Puisi-puisi T.E. Hulme, diterjemahkan Pringadi Abdi Surya

Autumn A touch of cold in the Autumn night— I walked abroad, And saw the ruddy moon lean over a hedge Like a red-faced farmer. I did not stop to speak, but nodded, And round about were the wistful stars With white faces like town children. Musim Gugur Sebuah sentuhan yang dingin pada sebuah malam […]

Read More

Puisi T.E. Hulme: Trenches: St. Eloi diterjemahkan Pringadi Abdi Surya

Di atas lereng gunung Eloi Karung-karung pasir bertumpuk bak sebuah dinding besar. Malam, Di dalam kesunyian, pria-pria yang tak kenal lelah Memadamkan unggun kecil, membuang sisa kaleng bir: Ke sana ke mari, dari garis itu. Para pria berjalan seolah-olah berada di Piccadilly1, Menggambar takdir di dalam kegelapan, Melalui kuda-kuda mati yang bergelimpangan Di atas perut […]

Read More

Puisi Seorang Jenderal

Seorang jenderal besar lupa kata-kata lebih berbahaya daripada lima ribu senjata   Kata-kata tak punya mata, mereka bebas membunuh siapa saja yang sengaja atau tidak sengaja membaca. Membaca tak lagi jendela dunia tetapi bisa pula pintu gerbang kematian. Kata-kata tak punya telinga, tak peduli pada suara lain di luar sana yang gaduh dan lebih gaduh […]

Read More

Puisi| Kereta ke Rohingya

Tuhan meninggalkanku di Manggarai   Kereta-kereta penuh sesak Setiap orang berebut naik Tanpa membicarakan surga Tanpa membicarakan-Mu   Samar-samar kudengar Kita cukup menjadi manusia Untuk peduli   Tapi dadaku mungkin lupa Kemanusiaan seperti apa Yang menggerakkan tubuh pekerja   Rasa takut terlambat Kemacetan lalu lintas Atau gangguan aliran listrik atas Telah sungguh melebihi dosa   […]

Read More

Puisi | Membaca Koran

Ketika kubaca koran pagi ini, kutemukan tubuhmu terpanggang di sebuah halaman. Aku tak sanggup terlalu lama memandang jasadmu yang hangus itu. Aku hanya bisa menunggu pemadam datang, memadamkan api yang masih menyala-nyala, dan menghindari orang-orang yang setia menjadi penonton. Aku bukanlah seorang penonton yang baik. Aku tak bisa menangis, tertawa, atau juga bertepuk tangan. Setelah […]

Read More

Puisi Pringadi Abdi Surya di Lombok Post, 30 Juli 2017

Sajak Pi   aku ingin belajar mencintaimu, tetapi tidak di kehidupan ini karena Waktu datang begitu terlambat untuk mengenali betapa Cinta adalah dirimu;   sebuah Trans-Jakarta lewat, aku berharap Kau menempuh jalan yang sama denganku, hanya Kau diam, aku diam, mencoba menatapmu lebih dalam   aku tidak mencoba ke mana-mana, tetapi Kau pun tidak mencoba […]

Read More