenal

darah hitam kental

 

desember yang kukenang adalah

royal opera dibuka di taman covent dan

pietro mascagni tak bermain di sana

 

tapi pemuda itu, yang percaya ibrahim

mempertontonkan alusi namrud di istana

 

aku tidak pernah sampai ke rumahmu

pada desember itu, bunga-bunga tulip

membumbung tinggi ke langit

menjadi balon-balon sabun

 

siapa percaya, balon-balon sabun itu

bisa meletus kapan saja

siapa menyangka, berkat itu

aku berutang padamu sebuah jalan pulang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tuan Reynold dan Soal Lidah Orang Indonesia

 

agaknya ini hanya masalah lidah, orang indonesia
lebih suka memakan ikan yang terlalu matang
bila perlu digoreng hingga kering kerontang, hingga
tulang terasa renyah dan hancur
tentu saja, bukan demi alasan kalsium
seperti yang dimiliki ikan teri, bilis, lais dan seluang
segala yang muda tampak tidak lebih terpercaya
segala yang ranum hanya untuk ibu hamil yang mengidam
maka kepantasan untuk menikah pun ditentukan usianya
seperempat abad adalah usia yang pas
padahal chairil mati di usia dua puluh enam,
soe hok gie juga meninggal di usia yang sama
apa yang bisa dirasakan dalam satu tahun perkawinan
kalau tuhan menakdirkan panjang usia tak berbeda
cara memasak ikan pada satu sisi tidak akan cukup
untuk lidah orang indonesia
sebab tidak cuma ikan, semua hal dapat dibolak-balik
dalam berita dan perkataan
misalnya, pemerintah indonesia berhasil membuat perjanjian
dengan freeport, tentu ini akan lain maknanya
jika dikatakan freeportlah yang berhasil menekan perikatan
sebagai rakyat dan penonton, tentu kita kecewa
tuan reynold yang mahir dan mempesona harus tereliminasi
rasanya seperti calon presiden yang kita pilih kalah
jodoh yang kita idam-idamkan dibawa kabur orang
atau yang sepele, sulit buang air karena kena tipus
negara yang memiliki wilayah laut yang luas ini
seharusnya tidak kesulitan menemukan pemasak ikan
mau dibakar, digoreng, diasap atau digangan sekalian
segala rasa, aroma rempah, tidak ada masalah
hanya agaknya ini memang masalah lidah
orang indonesia lebih suka ikan yang terlalu matang
orang indonesia lebih suka lagi makan roti

 

 

 

 

 

 

 

 

Membelikan Es Krim

 

aku akan membelikannya es krim setiap aku pulang ke rumah

aku tak ingin ia menyadari ada leleh yang lain

setiap kulihat dirinya, kerinduan mengamuk bagai banteng

ingin menyeruduk setiap benda yang berwarna merah

ia suka rasa vanila, dengan begitu, hatiku seperti bendera

kuperhatikan dengan seksama, detik demi detik yang ada

aku telah menjadi seorang ayah, dan suatu hari ia akan dewasa

menjadi seorang gadis yang memakai rok, memegang buku

dan menatapku dengan kenangan pertemuan di akhir pekan

aku selamanya menjadi pacarnya, cinta pertamanya

dengan segala kelemahan dan luputnya perhatian

sampai kubayangkan lelaki lain akan merampasnya dari pelukanku

ia akan duduk di pelaminan, memakai gaun, bunga-bunga

aku tidak tahu harus menghadiahi apa

aku akan memberikannya es krim, seperti setiap minggu

aku pulang ke rumah dan ia akan memelukku

kemudian ia akan memburu, tak membiarkan es krim itu meleleh

kemudian ia juga tak akan tahu, hatiku juga tengah meleleh

 

 

 

 

 

Sebelum 1998

 

Yang diingatnya dari bangku sekolah hanyalah

papan tulis yang bisu. Setiap pertanyaan dari gurunya,

ia takut mengangkat tangan seperti ada beban masa

lalu—ketakutan-ketakutan dikuntit dalam perjalanan

pulang ke rumah. Ia tidak pernah bertanya apalagi

menjawab. Ia bukan takut jawabannya salah. Bukan pula

takut jika pertanyaannya tidak bermutu. Hanya

papan tulis yang diingatnya itu bisu,

apa aku

punya hak berbicara? Di laci meja, ia menyembunyikan

tas dan kedua telapak tangannya. Ia tahu

di laci meja yang lain, bibir-bibir siswa yang sudah

lulus sekolah bersembunyi dan meringkuk,

sesekali berbisik—mengutuk-ngutuk Tuhannya sendiri.

 

 

 

 

 

 

Terjemahan Charles Bukowski dan Henry Wadsworth Longfellow

Published / by Pringadi As / 1 Comment on Terjemahan Charles Bukowski dan Henry Wadsworth Longfellow

And The Moon And The Stars And The World

Charles Bukowski

 

Long walks at night–
that’s what good for the soul:
peeking into windows
watching tired housewives
trying to fight off
their beer-maddened husbands.

 

Dan Bulan dan Bintang dan Dunia

karya Charles Bukowski

 

Perjalanan panjang di malam hari–

sungguh baik buat jiwa:

melongok melalui jendela

menyaksikan ibu rumah tangga kelelahan

mencoba menyingkirkan

suami-suami yang mabuk dan gila

 

 

 

 

Anak Panah dan Lagu

Henry Wadsworth Longfellow

aku melepaskan anak panah ke udara

ia lalu jatuh ke tanah, aku tak tahu di mana;

begitu cepat ia melesat, pandangan mataku

tak dapat mengikuti arah lesatannya.

aku menghembuskan lagu ke udara,

juga lalu jatuh ke tanah, aku tak tahu di mana;

siapa saja yang tatapannya begitu tertarik dan kuat,

sehingga dapat mengikuti perjalanan lagu itu?

lama, lama sekali setelah itu, di bawah pohon oak

aku menemukan anak panah, belum patah

juga sebuah lagu, dari mula hingga selesai

aku menemukannya lagi di hati seorang sahabat.

The Arrow and the Song

Henry Wadsworth Longfellow

 

I shot an arrow into the air,

It fell to earth, I knew not where;

For, so swiftly it flew, the sight

Could not follow it in its flight.

 

I breathed a song into the air,

It fell to earth, I knew not where;

For who has sight so keen and strong,

That it can follow the flight of song?

 

Long, long afterward, in an oak

I found the arrow, still unbroke;

And the song, from beginning to end,

I found again in the heart of a friend.

 

(diterjemahkan oleh Pringadi Abdi Surya)

Sajak Subagio Sastrowardoyo

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Sajak Subagio Sastrowardoyo

 subagio-sastrowardoyo-quotes-2

Kampung

Kalau aku pergi ke luar negeri, dik
karena hawa di sini sudah pengap oleh
pikiran-pikiran beku.

Hidup di negeri ini seperti di dalam kampung
di mana setiap orang ingin bikin peraturan
mengenai lalu lintas di gang, jaga malam dan
daftar diri di kemantren.

Di mana setiap orang ingin jadi hakim
dan berbincang tentang susila, politik dan agama
seperti soal-soal yang dikuasai.

Di mana setiap tukang jamu disambut dengan hangat
dengan perhatian dan tawanya.

Di mana ocehan di jalan lebih berharga
dari renungan tenang di kamar.

Di mana curiga lebih mendalam dari cinta dan percaya.

Kalau aku pergi ke luar negeri, dik
karena aku ingin merdeka dan menemukan diri.

Sajak Yang Dewasa

sajak yang dewasa
sudah tak peduli
apakah aku menangis atau ketawa

di muka cermin
aku tak mengenal lagi
ia bayangan siapa

setiap hendak kutangkap
ia lolos dari dekap

tak mau menampung rasa

di luar jamah
ia sebagian dari semesta
satu dengan suara manusia

setelah ia dewasa
aku tak punya kuasa
maka kubiarkan dia berjalan merdeka

Salam Kepada Heidegger

Sajak tetap rahasia
bagi dia yang tak pernah
mendengar suara nyawa.
Kata-kata tersembul dari alam lain
di mana berkuasa sakit, mati
dan cinta. Kekosongan harap
justru melahirkan ilham
yang timbul-tenggelam dalam arus
mimpi. Biarlah terungkap sendiri

makna dari ketelanjangan bumi.
Masih adakah tersisa pengalaman
yang harus terdengar dalam bunyi?
Sajak sempurna sebaiknya bisu
seperti pohon, mega dan gunung
yang hadir utuh tanpa bicara

Ambarawa 1989

Sebelum tidur istriku menyulam
di bawah lampu temaram. Sebuah bunga
biru dengan latar kelabu yang akan diberi
pigura dan digantungkan di dinding.
Aku menyempatkan diri mengikuti
berita terakhir di koran yang belum
dapat kubaca pagi hari.
Kami sudah lupa bahwa di kota ini
pernah terjadi revolusi dengan kekejaman
dan kematian. Keluarga lari mengungsi

ke gunung dan aku turut bergerilya
mengejar Belanda. Berapa peluru sudah
kutembakkan di malam buta menyerang
musuh yang menghadang dengan senjata.
Pikiran tegang selalu oleh cemas
dan curiga.
Kini peperangan hanya terjadi di roman
petualangan yang kubaca dan yang kulihat
di layar TV, jauh entah di negeri mana.
Nampak tak nyata dan hampir tak bisa
dipercaya.
Ah, biarlah kedamaian berlanjut
begini. Semua — bunga, dinding, lampu,
kuri, istri — terliput dalam kabut
puisi. Suling mengalun menembus
malam. Aku tak tahan lagi melihat darah.

GENESIS

Oleh :
Subagyo Sastrowardoyo

pembuat boneka
yang jarang bicara
dan yang tinggal agak jauh dari kampung
telah membuat patung
dari lilin
serupa dia sendiri
dengan tubuh, tangan dan kaki dua
ketika dihembusnya napas di ubun
telah menyala api
tidak di kepala
tapi di dada
–aku cinta–kata pembuat boneka
baru itu ia mengeluarkan kata
dan api itu
telah membikin ciptaan itu abadi
ketika habis terbakar lilin,
lihat, api itu terus menyala

HAIKU

Oleh :
Subagyo Sastrowardoyo

malam rebah
di punggung
sepiku
gigir gunung
susut di kaca
hari makin surut
dan bibir habis kata:
dinda, di mana, siapa
tangan terkepal
terhenyak di meja

JENDERAL LU SHUN

Oleh :
Subagyo Sastrowardoyo

Jenderal Lu Shun kewalahan. Ia tidak dapat menyelesaikan puisinya. Ia baru menulis dua dari empat baris pantun Cina, tetapi fantasinya seperti tersekat dalam kata-kata kosong tak berarti.
Maka ia keluar dari tendanya dan memerintahkan perwiranya mengumpulkan bala tentaranya.”Kita serang dusun itu di lembah dan bunuh penduduknya.”
Perwira itu masih mencoba mengingatkannya:”Tetapi Jenderal, ini malam hari dan orang tak boleh berperang waktu musuh sedang tidur. Hanya perampok dan pengecut yang menyerang musuh di malam hari.”
“Aku butuhkan ilham,” seru Jenderal Lu Shun, “dan aku tak peduli apa siang atau malam. Aku butuhkan kebengisan untuk menulis puisi.”
Kemudian ia naik kudanya yang beringas dan mendahului pasukan-pasukannya menyerbu ke lembah. Diayunkan pedang dan dicincang penduduk dusun yang tidak berjaga, sehingga puluhan laki-laki, perempuan dan anak-anak terbunuh oleh tangannya. Ia sungguh menikmati perbuatan itu, dan sehabis melihat dengan gairah darah mengalir dan tubuh bergelimpangan di sekelilingnya, ia kembali ke tendanya. “Jangan aku diusik sementara ini,” pesannya kepada seluruh bala tentaranya. Di
dalam keheningan malam ia kemudian menulis puisinya.
Ia menulis tentang langit dan mega, tentang pohon bambu yang merenung di pinggir telaga. Burung bangau putih mengepakkan sayapnya sesekali di tengah alam yang sunyi. Suasana hening itu melambangkan cintanya kepada seorang putri dan rindunya kepada dewa yang bersemayam di atas batu karang yang tinggi.
Itu semua ditulis dalam pantun Cina yang empat baris panjangnya.

KATA

Oleh :
Subagyo Sastrowardoyo

Asal mula adalah kata
Jagat tersusun dari kata
Di balik itu hanya
ruang kosong dan angin pagi

Kita takut kepada momok karena kata
Kita cinta kepada bumi karena kata
Kita percaya kepada Tuhan karena kata
Nasib terperangkap dalam kata

Karena itu aku
bersembunyi di belakang kata
Dan menenggelamkan
diri tanpa sisa

KEHARUAN

Oleh :
Subagio Sastrowardoyo

Aku tak terharu lagi
sejak bapak tak menciumku di ubun.
Aku tak terharu lagi
sejak perselisihan tak selesai dengan ampun.

Keharuan menawan
ktika Bung Karno bersama rakyat
teriak “Merdeka” 17 kali.

Keharuan menawan
ketika pasukan gerilya masuk Jogja
sudah kita rebut kembali.

Aku rindu keharuan
waktu hujan membasahi bumi
sehabis kering sebulan.

Aku rindu keharuan
waktu bendera dwiwarna
berkibar di taman pahlawan

Aku ingin terharu
melihat garis lengkung bertemu di ujung.
Aku ingin terharu
melihat dua tangan damai berhubung

Kita manusia perasa yang lekas terharu

Pustaka dan Budaja,
Th III, No. 9,
1962

Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air

KUBU

Oleh :
Subagio Sastrowardoyo

Bagaimana akan bergembira kalau pada detik ini
ada bayi mati kelaparan atau seorang istri
bunuh diri karena sepi atau setengah rakyat terserang
wabah sakit – barangkali di dekat sini
atau jauh di kampung orang,
Tak ada alasan untuk bergembira selama masih
ada orang menangis di hati atau berteriak serak
minta merdeka sebagai manusia yang terhormat dan berpribadi –
barangkali di dekat sini atau jauh di kampung orang.
Inilah saatnya untuk berdiam diri dan berdoa
untuk dunia yang lebih bahagia atau menyiapkan senjata
dekat dinding kubu dan menanti.

Daerah Perbatasan,
Jakarta : Budaya Jaya, 1970
Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air

Puisi Pringadi Abdi Surya, Suara Pembaruan

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

dimuat di Suara Pembaruan, 5 Desember 2010

Di Palembang Square

Dan tak terbaca, yang dulu kukenali
sebagai kota. Perempuan-perempuan muda
memakai hot pants, high heels, dan tanktops seolah udara
telah benar begitu hangat. Duduk di Solaria itu, aku
merinding dan kedinginan. Dinding-dinding terasa
sempit, dan malam yang mengepungku di luar
siap mengubahku jadi kelelawar. Kecuali mawar,
menyelamatkanku dari ketersesatan. Dan
begitu pun kota yang dulu kukenali ini makin tak
terbaca. Mungkin saja mataku yang rabun
dan perlu kaca mata.

Motif, VI

Andai kita berpisah, pastilah karena kematian telah
mengisi rongga dadaku. Sebab di langit manapun kita
berada, bulan masih tetap sama, dan kalender-kalender
yang bertanggalan, seperti helai dedaunan—
terlepas begitu saja dari ranting. Perjalanan seringkali
tampak asing. Jejak sepatu kaca, yang sengaja kau tinggalkan,
kerap tak terbaca. Dan gigil palem, menawarkan kesepian
yang lebih buruk dari cuaca. Aku tahu, aku tahu
keberadaanku yang jauh dari sempurna bikin matamu sakit,
tetapi hatiku yang tak mengenal rasa sakit mencoba tabah
melebihi semua gegabah yang sering kulakukan.
Andai kita berpisah, pastilah karena bulan
di langit sudah tak sama. Angin malam,
gerak bayangan di remang taman, dan
sebuah lampu di tengah kolam melengkapi musim;

Aku tergeletak. dadaku retak.

Motif, IV

Alhamdulillah, kakiku masih menjejak tanah. Aku
layangkan pandanganku ke sekitar, di mana engkau yang berjanji
menyambutku dengan tawa yang lebar? Dan merangkulku
seolah-olah tak akan pernah kau temukan
kehangatan yang sama itu; Langit mendung,
udara menciumi bunga bakung. Aku mengabungkan diri
pada musim ini. Tapi, alhamdulillah,
mataku yang basah tidak begitu perih, selain
sebuah koper yang rahasia, dan kotak mie bekas
berisikan kenangan-kenangan yang tak bisa lepas.
Tinggal menghabiskan sisa kopi kaleng, mengobati tubuhku
yang oleng. Siapa berpikir cinta ini telah selesai,
selama umur belum usai, dan sejarah hidup
begitu masai?

Motif, III

Aku tak terlambat masuk ke ruang tunggu. Sebagian kursi
sudah penuh. Seorang laki-laki sedang menopang dagu,
dan mengosongkan bola matanya yang abu.
Duduk di sebelahnya, aku memikirkan keberangkatan.
Berharap pramugari seksi memberikan kartu
namanya. Dan mengenalkan diri sebagai perempuan yang
sanggup menahan dadaku yang gemetar pada
ketinggian. Tetapi, masih lima belas menit lagi
sebelum semua jelas, apakah benar kematian itu
memang dekat adanya.

Motif, I

Dan barangkali di keningmu, hanya di
keningmu, kutinggalkan sajak cinta paling purba.
Tanpa ada kata-kata, kecuali hening yang
tersisa. Aku mengingat itu di sebuah taman—
sore hari, menaiki ayunan, memandangi langit
yang mulai gelap, seperti halnya kenyataan
—entah di mana terang. Aku, kemudian
berjalan ke arah kolam.
Keruh. Dan daun-daun tenggelam, cokelat
kemerahan, tetapi utuh. Barangkali,
udaralah yang bikin dada semakin busuk.
Sepotong ranting lunglai, lapuk
tergeletak pasrah
menanti sepasang tangan memungutnya
dan barangkali, aku mampu
menggambar keningmu di sana

SALAM KEPADA SISYPHUS

Begitu haus, kerongkongan meminta cium.
Sajak seperti udara, ada tetapi tak bisa
diraba. Begitulah puncak dalam pendakian panjang
itu. Seolah dekat, seolah dekat, padahal kematian
kian akrab. Daun-daun yang gugur diterpa angin
berserak, dan membusuk, entah ke arah lain
hanyut, mengapung,
tenggelam. Dan berabad
nasib telah menjadi sahabat. Di lereng gunung
yang curam, dan terjal. Sementara ajal
mengepung kesepian yang tak pernah habis.
Begitu haus, begitu haus, kerongkongan
akan nafasmu, yang melayang
dan tak pernah
kembali.

Puisi Nizar Qabbani

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Nizar Qabbani lahir di Damaskus, 21 Maret 1923. Ia pernah bekerja di Departemen Luar Negeri Suriah dan bertugas di Mesir dan Inggris. Namun, pada tahun 1944 ia tinggalkan pekerjaannya untuk mencurahkan perhatian pada satu-satunya hal yang ia cintai: puisi. Karya-karya Qabbani terdiri dari lusinan antologi puisi yang sangat populer di dunia Arab. Banyak puisinya yang dijadikan lirik lagu para penyanyi Arab kontemporer. Karena sikap politiknya, ia pernah dimusuhi oleh para pemimpin negara-negara Arab hingga terpaksa mengasingkan diri ke London, Inggris. Ia meninggal pada tahun 1998 di London. 

 

Peramal (Qariul Finjan)

dengan mata yang cemas
dia duduk
merenungi gelas yang terbuka
kemudian berkata,
“tak usah bersedih, anakku
kau telah ditakdirkan untuk jatuh cinta.”
anakku, siapa pun yang mengorbankan dirinya
untuk kekasihnya
adalah seorang martir.

telah lama kupelajari ramalan
namun tak pernah kubaca gelas seperti milikmu
telah lama aku belajar ramalan
dan tak pernah kulihat penderitaan
seperti penderitaanmu
kau telah ditakdirkan
terus berlayar dalam lautan cinta
kehidupanmu telah ditakdirkan
menjadi buku air mata
dan terus terpenjara
di antara api dan air

namun di balik seluruh kepedihan
di balik kesedihan yang mengurung kita
siang dan malam
di balik angin
udara yang basah
dan hembusan siklon
ada cinta, anakku
yang akan tetap
menjadi hal terbaik
dari sebuah takdir

akan ada seorang perempuan
dalam hidupmu, anakku
maha besar tuhan!
matanya sungguh indah
mulut dan desah tawanya
dipenuhi bebungaan dan melodi
kecintaan dan kegilaannya pada kehidupan
melingkupi dunia

seorang perempuan yang kau cintai
adalah seluruh duniamu
namun langitmu akan tetap mendung
jalanmu tertutup,
tertutup, anakku

kekasihmu, anakku
tertidur dalam istana
yang dijaga ketat
siapa pun yang mencoba
mendekati dinding-dinding tamannya
atau memasuki ruangannya
dan menawarkan diri padanya
atau mengurai sanggulnya
hanya akan membuatnya musnah
hilang, anakku

kau akan mencarinya ke manapun, anakku
kau akan bertanya pada gelombang laut
kau akan bertanya pada pantai
kau akan mengarungi samudra
dan air matamu mengalir seperti sungai
dan di akhir kehidupanmu
kau akan mengetahui bahwa
kekasihmu tak memiliki tanah,
tempat tinggal, ataupun alamat

saat itu kau tersadar
kau telah mengejar
jejak-jejak kabut

akan sulit, anakku
mencintai perempuan
yang tak memiliki tanah
ataupun tempat tinggal

Kita Akan Dianggap Teroris

kita akan dianggap teroris
jika kita berani menuliskan
puing-puing tanah air
yang berhamburan dan membusuk
dalam kemunduran dan kekacauan

tentang sebuah tanah air
yang tengah mencari tempat
dan tentang sebuah bangsa
yang tak lagi memiliki wajah

tentang tanah air
yang tak mewarisi apapun
dari puisi-puisi masa lalunya
yang luar biasa
selain ratapan dan elegi

tentang tanah air
yang tak memiliki apapun
dalam horizonnya

tentang kebebasan
beragam kelompok dan ideologi

tentang sebuah tanah air
yang melarang kita
membeli surat kabar
atau mendengarkan segala sesuatu

tentang sebuah tanah air
yang melarang burung-burung bernyanyi

tentang sebuah tanah air
yang para penulisnya
terpaksa menulis
dengan tinta transparan
agar terhindar dari kekejaman

tentang tanah air
yang menyerupai puisi di negeri kita
disusun, diedarkan, hilang,
dan tak memiliki batasan
dengan lidah dan jiwa orang asing
memisahkan lelaki dan tanahnya
menghapus seluruh keadaan mereka

tentang sebuah tanah air
yang dinegosiasikan di sebuah meja
tanpa harga diri
atau pun sepatu

tentang sebuah tanah air
yang tak lagi memiliki lelaki-lelaki tabah
dan hanya berisi para wanita

kegetiran di mulut kita
dalam kata-kata kita
dalam mata kita
akankah kekeringan juga menjangkiti jiwa kita
sebagai sebuah warisan
dari masa lalu?

tak seorang pun tersisa di negeri kita
bahkan sedikit kemenangan
tak seorang pun berkata ‘tidak’
di hadapan mereka
yang menyerahkan tempat tinggal,
makanan, dan mentega kita
mengubah sejarah kita yang berwarna
menjadi sebuah sirkus

kita tak memiliki satu pun
puisi yang jujur
puisi yang tak kehilangan kemurniannya
di tangan para penguasa harem

kita telah terbiasa terhina
kita tumbuh dengan penuh kehinaan
apakah arti seorang lelaki
jika ia merasa nyaman
dalam keadaan seperti itu?

aku cari-cari buku sejarah
aku cari-cari orang-orang luar biasa
yang akan mengeluarkan kita
dari kegelapan
dan menjaga perempuan-perempuan kita
dari kekejian dan kekejaman

aku mencari lelaki masa lalu
namun yang kutemukan
hanyalah kucing pengecut
yang takut pada jiwa mereka sendiri
dan kekuasaan para tikus

apakah kita dipukul
oleh nasionalisme buta
atau kita menderita
buta warna

kita akan dianggap teroris
jika kita menolak mati
di bawah kekuasaan tirani israel
yang merintangi persatuan kita
sejarah kita
injil dan quran kita
tanah para nabi kita
jika semua itu adalah dosa
dan kejahatan kita
maka terorisme
bukan sesuatu yang buruk

kita dianggap teroris
jika kita menolak
disingkirkan oleh orang-orang biadab,
mongol maupun yahudi

jika kita memilih menghancurkan
kaca-kaca dewan keamanan
yang dihuni oleh raja caesura

kita akan dianggap teroris
jika kita menolak berunding
dengan serigala
dan berbicara pada pelacur

amerika menentang budaya manusia
karena tak memiliki sesuatu
dan melawan peradaban
karena membutuhkan sesuatu
amerika adalah bangunan raksasa
namun tak memiliki dinding

kita akan dianggap teroris
jika kita menolak arus zaman
ketika amerika yang arogan, kaya, dan kuat
menjadi penerjemah orang-orang yahudi

Yerusalem (al-Quds)

Aku menangis
hingga air mataku mengering
aku berdoa
hingga lilin-lilin padam
aku bersujud
hingga lantai retak
aku bertanya
tentang Muhammad dan Yesus

Yerusalem,
O kota nabi-nabi yang bercahaya
jalan pintas
antara surga dan bumi!
Yerusalem, kota seribu menara
seorang gadis cilik yang cantik
dengan jari-jari terbakar

Kota sang perawan,
matamu terlihat murung.
Oasis teduh yang dilewati sang Nabi,
bebatuan jalananmu bersedih
menara-menara masjid pun murung.

Kota yang dilaburi warna hitam,
siapa yang akan membunyikan
lonceng-lonceng makam suci
pada hari Minggu pagi?
siapa yang akan memberi mainan
bagi anak-anak
pada perayaan natal ?

Kota penuh duka,
O, air mata yang sangat besar
bergetar di kelopak matamu,
siapa yang akan menyelamatkan Injil?
siapa yang akan menyelamatkan Quran?

siapa yang akan menyelamatkan Kristus,
siapa yang akan menyelamatkan manusia?
Yerusalem, kotaku tercinta

esok pepohonan lemonmu akan berbunga
batang dan cabangmu yang hijau
tumbuh dengan gembira
dan matamu berseri-seri.
merpati-merpati yang bermigrasi
akan kembali ke atap-atapmu yang suci
dan anak-anak akan kembali bermain

orang tua dan anak-anak akan bertemu
di jalananmu yang berkilauan
kotaku, kota zaitun dan kedamaian.

 

Diterjemahkan oleh Irfan Zaki Ibrahim

 

Syair

 

1

Kawan

Kata-kata lama telah mati.

Buku-buku lama telah mati.

Pembicaraan kita mengenai lubang seperti sepatu usang telah mati.

Mati adalah pikiran yang mengarahkan pada kekalahan.

 

2

Puisipuisi kami sudah basi.

Rambut perempuan, malam hari, tirai, dan sofa

Sudah basi.

Segalanya sudah basi.

 

3

Negeri duka-citaku,

Secepat kilat

Kau merubah aku dari seorang penyair yang menulis puisi-puisi cinta

Menjadi seorang penyair yang menulis dengan sebilah pisau.

 

4

Apa yang kami rasa lebih dari sekadar kata-kata:

Kami harus malu lantaran puisi-puisi kami.

 

5

Dikendalikan oleh omong kosong Oriental,

Oleh sombongnya keangkuhan yang tak pernah membunuh seekor lalat pun,

Oleh biola dan beduk,

Kami pergi berperang,

Lalu menghilang.

 

6

Teriakan kami lebih lantang ketimbang tindakan kami,

Pedang kami lebih panjang ketimbang kami,

Inilah tragedi kami.

 

7

Pendeknya

Kami mengenakan jubah peradaban

Namun jiwa kami hidup di zaman batu.

 

8

Kau tak memenangkan perang

Dengan buluh dan seruling.

 

9

Ketaksabaran kami

Membayar kami lima puluh ribu tenda baru.

 

10

Jangan mengutuk sorga

Jika ia membuang dirimu,

Jangan mengutuk keadaan,

Tuhan memberi kemenangan pada siapa yang Ia kehendaki

Tuhan bukanlah seorang pandai yang dapat kau minta menaklukan senjata.

 

11

Betapa menyakitkan mendengar berita pagi hari

Betapa menyakitkan mendengar salak anjing.

 

12

Musuh-musuh kami tak melintasi perbatasan kami

Mereka merayap melalui kelemahan kami seperti semut.

 

13

Lima ribu tahun

Janggut tumbuh

Di goa-goa kami.

Mata uang kami tak diketahui,

Mata kami sebuah surga bagi serangga.

Kawan,

Bantinglah pintu,

Cucilah otakmu,

Cucilah pakaianmu.

Kawan,

Bacalah buku,

Tulislah buku,

Tumbuhkan kata-kata, anggur dan delima,

Berlayarkah ke negeri kabut dan salju.

Tak seorang pun tahu kau hidup di goa-goa.

Orang-orang mengambilmu untuk pengembangbiakan anjing liar.

 

14

Kami adalah orang berkulit tebal

Dengan jiwa yang kosong.

Kami habiskan hari-hari kami dengan belajar sihir,

Main catur dan tidur.

Adakah kami “Bangsa di mana Tuhan memberkati manusia?”

 

15

Minyak gurun kami bisa menjadi

Belati nyala api dan api.

Kamilah aib bagi nenek moyang kami yang mulia:

Kami biarkan minyak kami mengalir lewat jemari kaki para pelacur

 

16

Kami berlari serampangan di jalan-jalan

Menarik orang-orang dengan tali,

Menghancurkan jendela dan kunci.

Kami memuji bagai katak,

Mengubah orang kerdil jadi pahlawan,

Dan pahlawan menjadi sampah:

Kami tak pernah berhenti dan berpikir.

Di mesjid

Kami tertunduk malas

Menulis puisi-puisi,

Pepatah-pepatah,

Memohon pada Tuhan untuk kemenangan

Atas musuh kami.

 

17

Jika aku tahu aku akan datang tanpa kesalahan,

Dan dapat melihat Sultan,

Inilah yang akan kukatakan:
‘Sultan,

Anjing-anjingmu yang liar merobek pakaianku

Mata-matamu mengintaiku

Mata mereka mengintaiku

Hidung mereka mengintaiku

Kaki mereka mengintaiku

Mereka mengintaiku bagai Takdir

Menginterogasi istriku

Dan mencatat nama-nama kawanku.

Sultan,

Saat aku mendekati dindingmu

Dan bicara mengenai lukaku,

Tentara-tentaramu menyiksaku dengan boot mereka,

Memaksaku memakan sepatu.

Sultan,

Kau kehilangan dua perang,

Sultan,

Setengah rakyat kita tanpa lidah,

Apalah gunanya seorang manusia tanpa lidah?

Setengah rakyat kita

Terjebak bagai semut dan tikus

Di sela dinding.’

Jika aku tahu aku akan datang tanpa kesalahan,

Akan kukatakan padanya:

‘Kau kehilangan dua perang

Kau kehilangan kontak dengan anak-anak.’

 

18

Jika kami tak mengubur persatuan kami

Jika kami tak merobek tubuh-tubuh segar dengan bayonet

Jika ia berdiam di mata kami

Anjing-anjing tak kan mencincang daging kami membabi-buta.

 

19

Kami tidak menginginkan sebuah generasi yang marah

Untuk membajak langit

Untuk meledakkan sejarah

Untuk meledakkan pikiran-pikiran kami.

Kami menginginkan sebuah generasi baru

Yang tak memaafkan kesalahan

Yang tak membungkuk.

Kami menginginkan sebuah generasi raksasa.

 

20

Anak-anak Arab,

Telinga jagung masa depan,

Kalian akan memutuskan rantai kami,

Membunuh opium di kepala kami,

Membunuh ilusi.

Anak-anak Arab,

Jangan membaca generasi kami yang tercekik,

Kami hanyalah sebuah kotak tanpa harapan.

Kami sama tak berharganya dengan kulit semangka.

Jangan baca kami,

Jangan turuti kami,

Jangan terima kami,

Jangan terima pikiran kami,

Kami hanyalah bangsa bajingan dan pemain akrobat.

Anak-anak Arab,

Hujan musim semi,

Telinga jagung masa depan,

Kalian adalah generasi

Yang akan mengatasi kekalahan.

Pelajaran Menggambar

 

Anakku meletakkan kotak gambarnya di depanku

lalu memintaku menggambar seekor burung.

Kucelupkan kuasku pada cat abu itu

kugambar sebuah kotak dengan kunci dan palang pintu.

Matanya terbelalak heran:

“… Ayah, bukankah ini penjara,

tahukah kau bagaimana menggambar burung?”

Kukatakan padanya: “Nak, maafkan aku.

Aku sudah lupa pada bentuk burung-burung.”
Anakku meletakkan buku gambarnya di depanku

lalu memintaku menggambar tangkai gandum.

Kugenggam pena

lantas kugambar tangkai senapan.

Anakku menertawakan kebodohanku,

bertanya

“Ayah, tak tahukah engkau, perbedaan

tangkai gandum dan senapan?”

Kukatakan padanya, “Nak,

aku pernah mengetahui bentuk tangkai gandum

sekerat roti

dan kembang mawar.

Tapi di saat segenting ini

pohon-pohon hutan telah bergabung

dengan pasukan tentara

mawar-mawar mengenakan seragam yang kusam.

Kini saatnya tangkai gandum bersenjata

burung-burung bersenjata

budaya bersenjata

bahkan agama pun bersenjata.

Kau tak bisa membeli roti

tanpa menemukan peluru di dalamnya

kau tak bisa memetik mawar

tanpa duri memercik di wajahmu

kau tak bisa membeli sebuah buku

yang tak meledak di sela jemarimu.”

 

Anakku duduk di tepi tempat tidur

lalu memintaku membacakan sebuah puisi.

Sebutir airmata jatuh di atas bantal.

Anakku merabanya, heran, berkata:

“Ayah, ini airmata, bukan puisi!”

Lalu kukatakan padanya:

“Nak, saat engkau tumbuh dewasa,

dan membaca diwan-diwan puisi Arab

kau akan temukan bahwa puisi dan air mata tiada bedanya.

Dan puisi-puisi Arab

tak ubahnya kucuran airmata dari jemari yang menulis.”

 

Anakku meletakkan pena dan kotak krayon miliknya

di depanku

lalu memintaku menggambar sebuah tanah air untuknya.

Kuas di tanganku seketika gemetar

aku tenggelam, dan menangis.

 

 

Saat Aku Mencintaimu

 

Saat aku mencintaimu

sebuah bahasa baru terpancar,

kota-kota dan negeri-negeri baru ditemukan.

Jam bernapas seperti anak anjing,

gandum tumbuh di sela halaman-halaman buku,

burung-burung terbang dari matamu bersama gelombang madu,

para kafilah bertolak dari payudaramu membawa herbal India,

buah mangga berjatuhan di mana-mana, hutan menyergap nyala api

dan beduk Suku Nubia berbunyi.

 

Saat aku mencintaimu payudaramu melepaskan rasa malunya,

berubah menjadi petir dan guntur, pedang, dan badai pasir.

Saat aku mencintaimu kota-kota Arab berloncatan dan unjuk rasa

menentang abad penindasan

serta abad pembalasan dendam terhadap aturan suku.

Lalu aku, saat aku mencintaimu,

aku berjalan menentang keburukan,

menentang raja garam,

menentang pelembagaan gurun.

Dan aku akan terus mencintaimu hingga banjir dunia tiba,

aku akan terus mencintaimu hingga saatnya banjir dunia tiba.

 

 

Saat Aku Jatuh Cinta

 

Saat aku jatuh cinta

Kurasa akulah raja waktu

Aku pemilik bumi dan segala di atasnya

Kutuju matahari dengan kuda tungganganku.

 

Saat aku jatuh cinta

Aku menjadi cahaya cair

Yang tak kasat mata

Dan sajak-sajak dalam catatanku

Menjelma jadi ladang bunga poppy dan mimosa.

 

Saat aku jatuh cinta

Jemariku memancarkan air

Dan lidahku menumbuhkan rumput

Saat aku jatuh cinta

Aku menjadi waktu di luar segala waktu.

 

Saat aku jatuh cinta pada seorang wanita

Seluruh pohonan

Berlari telanjang kaki menghadapku.

 

 

Perbandingan

 

Cintaku, aku tak serupa kekasihmu yang lain.
Jika seseorang memberimu segumpal awan
kuberi kamu hujan.
Saat seseorang memberimu lentera

kuberi kamu bulan.
Saat seseorang memberimu dedahan
kuberi kamu pohonan
Dan jika seorang yang lain memberimu kapal
kuberikan padamu petualangan.

 

 

Cahaya Lebih Penting Ketimbang Lentera

 

Cahaya lebih penting ketimbang lentera,

Puisi lebih penting ketimbang buku catatan,

Dan lebih penting ketimbang bibir ialah ciuman.

 

Surat-suratku kepadamu

Lebih besar dan lebih penting ketimbang kita berdua.

Merekalah satu-satunya catatan

Di dalamnya orang-orang kan temukan

Kecantikanmu

Kegilaanku.

 

 

Percakapan

 

Jangan katakan bahwa cintaku

Sebatas cincin atau gelang.

Cintaku adalah kepungan,

Berani dan keras kepala.

Ia berlayar mencari kematiannya sendiri.

 

Jangan katakan bahwa cintaku

Sepotong rembulan.

Cintaku, percikan ledakan.

 

 

Kekasihku Bertanya Padaku

 

Kekasihku bertanya padaku:

“Apa beda diriku dan angkasa?”

Bedanya, kasihku,

ialah saat kau tertawa,

kulupakan angkasa.

 

 

Sajak Maritim

 

Di dermaga biru matamu

hujan cahaya berembus sendu

matahari dan layar-layar

melukis perjalanan menuju keabadian.

 

Di dermaga biru matamu

jendela bagi laut yang terbuka

burung-burung terbang jauh

mencari pulau yang belum tercipta.

 

Di dermaga biru matamu

salju jatuh di bulan juli

kapal-kapal dengan muatan pirus bertumpahan

melintasi laut, tapi tak tenggelam.

 

Di dermaga biru matamu

bagai seorang bocah aku lari di atas batu berserakan

menghirup aroma lautan

melepas seekor burung kelelahan

 

Di dermaga biru matamu

batu-batu bernyanyi malam hari

siapa yang menyembunyikan seribu puisi

pada buku tertutup pejam matamu?

 

Andai, aku seorang pelaut

andai saja seseorang memberiku perahu

setiap malam akan kugulung layarku

di dermaga biru matamu.

 

Diterjemahkan Zulkifli Songyanan

Sajak Pembuka

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

sebuah tafsir bebas atas Surat Al Fatihah

 

aku sebatang ilalang patah, merunduk bukan karena angin

kau yang menundukkan aku dan kucium bau tanah basah

kulewati malam yang hening hanya ditemani dingin

di saat itulah kurasakan kekosongan dan kurindukan rumah

 

sesaat setelah kubuka pintu, kulihat sebuah jembatan

kau berada di seberang, tersenyum penuh kegetiran

aku harus meniti pada jalan yang lebih tipis dari ingatan

di bawahku jurang, batu-batu tajam memanggil kematian

 

sebutkan padaku makna dari ketakutan

tak bahagia di dunia ini atau tak bahagia nanti di pelukanmu

atau karena kita terus berpisah, tak kunjung bertemu

 

sekian lama aku tersesat, dan kini merasa sampai padamu

peluhku menetes pasrah, bercampur dengan darah

apakah kau akan menerimaku atau justru menolakku?

 

(2016)