Puisi Pringadi Abdi Surya di Lombok Post, 30 Juli 2017

Sajak Pi   aku ingin belajar mencintaimu, tetapi tidak di kehidupan ini karena Waktu datang begitu terlambat untuk mengenali betapa Cinta adalah dirimu;   sebuah Trans-Jakarta lewat, aku berharap Kau menempuh jalan yang sama denganku, hanya Kau diam, aku diam, mencoba menatapmu lebih dalam   aku tidak mencoba ke mana-mana, tetapi Kau pun tidak mencoba […]

Read More

5 Puisi Pringadi Abdi Diterjemahkan oleh John H. Mcglynn

Sublime   You will return but not to my side, the poems That you wrote in that one solitary letter Have begun to blur, with some of the word vanishing Like gas. Becoming the air that i breath Even though life is never willing to be like champor Even while i have to wait and […]

Read More

Sejumlah Pertanyaan Tentang Cinta

apakah kamu masih mencintaiku, meski suatu hari aku tak lagi menulis puisi untukmu lirik-lirikku berubah menjadi, mengenai orang mati yang tak bersalah, dan mungkin sedang ditunggu kekasihnya memikirkan puasa besok akan bersahur dan berbuka dengan apa tetapi lalu ia tak lagi ada di dunia, dan hanya menghiasi setiap pemberitaan yang tak pernah benar-benar memikirkan kemanusiaan? […]

Read More

Puisi | Dua Orang Bersahabat

dua orang palembang mengaku bersahabat seorang tinggal di kenten laut, seorang lagi di meranjat mereka mengaku tak perlu berada dekat bila rindu, pohon tertinggi di kampung akan dipanjat dan mereka akan berteriak kuat-kuat bicara soal pindang yang sudah terhidang dengan aroma yang bikin liur tuhan ikut menetes di zaman itu memang belum ada telepon genggam […]

Read More

Sebuah Dini Hari

telah kucoba bunuh sebuah dini hari yang berusaha merangkulku bertingkah bak seorang teman akrab yang sudah lama tak bertemu namun ia berhasil meloloskan diri dan aku mengejarnya dengan kereta yang gerbongnya penuh penumpang   manusia jenis apa saja yang sudah langka kutemui dan sebisa mungkin tak kuucap salam   aku tak ingin berbagi udara apalagi […]

Read More

Tentang Petani Karet

Tak dapat kau cium suatu bau parfum Tubuhnya yang telah terlalu lama beraroma getah beku itu kini seperti pohon karet di musim kemarau Perasaan bahagianya meranggas Ia tak ingin lagi kehilangan sisa air mata yang sudah ditahan dengan susah payah Tubuhnya kering seperti ranting yang kini tak memiliki apa-apa lagi Ia kenang harga komoditas yang […]

Read More