Catatan Pringadi

Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan

Category: Puisi

Puisi| Stasiun Juanda

Published / by Pringadi As / 1 Comment on Puisi| Stasiun Juanda

aku akan pulang, aku akan pulang
sementara malam terus merambat
hingga ke jantungku
kukenang segala yang bisa kukenang
kereta yang akan datang terlambat
membuatku belajar arti menunggu

kau pasti tengah menanak nasi,
menggoreng telur mata sapi
menantiku berbicara soal aksi,
deklarasi, dan kabar Jakarta
yang tak pernah baik- baik saja
masalah-masalah lebih dari air bah
orang datang mengharap hidup
lalu mati dan tak mendapat tanah
dan memilih dihanyutkan di kali
yang tak lagi penuh sabun dan pasta
Waktu tiada, sekarat yang tersisa
terhimpit bunyi klakson kendaraan
dan semua yang berebut Tuhan

Jakarta selalu lebih rumit dari perempuan

aku akan pulang, aku akan pulang
bersama sekawanan binatang pekerja
dan aku adalah binatangmu
dengan kerinduan dan berkasih-kasihan
mengenalkanku kembali pada kemanusiaan
yang menuntut anyir darah
dengan alasan penting maupun remeh
atau bahkan tak beralasan sama sekali
saat itulah dari kejauhan ada sebuah sinar
bak kesadaran yang diterima hawking muda
yang jatuh cinta pada seni semesta
penciptaan yang amat sederhana dan pasti
orang hidup lalu mati, orang makan lalu mati
orang terbang lalu mati, semua orang mati
aku juga akan pulang, aku juga akan mati

Puisi| Stasiun Manggarai

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

 

aku salah karena berpikir perempuan paling kejam
kau lebih kejam dari semua
karena berulang-ulang membuatku menunggu
berjanji tak akan lagi, namun kau ingkari pula
semua waktu yang sia-sia adalah omong kosong
kau bisa menyita 1/12 hidup seseorang
yang telah rapuh menahan rasa pulang
hanya untuk kau biarkan pergi setelah sesaat
berdamai dengan ketakutan akan tersesat
kau telah terlalu sombong
karena menjadi jantung dan tempat masuk
setiap arah dan setiap aliran darah
kata maaf yang kau ucap dari bibir jauh lebih hina
dari seorang pejabat sekalipun, yang suka seenaknya
menyebut satu per satu nama hewan
yang tidak lagi dikurung di kebun binatang
kata maaf yang tidak terasa tulus karena di belakangku
kau pegang pisau bernama kebinekaan
apalah artinya cinta tanpa kemerdekaan
apalah artinya kemerdekaan bila ada yang diistimewakan
hanya karena kau merasa sebagai jantung
yang dibutuhkan para penumpang
aku tak pernah benar-benar ingin jadi penumpang
yang terkurung dalam dingin perahu sarden
di sungai darah ini dan menujumu

Puisi| Air Mata

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

aku memahami kita belajar matematika
untuk menghitung nyawa demi nyawa
yang menghilang begitu saja seperti janji Tuhan
tak ada yang tahu: satu detik kemudian
atau bahkan seribu tahun yang Anwar inginkan
bumi akan berguncang dan terbelah
tercipta puluhan lubang, yang dalam dan panjang
segalanya terhisap, juga kenangan-kenangan
saat kali pertama belajar bersepeda bersama Ayah
duduk di beranda, menatap langit dan air mata
jatuh seperti tombak-tombak yang dilemparkan
saat setan ingin mencuri rahasia masa depan
air matamu adalah setan bagiku
yang menggoda seluruh iman untuk luruh
dan menghujat yang telah menciptakan segala
dan lupa bahwa tak ada yang pernah
benar-benar menjadi milik manusia
kekasih yang kucintai sepenuh aku juga
bisa dibolak-balik hatinya dengan mudah
tak ada pernah kata kebebasan seutuhnya
masa lalu, kini, dan apa yang akan terjadi nanti
adalah rantai yang saling terikat dan pasti
dan aku hanyalah sebuah boneka
yang dimainkan ventriloquist di atas panggung

(2016)

Poem by the Swedish writer Erik Axel Karlfeldt (1864-1931)

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

 

Poem by the Swedish writer
Erik Axel Karlfeldt (1864-1931)

The rhyme smith
Now, coarsely wrought iron from my thoughts’ own smithy,
my sledge shall test the utmost you can bear.
I know your chain’s links snap, that this is risky,
but likewise know there’s honest steel in there.
From my home mine and slash-burnt acres’ clamour
I gained my iron and charcoal for the fire,
I gripped – as once each sweetheart’s waist – my hammer
and fanned my forge’s flames with keen desire.
How bright the anvil’s song when dusk was swelling,
in evening coolness when my youth’s sun set!
The clanging, how it spread! From farm and dwelling
with chiming youthful voices it was met.
But out of sight, alone, hard iron unfurling,
toiled with great zest the half-apprenticed bard
and smiled at all the hot flakes round him whirling,
though many a spark his pitted skin still scarred.

Problem Kejahatan

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Tuhan, telah Kau letakkan kejahatan

di dalam diriku

dengan cerdik Kau bersiasat

suatu saat jalan darahku akan tersumbat

 

aku jadi merasa seorang rakyat palestina

yang merasa terkepung dan terhambat

secara sembunyi-sembunyi

membawa air, tanah, dan kalimat

seharusnya manusia merdeka dan berdaulat

 

aku merasa terikat dan gagap

menunggu maut yang datang pasti

tetapi tak tahu cara ia mengenalkan diri

sungguh, aku tak akan merasa lelaki dan malu

bila mati saat duduk atau tertidur dan asik bermimpi

atau tengah bercinta dan tak sempat ejakulasi

 

Tuhan, kenapa

kau ciptakan kebaikan?

Puisi Pringadi Abdi Surya: Menu Asing dan Puisi Lainnya

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Menu Asing

 

kita adalah sepasang kekasih

tetapi tak pernah saling menggenggam

bertemu hanya untuk duduk, melihat menu

memesan makan malam

tetapi tak juga saling bertatapan

yang kutahu kau hanya tertunduk, dan kudengar sebuah isakan

aku menanyakan siapa yang telah berani

membuatmu menangis

lewat sebaris kalimat di dalam pesan singkat

kau menjawab pengetahuan

juga tuhan yang ternyata mahatahu

termasuk sejak kali pertama bertemu

menjalin hubungan hingga menu apa

yang akan kita pesan, apa yang akan terjadi kemudian

dari kuncup bunga hingga gugur kelopak terakhir milik mata

segala telah ditentukan

untuk apa lagi percakapan, perdebatan, kecupan, dekapan

kalau itu tak dapat mengubah sesuatu

aku juga ingin menangis

tetapi pria tak seperti perempuan

ada banyak hal yang lebih berkecamuk

bangsa, negara, itu nanti saja

apalagi tuhan dan pengetahuan

aku lihat daftar menu, sebelah kanan terlebih dahulu

lalu teringat bulan yang hampir mati

hanya ada air putih di kepala

dengan es yang cukup untuk mengguyurnya

seperti tantangan dari orang ternama

apa besok kita dapat hidup atau mati sepele

tersedak, ada bom, atau meteor jatuh

pulang dari sini kecelakaan lalu lintas, terlindas

waktu

bicara atau diam, waktu tidak peduli

kita adalah sepasang kekasih, waktu juga

tidak peduli kita tidak pernah saling menggenggam waktu

apakah peduli

tuhan,

apakah maha peduli?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Aku Berutang Padamu Satu Jalan Pulang

 

aku bertamu padamu di desember itu

membawa bunga tulip

lambang depresi besar yang kini kembali

mengenalkan dirinya sebagai khidir

 

di perjalanan aku terjebak kemacetan

bukan hanya dadaku yang lalu lintas

perasaan mengenaimu yang selalu bebas

 

ketika kubuka jendela sedikit, udara

berbau sakit, apa yang marah di mata

mereka membakar ban, menelan korban

seolah menang sebelum mengapikan tuhan

 

desember yang kukenang tidak mengenal

darah hitam kental

 

desember yang kukenang adalah

royal opera dibuka di taman covent dan

pietro mascagni tak bermain di sana

 

tapi pemuda itu, yang percaya ibrahim

mempertontonkan alusi namrud di istana

 

aku tidak pernah sampai ke rumahmu

pada desember itu, bunga-bunga tulip

membumbung tinggi ke langit

menjadi balon-balon sabun

 

siapa percaya, balon-balon sabun itu

bisa meletus kapan saja

siapa menyangka, berkat itu

aku berutang padamu sebuah jalan pulang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tuan Reynold dan Soal Lidah Orang Indonesia

 

agaknya ini hanya masalah lidah, orang indonesia
lebih suka memakan ikan yang terlalu matang
bila perlu digoreng hingga kering kerontang, hingga
tulang terasa renyah dan hancur
tentu saja, bukan demi alasan kalsium
seperti yang dimiliki ikan teri, bilis, lais dan seluang
segala yang muda tampak tidak lebih terpercaya
segala yang ranum hanya untuk ibu hamil yang mengidam
maka kepantasan untuk menikah pun ditentukan usianya
seperempat abad adalah usia yang pas
padahal chairil mati di usia dua puluh enam,
soe hok gie juga meninggal di usia yang sama
apa yang bisa dirasakan dalam satu tahun perkawinan
kalau tuhan menakdirkan panjang usia tak berbeda
cara memasak ikan pada satu sisi tidak akan cukup
untuk lidah orang indonesia
sebab tidak cuma ikan, semua hal dapat dibolak-balik
dalam berita dan perkataan
misalnya, pemerintah indonesia berhasil membuat perjanjian
dengan freeport, tentu ini akan lain maknanya
jika dikatakan freeportlah yang berhasil menekan perikatan
sebagai rakyat dan penonton, tentu kita kecewa
tuan reynold yang mahir dan mempesona harus tereliminasi
rasanya seperti calon presiden yang kita pilih kalah
jodoh yang kita idam-idamkan dibawa kabur orang
atau yang sepele, sulit buang air karena kena tipus
negara yang memiliki wilayah laut yang luas ini
seharusnya tidak kesulitan menemukan pemasak ikan
mau dibakar, digoreng, diasap atau digangan sekalian
segala rasa, aroma rempah, tidak ada masalah
hanya agaknya ini memang masalah lidah
orang indonesia lebih suka ikan yang terlalu matang
orang indonesia lebih suka lagi makan roti

 

 

 

 

 

 

 

 

Membelikan Es Krim

 

aku akan membelikannya es krim setiap aku pulang ke rumah

aku tak ingin ia menyadari ada leleh yang lain

setiap kulihat dirinya, kerinduan mengamuk bagai banteng

ingin menyeruduk setiap benda yang berwarna merah

ia suka rasa vanila, dengan begitu, hatiku seperti bendera

kuperhatikan dengan seksama, detik demi detik yang ada

aku telah menjadi seorang ayah, dan suatu hari ia akan dewasa

menjadi seorang gadis yang memakai rok, memegang buku

dan menatapku dengan kenangan pertemuan di akhir pekan

aku selamanya menjadi pacarnya, cinta pertamanya

dengan segala kelemahan dan luputnya perhatian

sampai kubayangkan lelaki lain akan merampasnya dari pelukanku

ia akan duduk di pelaminan, memakai gaun, bunga-bunga

aku tidak tahu harus menghadiahi apa

aku akan memberikannya es krim, seperti setiap minggu

aku pulang ke rumah dan ia akan memelukku

kemudian ia akan memburu, tak membiarkan es krim itu meleleh

kemudian ia juga tak akan tahu, hatiku juga tengah meleleh

 

 

 

 

 

Sebelum 1998

 

Yang diingatnya dari bangku sekolah hanyalah

papan tulis yang bisu. Setiap pertanyaan dari gurunya,

ia takut mengangkat tangan seperti ada beban masa

lalu—ketakutan-ketakutan dikuntit dalam perjalanan

pulang ke rumah. Ia tidak pernah bertanya apalagi

menjawab. Ia bukan takut jawabannya salah. Bukan pula

takut jika pertanyaannya tidak bermutu. Hanya

papan tulis yang diingatnya itu bisu,

apa aku

punya hak berbicara? Di laci meja, ia menyembunyikan

tas dan kedua telapak tangannya. Ia tahu

di laci meja yang lain, bibir-bibir siswa yang sudah

lulus sekolah bersembunyi dan meringkuk,

sesekali berbisik—mengutuk-ngutuk Tuhannya sendiri.