Catatan Pringadi

Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan

Category: Puisi

Tentang Petani Karet

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Tak dapat kau cium suatu bau parfum

Tubuhnya yang telah terlalu lama beraroma

getah beku itu

kini seperti pohon karet di musim kemarau

Perasaan bahagianya meranggas

Ia tak ingin lagi kehilangan sisa air mata

yang sudah ditahan dengan susah payah

Tubuhnya kering seperti ranting

yang kini tak memiliki apa-apa lagi

Ia kenang harga komoditas

yang pernah membuatnya berbangga

Sebelum ia tak tahu harus berbuat apa

Lateks di belakang rumah, tak tahu nasib

Harga dirinya kadung lebih tinggi

Dalam kesendirian, ia berguman pelan

Aku adalah seorang petani

Namun menjadi petani saat ini

Sama halnya memilih mati

Hujan Bulan Juni, Kumpulan Puisi Sapardi Djoko Damono

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Silakan diunduh (download) kumpulan puisi Hujan Bulan Juni dari Sapardi Djoko Damono. Silakan klik di sini.

“tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu”

Silakan didownload ya.

Puisi | Besok Aku Akan Berangkat

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Besok Aku Akan Berangkat

Di dalam diriku terdapat seorang anak kecil
yang takut naik pesawat
Bayangan nanti tersesat di langit
kemudian bertemu Tuhan membuatku ingat
manakala Musa jatuh pingsan
dan sebuah gunung meledak hebat
Jantungku jauh lebih lemah dari gunung itu
yang biasa menampung magma
Aku tak terbiasa mewadahi apa-apa
Memilih untuk mengosongkan diriku
dari apa saja, termasuk kebencian
yang dengan mudah mengisap darah dari aorta
Aku kadang-kadang lupa pada anak kecil itu
ketika kupejamkan mata
dan aku tengah tidak berpikir hal dunia
Dunia kini tak lagi sederhana, mencintai
juga tak mungkin bisa demikian

Puisi | Hari yang Tak Biasa

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Tiba-tiba kita tiba
pada suatu hari yang tak biasa
manusia banyak yang belum beranjak
dari kekalahan
dan memikirkan berbagai pisuhan
yang lebih sinis dari cara Lannister
Tak ada yang pergi ke gedung teater
pertunjukan di luar jauh lebih fiksi
dan berbagai friksi yang tampak
maupun hanya terjadi di hatimu
sudah diihwalkan sejak zaman dahulu
“Suatu hari, kalian akan sangat banyak
sangat banyak
namun kalian terkepung dari
berbagai penjuru”
Namun, tiada yang sadar, tiada
yang masih berupaya belajar
menyadari bahwa debu dapat suci
dan dengan usaha mampu
melilipkan mata lawan

Tiba-tiba kita sudah lupa
kita dulu pernah sedikit
kita dulu tak pernah takut rasa sakit

Puisi | Insan Perbendaharaan

Published / by Pringadi As / 1 Comment on Puisi | Insan Perbendaharaan

Insan Perbendaharaan

Jangan kau tanya lagi, seberapa Pancasila kami
Ketika kami menjadi yang terakhir bertahan
saat Timor Timur hendak melepaskan diri
Dan kami pula yang pertama memulai
Saat Aceh terkena bencana tsunami

Kami berdiri menjadi perwakilan negara
yang hadir untuk menyuntik tenaga pembangunan
Memulihkan bagian tubuh bangsa yang terluka

Persatuan Indonesia sudah mendarah di tubuh kami
Orang Aceh ditempatkan di Jakarta
Orang Batak ditempatkan di Biak
Orang Palembang terbuang di Sumbawa
Orang Jawa ada di mana-mana
Orang Sulawesi hingga Papua pun mengenal Sumatra
Kami selalu siap mengabdi di mana saja
Bahkan kadang harus rela meninggalkan keluarga
Akibat pilihan hidup yang sudah fitrah

Jarang yang tahu, seberapa cinta kami pada Indonesia
berinteraksi dengan segenap suku dan budaya yang beraneka
Berusaha selalu muwujudkan keadilan sosial
dalam penyaluran belanja pemerintah
Tak peduli di mana saja, kami akan memamerkan senyuman
seakan jawaban kenapa Tuhan ciptakan kebahagiaan
Pelayanan prima, kecepatan dan ketepatan
adalah janji bagi setiap insan Perbendaharaan

Jangan kau tanya lagi, seberapa Pancasila kami
meski kami bukanlah sayap-sayap Garuda
yang bisa membuatmu mengepak tinggi
Tapi kami adalah cakar sang burung negeri
Yang mencengkeram erat kesatuan bumi pertiwi