Category Archives: Puisi

Kepada Saudaraku, Cesar Vallejo

Saudaraku, hari ini aku duduk di bangku bata di rumah

di tempat yang sama dirimu menciptakan kekosongan tak berdasar

Aku mengingat kita biasa bermain pada jam-jam ini, dan Mama

membelai kita: “Tetapi, para putraku…”

 

Sekarang, aku pergi bersembunyi

seperti sebelumnya, dari segala pelajaran malam,

dam aku percaya dirimu tak akan membiarkanku menjauh.

Melalui ruang tamu, ruang tunggu, koridor.

Kemudian, kau menghilang, dan aku tak akan membiarkanmu menjauh.

Aku ingat kita membuat diri kita menangis,

Saudaraku, dari begitu banyak tawa.

 

Miguel, kamu pergi ke persembunyian itu

pada suatu malam di bulan Agustus, menjelang dini hari

tetapi, ketimbang tertawa kecil, kau malah sedih.

Dan hati kembar itu, dari malam-malam mereka yang mati

kian terganggu karena tak menemukanmu. Dan kini

sebuah bayangan menimpa jiwaku.

 

Dengarkan, Saudaraku. Jangan terlambat

pulang ke rumah, Baiklah… Mama mungkin khawatir.
To My Brother

Brother, today I sit on the brick bench of the house,
where you make a bottomless emptiness.
I remember we used to play at this hour, and mama
caressed us: “But, sons…”

Now I go hide
as before, from all evening
lectures, and I trust you not to give me away.
Through the parlor, the vestibule, the corridors.
Later, you hide, and I do not give you away.
I remember we made ourselves cry,
brother, from so much laughing.

Miguel, you went into hiding
one night in August, toward dawn,
but, instead of chuckling, you were sad.
And the twin heart of those dead evenings
grew annoyed at not finding you. And now
a shadow falls on my soul.

Listen, brother, don’t be late
coming out. All right? Mama might worry.

Puisi-puisi Kriapur

 

KRIAPUR (1959-1987)

Kriapur merupakan salah satu penyair berbakat Indonesia yang–sebagaimana Chairil Anwar–meninggal dalam usia muda. Dia masih 28 tahun ketika tewas dalam kecelakaan lalu lintas di daerah Batang, pada 17 Februari 1987.

Berikut ini, puisi-puisi Kriapur, penyair kelahiran Solo, 6 Agustus 1959, yang bernama lengkap Kristianto Agus Purnomo.

KUPAHAT MAYATKU DI AIR

Kupahat mayat di air
Namaku mengalir
Pada batu dasar kali kuberi wajahku
Pucat dan beku

Di mana-mana ada tanah
Ada darah
Mataku berjalan di tengah-tengah
Mencari mayatku sendiri
Yang mengalir
Namaku sampai di pantai
Ombak membawa namaku
Laut menyimpan namaku
Semua ada di air

Solo, 1981

NATAL BAGI MUSUH-MUSUHKU

Aku tak mampu membeli daun-daun
Ini fajar dengan bangunan dari air biru
Membebaskan ketaklukan diriku
Dan mereka yang terus mencari kematianku
Kuterima dengan doa
Dan bukan lagi musuhku

Solo, 1986

SAJAK BUAT NEGARAKU

di tubuh semesta tercinta
buku-buku negeriku tersimpan
setiap gunung-gunung dan batunya
padang-padang dan hutan
semua punya suara
semua terhampar biru di bawah langitnya
tapi hujan selalu tertahan dalam topan
hingga binatang-binatang liar
mengembara dan terjaga di setiap tikungan
kota-kota

di antara gebalau dan keramaian tak bertuan
pada hari-hari sebelum catatan akhir
musim telah merontokkan daun-daun
semua akan menangis
semua akan menangis
laut akan berteriak dengan gemuruhnya
rumput akan mencambuk dengan desaunya
siang akan meledak dengan mataharinya
dan musim-musim dari kuburan
akan bangkit
semua akan bersujud
berhenti untuk keheningan

pada yang bernama keheningan
semua akan berlabuh
bangsaku, bangsa dari segala bangsa
rakyatku siap dengan tombaknya
siap dengan kapaknya
bayi-bayi memiliki pisau di mulut
tapi aku hanya siap dengan puisi
dengan puisi bulan terguncang
menetes darah hitam dari luka lama

Solo, 1983

AKU INGIN MENJADI BATU DI DASAR KALI

Aku ingin menjadi batu di dasar kali
Bebas dari pukulan angin dan keruntuhan
Sementara biar orang-orang bersibuk diri
Dalam desau rumput dan pohonan

Jangan aku memandang keluasan langit tiada tara
seperti padang-padang tengadah
Atau gunung-gunung menjulang
Tapi aku ingin menjadi sekedar bagian
dari kediaman

Aku sudah tak tahan lagi melihat burung-burung pindahan
Yang kau bunuh dengan keangkuhanmu —yang mati terkapar
Di sangkar-sangkar putih waktu
O, aku ingin jadi batu di dasar kali

1982

KOTA KOTA KOTA

dari kerangka tanah
kerangka darah
ribuan jasad angin terdampar
di kota lapar
pengembara hanya bayang-bayang
ngambang
kerangka ombak berkejaran di dinding
lalu matahari terguling

di bawah kuburan
bulan meringkik panjang
ringkikan kerangka kota kota kota
jelaga!

anak-anak mata darah tak dapat lagi
bermain dengan langit
perempuan-perempuan berjalan
lewat suara yang tak jelas
lalu hilang
di sorga hitam

tapi kemerdekaan tanah
untuk siapa?

dan kota bagai sebuah bola
yang disepaknya sendiri
lalu orang-orang pun kelelahan
merayapi luka
dan tak pulang

solo, 1981

JALAN

dalam tidur terbentang sebuah jalan
di luar jendela yang kupandang
angin gagal mencapai puncak
lalu matahari luruh seperti gerimis

tak ada yang bisa datang
atau pergi malam ini
bangun lebih parah
dan awan yang bergantung pada daun
kemana bakal pulang?

Solo, 1983

NATAL DI GURUN PERTEMPURAN

aku tak bisa berkata-kata lagi padamu
burung punya keteduhan dari sayapnya sendiri
angin punya keteduhan dari sejuknya sendiri
namun srigala punya keteduhan
di taringnya. Kini setiap perjumpaan
aku tak mampu mengucapkan kenangan
dan menjelang kepunahan ini
tibalah penebusan kekal

Solo, 1986

KUPU-KUPU KACA

Sehabis meninggalkan jejak kemarau lama
lalu kupu-kupu menjadi kaca
Aku makin mengerti keluh bumi ini
Malam menjadi jalan dan mencari pemilik diri

Juga terasa jiwa, memuat pedih lalu lenyap
Udara telah menutup semua peristiwa
dan suara ombak melimbur
Menggelepar di pinggir pagar yang meraj terbakar

Setiap menyusup dalam bumi kelam
Tangan-tangan mayat menjulur ke bulan
Kota yang bangkit karena hujan
Mengubur luas jaman

Puisi | Aceh dalam Pandangan

Bayangkan suatu pagi, langit dipenuhi ribuan jamur

Pesawat-pesawat melintas, dekat dengan darat

Televisi di ruangan jauh lebih gelisah dari hati

Yang baru saja dikhianati

 

Setetes darah tak akan menetes di bumi Aceh

Tapi sejak itu kami mulai terbiasa

Mendongeng tentang saudara kami yang hilang

Kenangan saat makan kambing

Pada sebuah sore yang kini binasa

Orang kampung yang tidak mengerti apa-apa

Selain tani, dan secangkir kopi bahagia

Didudukkan di depan anak-anaknya

 

Bayangkan suatu pagi, dirimu adalah salah satu

Dari anak-anak itu

Tidak ada film kartun lucu

Di depanmu, ayahmu dituduh pemberontak

Sebelum ia sempat menghabiskan

Secangkir kopi yang belum mendingin itu

 

Tak perlu mengerti apa-apa

Pikiran tak pernah begitu penting

Tak masalah memisahkan pikiran itu

Dari raganya.

 

Bayangkan suatu pagi, bukan kami

Yang melihat langit dipenuhi jamur.

Kau menyaksikannya sendiri

Saat hendak berjemur

 

Di ruang keluarga, televisi menyala

Pembaca berita berkata,

Apa yang lebih menyakitkan

Dari sebuah perpisahan?

Puisi-puisi T.E. Hulme, diterjemahkan Pringadi Abdi Surya

Autumn
A touch of cold in the Autumn night—
I walked abroad,
And saw the ruddy moon lean over a hedge
Like a red-faced farmer.
I did not stop to speak, but nodded,
And round about were the wistful stars
With white faces like town children.
Musim Gugur
Sebuah sentuhan yang dingin
pada sebuah malam di musim gugur—
aku melangkah ke luar negeri
dan kusaksikan bulan berdarah
meringkuk di atas pagar
Seperti muka petani yang kemerah-merahan.
Aku tak berhenti berbicara, tapi mengangguk,
dan mencari bintang-bintang yang tersedu
dengan wajah pucatnya
seperti halnya anak-anak kota.

ABOVE THE DOCK

Above the quiet dock in midnight,
Tangled in the tall mast’s corded height,
Hangs the moon. What seemed so far away
Is but a child’s balloon, forgotten after play.

 

Di atas Dermaga

di atas dermaga yang tenang, pada suatu tengah malam

meringkuk di ketinggian, pada tiang kapal yang rusak

sebuah bulan. terasa begitu jauh

tetapi itu adalah balon seorang anak yang dilupakan seusai bermain.

 

The Embankment

Once, in finesse of fiddles found I ecstasy,
In the flash of gold heels on the hard pavement.
Now see I
That warmth’s the very stuff of poesy.
Oh, God, make small
The old star-eaten blanket of the sky,
That I may fold it round me and in comfort lie.

 

Tanggul

Pada suatu hari, dalam sebuah permainan biola yang mempesona
kurasakan ekstasi
Dalam kilasan langkah sepatu berhak emas di trotoar yang keras itu.
Sekarang, lihatlah aku,
Kehangatan itu adalah materi paling subtil bagi puisi.
Oh, Tuhan, membuatku merasa kecil
bak bintang-bintang tua, yang tertelan selimut angkasa
Bahwa aku mungkin saja melipatnya
dan merasa nyaman berbaring di atasnya.

 

 

Puisi T.E. Hulme: Trenches: St. Eloi diterjemahkan Pringadi Abdi Surya

Di atas lereng gunung Eloi

Karung-karung pasir bertumpuk bak sebuah dinding besar.

Malam,

Di dalam kesunyian, pria-pria yang tak kenal lelah

Memadamkan unggun kecil, membuang sisa kaleng bir:

Ke sana ke mari, dari garis itu.

Para pria berjalan seolah-olah berada di Piccadilly1,

Menggambar takdir di dalam kegelapan,

Melalui kuda-kuda mati yang bergelimpangan

Di atas perut Belgia yang binasa

 

Orang Jerman punya roket. Orang Inggris tak punya roket.

Meriam bersembunyi, berbaring beberapa mil di belakang garis

Di hadapannya, kekacauan:

 

Pikiranku adalah sebuah koridor. Pikiran-pikiran tentangku juga koridor.

Tak ada saran apa pun. Tak ada hal lain yang bisa dilakukan, kecuali maju!

 

1Piccadilly adalah nama jalan di pusat kota London.

 

Trenches: St. Eloi

Over the flat slopes of St Eloi
A wide wall of sand bags.
Night,
In the silence desultory men
Pottering over small fires, cleaning their mess- tins:
To and fro, from the lines,
Men walk as on Piccadilly,
Making paths in the dark,
Through scattered dead horses,
Over a dead Belgian’s belly.

The Germans have rockets. The English have no rockets.
Behind the line, cannon, hidden, lying back miles.
Beyond the line, chaos:

My mind is a corridor. The minds about me are corridors.
Nothing suggests itself. There is nothing to do but keep on.

Puisi Seorang Jenderal

Seorang jenderal besar lupa

kata-kata lebih berbahaya

daripada lima ribu senjata

 

Kata-kata tak punya mata, mereka

bebas membunuh siapa saja

yang sengaja atau tidak sengaja membaca.

Membaca tak lagi jendela dunia

tetapi bisa pula pintu gerbang kematian.

Kata-kata tak punya telinga, tak peduli

pada suara lain di luar sana

yang gaduh dan lebih gaduh

dari demonstrasi kenaikan upah buruh.