Catatan Pringadi

Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan

Category: Puisi

Selamat Pagi, Tuan Presiden!

Published / by Pringadi As / Leave a Comment
Kita telah tiba pada suatu masa
ketika penangkapan adalah hal yang biasa
Orang-orang tak akan terkejut
dan masih asik mengurung diri di balik selimut
Satu orang hilang tak ada arti
Satu orang hilang tak lebih dari
kereta berangkat, kereta menjauh, kereta tertahan
dan satu hari harus menerima keterlambatan;
Berdiri di mesin absen, dan memaki
Hidup adalah soal kesialan demi kesialan
yang sudah ditakdirkan, bahkan sejak belum dilahirkan
Tak lagi persoalkan penjara dengan kerangkeng besi
yang berusaha mencoba menahan ekspresi
Tak bisa marah pada ibu pertiwi
dengan alasan sederhana maupun tidak sederhana
Kini kita telah tiba pada suatu masa
kita harus betul-betul berhati-hati
Tak menyisakan sebutir nasi pun di meja
atau sengaja dan tak sengaja membuangnya ke lantai
Orang-orang yang masih banyak mengenal sengsara
yang diakui dan tak diakui, hanya ingin pertahankan diri
tetapi pergi dan terusir adalah cara terbaik yang diajarkan Adam
setelah menuai buah terlarang
Seharusnya tak boleh ada dendam
tak boleh juga ada yang mengaku pemunya sumur di ladang
Kita telah tiba pada suatu masa
Semua orang ingin mengaku baik-baik saja
Semua orang tak ingin terlihat tidak baik-baik saja
(2016)

Puisi| Stasiun Juanda

Published / by Pringadi As / 1 Comment on Puisi| Stasiun Juanda

aku akan pulang, aku akan pulang
sementara malam terus merambat
hingga ke jantungku
kukenang segala yang bisa kukenang
kereta yang akan datang terlambat
membuatku belajar arti menunggu

kau pasti tengah menanak nasi,
menggoreng telur mata sapi
menantiku berbicara soal aksi,
deklarasi, dan kabar Jakarta
yang tak pernah baik- baik saja
masalah-masalah lebih dari air bah
orang datang mengharap hidup
lalu mati dan tak mendapat tanah
dan memilih dihanyutkan di kali
yang tak lagi penuh sabun dan pasta
Waktu tiada, sekarat yang tersisa
terhimpit bunyi klakson kendaraan
dan semua yang berebut Tuhan

Jakarta selalu lebih rumit dari perempuan

aku akan pulang, aku akan pulang
bersama sekawanan binatang pekerja
dan aku adalah binatangmu
dengan kerinduan dan berkasih-kasihan
mengenalkanku kembali pada kemanusiaan
yang menuntut anyir darah
dengan alasan penting maupun remeh
atau bahkan tak beralasan sama sekali
saat itulah dari kejauhan ada sebuah sinar
bak kesadaran yang diterima hawking muda
yang jatuh cinta pada seni semesta
penciptaan yang amat sederhana dan pasti
orang hidup lalu mati, orang makan lalu mati
orang terbang lalu mati, semua orang mati
aku juga akan pulang, aku juga akan mati

Puisi| Stasiun Manggarai

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

 

aku salah karena berpikir perempuan paling kejam
kau lebih kejam dari semua
karena berulang-ulang membuatku menunggu
berjanji tak akan lagi, namun kau ingkari pula
semua waktu yang sia-sia adalah omong kosong
kau bisa menyita 1/12 hidup seseorang
yang telah rapuh menahan rasa pulang
hanya untuk kau biarkan pergi setelah sesaat
berdamai dengan ketakutan akan tersesat
kau telah terlalu sombong
karena menjadi jantung dan tempat masuk
setiap arah dan setiap aliran darah
kata maaf yang kau ucap dari bibir jauh lebih hina
dari seorang pejabat sekalipun, yang suka seenaknya
menyebut satu per satu nama hewan
yang tidak lagi dikurung di kebun binatang
kata maaf yang tidak terasa tulus karena di belakangku
kau pegang pisau bernama kebinekaan
apalah artinya cinta tanpa kemerdekaan
apalah artinya kemerdekaan bila ada yang diistimewakan
hanya karena kau merasa sebagai jantung
yang dibutuhkan para penumpang
aku tak pernah benar-benar ingin jadi penumpang
yang terkurung dalam dingin perahu sarden
di sungai darah ini dan menujumu

Puisi| Air Mata

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

aku memahami kita belajar matematika
untuk menghitung nyawa demi nyawa
yang menghilang begitu saja seperti janji Tuhan
tak ada yang tahu: satu detik kemudian
atau bahkan seribu tahun yang Anwar inginkan
bumi akan berguncang dan terbelah
tercipta puluhan lubang, yang dalam dan panjang
segalanya terhisap, juga kenangan-kenangan
saat kali pertama belajar bersepeda bersama Ayah
duduk di beranda, menatap langit dan air mata
jatuh seperti tombak-tombak yang dilemparkan
saat setan ingin mencuri rahasia masa depan
air matamu adalah setan bagiku
yang menggoda seluruh iman untuk luruh
dan menghujat yang telah menciptakan segala
dan lupa bahwa tak ada yang pernah
benar-benar menjadi milik manusia
kekasih yang kucintai sepenuh aku juga
bisa dibolak-balik hatinya dengan mudah
tak ada pernah kata kebebasan seutuhnya
masa lalu, kini, dan apa yang akan terjadi nanti
adalah rantai yang saling terikat dan pasti
dan aku hanyalah sebuah boneka
yang dimainkan ventriloquist di atas panggung

(2016)

Poem by the Swedish writer Erik Axel Karlfeldt (1864-1931)

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

 

Poem by the Swedish writer
Erik Axel Karlfeldt (1864-1931)

The rhyme smith
Now, coarsely wrought iron from my thoughts’ own smithy,
my sledge shall test the utmost you can bear.
I know your chain’s links snap, that this is risky,
but likewise know there’s honest steel in there.
From my home mine and slash-burnt acres’ clamour
I gained my iron and charcoal for the fire,
I gripped – as once each sweetheart’s waist – my hammer
and fanned my forge’s flames with keen desire.
How bright the anvil’s song when dusk was swelling,
in evening coolness when my youth’s sun set!
The clanging, how it spread! From farm and dwelling
with chiming youthful voices it was met.
But out of sight, alone, hard iron unfurling,
toiled with great zest the half-apprenticed bard
and smiled at all the hot flakes round him whirling,
though many a spark his pitted skin still scarred.

Problem Kejahatan

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Tuhan, telah Kau letakkan kejahatan

di dalam diriku

dengan cerdik Kau bersiasat

suatu saat jalan darahku akan tersumbat

 

aku jadi merasa seorang rakyat palestina

yang merasa terkepung dan terhambat

secara sembunyi-sembunyi

membawa air, tanah, dan kalimat

seharusnya manusia merdeka dan berdaulat

 

aku merasa terikat dan gagap

menunggu maut yang datang pasti

tetapi tak tahu cara ia mengenalkan diri

sungguh, aku tak akan merasa lelaki dan malu

bila mati saat duduk atau tertidur dan asik bermimpi

atau tengah bercinta dan tak sempat ejakulasi

 

Tuhan, kenapa

kau ciptakan kebaikan?